29 March 2010

Makam Tionghoa di Sidoarjo



Menjelang Ceng Beng, pekan depan, sejumlah warga Tionghoa mulai membersihkan makam keluarganya. Sayang, makam Tionghoa di kawasan Desa Jati, Sidoarjo, saat ini terkesan kurang terurus.

Rumput-rumput liar memenuhi kompleks makam tua itu. Beberapa tembok makam yang hancur dibiarkan begitu saja. Bahkan, ada sebagian cuwilan tembok makam yang jatuh ke sungai kecil.

“Kalau Ceng Beng memang banyak orang Tionghoa yang ke sini. Tapi ada sebagian makam yang tidak diurus oleh ahli warisnya,” kata Ahmad, seorang penjaga makam kepada saya, Ahad (28/3/2010).

Berbeda dengan makam Tionghoa di Surabaya, yang umumnya dipercayakan perawatannya kepada para penjaga makam, warga Tionghoa di Sidoarjo umumnya mengurusnya sendiri.
Namun, karena sibuk berbisnis, mereka jarang datang menengok makam keluarganya.

“Makam-makam di sebelah itu sudah bertahun-tahun dibiarkan begitu saja. Nggak ada yang mau mengurus,” kata Ahmad sembari menunjuk makam-makam tua di dekat kali.

Menurut dia, makam-makam yang keleleran umumnya karena para ahli waris sudah lama meninggalkan Sidoarjo selama puluhan tahun. Biasanya, makam dengan tahun kematian di bawah 1970-an. Sementara makam-makam di atas 1990-an umumnya masih dirawat dengan baik.

Njoo Tiong Hoo, tokoh masyarakat Tionghoa di Sidoarjo, mengaku prihatin melihat kondisi makam Tionghoa Sidoarjo. Meskipun terlihat kumuh, dipenuhi rumput liar, makam itu punya nilai sejarah yang tinggi.

“Jangan lupa, tokoh-tokoh Tionghoa di Sidoarjo itu sejak dulu umumnya dimakamkan di situ. Merekalah leluhur orang Tionghoa yang sekarang,” katanya.

Njoo menambahkan, sekitar 10 tahun lalu makam di Jati itu sudah penuh, sehingga warga Tionghoa terpaksa memakamkan keluarganya di lokasi lain seperti Surabaya atau Lawang. Karena itu, tak banyak orang Tionghoa yang memikirkan nasib makam itu. “Kecuali mereka yang keluarganya dimakamkan di situ."

28 March 2010

Minggu Palem di Sidoarjo




Pekan Suci datang lagi. Tadi (28/3/2010), saya ikut misa Minggu Palem alias Minggu Palma di Gereja Santo Paulus, Jalan Raya Juanda Sidoarjo. Misa dipimpin Romo Yosef Due SVD, pastor asal Flores. Suaranya keras, logat Bajawa-nya, sulit disembunyikan. Cuaca cerah, tapi agak gerah.

Minggu Daun-Daun--begitu orang Flores menyebut Minggu Palma--selalu meriah. Di kampung saya, pelosok Lembata, Flores Timur, prosesi jalan kaki sejauh hampir tiga kilometer. Masyarakat, yang memang hampir semuanya Katolik, berjalan membawa daun-daun palma, berdoa, dan menyanyi HOSANNA PUTRA DAUN serta ANAK-ANAK IBRANI, MEMBENTANG RANTING-RANTING ZAITUN.

Pengalaman masa kecil di kampung paling tertinggal di NTT itu tak pernah saya lupakan. Saya hafal lagu-lagu gregorian Minggu Palma versi SYUKUR KEPADA BAPA, buku nyanyian yang dipakai di kampung, sampai sekarang. Di Jawa, lagu-lagunya sama meskipun syairnya agak berbeda. Hafalan lama di Flores tidak laku di gereja-gereja Katolik di Jawa.

Di Jawa Timur, lagu Minggu Palem yang paling terkenal adalah YERUSALEM LIHATLAH RAJAMU. Bagus banget memang lagu ini. Kalau paduan suaranya bagus, organisnya ciamik, wuih... dahsyat. Sayang, pada misa kali ini kornya belum bagus. Ritme, tekanan kata, tempo, dinamika, ekspresi lagu YERUSALEM ini tidak muncul.

Biasa, kor-kor di Surabaya dan Sidoarjo memang kurang latihan. Umat di perkotaan terlalu sibuk cari uang dari pagi sampai malam hari. Maka, saya salut sama kawan-kawan profesional di gereja, yang usianya di bawah 40 tahun, yang masih sempat-sempatnya berlatih paduan suara dengan kualitas bagus.

Tahun lalu, saya kehabisan daun palem. Stok yang disediakan panitia di gereja memang terbatas. Karena itu, agar tak terulang kejadian pahit ini, sebelum ke gereja, saya membeli dua tangkai daun palem di pedagang buah Jalan Raya Bandara Juanda. Saya kasih uang Rp 2.500, dan rupanya dia sangat senang.

"Untuk apa, Mas, daun palem itu?" tanya si penjual kembang.

"Hari ini kan Minggu Palem. Mau dipakai di gereja," jawab saya.

Mas itu bingung. Ke gereja kok bawa daun-daun palem? Maklum, tradisi gerejawi macam ini sangat asing di kalangan masyarakat Sidoarjo yang 97 persen penduduknya beragama Islam. Jumlah penduduk Kabupaten Sidoarjo sekarang hampir 2 juta jiwa. Ah, pedagang bunga di dekat Gereja Santo Paulus pun tidak tahu ada acara Minggu Palem di kalangan umat Katolik.

Ada baiknya pengurus dewan paroki mengundang para pedagang dan masyarakat sekitar untuk makan-makan, nonton wayang kulit, atau sekadar silaturahmi. Kalau tak ada sosialisasi, sharing informasi, mungkin 100 tahun lagi pun orang-orang Jawa tak paham Minggu Palem, Kamis Putih, Tuguran, Jalan Salib, Malam Paskah, dan sebagainya.

Misa berjalan lancar dan nyaman. Meskipun berlangsung hampir dua jam, saya bisa mengikuti dengan baik. Saya juga masih menenang prosesi jalan kaki saat Minggu Palem di kampung tempo doeloe.

Saya membayangkan, suatu ketika umat Paroki Juanda pun melakukan prosesi sederhana, tak usah jauh-jauh macam di Flores, dari kompleks terminal Bandara Juanda yang lama sampai ke gereja.

27 March 2010

Kongres Gay-Lesbian Dibubarkan


Dede Oetomo tetap tenang... dan senyum.



Konferensi International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans, and Intersex Association (ILGA) yang sedianya berlangsung di Surabaya pada 26-28 Maret 2010 dibubarkan massa Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), dan beberapa elemen lain. Sejumlah delegasi yang sudah berada di Hotel Oval, Jalan Diponegoro, diusir. Orang-orang gay, lesbian, biseks, ini harus hengkang dari Indonesia.


Polisi tak berkutik. Massa menghardik perempuan bernama Maria, panitia konferensi ILGA. ''Kalian lebih bejat daripada binatang,'' teriak seorang pria bernama Zaenal sambil mengangkat tangannya.

Selain merazia panitia dan peserta di Hotel Oval, massa juga mendatangi kantor Gaya Nusantara, organisasi gay di Jalan Mojo Kidul 1/11A pada Jumat (26/3/2010). Kantor ini disegel dan digembok. Kunci dititipkan kepada Ketua RT 2 setempat, Pujo Utomo.

"Gay dan lesbian itu teroris moral. Mereka harus dimusnahkan dari muka bumi," kata Abdurahman Aziz dari MUI Jatim seperti dikutip Jawa Pos.

Dr. Dede Oetomo, sosiolog, bekas dosen Universitas Airlangga Surabaya, pentolan komunitas gay di Indonesia. Dialah yang mendirikan Gaya Nusantara, organisasi pelaksana konferensi ILGA ke-4 di Surabaya. Sabtu (27/3/2010) sore, saya menelepon Pak Dede untuk bertanya sedikit seputar kasus yang sempat bikin heboh itu.

APA KABAR PAK DEDE?

Saya baik-baik saja, rileks.

ANDA PANIK DENGAN KEJADIAN KEMARIN?

Kenapa harus panik? Beginilah gambaran dari masyarakat kita yang belum semuanya bisa menerima perbedaan. Pluralisme, kebinekaan... itu memang harus terus diperjuangkan.

MENGAPA PANITIA TIDAK MENGANTISIPASI BAKAL ADA PENOLAKAN DAN REAKSI KERAS KONFERENSI GAY-LESBIAN SEMACAM INI?

Yah, kecolonganlah. Kita sebenarnya optimistis karena sejak tahun 1996 kami bikin acara, dan ternyata bisa berjalan baik. Karena itu, ketika ditawari jadi tuan rumah konferensi internasional, kita terima saja. Eh, ternyata kejadiannya seperti kemarin. Mau apa lagi?

BANYAK PIHAK, KHUSUSNYA AGAMAWAN, SANGAT MENENTANG GAY DAN SEJENISNYA. BAHKAN, ADA YANG MENGATAKAN BAHWA GAY DAN LESBIAN HARUS DIMUSNAHKAN DARI MUKA BUMI? GAY LESBIAN ITU TERKUTUK, ORANG-ORANG BERDOSA?

Hahaha.... Silakan mereka mau omong apa saja. Kami menghargai pendapat mereka. Siapa sih yang tidak berdosa di muka bumi ini? Apa hanya orang gay dan lesbian yang berdosa? Saya nggak mau masuk ke isu doa, neraka, surga, dan sebagainya.

Poinnya adalah masyarakat, paling tidak sebagian masyarakat kita, belum siap dengan pluralisme. Belum siap menerima perbedaan. Kalau saja konferensi itu diakan, siapa tahu para peserta bisa dipertobatkan. Siapa tahu? Kalau dibubarkan seperti ini, ya, bagaimana bisa mengajak teman-teman itu bertobat? Hahahaha....

SEJAK 1990-AN ANDA BERJUANG DEMI EKSISTENSI KAUM GAY DI INDONESIA. ANDA KECEWA KARENA SAMPAI SEKARANG KALANGAN GAY DAN LSBIAN MASIH BELUM DITERIMA?

Tidak kecewa. Perjuangan itu kan panjang. Tidak mudah. Apalagi harus mengubah mindset masyarakat yang sudah berakar seperti ini. Kalau mau fair, sebenarnya komunitas gay sudah bisa eksis di tanah air. Gaya Nusantara sudah berjalan selama bertahun-tahun.

ARTINYA, KITA ADA KEMUNDURAN DENGAN KASUS PENGGAGALAN KONFRENSI ILGA INI?

Jelas kemunduran. Dan itu sangat serius lho. Teman-teman dari luar negeri heran kok bisa begini? Apa yang terjadi sebenarnya? Yah, saya harus menjawab banyak pertanyaan seperti ini dari teman-teman di luar negeri. Yah, kenyataannya seperti yang kita saksikan itu.

SAYA MELIHAT ANDA SUDAH LAMA TIDAK TERLIBAT LANGSUNG DI GAYA NUSANTARA. PANITIA KONFERENSI DIDOMINASI ORANG-ORANG MUDA. JANGAN-JANGAN ANDA TIDAK KASIH MASUKAN KEPADA PENGURUS GAYA NUSANTARA SEHINGGA 'NEKAT' MENGGELAR KONFERENSI INTERNASIONAL?

Memang, saya sudah mempercayakan Gaya Nusantara kepada yang muda-muda. Kalau saya di situ terus, kalau nanti saya mati, organisasinya bisa bubar. Dan saya senang karena ternyata mereka bisa mengelola organisasi dengan baik. Bahkan, peserta konferensi ini yang dari Indonesia saja sampai 60 orang lebih baik dari Jawa maupun luar Jawa. Jadi, secara umum Gaya Nusantara ini berhasil.

KOK TIDAK SENSITIF SEHINGGA HARUS DIRAZIA SEGALA?

Teman-teman kecolonganlah. Padahal, konstitusi kita sudah menjamin kebebasan semua warga negara untuk berkumpul, mengeluarkan pendapat, berekspresi. Belum lagi kita bicara hak asasi manusia (HAM) yang berlaku secara universal.

APA LANGKAH SELANJUTNYA? MEMBAWA KASUS INI KE KOMNAS HAM?

Komnas HAM sudah tahu kok masalah ini. Jadi, nggak perlu dilapori pun Komnas sudah bisa mengambil sikap. Begitu juga pemerintah dan aparat keamanan perlu menghormati warga negaranya yang mau berkumpul dan berorganisasi.


PAK DEDE OETOMO, TERIMA KASIH, SUDAH MAU MELUANGKAN WAKTU UNTUK SAYA.
Sama-sama.

