27 November 2010

Michael Bambang Hartono dan Taijiquan




MICHAEL BAMBANG HARTONO [kiri] dan Soetiadji Yudho, pemilik Kenpark Surabaya. Foto: Lambertus Hurek.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Siapa tak kenal MICHAEL BAMBANG HARTONO? Bos PT Djarum ini oleh majalah Forbes disebut sebagai orang terkaya di Indonesia. Kemarin (27/11/2010), Bambang Hartono membuka jambore dan turnamen nasional kedua taijiquan di Gedung Langit Kenpark, Surabaya.



MENURUT versi Forbes pada Maret 2010, Michael Bambang Hartono (71) bersama saudaranya, Robert Budi Hartono (70), membukukan kekayaan masing-masing USD 3,5 miliar. Total kekayaan dua bersaudara itu mencapai USD 7 miliar atau sekitar Rp 65 triliun.

Meski setiap tahun namanya masuk dalam daftar seribu orang terkaya di dunia versi Forbes, Michael Bambang Hartono tetap low profile. Pria bernama asli Oei Hwie Siang yang lahir di Semarang, 2 Oktober 1939 ini, juga selalu terlihat sederhana dan ramah.

Dalam kapasitas sebagai ketua umum Asosiasi Taijiquan Nasional Indonesia (ATNI), kemarin Bambang Hartono hadir di Gedung Langit atau Pagoda Kenpark untuk membuka jambore dan turnamen nasional kedua taijiquan (baca: taichi chuan). Turnamen ini, menurut dia, menjadi ajang seleksi atlet-atlet Indonesia menuju even internasional yang lebih bergengsi.

Dia optimistis kualitas atlet kita tidak kalah dengan atlet Tiongkok, negara asal taijiquan. “Sebab, taijiquan sudah menjadi milik dunia. Siapa pun punya kesempatan yang sama untuk mempelajarinya dengan baik dan benar,” tegas Bambang.

Bambang Hartono menekuni olahraga yang dikembangkan di Tiongkok pada 1247 ini sejak 25 tahun lalu. Suami Ikawati Budiarto ini belajar dari Tan Ching Nge, master asal Singapura, dan William CC Chen, master asal New York, USA. Om Hwie Siang, sapaan akrabnya, mengaku menggeluti taijiquan untuk kesehatan dan bela diri.

“Juga life balance (keseimbangan hidup). Karena hobi saya semuanya adalah hal-hal yang memacu adrenalin, maka saya mencari sesuatu yang bersifat menenangkan,” tuturnya.

Di tengah kesibukan mengurus PT Djarum dan sejumlah perusahaan lain, ayah empat anak dan kakek empat cucu ini selalu menyediakan waktu untuk berlatih taijiquan. Cukup satu jam sehari, pukul 07.00 sampai 08.00. “Yang penting, bagaimana membuat manajemen waktu benar,” kata pengusaha yang juga hobi menembak, balap mobil, bridge, dan musik (high-end) ini.

Menurut Bambang, perkembangan taijiquan di sangat pesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Olahraga ini sudah menjadi milik dunia dan dipraktikkan bebagai kalangan masyarakat. Ritmenya lembut, konsentrasi penuh, napas teratur. Sehingga, praktisi tenggelam dalam apa yang disebut meditasi bergerak.

Pada 17 November 2007 berlangsung musyawarah nasional yang diikuti semua pengurus asosiasi taijiquan se-Jawa dan Bali. Saat itulah, Bambang Hartono menggagas pembentukan Asosiasi Taijiquan Nasional Indonesia (ATNI) dengan pusat di Semarang. Dia optimistis asosiasi ini bakal mampu membawa nama harum Indonesia ke ajang internasional.

Menurut dia, gerakan-gerakan taijiquan yang lamban memang cocok dengan para lansia karena tidak mudah membuat cedera. Namun, dia membantah image di masyarakat seakan-akan taijiquan merupakan olahraganya kaum lansia. “Ini adalah suatu anggapan yang salah,” tegasnya.

Nah, berkat taijiquan itulah, di usia 71 tahun, Bambang Hartono bisa tetap fit memimpin PT Djarum dan beberapa anak perusahaan serta menikmati hobi-hobinya.

25 November 2010

Putri Ayu dan Seriosa



Ajang Indonesia Mencari Bakat sudah lama selesai. Klantink, kelompok musik jalanan asal Joyoboyo, Surabaya, terpilih sebagai juara pertama. Arek-arek Klantink pun jadi selebritas baru. Tak lagi ngamen di bus-bus di Surabaya, tapi ‘ngamen’ di televisi. Klantink bahkan jadi bintang iklan seluler.

Yang perlu pula dicatat dari IMB di Trans TV itu adalah fenomena PUTRI AYU SILAEN. Disebut fenomenal karena si Putri baru 12 tahun, tapi kemampuan olah vokalnya luar biasa. Nyanyi seriosa. Kategori musik yang sudah lama kehilangan pendengar di tanah air.

Musik seriosa yang dilombakan dalam Bintang Radio tahun 1950-an, kemudian Bintang Radio dan Televisi, pernah sangat populer. Seriosa membutuhkan teknik vokal klasik (opera) yang sempurna. Tak bisa nyanyi asal-asalan, asal bunyi. Karena itu, seriosa senantiasa terkait dengan art song. Art music.

Sejak era Christopher Abimanyu, Aning Katamsi, Binu Sukaman, Linda Sitinjak, Johnson Hutagalung, Mangapul Hutapea, atau Trivina Samderubun (di Surabaya) pada 1980-an dan 1990-an, penyanyi-penyanyi seriosa memang selalu muncul. Saya selalu mengatakan, selama paduan suara masih ada di Indonesia, selama sekolah atau kursus musik klasik masih ada... yang namanya seriosa tak akan mati.

Orang-orang gereja yang menjadi pemazmur, menekuni gregorian, musik gerejawi, mau tidak mau, suka tidak suka, harus belajar teknik seriosa. Maka, seriosa tak akan pernah mati. Layaknya musik klasik, ia selalu dilestarikan dari masa ke masa. Namun, seriosa sudah pasti tak akan diputar di radio-radio atau televisi seperti era 1950-an hingga 1970-an.

Dengan latar belakang ini, sejak awal saya deg-degan melihat Putri Ayu di ajang IMB. Sampai berapa lama dia bertahan? Mungkinkah jutaan penonton televisi kita, yang sudah 20 tahun tidak disuguhi musik seriosa, mau mendukung Putri Ayu? Ingat, IMB ini ajang kuat-kuatan SMS. Kualitas penampilan bukan lagi yang terpenting.

Puji Tuhan, Putri Ayu terus bertahan dan bertahan hingga dua besar. Saya sungguh terharu. Ternyata, jutaan penonton televisi kita masih suka musik seriosa. Suka suara soprano Putri Ayu, murid SMP Katolik Santo Thomas I Medan, Sumatera Utara.

Masyarakat Indonesia yang sepanjang hari dihajar dengan lagu-lagu pop industri, yang mutunya makin tak karuan, ternyata masih punya sense of quality. Tahu memilih dan memilah musik yang baik. Tahu bahwa teknik menyanyi klasik, bel canto, ala Putri Ayu punya keunggulan tersendiri. Putri Ayu memang bukan penyanyi biasa.

Kehadiran Putri Ayu di pentas nasional juga membuktikan bahwa seriosa selalu punya jalan untuk menjangkau masyarakat luas. Boleh saja kita kehilangan BRTV, yang megap-megap dalam 10 tahun terakhir. Televisi-televisi tak lagi menyiarkan seriosa seperti era TVRI tempo doeloe.

Tak ada lagi apresiasi musik di televisi seperti di era almarhumah Ibu Sud dan Pak Pranajaya (almarhum). Tapi siapa sangka, seriosa ternyata bisa menyusup melalui IMB, ajang hiburan populer yang sama sekali tak ada kaitan dengan apresiasi musik klasik.

Saya percaya masih banyak Putri Ayu-Putri Ayu lain di Medan, Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, Semarang, Makassar, Maluku, Papua, Manado, Kupang, Balikpapan, Banjarmasin... yang diam-diam telah melestarikan seni suara klasik bernama seriosa ini. Dan itu berarti seriosa tak akan pernah mati.

Horas Putri Ayu!

BACA JUGA
Lagu Seriosa Itu Apa

23 November 2010

Kaisar Victorio - Radio Suzana




Oleh Lambertus Hurek
Radar Surabaya, 24 November 2010

Bahasa Mandarin sering disebut sebagai salah satu bahasa tersulit di dunia. Namun, bukan berarti bahasa nasional Zhongguo (baca: Cungkuo) itu tidak bisa dipelajari oleh orang Indonesia yang bukan keturunan Tionghoa.

“Asalkan kita belajar serius, punya niat, mau memanfaatkan teknologi, dan berlatih berbicara pasti bisa,” tegas Achmad Affandi, penyiar senior Radio Suzana 91,3 FM, kepada saya di studionya, Jalan Wali Kota Mustajab 62 Surabaya. Selasa (23/11/2010).

Kaisar Victorio, nama populer Achmad Affandi, selepas menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI periode 2004-2009, kembali mengisi program-program humor di Radio Susana. Salah satunya, Ni Hao Ma, program interaktif berbahasa Tionghoa dan lagu-lagu Mandarin.

Sebagai host, Kaisar Victorio selalu berbahasa Mandarin dalam program rutin selama dua jam pada pukul 13.00-15.00. “Penggemar acara ini sangat banyak. Dan saya pastikan hampir semuanya orang Tionghoa,” ujar penyiar yang menciptakan Trio Burulu (Bunali, Rukem, Lumut) pada 1972 itu.

Lahir di kawasan Ampel, Surabaya, 14 Juni 1946, Achmad Affandi sama sekali tak punya darah Tionghoa. Dia juga mengaku tak pernah belajar atau ikut kursus bahasa Mandarin di mana pun. Les privat pun tak dilakoninya. “Saya belajar sendiri, otodidak. Nggak pakai guru sama sekali,” akunya.

Sang kaisar Suzana ini mengaku sangat termotivasi belajar bahasa Mandarin karena ada kebutuhan untuk memperkaya program siarannya. Ini penting karena sejak dulu radio di gelombang 91,3 FM itu senantiasa menampilkan program yang multietnis.

Nah, ketika larangan terhadap bahasa dan budaya Tionghoa dicabut oleh Presiden Abdurrahman Wahid (almarhum), Victorio kian intensif belajar bahasa negara panda ini.

“Saya manfaatkan program komputer untuk belajar sendiri. Saya belajar mendengarkan, pengucapan, intonasi, nada-nadanya, sampai karakter hutufnya,” terang ayah empat anak ini.

Victorio pun tak malu-malu berkomunikasi dengan warga Tionghoa Surabaya dalam bahasa Mandarin. Perlahan tapi pasti, kemampuan berbahasa Mandarinnya semakin baik. “Semua yang dikatakan pendengar saya mengerti. Saya juga memberi respons atas komentar-komentar mereka,” katanya.

Ketika berkunjung ke Beijing, Tiongkok, sebagai anggota DPR RI, Victorio bisa menjajal kemampuan berbahasa Mandarinnya dengan warga Tiongkok. Dia pun tak perlu bantuan penerjemah seperti halnya anggota-anggota dewan yang lain.

BLOG KAISAR VICTORIO
http://duniakaisar.blogspot.com/

21 November 2010

Gereja Kristus Raja 80 Tahun




Hari Minggu (21/11/2010), Gereja Kristus Raja Surabaya memperingati hari jadi ke-80. Puncak peringatan ditandai dengan misa syukur yang dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono.


MESKI bukan yang tertua, gereja yang terletak di Jalan Residen Sudirman 3, dekat Stadion Tambaksari, ini tergolong salah satu dari tiga Gereja Katolik bersejarah di Kota Surabaya.

Dua gereja yang lain adalah Gereja Kelahiran Santa Maria di Jalan Kepanjen dan Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral) di Jalan Polisi Istimewa.

“Boleh dikata, Gereja Kristus Raja (KR) ini sudah menjadi ikon Kota Surabaya. Hampir semua orang Surabaya tahu kawasan Kristus Raja karena memang usianya yang sudah cukup matang. Delapan puluh tahun,” ujar Prof Tondowidjojo Tondodiningrat CM, mantan Pastor Paroki Kristus Raja.

