21 December 2011

TURIS JERMAN KE PECINAN SURABAYA

Kawasan pecinan atau china town di surabaya rupanya menarik perhatian turis Barat. Prof Susanne Altenburg dari Koeln, Jerman, Senin (19/12/2011), sengaja jalan-jalan ke kawasan Kembang Jepun dan sekitarnya.

Susanne Altenburg sebenarnya ingin ke Makassar dan Toraja. Namun karena harus transit sehari, dosen filsafat ini memanfaatkannya dengan mengunjungi pecinan. Ini juga dilakukan Susanne ketika berkunjung ke Myanmar, Vietnam, Malaysia, India, atau Afrika.

"Karena China town itu unik dan beda. Banyak hal menarik yang bisa kita lihat," kata Susanne kepada saya yang jadi pemandu wisata dadakan.

Dari Jerman, Susanne membekali diri dengan buku tentang informasi pariwisata di Asia Tenggara. Di situ tercantum tempat-tempat yang dianggap menarik di Surabaya. Sebagian besar justru berada di pecinan.

Saat melintas di Jagalan, Susanne tersenyum melihat toko-toko obat dan aneka aksesoris Tionghoa. Bau yosua atau hio cukup menyengat. Dia kemudian mampir ke pak kik bio, kelenteng terkenal di Jagalan. Sibuk memotret dan melihat dari dekat rupang-rupang di altar. Belasan umat sedang berdoa.

"Hallo," sapa susanne seraya menjabat tangan jemaat kelenteng.

Dia mengaku belum mendalami filsafat timur sehingga kurang memahami dewa-dewi dalam tradisi Tionghoa. "Saya hanya tahu dewa perang," katanya lantas tertawa kecil.

Dari jagalan, Susanna mampir di Kelenteng Dukuh. Saat itu Grup Lima Merpati sedang memainkan wayang potehi. Lagi-lagi dia surprise, tak menyangka kesenian Tiongkok Selatan ini dimainkan di Surabaya. Dalang, asisten dalang, dan semua pemusiknya bukan Tionghoa, melainkan Jawa asli.

"Wah, baru pertama kali ini saya melihat pertunjukan boneka seperti ini," kata Susanne yang sibuk memotret adegan potehi dengan kamera sakunya.

Penggemar kebudayaan asia ini kemudan masuk ke ruang kru potehi. Dia menyalami Eddy Sutrisno dan kawan-kawan dan melakukan percakapan singkat, dalam bahasa Inggris tentu saja. Susanne ini hanya ingat sekitar 10 kata bahasa Indonesia seperti 'terima kasih' atau 'apa kabar'.

Puas menikmati wayang potehi, susanne melanjutkan pelancongannya ke Kembang Jepun. Pusat bisnis grosir utama di Kota Surabaya. Di gapura kya-kya profesor filsafat ini tertarik dengan ukiran naga yang khas Tionghoa.

Siang itu Kembang Jepun sedang sibuk-sibuknya. Jalanan padat meski tak sampai macet. Karena itu, dia bisa melihat sendiri geliat ekonomi di pecinan yang menjadi lokomotif ekonomi sebuah kota.

"Di mana-mana china town itu selalu bergairah. Aktivitas ekonominya luar biasa," kata dosen yang banyak mengkritik sisi gelap sistem kapitalisme itu.

Kunjungan dilanjutkan ke Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria di Jalan Kepanjen, sekitar Jembatan Merah. Gereja tua ini merupakan jujukan warga Tionghoa di kawasan pecinan yang beragama Katolik.

Susanne memperhatikan arsitektur gereja yang menjadi salah satu cagar budaya di Surabaya itu. Sayang, pintu gereja tertutup rapat karena tak ada kegiatan. Padahal, perempuan yang juga Katolik ini ingin melihat interior gereja dan... mungkin berdoa.

Kecewa, tapi tetap tersenyum. "Kalau di jerman, yang namanya Gereja Katolik itu tidak pernah tutup. Sebab, banyak pengunjung dan jemaat yang ingin masuk. Justru gereja-gereja Protestan yang sering tutup," katanya.

Meski begitu, dia mengaku lega karena sudah bisa menjelajahi Kota Surabaya, khususnya China town. Pengalaman yang memperkaya wawasannya sebagai intelektual sekaligus turis backpacker.

LAN FANG DIRAWAT KE GUANGZHOU

lan fang, penulis hebat itu, tak berdaya. kondisi fisiknya drop. dia terbaring lemah di rumah sakit adi husada surabaya di kamar b 205.

saat saya besuk beberapa menit lalu, ada tulisan di pintu ruang perawatannya. pasien tak boleh diganggu karena perlu istirahat. maka, saya hanya bisa berdiri di depan pintu.

tak berapa lama kemudian seorang wanita keluar menemui saya. janet, adik kandung lan fang. janet dengan sopan mengatakan kakaknya tak bisa diganggu.

"maaf ya, mohon doanya," kata janet ramah. sudah pasti kita semua agar lan fang segera sembuh, bisa beraktivitas lagi. bisa menulis lagi novel bagus macam CIUMAN DI BAWAH HUJAN.

saya memang telat mendengar kabar lan fang sakit. bukan sakit biasa karena musim pancaroba, tapi sakit serius. sangat sangat serius.

saya pun tak tega mengorek terlalu jauh penyakit lan fang dari janet. tahu sama tahulah.

yang jelas, lan fang mula-mula dirawat di RKZ sekitar dua minggu. dilanjutkan di undaan ini selama seminggu. dan akhirnya diputuskan perlu dirawat di guangzhou, tiongkok.

rabu pagi pukul enam harus takeoff ke singapura, kemudian ke guangzhou. janet menjadi pendamping pasienam ikut pula seorang dokter. sementara anak-anak lan fang tinggal di surabaya karena harus sekolah.

"mohon doanya. semoga lan fang bisa segera sembuh," pinta janet berkali-kali.

tentu saja. saya ikut berdoa semoga kesehatan lan fang pulih kembali.

18 December 2011

Natal di Rutan Medaeng



Tadi pagi saya ikut kebaktian Natal di Rumah Tahanan Negara Kelas Satu Surabaya di Medaeng, Sidoarjo. Rumah tahanan ini populer dengan sebutan Rutan Medaeng. Acara natalan kali ini jauh lebih meriah dan menarik ketimbang tahun-tahun lalu.

Warga binaan alias tahanan dan narapidana punya kor yang bagus. Pujian bagus. Band bagus. Dan... sandiwara berjudul Langkah Terakhir pun oke. Malah lebih ciamik dibanding acara natal di luar penjara.

Biasanya, natalan kayak begini diadakan di aula berukuran sedang. Bukan di terop samping Gereja Efesus seperti ini. Saya jadi gundah meski senang menikmati kor dan drama yang dipersiapkan selama dua bulan itu.

Mengapa gundah? Jumlah orang kristiani yang menghuni Penjara Medaeng kini meningkat drastis. Bisa tiga atau empat kali lipat. Gereja Efesus sudah tidak muat lagi.

Berbeda dengan gereja-gereja di luar penjara yang terus bertumbuh, Gereja Efesus seharusnya makin lama makin kecil. Seharusnya orang Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta, dsb) yang masuk penjara makin sedikit. Bukan makin banyak seperti ini. Tentu sulit berharap Gereja Efesus ditutup karena tak ada lagi napi kristiani.

Dari pengamatan sekilas, kasus yang menimpa napi-napi kristiani di Medaeng ini pun hebat-hebat. Paling banyak kasus narkoba alias dadah alias drugs.

Bahkan, ada 8 orang Malaysia jadi penghuni Medaeng karena jadi penyelundup narkoba. Dan 8 orang Malaysia keturunan Tionghoa dan India ini ternyata... Kristen Protestan! Dan semuanya rajin berdoa. Si Gannes malah ikut main drama, bagus sekali.

Ada juga satu keluarga Tan yang baru divonis gara-gara menyiksa pembantu di Surabaya. Kasus penipuan ratusan juta juga banyak. Juga kasus pencurian kecil-kecil yang dilakukan napi kelas teri.

Saya kaget melihat seorang tahanan muda yang wajahnya mirip orang Flores. Benar saja, dia asal Kupang. hehehe... Ternyata sejak dulu selalu ada orang NTT yang menghuni Medaeng.

Kasusnya ini; sabu-sabu alias narkoba.

Wow, orang NTT ternyata sudah naik kelas. Dulu biasanya hanya mengeroyok atau memukul orang.

17 December 2011

kisruh sepak bola kita

sepak bola kita kisruh lagi. lebih tepat: pengurus pssi kisruh. eker-ekeran. kompetisi pecah dua. kedua-duanya mengklaim paling sah.

la nyala hampir tiap hari muncul di tv dengan argumentasi khasnya: kongres bali. pssi dinilai tidak becus. yang becus ya la nyala dkk. kompetisi ala pssi dianggap tidak sah.

kapan kisruh pengurus bola ini berakhir? rasanya masih lama. bahkan justru akan semakin parah. nyaris tidak ada chemistry antara kubu nyala, politikus ulung, dengan pssi sekarang.

akar kekisruhan sepak bola kita mulai terjadi ketika politisi rame-rame masuk bola. orang-orang politik ini tiba-tiba pintar bicara bola, padahal dari dulu tidak kenal bola. jangankan punya klub, orang-orang tukang kisruh ini tadinya tidak pernah ke stadion untuk lihat pertandingan bola.

ketika bisnis bola mulai menggiurkan, ada uangnya, orang-orang politik ini makin kerasan di bola. urusan bola dibuat sedemikian ala partai politik. bahasa-bahasa politik dipakai di bola. organisasi bola dipolitisasi.

konflik diciptakan dan dibuat makin parah. sebab, orang-orang politik yang bermain di organisasi bola ini memang hidup dari konflik. makin hebat konflik, maka makin senang dan eksislah mereka.

maka, jangan harap kisruh di pssi dan kompetisi kita akan selesai dalam waktu dekat. kasihat orang-orang bola sejati yang sejak zaman belanda sudah mengurus bola macam klub asyabaab, suryanaga, indonesia muda.

mungkin kisruh akan berakhir setelah la nyala mattaliti jadi ketua umum pssi.

16 December 2011

pietche rilis album natal

lagu-lagu natal selalu (hampir) sama dari tahun ke tahun. tapi para penyanyi tetap antusias membuat album natal. pietche ranitoa pun tak mau ketinggalan.
penyanyi rohani asal flores ini baru saja merilis christmas album-nya. ada 11 lagu di album yang diproduksi sendiri. lagu-lagu natal yang sudah sangay akrab di kuping umat kristiani.

malam kudus, o holy night, hai mari berhimpun, gloria in excelsis deo. "tapi saya juga memasukkan lagu natal ciptaan saya sendiri untuk memperkaya khasanah lagu-lagu natal," kata pietche yang dijumpai di gereja maria tak bercela, ngagel, surabaya, kemarin.

sebelum memproduksi album ini, pietche mengaku sempat melakukan survei selera jemaat. hasilnya, minat umat cukup bervariasi. kalangan menengah atas dan tionghoa lebih suka lagu-lagu natal yang bernuansa klasik seperti o holy night.
sementara di indonesia timur lebih suka yang bergaya country.

"maka, di album ini saya mencoba mengakomodasi selera yang berbeda itu," kata pietche tentang album keempatnya ini.

namanya juga indie label, pietche harus pontang-panting memperkenalkan albumnya. keliling dari gereja ke gereja untuk menitipkan album di toko buku. juga memanfaatkan jaringan pertemanan yang sudah dibina selama 16 tahun menekuni kariernya sebagai gospel singer.

pietche mengaku hanya mencetak 2.000 keping vcd. ini angka rata-rata untuk album rohani independen. dia optimistis album natalnya bisa diterima umat kristiani di surabaya dan kawasan indonesia timur.

bukankah sudah terlalu banyak album natal dari penyanyi terkenal di pasar?