25 March 2010

Tony Harsono Pembina Potehi



Geliat wayang potehi makin terasa dalam 10 tahun terakhir. Namun, Tony Harsono mengaku belum puas karena wayang khas Tionghoa ini sampai sekarang masih belum diapresiasi masyarakat luas.

"Benar kalau wayang potehi sudah mulai eksis, tapi belum dikenal secara luas. Bahkan, warga Tionghoa sendiri pun banyak yang tidak tahu wayang potehi," jelas Tony Harsono, pembina Huk Hoo An, grup potehi Klenteng Gudo, Jombang, kepada saya.

Karena itu, Tony yang juga pengusaha di Kediri terus melakukan sosialisasi dengan mengirim para pemainnya ke even-even penting di Surabaya, Jakarta, Malang, dan kota-kota besar lain di tanah air. Dia pun selalu berusaha memenuhi undangan pergelaran singkat di komunitas tertentu.

Bulan lalu, misalnya, Grup Huk Hoo An tampil di depan peserta Melantjong Petjinan Soerabaia di Rumah Sembahyang Keluarga The, Jalan Karet Surabaya. Saat itu Tony memamerkan panggung wayang potehi milik engkongnya yang telah berusia 100 tahun lebih. Beberapa boneka potehi pun telah berusia di atas satu abad.

Peserta wisata kota yang sebagian besar keturunan Tionghoa pun terkagum-kagum menyaksikan atraksi wayang potehi yang sangat menarik. Mereka tak menyangka kalau kesenian tradisional Tionghoa yang sempat dilarang dimainkan di tempat umum selama 30 tahun lebih itu masih bisa bertahan.

"Dari sini saja, kita jangan dulu puas karena wayang potehi sudah bisa dimainkan di mana-mana. Wong orang Tionghoa sendiri saja banyak yang tidak tahu," kata Tony lantas tertawa kecil.

Seperti juga grup-grup potehi lain, para pemain yang dibina Tony Harsono ini pun semuanya bukan Tionghoa. Mereka juga bukan jemaat klenteng. Umumnya orang Jawa yang sederhana dan belajar memainkan wayang potehi secara otodidak pada engkongnya yang juga dalang potehi.

"Saya sendiri nggak masalah yang main wayang potehi justru orang Jawa dan bukan Tionghoa. Ini menunjukkan bahwa kesenian itu selalu bersifat universal. Bisa dimainkan dan dinikmati oleh siapa saja, tak peduli suku, ras, agama, atau kebangsaan," katanya.

Saat ini, selain gencar mempromosikan wayang potehi, Tony juga melakukan regenerasi pemain. Orang-orang muda yang dinilai berbakat diberi fasilitas dan kesempatan untuk menekuni wayang potehi. Salah satu kader Tony yang paling sukses adalah Ki Subur dari Sidoarjo.

"Subur itu sudah punya nama di tingkat nasional," katanya.

GKJW Luwung Sidoarjo



Kamis, 25 Maret 2010. Akhirnya, saya mampir di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Luwung di Dusun Luwung, Desa Sumokembangsri, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Meski sudah lama tinggal di Sidoarjo, juga ber-KTP Sidoarjo, baru kali ini saya menginjakkan kaki di gereja pedesaan khas Jawa Timur ini. Lokasinya yang terpencil membuat banyak orang Sidoarjo, termasuk orang Kristen sendiri, tidak tahu kalau di kabupatennya ada gereja tua bernama GKJW Luwung.

Dari jalan raya Balonbendo menuju Krian, belok kiri, masuk ke hamparan sawah. Sepanjang dua kilometer kita menikmati padi menghijau, angin sepoi basah, udara segar. Tak banyak kendaraan bermotor yang lewat. Jalan mulus, lengang. Lantas, tibalah saya di GKJW Luwung. Gereja di tengah-tengah permukiman masyarakat desa di Sidoarjo memang langka. Karena itu, GKJW Luwung menjadi sebuah fenomena menarik.

Saya diterima Pendeta Dwi Cahyo, gembala sidang GKJW Luwung. Orangnya masih muda, lahir di Mojokerto 2 Maret 1981, lulusan Universitas Duta Wacana Jogjakarta. "Saya abru dua tahun tugas di sini. Kondisi di desa, ya, begini ini," kata Dwi Cahyo seraya tersenyum. Pak Pendeta kemudian menyuguhkan dua gelas air mineral. Mereknya saya lupa.

Basa-basi sejenak, saya kemudian bertanya tentang sejarah singkat GKJW Luwung. Soalnya, saya sempat membaca buku dan catatan di internet bahwa Dusun Luwung termasuk salah satu "kantung" jemaat Kristen Jawa di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo. Jemaat Luwung bukan kemarin sore, tapi sudah ada sejak zaman Hindia-Belanda. Termasuk salah satu dari sekian gereja-gereja desa di Pulau Jawa.

"Oke, saya print-kan sebentar," kata Dwi Cahyo, sang gembala. Kesempatan itu saya pakai untuk memfoto-foto gereja. Wow, untuk ukuran desa di Jawa Timur, GKJW Luwung ini terbilang besar dan asri. Ia berada di tengah-tengah permukiman penduduk yang bhinneka tunggal ika: jemaat Kristen Jawa di tengah mayoritas Islam.

Data yang dirilis tahun 2010 menyebutkan, GKJW Luwung ini terdiri atas 125 keluarga. Selain tinggal di Luwung, Desa SUmokembangsri, jemaat Kristen Jawa ini menetap di Krian, Balongbendo, Tarik, Wringinanom, Sunggatblijo, Ciro, dan Bureng. Jemaat di Luwung yang disebut Nazareth ada 36 keluarga, sementara yang di Sunggetblijo alias Galatia 30-an keluarga. Di tempat-tempat lain kurang dari ini dan terpencar-pencar.

Namanya juga gereja desa, khas GKJW, mayoritas jemaat GKJW Luwung bekerja sebagai petani dan pekerja pabrik. Ada juga yang profesional, pegawai negeri sipil, dan yang pindah ke kota-kota lain. Namun, hakikat GKJW Luwung sebagai gereja desa yang guyub, tenang, tidak grusa-grusu, rukun dengan warga yang non-Kristen... sangat terasa. Setiap tahun mereka mengadakan unduh-unduh, semacam perayaan syukur atas hasil panen, sebanyak dua kali.

Yang pertama, sekitar bulan Mei, lelang hasil bumi, sedangkan unduh-unduh kedua pakai sistem amplopan. Jadwal unduh-unduh tidak pasti, tergantung kesepakatan para pengurus gereja. Sedangkan ritual Perjamuan Kudus digelar empat kali setahun. Yakni, saat Paskah, pembukaan GKJW bulan Agustus, pekan Oikumene, serta menjelang Natal. Menurut Dwi Cahyo, setiap kali Perjamuan Kudus atau unduh-unduh gereja pasti penuh sesak, meluber sampai ke halaman.

"Kalau hari-hari biasa sih partisipasi jemaat GKJW Luwung kira-kira 80 persen," kata Dwi Cahyo yang didampingi Suwondo, bendahara dan pengurus majelis jemaat GKJW Luwung.



Pada 10 Mei 2009, jemaat GKJW Luwung ramai-ramai merayakan ulang tahun emas atawa 50 tahun gerejanya. Ini karena pada 10 Mei 1959 Pepanthan Luwung diresmikan menjadi GKJW Jemaat Luwung. Bapak Wiyoso, guru Injil asal Pasamuan Jember, tercatat sebagai pendeta baku pertama di sini. Pak Wiyoso ini masih hidup, usianya 86 tahun, dan sekarang tinggal di Mojokerto.

"Kalau ada waktu, Anda bisa menemui beliau. Tapi beliau sudah sangat sepuh," kata Pendeta Dwi dengan logat Jawa kental.

Meski resminya baru berdiri pada 1959, cikal bakal jemaat Kristen di Luwung sejatinya sudah ada sejak 1928. Waktu itu ada dua guru zending yang mengabarkan Injil di wilayah Wonoasri (sekarang Luwung). Mereka adalah Suproyo Asriman dan Kasnowo. Berkat pekabaran Injil kedua tokoh ini, dua warga setempat, Saleh dan Sumo, bersedia dipermandikan.

Pada 1933 tercatat enam keluarga yang dibaptis. Setahun kemudian, 1934, tujuh keluarga pribumi Jawa lain juga dibaptis. Pada 1942-1949, zaman Jepang dan awal kemerdekaan, jemaat perdana Luwung mengalami masa sulit. Pelayanan tidak ada. Iman Kristen yang masih muda itu pun goyah.

Baru pada 1950 muncul Darmono, warga Wonoasri, dan Suprapto, anggota majelis jemaat, yang bekerja keras membangkitkan iman yang beku dan layu tadi. Pendeta-pendeta kembali turun ke desa. Para pendeta itu Asriban (Mojokerto), Tirto Dihardjo (Mojoagung), Untung (Ngoro), Mangku Dihardjo (Bongsorejo), dan Suwignyo Muso (Jombang).

Pada 14 Mei 1951, iman jemaat di Luwung dianggap sudah cukup teguh. Maka, pada tanggal tersebut wilayah Luwung dikukuhkan sebagai PEPATHAN yang masuk wilayah pembinaan Sukorame Majelis Daerah Surabaya. Ada tiga keluarga yang dibaptis. Saat itu jumlah jemaat tercatat 75 jiwa atau 15 keluarga. Pada 1955 dikirim Wiyoso, guru Injil dari Jember, untuk membina secara tetap umat Kristen di Pepathan Luwung.

"Status sebagai jemaat pada tanggal 10 Mei 1959. Tahun lalu, 2009, kami baru saja merayakan ulang tahun gereja ke-50," kata Pendeta Dwi Cahyo yang betah menggembala jemaat di desa ketimbang kota itu.

Senada dengan pembangunan jemaat, pembangunan fisik gereja pun dilakukan secara bertahap alias diincrit-incrit. Jemaat perintis membeli tanah seluas 700 meter persegi pada 1929. Tahun 1957 membeli gedung 8 x 5 meter secara swadaya. Tahun 1973 gereja lama diperluas menjadi 9 x 5 meter. Jemaat juga membeli tanah pekarangan 525 meter persegi untuk pemakaman. Selanjutnya, melengkapi gereja denbgan pastori, konstitori, dan gedung tempat sepeda.

Renovasi gedung gereja dilakukan secara signifikan pada 1 Desember 1995. Saat itu gembala sidang dijabat Pendeta Pinardi Eko Sudarmo.

GKJW LUWUNG
Dusun Luwung, Desa Sumokembangsri, Balongbendo
Kabupaten Sidoarjo
Telepon 031 897 4612, 031 7096 7612

22 March 2010

Pertemuan Musik Surabaya



Dua puluhan orang tampak asyik menikmati film kartun bertajuk Si Pintar dan Serigala di Aula Wisma Musik Melodia, Jalan Ngagel Jaya 12 Surabaya, Senin (8/3/2010) siang.

Sesekali film dihentikan sementara dan Yang Mulia Slamet Abdul Sjukur, komponis dan guru piano senior, memberikan penjelasan. Beberapa peserta tertawa kecil karena film animansi karya Suszie Templeton, sutradara Inggris, ini memang menggelitik.

Slamet sedang mengajar musik pada anak-anak? Bukan. Sebagian besar peserta pertemuan justru guru-guru piano, bahkan pemilik sekolah musik di Surabaya. Musafir Isfanhari, dosen musik Universitas Negeri Surabaya, juga hadir sebagai peserta. Inilah cara khas yang dipakai Slamet Abdul Sjukur: serius, tapi tetap 'main-main' dan penuh humor.

"Menikmati musik itu, ya, sama dengan menikmati makanan. Ada yang suka, ada yang nggak suka, nggak masalah," kata Slamet Abdul Sjukur (73), koordinator sekaligus penggagas Pertemuan Musik Surabaya (PMS).

Dirintis pada 1957, ketika Slamet masih sangat belia, PMS tumbuh sebagai komunitas pencinta musik klasik yang sangat berpengaruh bukan hanya di Surabaya, tapi juga di Indonesia. Banyak guru musik, yang kemudian melahirkan sekian banyak pemusik, menimba dan berbagi wawasan di PMS. Komunitas ini bertahan sampai tahun 1982, kemudian mandek.

"Masalahnya banyak," ujar komponis yang pernah tinggal selama 14 tahun di Prancis itu.

Atas desakan banyak pihak, Slamet dan beberapa pemusik muda, setidaknya yang usinya jauh lebih muda ketimbang Slamet, sejak 26 Maret 2006 PMS dihidupkan kembali. Sekali sebulan peserta mengadakan pertemuan, nonton bareng film musikal, menikmati permainan piano, diskusi tentang musik, dan makan bersama. Suasananya dibuat ringan, tapi tetap serius.