Usia 10 windu ini dirayakan secara khusus oleh jemaat Paroki KR. Sejak beberapa beberapa bulan lalu, mereka menggelar berbagai kegiatan di lingkungan gereja. Juga diadakan pembinaan rohani untuk memaknai 80 tahun keberadaan Gereja KR sebagai peristiwa iman.

Salah satu acara yang mendapat sambutan meriah adalah pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Mantep Soedharsono. Menampilkan lakon Semar Gugat, pertunjukan kesenian tradisional ini berlangsung hingga pukul 04.00. Tak dinyana, jemaat rame-rame memenuhi halaman gereja.

“Bahkan, misa pagi jam lima ditiadakan. Ini luar biasa karena jarang terjadi. Umat dan warga sekitar benar-benar menikmati permainan Ki Mantheb,” ujar Sisilia, jemaat Paroki KR, seraya tersenyum.

Bagi Romo Tondo, yang juga menekuni tradisi Jawa, lakon Semar Gugat punya makna rohani sangat dalam. Dan ia berlaku universal, untuk siapa saja. Semar, menurut dia, adalah dewa yang ngejawantah. Dewa yang mengubah wujud dirinya sebagai manusia di dunia. Dalam falsafah Jawa, Kiai Semar atau Ki Lurah Semar menjadi public figure.

“Ia melambangkan kebenaran yang hakiki. Ia menjadi jaminan kemenangan dan keselamatan. Ia adalah suara rakyat kecil, suara hati nurani manusia yang asasi,” urai Romo Tondo.

Ketika di negara Astina sedang diadakan rapat membahas Perang Baratayuda, menurut Romo Tondo, Ki Semar tiba-tiba angkat bicara. Dia meminta majelis agung agar lebih baik membahas situasi masyarakat yang dilanda kemiskinan, bencana alam, wabah penyakit, angkara murka, hingga penyimpangan moral. Ki Semar malah diseret keluar istana oleh seorang siswa Begawan Dewaningrat karena dinilai mengacau pembicaraan.

“Padahal, apa yang diungkapkan Ki Semar itu suara rakyat,” tegas Romo Tondo.



Seperti gereja-gereja tua di kota besar, Gereja Kristus Raja Surabaya dibangun dengan arsitektur yang unik. Tak heran, Gereja KR tercatat sebagai salah satu cagar budaya di Kota Surabaya.

MENURUT Romo John Tondowidjojo CM, bangunan gereja di Jalan Residen Sudirman 3 ini mengacu pada nilai-nilai lokal. Menara lonceng menjulang tinggi di ujung atap. Ini merupakan perpaduan atap joglo dengan menara gaya Barat yang runcing dan tinggi.

Pembagian tata ruang dalam (interior) terasa lapang dan longgar. Dalam ruang utama, menurut Romo Tondo, titik pandang kita akan tertuju ke panti imam. Sehingga, secara tidak sengaja pandangan umat seakan-akan dituntun ke arah tabernakel.

“Ini disebabkan pancaran sinar dari jendela kaca patri di dinding panti imam. Secara keseluruhan berjumlah 53 buah,” papar Romo Tondo yang juga guru besar ilmu komunikasi Universitas Bhayangkara Surabaya itu.

Panti imam sendiri ditata sedemikian rupa seperti bagian dalam rumah adat Jawa yang disebut senthong. Bagian tengahnya menjadi tempat paling sakral, yaitu tabernakel. Ruang di kanan panti imam adalah sakristi. Tempat pastor dan misdinar (putra altar) berganti pakaian.

Mewakili pastor paroki yang berhalangan hadir, kemarin Romo Tondo menceritakan kembali sejarah singkat Gereja KR di hadapan ribuan jemaat. Menurut Tondo, keberadaan Gereja KR tak lepas dari rintisan Monsinyur Th de Backere CM yang konsen pada karya pendidikan. Pada 1 April 1929, Monsinyur de Backere meletakkan batu pertama pembangunan gedung sekolah untuk anak-anak pribumi di kawasan Ketabang.

Tiga bulan kemudian, Juli 1929, gedung sekolah tersebut kelar dan diresmikan. Namanya nama HIS (Hollands Indische School) Santa Theresia. Sekolah yang setara dengan sekolah dasar. Kegiatan belajar-mengajarnya dimulai tahun 1930.

Nah, pada saat itu, setiap hari Minggu, gedung sekolah itu dipakai juga sebagai gereja bagi umat Katolik di kawasan Ketabang dan sekitarnya. Gereja darurat itu kemudian dikenal sebagai Santa Theresia Hulpkerk atau Gereja Bantu Santa Theresia.



Setelah dirintis 80 tahun silam, Santa Theresia Hulpkerk atau Gereja Bantu Santa Theresia terus berkembang. Pada 1933 dibangun gereja baru di bekas bangunan taman kanak-kanak.

Nama gereja tetap sama: Santa Theresia Hulpkerk. Sebagian gedungnya masih disekat untuk taman kanak-kanak. Karena gedung pastoran sudah selesai dibangun, sejak saat itu Romo J Haest CM selaku pastor paroki bersama Romo G van Ravensteijn CM menetap di Ketabang.

Tidak lama kemudian, Prefek Apostolik (cikal bakal Keuskupan Surabaya) Monsinyur Th de Backere CM ikut pindah ke Pastoran Santa Theresia Ketabang. Sejak 1933 Stasi Ketabang berubah status menjadi paroki. Paroki ketiga di Surabaya menyusul Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kepanjen) dan Gereja Hati Kudus Yesus atau Katedral di Jalan Polisi Istimewa.

Mengingat Gereja Theresia Ketabang masih darurat, pada 1938 diadakan renovasi dan diperluas. Bangunan yang tadinya sebagian dipakai untuk sekolah kini sepenuhnya sebagai gereja. Nama gereja yang semula Santa Theresia Hulpkerk diubah menjadi Kristus Koningkerk atau Gereja Kristus Raja.

Ketika tentara Jepang masuk pada awal Maret 1942 di Surabaya, Sekolah Santa Theresia dan Gereja Kristus Raja diduduki tentara Jepang. Semua pastor berkebangsaan Belanda ditangkap dan diinternir tentara Jepang.

“Sehingga, kegiatan rohani diasuh dua romo asal Jawa Tengah, yakni Romo PCL Dwidjosoesanto dan Romo Padmoseputra,” tutur Romo John Tondowidjojo. Mantan Pastor Paroki Kristus Raja ini secara khusus menulis buku peringatan 80 tahun Gereja Kristus Raja.

Setelah Jepang kalah perang, Romo Haest CM dan Romo E van Mensvoort CM kembali ke Ketabang. Di masa kemerdekaan, meski masih dengan berbagai keterbatasan, jumlah jemaat terus bertambah. Gereja sederhana yang dibangun pada 1933 sudah tidak lagi menampung umat.

Maka, pada 1956 Romo Dijkstra CM bersama Romo Passchier CM berinisiatif untuk membangun sebuah gereja baru. Setahun kemudian, 1957, Gereja Kristus Raja diresmikan oleh Uskup Surabaya Monsinyur JAM Klooster CM. Nah, bangunan gereja inilah yang bertahan sampai sekarang.

Baswedan dan RS Al-Irsyad Surabaya



Sebagai putra pengusaha keturunan Arab terkemuka, Said Faisal Basymeleh tak asing lagi dengan kota tua dan bangunan-bangunan bersejarah di kawasan Ampel dan sekitarnya. Salah satu tetenger yang masih berdiri kokoh hingga sekarang adalah bangunan Rumah Sakit Al-Irsyad di Jalan KH Mansur 210-24 Surabaya.

“Itu bekas rumah milik nenek dari istri saya (Laila Baswedan),” ujar Said Basymeleh kepada saya, Kamis (18/11/2010).

Almarhum Basymeleh dikenal sebagai tokoh di kawasan Ampel dan punya keluarga besar. Layaknya tokoh berpengaruh tempo doeloe, Baswedan sengaja membuat rumah besar untuk dihuni anak-anak dan cucu-cucunya. Di dalamnya dibuat kamar-kamar, yang juga sangat luas, untuk ditempati masing-masing keluarga.

“Nah, ruang tengah yang sekarang menjadi ruang tunggu pasien RS Al-Irsyad itu dulunya ruang keluarga. Kalau keluarga besar berkumpul, makan bersama, ya, di ruang tengah itu,” tuturnya.

Baswedan sendiri meninggal dunia jauh sebelum tahun 1970-an. Para anak cucunya kemudian mewarisi rumah besar di jalan raya strategis di kawasan Ampel itu. “Belakangan, mereka merasa rumah itu terlalu besar. Lantas, masing-masing keluarga kemudian pindah ke beberapa rumah yang lebih kecil,” kenangnya.

Yayasan Al-Irsyad kemudian tertarik menjadikan bangunan milik almarhum Baswedan itu sebagai rumah sakit. Mereka bernegosiasi dengan ahli waris Baswedan. “Bahkan, sebagian dari bangunan rumah itu dihibahkan untuk Al-Irsyad. Jadi, dibeli dengan harga yang katakanlah di bawah harga sebenarnya,” tuturnya.

Maka, sejak 1972 rumah itu dijadikan RS Al-Irsyad sampai sekarang. Menurut Said, keluarga besar Baswedan tak punya kaitan apa-apa dengan rumah rumah sakit itu. Said sendiri hanya punya ‘hubungan emosional’, bahwa tempo doeloe leluhur istrinya pernah menghuni bangunan dengan plafon yang sangat tinggi itu.

“Itu sudah sepenuhnya milik Yayasan Al-Irsyad. Sudah dihibahkan, ya sudah, mereka yang kelola sebagai rumah sakit biar lebih profesional,” tandas Said.

Rupanya, pengalamannya sebagai arek Suroboyo keturunan kampung Ampel yang berpengaruh di masa lalu diam-diam membuat Said Basymeleh punya kecintaan yang sangat kuat pada sejarah. Dia senang menjadi filatelis, kolektor prangko, kemudian kolektor foto-foto tua tentang Surabaya.

Melalui foto-foto lama itu, Said bisa bernostalgia jauh ke masa lalu. Oud Soerabaia! (lambertus hurek)

Said Basymeleh dan Foto Oud Soerabaia



Sebuah foto lebih berbicara ketimbang seribu kata! Ungkapan klasik ini benar-benar dibuktikan oleh Said Faisal Basymeleh (53). Berkat ketekunannya berburu foto, arek Suroboyo asal kampung Ampel ini berhasil menghadirkan kembali Wadjah Lama Soerabaia (1890-1940).

HINGGA 25 November 2010, sebagian kecil dari ribuan foto koleksi Said Faisal Basymeleh dipamerkan di Graha Wismilak, Jalan Soetomo Surabaya. Tanpa perlu banyak penjelasan, kita bisa menikmati secara detil suasana Oud Soerabaia, Surabaya Tempo Doeloe.

Kota Surabaya, yang didesain meneer-meneer Belanda sebagai kota perdagangan, yang mengandalkan sungai-sungai di dalam kota sebagai moda lalulintas utama. Kota dengan bangunan-bangunan kolonial yang eksotis. Kesibukan di Arabische Camp dan Chinese Kamp.

“Saya hanya ingin agar masyarakat Surabaya turut menikmati foto-foto indah koleksi saya,” kata Said Basymeleh pada pameran fotonya yang dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf, Kamis (18/11/2010) sore.

Berikut petikan percakapan wartawan Radar Surabaya LAMBERTUS LUSI HUREK dengan Said Faisal Basymeleh.



Sejak kapan Anda menjadi kolektor foto-foto Surabaia Tempo Doeloe?

Sudah 20 tahun saya mengumpulkan foto-foto tua tentang Surabaya ini. Sejak tahun 1990 sampai sekarang.

Awal mulanya bagaimana?

Saat itu saya ada kesempatan ke Negeri Belanda. Saya coba mampir ke salah satu pasar. Saya kaget ketika menemukan kartu pos bergambar Jalan Panggung, Surabaya. Objek foto itu tepat di depan toko milik kakek saya. Jadi, saya tahu persis apa yang ada di foto tersebut. Itu foto tahun 1910.