"betul. tapi yang karakternya macam saya kan belum ada. saya juga menggunakan studio yang bagus dengan aransemen musik yang berkualitas," ujar pria yang murah senyum ini.

kalaupun tahun ini tidak terserap di pasar, pietche yakin tahun-tahun mendatang album natalnya bakal dicari orang. sebab, karakter album-album natal memang evergreen alias bisa bertahan dari masa ke masa. lagu malam kudus, misalnya, tetap dinyanyikan meski sudah berusia ratusan tahun.

doa tukang tambal ban

apes. maksud hati ngontel ke suramadu, tiba-tiba ban sepedaku gembos. kena logam semacam paku. keapesan macam ini memang bisa dialami siapa saja, kapan saja.

untung, ada penambal ban sekitar 200 meter. "sampean pasien pertamaku," kata si tukang tambal ban bernama cak ali. "doaku terkabul," katanya cengengesan.

doa-doa harian cak ali dkk sederhana saja: "TUHAN, semoga hari ini banyak orang yang bannya gembos." banyak ban gembos berarti banyak pasien. berarti banyak uang masuk.

saya pun menikmati jalan pikiran cak ali. akal sehatnya bagus. kalau ban saya tidak gembos, dia tak akan dapat uang. saya pun tertawa kecil. apes pun hilang meski gagal ke jembatan 5,4 km itu.

sambil baca berita di koran tentang kemenangan barcelona di piala toyota, saya mulai mengikuti cara berpikir cak ali. tak jauh dari situ ada tukang kunci. belum ada konsumen.

doa tukang kunci: semoga hari ini ada orang kehilangan kunci. tukang kunci itu senyam-senyum. dan... benar, lima menit kemudian ada pengendara motor datang. mengajak tukang kunci ke rumahnya karena beberapa kuncinya hilang.

rupanya, doa tukang kunci terkabul. hehehe... saya pun cabut setelah bayar 500 pada si penambal ban.

doa-doa ini saya kaitkan denhan dokter yang tempat praktiknya dekat kediaman saya. "semoga makin banyak orang surabaya yang sakit, Tuhan. biar pasien makin banyak, rezeki makin melimpah."

doa dokter mungkin akan disambung para penggali kubur di permakaman ngagel. "Tuhan, semoga hari ini ada orang ngagel yang mati agar kami bisa dapat kerjaan menggali kubur."

syukurlah, doa-doa dokter, pengusaha apotek, dan penggali makam dilawan oleh pengusaha asuransi. "Tuhan, semoga semua orang diberi sehat, tidak celaka, tidak ada bencana alam... sehingga tidak ada nasabah yang klaim."

15 December 2011

penerjemah mandarin di pengadilan

banyak orang di surabaya yang fasih berbahasa mandarin. namun belum banyak orang yang bisa dimintai jasanya menjadi penerjemah mandarin dalam urusan hukum.

karena itu, aparat penegak hukum sering kali kesulitan menghadapi tersangka atau terdakwa yang berasal dari taiwan atau tiongkok. seperti diketahui, orang-orang dari negeri naga itu juga tidak bisa berbahasa inggris.

karena itu, selama ini pihak kepolisian atau pengadilan biasanya memanfaatkan jasa 'relawan' yang bersedia menjadi penerjemah. salah satunya liauw sin lan alias lanny candra dari yayasan pelita kasih.

"saya beberapa kali duduk di samping terdakwa di pengadilan negeri. mungkin orang mengira saya ini ikut jadi terdakwa. hehehe...," kata," kata lanny pekan lalu.

menurut lanny, menjadi penerjemah mandarin dalam kasus hukum agak berbeda dengan pemandu wisata atau sekadar penerjemahan biasa. sebab, adistem hukum di indonesia yang berbeda dengan negara asal si terdakwa. konsep itu harus bisa dijelaskan dengan baik. untungnya, lanny sendiri sudah 10 tahun lebih mendampingi para tahanan dan terdakwa di penjara-penjara di jatim.

"kita meskipun bukan ahli hukum, tapi harus mengerti hukum. itu akan memudahkan kita ketika mendampingi mereka di persidangan," kata wanita yang aktif melakukan pelayanan rohani dan bakti sosial itu.

selain itu, menurut lanny, seorang penerjemah sebaiknya menguasai beberapa dialek bahasa tionghoa, tidak hanya mandarin sebagai bahasa nasional. ini karena banyak tersangka yang enggan berbahasa mandarin dan hanya mau bicara dalam dialek setempat.

"memang di dunia hukum itu liku-likunya banyak karena kita menghadapi jaringan internasional," kata lanny yang fasih beberapa dialek tionghoa itu.

bagi orang tionghoa di indonesia, menurut dia, bahasanya orang-orang dari tiongkok bagian selatan seperti guangdong, fujian, taiwan, atau hongkong lebih mudah ditangkap ketimbang dialek orang-orang utara.

14 December 2011

natal prematur di jawa

orang kristen di jatim tidak banyak. tapi suasana natal cukup terasa sejak awal desember. pusat belanja penuh hiasan natal. hotel berbintang. beberapa kantor swasta.

jawa pos juga bikin festival jingle bells setiap hari. hampir semua gereja di surabaya dan sekitar ikut lomba paduan suara, nyanyi, hingga band rohani itu.

dimuat tiap hari di koran, acara ini terkesan begitu hebatnya. orang-orang kristen di surabaya ingin menunjukkan bahwa mereka punya potensi besar di bidang musik.

menurut kalender liturgi, saat ini masih masa adven. bersiap diri menyambut natal. tapi suasana adven ini sejak dulu kurang terasa. ini juga karena orang-orang kristen di jawa sering mengadakan perayaan natal sebelum 25 desember. masa adven pun kabur.

sebetulnya masalah ini, natal yang prematur, sudah dibahas panjang lebar sejak puluhan tahun lalu. jadi debat teologis yang tak ada habisnya.

tapi mau bagaimana lagi? semua orang punya hak dan kebebasan untuk mengekspresikan imannya. mau natalan tanggal 24 desember atau 25 desember atau 10 desember, silakan.

saya sendiri menerima undangan perayaan natal sebelum 20 desember. sebagai orang flores dengan tradisi katolik yang konservatif inkulturatif, ini jadi dilema tersendiri. masih adven kok sudah natalan.

tapi kalau tidak pun kurang nyaman karena mereka teman-teman kita juga. yang paling penting moga-moga damai dan sukacita natal selalu bersama kita semua. amin.

hp tiongkok di negara konsumen

Apa boleh buat, rupanya kita sudah ditakdirkan sebagai bangsa konsumen. bukan produsen. Lihat saja saat ini: berbagai barang di toko, mal, plaza, khususnya yang terkait gaya hidup sebagian besar impor.

Telepon seluler (hp) impor. mobil. motor. laptop. komputer. bahkan barang kecil-kecil macam pisau, penitian bolpoin, gunting, mainan anak saat ini dikuasai made in china.

Tiongkok memang piawai membuat barang-barang murah. apa saja dari peniti hingga motor, hp, komputer, hingga mesin pembangkit listrik. Murahnya bukan main. Mesin perahu nelayan di sidoarjo misalnya yang buatan cungkuo lima kali lebih murah ketimbang made in japan.

Bulan lalu ada bursa hp china di kawasan waru, dekat bandara juanda. saya mampir. Akhirnya, tergoda dengan huawei g6611. harganya cuma 200 ribu. Padahal, huawei ini punya fitur lengkap. Internetnya bagus, bisa dipakai ngeblog seperti yang saya lakukan ketika menulis catatan ini. Kekuatannya bagaimana?

Kalau kita banting ya pasti rusak. TTergantung perawatannya aja, kata si nona spg huawei cengengesan.

Begitulah. Barang-barang made in china memang terkenal dengan imejnya yang buruk. Murah tapi mutu tidak dijamin. dipakai beberapa kali kemudian jadi sampah. Kemudian beli lagi. Toh murah meriah.

HP huawei sendiri dirilis saat piala dunia 2010. Waktu itu harganya 750-an ribu. Kurang setahun Kemudian tinggal 230-an di pasar kaki lima. Ini makin memperburuk citra produk-produk tiongkok.

Saya sering merenung sendiri: mengapa manusia-manusia indonesia tidak bisa bikin hp murah? Laptop murah? komputer murah?

Mengapa kita selalu melecehkan produk2 tiongkok yang justru sangat menolong orang indonesia yang penghasilannya sedikit? Kita sering terlalu pintar bicara, jago kecam, tapi lupa berproduksi. Sementara di depan mata kita produk-produk asing berseliweran di jalan raya kayak toyota, daihatsu, honda, yamaha, suzuki, dan entah apa lagi.

Sebuah bangsa yang mengabaikan produksi, begitu kira-kira kata pramoedya ananta tour, niscaya menjadi objek pasar bangsa-bangsa lain.

ngeblog pakai hp di suramadu

Sambil ngopi di kaki suramadu, tambakwedi, saya tiba-tiba kepingin ngeblog pakai hp. Kata beberapa bloger, ngeblog dengan ponsel tak kalah asyik ketimbang laptop atau komputer biasa.

Mengetik pakai hp jelas tidak nyaman bagi orang macam saya yang sejak kecil sudah kenal mesin tik manual. Papan kibod hp terlalu kecil. Layar hp pun sangat kecil. Tapi kalau sudah terbiasa akan asyik, kata beberapa bloger. Kita bisa ngeblog kapan dan di mana saja secara praktis.

Ngeblog pakai hp memang unik. Cuma persoalannya, sulit mengatur huruf besar. Bisa saja tapi cukup lama, radar repot. Dan itu mengganggu aliran pikiran. ya sudah, pakai huruf kecil semua saja. Tak usah huruf kapital.

Di tambakwedi ini tiap hari ada puluhan penggemar sepeda macam saya yang istirahat setelah mancal lima sampai 10 km. Angin lautnya asyik. Melihat jembatan 5,4 km dengan riak air laut, batu karang, bakau, pohon bidara... memang menyenangkan.

Warung-warung kopi, yang pemiliknya orang madura, berderet di pantai. jualan mi, kopi, teh, jajanan, rokok, air minum, juga nasi. Tapi tidak ada makanan laut yang enak yang bisa dinikmati. Aneh, dekat laut tapi tidak ada makanan laut alias sea food.

Kalau pagi hari didominasi orang dewasa, khususnya lansia, mulai petang suramadu dijubeli anak-anak muda remaja. Berduaan laki perempuan. Pacaran di atas motor di tepi pantai yang remang. Adu hidung, adu bibir, saling membelai....Polisi dan satpol pp sering cemburu dan kurang suka. Hehehe....

Ehm... dunia seakan milik berdua di suramadu. para laoren alias lansia atau setengah lansia selalu cemburu melihat kemesraan remaja di tepi pantai. Yah, dunia remaja dan dunia lansia memang berbeda.

Orang tua tidak perlu iri atau marah-marah karena dulu pernah melakukan hal yang sama.

11 December 2011

Real Madrid Kalah Kelas



Real Madrid kalah lagi dari Barcelona tadi pagi. Cara mainnya masih sama dengan musim lalu.Kerja sama antarlini tak jalan. Jauh dibandingkan Barcelona yang makin mantap.

Memang awalnya Barca dibuat terkejut oleh gol cepat Benzema. Tapi setelah itu gaya bermain Barca yang mengandalkan kerja tim kian muncul. Barca memang luar biasa.

Salut buat Xavi Hernandez dkk yang berhasil membuat permainan Madrid tidak berkembang. Madrid dibuat kacau, mirip tim medioker.

Musim lalu saya menulis bahwa Madrid akan sangat sulit mengalahkan Barca jika cara mainnya masih seperti sekarang. Main tanpa skema yang jelas. Terlalu lama bawa bola macam Ronaldo atau di Maria. Tak akurat umpan. Lini tengah mandek.

Kalau begini terus, saya yakin Barcelona B pun akan sulit dikalahkan. Sungguh kasihan Real Madrid. Sudah terlalu banyak buang uang, tapi tidak bisa mengalahkan Barca yang efisien dan cerdas.

Saya kira Jose Moreinho sebaiknya diganti. Makin lama dipegang Jose, Madrid akan tetap jadi juara tiga La Liga. Juara satu Barcelona A, juara dua Barcelona B.

Bagaimana pendapat Anda?

09 December 2011

Intoleransi di Jalan Raya

Minggu pagi (4/12/2011), saya ikut 'mengawal' peserta jalan sehat Hari Jadi Korpri di Sidoarjo. Acara tahunan ini diikuti sekitar 2.000 orang, termasuk Wakil Bupati Sidoarjo Pak Hadi Sutjipto. Ada hiburan dangdut, undiah berhadiah sepeda pancal, sepeda motor, dan sebagainya.

Masyarakat biasanya senang dengan acara-acara macam ini karena ada iming-iming hadiah. Tapi banyak juga yang senang demi kesehatan. Asyik, jalan ramai-ramai! Jalan sehat pun bisa jadi ajang promosi yang efektif di Jawa Timur. Maka, saya lihat ada konter Axis, Teh Pucuk Harum, Anlene, Yamaha, Kopi Ya, koran, dan aneka produk kerajinan.

Namanya juga jalan sehat, tentu saja rombongan menggunakan sebagian ruas jalan raya. Mulai dari alun-alun, Ahmad Yani, Gajah Mada, belok ke Salutan, Diponegoro, Sultan Agung, kembali ke alun-alun. Saya lihat peserta mulai anak-anak hingga lansia, termasuk anggota Taijiquan dan Ling Tien Kung berjalan dengan penuh semangat.