Sudah banyak topik menarik yang dibicarakan. Di antaranya, dirigen kondang Barenboim, Glenn Gould, AeroSon–Arno Peters, Woyzzeck–Alban Berg, kisah Beethoven menyelesaikan Simfoni 9, Chopin, Fanz Liszt, hingga Prokofiev. Topik-topik yang memang menantang kalangan pemusik serius dan guru-guru piano di Surabaya.

"Pesertanya masih 20 sampai 30-an orang. Kadang lebih banyak karena ada teman-teman dari Jogja ikut nimbrung," ujar Slamet. "Surabaya ini, terus terang, agak sulit mendatang orang sebanyak di Jogja untuk ikut acara seperti PMS," tambahnya.

Dalam setiap pertemuan, Slamet selalu menekankan bahwa komunitas PMS tidak menganut paham kompetisi. Siapa saja boleh bermain musik, tidak perlu takut salah. Tidak perlu sungkan karena ada yang dirasa lebih hebat daripada dirinya.

"Saya mengajak teman-teman untuk merasakan kembali senangnya bermain musik dalam kebersamaan. Main musik bukan karena ingin dipuji. Main keliru itu biasa aja," tegasnya. (lambertus hurek)


PERTEMUAN MUSIK SURABAYA

Sekretaris Jenderal: Krisna Setiawan

Telepon +62811309687, +6281.727.0068
Email: krisna.setiawan@gmail.com

Wisma Musik Melodia
Jalan Ngagel Jaya 12-14 A Surabaya

20 March 2010

Gereja Katolik Porong Sidoarjo




Dari Krembung, Sabtu (20/3/2010), saya mampir ke Gereja Santo Andreas di Porong, Kabupaten Sidoarjo. Lokasinya hanya terpaut sekitar satu kilometer dari lokasi bencana lumpur Lapindo. Lia, yang diemani anaknya yang gemuk, menerima saya dengan ramah.

Kami langsung akrab meski barusan kenal. Saya dikasih minum air putih gelasan. Saya lalu bertanya kegiatan umat Katolik di Porong, persiapan pekan suci, jadwal misa, hingga umat yang kena tragedi Lapindo. Lia bilang Stasi Porong menjadi korban langsung lumpur panas.

"Banyak umat di sini yang kena," kata Lia yang berasal dari Ngawi.

Gereja Stasi Porong masuk Paroki Santa Maria Annuntiata Sidoarjo. Usia paroki ini baru 15 tahun. Tapi usia gereja ini lebih tua ketimbang usia paroki induk. Gereja Andreas diresmikan Bupati Sidoarjo Edhi Sanyoto pada 11 Juli 1992, sementara gereja paroki di Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo baru diresmikan tiga tahun kemudian.

Jumlah jemaat, sebelum bencana lumpur pada 29 Mei 2006, mencapai 213 kepala keluarga atau sekitar seribu orang. Untuk ukuran stasi atau gereja di pelosok Jawa Timur, Gereja Andreas terbilang cukup besar. Bahkan, bisa dikembangkan lagi menjadi paroki.

Ada dua lingkungan di Stasi Porong ini yang tenggelam gara-gara lumpur. Perumahan Tanggulangin Sejahtera di Kedungbendo itu banyak dihuni umat Katolik. Kini, tak jelas lagi keberadaan mereka. Sudah cari kontrakan baru, bahkan hengkang dari Sidoarjo. "Terasa sekali kalau jumlah umat berkurang," kata Lia.

Saya kemudian masuk ke dalam gereja. Aha, ternyata ada seorang gadis manis yang sedang berlatih main organ. Namanya Ratna, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). "Saya ini belum lama latihan. Belum bisa main bagus," akunya tersipu malu.

Saya duduk sebentar di dalam gereja sambil membaca sepintas lembaran misa hari Minggu. Oh, ada lagu Mazmur Tanggapan: "Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan...." Lagu pendek ini sangat terkenal di Gereja Katolik. Sementara itu, si Ratna terus memainkan sebuah komposisi yang saya tak tahu apa judulnya. Nikmat juga!

Wirai, Perintis Pura di Sidoarjo


Umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo layak berterima kasih kepada Mangku Wirai, 63 tahun. Pria asli Desa Balonggarut, Krembung, inilah yang merintis berdirinya Pura Margo Wening, pura pertama di Kabupaten Sidoarjo.

Sepuluh tahun lalu akses menuju Pura Krembung -- nama populer Pura Penataran Agung Margo Wening -- di Desa Balonggarut, Krembung, hanya jalan setapak di tengah kebun tebu yang luas. Tak ada aspal. Warga ketakutan karena sering terjadi perampasan sepeda motor di kawasan lengang itu. Maklum, jarak antara jalan raya dengan permukiman penduduk hampir dua kilometer.

Itu kisah masa lalu. Sekarang jalanan sudah mulus, lengkap dengan plang petunjuk arah Pura Krembung. Bahkan, sejak dari Pasar Porong, dekat pos polisi, ada papan petunjuk menuju ke pura.

"Yah, sekarang sudah enak, tinggal dirawat saja," ujar Mangku Wirai yang ditemui Radar Surabaya di rumahnya, sekitar 100 meter dari Pura Krembung, Sabtu (20/3/2010).

Kondisi kesehatan mangku yang satu ini sedang merosot. Sejak tiga tahun silam Wirai lumpuh dan kejang-kejang. Namun, memorinya masih sangat tajam untuk mengenang masa-masa perjuangan pada awal 1970-an hingga 1990-an. Ketika dia berusaha membangun pura dengan biaya pas-pasan. Pada 1971, kenang Mangku Wirai, umat Hindu asli Jawa yang jumlahnya 200-an orang bahu-membahu mencari bahan bangunan.

"Kami bikin batu merah sendiri. Setelah dapat 2.000 batu merah, barulah kami bangun pura di atas tanah yang dihibahkan Pak Untung (almarhum), salah satu umat," tuturnya.

Proses pembangunan penuh kendala baik internal maupun eksternal. Ketika pembangunan sedang berlangsung, sejumlah tentara datang untuk menghentikannya. Mangku Wirai sendiri beberapa kali dipanggil aparat pemerintah. Ayah delapan anak ini meyakinkan bahwa mereka memang asli Krembung dan sekitarnya yang kebetulan beragama Hindu.

"Kami perlu tempat ibadah karena tidak mungkin kami beribadah dari rumah ke rumah. Wong umat kami sudah ratusan orang, apalagi kalau pas hari besar," ceritanya.

Berkat pendekatan yang terus-menerus, pura sederhana itu akhirnya mulai terwujud pada 1990. Sayang, Wirai dan kawan-kawan kehabisan dana untuk finishing. Dia kemudian melobi beberapa pejabat di Surabaya dan Sidoarjo yang berasal dari Bali dan beragama Hindu. Mereka kaget mengetahui kalau ada umat Hindu asli Sidoarjo yang sedang bikin pura.

Kendala dana pun teratasi. Akhirnya, pada 1 Januari 1992 pura rintisan ini diresmikan Bupati Sidoarjo Edhi Sanyoto. Namanya Pura Jagat Nata Margo Wening. Mangku Wirai pun lega karena kerja kerasnya membina komunitas Hindu di Sidoarjo sejak 1957 itu mulai berbuah.

Peresmian pura oleh bupati juga dihadiri sejumlah pejabat pemkab dan pengurus Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Sidoarjo dan PHDI Jawa Timur.




Sejak itulah nama Pura Krembung tersebar luas di kalangan umat Hindu asal Bali yang tinggal di Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Mojokerto, dan sekitarnya. Komunitas Hindu Jawa di Krembung yang tadinya kurang dikenal orang mulai mencuat. Bahkan, banyak yang kaget, kok ada umat Hindu asli Krembung ya?

Maka, ketika ada hari-hari besar Hindu seperti Galungan, Kuningan, atau Melasti (jelang Nyepi), orang-orang Bali ikut bergabung ke Krembung. Kalau sebelumnya semua ritual dipimpin mangku-mangku lokal, kini dikombinasikan dengan rohaniwan yang disiapkan PHDI Sidoarjo. Dan terjadilah integrasi antara komunitas Hindu asli Sidoarjo dan Bali.

"Kalau ada upacara, wah, ramai sekali. Padahal, pura yang lama itu kan tidak seberapa luas," kata Mangku Wirai. Luas Pura Jagat Nata itu kira-kira dua kali lapangan voli, termasuk halaman depan beberapa rumah umat Hindu.

Dari sinilah mulai muncul gagasan untuk memperluas Pura Krembung itu. Gayung pun bersambut, karena Bupati Win Hendrarso memberikan izin resmi. Tanah seluas satu lapangan bola, sekitar 50 meter dari pura lama di Desa Balonggarut, pun dibebaskan. Prosesnya relatif mudah mengingat sebagian lahan itu memang milik umat Hindu asli Krembung.

Maka, proses relokasi pura berjalan mulus dan lancar. Tak ada tentara, polisi, atau aparat desa yang menghalangi seperti dulu. Ini tentu sangat berbeda dengan upaya Mangku Wirai merintis Pura Jagat Nata pada 1971 hingga 1992.

"Bayangkan, bikin pura yang kecil itu saja makan waktu 21 tahun," ujar Mangku Wirai didampingi istrinya, Suyatmi.

Pada 21 Agustus 2004, Bupati Win Hendrarso akhirnya meresmikan Pura Penataran Agung Margo Wening. Ribuan umat Hindu dari Sidoarjo dan sejumlah kota di Jawa Timur, juga dari Bali, datang menghadiri momen bersejarah itu. Mangku Wirai, pria sederhana asal Krembung yang kini membuka usaha bengkel itu, rupanya tenggelam dalam lautan umat yang sedang berbahagia.

Mangku Wirai tetap rendah hati meskipun kehadiran Pura Krembung yang megah tak lepas dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun. "Saya ini orang biasa, bukan orang pandai, bukan pejabat. Semua ini karena kuasa Tuhan sendiri," katanya.

RADAR SURABAYA edisi 21-22 Maret 2010.

17 March 2010

Melasti di Jolotundo



Menjelang Hari Nyepi Tahun Saka 1932, sekitar 300 umat Hindu dari berbagai kota di Jawa Timur menggelar ritual melasti di kompleks petirtaan dan Candi Jolotundo, Trawas, Mojokerto.

Sabtu (13/3/2010) petang, umat Hindu yang mengikuti melasti di Jolotundo berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Jombang, dan beberapa daerah lain. Sejak dulu Candi Jolotundo menjadi tempat favorit karena letaknya yang strategis di kaki Gunung Penanggungan, punya puluhan sumber air, dengan hawa yang sejuk di ketinggian 525 meter di atas permukaan laut.

Suasana pegunungan yang lengang, jauh dari pemukiman penduduk, juga dianggap ideal untuk meditasi dan puja bakti kepada Sang Hyang Widhi. “Tiap tahun saya mesti datang ke Jolotundo meskipun melasti juga banyak diadakan di pantai,” kata Puspo, umat Hindu asal Krembung, Sidoarjo.

Nah, sebelum berkumpul di Jolotundo, Puspo dan jemaat Hindu asal Sidoarjo menggelar ritual bersama di Pura Krembung. Sebagian lagi mengadakan ritual di Pura Jala Sidhi Amerta Juanda. Begitu juga umat Hindu di kota-kota lain bikin ritual sendiri-sendiri di daerahnya.
“Kalau yang nggak ada pura, ya, bisa dilakukan di rumah masing-masing,” tutur Puspo.

Kira-kira pukul 13.00 jemaat Hindu mulai berdatangan ke Jolotundo. Laki-laki berpakaian khas Bali, kebanyakan warna putih, dengan udeng dan sarung. Adapun jemaat perempuan memakai kebaya. Anak-anak kecil pun berpakaian layaknya orang dewasa. Candi Jolotundo, yang biasanya ramai dengan para wisatawan, pun berubah total bak kompleks pura di kaki gunung.

Sejam kemudian, rombongan besar dari Sidoarjo yang ditunggu-tunggu pun tiba. Maklum, rombongan Sidoarjo inilah yang membawa peralatan sembahyang dari Pura Jagat Nata Margo Wening alias Pura Krembung untuk ritual melasti. Diiringi tetabuhan musik, prosesi berjalan dari luar Candi Jolotundo menuju petirtaan suci. Altar utama pun ditempatkan di tengah-tengah candi.