Sejak itulah saya langsung mencari foto-foto Surabaya yang lain. Saya dapat sekitar 10 lembar. Selanjutnya, dari tahun ke tahun saya terus memburu, hunting, mencari foto-foto lama.

Cari di Belanda lagi?

Di mana saja. Pokoknya, kalau ada foto-foto lama tentang Surabaya, saya usahakan agar bisa dikoleksi. Tapi memang sebagian besar memang saya dapatkan di Negeri Belanda.

Sekarang koleksi foto Anda sudah berapa?

Hingga tahun 2010 ini, koleksi saya sudah mencapai 2.000 lebih. Seluruhnya foto-foto tentang Surabaya. Soerabaia tempo doeloe!

Ada kesulitan mencari foto-foto itu?

Yah, memang sulit. Nggak gampang. Tapi karena saya memang sudah niat dan intens sekali, ya, akhirnya dapat juga. Mencari foto-foto lama itu memang gampang-gampang sulit. Ada kalanya dapat agak banyak, tapi kadang nggak dapat sama sekali.

Tahun 2010 ini, misalnya, saya hanya dapat tiga lembar foto. Jadi, makin tahu memang kita semakin sulit menemukan foto-foto lama. Dan kebetulan sudah hampir semua foto lama tentang Surabaya sudah hampir saya miliki semua. Jadi, ada saja foto lama yang saya temukan, tapi tidak menambah koleksi saya. Saya hanya mengumpulkan foto-foto yang memang belum saya punyai.

Anda mengoleksi foto-foto dari buku-buku lama juga?

Betul. Buku-buku lama, yang sebagian besar berbahasa Belanda, memang sering memuat foto-foto lama tentang Surabaya. Bisa juga foto-foto itu dari kartu pos atau foto cetakan biasa.

Bagaimana Anda menyimpan dan merawat ribuan foto itu?

Sebagian besar saya masukkan ke album-album agar mudah dicari dan dinikmati. Kalau yang tidak bisa dimasukkan album, saya buatkan folder khusus. Kalau yang di buku, ya, disimpan saja bukunya. Saya juga kebetulan punya banyak buku mengenai Surabaya tempo doeloe.

Hobi seperti ini tentu banyak makan uang?

Hehehe.... Sudah pasti keluar uang karena harus beli. Mana ada yang gratis sekarang? Kalau dikasih, siapa yang mau kasih saya foto segini banyaknya.
Semakin hari orang semakin sadar bahwa foto-foto lama, buku-buku klasik, itu punya nilai yang tinggi. Sehingga, kolektor juga semakin sulit mendapatkan foto-foto lama. Tapi saya harus berani investasi. Ke Negeri Belanda jelas butuh biaya untuk tiket, akomodasi, dan sebagainya. Tapi kalau tidak berani investasi, ya, kita tidak akan pernah mendapatkan foto-foto yang bagus.

Mungkin Anda dipengaruhi keluarga yang suka sejarah atau fotografi?

Sebenarnya tidak juga. Saya tertarik sekali dengan foto-foto kuno karena saya melihat foto-foto itu begitu indah dan punya nilai sejarah. Dan, waktu itu, tahun 1990, banyak teman-teman di Belanda yang menyarankan saya agar menjadi kolektor foto-foto tentang Surabaya.

Lantas, siapa yang mengajak Anda pameran di Graha Wismilak?

Dari teman-teman seperti Pak Eddy Samson, Pak Freddy Istanto (dosen Universitas Ciputra, penggiat Surabaya Heritage, Red), dan Pak Henry Najoan dari Wismilak. Suatu ketika kami diskusi santai, ngobrol-ngobrol, lalu tercetus gagasan untuk bikin suatu acara dan akhirnya terwujudlah pameran ini. Mudah-mudahan pameran ini mendapat respons dari masyarakat Kota Surabaya. (rek)





BIODATA SINGKAT

Nama : Said Faisal Basymeleh
Lahir : Surabaya, 1957
Istri : Laila Baswedan
Anak : Ikrima, Aslam, Abizar
Pekerjaan : Pengusaha
Hobi : Koleksi prangko, foto lama, kuliner
Alamat : Jalan KH Mansyur 185 Surabaya

Pendidikan
- SD-SMA Al Irsyad Surabaya
- Sarjana Teknik (S-1) di Surabaya

17 November 2010

Lima Naga - Wushu & Barongsai



Sejak diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 1990-an, wushu berkembang pesat di tanah air. Sasana wushu bermunculan di berbagai kota.

Saat ini wushu bahkan menjadi salah satu olahraga unggulan Indonesia di even-even bergengsi di tingkat internasional. Ivana Ardelia Irmanto, wushuwati asal Jogjakarta, kemarin, menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih medali di Asian Games Guangzhou, Tiongkok. Ivana diganjar medali perak dalam nomor nanquan putri.

Luar biasa! Wushu, yang dulu dikenal sebagai kungfu atau kuntao, itu kini berhasil mengharumkan nama Indonesia di pesta olahraga se-Asia meski sempat mengalami masa suram pada era Orde Baru.

Kebangkitan wusuhu di tanah air ini sebetulnya bisa dipahami mengingat seni bela diri khas Tionghoa yang satu ini sudah ada di Indonesia seiring keberadaan huaqiao alias masyarakat Tionghoa perantauan.

Tak kalah dengan kota-kota lain, di Surabaya pun sasana wushu muncul di mana-mana. Kalau zaman dulu wushu atau kungfu hanya dilatih untuk sekadar ‘jaga diri’, pasca-Orde Baru wushu benar-benar dipandang sebagai salah satu cabang olahraga prestasi. Dilombakan di berbagai even antarbangsa seperti SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.

Salah satu sasana wushu di Surabaya adalah Lima Naga. Sasana di Jalan Bongkaran 63 ini, menurut Chriswanto AH, memang ingin melestarikan budaya Tionghoa seperti wushu, barongsai, liang-liong, dan chi kung.

“Kita punya sekitar 70 anggota, mulai anak-anak hingga usia sekolah menengah,” kata pembina Lima Naga ini kemarin.

Dibandingkan barongsai dan liang-liong, menurut Chriswanto, wushu sebetulnya lebih mudah dipelajari. Akan lebih optimal jika seni bela diri ala negeri tirai bambu itu dipelajari sejak kanak-kanak. “Kita lebih mudah membentuk fisik dan ototnya. Gerakan-gerakannya juga lebih lincah,” paparnya.

Seperti juga barongsai, wushu menjadi ajang pembauran yang efektif antara warga Tionghoa dan non-Tionghoa. Di Sasana Lima Naga, misalnya, sebagian besar atlet justru didominasi orang Jawa dan Madura.

“Orang Tionghoanya malah sangat sedikit. Di bidang olahraga, sekat-sekat suku, ras, agama, dan sebagainya hilang. Semua orang bisa menyatu dan berlatih bersama,” kata Chriswanto.

Jika sasana-sasana wushu yang tersebar di seluruh tanah air ini dikelola dengan sungguh-sungguh, dia optimistis wushu bakal menjadi tambang medali bagi Indonesia. Sebab, anak-anak Indonesia memang punya bakat yang luar biasa dalam memainkan gerakan-gerakan silat ala Tiongkok itu.

Kiprah Ivana Ardelia di Asian Games Guangzhou sudah membuktikannya. (*)

15 November 2010

Rapor Kesehatanku Masih Buruk



Aku mejeng sama teman-teman dan band NETRAL.

Sudah berapa kali Anda melakukan general checkup? Saya baru enam kali. Dan hasilnya selalu membuat saya tidak tenang. Rapor merah di banyak item!

Pekan lalu, hasil tes kesehatan kami, para karyawan, diumumkan. Lagi-lagi angka kolesterol dan turunannya masih merah. Tapi, dibandingkan tes tahun lalu, kali ini kemajuan. Nilainya membaik meskipun belum masuk kriteria normal.

Kolesterol total 243 [normal < 200]
Trigliserida 187 [normal < 150]
HDL 42 [normal 40-60]
LDL 164 [normal < 100]

Asam urat 6,4 [normal 3,4 - 7,0]
Glukosa puasa 80 [normal < 100]

SGOT 18,7 [normal < 40]
SGPT 23,0 [normal < 41]
Tekanan darah 120/70

Tinggi badan 172 cm
Berat badan 74 kg


Karena selalu mendapat rapor merah, dan banyak teman juga mengalami, kali ini saya tidak secemas ketika pertama kali membaca hasil tes kesehatan. Apalagi, ada beberapa item yang mengalami perbaikan signifikan.

Tahun lalu kolesterol total saya 307, sekarang 243. Trigliserida 260 menjadi 187. LDL 205 turun ke 164. Asam urat dari 7,3 ke 6,4.

Semua orang sih ingin semua item pemeriksaan normal. Tak ada masalah kolesterol, hati, jantung, tekanan darah, dan sebagainya. Tapi menekuni pekerjaan di depan komputer, bukan kerja fisik, jarang berolahraga, membuat rapor kesehatan kita tidak bisa optimal. Stres selalu menghantui. Banyak pikiran. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Orang-orang kampung di luar Jawa, misalnya, tak pernah checkup sepanjang hidupnya. Mereka pun tak paham apa itu general checkup. Toh, semua manusia akan mati kalau memang ajal sudah menjemput.

Dokter-dokter spesialis yang paling hebat sekalipun akan mati juga meskipun dia melakukan checkup kesehatan tiap minggu. Kalau mau bisa saja setiap hari. Hehehe....

Tapi, paling tidak, dengan mengetahui rapor kesehatan, maka saya lebih hati-hati dalam hidup. Mengurangi makan daging. Mengurangi gula. Tidak makan di atas jam tujuh malam. Makan tengah malam, bahkan di atas pukul 23:00, saya lakukan setelah pulang dari kantor setiap hari. Mungkin kebiasaan buruk inilah yang menyebabkan berat badan saya naik terus, angka kolesterol di atas normal.

Hiperkolesterol!

Begitu banyak warung di pinggir jalan di Surabaya dan Sidoarjo yang menyediakan berbagai menu istimewa. Godaan-godaan makan pada malam hari ini tidak mudah diatasi penduduk kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, dan sebagainya.

Beda dengan penduduk kota kecil macam Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang rata-rata sudah tidur sebelum pukul 21:00. Atau, orang-orang desa di kampung saya, Flores Timur, yang tidur rata-rata sekitar pukul 19:00. Kita di Surabaya umumnya tidur terlampau larut.

Kalau ada pertandingan bola di televisi yang melibatkan klub-klub elite dunia macam Barcelona, Real Madrid, Chelsea, Manchester United, Inter Milan, AC Milan... saya bahkan melekan terus. Baru tidur pukul 02:00. Atau, biasanya, tidur sebentar, pasang alarm agar dibangunkan pukul 01:00... demi menyaksikan pertandingan bola di televisi.

Kita, khususnya saya, terlalu asyik menonton orang lain berolahraga di televisi atau lapangan, tapi awak sendiri jarang berolahraga. Bagaimana hasil tes kesehatan bisa bagus?

Mudah-mudahan hasil general checkup Anda, pembaca blog ini, lebih bagus ketimbang saya. Amin!

14 November 2010

Gedung Hakka yang baru




Rapat Kerja Nasional III Perkumpulan Hakka Indonesia di Grand City Surabaya berakhir kemarin (14/11/2010). Sebelum kembali ke daerah masing-masing, sekitar 250 delegasi dari seluruh tanah air menghadiri peresmian Gedung Hwie Tiauw Ka di Mangga Dua, Jagir Wonokromo.

Gedung berlantai tiga ini diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan komunitas Hakka di Kota Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Selama ini segala aktivitas Hwie Tiau Ka yang baru merayakan ulang tahun ke-190 ini dipusatkan di Jalan Slompretan.

Gedung tua di kawasan pecinan itu telah menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Kota Surabaya. “Jadi, kita tidak bisa mengubah bentuk atau memperluas gedung itu. Sementara aktivitas Hwie Tiauw Ka dan Perkumpulan Hakka makin meningkat akhir-akhir ini,” jelas Dr Joshie Halim, ketua panitia rakernas, di sela peresmian Gedung Hwie Tiauw Ka.