"Kita ingin sehat, Mas. Saya nggak pernah punya mimpi dapat hadiah," kata seorang aktivis taijiquan. Pria 70-an tahun ini memang semangatnya bukan main. Jalannya cepat dan terlihat segar meski usianya tidak lagi muda.

Sayang, pengguna jalan raya, khususnya pengendara mobil, rupanya kurang toleran. Mereka seperti terganggu dengan jalan sehat. Padahal, peserta hanya menggunakan beberapa meter saja badan jalan. Itu pun tidak lama. Acara jalan sehat tidak pernah lebih dari 60 menit karena rutenya memang pendek.

Di Jl Diponegoro, saya mengawal beberapa rombongan peserta untuk menyeberang. Tentu saja lewat zebra cross, bukan menyeberang secara ngawur. Sudah seharusnya pengguna mobil itu mengalah sesaat, kasih kesempatan kepada peserta jalan sehat untuk menyeberang. Tapi beberapa pengendara mobil tidak mau tahu. Nyelonong saja meskipun peserta ramai-ramai mengangkat tangan tanda meminta mobil berhenti.

Saya pun geleng-geleng kepala. Untungnya setiap hari Minggu lalu lintas tidak sepadat hari-hari biasa. Maka, peserta tetap bisa dapat celah untuk menyeberang untuk beralih ke Sultan Agung, kawasan kantor pos. Andaikan jalan sehat ini diadakan pada hari kerja, bisa jadi ada peserta yang tersenggol atau mendapat celaka.

Begitulah. Sudah sangat lama saya merasakan kian tipisnya toleransi di jalan raya. Orang-orang yang jalan kaki sering tidak direken oleh pengendara mobil atau motor. Sangat susah menyeberang, bahkan di zebracross sekalipun. Kita jadi malu ketika ada orang Barat, wisatawan, yang kebetulan datang ke Surabaya, Sidoarjo, atau kota-kota lain di Jawa Timur.

"Saya ngeri nyetir mobil di Surabaya dan Sidoarjo. Rasanya deg-degan," kata Christine, warga negara Swiss, yang sering berkunjung ke Sidoarjo. Yah, kita mau bilang apa?

Kalau tidak salah, di negara-negara lain pejalan kaki sangat dihormati sebagai manusia. Pengendara mobil atau motor otomatis berhenti atau memperlambat laju kendaraan ketika melihat ada orang yang hendak menyeberang di zebracross. Orang Barat atau Singapura atau Hongkong, yang sering dicap individualis oleh kita itu, justru lebih humanis di jalan raya.

Yang terjadi di Surabaya atau Sidoarjo terbalik. Ketika melihat ada orang yang hendak menyeberang di zebracross, mereka justru mempercepat laju kendaraan. Sama sekali tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada manusia untuk menyeberang. Orang-orang di Jawa bahkan lebih takut menabrak kucing ketimbang manusia.

Kalau menabrak kucing, bisa kualat, sementara menabrak manusia, ya, tabrak lari. Toh, tidak ada kamera yang merekam peristiwa semacam itu. Di jalan raya itulah, potret manusia Indonesia tergambar dengan sangat jelas.

06 December 2011

Perpit Pecah, Kiki Barki Bikin Kongres



Perhimpunan Pengusaha Tionghoa Indonesia (Perpit) dilanda perpecahan. Konflik yang awalnya hanya sekadar bisik-bisik internal kini mencuat ke permukaan. Kedua kubu Perpit saling memasang iklan di media massa dan mengklaim sebagai paling sah.

Melalui kuasa hukumnya, Otto Cornelis Kaligis, Perpit versi Tahir memasang iklan besar-besar di koran pada Senin (5/12) lalu. OC Kaligis menilai kongres Perpit versi Kiki Barki di Jakarta pada 7 Desember 2011 di Sun City Restaurant, Jakarta, sebagai 'tidak sah dan ilegal.

Alasannya: "kongres itu dibuat oleh pihak-pihak yang tidak berwenang secara hukum dan telah mengatasnamakan Perkumpulan Perpit yang sah".

Seperti diketahui, kedua kubu Perpit yang diperkuat pengusaha-pengusaha besar keturunan Tionghoa terlibat sengketa kepengurusan sejak setahun terakhir. Baik kubu Tahir maupun Kiki Barki mengklaim sebagai pengurus Perpit ang sah. Sengketa pun sampai ke meja pengadilan.

Gugatan perdata dilayangkan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 339/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Pst. Hingga saat ini, menurut OC Kaligis, sengketa perdata ini belum berkekuatan hukum tetap. "Perkara tersebut sedang dalam proses pemeriksaan di tingkat banding," tegas Kaligis.

Menanggapi kisruh Perpit di tingkat pusat, Liem Ouyen dari Perpit Jawa Timur menanggapinya dengan santai. Menurut dia, Perpit Jatim tetap mengikuti kongres yang diadakan kubu Kiki Barki pada 7 Desember 2011. "Sebab, yang melantik kepengurusan Perpit Jatim di Surabaya, ya, Kiki Barki. Jadi, kami tetap datang ke kongres karena diundang secara resmi," ujar Liem Ouyen kepada saya.

Perpit Jatim, yang berkantor di markas Yayasan Bhakti Persatuan, Jl Kertajaya Indah Timur 31 Surabaya, ini bahkan mengirim tujuh delegasi ke kongres di Jakarta. Selain Liem Ouyen, terdapat nama-nama seperti Ridwan S Harjono (ketua), Budi Wijaya, Sutrisno Alim, Ming-Ming, dan Arief Harsono. Mereka tetap komit mendukung Kiki Barki sebagai ketua umum DPP Perpit periode 2012-2015.

"Cara berorganisasi orang-orang Jakarta itu memang beda dengan kita di Surabaya. Jadi, kelihatan seperti tegang terus. Kalau kita di Perpit Jatim sih sejak dulu selalu seia sekata," kata Liem Ouyen lantas tertawa kecil.

04 December 2011

Rahady GM The Sun Hotel Sidoarjo




Oleh LAMBERTUS HUREK

Dibandingkan lima atau 10 tahun lalu, wajah Sidoarjo saat ini sudah jauh berubah. Kini, Sidoarjo semakin kinclong dan 'metropolis'. Sudah punya hotel, mal, water park, hingga convention hall di tengah kota. The Sun Hotel tercatat sebagai hotel berbintang pertama di tengah kota Sidoarjo.

Berlokasi di Jalan Pahlawan 1, hotel yang berada di dalam kompleks Sun City Mall ini sudah menjadi jujukan para pebisnis ketika berkunjung ke Sidoarjo. Begitu pesatnya perkembangan hotel ini, The Sun Hotel bahkan sedang mengembangkan sayap ke Madiun dan Bekasi.

Tentu saja, kemajuan hotel bintang tiga yang eksis sejak tahun 2008 ini tak lepas dari kerja keras Timotius Rahady (42), sang general manager, bersama staf dan karyawannya. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Timotius Rahady di sela makan siang, Kamis (1/12/2011).

Berapa kamar yang Anda miliki dan bagaimana tingkat huniannya?


Total, kami punya 129 kamar, mulai kelas superior, de luxe, executive, dan suite. Yang suite ini hanya ada dua kamar dengan tarif sekitar Rp 2 juta semalam. Syukurlah, okupansinya (tingkat hunian, Red) sangat bagus. Sekarang ini hampir semua kamar yang ada di sini penuh. Jadi, tugas kami sekarang adalah bagaimana mempertahankan okupansi yang sudah baik itu serta terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada para tamu.

Bagaimana dengan pendapat bahwa para pebisnis yang punya urusan di Sidoarjo lebih suka menginap di Surabaya?

Dulu, anggapan seperti ini memang ada benarnya. Sebab, waktu itu belum ada hotel berbintang di Sidoarjo. Kalaupun ada, hotel-hotel itu terkonsentrasi di dekat kawasan Bandara Juanda. Sehingga, tentu saja pengusaha-pengusaha atau tamu-tamu dari luar memilih menginap di hotel-hotel yang ada di Surabaya. Apalagi, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya punya berbagai fasilitas hiburan, belanja, rekreasi, dan sebagainya yang komplet.

Tapi, dalam perkembangannya, tamu-tamu dari luar memilih menginap di tempat kami (The Sun Hotel) ketika melakukan kunjungan kerja atau acara-acara bisnis di Kabupaten Sidoarjo. Buktinya, okupansi hotel ini justru lebih tinggi daripada di kawasan Juanda yang masih sekitar 55 persen. Di Surabaya sekitar 77 persen. Jadi, so far, kondisi Sidoarjo ini cukup prospektif untuk bisnis perhotelan.

Boleh tahu tamu-tamu Anda dari kalangan mana saja?


Hampir 80 persen berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Sebagian besar tamu adalah pebisnis yang punya urusan dengan pabrik-pabrik di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, karakter tamu-tamu kami agak berbeda dengan tamu-tamu di hotel-hotel berbintang yang lain.

Bisa diperjelas?


Begini. Karena tamu-tamu kami ini kebanyakan businessman, maka okupansi yang tinggi itu justru terjadi pada saat hari kerja. Saat weekend justru berkurang karena mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Pada hari Senin sampai Jumat, tingkat hunian melonjak lagi.

Ada lagi yang menarik. Biasanya, tamu-tamu yang sebagian besar dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) ini datang lewat Bandara Juanda pada first flight atau penerbangan awal. Dari bandara, mereka langsung berangkat ke tempat kerja, menemui rekanan bisnis dan sebagainya, dan baru check-in pada malam hari setelah selesai bertugas.

Artinya, tamu-tamu The Sun ini umumnya tidak hanya menginap satu dua malam saja?

Betul. Bahkan, ada tamu kami, pebisnis, yang tinggal di sini sampai enam bulan bersama enam rekannya. Karena itu, kami selalu berusaha memperlakukan tamu-tamu The Sun sebagai keluarga sendiri. Kami, misalnya, menanyakan makanan-makanan kesukaan mereka, dan kami siap membuatkannya. Mau sambal yang spesial, ya, kami buatkan.

Bahkan, saat weekend pun kami sengaja mengajak mancing bareng di kawasan Lingkar Timur bersama beberapa staf dan manajemen hotel. Atau, jalan-jalan melihat dari dekat kondisi semburan lumpur di kawasan Porong. Sebagai hotel yang berada di Sidoarjo, kami juga ikut memperkenalkan objek-objek wisata Sidoarjo, termasuk kulinernya.

Servis spesial ini apakah hanya untuk tamu yang menginapnya lama?

Oh tidak. Tamu yang hanya nginap tiga minggu pun kita kasih layanan spesial. Selama ini kami juga menawarkan jasa mengantar tamu gratis ke tempat kerja. Misalnya, si tamu ingin agar jam delapan sudah sampai di pabrik di daerah Buduran, ya, kami siap antar.

Apa pertimbangan memberikan layanan seperti itu?


Simpel saja. Bagi kami, hotel itu ibarat sebuah rumah. Ketika orang kedatangan tamu di rumahnya, wong iku wani repote. Kita nggak punya ayam, dicari ayam untuk dihidangkan untuk tamu. Nggak punya kambing dicarikan kambing. Hehehe.... Lha, kalau tamunya senang, merasa enak, maka otomatis dia akan cerita ke keluarga atau teman-temannya. Sehingga, suatu saat, ketika ada urusan di Sidoarjo, dia akan menginap lagi. Sebab, hotel itu sudah seperti rumahnya sendiri.

Lantas, bagaimana Anda melihat potensi perhotelan di Sidoarjo?


Sangat baik. Di wilayah Kabupaten Sidoarjo ini ada sekitar 450 pabrik besar baik itu PMA (penanaman modal asing) maupun PMDN (penanaman modal dalam negeri). Ini merupakan potensi besar yang perlu kita garap. Sebab, ratusan pabrik itu punya rekanan bisnis yang tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri. Kalau berkunjung untuk urusan bisnis di Sidoarjo, ya, jelas mereka perlu menginap di hotel. Lha, kalau di Sidoarjo sudah ada hotel berbintang, mengapa harus stay di Surabaya? (rek)




Main Musik untuk Tamu

SEJAK kecil Timotius Rahady sudah senang bernyanyi dan main musik. Hobi yang bikin awet muda ini semakin ditekuni Rahady ketika kuliah di Semarang. Di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu, Rahady menimba ilmu di Sekolah Tinggu Ilmu Ekonomi Pariwisata.


Saat mahasiswa Rahady bahkan aktif sebagai pemain band. "Yah, ngeben itu sebenarnya hanya sekadar hobi. Tapi ternyata bisa juga untuk sekadar cari uang di sela-sela kuliah," kenang Rahady seraya tersenyum.

Berbagai aliran musik ditekuni Rahady bersama teman-teman band-nya. Tapi, sesuai dengan 'keinginan pasar' saat itu, Rahady dan kawan-kawan lebih banyak memainkan lagu-lagu dari band legendaris. "Kayak lagu-lagu tahun 1960-an, sixties, band-band legendaris. Lagu-lagunya terkenal dan lebih mudah dimainkan," katanya.