Belasan rohaniwan, termasuk para pemangku adat, kemudian bergantian memandu ritual melasti yang diawali puja bakti kepada Sang Pencipta. Cukup lama, hampir dua jam, jemaat Hindu larut dalam ritual panjang menyongsong catur brata penyepian.

“Inti upacara ini adalah menyucikan jagat raya dan menyucikan diri manusia sebelum memasuki Hari Nyepi. Semoga segala sifat buruk dihancurkan,” kata Karyo, rohaniwan Hindu dari Pura Sidoarjo.

Melasti ditandai pula oleh pelepasan ayam, bebek, itik, serta hasil bumi ke dalam kolam petirtaan Jolotundo. Ungas-unggas kecil itu rupanya takut air dan akhirnya menjadi rebutan anak-anak kecil. Menurut Karyo, pelepasan binatang itu bisa diartikan sebagai melepas sifat kebinatangan dalam diri manusia.

Upacara melasti baru berakhir menjelang magrib. Para jemaat kembali ke rumah masing-masing sambil membawa oleh-oleh air sumber Jolotundo yang sangat jernih dan dipercaya punya banyak khasiat. “Buat minum di rumah,” kata Ni Wayan, perempuan 40-an tahun asal Pandaan, Pasuruan.

Selamat Hari Nyepi untuk semua pemeluk agama Hindu di Indonesia! (rek)



James Chu - Surabaya Club Hongkong





Tiga puluh tahun lebih JAMES CHU tinggal di Tiongkok dan Hongkong. Namun, pemusik sekaligus pebisnis kelahiran Banyuwangi, 61 tahun silam, ini merasa tetap sebagai wong Jowo ketimbang Hongkong.


Oleh LAMBERTUS HUREK


James Chu baru saja merilis dua album tembang Jawa bertajuk Javanova dengan lagu-lagu hit seperti Gambang Suling, Jangkrik Genggong, Rek Ayo Rek, Walang Kekek, Ande-Ande Lumut, Dondong Opo Salak, Rujak Uleg, Ayo Ngguyu. Di Hongkong, James bersama teman-temannya sesama perantau asal Indonesia juga kerap memperkenalkan seni budaya Indonesia kepada masyarakat setempat.

Berikut wawancara khusus Radar Surabaya, Jumat (12/3/2010) dengan James Chu yang khusus datang ke Surabaya untuk mempersiapkan konser musik lintas budaya pada September mendatang.

Kapan terakhir kali Anda konser di Hongkong?

Belum lama. Saya tampil bersama Didi Kempot serta beberapa TKW (tenaga kerja wanita) di Hongkong. Responsnya luar biasa karena yang nonton sekitar 3.000 orang. Para TKW rupanya haus hiburan karena konser seperti ini jarang diadakan di Hongkong.

Anda menampilkan tembang-tembang Jawa?

Jelas. Saya memang sejak merantau tahun 1966 sampai sekarang tidak bisa lepas dari akar budaya Jawa. Tembang-tembang Jawa, campursari, kalau disajikan dengan baik pasti menyentuh perasaan orang-orang Jawa yang ada di rantau. TKW-TKW itu kan kebanyakan berasal dari Jawa, punya kerinduan pada kampung halamannya. Mereka itu kelihatan modern, canggih, tapi ya tetap wae wong Jowo dengan segala kekhasannya.

Anda memainkan gitar hawaii (steel guitar) seperti di rekaman-rekaman Anda itu?

Benar. Saya memang sengaja melestarikan steel guitar yang dulu pernah sangat terkenal di Indonesia. Saya juga membawakan lagu daerah dan menyanyi beberapa lagu seperti Sewu Kutho. Lagu yang menceritakan usaha seorang laki-laki untuk menemukan mantan pacarnya yang sudah tidak jelas rimbanya. Hehehe....

Sejak kapan Anda mulai meninggalkan Indonesia?

Saya merantau sejak 1966, selepas sekolah di SMA Sin Chung Surabaya. Saya pergi sendiri untuk belajar di Wuhan. Waktu itu kondisi RRT sangat susah, rakyatnya miskin sekali, terjadi anarki di mana-mana karena ada revolusi kebudayaan. Ingin memperbaiki kehidupan, eh, ternyata kondisinya malah bertambah susah di RRT.

Saya akhirnya kerja sebagai tukang bubut di sebuah pabrik di Wuhan. Jadi buruh. Malam-malam kumpul sama teman, gitaran, nyanyi-nyanyi, di pabrik. Atasan saya rupanya tertarik karena saya bisa main gitar dan menyanyi. Lalu, saya diminta kerja di bagian propaganda yang ada operanya. Saat itu opera-opera sangat populer di Tongkok untuk hiburan rakyat dan propaganda pemerintah.

Anda main gitar di kelompok opera itu?

Saya belajar berbagai alat musik Tiongkok karena opera ini menggunakan musik tradisional. Mulai instrumen tiup, petik, gesek, pukul... saya pelajari. Nah, karena sudah punya dasar musik di Surabaya, ya, nggak kesulitan.

Kapan pindah ke Hongkong?

Tahun 1974, setelah delapan tahun hidup di Wuhan. Hongkong lebih menarik dan maju. Maka, saya pindah ke sana untuk cari makan. Kerja di pabrik lagi. Awalnya saya kesulitan di Hongkong karena gak bisa bahasa Kanton. Ternyata, cari makan di Hongkong pun gak gampang. Baru tahun 1980-an saya agak berkembang setelah bisnis alat-alat elektronik dan peralatan medis.

Tapi masih sempat main musik juga?

Harus disempat-sempatkan karena musik sudah menjadi bagian hidup saya. Wong sejak SD di Banyuwangi saya sudah main band. Hehehe....

Nah, ketika bertemu dengan sesama perantau, TKI, semangat bermusik itu makin menggebu-gebu. Ada keinginan untuk membawakan lagu-lagu Indonesia karena makin lama TKI ini makin banyak. Sekalian melepas kerinduan dengan tanah air Indonesia yang letaknya sangat jauh. Memang ada CD/VCD, tapi lain kalau dimainkan oleh secara langsung.

Saya bikin band, namanya Surabaya Club. Saya pegang steel guitar. (James Chu kemudian menunjukkan rekaman konser Surabaya Club di Hongkong. Para pemain band rata-rata berusia di atas 50 tahun.)

Orang-orang Hongkong rupanya tertarik dengan Surabaya Club karena dinilai coraknya berbeda dengan band-band lain. Kami diundang pentas di plaza, mal, kafe, dan pusat perbelanjaan di Hongkong. Bahkan, kami juga diminta tampil dalam sebuah festival besar di pantai Hongkong. Sejak itu kami makin eksis dan mulai membuat rekaman.

Kalau tidak salah, Anda bersama teman-teman pernah tampil di TVRI dan Java Jazz ‘09?

Setelah merilis album, nama James Chu akhirnya mulai dikenal pencinta musik di Indonesia. Sebab, album-album kami memang diedarkan di Indonesia. Nah, saya diajak pentas di mana-mana, termasuk di Java Jazz. Yang di TVRI itu saya diajak Tantowi Yahya, pengasuh acara Country Road.

Lantas, kapan konser di Surabaya?

Rencananya, September 2010 saat Festival Bulan Purnama di Pantai Ria Kenjeran. Kebetulan saya teman kelas pengelola Sanggar Agung di Kenjeran itu. Saya diminta menghadirkan sebuah festival dengan konsep lintas budaya. Mudah-mudahan rencana ini bisa direalisasikan.

Ngomong-ngomong, Anda ini pengusaha atau pemusik?

Dua-duanya. Hehehe.... Bagi saya, musik itu sebetulnya cuma kesenangan pribadi saja. Saya tidak total di musik karena akan membuat saya tidak bahagia. Pemusik profesional itu kan dituntut macam-macam, dan itu membuat dia tertekan. Lagi pula, kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan hidup dari musik. (*)




Kirim Anak ke Banyuwangi

Meski sudah lama menjadi warga negara Hongkong, James Chu tetap merasa sebagai orang Indonesia, khususnya Jawa. Karena itu, dia selalu membiasakan diri berbahasa Jawa, menikmati makanan khas Jawa, hingga memainkan tembang-tembang Jawa baik yang klasik maupun kontemporer.


Pria 61 tahun ini juga tak ingin tiga anaknya--satu putra, dua putri--yang lahir dan besar di Hongkong asing dengan bahasa dan budaya orang tuanya. Maka, James Chu punya cara sendiri untuk menanamkan budaya dan bahasa Jawa kepada anak-anaknya. Caranya?

“Saya selalu mengirim anak saya ke Banyuwangi. Paling sedikit mereka harus tinggal di Jawa Timur selama dua bulan,” papar James Chu.

Dengan tinggal bersama keluarga besar di Jawa Timur, menurut dia, anak-anak itu bisa belajar secara langsung dari lingkungan. Mulai bahasa daerah, makanan, tradisi, hingga kebudayaan secara umum. Setelah masa liburan berakhir, anak-anak usia sekolah dasar (SD) itu juga ‘dibiarkan’ kembali ke Hongkong seorang diri.

“Yah, saya titip saja sama pramugari. Tolong awasi anak saya selama dalam perjalanan dari Indonesia ke Hongkong. Tentu saja si pramugari lebih memperhatikan anak-anak kecil, kayak anaknya sendiri,” kata James Chu lantas tertawa kecil.

Di Hongkong, karena James selalu berkumpul dengan komunitas Indonesia, khususnya yang berasal dari Jawa Timur, ketiga anaknya itu pun terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Bahasa Mandarin, bahasa Kanton, dan bahasa Inggris hanya digunakan ketika berbicara dengan orang Hongkong atau berkomunikasi di sekolah.

Tak heran, ketiga anak James Chu sejak kecil sudah menjadi poliglot alias menguasai banyak bahasa. “Saya senang karena mereka bisa bicara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Mereka bangga dilahirkan sebagai warga keturunan Indonesia di luar negeri,” ujar James.

Di bidang musik, James tidak menggembleng anaknya secara khusus. Namun, kenyataannya, ketiga anak buah pernikahan James Chu dan Yang Piek Noan rata-rata mampu memainkan musik klasik dengan baik. Tak ada yang mengikuti jejak ayahnya sebagai pemain steel guitar.

“Itu kan instrumen zaman dulu. Mana ada anak sekarang yang menekuni steel guitar?” tukasnya sambil tertawa kecil. (rek)





Pada tahun 1960-an musik lembut bernuansa Hawaii sangat populer di tanah air. Sejumlah penyanyi Indo-Belanda banyak merilis album lagu-lagu daerah Maluku dengan irama Lautan Teduh ala Hawaii. Hawaiian guitar alias steel guitar alias gitar hawaii sangat dominan dalam genre musik ini.

Ketika masih berusia belasan tahun, James Chu yang masih sekolah di kota kelahirannya, Banyuwangi, sudah gandrung main musik. Melihat bakat musiknya, Pak Turangan, gurunya di SMP, mengajak Chu Kwok Cung--yang sekarang lebih dikenal dengan James Chu--bermain band.

Selain sebagai band leader, Pak Turangan memainkan steel guitar. “Saya sendiri pegang ketipung atau gitar biasa,” cerita James Chu sambil tersenyum.

Tamat SMP di Banyuwangi, James pindah ke Surabaya untuk melanjutkan sekolah di SMA Sin Chung, salah satu sekolah Tionghoa terkemuka waktu itu. Lagi-lagi kesenangan bermain musiknya terbawa ke Kota Pahlawan. Di sini dia terkenang gurunya, Pak Turang, yang fasih memainkan gitar hawaii.

James pun belajar instrumen ini secara khusus pada Soe Gian, guru musik di Surabaya. “Ada kebanggaan tersendiri kalau main steel guitar. Sebab, waktu itu alat musik ini sangat digemari dan berperan penting dalam band yang memainkan lagu-lagu Hawaii,” katanya.

Sejak itulah James Chu, yang sebenarnya menguasai berbagai alat musik ini, dikenal sebagai pemain gitar hawaii. Ketika pindah ke Tiongkok, kemudian Hongkong, James sempat menekuni alat-alat musik tradisional Tionghoa. “Saya belajarnya cepat karena sudah punya dasar yang kuat di Indonesia. Mau main apa saja gampang,” akunya.

Tren musik berirama teduh ala Hawaii ternyata tak bertahan lama di tanah air. Ketika rezim Soekarno runtuh, digantikan Soeharto dengan Orde Barunya, musik pop Indonesia lebih condong ke Amerika dengan warna yang jauh lebih rancak seperti disco, rock, rock‘n roll, bahkan metal.

Maka, para pemain gitar hawaii yang bersenar tujuh itu pun kehilangan pekerjaan. “Teman-teman musisi pindah ke instrumen lain,” kenangnya. Namun, James Chu tetap menekuni gitar hawaii sampai sekarang.