Karena itu, para pengurus dan tokoh masyarakat Hakka di Surabaya memandang perlu membuka sebuah gedung serbaguna yang baru. Apalagi, Surabaya selama ini menjadi motor penggerak aktivitas Perkumpulan Hakka di Jawa Timur. “Syukurlah, gedung serbaguna itu akhirnya bisa diresmikan,” kata Joshie Halim.

Menurut Joshie, ke depan gedung di kompleks ruko Mangga Dua ini akan lebih banyak dipakai oleh kaum muda Hwie Tiauw Ka alias Perkumpulan Hakka. Di situ juga dibuka kursus bahasa Mandarin, kursus bahasa Hakka, serta aneka seni budaya Tionghoa, khususnya yang terkait dengan Hakka.

“Orang-orang Hakka ini punya tradisi berbalas pantun seperti kebiasaan masyarakat Batak di Sumatera. Ada tradisi sastra lisan. Tradisi dan budaya seperti ini memang perlu dilestarikan dari generasi ke generasi,” papar Joshie seraya tersenyum.

Acara peresmian Gedung Hwie Tiauw Ka kemarin berlangsung meriah. Diiringi atraksi barongsai Lima Naga, para delegasi rakernas meninjau ruangan dari lantai satu hingga lantai tiga. Nuansa Jawa pun terlihat kental dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama makanan khas Surabaya.

Setelah itu, para pemuka masyarakat Hakka berdiri berjejer di depan gedung untuk memotong pita merah. Tirai penutup papan nama gedung pun terbuka. Acara yang dipandu MC dalam bahasa gado-gado Mandarin, Hakka, Indonesia, dan Jawa itu pun berlangsung gayeng. Semuanya bertepuk tangan meriah.

Sebelumnya, Sabtu (13/11/2010) malam, ratusan peserta rakernas menikmati atraksi seni budaya persembahan komunitas Hakka di Surabaya. Tahun depan, menurut Joshie Halim, bakal digelar musyawarah nasional Hakka di Medan, Sumatera Utara. (*)

BACA JUGA
Hwie Tiauw Ka di Surabaya

Mbah Marijan, sugeng tindak!




Senin Legi, 25 Oktober 2010. Kahanan kampung-kampung lereng Gunung Merapi wis katon sepi nyenyet, kalebu tlatah Kaliurang, Kalurahan Hargobinangun, Kinahrejo, Pangukharjo, tlatah Kalurahan Umbulharjo.


Dina iku kahanan Gunung Merapi wis ngancik AWAS, minangka tetenger menawa warga kang ana ing dhaerah rawan kudu padha ngungsi. Wiwit bengi nganti awan, Merapi wis ngetokake kekuwatane kanthi muntahake material-material panas, kanthi semburan-semburan lava panas, sarta awu panas ngebaki sakiwa tengene Gunung Merapi.

Saka kahanan kaya ngono mau, pendhudhuk kudu padha ngungsi. Kahanan kaya ngono mau, ora tumrape Mbah Marijan. Sanajan wis dierih-erih dening para petugas, tetep Mbah Marijan ora gelem mudhun gunung.

Mbah Marijan kang kapirangan asma saka kraton MAS PENEWU SURAKSA HARGA tetep ngugemi parentahe swarga Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Seda dadi juru kunci Gunung Merapi. Ora perlu nyalahake siji lan sijine, Mbah Marijan ora eling manawa wektu iki sing kuwasa Sri Sultan Hamengku Buwana X.

Lan geneya Mbah Marijan sing 'bandel' mau ora didhawuhi mudhun ngungsi dening Ngarsa Dalem HB X, kang pinangka gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta?

Sing uwis ya uwis, puluh-puluh dadi rong puluh.

Mbah Marijan wani ngrungkepi tanah wutah getihe minangka pemangku adat Kinahrejo, ngrungkepi jejibahan lan tanggung jawabe minangka nakhoda, ya nakhodane warga Kinahrejo, marga Mbah Marijan wis ngugemi 'durung ana dhawuh lan wangsit' saka sing mbaureksa Merapi.

Mbah Marijan ing detik-detik pungkasna wani nantang nglawan maut, wusana tiwas ing kamare ing wetan ruwang tamu omah mburi, kanthi posisi lagi sujud. Sugen tindak Mbah Marijan! Mugi-mugi lepasa papane jembara kubure!

Mbah Marijan kang ngrungkepi kewajibane minangka abdi dalem Kraton Jogja dipundhut sowan Gusti Allah dina Selasa Pahing jam 17:02. Disarekake ing dina Kamis Wage ing pasarean kampung Srunen, Kalurahan Glagahharja, Cangkringan, Sleman.

[PANJEBAR SEMANGAT, 13 November 2010]

10 November 2010

Bokir Surogenggong dan Klantink



Keberhasilan Klantink, kelompok pengamen jalanan asal Joyoboyo, Surabaya, menjadi jawara Indonesia Mencari Bakat (IMB) membanggakan warga Kota Surabaya. Klantik menjadi simbol perjuangan wong cilik dari pengamen di bus kota menjadi selebriti baru. From zero to hero!


Selama sepekan terakhir, lima personel Klantink (Wawan, Budi, Ndowe, Lukin, Mat) dielu-elukan di kota kelahirannya, Surabaya. Mereka juga diterima sejumlah pejabat seperti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf. Saat audiensi dengan pejabat-pejabat itu, Klantink selalu didampingi Bokir Surogenggong (52). Termasuk ketika berkunjung ke kantor Radar Surabaya di Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya, Jumat (5/11/2010) malam.

Cak Bokir, yang juga penyanyi dan musisi era 1980-an, ini merupakan ketua umum Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Surabaya. Saat ini KPJ menjadi semacam organisasi payung bagi sekitar 300 street musician alias musisi jalanan yang tersebar di seluruh Surabaya, termasuk Terminal Purabaya di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Nah, Klantik, sang jawara IMB 2010, itu termasuk salah satu grup dari 300-an penyanyi jalanan KPJ Surabaya. Cak Bokir kebetulan ikut menyertai perjalanan karir bermusik kelima personel Klantik itu.

Bagaimana Anda melihat sukses yang baru saja diraih Klantink?

Ini merupakan bukti bahwa di jalanan sebenarnya ada banyak mutiara yang terpendam. Tinggal kita mengangkat mutiara itu, kemudian menggosoknya dan diangkat ke permukaan. Para musisi jalanan seperti Klantink itu sudah lama sekali ditempa di jalanan. Mereka terbiasa kerja keras, menderita, kehujanan, kepanasan, sehingga tahan banting. Dan hasil yang dicapai di IMB 2010 ini secara tidak langsung merupakan pengakuan atas eksistensi para musisi jalanan, tidak hanya di Surabaya, tapi juga di seluruh Indonesia.

Sejauh mana Anda mengenal Klantink?

Ya, kenal banget. Sebagai ketua KPJ Surabaya, saya sering mengajak mereka tampil di even-even yang melibatkan KPJ. Kami ikut mengisi acara Brangbang Wetan di Balai Pemuda. Kemudian kami juga tampil di rumah Cak Nun (budayawan Emha Ainun Nadjib, Red) di Jogja. Nama Klantink waktu itu belum ada. Kami pakai nama KPJ Surabaya. Kelompok Penyanyi Jalanan Surabaya. Saya jadi vokalis, sementara adik-adik itu yang mengiringi. Bahkan, tahun 2009 lalu KPJ diundang main di Festival Seni Surabaya. Lima anak itu saya ajak.

Sebagai pemusik senior, apakah Anda sudah melihat potensi lima pemuda yang sekarang dikenal sebagai Klantink itu?

Persis. Kelima anak muda itu bisa belajar musik dengan cepat. Kita latihan dua tiga jam, setelah itu mereka bisa bermain sendiri. Melakukan improvisasi dan mengembangkan musik mereka dengan bagus. Ini karena mereka bukan penyanyi jalanan biasa, tapi dianugerahi bakat dari Tuhan yang Maha Esa.

Ada pengalaman berkesan ketika tampil bersama mereka?

Waktu main di Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali, sambutan penonton memang luar biasa. Farid Syamlan dari DKS (Dewan Kesenian Surabaya) sempat mengatakan, saudara-saudara, tahun besok grup ini bakal terkenal, menjadi grup musik yang besar. Ndilalah, ucapan Cak Farid di Taman Budaya itu akhirnya menjadi kenyataan. Sekarang ini kelima anak muda ini dikenal di seluruh Indoneia sebagai Klantink, juara pertama IMB di Trans TV.

Bisa diceritakan sedikit perjalanan Klantink hingga ke babak final IMB?

Mereka latihan untuk audisi, ya, di Joyoboyo. Kita buatkan kaos karena memang awalnya mereka tidak punya kostum. Kita juga koordinasi dengan KPJ di Bulungan, Jakarta, dan KPJ-KPJ di kota lain. Sebab, bagaimanapun juga ajang seperti IMB ini kan perlu dukungan SMS. Kita koordinasi dengan jaringan yang sudah ada, termasuk lewat Facebook. Semua itu kita lakukan karena posisi Klantik di awal-awal memang kurang menggembirakan.

Juga menjadi suporter di studio Trans TV?

Nah, ini yang lucu. Di awal-awal IMB, kita memang kalah suporter. Funky Papua suporternya banyak. Brandon banyak. Putri Ayu banyak. Waktu presenter tanya, “Mana pendukungnya Klantink?”

Saya hanya bisa menunduk di dalam studio karena hampir nggak ada suporter Klantink yang datang ke studio. Tapi saya tetap optimis karena SMS dukungan untuk Klantink datang dari berbagai kota di Indonesia. Biarpun suporter di studio banyak, tapi kalau SMS-nya kurang, ya, nggak akan jadi. Alhamdulillah, Klantink tembus sampai final dan akhirnya menang.

Buat saya, kekuatan pemusik jalanan seperti Klantink ini adalah daya tahan. Tempaan di lapangan itu luar biasa keras. Kalau daya tahan ini di-manage secara ikhlas dan tulus, membidik sasaran secara tepat, insyaallah, akan jadi.

Apa harapan Anda untuk Klantink?

Harus tetap berani, karena berada di jalan yang benar, tidak boleh sombong, tidak boleh takabur. Daya tahan yang sudah ditempa di jalanan itu jangan sampai hilang meskipun mereka sudah dikenal di mana-mana.

Berapa banyak pemusik jalanan yang tergabung di KPJ Surabaya?

Sekitar 300 orang. Mereka berada di tujuh titik, yakni Tanjung Perak, Jembatan Merah, Kupang, Joyoboyo, RSI (Rumah Sakit Islam), Bratang, dan Bungurasih. Kita menerapkan etika seperti sopan santun di dalam bus kota, pakaian rapi, pakai sepatu, bahkan ada kartu anggota. Ini untuk mengantisipasi operasi preman yang pernah dilancarkan pihak kepolisian.

Kita juga mengajak mereka untuk membangun solidaritas di kalangan sesama pemusik jalanan. Kalau ada yang sakit di Bratang, misalnya, maka teman-teman lain urunan untuk bantu. Kalau kelompok A dapat job, kelompok B tidak boleh cemburu. Sebab, yang namanya rezeki itu sudah ada yang atur. (*)



Jadi Asisten Gombloh

SEBAGAI sesama ‘seniman jalanan’, Bokir Surogenggong ternyata pernah punya kedekatan khusus dengan almarhum Gombloh. Bahkan, selama tiga tahun, 1984-1987, Bokir dipercaya sebagai asisten sang penyanyi nyentrik yang terkenal dengan hit Kugadaikan Cintaku dan Apel itu.


“Waktu itu Gombloh sering mangkal di Nirwana Record di Siola dan Bengkel Pemuda. Saya selalu ikut nyanyi-nyanyi dan main gitar sama Gombloh,” kenang Bokir.

Tak heran, gaya menyanyi dan bermusik Bokir sedikit banyak terpengaruh oleh gaya Gombloh. Lagu-lagu ciptaan Bokir pun terkesan nyeleneh, nyentil sana-sini, penuh humor. Di antaranya, lagu berjudul Calon Pengantin, Wok Tiwok, Bung Epek-Epek, Tragedi Ratu Goyang, Cinta Anak Jalanan, Pacar Gulipat.
Suatu ketika pada tahun 1987, cerita Bokir, Gombloh mendapat tanggapan di Pasuruan.