Meski aktif main band, kuliah Rahady lancar-lancar saja. Lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata itu, ayah dua anak ini mulai merintis karier di dunia perhotelan. Jadi pelayan alias waiter di sebuah hotel di kawasan Malioboro, Jogjakarta. Rupanya, Rahady cukup menikmati pekerjaan awalnya.

Pengalaman selama dua dasawarsa di perhotelan membuat Rahady sangat paham lika-liku dan manajemen sebuah hotel berbintang. Karena itu, pria berkacamata ini kemudian dengan mudah diterima sebagai sales marketing di Hotel Graha Santika Semarang. "Tujuh tahun saya kerja di Graha Santika," tuturnya.

Dari Semarang, Rahady pun 'digeser' ke Surabaya lantaran Santika tengah merintis hotel baru di Kota Pahlawan. Kembali Rahady memperlihatkan totalitasnya sebagai 'orang hotel' tulen. Begitulah. Sebagian besar usia Rahady, yang kini sudah 42 tahun, didekasikan dari hotel ke hotel.

Lantas, bagaimana dengan hobi bermusiknya yang sudah mendarah daging itu?

Rupanya, terus berlanjut meski wujudnya yang berbeda. Sebagai mantan anak band, tentu saja Rahady punya teman dan relasi yang erat dengan pemusik-pemusik ternama di tanah air. Khususnya musisi-musisi aliran jazz mainstream. Sebut saja Embong Rahardjo (almarhum), Arief Setiadi, Bintang Indrianto, atau Didiek SSS.

Nah, ketika konco-konco lawas ini kebetulan bertandang ke Surabaya, Rahady mengajak mereka untuk main bareng alias bikin jam session. Jadilah semacam 'festival' jazz kecil-kecilan di dalam hotel. "Saya memang ingin agar tamu-tamu hotel kerasan, kayak tinggal di rumah sendiri," katanya.

Di Sun Hotel Sidoarjo sendiri, Rahady sekali-sekali memperlihatkan bakatnya dengan memainkan piano klasik. Saat hendak difoto Radar Surabaya, misalnya, jari-jemari Rahady terlihat lincah di depan piano. Lalu, meluncurlah melodi Balada Pelaut, lagu pop daerah Manado, Sulawesi Utara.

"Siapa bilang pelaut mata keranjang.
Kapal bastom lapas tali, lapas cinta
Siapa bilang pelaut pamba tunangan
Jangan percaya mulut rica-rica...."



BIODATA SINGKAT

Nama : Timotius Rahady
Lahir : Rembang, 19 Mei 1969
Istri : Listiowati
Anak : dua orang
Jabatan : GM The Sun Hotel Sidoarjo
Hobi : Musik, khususnya piano

Alamat : Jl Pahlawan 1 Sidoarjo
E-mail : timotius_rahady@yahoo.co.id

Pendidikan
- SD di Rembang
- SMPN 2 Rembang
SMAN 2 Semarang
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata, Semarang

Riwayat Karier
- Hotel Mutiara Jogjakarta sebagai waiter
- Hotel Graha Santika Semarang, sales marketing
- Hotel Santika Surabaya
- Hotel Insumo Kediri
- MX Plaza Malang
- The Sun Hotel Sidoarjo sejak 2011

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 4 Desember 2011

03 December 2011

Tionghoa Makin Berkurang



Huang Meili, gadis Tionghoa Sidoarjo.


Berapa jumlah warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa? Angkanya masih simpang siur. Ada pengamat yang menyebut lima juta jiwa. Ada yang bilang tujuh juta. Ada lagi yang menyebut muslim Tionghoa mencapai 1,5 juta.

Kalau yang muslim saja 1,5 juta, jika digabungkan dengan penganut agama-agama lain (Katolik, Kristen Protestan, Buddha, Konghucu, Tao), populasi Tionghoa tentu jauh lebih besar. Tapi, yang menarik, hasil sensus penduduk 2010 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, saat ini penduduk Indonesia yang mengaku keturunan Tionghoa hanya 2,8 juta jiwa.

Adapun total penduduk Indonesia mencapai 237 juta jiwa. Dus, persentase Tionghoa sekarang 1,2 persen. Mengapa jumlah dan persentase Tionghoa menurun? Dan apakah penurunan ini akan berlangsung terus-menerus?

Menurut sejumlah analis, penurunan ini merupakan bukti suksesnya upaya pembauran dan akulturasi budaya di kalangan warga Tionghoa dengan penduduk setempat.

Begitu membaurnya dengan warga lokal, ketika ditanya petugas sensus, orang-orang Tionghoa generasi baru itu mengaku sebagai bukan lagi 'orang Tionghoa', melainkan orang Bangka, Belitung, Singkawang, Pontianak, Flores, Timor, Jawa, Madura, dan sebagainya. Apalagi, banyak generasi muda Tionghoa yang sudah lama 'hilang' ketionghoaannya.

Menurut Jousairi Hasbullah, analis statistik BPS, seorang imigran yang telah menetap lama di sebuah daerah, dari generasi ke generasi, niscaya dipengaruhi tradisi, bahasa, budaya, dan norma setempat. Akhirnya, dia mengaku sebagai anggota suku tempat dia berada.

"Petugas sensus akan mencatat sesuai pengakuan orang itu," kata Hasballah tentang pendekatan etnodemografis yang lazim dipakai BPS saat sensus penduduk di Indonesia.

Faktor lain adalah kawin campur. Ketika orang Tionghoa menikah dengan penduduk setempat, maka keturunannya biasanya cenderung masuk kategori pribumi. Asimilasi tuntas ini, menurut mendiang Dr Ong Hok Ham, banyak terjadi di Pulau Madura, khususnya Sumenep.

Karena itu, populasi Tionghoa yang cukup signifikan di Sumenep sejak tahun 1790, ketika Raja Sumenep mendatangkan tukang-tukang dari Tiongkok untuk membuat keraton dan masjid, lama-lama berkurang... dan akhirnya tinggal sedikit saat ini.

Mengapa?

Ketika imigran Tiongkok generasi awal, yang semuanya laki-laki itu, ingin menikah dengan perempuan lokal, harus lebih dulu masuk Islam. Keturunan mereka kian melebur dalam budaya, agama, dan bahasa setempat, dan tak lagi mengenal tradisi, bahasa, atau agama leluhurnya.

Karena itu, bisa dipahami jika Hasbullah dalam tulisannya di KOMPAS edisi 2 Desember 2011 menyebutkan bahwa populasi Tionghoa saat ini (sensus tahun 2010) menurun drastis dibandingkan sensus penduduk tahun 1930. Saat sensus di era Hindia Belanda itu populasi Tionghoa mencapai 2,04 persen.

Selain itu, menurut saya, penurunan persentase Tionghoa di Indonesia ini juga akibat represi rezim Orde Baru yang berkuasa sejak 1966 hingga 1998. Selama 32 tahun orang-orang Tionghoa dipaksa MENJADI INDONESIA dengan kewajiban ganti nama, ganti agama, dan tidak boleh melestarikan atau mengembangkan budaya leluhur. Ekspresi budaya Tionghoa hanya dilakukan di dalam rumah atau komunitas khusus.

32 tahun jelas bukan masa yang pendek. Suka tidak suka, Tionghoa generasi Orde Baru yang lahir setelah tahun 1966 ini, sudah berbeda dengan orang tua mereka yang rata-rata bersekolah di sekolah-sekolah Tionghoa. Tionghoa Orba ini umumnya sekolah di sekolah-sekolah Katolik, Protestan, negeri, atau sekolah swasta umum. Bahasa Tionghoa generasi Tionghoa Orba pun tidak sefasih orang tua, apalagi kakek-neneknya.

Orang-orang Tionghoa Orba ini, yang sekarang berusia di bawah 45 tahun, pun tidak begitu tersinggung, apalagi marah, ketika kita menggunakan istilah CINA (tanpa H) dan bukan TIONGHOA. Yenny Wijayanti, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya, misalnya, selalu menulis CINA dan bukan TIONGHOA seperti dianjurkan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu aktivis masyarakat Tionghoa di Kota Surabaya.

Yenny alias Huang Meili ini mengaku tidak bisa mengerti mengapa saya selalu mengubah istilah CINA yang dia tulis dengan TIONGHOA atau TIONGKOK. Begitulah. Tionghoa Orba ini rata-rata kurang membaca sejarah dan asyik-asyik aja mau disebut CINA, CHINA, CHINESE, TIONGHOA, atau apa saja... terserah.

Tapi jangan coba-coba menyebut CINA, apalagi CINO, atau menulis CINA (tanpa H) di depan Pak Lim yang Tionghoa golongan totok. Beliau pasti marah dan akan memberi kuliah khusus tentang masalah ini secara panjang lebar.

"Wartawan itu harus tahu sejarah dan banyak baca. Kalau Saudara males baca, tidak mau tahu sejarah, sebaiknya pulang saja ke kampung halamanmu. Pasti tulisanmu akan kacau!" begitu antara lain kata-kata Pak Lim.

Dan saya setuju pendapat beliau. Kita harus banyak baca, belajar sejarah, tenggang rasa, sensitif memilih kata atau istilah agar orang lain tidak tersinggung.

Karena berkali-kali dapat 'kuliah' macam ini di Surabaya, sejak delapan tahun lalu saya tidak pernah menggunakan kata CINA dalam semua tulisan saya. Saya selalu pakai TIONGHOA atau TIONGKOK, dan belakangan ini ZHONGGUO (baca: Cungkuo) setelah saya mulai sedikit-sedikit paham karakter hanzhi di komputer atau telepon seluler.

01 December 2011

Lanny Chandra - Pelita Kasih



Selain aktif dalam kegiatan bakti sosial sejak 1997, Lanny Chandra akhir-akhir ini kerap diminta menjadi penerjemah bahasa Mandarin untuk tahanan dan narapidana asal Tiongkok dan Taiwan. Bahkan, ketua Yayasan Pelita Kasih ini diminta menjadi 'konsultan' kesehatan bagi teman-teman dan kerabat dekatnya.

Maklum, Lanny Chandra yang pernah diopname cukup lama di Singapura kini terlihat segar-bugar. Gara-gara sakit cukup lama itu, dia menjadi sangat memahami obat-obatan hingga diet untuk penderita diabetes dan gangguan kesehatan serius lainnya. Saat baksos, Lanny pun ikut mengecek gula darah pasien. Tak heran, perempuan yang kerap disapa Sin Lan ini sering dijuluki sebagai 'dokter Lanny' oleh teman-temannya.

"Saya selalu ingatkan agar masyarakat selalu mengontrol kadar gula darah, kolesterol, dan sebagainya. Periksa kesehatan secara rutin agar kita bisa antisipasi," ujar Lanny Chandra kepada saya.

Tak sekadar memberi masukan kepada orang-orang yang mengalami hiperkolesterol, asam urat, gula darah..., Lanny biasanya menyimpan makanan kesehatan dan obat-obatan herbal. Sebagian obat-obatan itu dia peroleh dari Tiongkok. Ketika ada sejumlah pendeta atau evangelis yang mengalami gangguan kesehatan gara-gara kolesterol, Lanny pun menawarkan herbal khas Tiongkok itu.

"Saya punya teh khusus dari Tiongkok. Ada tiga pendeta yang sudah merasakan khasiat teh ini. Mereka yang tadinya selalu kesemutan karena kolesterol tinggi sekarang jadi segar," ujar Lanny lantas tersenyum lebar.

Menurut Lanny, sejak dulu teh yang diproduksi di negara tirai bambu itu memang punya kelebihan dibandingkan teh-teh lain di mana pun. Selain kondisi iklimnya yang berbeda, orang-orang Tiongkok punya 'budaya teh' yang sudah berlangsung selama ribuan tahun. Karena itu, daun-daun teh yang dipakai pun benar-benar pilihan.





Pengalaman adalah guru yang terbaik. Pepatah ini dihayati benar oleh Lanny Chandra. Di usia kepala enam, ketua Yayasan Pelita Kasih Surabaya ini sangat ketat menjaga pola dan asupan makannya.

Betapa menderitanya menjadi pasien diabetes yang harus dirawat intensif selama berbulan-bulan di Singapura. Biaya perawatan jelas mahal, belum lagi komplikasi yang ditimbulkan akibat kada gula darah yang tidak normal itu.

"Tante pernah kena stroke. Tapi, puji Tuhan, Tante bisa aktif melakukan bakti sosial, kunjungan ke penjara, dan sebagainya karena sudah sehat," ujar Lanny Chandra alias Liauw Sin Lan.