Sebuah situs steel guitar di internet bahkan menyebut James Chu sebagai salah satu tokoh steel guitar di dunia. “James is perhaps the only steel guitar ambassador in his part of the world and his goal is to inspire young people to take up the instrument. Ideal for beach parties but also for easy listening events,” tulis pengelola situs tersebut.

Yah, bagi James Chu, steel guitar ibarat belahan jiwanya. Ke mana-mana dia selalu membawa alat musik yang konon dibeli di Amerika Serikat itu. “Saya memang sulit dipisahkan dengan instrumen itu,” tegasnya. (rek)



BIODATA

Nama populer : James Chu
Nama asli : Chu Kwok Cung
Lahir : Banyuwangi, 20 November 1948
Profesi : Artis, pengusaha
Istri : Yang Piek Noan
Anak : tiga orang
Pendidikan : SMA Sin Chung Surabaya
Pemusik favorit : Buby Chen

DISKOGRAFI

Romance Hawaiian Guitar
Unforgettable Melodies
Evergreen Mandarin
Wonderful Tonight
Teresa Teng Memories
Country Love
Javanova I
Javanova II



Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 14 Maret 2010.

13 March 2010

Balada Dokter PTT di Flores




TAHAN BANTING: Menkes Endang Rahayu, eks dokter PTT di Flores.

Di dalam bus patas Surabaya-Malang, tak sengaja, saya duduk bersebelahan dengan Sinta. Nona manis, ramah, meskipun sedikit overweight. Sejak enam tahun lalu saya memang agak sensitif dengan obesitas karena saya sendiri kesulitan menurunkan berat badan. Saya banyak membaca metode diet, bahaya LDL, trigliserida, kolesterol, dan seterusnya. Hehehe....

Aha, ternyata Sinta ini mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya semester atas.

Saya langsung bertanya tentang program dokter PTT (pegawai tidak tetap). Biasanya, dokter muda harus ikut PTT sebelum berhak mendapat predikat terhormat: DOKTER (TIDAK MUDA).

Biasanya, PTT dilakukan di pelosok-pelosok Indonesia, khususnya Indonesia Timur. NTT alias Nusa Tenggara Timur alias Nasib Tidak Tentu, khususnya Pulau Flores dan sekitarnya, sejak dulu selalu jadi sasaran dokter-dokter PTT.

Dokter muda yang sukses PTT di Flores, kata orang, biasanya tahan banting. Bayangkan, si dokter yang cakep-cakep dan ganteng-ganteng ini--rata-rata anak orang kaya di Jawa atau kota besar--harus hidup di pelosok terpencil di Flores.

Tak ada listrik PLN. Air bersih susah. Siaran televisi tidak bagus. Plasa, mal, tempat hiburan... tak ada. Masyarakat sangat sederhana. Sebagian besar warga tak mampu berbahasa Indonesia dengan lancar. Belum lagi adat kebiasaan Flores pelosok yang berbeda sama sekali dengan dokter-dokter yang orang kota itu.

"Sinta, bagaimana kalau kamu PTT di Flores? Yah, setidaknya di NTT-lah?" pancing saya pada si nona manis itu.

"Flores? NTT? Amit-amit deh, kalau bisa jangan deh. Tempat lain aja deh."

Saya lalu menceritakan kisah nyata bagaimana aktivitas dokter-dokter PTT di Flores Timur, khususnya Pulau Lembata. Bagaimana dokter-dokter PTT yang Jawa itu dianggap sebagai orang hebat, punya ilmu tinggi, dan sangat disegani.

Profesi dokter, tak peduli dokter muda atau mahasiswa FK, dipandang sangat terhormat. Bak makhluk dari planet lain saja. Bagaimana masyarakat punya harapan yang besar pada si dokter PTT yang biasa bertugas di Puskesmas.

"Banyak dokter eks PTT di Flores yang sukses lho," pancing saya.

Sinta, yang orang tuanya kaya dan berpendidikan tinggi, rupanya tetap bergeming. Tak ada minat sama sekali ber-PTT di NTT atau Flores.

"Kamu tahu menteri kesehatan sekarang? Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih? Dia itu tahun 1979 PTT di Kabupaten Sikka, Flores," kata saya.

"Oh, ya?" Sinta agak terkejut.

Hehehe.... Rupanya, mahasiswa FK Unair yang satu ini, meskipun cantik dan cerdas, tidak pernah baca koran, berita-berita di internet, atau menyimak informasi di televisi. Hari-harinya habis untuk kuliah, baca buku teks, praktikum, ke laboratorium... dan pacaran. Karena itu, Sinta tidak tahu kalau Menkes Endang bersama suaminya Reanny Mamahit pernah bertugas di Puskesmas Waipare 27 tahun silam.

Listrik tak ada di kampung itu pada 1970-an, bahkan hingga 1990-an. PLN di Flores memang proyek rugi karena belum ada energi alternatif, selain harus membakar solar. PLTD yang mesin-mesin gensetnya dipasok cukong-cukong gendut di Surabaya. Dan itu berpotensi membuat bangkrut PLN.

Ketika itu, menurut Endang, masyarakat Flores tak punya uang kontan. (Bahkan sampai sekarang pun uang susah dicari.) Masyarakat membayar dokter Puskesmas dengan ikan, ayam, telur, atau hasil bumi lainnya.

Sinta mendengar "dongeng" dokter PTT di Flores dengan penuh minat. Apalagi saya sengaja menonjolkan kisah sukses dr. Endang yang sekarang jadi menteri kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014). Dalam beradu argumentasi, kita memang sekali-sekali membuat contoh yang kontras dan ekstrem.

"Yah, siapa tahu setelah PTT di Flores, kamu lebih sukses. Contohnya, ya, Bu Menkes itu. Hehehe...," goda saya.

Sinta hanya tersenyum. Rupanya, dia sudah punya persepsi dan pendapat sendiri tentang Flores. Mengacu pada teori Walter Lipmann, salah satu dewa jurnalisme di Amerika Serikat: "Sinta have had a very bad pictures about Flores in her head!" Itulah yang disebut stereotipe. Dan itu sulit diubah.

"Saya takut kalau PTT di Flores. Kayaknya orang Flores itu sangar-sangar," tukasnya.

"Termasuk saya?" Hehehe....

Belum tahu dia kalau orang Flores yang tampangnya sangar itu sebetulnya berhati lembut ala Rinto Harahap. Mereka sangat gandrung lagu-lagu melankolis ala Dian Piesesha, Obbie Messakh, Pance Pondaag, Rinto Harahap, Ria Angelina, Christine Panjaitan, atau Lydia Natalia. Musik pop daerah NTT, bahkan lagu-lagu rohani asal NTT, umumnya melodius dan mendayu-dayu. Musik rock yang teriak-teriak tak laku di NTT.

Memang, harus diakui, sampai sekarang imej orang Jawa, Sunda, Betawi, Madura, Batak, Melayu... terhadap Flores tak jauh berbeda dengan Sinta. Meski sudah sangat banyak dokter PTT di Flores yang sukses, termasuk Bu Menkes itu tadi, Flores masih dianggap sebagai tempat pembuangan atau ladang penderitaan. Dokter-dokter PTT itu enggan ditempatkan di Flores kecuali karena terpaksa.

"Aku lebih suka PTT di Kalimantan deh," kata Sinta dengan nada meyakinkan.

"Baiklah, semoga kamu sukses melaksanakan PTT di Kalimantan atau di mana saja."

Surabaya masih jauh. Bus patas yang kami tumpangi macet di sekitar lokasi semburan lumpur Lapindo, tepatnya Gempol, Pasuruan. Sayang kalau obrolan dengan nona manis ini harus putus begitu saja. Jarang lho ketemu calon dokter yang sama-sama Katolik di Pulau Jawa.

Sinta mengaku kenal banyak pastor SVD (Societas Verbi Divini) asal Flores. Yah, mayoritas pastor SVD di Indonesia memang orang Flores. Di Surabaya bagian selatan, hampir semua paroki atau Gereja Katolik digembalakan pastor-pastor SVD asal Flores. Sebut saja Paroki Yohanes Pemandi Wonokromo, Paroki Gembala Yang Baik Jemur Handayani, Paroki Roh Kudus Rungkut, kemudian Paroki Salib Suci Tropodo (Sidoarjo) atau Paroki Santo Paulus Juanda.

Saya ceritakan kelebihan lain dokter-dokter PTT di Flores. Siapa tahu Sinta mau berubah pikiran. Saya bongkar sedikit rahasia dapur dokter-dokter PTT di kampung:

"Sinta, dokter-dokter PTT di Flores itu biasanya dapat jodoh sesama dokter juga lho. Kalau nggak sesama dokter, biasanya anak pejabat."

"Wualah, aku sudah punya pacar kok. Kenapa harus cari jodoh di NTT?" balasnya.

Asem tenan! Yo wis, sakarepmu, Ning, aku wis nyerah. Gak kepengin bahas PTT maneh. Koen gak gelem nang Flores ya gak popo. Gak patheken!

Kali ini aku kehabisan jurus untuk meyakinkan si nona manis untuk mau PTT di Flores. Tapi, saya percaya, masih ada dokter-dokter muda lain yang mau belajar melayani wong cilik di pelosok Flores.

11 March 2010

Nyadran di Bluru Kidul

Upacara tasyakuran laut alias nyadran digelar masyarakat nelayan Desa Bluru Kidul, Kecamatan Kota, Sidoarjo, pada Ahad Wage, 7 Maret 2010. Upacara ini sudah berlangsung turun-temurun di kampung nelayan Sidoarjo itu pada bulan Maulid. Sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Masyarakat Bluru Kidul, yang sebagian besar nelayan kerang, bersyukur atas hasil laut selama setahun terakhir. Mereka juga berdoa, memohon berkah dari Yang Mahakuasa agar selalu mendapat hasil yang baik di tahun berikutnya. Ritual diawali prosesi dengan perahu dari Bluru Kidul ke Makam Dewi Sekadradu di Pantai Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran. Kampung di muara sungai, dekat Selat Madura, sekitar 10 kilometer dari Kota Sidoarjo.

MAKAM DEWI SEKARDADU: Dewi Sekardadu tak lain ibunda Sunan Giri, salah satu wali penyebar Islam di Pulau Jawa. Pesraean alias makamnya selalu menjadi rujukan para peziarah, khususnya para nelayan, di Kabupaten Sidoarjo. Di belakang kompleks makam, yang direnovasi Bupati Win Hendrarso, ada kali kecil. Sebagian peziarah turun di situ. Sebagian besar peziarah mendarat di dermaga, kemudian jalan kaki sekitar 500 meter. Kampung ini penuh tambak dan vegetasi khas pesisir, khususnya hutan bakau.



RITUAL DIMULAI: Jumat (5/3/2010) tengah malam, Irsyad, Suhardi, dan Anam, tiga tokoh nelayan sekaligus kiai kampung, memimpin doa di belakang Makam Sekardadu. Sebelumnya, sesajen sudah dilarung di belokan sungai. Doa secara Islam ini memohon agar Tuhan melindungi warga Bluru Kidul, memberi rezeki bagi masyarakat nelayan. Juga agar jalannya arak-arakan perahu pada Ahad Wage berlangsung aman.




PENGAJIAN: Setelah mengaso dan wudu, rombongan perintis yang berjumlah 20 orang mengadakan pengajian di dalam kompleks Makam Sekardadu. Sebelumnya, Pak Samadi, juru kunci makam, harus dibangunkan karena rupanya sedang tidur pulas. Maklum, sudah lewat pukul 01.00. Pengajian cukup lama dalam suasana sangat tenang. Suara jangkrik dan binatang-binatang malam terdengar jelas.




BANCAKAN: Menikmati tumpeng yang dibawa dari Bluru Kidul. Hidangan khas wong kampung: nasi, ayam panggang, lalapan, peyek, krupuk... Makan bareng-bareng lambang kebersamaan. Asyik juga makan bersama di kampung paling terpencil di Kabupaten Sidoarjo itu.




SIAP BERANGKAT: Ahad pagi, rombongan dilepas Wakil Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Pak Saiful ini juga dikenal sebagai salah satu 'raja tambak' di Sidoarjo. Ada 50-an perahu rame-rame berlayar ke Kepetingan. Keluarga nelayan, mulai anak-anak, remaja, ibu-ibu, ikut serta. "Tahun ini kalah banyak sama tahun kemarin. Jumlah perahu hanya separonya karena ekonomi lagi sulit," kata Haji Waras, koordinator nelayan Bluru Kidul. Kita bisa menikmati pemandangan sungai yang indah meski kurang bersih. Di mana-mana sungai jadi tempat orang membuang sampah.