Kondisi Gombloh saat itu sedang tidak sehat. “Orangnya sampai muntah-muntah segala. Tapi, karena ini job dari pejabat-pejabat penting, ya, Gombloh tetap bersedia datang,” katanya.

Sadar kalau kondisinya kurang fit, Bokir diajak ke Pasuruan sebagai artis pendamping. Tampil satu panggung bersama Gombloh yang ketika itu sedang naik daun. Di Surabaya, Gombloh sudah bikin skenario. Dia tampil lebih dulu membawakan dua lagu, kemudian selanjutnya giliran Bokir yang menggantikan Gombloh.

“Ini nggak umum karena yang namanya artis top itu pasti tampil terakhir sebagai gongnya. Tapi waktu itu kondisi kesehatan Gombloh memang tidak memungkinkan. Nada dasarnya bahkan diturunkan,” katanya.

Bokir juga diingatkan agar tidak menyanyikan lagu-lagu kritik sosial yang menyentil pemerintah mengingat banyak pejabat akan hadir di konser tersebut. Nah, konser memang berlangsung sesuai skenario. Setelah membawakan dua lagu, Bokir disuruh naik ke atas panggung. Penonton pun heboh.

“Saya diteriaki diminta turun. Penontonnya maunya Gombloh tetap di atas panggung. Tapi saya tidak bilang kondisi Gombloh yang sebenarnya,” kenang ayah dua anak ini.

Bokir ternyata tidak terpengaruh oleh teriakan-teriakan penonton. Dia tetap menyanyi dan mengocok perut dengan lagu-lagu kocaknya yang menggelitik. Hadirin yang tadinya antipati sekarang justru terhibur. Mereka tak lagi meminta Gombloh naik ke atas panggung. Sebaliknya, para pejabat beringsut satu per satu karena risi mendengar syair lagu Bokir yang dianggap vulgar.

“Di mobil, waktu pulang ke Surabaya, Gombloh marah-marah karena saya tetap membawakan lagu-lagu jenaka. Saya hanya tertawa saja,” katanya seraya tersenyum lebar.

Meski begitu, hubungannya dengan Gombloh tetap baik. Bokir sempat membantu membuat relief di rumah Gombloh di kawasan Mulyosari. Setelah album Kugadaikan Cintaku meledak di pasaran, Bokir juga diajak rekaman bersama. Sayang, rencana rekaman ini tak pernah terlaksana karena Gombloh keburu meninggal dunia.

“Tapi saya diwarisi dua lagu oleh almarhum Gombloh. Sekarang belum saya keluarkan mengingat tren musik sekarang kurang pas dengan karakter lagu Gombloh. Notasinya lawas, tapi syairnya bagus,” pungkasnya. (*)


TENTANG CAK BOKIR

Nama populer : Bokir Surogenggong
Nama asli : Bokirno
Lahir : Surabaya, 8 Oktober 1958
Istri : Anneke
Anak : Angga dan Anggi
Jabatan : Koordinator Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Surabaya
Alamat : Jagir Sidosermo VI/96 Surabaya

Pendidikan
SDN Kedunganyar Surabaya
Sekolah Teknik (ST) Wonocolo, Surabaya
Sekolah Teknik Menengah (STM) Wonocolo, Surabaya

ALBUM MUSIK/DISKOGRAFI
Bokir Pea, Golden Hand Surabaya
Genggong, Double Record Jakarta
Pecel Lele, Dunia Record Jakarta
Reggae (sedang proses)

Turis Tiongkok dan Bahasa Inggris




Selasa, 27 Oktober 2010, saya ikut menyambut kedatangan 79 orang duta budaya Tiongkok. Mereka tergabung dalam Grup Musik dan Tari Zong Zheng. Hampir semua anggota rombongan seniman ini sehar-hari bekerja sebagai tentara Tiongkok.

Pantas saja potongan fisik mereka, baik laki-laki maupun perempuan, bagus-bagus. Tinggi, ramping, padat. Tidak ada yang kelebihan lemak atau perut buncit. Benar-benar enak dilihat. Cara berjalan teman-teman kita dari Zhongguo ini pun tegap dan bergegas.

Sayang, seperti biasa, saya kesulitan menemukan salah satu anggota rombongan yang bisa diajak berbicara dalam bahasa Inggris. Apalagi yang bisa berahasa Indonesia. Mereka hanya berbicara dalam bahasa nasionalnya: Putonghua yang lebih kita kenal dengan bahasa Mandarin.

Sayang, saya belum bisa berbicara dalam Putonghua. Saya hanya tahu sedikit-sedikit sapaan atau ungkapan sederhana. Untuk keperluan wawancara, tentu saja tidak memadai. Maka, mau tak mau, untuk kesekian kalinya, harus pakai jasa penerjemah.

Syukurlah, di Surabaya ini banyak sekali warga Tionghoa yang fasih bahasa Tionghoa. Dan mereka siap menerjemahkan kata-kata para tamu asal Tiongkok ini. Panitianya pun orang Surabaya yang sangat menguasai Mandarin. Hanya saja, saya sejak dulu lebih suka berbicara langsung tanpa jasa penerjemah atau interpreter.

Pengalaman bersama Grup Zong Zheng ini juga selalu saya rasakan ketika bertemu tamu-tamu lain asal Tiongkok, Jepang, Thailand, dan negara-negara Asia lainnya. Pengunjung atau turis dari negara-negara Barat rata-rata bisa berbahasa Inggris sehingga kita bisa bertanya jawab.

Saya pun membatin: Mengapa para seniman Tiongkok itu, yang sering tampil di banyak negara, tidak mau belajar bahasa Inggris? Atau, belajar beberapa ungkapan sederhana dalam bahasa Indonesia ketika hendak berkunjung ke Indonesia? Apakah mereka ini tidak mendapat pelajaran bahasa Inggris di sekolah?

Apakah mereka tidak sadar bahwa Putonghua alias Mandarin ini tergolong bahasa paling sulit di dunia, sehingga sangat sulit dipelajari masyarakat di luar Tiongkok alias Zhungguo? Apakah mereka tidak sadar bahwa bahasa Mandarin belum sepopuler bahasa Inggris?

Kita, orang Indonesia, masih lumayan. Terlepas dari kualitas yang belum bagus, kita mendapat pelajaran bahasa Inggris dasar sejak kelas satu SMP. Kemudian di SMA, ditambah beberapa satuan kredit semester (SKS) di perguruan tinggi.

Kalaupun tak sempat kuliah, orang Indonesia paling tidak punya sedikit bekal bahasa Inggris di SMP dan SMA. Orang Indonesia biasanya tidak bisa lancar berbahasa Inggris, tapi tidak asing lagi dengan ungkapan bahasa Inggris.

Musik Barat berlirik Inggris sangat populer di Indonesia. Film-film Barat apalagi. Bahkan, sejak 20 tahun terakhir ungkapan-ungkapan Inggris kian populer di masyarakat. Bahasa-bahasa daerah malah mulai tergusur gara-gara meluasnya penggunaan bahasa Indonesia, disusul globalisasi bahasa Inggris.

Ketika orang Indonesia berkunjung ke luar negeri, walau hanya beberapa hari, dia pasti belajar sedikit-sedikit bahasa setempat. Paling tidak bahasa Inggris sederhana.

Lha, tamu-tamu asing yang datang ke Indonesia kok sepertinya ‘memaksa’ kita untuk menyesuaikan diri dengan mereka! Bukan tamu yang menyesuaikan diri, termasuk bahasanya, dengan bahasa tuan rumah!

Kita disuruh belajar bahasa Mandarin supaya bisa berkomunikasi dengan tamu-tamu dari Tiongkok. Belajar bahasa Jepang supaya mudah berkomunikasi dengan turis-turis Jepang. Juga bahasa Korea atau bahasa Jerman dan Prancis. Mengapa bukan tamu-tamu itu yang harus belajar bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang Indonesia di bumi Indonesia?

Berbahagialah warga negara-negara yang berbahasa Inggris, english speaking nation! Mereka tidak capek-capek belajar bahasa Inggris seperti kita di Indonesia. Sebab, bahasa Inggris, bahasa pertama mereka, telah menjadi bahasa global. English speaking nation macam Amerika Serikat, Inggris, Australia -- bisa ditambah Singapura -- tak punya kendala bahasa di era globalisasi.

Salut kepada warga negara Belanda, khususnya turis-turis Belanda, yang datang ke Indonesia. Mereka bukan english speaking nation, tapi dijamin bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Orang Belanda sejak dulu memang didesain menjadi poliglot: bisa berkomunikasi dalam banyak bahasa.

Sudah pasti orang Belanda bisa berbahasa Belanda, kemudian Inggris, kemudian bahasa Jerman yang sangat mirip bahasa Belanda, kemudian Spanyol, dan beberapa bahasa Eropa lainnya. Sebagai bekas penjajah Indonesia, orang-orang Belanda menaruh perhatian khusus pada bahasa, budaya, dan sejarah Indonesia.

Maka, saya selalu senang ketika bertemu dengan warga negara Belanda yang datang ke Indonesia. Beda banget dengan turis-turis Tiongkok atau Jepang.

Qiandao Ribao 10 Tahun




Tak banyak media berbahasa Mandarin yang bertahan lama di tanah air. Salah satu dari sedikit surat kabar itu Qiandao Ribao.

Belum lama ini Qiandao Ribao, surat kabar berbahasa Mandarin yang diterbitkan di Surabaya, merayakan ulang tahun ke-10 di Restoran Kowloon, Jalan Pemuda. Puluhan pengusaha dan tokoh masyarakat, termasuk Konsul Jenderal Tiongkok Wang Huagen hadir.

Perayaan satu dasawarsa Qiandao Ribao ini berlangsung meriah dengan atraksi tari-tarian Nusantara dan Tiongkok. Ada juga atraksi kungfu serta operet anak-anak dan remaja. Menurut Sudomo Margonoto, bos Kopi Kapal Api, yang juga penyandang dana surat kabar ini, perjalanan surat kabar berbahasa Tionghoa selama 10 tahun ini tidak mudah.

“Sepuluh tahun lalu Qiandao Ribao terbit. Dan para pendirinya bertekad untuk terus cetak walau tahu kalau merugi,” terang Sudomo Margonoto.

Dia bersyukur karena koran ini terus berupaya menjumpai pelanggan setianya setiap hari. Qiandao Ribao tidak dijumpai di kios-kios majalah dan surat kabar umumnya mengingat punya segmen pasarnya sangat khusus.

Didirikan sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya, Qiandao Ribao diharapkan ikut memopulerkan bahasa Mandarin di tanah air, khususnya Jawa Timur. Misi melestarikan bahasa Mandarin ini, menurut Sudomo, sangat penting mengingat bahasa nasional Tiongkok itu sempat terbelenggu selama 30 tahun.

Sudomo mengaku secara bisnis koran ini merugi dan sulit beroleh untung. "Tapi kita tetap mempertahankan agar bisa menjadi pemersatu semua lapisan masyarakat Tionghoa dan berbagai suku di Jawa Timur," katanya.

Selama ini Qiandao Ribao banyak memuat berbagai kegiatan sosial masyarakat Tionghoa seperti baksos ke panti asuhan, sekolah-sekolah minus, wilayah bencana, hingga pesantren. Ada pula informasi kesehatan, sejarah nasional dan dunia.

Konjen Tiongkok Wang Huagen optimistis media-media berbahasa Mandarin akan eksis mengingat semakin banyak orang Indonesia yang belajar bahasa Mandarin. Dia juga mengimbau wartawan agar menulis hal-hal positif yang berguna bagi masyarakat.

05 November 2010

Harry Noerdi nan Bahagia



Malam itu saya bertemu lagi dengan Pak Harry Noerdi di sebuah acara komunitas Indo-Belanda di Surabaya. Pak Harry datang bersama sang istri, perempuan Indo-Belanda, yang awet ayu di usia yang tak lagi muda. Pantas saja Pak Harry tercatat sebagai anggota Indo Club di Surabaya. Sebuah komunitas warga Jawa Timur peranakan Belanda-Indonesia.