Sejak menjadi penderita diabetes itu, Lanny semakin peduli dengan kesehatannya sendiri, juga kesehatan orang lain. Salah satu caranya adalah membeli alat untuk mengecek gula darah. Alat yang mungil ini selalu disimpan di dalam tasnya dan dibawa Lanny ke mana-mana. Dengan begitu, setiap saat dia bisa dengan mudah mengukur kadar gula darahnya.

Menurut Lanny, semua orang harus mengantisipasi penyakitnya sejak dini. Jangan sampai terlambat ketika kadar gula darah atau indikator kesehatan lain seperti kolesterol total, kolesterol jahat (LDL), kolesterol baik (HDL), trigliserida, atau asam urat sudah berada di luar batas normal. Lanny selalu menggunakan istilah 'rapor merah' untuk orang-orang yang hasil check-up-nya mengkhawatirkan.

"Kondisi Anda sudah sangat mengkhawatirkan, bukan lampu kuning, tapi sudah lampu merah. Kalau Anda tidak mengontrol makanan, tidak mau olahraga, beberapa tahun lagi Anda akan jadi pasien jantung koroner. Tante serius lho," ujar Lanny kepada seorang rekannya yang kadar kolesterolnya mengkhawatirkan.

Wejangan-wejangan kesehatan ala Lanny Chandra memang lebih keras ketimbang dokter beneran. Bukannya menakut-nakuti, perempuan yang aktif dalam pelayanan bersama Pelita Kasih sejak 1997 ini agar masyarakat tidak main-main dengan kesehatannya. Sebab, selama ini dia melihat banyak orang yang tidak mau mengubah pola hidup dan pola makannya meski sudah tahu kalau hasil cek kesehatannya kuning atau merah.

"Kalau pola makanan Anda tidak dijaga, tidak mau cari obat-obatan, cuek saja, ya, Tante tidak bisa apa-apa. Toh, keputusan ada di tangan Anda sendiri," kata mantan pengusaha yang terkenal jago memasak ini.

Tak hanya kepada relawan Pelita Kasih, aktivis gereja, masyarakat kelas bawah, Lanny Chandra pun kerap 'mengkhotbahi' kalangan kepolisian, petugas penjara, pejabat, atau pengusaha besar tentang pentingnya menjaga kesehatan. Khususnya selalu menjaga kadar gula darah, kolesterol, atau asam urat agar berada di dalam batas normal.

"Biar tidak seperti Tante yang sampai dirawat di Singapura," katanya.

Wisata Lokal yang Sepi



Pantai wisata Parangtritis, Jogjakarta.



Sejak bulan lalu, hampir setiap hari, banyak iklan di surat kabar yang mempromosikan wisata akhir tahun. Setelah saya cek, hampir 100% iklan itu mengajak orang Indonesui untuk melancong ke luar negeri.

Eropa, Amerika, dan negara-negara Asia, khususnya Tiongkok, Taiwan, Hongkong, atau Makau, masih jadi favorit. Timur Tengah laris dengan wisata rohani, khususnya tempat-tempat ziarah yang dianggap penting untuk umat kristiani. Misalnya, Yerusalem, Bethlehem, Mesir, dan sebagainya.

Lantas, adakah iklan-iklan yang mempromosikan tempat-tempat wisata dalam negeri? Tidak ada. Biro-biro perjalanan wisata sejak dulu memang sangat jarang mempromosikan destinasi lokal atau nasional. Orang Indonesia selalu dikondisikan untuk jalan-jalan ke luar negeri, kemudian membagikan pengalaman lewat tulisan atau foto-foto di media massa.

Seakan-akan destinasi asing itu begitu hebatnya. Tulisan-tulisan tentang perjalanan pun ibarat iklan pariwisata yang lebih hebat ketimbang iklan asli yang dibuat negara tersebut. Karena itu, saya tidak pernah membaca tulisan-tulisan macam itu. Saya lebih suka membaca tulisan-tulisan Agustinus Wibowo, yang juga doyan jalan-jalan ke negara yang 'tidak lazim' macam Afghanistan, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan negara-negara lain yang 'sangat menantang'.

Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, NTT, sempat mencuat gara-gara polemik seputar New7Wonder yang kontroversial itu. Tiba-tiba saja orang rajin bicara binatang purba yang memang sangat langka itu. Sayang, seperti biasa, semuanya 'omdo': omong doang. Tak ada usaha yang sistematis dan serius untuk menggairahkan pariwisata di dalam negeri. Padahal, kata orang-orang Barat, Indonesia ini punya kekayaan alam, kekayaan budaya... yang bisa menghidupkan bisnis pariwisata.

"Sulit Bung, fasilitas pendukung wisata di dalam negeri belum memadai," kata Bung Eddy, pelaku bisnis pariwisata. Fasilitas itu macam-macam: penerbangan reguler, kemudahan transportasi, akomodasi, dan sebagainya.

Bukankah semua provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia sudah punya Dinas Pariwisata?

"Hehehe... Dinas Pariwisata di mana-mana cuma sekadar pajangan. Bahkan, jadi semacam dinas untuk menampung pejabat-pejabat di daerah yang sengaja 'dibuang'. Dinas Pariwisata tidak pernah dikelola secara profesional. Anda ini kayak nggak tahu aja," tukas Bung Eddy.

Komentar Bung Eddy tidak memang tidak mengada-ada. Saya melihat sendiri suasana kerja di dinas-dinas pariwisata di Jawa Timur. Benar-benar jauh dari profesional. Kantornya tidak menarik, pegawai-pegawai dan pejabat-pejabatnya kurang kompeten di bidang pariwisata. Belum bicara alokasi anggaran.

"Anggaran untuk pariwisata itu di mana-mana paling rendah di semua kabupaten," kata seorang mantan pejabat di Surabaya. "Bagaimana kita mau mengangkat pariwisata di dalam neger?"

Kementerian Pariwisata, ketika menterinya masih Jero Wacik, memperkenalkan jargon KENALI NEGERIMU, CINTAIMU NEGERIMU. Tapi, seperti biasa, jargon pejabat tetap saja jargon. Tanpa ada perbaikan infrastuktur dan fasilitas-fasilitas pendukung, kita akan sulit menandingi arus kunjungan wisatawan ke Singapura, misalnya. Negara tetangga superkecil yang sebenarnya tidak punya kekayaan alam sehebat Indonesia.

26 November 2011

Cak Ugeng Pelukis Sembur




Pelukis yang satu ini, Sugeng Prajitno (50 tahun)--- yang lebih suka disapa Cak Ugeng --- memang nyeleneh. Kalau biasanya pelukis-pelukis lain menorehkan cat minyak ke atas kanvas dengan kuas, Cak Ugeng justru pakai mulut. Cat minyak itu dimasukkan ke dalam mulut, dikumur sebentar, kemudian disemburkan ke atas kanvas atau papan yang sudah disediakan.


Sekitar 30 menit kemudian jadilah lukisan-lukisan abstrak dengan tema tertentu. Aksi teatrikal Cak Ugeng kian 'menyeramkan' karena pria kelahiran Perak Timur, Surabaya, ini biasanya bermain-main api di kedua belah tangannya, menempel-nempelkan api di tubuhnya, menyemburkan bensin ke arah api, sehingga terlihat membesar di udara.

Diiringi permainan musik dari beberapa rekannya, Cak Ugeng kemudian mengadakan demo melukis abstrak dengan menyemburkan cat dari mulutnya. Berikut petikan percakapan santai Radar Surabaya dengan Cak Ugeng di studionya, Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo, kemarin.

Sejak kapan Anda mulai bikin 'ulah' dengan metode melukis yang tidak umum itu?


Saya mulai sejak 2003. Awalnya sih coba-coba saja, sekadar mencari perhatian. Sebab, saya kan tergolong pelukis pemula yang belum punya nama di Jawa Timur. Saya harus melakukan sesuatu yang tidak umum agar orang mengenal saya.

Saya ini kan seniman yang otodidak. Saya nggak punya background pendidikan seni rupa, ikut sanggar lukis, kursus, dan sebagainya. Sementara pelukis-pelukis lain kan sudah eksis dan punya nama. Maka, saya perlu melakukan sesuatu yang berbeda agar bisa dikenal banyak orang. Eh, ternyata lama-kelamaan kok asyik, dan keterusan sampai sekarang.

Bisa dikatakan Anda mau mencari sensasi?


Pada awalnya sih ada unsur sensasi. Sebab, bagaimanapun juga setahu saya di Indonesia (mungkin juga di negara-negara lain) belum ada seniman yang melukis dengan menyemburkan cat dari mulutnya. Kemudian aksi ini saya perkaya dengan performance art sehingga bisa menjadi sebuah tontonan yang bisa dinikmati banyak orang. Tapi, setelah berjalan selama beberapa tahun, tidak ada lagi unsur cari sensasi. Sekarang sudah sampai ke taraf spiritual karena apa yang saya lakukan ini seperti sebuah laku spiritual bagi saya. Makanya, saya selalu menyembut pertunjukan saya sebagai spiritual painting.

Barangkali Anda menggunakan unsur magic atau ilmu-ilmu tertentu mengingat Anda berkumur cat dan bermain-main api segala?


Oh, tidak ada sama sekali. Ini murni kesenian. Siapa pun bisa melakukannya kalau mau belajar dan mencoba. Saya sendiri pun awalnya hanya coba-coba saja, tapi ternyata bisa dilakukan dengan mudah.

Tapi penampilan Anda yang gondrong, bertelanjang dada, dan sangar saat performance terkesan seperti dukun?


Hehehe.... Itu kan cuma penampilan luar saja. Namanya juga atraksi teratrikal, ya, harus dikemas sedemikian rupa sebagai sebuah tontonan. Tidak ada magic, tidak ada perdukunan. Makanya, saya sudah lama berjuang agar apa yang saya lakukan ini bisa diakui masyarakat, kritisi, dan sesama seniman sebagai bagian dari kesenian.

Artinya, lukisan sembur Anda belum diakui sebagai karya seni?


Masih butuh proses karena apa yang saya lakoni ini memang hal baru. Jangankan masyarakat biasa, seniman-seniman pun banyak yang menganggap lukisan-lukisan hasil semburan itu sebagai karya main-main. Nggak gampang memang meyakinkan orang yang sudah punya ideologi atau paham tertentu tentang kesenian. Tapi saya percaya, suatu ketika masyarakat bisa menerima karya-karya saya.

Biasanya, kapan Anda membuat lukisan dengan teknik semburan ini? Apakah setiap saat atau hanya pada momen-momen tertentu di depan publik saja?


Kalau sehari-hari sih saya bikin lukisan seperti biasa. Memahat, bikin patung, kelola taman, menulis puisi, teater, dan berkomunitas. Sebab, kesenian yang saya tekuni ini memang bermacam-macam. Tapi khusus untuk semburan, biasanya saya lakukan kalau ada even-even khusus seperti Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, atau East Java Shopping and Culture Carnival seperti di Royal Plaza kemarin.

Berbeda dengan membuat lukisan biasa yang dilakukan di studio atau tempat-tempat yang membutuhkan ketenangan, melukis sembur ini saya kemas sebagai sebuah pertunjukan. Karena itu, saya lakukan di depan banyak orang agar bisa diapresiasi sekaligus jadi alternatif hiburan untuk masyarakat.

Gambar yang muncul di kanvas itu sudah dibayangkan sejak awal?


Tidak. Biasanya, saya hanya punya tema tertentu, misalnya lingkungan hidup. Saya main sembur saja, dan hasilnya baru akan kelihatan setelah lukisannya jadi.

Berapa banyak lukisan sembur yang sudah Anda buat?


Wah, sudah banyak sekali. Sejak muncul ke publik tahun 2003 itu, saya selalu diajak untuk mengisi berbagai acara baik di Surabaya, Sidoarjo, dan beberapa kota lain.

Apa ada kolektor yang membeli lukisan-lukisan sembur itu?


Nah, ini yang belum ada. Karena orang masih banyak orang beranggapan bahwa lukisan yang saya buat dengan semburan itu bukan karya seni. Ini menjadi tantangan bagi saya agar karya-karya spiritual painting ini pun bisa diterima masyarakat. Makanya, untuk kehidupan sehari-hari, saya membuat lukisan yang konvensional. (Lambertus Hurek)

Sumber: Radar Surabaya edisi Minggu, 20 November 2011

25 November 2011

Swandayani sang Penata Tari




Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Pepatah lama ini rupanya berlaku untuk dua putri Tedja Suminar, pelukis senior asal Surabaya. Natalini menekuni seni rupa, sedangkan Swandayani dikenal sebagai penari sekaligus koreografer tari.

SEJAK dua pekan lalu, Swandayani banyak menghabiskan waktunya di Sanggar Merah Merdeka di Bendul Merisi Permai B-23 Surabaya. Di rumah singgah sekaligus sanggar seni anak jalanan yang didirikan romo-romo Kongregasi Misi itu putri kedua Tedja Suminar ini aktif berdiskusi, bergaul, serta mendengarkan isi hati anak-anak jalanan.