TIBA DI KEPETINGAN: Setelah berlayar hampir satu jam, maklum kecepatan rendah, rombongan nyadran turun di dermaga Kepetingan. Dermaga sangat sederhana. Lantas, jalan kaki ke Makam Sekardadu. Warga Kepetingan menyambut ramah.




TUMPENGAN: Masing-masing keluarga nelayan membawa tumpengan untuk didoakan bersama di pesarean.




PENGAJIAN: Puncak nyadran Bluru Kidul adalah pengajian di kompleks Makam Dewi Sekardadu. Peserta juga secara bergantian nyekar dan menyentuh makam ibunda Sunan Giri alias Raden Paku alias Syeh Maulana Iskak alias Joko Samudra itu. Pengajian cukup lama. Yang tidak ikut pengajian bisa ngopi di warung sederhana di samping makam. "Saya pesan Sprite. Pakai es batu," pinta saya. Lumayan, siang itu si pemilik warung panen raya. Sayang, nyadran hanya setahun sekali. Coba kalau nyadran tiap minggu? Hehehe....

Upacara selesai. Rombongan kembali ke perahu masing-masing. Lantas, berlayar setengah jam lagi ke laut Selat Madura, larung tumpeng utama, dan kembali ke Bluru Kidul. Besoknya ada lomba dayung perahu, orkes dangdut, dan pengajian umum.


09 March 2010

Konser Cinta Negeri PSAUI



Untung masih ada TVRI yang menyiarkan konser Paduan Suara Alumni Universitas Indonesia (PSAUI) pada 4 Maret 2010. Konsernya sendiri digelar di Jakarta pada 24 Februari 2010. Tapi, sayang alias tidak untungnya, program ini disiarkan di atas pukul 00.00.

Yah, mungkin pengelola TVRI berpikir konser paduan suara atau acara-acara budaya hanya sekadar sambil lalu. Sekadar pengisi waktu kosong. Masih lumayan ketimbang televisi swasta yang lebih doyan sinetron, gosip artis, lawakan slapstick ala Tukul, berburu hantu, reality show aneh-aneh, atau ludruk politik di Senayan.

Untung juga, saya malam itu susah tidur. Saya coba-coba menyetel televisi dan... eh, kok ada paduan suara. Sebagai bekas aktivis paduan suara mahasiswa, saya kenal betul lagu-lagu itu. Bahkan, saya langsung memastikan bahwa penyusun aransemen alias komposernya tak lain Lilik Sugiarto, almarhum.

Lilik Sugiarto adalah salah satu maestro paduan suara di Indonesia, khususnya paduan suara mahasiswa. [Baca tulisan saya: Lilik Sugiarto dan Virus Paduan Suara.]

Konser Cinta Negeri, demikian tema konser PSAUI di Jakarta. Para alumni paduan suara mahasiswa UI, yang saya lihat sudah dimakan usia, kayaknya di atas 40, kangen menyanyi bersama. Mengenang masa-masa menyenangkan sebagai anggota Paragita, paduan suara mahasiswa UI.

Memang, harus diakui, barangsiapa yang pernah ikut paduan suara mahasiswa, apalagi yang dilatih bagus, apalagi yang sering menang lomba, sering konser, pasti ketagihan paduan suara. Asyik banget!

Maka, meskipun sudah kerja, sibuk dengan urusan cari uang, para bekas aktivis PSM ini selalu memperhatikan paduan suara. Kalau ada konser, pergelaran, bahkan latihan, ingin rasanya ikut melihat. Senang menonton anak-anak muda di bawah 24 tahun berkumpul, berlatih, bekerja sama, untuk membina komunitas paduan suara.

Semangat saja tidak cukup. Paduan suara yang baik harus didukung latihan rutin, sedikit bakat nyanyi, pelatih bagus, pemusik, dan sebagainya. Pita suara harus kencang dan segar.

Ini yang rupanya tidak dipunyai lagi oleh mas-mas dan mbak-mbak PSAUI yang bikin Konser Cinta Negeri. Teknik vokal dan pernapasan mereka tidak sebagus ketika kuliah di UI pada 1980-an, bahkan 1970-an. Yah, namanya aja konser nostalgia.

Konser malam itu menampilkan lagu-lagu daerah Nusantara. Aransemen digarap mendiang Lilik Sugiarto, bekas pelatih PSM Universitas Indonesia alias Paragita Choir. Pak Lilik, menurut saya, salah satu penyusun aransemen paduan suara terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Komposisi berjudul BUMIKU INDONESIA selalu menjadi lagu wajib atau pilihan dalam lomba atau festival paduan suara mahasiswa di tanah air.

Saya ingat lagu-lagu rakyat macam Bubuy Bulan, Sepasang Mata Bola, Di Tepinya Sungai Serayu, Tanduk Majeng, Cik Cik Priok, dan beberapa lagi. Semuanya digarap dengan gaya Lilik Sugiarto yang khas. Ada intro yang riang atau jenaka, masuk ke lagu utama alias cantus firmus, kemudian selingan dengan aransemen rancak, plus modulasi, variasi ke lagu utama lagi, kemudian penutup atau coda yang asyik.

Dedy Lesmana jadi solis tenor. Vokalnya bagus, tapi jelas kalah jauh dengan adik-adik PSM yang masih 20-an. Mas Dedy terkesan -- mudah-mudahan saya salah -- setengah mati mengatur napas, olah vokal, kemudian bikin gerak tari. Mbak dirigen pun kayaknya rada abot, meminjam istilah orang Surabaya, karena gizinya terlalu bagus. Hehehe....

Tidak apa-apa, Mbak. Yang penting, semangat dan tetap bernyanyi. Jarang lho ada alumni PSM yang bisa berkumpul kembali, latihan bersama, bikin konser, dan disiarkan televisi nasional pula. Berbahagialah para alumni PSM UI yang punya kesempatan itu.

"Kami ingin agar lagu-lagu daerah yang bagus-bagus itu tetap lestari. Tetap dinyanyikan dari generasi ke generasi," kata Maudy Warouw, ketua PSAUI, dalam wawancara dengan TVRI.

Yah, salah satu cara paling efektif untuk memperkenalkan lagu-lagu daerah memang paduan suara. Lagu-lagu yang terkesan sederhana, dolanan, bahkan kampungan, ketika dinyanyikan dalam paduan suara, dengan aransemen bagus ala Lilik Sugiarto, wuih... luar biasa. Bikin ketagihan.

08 March 2010

Anshori Ketua KPU Sidoarjo



Tidak banyak orang tambak yang menempuh pendidikan tinggi dan sukses meniti karir di luar bidang ‘pertambakan’. Salah satu dari sedikit arek ambak yang sukses itu Ashory SH, 40 tahun. Pentolan LBH Surabaya itu kini menjabat ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo.

Oleh LAMBERTUS HUREK



Anshori dilahirkan di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, pada 13 April 1969. Kepetingan--juga biasa disebut Ketingan--merupakan salah satu kampung terisolasi di Kabupaten Sidoarjo. Kampung-kampung terisolasi lain adalah Pucukan, Bromo, dan Pulau Dem.

Akses ke Kepetingan melalui jalan darat sangat sulit, apalagi pada musim hujan seperti sekarang. Yang ada hanya jalan setapak di pematang tambak. Maka, satu-satunya akses ke kampung nelayan ini melalui lalu lintas sungai. Itu pun tidak lancar karena harus mempertimbangkan pasang naik dan pasang surut.

Sebagian besar warga Sidoarjo, kecuali masyarakat nelayan, tidak tahu kalau ada kampung nelayan yang eksotik dan khas di Kabupaten Sidoarjo bernama Kepetingan. Karena sulit diakses, jarang dikunjungi orang, masyarakat Kepetingan punya karakter yang unik. Warga sangat guyub dan rukun. Semua orang saling mengenal satu sama lain, bahkan hingga beberapa generasi ke belakang.

“Orang Surabaya atau Sidoarjo biasanya bingung kalau ada banjir, kami di Kepetingan sudah akrab dengan air. Air masuk ke perkampungan itu biasa,” ujar Anshori lantas tertawa kecil.

Kampung Kepetingan alias Ketingan berlokasi di muara sungai, menjelang perairan Selat Madura. Jangan heran, ketika pasang besar, air laut pun masuk ke kampung. Kepetingan pun tenggelam. “Kehidupan kami memang sudah seperti itu,” katanya.

Karena terisolasi, anak-anak keluarga pekerja tambak di Kepetingan, Bromo, atau Pucukan kebanyakan kurang tertarik dengan sekolah. Sejak kecil mereka terbiasa membantu orang tuanya bekerja di tambak. Ada memang sekolah dasar (SD) pamong, tapi peminatnya sangat sedikit. Kalaupun sekolah, anak-anak tambak itu biasanya drop-out alias tak sampai tamat kelas enam.

Begitulah. Sejak dulu Kepetingan memang dikenal sebagai sentra tambak di muara sungai Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Semua penduduk menjadi pekerja tambak yang luasnya mencapai ratusan hektare itu. Di sela-sela mengurus tambak, mereka mencari kerang, kupang, kepiting, dan berbagai hasil laut.
“Di Kepetingan itu memang banyak tambak, tapi yang punya juragan-juragan dari kota. Warga kami hanya jadi pekerja tambak biasa,” papar Anshori.

Di masa kecilnya, ketika sekolah di Madrasah Ibtidaiah Kepetingan, sekolah rintisan alias sekolah pamong, Anshori sangat menikmati permainan khas anak-anak nelayan Sidoarjo. Mencari kepiting, kerang, memancing, mencari madu, berburu, dan sebagainya. Hasil tangkapan sebagian dibawa pulang dan sebagian lagi diolah dan dinikmati bersama teman-teman ciliknya.

“Sea food terbaik itu yang langsung diambil di laut dan diolah di situ. Kalau sudah dibawa ke restoran, biarpun dimasak oleh koki paling top, rasanya masih kalah dengan yang di Kepetingan,” kata Anshori sambil tersenyum lebar.

Hajatan yang selalu ditunggu-tunggu bocah Kepetingan adalah nyadran. Upacara syukuran khas masyarakat nelayan di Sidoarjo. Kepetingan selalu menjadi tujuan komunitas nelayan Bluru Kidul (Sidoarjo) dan Balongdowo (Candi) saat tasyakuran laut. Sebab, di Kepetingan ada Makam Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri, yang sangat dihormati masyarakat nelayan. Nyadran tempo dulu, cerita Anshori, sangat meriah karena diikuti ratusan perahu pada malam hari.

“Hiburannya banyak,” kenang Anshori. Begitu rombongan nelayan tiba di Kepetingan, warga Kepetingan menyambut dengan hadrah, pencak silat, dan atraksi hiburan tradisional-religius lainnya. Upacara dilanjutkan dengan nyekar ke Makam Dewi Sekardadu dan pengajian akbar.

“Kebetulan modinnya bapak saya, almarhum Subhan. Beliau yang selalu memimpin pengajian saat nyadran,” ungkap putra keenam dari sembilan bersaudara itu.
Anshori sangat yakin sukses yang diraih sekarang, termasuk saudara-saudaranya yang lain, berkat doa yang istikamah dari almarhum ayahnya, Subhan, modin terkenal di Kepetingan. Kapten TNI Suwarno, kakak Anshori, saat ini terkenal sebagai instruktur meriam (cannon) di Pusdik Bandung. Di Indonesia, keahlian seperti Suwarno terbilang sangat langka.

“Makanya, Kapten Suwarno ini jadi kebanggaan orang-orang di Kepetingan,” kata Anshori lantas tertawa.

Kini, meski sudah jadi ‘orang kota’ dan sibuk di KPU Sidoarjo, Anshori tak melupakan asal-usulnya sebagai arek tambak di kampung paling terpencil di Sidoarjo. Sesekali dia masih menyempatkan diri berkunjung ke kampung halamannya. Anshori telah menjadi inspirasi bagi bocah-bocah tambak meraih mimpi dan masa depan yang lebih baik. (rek)

Tangani Kasus Marsinah dan Nipah

Sejak masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, bakat aktivis Anshori sudah sangat menonjol. Saat itu rezim Soeharto yang kian menua nyaris tidak memberi ruang sedikit pun pada suara oposisi. Aparat tak segan-segan menangkap aktivis, termasuk mahasiswa, yang dinilai membahayakan stabilitas nasional.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, waktu itu, menerapkan apa yang disebut Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) untuk membatasi ruang gerak mahasiswa. Namun, Anshori justru tidak gentar. Selain kuliah seperti mahasiswa-mahasiswa biasa, dia malah bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya.