Anda kenal Harry Noerdi?

Para penggemar musik pop nostalgia pasti tak asing lagi. Harry Noerdi pernah populer sebagai penyanyi pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Masa itu belum ada kaset, apalagi CD, apalagi flash disk. Rekaman lagu masih pakai piringan hitam alias long play (LP).

Salah satu lagu Harry Noerdi yang sangat terkenal adalah ANDAIKAN. Saya termasuk penyuka lagu lama ini.

ANDAIKAN SEORANG KAN DATANG
MENGHIBUR HATI SEDANG SUNYI
KU KAN MENGABDI PADAMU SEORANG
KEKAL ABADI INSANI

Harry Noerdi tak sekadar menyanyi, tapi juga mencipta lagu. Di masa muda, dia suka memetik gitar, bersenandung... dan jadilah alunan melodi yang indah. Dia kemudian masuk dapur rekaman dan akhirnya populer di seluruh Indonesia. Namun, bagi Harry Noerdi, musik atau nyanyi hanya sekadar hobi, pengusir sepi di kala senggang. Bukan profesi yang harus ditekuni sampai mati.

Harry Noerdi justru fokus kuliah di Fakultas Hukum. Kemudian berkarya sebagai hakim. Pernah menjadi humas Pengadilan Negeri Surabaya, karier Harry Noerdi melejit terus sebagai hakim tinggi hingga pensiun. Karier hakim yang gemilang. Happy ending! Dan kini dia menikmati masa pensiun bersama sang istri tercinta.

"Saya ini bukan penyanyi lho. Itu sudah lama berlalu," kata Harry Noerdi ketika saya mengajaknya bertualang ke masa lalu, ketika dia berhasil mencetak beberapa hit.

Rupanya, ingatan orang Indonesia memang sangat pendek. Malam itu tak ada yang tahu bahwa Harry Noerdi itu seorang artis terkenal di Indonesia tahun 1970-an. Tak banyak yang menyapa, apalagi minta tanda tangan layaknya artis papan atas yang sedang populer. Harry Noerdi pun dianggap sama dengan orang-orang biasa yang tidak pernah jadi artis.

Wow, betapa bedanya nasib artis-artis senior kita dibandingkan rekan-rekannya di Barat. Mick Jagger, Frank Sinatra, personel Bee Gees, The Beatless, Deep Purple, Pink Floyd... tetap diapresiasi hingga masa senja. Orang Indonesia kurang punya apresiasi terhadap para seniman, tak hanya seniman musik, tapi seniman apa saja. Karena itu, banyak seniman kita yang merana dan sengsara di masa tua.

Syukurlah, Harry Noerdi menikmati masa senja sebagai pensiunan hakim, bukan pensiunan seniman musik.

Surabaya All Stars - Jazz Band



Surabaya beruntung punya barisan pemusik senior yang tekun merawat jazz. Usia mereka sudah kepala enam, bahkan kepala tujuh. Tapi mereka tetap menekuni jazz.

Yah, jazz, musik yang bermula dari komunitas Afro-Amerika itu pernah berjaya di Surabaya pada era 1970-an dan 1980-an. Sejak dulu Surabaya selalu dibicarakan dalam peta jazz Indonesia.

Begitu banyak pemusik jazz terkenal negeri ini pernah merintis karir di Kota Surabaya. Sebut saja Bubi Chen, sang legenda hidup. Embong Rahardjo almarhum. Ireng Maulana. Margie Siegers. Mus Mudjiono. Dan masih banyak lagi.

Sayang, perlahan tapi pasti, Surabaya yang terkenal sebagai city of work itu terus kalah pamor dengan Jakarta. Termasuk untuk urusan musik. Sistem politik, budaya, hingga industri hiburan yang sentralistik, serba Jakarta, menenggelamkan potensi daerah. Para pemusik top di daerah pun hijrah ke Jakarta.

Musik jazz di Surabaya surut. Syukurlah, masih ada sejumlah pemusik jazz yang bertahan di Surabaya. Bubi Chen salah satunya. Berkat Om Bubi, Surabaya masih diperhitungkan di kancah jazz tanah air. Bicara tentang Bubi Chen, tak lengkap rasanya jika kita tidak sebut nama TRI WIJAYANTO.

Gitaris jazz kawakan. Pak Tri memang tidak sepopuler Bubi Chen. Tapi para penggemar jazz di Surabaya tahu persis kualitas dan dedikasi Tri Wijayanto untuk menyemarakkan jazz di Surabaya. "Saya mulai main jazz sejak tahun 1975. Sama-sama Bubi Chen, Maryono, Embong...," kata Tri Wijayanto kepada saya, Selasa (2/11/2010).

Malam itu, Tri Wijayanto dkk tampil sebelum konser Yuri Honing Acoustic Quartet, grup jazz asal Belanda. Mereka hanya dikasih kesempatan membawakan dua nomor. Nomor kedua, JARANG KEPANG, yang diolah dari lagu dolanan Jawa Timur, sangat energetik. Penonton bisa menikmati cita rasa lagu dolanan plus balutan irama jazz nan apik.

Salut!

Di usianya yang sudah tentu tak muda lagi, Tri tetap semangat dan sehat. Mungkin itu yang membuatnya awet muda. Bisa main jazz terus-menerus selama 35 tahun tanpa berhenti di Surabaya. Petikan gitarnya masih khas, rancak, khususnya saat membawakan nomor-nomor fusion. Tri wijayanto memang gitaris jazz Indonesia yang menonjol.

Saat ini Tri Wijayanto bersama grupnya, SURABAYA ALL STARS, punya program main jazz di kampus-kampus Surabaya. Jazz goes to campus, kerja sama dengan JTV. Tanggal 3 November main di Universitas Airlangga. 6 November di Universitas Kristen Petra. 10 November di ITS Surabaya. 13 November 2010 di Universitas Surabaya (Ubaya).

Jazz to campus sangat penting untuk menyebarkan 'virus' jazz di kalangan mahasiswa. Generasi muda perlu disajikan hidangan musik dengan rasa berbeda, selain pop dan rock. Jazz sering dianggap rumit, aneh, tidak menyenangkan. Kesan itu muncul karena anak-anak muda kita jarang, bahkan hampir tidak pernah, menyaksikan langsung konser jazz. Tak kenal maka tak sayang.

SURABAYA ALL STARS didukung 10 pemain. Tri Wijayanto pada gitar, sekaligus leader dan arranger. Muhammad alias Mamat drum. Iwan Santoso keyboard. Luluk trombone. Dodik trumpet. Saiful saksofon (tenor). Boy saksofon (alto). Roland perkusi. Corina vokal.

Ketika Surabaya masih punya beberapa kafe yang punya program jazz, juga di hotel-hotel berbintang, SURABAYA ALL STARS ini selalu dapat peluang tampil. Namun, era keemasan jazz itu telah berlalu. Jazz memang masih ada, namun hanya muncul sekali-sekali. Insidentil. Saat ini Tri wijayanto dkk masih punya jadwal reguler di kafe kecil di halaman Hotel Garden Palace, Jalan Yos Sudarso Surabaya.

"Kami main tiap Rabu malam. Lumayanlah, masih ada ruang untuk berekspresi," kata Tri Wijayanto sambil tersenyum.

Di luar urusan jazz, Tri bergabung dengan pemusik lain, juga genre lain di luar jazz. Biasanya, lagu-lagu lawas, nostalgia, di beberapa tempat hiburan. Semua itu dilakukan Tri dan kawan-kawan agar dapur tetap ngebul. Di Surabaya, pemusik tak bisa hidup hanya dengan mengandalkan jazz.

Rekaman jazz tidak pernah terjual banyak. Beda dengan band pop yang kaset atau CD-nya terjual puluhan ribu kopi, bahkan jutaan, rekaman jazz sulit menembus angka 5.000 keping. Pembelinya sangat terbatas. Jazz itu sejak dulu memang musik yang very-very segmented. Tidak bisa besar banget, tapi juga tidak akan mati. Sebab, setiap dekade selalu muncul generasi baru penyuka musik jazz.

"Jazz itu urusan perasaan, Mas," kata Tri Wijayanto menjawab pertanyaan saya mengapa dia tetap menekuni jazz selama hampir 40 tahun. Padahal, semua orang tahu bahwa jazz tidak bisa dipakai untuk making money.

Bagi Tri Wijayanto, manusia hidup itu tak hanya sekadar untuk cari uang, menumpuk kekayaan, koleksi banyak mobil. Nah, jazz bisa membuat bahagia Tri Wijayanto, juga personel SURABAYA ALL STARS. Ketika engkau mencintai jazz, maka jazz pun akan mencintai dirimu sampai ajal menjemput. Dan itulah yang membuat Tri Wijayanto bahagia.

Pak Tri percaya bahwa jazz akan tetap hidup di Kota Surabaya. Apalagi, saat ini sudah mulai muncul band-band anak muda yang menampilkan musik jazz modern yang tak kalah bagus dibanding senior-seniornya. Teknologi makin maju. Akses terhadap musik, apa saja, jauh lebih bagus dibandingkan tahun 1980-an dan 1970-an. Referensi tinggal baca di internet.

Dunia maya (online) juga membuka jaringan komunikasi antara penggemar dan pemusik jazz dari mana saja. Jarak bukan lagi halangan. Karena itu, Tri wijayanto optimistis musik jazz tidak akan mandek. Jazz terus tumbuh, berkembang, dan berbuah. Setiap saat, Tri Wijayanto menyatakan siap mendampingi pemusik-pemusik muda yang hendak menekuni jazz.

Yeah! Jazz never die!

Yuri Honing Quartet di Surabaya




Jazz memang meredup di Surabaya, tapi tidak sampai mati. Di tengah gemuruh musik pop dengan sekian banyak artis yang datang dan pergi, jazz tetap saja bertahan. Ia punya komunitas yang lestari dan terus beregenerasi.

Selasa, 2 November 2010, di The Empire Palace, Jalan Blauran 57 Surabaya, publik jazz Surabaya kedatangan tamu istimewa asal Belanda: YURI HONING ACOUSTIC QUARTET. Kuartet musisi yang bagi penggemar jazz dunia tak asing lagi. Tapi mungkin asing bagi orang Indonesia yang kebanyakan jarang mengikuti perkembangan jazz kontemporer.

YURI HONING ACOUSTIC QUARTET terdiri atas Yuri Honing (saksofon), Wolfert Brederode (piano), Frans van der Hoeven (bas dobel), dan Joost Lijbaart (drum). Sesuai nama grup, Yuri Honing yang langsing dan ramah ini pemimpin (leader), komposer, serta juru bicara alia tukang cuap-cuap di atas panggung.

Meneer Yuri bicara dalam bahasa Inggris yang fasih. Saking fasihnya, kata-kata Yuri kurang bisa ditangkap dengan baik oleh sekitar 200 penonton yang tentu saja bukan penutur asli bahasa Inggris. Tapi tak apa. Musik, termasuk jazz, adalah bahasa universal. Siapa pun yang bisa mendengar niscaya bisa menikmati sajian YURI HONING ACOUSTIC QUARTET.

Dari sekian banyak konser jazz di Surabaya dalam beberapa tahun terakhir, menurut saya, YURI HONING ACOUSTIC QUARTET inilah yang benar-benar jazz. Bukan jazz-jazzan, sekadar nama tempelan, seperti yang sering diklaim perusahaan rokok tertentu. Ajak musisi rock macam Andi/rif dibilang jazz. Piyu Padi dibilang jazz. Masih lumayan si Tompi masih ada nuansa jazz, tapi kurang kental.

Nah, Yuri Honing dan tiga rekannya asal Belanda itu membuat semangat saya untuk menikmati jazz tumbuh lagi. Jazz itu sedari awalnya memang akustik. Penuh improvisai. Ada buaian swing. Banyak nada-nada biru, blue notes. Sinkopasi. Dan, bagi saya pribadi, yang sangat penting adalah ini: SAKSOFON. Tanpa saksofon, dominasi melodi khas saksofon, rasa jazz kurang kental. Ibarat sayur tanpa garam.

