26 February 2010

Sholeh PRD, Apa Lagi?



Apa yang sedang dicari Muhammad Sholeh?
Jabatan, kuasa, popularitas, uang?


Sejak beberapa bulan terakhir poster arek Krian, Sidoarjo, ini terlihat di mana-mana. Bahkan, poster Sholeh PRD, nama bekennya, sudah dipasang sejak pemilihan umum legislatif tahun lalu.

Sholeh memang gagal jadi wakil rakyat karena dicoret Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Tapi pada saat yang sama nama Sholeh melambung. Bekas pejabat Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang sempat dipenjara di Kalisosok oleh Orde Baru ini, berhasil membuat sejarah. Gugatannya diterima Mahkamah Konstitusi (MK).

MK akhirnya membatalkan ketentuan bahwa anggota parlemen terpilih ditentukan berdasar nomor urut. Peraih suara terbanyaklah yang harus jadi. Sistem nomor topi dan nomor sepatu harus dikubur. Sholeh sukses, tapi dia tak bisa menikmati itu karena namanya keburu dicoret. Sholeh punya kontribusi besar pada proses demokrasi di Indonesia.

Setelah menang di MK, rupanya Sholeh yang pengacara ini merasa sudah pantas jadi pemimpin rakyat. Entah itu wali kota atau bupati. Tapi lewat partai apa? PDIP? Sholeh memang aktif di partai banteng gemuk, tapi orang muda ini, usianya baru 30-an, terlalu hijau untuk jadi wali kota Surabaya. Toh, Sholeh tetap Sholeh yang tak kenal kata menyerah.

Karena sudah punya uang banyak, setelah jadi pengacara, Sholeh rela keluar uang untuk beli poster, bikin baliho besar, promosi diri di jalan-jalan protokol. Dia berjuang lewat jalur independen atawa nonpartai. Sholeh optimistis bisa mengumpulkan sekitar 90.000 dukungan rakyat Surabaya yang dibuktikan dengan KTP. Tapi, bisa diterka, Sholeh gagal.

"Jalur independen terlalu berat bagi saya. Saya akui tidak bisa mengumpulkan KTP sekian banyak," kata Sholeh. Dia putus kuliah di Universitas Airlangga, tapi sukses jadi sarjana hukum setelah kuliah lagi, setelah keluar penjara, di Universitas Wijaya Kusuma.

Gagal di Surabaya, Sholeh kembali ke kampung halamannya: Sidoarjo. "Aku iki arek Krian asli. Yo, pantes dadi bupati Sidoarjo," katanya.

Maka, baliho-baliho besar pun dipasang di sejumlah ruas jalan protokol, tempat-tempat strategis, di Kabupaten Sidoarjo. "M. SHOLEH CALON BUPATI SIDOARJO. Arek Krian PASTI BISA!" Di atasnya ditulis "Pemenang Gugatan Suara Terbanyak di MK". Sholeh berpose macam kiai kampung: baju takwa, kopiah putih.

"Ojo lali, aku iki santre," akunya. Padahal, dulu rezim Orde Baru menuduhnya komunis karena jadi pengurus PRD, partainya anak-anak muda progresif beraliran kiri. Rezim Orde Baru memang senang sekali menuduh lawan-lawan politiknya dengan cap "komunis", "PKI", "organisasi terlarang", "ekstrem kiri", "ekstrem kanan", "organisasi tanpa bentuk".....

Hehehe....

Bisa-bisa saja kawan lama yang satu ini. DNA politiknya selalu menggebu-gebu. Penjara sama sekali tak membuatnya keder dalam berpolitik. Sholeh justru makin aktif melakukan gerakan politik "demi memperbaiki kehidupan bangsa dan negara".

Akankah Muhammad Sholeh sukses menjadi calon bupati Sidoarjo? Namanya diloloskan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo yang diketuai Anshory, bekas pengurus LBH Surabaya, yang dulu ikut membela Sholeh dan anak-anak PRD itu?

Hehehe.... Saya hanya ketawa-ketawa sendiri. Jangan terlalu serius menyikapi fenomena Sholeh, tapi juga jangan terlalu santai. Gerakan Sholeh selalu menggelitik, berani melawan arus, keluar dari kotak, sering dipandang remeh. Siapa yang pernah membayangkan Sholeh dimenangkan oleh MK?

Tadinya, sebagian besar komentator politik, yang biasa disebut "pengamat" itu, mencibir manuver politik Sholeh. Tapi kini semuanya salut sama Sholeh. Berapa banyak anggota DPR/DPRD sekarang yang jadi karena perolehan suaranya terbanyak? Ojo lali, itu antara lain karena jasanya si arek Krian, Sholeh.

Sebagai warga Sidoarjo, pemegang KTP Kecamatan Gedangan, saya tentu saja ikut gembira dengan munculnya Sholeh memeriahkan pemilukada Sidoarjo. Masa jabatan Pak Win Hendrarso habis pada Oktober mendatang. Harus ada wajah baru, segar, punya idealisme untuk mengelola kabupaten kita, Sidoarjo.