“Saya gabung sama LBH tahun 1989,” tutur Anshori kepada Radar Surabaya. Saat itu LBH Surabaya diperkuat tokoh-tokoh prodemokrasi macam Muhammad Zaidun, Indra Sugianto, Munir Said Thalib (almarhum), Eko Sasmito, Poengky Indarti, Dadang Tri Sasongko.

Hampir setiap hari LBH yang berkantor di Jalan Kidal Surabaya menerima rakyat kecil yang menjadi korban kesewenang-wenangan aparat Orde Baru. Puluhan buruh yang di-PHK, petani yang tanahnya digusur tanpa kompensasi, aktivis mahasiswa yang direpresi di kampusnya, dan sebagainya. LBH menjadi tumpuan harapan karena wakil rakyat di DPR/DPRD belum bisa diandalkan. Pers bebas pun belum dikenal di Indonesia.

“Saya bersama kawan-kawan, termasuk Cak Munir, setiap hari mengadvokasi masyarakat yang punya masalah di bidang hak asasi manusia, PHK, dan sebagainya,” ujar pria yang masih suka memancing ini.

Di usia yang masih sangat muda itu, Anshori bersyukur bisa terlibat langsung dalam penanganan kasus-kasus HAM berskala besar seperti kasus pembunuhan Marsinah, aktivis buruh PT Catur Putra Surya, di Porong, Sidoarjo, serta kasus Nipah di Sampang, Madura. Dua kasus ini--Marsinah dan Nipah--sangat menantang, tapi juga ‘mengerikan’ karena melibatkan aparat negara baik langsung maupun tak langsung.

Ancaman atau teror mental mulai yang kecil, sedang, hingga kelas berat menjadi makanan sehari-hari Anshori dan kawan-kawan. Tapi, bermodalkan idealisme yang menggebu-gebu, para aktivis LBH Surabaya tetap memperjuangkan hak-hak wong cilik yang digerogoti rezim militeristik itu. Anshori pun ditempat menjadi pembela wong cilik.

Karena sejak mahasiswa sudah aktif di LBH Surabaya, Anshori tak perlu pusing-pusing mencari pekerjaan selepas lulus Fakultas Hukum Unair. Otomatis di bekerja di LBH. Maka, tak heran, Anshori sampai sekarang tetap dianggap sebagai ‘orang LBH’ meskipun sejak lima tahun lalu sibuk di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo. “Yah, saya memang tidak bisa lepas dari LBH,” katanya.

Ketika LBH Surabaya sempat oleng beberapa tahun lalu, Dr Adnan Buyung Nasution meminta bantuan Anshori untuk turun tangan. Bang Buyung, pendekar hukum yang juga ‘sesepuh LBH’, menilai Anshori sebagai orang paling tepat karena terlibat di LBH Surabaya dalam masa yang cukup panjang.

“Alhamdulillah, akhirnya LBH Surabaya normal kembali,” katanya. (*)



Integritas Tak Bisa Digadaikan


Pemilihan bupati (pilbub) Sidoarjo akan digelar pada 25 Juli 2010, Ahad Wage. Saat ini sejumlah tokoh berlomba-lomba melakukan ‘sosialisasi’ dengan memasang baliho, poster, serta iklan di media massa. Bagaimana persiapan KPU Sidoarjo menyambut pemilukada ini? Berikut wawancara khusus Radar Surabaya dengan Ketua KPU Sidoarjo Anshori SH di ruang kerjanya, Sabtu (6/3/2010).


Tahapan pemilukada di Sidoarjo sudah sampai di mana?

Kami baru saja membentuk Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) di tingkat desa. Bulan Maret ini fokus kami di pemutakhiran daftar pemilih. Kami berusaha agar semua warga Sidoarjo yang punya hak memilih masuk daftar. Jangan sampai ada yang kelewatan.

Bahannya dari data pilpres kemarin?

Kami komparasikan data yang di pilpres dengan DP4. Proses ini akan berlangsung sampai 10 Juni. Masih cukup lama. Kami juga menyebarluaskan informasi ini lewat spanduk, poster, baliho... agar masyarakat proaktif. Silakan hubungi RT/RW setempat kalau ada warga yang merasa namanya tidak masuk daftar pemilih. Prinsipnya, KpU Sidoarjo tidak ingin ada satu pun warga yang tercecer.

Kira-kira berapa pasangan calon yang akan berlaga pada pemilukada Sidoarjo, 25 Juli?

Secara matematis bisa lima pasang. Tapi, kalau ada koalisi, bisa lebih sedikit. Itu calon yang diajukan oleh partai politik. Kalau calon perseorangan, kita masih harus lihat dulu hasil verifikasi nanti. Sebab, calon perseorangan itu harus didukung sekitar 60 ribu orang. Dan itu dibuktikan dengan KTP. Cocok nggak dengan orang di lapangan? Khusus calon independen atau perseorangan penyerahan dukungan diagendakan pada 1-6 April.

Pendaftaran bakal calon ke KPU kapan?

Awal Mei 2010. KPU Sidoarjo sebagai penyelenggara pemilukada tentu siap memproses baik bakal calon yang diajukan parpol atau gabungan parpol maupun calon perseorangan. Mudah-mudahan semua tahapan ini berjalan dengan aman dan lancar.

Berapa biaya pemilukada Sidoarjo?

Pembiayaan pemilukada satu putaran Rp 18,8 miliar. Dan itu baru didok akhir Januari 2010, kemudian disampaikan ke gubernur untuk diperdakan. Jadi, butuh waktu untuk cair. Karena itu, kami terpaksa pontang-panting agar bisa melaksanakan tahapan pemilukada yang harus sudah berjalan sebelum keluar anggaran. Kami harus hati-hati karena tidak boleh ada bailout atau dana talangan.

Kalau ada putaran kedua, perlu tambahan berapa lagi?

Separonya, Rp 9,4 miliar.

Biaya pemilukada cukup besar ya?

Sangat besar. Saya selalu bilang jangan beri kami anggaran yang berlebihan, tapi yang cukup. Sebab, di balik anggaran yang besar itu ada akuntabilitas dan amanah. Uang rakyat itu harus dipakai secara amanah dan bertanggung jawab.

Anda bisa menjamin independensi KPU dari godaan-godaan menggiurkan dari para kandidat, parpol, cukong, atau tim sukses?

Insya Allah. Salah satu kunci sukses pemilukada adalah independensi penyelenggara, yakni KPU dan jajarannya. Ini menjadi harga mati. Komitmen dan integritas KPU tidak dapat digadaikan dengan apa pun. (rek)




BIODATA SINGKAT

Nama : Anshori
Tempat/Tanggal Lahir : Sidoarjo, 13 April 1969
Jabatan : Ketua KPU Sidoarjo
Hobi : Memancing, olahraga

PENDIDIKAN
MI Kepetingan
SDN Bluru Kidul I
SMPN I Sidoarjo
SMAN I Sidoarjo
Fakultas Hukum Universitas Airlangga (S-1 & S-2)


ORGANISASI/LEMBAGA
LBH Surabaya
Yayasan Pengembangan Sumber Daya Indonesia
Walhi Jatim
KPU Sidoarjo

Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu 7 Maret 2010

05 March 2010

Paulina Mayasari Melantjong Petjinan Soerabaia



Sebagai arek Suroboyo asli kelahiran Jalan Bibis 3, salah satu kampung pecinan di Kota Surabaya, Paulina Mayasari tak asing lagi dengan seluk beluk China Town. Permukiman yang tempo doeloe dirancang pemerintah Belanda sebagai tempat tinggal masyarakat Tionghoa itu punya kekhasan dan keunikan tersendiri.

Ada klenteng tertua, Hok An Kiong, di Jl Cokelat, rumah sembahyang keluarga Han, keluarga The, keluarga Tjoa, pusat niaga di Kembang Jepun, hingga atraksi kesenian wayang potehi. Belum lagi gedung-gedung tua berarsitektur khas kolonial yang masih berdiri megah di kawasan pecinan.

“Apalagi, menjelang dan selama tahun baru Imlek, wah kawasan pecinan itu sangat khas. Misalnya, di depan rumah-rumah dipasang batang tebu sampai Cap Go Meh,” tutur Maya, sapaan akrab Paulina Mayasari.

Nah, minat Maya terhadap gedung-gedung tua berikut kehidupan masyarakatnya makin besar ketika dia kuliah di Universitas Trisakti Jakarta. Sebagai mahasiswa desain, dia banyak mendalami gedung-gedung berarsitektur unik macam di pecinan. Lulus Usakti, Maya bergabung dengan UNESCO, organisasi PBB yang bergerak di bidang pendidikan kebudayaan.

Di Jakarta, minat masyarakat untuk berwisata ke kota tua, termasuk kawasan pecinan, mulai tumbuh. Ada sejumlah aktivis yang berperan sebagai event organizer atau semacam pemandu wisata. Maya pun berpikir, mengapa city tour serupa, khususnya ke pecinan, tidak diadakan di Surabaya? Bukankah Surabaya punya pecinan yang tak kalah eksotis dan bersejarah dengan Jakarta?

Sebagai peranakan Tionghoa, Maya mengaku geli karena banyak orang Tionghoa sendiri, khususnya generasi muda yang lahir pada era Orde Baru (1966-1998) dan pasca-Orde Baru, tidak paham seluk-beluk pecinan di kotanya. “Pecinan Surabaya? Ndik mana itu? Oalaah, paling-paling yo Kya-Kya Kembang Jepun, Kapasan tok... Yak koen separuh bener rek!” tukas Maya dengan logat Tionghoa-Surabaya yang medhok.

Menurut dia, orang Tionghoa sekalipun belum pernah melihat dari dekat Klenteng Hok An Kiong, Klenteng Hok Tek Hian, Klenteng Boen Bio, pergelaran wayang potehi, serta makanan-minuman khas Tionghoa. Karena itu, pada 27 Desember 2009, acara Melantjong Petjinan Soerabaia I dimulai.

Kebetulan saat itu warga Tionghoa, khususnya yang tradisional, tengah mengadakan sembahyang ronde dengan makanan khasnya: ronde. “Pelancongan dimulai ambek ngincipi wedang ronde, karo ndelok cara masak’e, ono cerita opo seh dibalik wedang ronde,” kenangnya.
Dari Jl Bibis, kediaman orang tua Maya, rombongan turis domestik ini mlaku-mlaku ke Jl Cokelat, Karet, Kembang Jepun, Waspada, Dukuh, dan makan siang di Pasar Atom. Berkat teknologi Facebook dan milis di internet, acara melancong perdana ini menuai respons positif.

“Saya membatasi peserta paling banyak 20 orang. Kalau terlalu banyak, nanti panitianya yang kewalahan,” ujar Maya lantas tertawa kecil.



Paulina Mayasari beruntung karena punya mama yang pandai memasak. Termasuk menyediakan aneka masakan khas Tionghoa. Karena itu, Liana Anggono (64), ibunda Paulina Mayasari, selalu kebagian tugas melakukan demo masak di depan peserta Melantjong Petjinan Soerabaia.


Hitung-hitung hemat biaya ketimbang harus menyewa koki atau chef terkenal dari hotel berbintang. "Mama saya yang pinter masak. Saya sendiri sih nggak pinter," aku lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti Jakarta itu.

Meski pandai memasak, Liana Anggono bukanlah tipe chef yang pandai bicara seperti pengasuh acara kuliner di televisi. Maka, Maya--sapaan akrab Paulina Mayasari--yang bertugas 'cuap-cuap' menjelaskan cara memasak wedhang ronde atau misua.

"Saudara-saudara, memasak misua itu sebenarnya gampang kok. Bahan-bahannya apa saja?" ujar Maya sembari mengarahkan corong mikrofon ke mulut Liana Anggono di sampingnya.

Si maya kemudian menirukan kata-kata mamanya. Misua itu, ya, dibuat pakai misua yang dibuat di pabrik, kemudian dicampur antara lain kacang tanah, telur, jamur, sawi, kucai. Peserta tur yang juga rata-rata tidak pandai memasak senyam-senyum menyaksikan adegan demo masak di rumah maya, Jalan Bibis 3 Surabaya.

Kalau soal masak-memasak ala Tionghoa, Maya mengandalkan jasa mamanya, di bidang adat-istiadat dan tradisi Tionghoa dia menggandeng teman dekatnya. Salah satunya Bai Shuzhen alias Dian. Ketika berada di dalam rumah sembahyang keluarga The di Jalan Karet 50 Surabaya, Ahad (21/2/2010), Maya berperan semacam presenter atau pewawancara. Setelah itu Dian yang diminta bicara panjang lebar tentang tradisi orang Tionghoa merayakan Imlek. Mulai dari buah-buahan yang harus disiapkan di atas meja, peralatan sembahyang, pantangan, hingga melekan untuk menyambut Sin Cia.