Melihat langsung permainan Yuri Honing, saya langsung teringat Dick de Graaf. Juga seorang pemusik jazz, pemain saksofon kawakan asal Belanda. Beberapa tahun lalu Dick de Graaf tampil bersama tiga rekannya yang juga sesama pemusik akustik di Hotel Majapahit Jalan Tunjungan Surabaya. Jazz kelas dunia. Wow, rupanya Belanda, negara beka penjajah kita itu, punya banyak stok musisi jazz kualitas nomor satu.

Jazz yang ‘serius’ memang sepenuhnya instrumentalia. Dan Yuri Honing sebagai leader tetap berada di depan. Yuri mula-mula bermain dengan tempo lambat, melodi yang terasa melankolis, kemudian ditingkahi piano, bas, dan drum. Tapi terbuka ruang yang lebar bagi musisi lain untuk berekspresi. Yuri memang dominan, tapi tidak segalanya. Dan itulah indahnya demokrasi dan kebebasan bermusik ala jazz.

Berbeda, misalnya, kita menyaksikan permainan Kenny G, saksofoni Amerika Serikat yang keriwul itu. Dia seperti main sendiri, sementara musisi lain hanya bertugas mengiringi Kenny.

Begitu juga dengan acara-acara Didiek SSS, saksofonis, yang suka main sendiri diiringi... minus one. Yuri terkadang ‘istirahat’ cukup lama dan membiarkan Wolfert, Frans, dan Joost melakukan improvisasi.

Boleh dikata, publik jazz di Surabaya, termasuk saya, belum akrab dengan nomor-nomor YURI HONING ACOUSTIC QUARTET. Ada Sweet Surrender, All I Need, hingga lagu tradisional Armenia. Tapi itu tak menghalangi kita untuk menikmati permainan Yuri cs yang memang bagus, kompak, serius, tetap menghibur. Kita ibaratnya beroleh santapan rohani yang lezat setelah sibuk kerja cari uang sepanjang hari.

Konser selama hampir satu jam itu pun selesai begitu saja. Kemudian acara pemberian kenang-kenangan dari Pak Cornelis, tokoh Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Belanda (YPKIB). Rasanya ada yang kurang di sini: encore.

Musisi Belanda biasanya senang memainkan emosi penonton dengan pura-pura turun panggung, seakan-akan konser sudah selesai. Penonton tepuk tangan panjang, minta tambahan lagu. “We want more! We want more!”

Lalu, para seniman naik lagi dan memainkan satu sampai tiga komposisi tambahan. Biasanya, encore ini dipilih nomor yang dikenal luas publik setempat. Bengawan Solo, Ayo Mama, Indonesia Pusaka, atau lagu-lagu daerah lainnya.

Sayang, YURI HONING ACOUSTIC QUARTET tidak punya ‘tradisi’ untuk berbasa-basi. Konser selesai, titik.

Kemudian, para penonton, khususnya yang muda-muda, mahasiswa dan pelajar, berebut foto bersama musisi. Yuri Honing sebagai pemusik utama, band leader, malah berada di belakang panggung dan berbincang dengan seorang teman Belandanya. Maka, saya pun cepat-cepat menemui Tuan Yuri di kamar ganti.



“Meneer Yuri, there’s many girls want to greet and meet you,” kata saya sedikit merayu. Hehehe....

Yuri tersenyum mendengar kalau sedang ditunggui gadis-gadis muda di depan panggung. Lalu, saya ajak Yuri keluar. Jalannya cepat sekali.

Dan, benar saja, cewek-cewek berebut foto bersama Yuri Honing. Sementara di bagian lain panggung, Wolfert, Frans, Joost juga dikerubuti cewek-cewek, hanya sedikit cowok, untuk foto bersama.

Acara foto-foto dengan kamera HP atau kamera poket ini kelihatannya remeh, tapi sebenarnya sangat penting untuk sosialiasi musik jazz di kalangan generasi muda. Mereka-mereka ini baru belajar mengenal musik jazz standar yang memang asing di telinga anak-anak muda Indonesia.

Percayalah, lima atau 10 tahun ke depan, pengalaman foto bareng musisi jazz ini terus membekas. Dan sebagian dari mereka akan bergabung, bahkan bikin komunitas jazz, kelak ketika mereka sudah bekerja. Ini yang sering kurang disadari para artis jazz, termasuk pejazz terkenal asal Belanda ini.

Setelah acara foto bersama ini selesai, saya minta waktu sedikit untuk wawancara singkat. Yuri Honing mengaku baru dua kali ini datang ke Indonesia. Dia senang bisa menghibur penggemar jazz di Indonesia, khususnya di Surabaya. Kali ini, selain di Surabaya, Yuri Honing Quartet main juga di Semarang, Jogjakarta, Jakarta, dan Bogor.

“Saya senang dengan sambutan penonton di sini,” katanya.

Bagi Yuri Honing, jazz bukan sekadar musik, tak hanya hiburan belaka, tapi udah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Jazz telah memperkaya pengalaman hidupnya. Dan itu ia bagikan lewat komposisi-komposisi yang dimainkan di hadapan ribuan penonton.

“Kabarnya, Anda dan grup Anda sudah keliling ke 50 negara?” tanya saya mengacu pada pernyataan Mario Rawung, pembaca acara (MC) malam itu.

“Bukan 50 negara, tapi lebih dari 60 negara. Saya sendiri tidak ingat semua negara yang saya datangi itu. Terlalu banyak,” kata Yuri Honing seraya tersenyum.

Yuri Honing mengaku gembira karena musik jazz tetap bertumbuh, berkembang, dan selalu mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Banyak anak-anak muda datang ke konser jazz bergabung dengan penggemar-penggemar senior. Bisa saling mengisi.

Bagaimana perkembangan jazz di Belanda?

“Bagus sekali. Belanda, khususnya Amsterdam, saat ini termasuk salah satu pusat jazz dunia, selain New York di USA. Konser-konser jazz selalu dipadati penonton,” kata Yuri.

Dank u, Meneer! Goedenavond!

Saya sudah ngantuk.

Pak Tjandra Konsul Mongolia



Satu lagi pengusaha Surabaya dipercaya sebagai konsul kehormatan (honorary consul). Tjandra Mindharta Gozali (58) diam-diam diangkat pemerintah Mongolia sebagai konsul kehormatan untuk Jakarta dan Surabaya.


“Sebetulnya saya diangkat sejak tahun lalu. Saya diberi kepercayaan membantu Mongolia sebagai konsul kehormatan di Jakarta dan Surabaya,” ujar Tjandra Gozali kepada saya, Selasa (2/11/2010).

Tjandra, yang juga presdir PT Gozco Plantations Tbk dan PT Fortune Mate Indonesia ini, sendiri mengaku terkejut ketika ditawari menjadi konsul kehormatan Mongolia. Sekitar empat tahun lalu, Tjandra bertemu dengan orang Mongolia di konsulatnya Hongkong.

Awalnya hanya pembicaraan yang ringan-ringan saja. Tapi tiba-tiba orang Mongolia meminta Tjandra menjadi konsul kehormatan negaranya.

“Saya tentu saja kaget karena tidak pernah punya pikiran ke sana,” kenangnya. Kembali ke tanah air, Tjandra mempertimbangkan matang-matang tawaran langka tersebut. Dan, akhirnya, sejak 2009 Tjandra Gozali resmi menjabat konsul kehormatan untuk Republik Mongolia.

Posisi Tjandra Gozali sebagai konsul Mongolia ini menarik. Selama ini konsul kehormatan hanya bertugas untuk satu kota saja. Namun, bagi Tjandra, posisi yang diembannya itu merupakan hal biasa.

“Saya kok nggak merasa istimewa. Sebab, tugas ini pada dasarnya membantu Indonesia dan Mongolia,” kata pria yang low profile ini.

Bukan itu saja. Kalau biasanya konsul kehormatan hanya sebatas mengurus hubungan dagang dan kebudayaan, Tjandra Gozali ini dipercaya menangani urusan viza. Karena itu, warga Surabaya yang hendak bepergian ke Mongolia bisa datang ke kantornya di Jalan Raya Darmo 56 Surabaya.

“Kantor konsulatnya, ya, merangkat di kantor saya. Kami siap melayani urusan visa ke Republik Mongolia,” katanya.

Menurut Tjandra, negara Mongolia yang juga dikenal sebagai Mongolia Luar ini punya kedekatan budaya, bahkan juga fisik, dengan Tiongkok. Bahkan, dalam sejarah para penguasa Mongolia pernah menduduki Tiongkok dalam kurun waktu yang cukup lama. Karena itu, terjadi saling interaksi antara kedua negara bertetangga ini.

“Bahasanya saja yang berbeda. Bahasa Mongolia ini lebih mirip dengan Rusia karena sejak dulu mereka lebih berkiblat ke Rusia,” papar Tjandra yang sudah dua kali berkunjung ke Mongolia.
Sejalan dengan kemajuan ekonomi Tiongkok yang sangat pesat dalam 20 tahun terakhir, Republik
Mongolia pun menjalin hubungan perdagangan yang erat dengan Tiongkok. Negara yang beribukota Ulaanbaatar ini juga aktif mengembangkan hubungan bisnis dengan berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Meski kalah populer dengan Tiongkok, menurut Tjandra, sebetulnya selama ini sudah banyak orang Indonesia yang menyempatkan diri berwisata ke Mongolia. Sebab, pemandangan alam dan objek-objek wisata di Mongolia pun tak kalah menarik.

“Mudah-mudahan hubungan dan kerja sama Indonesia-Mongolia semakin baik di masa mendatang,” harapnya. (*)

04 November 2010

Pabrik Janda di Surabaya



Saya pernah tinggal selama empat tahun di Jambangan Baru, Surabaya. Hanya sekitar 80 meter dari kantor Pengadilan Agama (PA) Kota Surabaya. Tak jauh dari PA, ada empat warung kopi. Saya selalu minum kopi dan sarapan di Depot Rizki, persis di depan Pengadilan Agama Surabaya.

Tentu saja saya banyak cakap dengan para pengunjung PA Surabaya. Wajah mereka umumnya lesu, khususnya yang perempuan. Mereka sabar menanti karena antrean sidang cukup panjang. Belum lagi urusan administrasi yang tidak sederhana.

“Mau gimana lagi? Suamiku jarang pulang ke rumah. Dia punya simpanan di tempat lain,” kata Sri, 27 tahun, nama samaran.

Yah, kalau simpanan itu uang atau berlian sih tak mengapa. Yang disimpan suami Sri ini perempuan lain yang usianya lebih muda dan, katanya, lebih cantik.

Nafkah lahir dan batin tak lagi diberikan. Kalau bertemu, Sri dan suaminya bertengkar melulu. Maka, jalan terbaik adalah PA Surabaya. Ikatan pernikahan yang katanya suci itu harus diputus. Sri lebih senang menjadi janda ketimbang punya suami, tapi tidak pernah lagi berkumpul di rumah yang sama.

“Saya yang gugat cerai. Saya tidak mau terus-menerus hidup dalam kondisi seperti ini. Sangat tersiksa,” kata Sri yang wajahnya lumayan manis.

Begitulah. Setiap hari saya melihat puluhan, bahkan ratusan orang, datang ke PA Surabaya. Tujuannya sama: gugat cerai atau talak. Sejak 20-an tahun silam, lebih banyak istri yang gugat cerai. Suami yang talak istri mulai jarang di Surabaya.

Rupanya, para suami senang tidur dengan perempuan lain yang bukan istri, padahal sudah ada istri di rumah. Tapi istri yang sah itu tak ingin dicerai begitu saja. Kaum laki-laki, meminjam syair lagu-lagu pop lama, memang suka menang sendiri dan main gila sama wanita lain. Lha, kenapa wanita lain juga mau main gila sama suami orang?

Begitu banyaknya perkara gugatan perceraian, saya dan teman-teman di kawasan Ketintang menyebut PA Surabaya sebagai “pabrik janda dan duda” terbesar di Jawa Timur. Bahkan, terbesar di Indonesia bagian timur. Ehm, kalau Anda laki-laki single yang ingin menikahi janda muda, ada baiknya datang ke PA Surabaya. Niscaya banyak janda fresh from the court!

Hehehe.....