Namanya juga anak-anak yang terbiasa dengan kerasnya kehidupan di jalanan untuk sekadar mencari sesuap nasi, karakter mereka pun macam-macam. Namun, Swandayani mengaku terkesan dengan mereka. Anak-anak dari berbagai daerah, dengan berbagai latar belakang keluarga itu, sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga besarnya.

"Jujur, saya justru mendapat banyak inspirasi dari mereka. Apa yang mereka ceritakan, pengalaman-pengalaman mereka, makin memacu saya untuk membuat karya seni," tuturnya seraya tersenyum lebar.

Nah, dalam rangka merayakan ulang tahun ke-12 Sanggar Merah Merdeka, Swandayani bersama beberapa pengurus mempersiapkan sebuah pertunjukan tari dan operet di halaman sanggar, Minggu (27/11/2011). Lagi-lagi, operet yang dibuat secara spontan ini pun terinspirasi dari pengalaman anak-anak penghuni rumah singgah.

Awalnya, Swandayani mengaku menyiapkan tarian khusus yang akan dibawakan anak-anak usia sekolah itu. Tapi, setelah berdiskusi dengan beberapa pengurus, dia mengembangkannya menjadi sebuah operet sederhana. Dengan begitu, keseharian sekitar 80 anak Merah Merdeka bisa lebih dieksplorasi.

"Syukurlah, anak-anak ini bisa menangkap arahan kami dengan sangat cepat. Sebab, ceritanya memang tidak jauh-jauh dengan dunia mereka sehari-hari."

Keterlibatan Swandayani di sanggar yang dipimpin Romo Rudy Hermawan CM ini mulai terlihat sejak persiapan Hari Anak Nasional lalu. Begitu melihat potensi anak-anak, Swandayani mulai mencoba mengajak mereka berlatih tari bersama. Dari sekadar coba-coba, hasil olah gerak anak-anak ini kemudian dipentaskan di panggung gembira.

"Saya puas melihat anak-anak itu bisa menari dengan bagus di atas panggung," katanya. (*)

24 November 2011

Pauline Poegoeh Resital Vokal Ke-3



Sekitar 300 penggemar musik klasik, Rabu (16/11/2011) malam, menikmati suara emas Fu Huaxia alias Pauline Poegoeh di ballroom Hotel Shangri-La Surabaya. Tampil selama hampir dua jam, stamina dan kualitas vokal Fu tetap terjaga.

Tepat pukul 19.00 resital vokal bertajuk Amazing Songs ini dumulai. Meski kursi penonton belum terisi semua, Solomon Tong, dirigen Surabaya Symphony Orchestra (SSO), bersama Fu Huaxia naik ke atas panggung. Mengenakan busana atasa berwarna pink dan rok hitam, Fu Huaxia terlihat anggun.

"Saya ingin resital malam ini kita mulai tepat waktu. Sekaligus belajar disiplin untuk masyarakat Surabaya, yang biasanya suka molor kalau bikin acara," ujar Solomon Tong dalam kata pengantarnya. Dan, resital vokal yang diiringi SSO ini pun dimulai.

Dibuka dengan I Will Extol Thee O Lord (karya M Costa), Fu Huaxia langsung memperlihatkan kualitas suaranya yang lantang, powerful, dan bisa leluasa membawakan nada-nada tinggi. Lagu dengan aneka macam gaya dan irama dibawakan gadis 27 tahun yang juga dikenal dengan nama Pauline Poegoeh itu. Total, Nona Fu membawakan 15 lagu, termasuk satu encore.

Ada lagu seriosa Indonesia, Cintaku Jauh di Pulau (FX Sutopo), tiga lagu Tiongkok (Ran Hong, Chun Thian Lai Le, Nia Ciu Se Wo), empat petikan opera WA Mozart, hingga petikan opera Giuseppe Verdi. Solomon Tong berkali-kali memuji anak asuhnya ini sebagai seorang soprano yang komplet.

"Fu Huaxia ini sudah 35 kali tampil dalam konser-konser SSO. Jadi, dia memang sudah berpengalaman di dunia seni suara klasik," ujar Tong.

Yang menarik, Fu Huaxia membawakan ke-15 lagu itu tanpa teks atau alat bantu apa pun. Semua dihafal di luar kepala. Padahal, lirik lagu-lagu klasik ini umumnya panjang-panjang. Selain satu lagu berbahasa Indonesia, Cintaku Jauh di Pulau, lagu-lagu lain bersyair bahasa Inggris, Italia, Jerman, dan Mandarin.

Bagaimana cara mempersiapkan konser vokal klasik yang sangat langka di Surabaya ini?

Fu Huaxia mengaku biasa-biasa saja. "Persiapan saya sih sekitar tiga bulan. Saya lakukan di sela-sela kesibukan saya yang lain separti mengajar," kata Fu Huaxia yang juga guru vokal itu. (rek)

Pendidikan Penerbangan Juanda



Selain Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan, tak jauh dari kawasan Bandara Juanda terdapat Pendidikan Penerbangan Juanda (PPJ). Lembaga pendidikan ini menyiapkan para mahasiswanya menjadi teknisi pesawat terbang.

Didirikan pada 2007, saat ini PPJ memiliki sekitar 50 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Kampus PPJ berada satu kompleks dengan SMK Penerbangan di Jalan Abdul Rahman Saleh 49 Sedati, Sidoarjo.

"Perkuliahan di PPJ ini sudah berlangsung sejak 2008, tapi memang belum begitu dikenal luas oleh masyarakat," ujar Maulana Sani, kepala seksi bimbingan taruna PPJ.

Seiring dengan pertumbuhan industri penerbangan yang kian pesat di tanah air, menurut Maulana, Indonesia membutuhkan banyak tenaga profesional untuk menangani mesin pesawat terbang. Kehadiran mereka sangat diperlukan mengingat moda angkutan udara sangat menekankan keselamatan (safety first). Sayang, sampai sekarang kita masih kekurangan teknisi-teknisi pesawat.

"Dari seribu tenaga profesional yang dibutuhkan industri penerbangan, saat ini masih hanya sekitar 400 orang yang tersedia. Jadi, sebenarnya para alumni PPJ punya prospek yang cerah," kata Maulana seraya tersenyum.

Mantan karyawan sebuah maskapai penerbangan ini menjelaskan, masa pendidikan di PPJ hanya berlangsung selama 20 bulan alias kurang dari dua tahun. Para mahasiswa mendapat berbagai teori tentang pesawat terbang, aerodinamika, konstruksi pesawat, listrik pesawat, mesin turbin, hingga manajemen perawatan. Total, seorang mahasiswa harus menyelesaikan 90 satuan kredit semester (SKS).

Selain teori, menurut Maulana, para mahasiswa wajib mengikuti praktik hingga 30 persen. Praktik kerja lapangan ini antara lain dilakukan di sekolah penerbangan terkemuka di Curug, Jawa Barat. Maulana optimistis para lulusan PPJ akan mudah terserap ke industri penerbangan di tanah air.

"Sebab, lembaga pendidikan seperti ini memang masih sangat langka di Indonesia. Keberadaannya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa," katanya.

Berbeda dengan mahasiswa di kampus-kampus biasa, penampilan para mahasiswa PPJ tak ubahnya taruna akademi militer. Rambut cepak, bodi atletis, hingga cara berjalan dan berbicara pun sangat khas. Bahkan, para mahasiswa PPJ juga disebut taruna.

"Sistem pendidikan yang semimiliter itu sangat penting untuk melatih kedisiplinan. Sebab, mereka dipersiapkan untuk menangani pesawat terbang yang menempatkan keselamatan di atas segala-galanya. Bisa dibayangkan apa jadinya kalau teknisi-teknisi pesawat terbang tidak disiplin," tegas Maulana. (*)

18 November 2011

Alim Markus Punya Gelar Doktor HC


Sejak awal gelar doktor kehormatan (honoris causa) yang diberikan Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya untuk pengusaha Alim Markus memang dipersoalkan kalangan internal Untag sendiri. Beberapa alumni menganggap bos Grup Maspion ini tidak pantas dapat gelar doktor HC karena tidak tamat SMP. Padahal, ada syarat pendidikan formal minimal bagi seorang calon penerima doktor HC.

Di sisi lain, pihak rektorat Untag menganggap Alim Markus sangat pantas dapat gelar kehormatan itu. Siapa sih yang tidak tahu kehebatan Pak Markus di dunia usaha? Maspion punya sekitar 50 ribu karyawan yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan kota-kota lain. Pengusaha yang bekerja keras dari bawah ini sukses menghidupi begitu banyak orang.

Dan masih banyak pertimbangan lain mengapa manajemen Untag memutuskan untuk memberikan doktor honoris causa untuk Alim Markus. Tampaknya Alim Markus sendiri pun 'senang' dengan gelar itu. Meski dikelilingi banyak lawyer hebat, punya jaringan kuat dengan ahli-ahli hukum di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain, rupanya Alim Markus tidak berpikir akan digugat justru oleh orang-orang Untag sendiri.

Alim Markus pun rupanya tak tahu bahwa di manajemen Untag Surabaya sejak lama terjadi konflik internal. Manuver-manuver sering dilakukan para elite Untag untuk menggapai kepentingannya. Maka, pemberian gelar untuk Alim Markus menjadi pintu masuk untuk menggoyang manajemen Untag.

Yang digugat memang Rektor Untag Surabaya, tapi yang kena getah adalah Alim Markus. Bos Maspion, yang sering muncul di televisi sebagai bintang iklan produk-produk Maspion itu, pun masuk koran dengan berita yang tidak enak. "Gelar doktor honoris causa Alim Markus dibatalkan oleh PTUN Surabaya," begitu antara lain berita Jawa Pos halaman depan, Jumat (18/11/2011).

Sudah lama saya heran dengan pengusaha-pengusaha besar di Indonesia, tak hanya Alim Markus, yang tertarik dengan gelar-gelar akademik instan. Untuk apa?

Bukankah tanpa gelar pun mereka sudah sangat berprestasi di dunia usaha?

Bukankah mereka jauh lebih makmur, kaya-raya, punya segalanya ketimbang doktor-doktor dan profesor-profesor lulusan luar negeri sekalipun? Baru-baru ini koran terbitan Jakarta membahas kehidupan peneliti Indonesia, yang gelarnya profesor doktor, yang sangat memprihatinkan. Jangankan membeli mobil-mobil atau rumah mewah, sekadar untuk hidup saja sulit mengandalkan gaji peneliti yang tidak seberapa.

Mungkin pengusaha-pengusaha, yang mau-maunya dikasih gelar itu (kemungkinan besar tidak gratis), melihat DOKTOR HONORIS CAUSA sebagai gelar yang sangat penting. Semacam alat untuk aktualisasi diri. Sebaliknya, kampus-kampus macam Untag Surabaya melihat Alim Markus sebagai pengusaha yang bisa dijadikan aset untuk memajukan universitas.

Sebab, setelah diberi gelar doktor HC, Alim Markus menyatakan keinginannya untuk membangun Alim Markus Entrepreneur Center di kampus Untag Surabaya.

Pak Krisnadi Bahas Pulau Buru



Kamis (17/11/2011), saya mampir ke sebuah toko buku bekas di kawasan Baliwerti, Surabaya. Begitu banyak buku-buku bagus yang gak laku, kemudian diobral habis-habisan, di situ. Diskon bisa sampai 60-70 persen.

"Kalau gak obral, gak akan ada yang beli. Kalau dikilokan, kasihan, gak ada harga sama sekali. Maklum, kami kalah saingan sama toko-toko buku baru dan bermodal kuat," kata seorang ibu 50-an tahun, pengurus toko buku.

Toko buku ini terletak di samping konter kaus sepak bola dan alat-alat musik itu. Hanya 200-an meter dari Jalan Tunjungan, pusat bisnis utama di Kota Surabaya. Para pemburu buku-buku bekas ini umumnya mahasiswa dan orang-orang berkantong tipis macam saya.

Saya tertegun menyaksikan sebuah buku bersampul gelap berjudul TAHANAN POLITIK PULAU BURU (1969-1979). Terbitan LP3ES Jakarta, tahun 2000. Buku yang terbilang lama, tapi saya belum pernah baca. Nama pengarangnya: I.G. Krisnadi.

I.G. Krisnadi? Kayaknya saya pernah kenal nama ini di Jember. Saya pun lekas membaca biodata pengarang di sampul belakang. Oh Tuhan, ternyata Pak Krisnadi, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember. Di fotonya, Pak Krisnadi berkumis dengan pandangan mata menerawang.