"Tiap malam tahun baru Imlek saya tidak bisa tidur karena harus mendampingi nenek saya. Malam itu dipercaya membawa rezeki. Makanya, jangan dilewatkan begitu saja," jelas Bai Shuzhen yang pernah tinggal di sebuah keluarga sederhana di Beijing, Tiongkok.

"Kalau saya lain. Malam tahun baru saya justru cepat-cepat tidur biar paginya bisa minta angpao sebanyak-banyaknya," tukas Maya disambut tawa peserta Melantjong Petjinan Soerabaia II.

Pembawaannya yang riang, humoris, dengan aksen Tionghoa-Surabaya yang sangat kental menjadikan Maya ibadat pemandu wisata profesional. Apalagi, Maya juga memperkaya wawasannya dengan membaca banyak buku tentang Tionghoa serta rajin berselancar di internet.

"Saya juga selalu minta para peserta untuk sharing pengalaman mereka. Sebab, meskipun sama-sama orang Tionghoa, tradisi di masing-masing rumah itu ada perbedaan," katanya.

Sukses menyelenggaran wisata kota bertajuk Melantjong Petjinan Soerabaia I dan Melantjong Petjinan Soerabaia II, yang dibuktikan dengan membeludaknya peserta, membuat Maya senang dan bangga. Kerja keras dan semangat 'nekatnya' serasa tidak sia-sia. Namun, dia mengaku tak enak hati dengan sejumlah peserta yang protes halus gara-gara agenda sering molor.

"Saya mohon maaf atas kemoloran acara sampai dua jam lebih. Ini karena kesalahan perhitungan waktu dan di luar rencana," ujar Maya.

Okelah, kita tunggu Melantjong Petjinan Soerabaia III, IV, dan seterusnya. (lambertus hurek)

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi 4 dan 5 Maret 2010

02 March 2010

Takut Menjadi Tua

Saya baru saja membaca Kompas, edisi Selasa 2 Maret 2010. Saya geli ketika seorang tokoh yang sangat terkenal di Indonesia, sangat fenomenal, mendiskon usianya. Diskonnya hampir 10 tahun. Orang yang pernah membaca riwayat hidupnya dan konteks cerita yang dia tulis pasti tertawa dalam hati.

Hehehe.... Diskon umur kok banyak banget? Takut tua ya, Bang?

Pekan lalu, juga di koran, ada seorang perempuan dosen, sering masuk koran di Surabaya, juga memotong usinya. Diskon besar-besaran. Mudah-mudahan si wartawan salah tulis. "Ning, umure sampean kok nom banget? Apa gak keliru tulis nang koran? Hehehe...," goda saya.

Benar saja. Orang pintar ini bilang wartawan salah kutip. Di Indonesia, orang paling mudah menyalahkan wartawan ketika ucapan atau datanya disanggah di media massa. Apalagi, si wartawan pun jarang merekam suara untuk sumber-sumber yang dianggap tidak berisiko. Lain dengan pernyataan kepala negara atau pejabat yang lazimnya direkam.

Yah, umur memang urusan sensitif, khususnya kaum perempuan, khususnya lagi yang belum menikah meski sudah matang. Akhir-akhir ini, ketika industri hiburan dan jejaring sosial, begitu marak kaum adam pun ikut peka umur. Maka, jangan sekali-kali engkau menanyakan umur, khususnya kepada perempuan, pada awal wawancara. Tunggulah setelah ngobrol panjang lebar dan mau pamit pulang. Itu pun tak ada jaminan si sumber mau kasih tahu usianya.

"Tahun lahir? Wah, gak usah ditulis. Malu ah, aku sudah tua," ujar seorang perempuan kepada saya belum lama ini. Tanggal dan bulan lahir boleh ditulis. Dalam dua bulan terakhir, ada empat sumber, tokoh cukup penting, yang mati-matian merahasiakan tahun kelahirannya.

Seorang pengarang yang baru meluncurkan buku di Surabaya pun tidak mau mencantumkan tahun lahirnya di biodata. Susah! "Pokoke, ojo nyebut-nyebut umur. Iku SARA," kata seorang kenalan yang kerap muncul di media massa. Wuih, umur kok disamakan dengan SARA: suku, agama, ras, antargolongan.

Rocker terkenal, mendiang Ucok AKA Harahap, pun semasa hidupnya kerap "memanipulasi" usianya. Tiap tahun usianya bukannya bertambah banyak, tapi justru makin muda. Setelah telisik lebih jauh, ternyata ini ada kaitan dengan kebiasaan Ucok yang suka kawin. Hehehe....

Ketemu perempuan cantik, si Ucok selalu bilang usianya baru sekian. Maka, ketika meninggal di RS Darmo Surabaya, 3 Desember 2009, usia almarhum Ucok AKA ada beberapa versi. Tergantung istri yang mana. Ucok AKA menikah (resmi) sembilan kali, belum yang tidak resmi. Istri paling muda tentu bilang Ucok masih muda, sementara istri yang tua punya versi usia Ucok yang jauh lebih tua.

Maya Rumatir, bekas penyanyi yang kini pengusaha dan pengelola lembaga pendidikan, termasuk salah satu dari "sedikit" selebriti yang jujur soal umur. Maya ini, karena sering mengisi kebaktian kebangunan rohani di kalangan umat Kristen Protestan atau Katolik, selalu mengutip Alkitab tentang pentingnya kita mensyukuri anugerah Tuhan. Sang Pencipta telah memberikan usia kepada kita, dan kita wajib bersyukur dan memuji Dia.

"Setiap detik dalam hidupku, setiap tarikan napasku, tak pernah lepas dari kuasa Tuhan. Saya bersyukur Tuhan telah memberikan usia yang dewasa kepada saya," kata Maya Rumantir dalam sebuah seminar di kampus Universitas Katolik Widya Mandala di Jalan Dinoyo Surabaya.

Waktu itu Maya ditanya mengapa di usia menjelang 40 kok belum punya suami. Apa tidak takut jadi, maaf, perawan tua? "Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan. Saya bukan tipe orang yang merahasiakan umur. Tolong dicatat baik-baik tanggal, bulan, dan tahun kelahiran saya," ujar Maya Rumantir.

Bagi Maya Rumantir, lagi-lagi mengutip kitab suci, usia lanjut merupakan berkat yang luar biasa dari Allah. Tidak semua orang dianugerahi usia panjang. Begitu banyak manusia-manusia di dunia yang meninggal justru di usia remaja, anak-anak, bahkan balita. Bahkan, meninggal sebelum sempat dilahirkan ke dunia ini.

Banyak pula artis, atau orang biasa, yang meninggal sebelum usia 30 karena kecanduan narkoba, penyakit, kecelakaan, bencana alam, dan sebagainya.

"Kita boleh bersyukur karena Tuhan masih memberikan usia kepada kita," begitu khotbah Maya Rumatir yang bukan pendeta itu. Kemudian penyanyi lawas ini melantunkan beberapa lagu pujian kepada Tuhan, Sang Pemberi Umur.

01 March 2010

Bu Nanik Penggerak Jemaat



Senin siang, 1 Maret 2010, saya mampir ke rumah Nanik Indrawati di Desa Sidorono, Krian, Sidoarjo. Beberapa waktu lalu wajah Nanik sering masuk koran dan televisi gara-gara putrinya, Herlina, di Malaysia. Herlina divonis hukuman mati karena didakwa membunuh majikan perempuannya.

Setelah ditinjau kembali, ternyata Herlina melakukan itu karena membela diri. Justru si Herlina yang disiksa lebih dulu. Singkat kata, Herlina akhirnya dikeluarkan dari penjara. Kembali ke rumah orang tuanya di Krian. Nanik beberapa kali ke Malaysia untuk mengurus kasus Herlina.

Nanik sangat percaya bahwa bebasnya Herlina dari hukuman gantung semata-mata karena anugerah Tuhan. Jemaat sebuah gereja beraliran karismatik ini bahkan mengaku sudah "diberi tahu Tuhan" lebih dulu bahwa Herlina akan pulang.

"Karena saya tidak henti-hentinya berdoa. Ingat, doa itu besar kuasanya lho," ujar Bu Nanik kepada saya, persis kata-kata pendeta. "Kita sering terlalu sibuk kerja, cari uang, cari hiburan, lupa berdoa. Lupa sama Tuhan. Bahaya lho karena Tuhan selalu memperhatikan kita."

Saya diam saja menyimak kata-kata Bu Nanik. Apa yang dikatakannya memang benar adanya. Apalagi, dia telah membuktikan bahwa berkat doanya, permintaan yang tanpa henti kepada Tuhan, membuahkan hasil luar biasa. Herlina Trisnawati, yang tinggal menunggu hari eksekusi, akhirnya selamat dari tiang gantungan.

Bu Nanik Indrawati termasuk penganut Kristen "kemarin sore". Dibaptis tahun 2004. Dia juga baru belajar membaca Alkitab, menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan ala gereja karismatik. Namun, semangatnya menggebu-gebu dalam bersaksi tentang kuasa Allah. Ketika saya menyanyi lagu pop lawas di rumahnya, Bu Nanik kontan menegur.

"Itu nyanyiannya orang dunia. Lagu itu tidak akan menolong kita lebih dekat dengan Tuhan. Saya sudah lama nggak dengar lagu-lagu kayak gitu," tegurnya. Saya tertawa kecil.

"Bagaimana kalau lagunya Meriam Bellina?"

"Meriam Bellina masih mendingan. Dia ada bikin album rohani," jawab Bu Nanik sembari menyenandungkan lagu Indah Rencana-MU yang memang terkenal di kalangan jemaat Kristen. "Tapi lagu-lagu cinta, ya, jangan dong. Kita harus cari sangu, bekal, untuk menuju ke surga."

Wah, wah, wah....

Bukan main ibu yang sederhana ini. Setelah beroleh mukjizat dalam kasus Herlina -- dia selalu menyebut kata "mukjizat" -- semangat beribadahnya meningkat drastis. Persekutuan doa rutin digelar di rumahnya. Padahal, anak-anaknya, termasuk Herlina, beragama Islam. Tiap minggu ikut pelayanan rohani di Keputih, Surabaya. Ikut sekolah melayani. Jadi koordinator jemaat. Jadi penyalur bantuan sosial. Dan banyak lagi.

"Sekarang kegiatan saya selalu untuk Kerajaan Allah. Tuhan sudah begitu baik kepada saya dan keluarga," katanya, lagi-lagi dalam gaya evangelis.

"Bagaimana dengan nafkah sehari-hari? Kita kan tidak bisa hidup hanya dari berdoa, berdoa, dan pelayanan rohani?" pancing saya.

"Suami saya kan kerja. Saya juga masih bisa cari uanglah. Berkat Tuhan itu ada saja," katanya. Ohhh....

Apa kegiatan terbaru Bu Nanik?

Dia mengaku lagi menggerakkan orang-orang Kristen di Krian dan sekitarnya yang malas. Mereka bukanlah jemaat "kemarin sore" macam Nanik. Bahkan, sudah turun-temurun jadi Kristen. Tapi jarang sekali mereka mau menyisihkan waktu untuk ke gereja setiap hari Minggu. Nanik kemudian mengusahakan kendaraan antarjemput bagi mereka.

"Itu masih banyak yang lesu. Saya sampai heran, orang Kristen kok gak punya semangat doa ya? Kok gak bersyukur sudah dikasih berkat oleh Tuhan, diberi perlindungan, dan sebagainya. Pusing aku!" tegasnya.

"Sing sabar Bu!" kata saya. "Siapa tahu mereka punya ganjalan dengan gereja atau pendeta, atau dengan sampean sendiri? Orang-orang sini kan sensitif."

Bu Nanik terdiam sejenak. Sementara cucunya sibuk bermain kapal-kapalan di atas meja. "Yah, memang ada masalah. Mudah-mudahan ganjalan-ganjalan kayak gini segera diselesaikan. Mudah-mudahan Tuhan akan memberikan jalan keluar."

Saya kemudian minta diri setelah menghabiskan segelas air putih dan beberapa buah manggis. Di perjalanan, kata-kata Bu Nanik selalu terngiang. Saya juga kagum dengan iman dan semangat pelayanan Bu Nanik yang luar biasa.

Gereja sering kali mengabaikan orang-orang kecil, lugu, sederhana, polos, apa adanya macam Bu Nanik. "Saya motret sampean dulu ya?" tanya saya.

"Nggak usah! Nanti masuk koran lagi. Aku gak mau masuk koran kayak kemarin. Nanti ramai lagi!" tegasnya.

Yo wis... Kalo gitu masuk blog ajalah. Haleluya! Hehehe...