Belum lama ini, PA Surabaya merilis data kasus perceraian di Kota Surabaya. Rata-rata dalam sebulan ada 200 sampai 300 pasangan suami-istri yang cerai. Artinya, dalam satu hari ada 10 pasangan yang bercerai. Tren perceraian, apalagi di kota-kota besar macam Surabaya, akan terus naik dan naik. Padahal, katanya, perceraian itu adalah perbuatan yang sangat dibenci Tuhan!

Januari 261 kasus perceraian.
Februari 287 kasus.
Maret 352 kasus.
April 300 kasus.
Mei 275 kasus.
Juni 334 kasus.
Juli 317 kasus.
Agustus 321 kasus.
September 237 kasus.

Ada lima alasan standar (klise) mengapa pasangan suami-istri memutuskan ikatan pernikahan.

1. Cemburu 141 kasus (Januari-September).
2. Ekonomi 276 kasus.
3. Tidak bertanggung jawab 695 kasus.
4. Orang ketiga 635 kasus.
5. Tak harmonis 937 kasus.

Ita Nasyiah merupakan wartawan senior yang paling telaten mengorek informasi tentang latar belakang perceraian di PA Surabaya. Lima alasan umum dan klise di atas bisa diuraikan si Ita ini menjadi cerita yang dahsyat. Umumnya masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan urusan kepuasan di atas ranjang.

Banyak istri kecewa karena suami loyo di atas ranjang. Burung tak bisa berkicau gara-gara diabetes. Ejakulasi dini. Sebaliknya, ada suami terlalu perkasa, atau punya kelainan seksual, sehingga si istri sangat menderita.

Masalah ekonomi ini menyangkut nafkah hidup. Meski sekarang ini kaum wanita sudah bekerja di ruang publik, pandangan bahwa suami harus menafkahi istri masih tetap kuat. Para istri penggugat suami ini selalu minta jatah bulanan. Ketika si suami sudah punya simpanan di luar, tentu saja uang yang sudah sedikit itu dipakai untuk membiayai pacar baru. Istri yang sah dibiarkan keleleran.

Kasus KDRT paling menakutkan. Ternyata, banyak juga suami, yang digugat istri, karena terlalu sering melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap istrinya. Pukul, tendang, tempeleng, caci maki, dan sebagainya. Padahal, dulu, waktu masih berpacaran, waduh... dunia serasa milik berdua.

“Demi cintaku padamu....
Ke gurun ku ikut denganmu
Walaupun harus ku renang lautan bara.....

Bulan madu ke awan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Nyanyikan lagu cinta
Walau seribu duka
Kita tak kan terpisah....”

03 November 2010

Serbuan Produk Tiongkok



Serbuan berbagai produk Tiongkok makin gencar dalam lima tahun terakhir. Kini, dengan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) yang mulai berlaku sejak awal tahun ini, dipastikan pasar dalam negeri bakal dipenuhi produk-produk Tiongkok.

Kenyataan ini, menurut Bambang Sujanto, harus segera disikapi secara bijak oleh pemerintah dan dunia usaha. “Kita harus introspeksi. Mengapa kok bisa terjadi seperti ini? Mengapa kita tidak segera tanggap,” ujar HMY Bambang Sujanto dalam diskusi terbatas di kantor PITI Jawa Timur, pekan lalu.

Menurut Bambang, gelombang serbuan produk-produk Tiongkok ini mulai terjadi sejak 10 tahun silam. Hanya saja, kita cenderung menganggap sepele dan cenderung mengabaikan fenomena ini. Baru setelah CAFTA berlaku, banyak pihak di Indonesia yang mencak-mencak. Toh, perdagangan bebas di era globalisasi ini tak bisa terelakkan negara mana pun.

Sebagai bos beberapa perusahaan besar di Jawa Timur, Bambang Sujanto melihat kelemahan utama kita terletak pada aturan ketenagakerjaan. Aturan itu dinilai kurang menguntungkan pengusaha. Pekerja pun tidak dipacu untuk bekerja keras dan produktif.

“Di Indonesia ini, banyak pekerja yang malah senang di-PHK. Sebab, dia pasti mendapat pesangon banyak. Lha, si pengusaha mau bayar pesangon pakai apa? Wong, perusahaannya juga kembang kempis,” tukas Bambang.

Kondisi semacam ini, sambung pendiri Masjid Cheng Hoo Surabaya itu, tidak dijumpai di Tiongkok. Pemerintah Tiongkok menciptakan iklim sedemikian rupa sehingga para buruh bekerja secara cepat dan efisien.

“Nggak ada pekerja di Tiongkok yang malas-malasan. Kalau malas, ya, langsung out. Itu yang belum terlihat di kita,” katanya.

Faktor lain adalah efisiensi. Menurut Bambang Sujanto alias Liu Min Yuan, industri manufaktur di Tiongkok memang luar biasa efisien. Bambang mengaku pernah mengirim sejumlah karyawannya untuk studi banding di sebuah pabrik di Tiongkok yang memproduksi barang-barang sejenis di perusahaannya.

“Pekerja-pekerja kita kaget setengah mati. Sebab, barang yang di Indonesia dibikin oleh 23 orang, di Tiongkok hanya dikerjakan oleh delapan orang. Jadi, mereka bisa hemat 18 pekerja. Ini kan luar biasa,” kata Bambang seraya tersenyum.

Berbagai faktor itulah yang kemudian membuat produk-produk Tiongkok bisa dengan mudah bersaing di pasar global. Bambang Sujanto mengimbau pemerintah untuk segera melakukan action agar jangan sampai produk-produk kita semakin terpuruk.

“Sejak zaman Presiden Gus Dur, kemudian Megawati, kemudian SBY, saya sudah omong begini. Tapi rupanya omongan saya kurang didengarkan,” katanya.

Atraksi Tentara Pembebasan Rakyat



Sekitar seribu undangan terpukau menyaksikan atraksi para duta kebudayaan Tiongkok yang tergabung dalam Zong Zheng Musical Dancing Group di Grand City Surabaya, Rabu (27/10/210) malam.

BEGITU tiba di halaman Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya, Selasa (26/10) siang, 79 personel Grup Zong Zheng ini disambut tarian reog ponorogo. Dong Wenhua, salah satu artis senior Tiongkok, sempat didaulat naik ke atas kepala reog. Wenhua tampak tersenyum dan sangat menikmati sambutan yang hangat itu.

“Saya senang bisa tampil di Surabaya. Orangnya ramah dan baik,” ujar Wenhua seperti diterjemahkan salah satu wakil Perkumpulan Masyarakat dan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Permit), anggota panitia.

Dong Wenhua ini, seperti juga anggota grup lainnya, sehari-hari tercatat sebagai personel Tentara Pembebasan Rakyat. Bukan itu saja. Artis papan atas ini juga anggota Polit Biro, pengurus sejumlah organisasi musik di Tiongkok, serta dosen musik pada Huazhong Normal University.

Komposer lagu-lagu terkenal di Tiongkok ini juga meraih berbagai penghargaan seni bergengsi di negara panda. Di antaranya, Piala Huasheng sebagai penyanyi terfavorit pilihan pemirsa televisi di Tiongkok. Karya-karyanya pun sering menang dalam lomba komposisi musik di Tiongkok.

Tak heran, Dong Wenhua ini ditempatkan sebagai vokalis terakhir pada malam seni budaya Tiongkok yang dihadiri Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Konsul Jenderal Tiongkok Wang Huagen itu. Dong Wenhua mendapat aplaus meriah usai membawakan lagu daerah Batak, Sing Sing So.

Tak hanya Dong Wenhua, Grup Zong Zheng yang tampil di Surabaya, Jakarta, dan Palembang ini diperkuat para tentara yang juga seniman papan atas di Tiongkok. Sebut saja Yan Weiwen yang sejak tahun 1988 memenangi berbagai penghargaan. Huang Hong, aktor kelahiran 1960, yang dikenal sebagai komedian kawakan. Saat ini Huang Hong menjadi dosen di Akademi Seni Tentara Pembebasan Rakyat dan Harbin Institute of Technology.

Ada juga Zhou Xiaolin, soprano yang memukau publik Surabaya dengan lagu Ayo Mama. Xiaolin ini pernah menggelar konser tunggal di Osaka dan Tokyo, Jepang, dan meraih penghargaan dalam International Singing Competition di Jerman. Xiaolin juga kerap dipercaya sebagai pemeran utama dalam berbagai opera.

Yang Lingzhu, wakil duta besar Tiongkok untuk Indonesia, memastikan bahwa Grup Zong Zheng ini bukan perkumpulan seni sembarangan. Didirikan pada 1953, empat tahun setelah Republik Rakyat Tiongkok diproklamasikan oleh Mao Zedong, ansambel ini sejak dulu diperkuat banyak seniman terkemuka di Tiongkok.

“Mereka sering mendapat penghargaan baik di dalam maupun luar negeri,” kata Yang Lingzhu.





Sebagai duta kesenian resmi pemerintah Tiongkok, yang diperkuat anggota Tentara Pembebasan Rakyat, Grup Zong Zheng langsung dikendalikan Partai Komunis Tiongkok.

TENTU saja, Grup Zong Zheng harus selalu menjalankan misi budaya sesuai dengan kebijakan markas besar Tentara Pembebasan Rakyat di Beijing. Baik di dalam maupun luar negeri, Grup Zong Zheng harus bisa menampilkan seni budaya yang sesuai dengan kepribadian rakyat Tiongkok.

Ketika tampil di Grand City Surabaya, Rabu (27/10) malam, sebanyak 79 personel Zong Zheng secara anggun menampilkan kekayaan tradisi budaya negeri Tiongkok. Mereka ingin menanamkan citra di mata internasional bahwa rakyat Tiongkok yang jumlahnya 1,3 miliar sangat beragam dan bisa hidup harmonis.

Salah satu tarian massal yang menarik adalah Zhaxi Dele, tarian rakyat dari suku Tibet. Negeri yang terkenal dengan tokoh spiritual Dalai Lama ini, meski kerap disorot dunia internasional, tetap dianggap sebagai bagian integral dari negara Tiongkok alias Zhungguo. Para tentara, pria dan wanita, membawakan tarian ini dengan sangat anggun.

“Tarian Zhaxi Dele menggambarkan kehidupan bahagia rakyat Tibet yang selalu mendapat keberuntungan. Rakyat senang karena hasil panennya melimpah,” ujar salah satu personel Grup Zong Zheng.

Ada pula tarian massal suku Mongolia bernama Zhu Fu. Tarian tradisional ini juga menggambarkan kehidupan rakyat yang bahagia dan sejahtera. Juga tarian massal Shibing De Jiari. Tarian khas tentara ini menggambarkan kehidupan militer yang ketat, penuh disiplin, tapi membahagiakan.

Singkatnya, grup-grup kesenian di Tiongkok seperti Grup Zong Zheng selalu membawa misi untuk membangun optimisme dan semangat di kalangan rakyat. Optimisme itulah yang kemudian mereka bahu-membahu, kompak, bekerja sama membangun negaranya menuju tingkat kemakmuran seperti yang dicapai Tiongkok sekarang.

Kualitas Grup Zong Zheng, yang sering dikirim ke berbagai negara sejak didirikan tahun 1953, tak diragukan lagi. Ini mengingat Tiongkok punya tradisi seni pertunjukan seperti Opera Beijing yang sudah berusia ratusan tahun. Opera-opera khas Tiongkok ini mulai tumbuh sejak abad ke-18 dan terus mencetak seniman-seniman panggung kelas satu.

“Teknik vokal penyanyi-penyanyi Tiongkok yang dahsyat itu memang tidak lepas dari tradisi Opera Beijing. Mereka digembleng secara ketat di bidang seni musik (instumentalia), vokal, sandiwara, lawak, monolog, dan sebagainya,” ujar James, pengusaha Indonesia yang pernah bergabung dengan grup opera keliling di Wuhan.

Yang Lingzhu, wakil duta besar Tiongkok untuk Indonesia, menyebut Grup Zong Zheng sebagai kelompok kesenian yang memperlihatkan semangat bangsa Tiongkok yang cemerlang, prajurit yang gagah, serta standar seni yang tinggi.

“Itu yang membuat mereka termashur di dalam dan luar negeri,” kata Yang. (*)