Gak nyangka kalau Pak Krisnadi berhasil menulis buku sejarah tahanan politik di Pulau Buru dengan dukungan literatur yang sangat kaya. Begitu banyak bahan yang membuat pembaca bisa mengetahui pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan rezim Orde Baru dengan membuang begitu banyak intelektual, wartawan, budayawan, sastrawan, komponis macam Subronto Kusumo Atmadjo, pelukis, novelis Pramoedya Ananta Tour... ke Pulau Buru.

Bagaimana para tapol ini dipaksa kerja roda membuka jalan raya, bikin sawah, mencari ikan, hingga pekerjaan-pekerjaan khas petani, nelayan, atau tukang. Kutipan tulisan Pramoedya memperkaya buku karya Pak Krisnadi ini.

Saya mengenal Pak Krisnadi di Jember bukan sebagai seorang penulis buku sejarah atau intelektual di Fakultas Sastra Unej. Saya hanya tahu pria kelahiran Klaten, 28 Februari 1962, ini hanyalah dosen biasa di Unej. Yang saya tahu, Pak Krisnadi bersama istri (Mbak Dwi) dan anak-anaknya rajin ikut doa lingkungan dan pendalaman iman di Wilayah I Paroki Santu Yusuf Jember.

Mahasiswa-mahasiswi dan dosen Unej, yang beragama Katolik, memang sejak dulu aktif dalam kegiatan gerejawi. Latihan kor atau paduan suara sehderhana, bikin acara natalan, pendalaman iman, hingga sembahyang untuk merayakan ulang tahun kelahiran atau pernikahan seseorang. Guyub banget!

Dan Pak Krisnadi, juga Pak Sudjarwadi, yang profesor, kemudian Pak Yoseph Suparjana yang dosen senior, aktif di dalamnya. Hubungan di antara kami, jemaat lingkungan, begitu guyub layaknya sebuah keluarga besar. Saya yang mahasiswa, yang bacaanku masih sangat sedikit, bisa bicara panjang lebar dengan Pak Prof Sudjarwadi atau Pak Krisnadi tentang berbagai isu.

Wah, masa-masa muda yang sulit dilupakan!

Oh, ternyata Pak Krisnadi, yang dulu saya anggap biasa-biasa saja di Wilayah I Paroki Jember itu, ternyata cendekiawan yang luar biasa. Mampu menghasilkan sebuah buku bermutu yang layak dibaca siapa saja yang ingin tahu sejarah tahanan politik di Pulau Buru di masa Orde Baru itu.

Saya sangat yakin Pak Krisnadi akan sukses di dunia akademik yang tengah digelutinya di Fakultas Sastra Universitas Jember. Mudah-mudahan segera jadi doktor dan profesor, Pak!

Saya juga terkesan dengan informasi di buku ini bahwa Pak Krisnadi sedang menekuni studi tentang kebudayaan Jawa. Saya dukung 100 persen. Rahayu! Berkah Dalem!

16 November 2011

Sanggar Clarissa Gedangan



Setelah tiga tahun absen, karena harus mengurus anaknya yang masih balita, Afrisia Syarah Devi kembali menghidupkan Sanggar Clarissa. Sanggar yang bermarkas di Gedangan ini tetap fokus di dunia tari dan modeling.

Pendapa Kecamatan Gedangan setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, kini lebih meriah dari biasanya. Sekitar 20 anak dan remaja terlihat antusias berlatih aneka jenis tarian. Kadang diselingi dengan latihan lenggang-lenggok layaknya model profesional.

"Saya menghidupkan kembali Sanggar Clarissa karena permintaan dari anak-anak dan orangtua mereka. Katanya, sudah kangen berlatih lagi bersama saya," tutur Devi, sapaan akrab Afrisia Syarah Devi, kepada saya di sela latihan, pekan lalu (13/11/2011).

Devi, yang berdarah Aceh ini, sebetulnya tak asing lagi di kalangan pembina seni tari di Kabupaten Sidoarjo. Sempat menjadi anggota Sanggar Delta Tivikrama, Devi kemudian berguru 'ilmu menari' di Padepokan Bagong Kusudiardjo (almarhum) di Jogjakarta.

Setelah merasa cukup mampu, Devi kemudian merintis sanggar tari di kawasan Gedangan. Misinya sederhana saja: ingin memberikan kesibukan yang positif kepada anak-anak dan remaja di kawasan Gedangan dan sekitarnya. Apalagi, di tahu kalau banyak remaja kita yang punya bakat menari.

"Tapi, karena tidak punya modal, ya, saya minta izin menggunakan pendapa kecamatan untuk latihan. Alhamdulillah, ternyata anak-anak antusias mengikuti latihan-latihan yang saya adakan," kenang Devi.

Dimulai dengan beberapa gelintir siswa, Sanggar Clarissa tumbuh dengan cepat. Devi mengaku sempat kewalahan karena siswanya pernah menembus angka 80 orang. Jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran sanggar berusia muda.

"Saya memang sengaja membidik anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah. Makanya, latihan di pendapa sehingga biayanya bisa sangat murah. Beda kalau saya buka sanggar di ruko atau perumahan," kata ibu lima anak ini seraya tersenyum.

Sayang, perjalanan Sanggar Clarissa sempat terhenti gara-gara Devi harus mengurus anaknya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Awalnya, dia ingin sanggar tetap jalan meski dibimbing oleh instruktur-instruktur lain.

"Tapi rupanya anak-anak itu maunya saya yang terjun langsung. Tentu saja sangat sulit karena anak saya kan masih kecil banget," kata wanita yang pernah terpilih menjadi Pemuda Pelopor tingkat Jawa Timur ini.

Sebagai orang yang bertahun-tahun bergelut dengan dunia tari, Devi sendiri pun mengaku kangen dengan dunia yang asyik ini. Maka, ketika sang buah hati sudah mulai agak besar, dia kembali menghidupkan sanggarnya. Mantan anak-anak asuhnya di Clarissa, yang sempat vakum latihan, pun berdatangan.

"Sekarang kami lagi persiapan untuk mengisi sebuah acara di luar kota," katanya. Meski siswa-siswanya tak sebanyak tiga tahun silam, Devi optimistis sanggarnya akan kembali dijubeli anak-anak dan remaja di Gedangan dan sekitarnya.

Saat ini dia tengah mengembangkan aneka jenis tarian yang dipetik langsung dari kampung halamannya di Aceh. Tarian dari provinsi paling timur ini sangat rancak, dinamis, dan sedang diminati berbagai kalangan. Devi bahkan ingin agar Sidoarjo, khususnya Gedangan, menjadi pusat pembinaan tarian Aceh di Jawa Timur. (*)

13 November 2011

Peter Rohi Bikin Ulah Lagi



Siapa orang NTT yang paling terkenal di Surabaya? Sudah pasti Peter A. Rohi. Aktivis, wartawan, pencinta sejarah, dan pengagum Bung Karno itu selalu bikin 'heboh' pada peringatan Hari Pahlawan, Hari Pancasila, dan momentum-momentum sejarah lainnya.

Menjelang Hari Pahlawan ini, Peter Rohi bersama beberapa temannya di Sukarno Institute mengajak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk memasang prasasti di kantor pos besar Kebonrojo. Prasasti yang ditandatangani Bu Wali Kota itu bertuliskan:

"Di Sini Tempat Bersekolah Dr Ir Soekarno, Penggali Pancasila, Proklamator, Presiden Pertama RI."

Tak ada yang baru dengan informasi itu. Bung Karno memang dulu bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Surabaya. Gedung HBS itu sekarang jadi kantor pos besar. Namun, yang jadi menarik, kemudian diliput puluhan wartawan koran dan televisi adalah gerakan Peter Rohi dan kawan-kawan yang berinisiatif membuat prasasti, kemudian minta tanda tangan wali kota, kemudian dipasang menjelang Hari Pahlawan.

Surabaya itu kota pahlawan. Karena itu, menurut Peter Rohi, tempat-tempat yang ada kaitan erat dengan para pahlawan atau pelaku sejarah harus dikenal warga. Jangan sampai generasi mendatang kehilangan jejak-jejak sejarah.

Semangat itu pula yang dilakukan Peter Rohi dkk saat 'menemukan' rumah masa kecil Bung Karno di kawasan Pandean. Ini untuk membuktikan bahwa Bung Karno itu memang lahir di Kota Surabaya, bukan Blitar seperti yang ditulis sejumlah buku. Gebrakan kecil Peter Rohi akhirnya sukses menarik perhatian masyarakat Surabaya, dan Jawa Timur umumnya.

"Syukurlah, apa yang kami lakukan ini sudah mulai diakui oleh negara. Bu Risma, wali kota Surabaya, sangat antusias mendukung setiap langkah kami," kata Peter Rohi yang berasal dari Pulau Sabu di selatan Kupang, NTT, itu.

Lantas, mengapa hanya aktif mengangkat situs-situs yang ada kaitan dengan Bung Karno?

"Karena saya kan direktur Sukarno Institute. Hehehe. Tentu saja, kami fokus bergerak untuk mengangkat tempat-tempat yang ada kaitannya dengan Bung Karno," ujar Peter Rohi.

Saya pun mengirim SMS kepada Pak Peter Rohi: "Wah, hebat sekali Angalai ini. Orang Sabu, tapi bisa bikin geger Surabaya. Sukarno Institute makin ngetop saja!"

"Itu karena orang Sabu suka minum tuak... berpikir dan bertindak lebih cepat. Soekarno Institute ini sudah diundang dalam konferensi-konferensi dunia," jawab Peter Rohi.

Saya kirim SMS lagi: "Tuak Lembata bikin mabuk, tuak Sabu bikin pintar. Hehehe."

Peter Rohi: "Soalnya orang Lembata kalau minum tuak overdosis na."

Hehehe.....

Peter Rohi sejak dulu memang sangat bangga dengan kampung halamannya di Pulau Sabu. Pulau di bagian selatan yang masyarakatnya mengandalkan hidup dari tanaman lontar alias siwalan. Nira tanaman ini dijadikan gula, tuak, dikonsumsi sehari-hari.

"Orang Sabu itu tidak perlu makan nasi. Cukup dikasih minum tuak (manis) saja sudah kenyang," kata Pak Peter.

Laptop dan Produktivitas Wartawan



Di zaman laptop ini seharusnya orang lebih produktif menulis. Menulis apa saja entah itu di media massa, blog, atau media apa saja. Dengan komputer jinjing nan mungil itu, orang bisa menulis di mana saja.

Tapi, anehnya, teman-teman penyunting belakangan ini sering mengeluh kekurangan tulisan. Setoran naskah seret. "Sudah punya laptop kok gak menulis? Laptopmu diapakan saja?" ujar seorang teman penyunting kepada anak buahnya.

Keluhan macam ini, saya kira, makin biasa akhir-akhir ini. Laptop makin massal, murah, jadi 'mainan' orang ramai, tapi produktivitas menulis menurun. Blog-blog yang pada tahun 2004, 2005, 2006... sangat ramai, selalu diisi dengan tulisan-tulisan baru dan segar kini makin sepi.

Saya tengok blog seorang wartawan senior, yang dulu aktif mendorong wartawan-wartawan muda, agar punya blog. Ah, isinya tidak ada yang baru. Belum karuan ada satu dua tulisan per bulan. Padahal, ketika abang ini belum punya laptop, masih mengetik di warnet atau kantor, produktivitasnya luar biasa.

Lalu, ke mana saja si abang? "Saya lagi sibuk," kata blogger senior.

Sibuk? Bisa saja. Tapi silakan tengok akun Facebook atau Twitter-nya. Ramainya bukan main. Ada masalah sedikit dikomentari dan dikomentari terus sampai bosan.

Yah, laptop memang tetap dipakai, cuma bukan untuk menulis artikel, berita, fiksi, dan sebagainya, tapi buat kepentingan pergaulan di jejaring sosial. Syukurlah, masih ada orang yang bisa memanfaatkan laptop sebagai alat bantu untuk menulis di mana saja dan kapan saja.

Contoh paling bagus Dahlan Iskan. Mantan wartawan yang sekarang menjadi menteri BUMN ini semakin produktif menulis justru setelah ganti hati dan sibuk mengurus PLN dari Sabang sampai Merauke. Selain produktif, kualitas tulisan-tulisan Dahlan Iskan tetap stabil dan enak dinikmati. Pak Dahlan memanfaatkan laptop untuk menulis di ruang tunggu bandara, di lobi hotel, kafe, dan sebagainya.

Saya kira kita perlu belajar banyak dari Pak Dahlan Iskan mengenai pentingnya menjaga produktivitas dan kualitas menulis.

10 November 2011

Hujan Langsung Banjir



Akhirnya, hujan turun juga di Surabaya dan sekitarnya. Setelah tiga bulan terakhir panas ektrem, kita dibakar panas 37-40 derajat Celcius, dalam beberapa hari terakhir kita bisa menikmati air dari langit.

Tadinya saya pikir hujan baru datang akhir Desember atau Januari. Eh, ternyata muncul lebih cepat. Sudah selayaknya kita berterima kasih kepada Tuhan. Surabaya masih dianugerahi hujan, sehingga panas ekstrem perlahan-lahan hilang.

Saya perhatikan saat ini suhu di Surabaya siang berkisar 33-35 Celcius, sementara malam hari 30-an celcius. Ini suhu yang 'normal' untuk Surabaya. Maka, keluhan-keluhan warga tentang panas yang terlalu ekstrem, ditambah kelembaban yang parah, sudah tidak terdengar.

Repornya, hujan yang tak seberapa deras itu ternyata sudah menimbulkan genangan air di beberapa titik. Orang Surabaya bilang 'banjir'. waktu melintas di depan RSI Wonokromo, Selasa (8/11/2011) malam, genangan air kira-kira 30 sentimeter. Arus lalu lintas pun macet.

Kawasan Ngagel yang biasanya tidak ada genangan air, malam itu banjir juga. Tapi saya tetap senang melintas di jalan dalam suasana hujan ketimbang panas terik 41 Celcius. Ibarat anak-anak, kita bisa 'main-main' hujan di sepanjang jalan di Kota Surabaya.

Mudah-mudahan Pemerintah Kota Surabaya, yang dipimpin Bu Risma, bisa mengatasi masalah banjir tahunan ini.

31 October 2011

David Foster Tak Pernah ke Surabaya



Sang hitman, David Foster, datang lagi dan lagi ke Jakarta. Bikin konser, Tuan Foster membawa serta penyanyi-penyanyi kawakan dunia. Siapa tak kenal David Foster, salah satu maestro musik pop dunia?

Sayang, kiat di Surabaya tak pernah dapat kesempatan untuk menyaksikan langsung konser The Hitman. Paling hanya 'mengintip' sejenak lewat liputan sekelebat di televisi atau tulisan singkat di koran. Apakah musik yang ditawarkan Foster di konser sama persis dengan di kaset/CD atau ada banyak improvisasi? Kita yang di Surabaya tak tahu.

"Pokoknya, dahsyat banget deh. Namanya aja David David Foster," ujar seorang penggemar David Foster yang pernah menyaksikan konser Hitman di Jakarta beberapa bulan silam.

Dahsyat! Keren abis! Begitulah kata-kata pujian yang sering kita dengar tentang David Foster. Termasuk ketika kita membaca reportase atau catatan wartawan Kompas, yang rupanya pengagum berat David Foster.

Mengapa David Foster tak pernah konser di Surabaya?
Bukankah Surabaya disebut-sebut kota nomor dua setelah Jakarta?
Mengapa hanya Jakarta yang jadi kota persinggahan penyanyi-penyanyi kelas dunia?

Yah, harus diakui, ini semua karena hitung-hitungan bisnis pertunjukan musik. Sampai saat ini hanya Jakarta yang punya daya beli tiket yang memang tidak murah... untuk ukuran mayoritas orang Indonesia itu. Memang tidak mudah menjual tiket konser musik seharga $50 (sekitar Rp 500.000), $100, $200... di Kota Surabaya.

Bahkan, beberapa promotor musik pernah mengeluh karena sangat sulit menjual tiket Rp 100.000 di Surabaya. Surabaya Symphony Orchestra (SSO) pimpinan Solomon Tong pun sejak didirikan pada 1996 selalu kesulitan menjual tiket VIP yang 'hanya' Rp 200.000. Apalagi harus menjual tiket pertunjukan David Foster yang di atas Rp 1 juta, nilai yang lebih tinggi ketimbang gaji buruh pabrik di Jawa Timur yang rata-rata masih di bawah $100 per bulan.

Log Zhelebour, promotor musik rock terkenal asal Surabaya, dalam beberapa percakapan dengan saya juga menyoroti masalah daya beli tiket di kota-kota luar Jakarta, termasuk Sishui. Log harus kerja sama dengan perusahaan rokok agar bisa menyubsidi penonton. Selama ini saya amati harga tiket yang dijual Mr Ong (nama lain Log Zhelebour alias Ong Oen Log) rata-rata di bawah Rp 20.000 alias hanya $2.

Lantas, kapan orang Surabaya (dan Jawa Timur) dapat kesempatan untuk menyaksikan langsung David Foster dan musisi-musisi kelas dunia lain? Ya, tunggu sampai daya beli masyarakat sudah mendekati Jakarta. Yang pasti, kata orang pintar, sampai sekarang 80% uang yang beredar di Indonesia menumpuk di Jakarta.

Karena itu, Surabaya bukan lagi kota nomor dua, tapi kota nomor 10.

Fu Long Swie Pencipta Ling Tien Kung




Di usia 76 tahun, Fu Long Swie masih segar dan kuat. Setiap hari mantan atlet nasional pada era 1960-an ini aktif berkeliling ke mana-mana untuk memimpin latihan Ling Tien Kung yang kini diikuti ribuan peserta. Fu Long Swie merupakan pencipta gerakan 'senam' yang menekankan empet-empet anus ini.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Bicara soal Ling Tien Kung dengan kakek 10 cucu ini seakan tak ada habis-habisnya. Dan, Fu Long Swie tak pernah kehabisan bahan dan analogi untuk menjelaskan manfaat Ling Tien Kung untuk menjaga kebugaran serta meremajakan tubuh. Maklum, sebelum memperkenalkan Ling Tien Kung kepada masyarakat pada 2005, Fu telah lebih dulu membuktikan khasiat 'senam' yang banyak menyerap filosofi dan ilmu kesehatan ala Tiongkok kuno itu.

Berikut petikan percakapan Fu Long Swie dengan Radar Surabaya usai memimpin latihan di Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel Surabaya, Jumat (28/10/2011) pagi. Didampingi sang istri dan sejumlah instrukturnya, Fu mengaku tak pernah menyangka gerakan Ling Tien Kung ciptaannya bisa berkembang luas ke berbagai kota, bahkan hingga ke luar negeri.

Anda dulu dikenal sebagai atlet nasional. Bagaimana Anda akhir bisa menemukan senam Ling Tien Kung?

Saya koreksi ya. Salah kalau Ling Tien Kung disebut senam. Beda sekali dengan senam-senam lain. Ini metode yang saya ciptakan untuk terapi kesehatan dan penyembuhan penyakit. Maka, orang-orang yang ikut Ling Tien Kung itu datang sambil membawa penyakit. Macam-macam penyakit itu. Tapi setelah mengikuti Ling Tien Kung secara rutin, syukurlah, penyakit-penyakit bawaan mereka perlahan-lahan sembuh.

Nah, saya dulu atlet sprint dan lompat jauh. Saat PON (Pekan Olahraga Nasional) tahun 1961, saya benar-benar memaksakan diri agar melompat sejauh mungkin. Saya harus juara! Tapi pada lompatan terakhir, kaki saya mengalami benturan yang sangat keras. Kaki saya retak sangat parah. Saya tidak bisa apa-apa lagi. Sejak itu saya pensiun sebagai atlet.

Lantas, Anda menekuni pengobatan tradisional?

Oh, tidak. Saya justru jadi guru matematika di SMA Sin Chung Surabaya. Saya memang sangat gemar matematika, khususnya aljabar dan geometri. Tapi sambil mengajar, saya terus berusaha untuk menyembuhkan kaki saya yang sakit parah itu. Saya datang ke banyak dokter, entah sudah berapa orang, tapi tidak ada kemajuan. Ya, sudah, saya kemudian membaca berbagai buku, khususnya buku-buku klasik Tiongkok yang kiranya bermanfaat dan bisa memberikan inspirasi bagi saya.

Apakah Anda kemudian menemukan terapi kesehatan di buku-buku itu?

Di salah satu buku disebutkan bahwa tubuh manusia itu sebetulnya punya sumber energi yang tak pernah padam. Sumber energi itu disebut ku sen bu se. Saya lantas teringat aki di mobil. Mobil kalau akinya lemah atau habis, mana bisa jalan? Saya menganalogikan tubuh manusia itu seperti mobil yang punya semacam 'aki'. Semua organ tubuh manusia dan sistem koordinasinya menerima suplai energi.

Seperti aki mobil, manusia pun menghasilkan arus listrik atau setrum. Arus itu terjadi karena terjadi tegangan pada kutub positif (anoda) dan negatif (katoda). Nah, yang positif ada di anus dan negatif di pusar. Seperti halnya mobil, kalau aki soak, mesin tidak jalan. Kalau aki tubuh rusak, tubuh manusia akan ringkih. Kalau dicas, tubuh kembali penuh energi. Ngecasnya itu dengan empet-empet anus. Ling Tien Kung berasal dari situ.

Mengapa gerakan yang Anda ciptakan didominasi empet-empet anus?

Sebab, kutub positif manusia itu terdapat pada anus. Sedangkan kutub negatif di pusar. Otot-otot di sekitar anus memegang peran penting karena dia yang jadi pengikat energi. Semakin tua, otot-otot itu akan mengendur. Kalau kendur, maka energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi organ tubuh menjadi drop. Maka, mulai masuk berbagai penyakit.

Berapa lama Anda akhirnya mendapat kesimpulan seperti itu?


Yah, saya mulai mencari sejak 1961 dan baru ketemu tahun 1985. Dua puluh tahun lebih, tepatnya 24 tahun. Tahun 1985 saya mulai menyusun gerakan-gerakan berdasarkan prinsip anoda dan katoda atau cas aki itu. Tentu saja melalui proses revisi dan sebagainya sampai tercipta Ling Tien Kung yang kita kenal sekarang.

Mengapa disebut Ling Tien Kung?

Itu dari bahasa Tionghoa yang berarti ilmu titik nol. Fisolofinya panjang kalau dijelaskan. Tapi kira-kira ini merupakan ilmu titik awal. Titik awal menuju kesehatan dan kehidupan yang lebih baik.

Uji cobanya di mana?

Saya sendiri yang pertama kali mencoba ilmu ini. Kebetulan waktu itu saya terserang penyakit yang sangat parah. Saya kolaps. Nah, kesempatan itu saya gunakan untuk mempraktikkan Ling Tien Kung. Syukurlah, penyakit-penyakit di dalam badan saya ini akhirnya hilang. Bahkan, saya yang bertahun-tahun tidak bisa berlari, sekarang bisa lari kembali. Saya bersedia uji lari dengan anak-anak muda. Hehehe... Istri saya juga ikut Ling Tien Kung, dan akhirnya semakin sehat.

Sejak kapan Ling Tien Kung diperkenalkan kepada masyarakat?


Sebetulnya tahun 2003 sudah siap. Tapi ada beberapa gerakan yang perlu disempurnakan, termasuk membuat musik pengiring latihan. Kemudian tahun 2005 saya mulai mengadakan latihan di halaman Central Park Mulyosari. Pesertanya sangat sedikit, hanya beberapa orang saja.

Lantas, bagaimana Ling Tien Kung bisa menyebar luas ke mana-mana seperti sekarang?

Saya juga tidak pernah membayangkan perkembangan Ling Tien Kung seperti ini. Saya tidak pernah hitung berapa ribu orang yang melakukan latihan rutin di berbagai daerah. Saya tidak pernah promosi, tidak pernah mengajak orang untuk ikut. Mereka datang sendiri karena dikasih tahu temannya. Nah, sebagian besar orang yang datang latihan itu membawa penyakitnya sendiri-sendiri. Tapi, setelah rajin berlatih, gerakan-gerakannya benar, saya optmistis penyakitnya akan hilang.

Apa syarat mengikuti Lien Tien Kung?

Tidak pakai syarat macam-macam. Cukup datang ke tempat latihan Ling Tien Kung. Tidak pakai iuran, tidak pakai bayar, dan pungutan apa pun. Semuanya gratis. Ilmu ini saya peroleh dari Tuhan secara cuma-cuma, maka saya pun membagikannya secara cuma-cuma pula.

Paling setelah latihan beberapa kali Anda diminta membeli kaos dan training supaya latihan terlihat lebih rapi dan bagus. Yang jelas, kita terbuka untuk siapa saja dari semua suku, etnis, agama, ras, dan sebagainya. Siapa yang ingin sehat, silakan datang. (*)




Nama : Fu Long Swie
Nama lain : Full Long Sweet
Lahir : Singaraja, Bali, 25 Oktober 1935
Istri : Elia Bestari
Anak : 5 orang
Cucu : 10 orang
Hobi : Membaca, mengajar
Moto : Usia senja, badan sehat bahagia

Profesi : Guru Ling Tien Kung
Sekretariat : Kendangsari M/4 Surabaya
Tempat Latihan : Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel Surabaya

Riwayat Karier :
Atlet lari dan lompat jauh 1960-an
Guru Matematika SMA Sin Chung Surabaya