Dengan penduduk sekitar dua juta jiwa, berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, masyarakat yang kritis dan terus berkembang, Sidoarjo membutuhkan pemimpin yang cerdas, berani, punya visi jauh ke depan. Terlalu riskan Sidoarjo dikelola orang-orang yang tak punya akar di Sidoarjo dan hanya mengandalkan uang dan kekayaan belaka.

Sayang, Sholeh ini terlambat start dan terlalu asyik "bermain" di Surabaya. Kalkulasi politiknya ternyata masih melenceng juga. Setelah terpental di Kota Pahlawan, baru dia balik kucing, mengumumkan kepada masyarakat Sidoarjo bahwa dirinya "arek Krian".

Biasalah, orang kalau sudah kepepet, menemui jalan buntu, dia akan kembali ke kampung halamannya. Kawan Sholeh, selamat berjuang!

Wiwin Yulia Penyanyi Kafe



Terlalu banyak penyanyi di Surabaya dan Sidoarjo [Jawa Timur umumnya], tapi terlalu sedikit yang sukses di industri musik. Yang muncul di televisi hanya segelintir. Ratusan, bahkan ribuan penyanyi, setiap hari ngamen dari kafe ke kafe untuk cari duit. Juga mengisi hajatan di berbagai tempat.

Wiwin Yulia, gadis asli Surabaya, salah satunya. Suaranya lumayan enak. Bodi padat berisi. Cenderung gemuk karena banyak makan, kurang olahraga. Wiwin mengaku penyanyi freelanche yang siap diundang ke mana saja. "Mau nyanyi lagu apa saja saya bisa," katanya.

Lagu-lagu baru, agak lawas, lawas banget, Barat, pop, rock, apalagi dangdut, urusan kecil untuk Wiwin Yulia. Biasanya dia berpasangan dengan Hadi, pemain kibod, yang siap mengiringi vokalnya. "Nggak pakai latihan. Nyanyi itu gampang kok," tuturnya kepada saya.

Selama tujuh tahun Wiwin mengais rezeki dengan "menjual" suara. Panitia membayar sekian, kemudian penonton siap-siap kasih saweran. Makin banyak saweran, makin senanglah penyanyi-penyanyi ngamen macam si Wiwin Yulia ini. Makin banyak hadirin yang joget, goyang bersama, tambah senanglah dia.

Para penonton di Surabaya atau Sidoarjo biasanya doyan nyanyi, khususnya dangdut atau pop lawas. Wiwin pun gembira karena dia bisa mengistirahatkan pita suaranya. Apalagi, si penonton itu suaranya bagus, bahkan bekas penyanyi. "Tapi saya atur biar orang tidak bosan. Bagaimanapun panitia itu kan nanggap aku," kata gadis bersuara serak-serak basah ini.

Malam itu (24/2/2010), saya dan teman-teman larut berjoget bersama diiringi Wiwin Yulia. Lagunya macam-macam: Zahara, Kuda Lumping, Kucing Garong, Tamasya di Monas... dangdut populer. Makin malam makin panas meski tak ada "minuman penghangat". Keringat mulai bercucuran, tapi semangat tak jua kendor.

Wiwin yang sempat lesu darah, karena sebelumnya jarang ada penonton yang mau joget, tambah genit saja. "Kuda lumping, kuda lumping, kuda lumping...," nyanyi si Wiwin.

"Gak katokan!!!!" jawab komunitas joget, suara tinggi.

"Yang kumis, yang kumis, yang kumis...."

"Gak katokan!!!!"

"Penyanyinya, penyanyinya, penyanyinya..."

"Gak katokan!!!!"

Hehehe... Juancuk!

Sudah tiga kali kami memperpanjang "masa kontrak" Wiwin dengan saweran. Badan pun lemas. Pita suara Wiwin sendiri rupanya sudah kepanasan. Maka, acara joget bersama, pesta tumpengan, makan kue tar, berakhir sampai di sini. Saya sempat melihat sendiri Wiwin membagi-bagi hasil nyawer kepada krunya. "Lumayan, Mas," katanya.


MAU NANGGAP WIWIN?

081 33045 8878
081 70336 8878

24 February 2010

Priyo Aljabar Raja Cangkrukan




Oleh LAMBERTUS HUREK

Cangkrukan di THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya itu asyik. Makanan minumannya murah, harga kelas ekonomi, suasananya enak. Kita juga bisa bertemu banyak seniman tradisional, khususnya pelawak-pelawak Srimulat, yang suka bicara ceplas-ceplos. Dulu, tahun 1970-an, 1980-an, bahkan 1990-an, pelawak-pelawak ini selalu nongol di TVRI. Terkenal bukan main.


Tapi, mengutip kata-kata Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo, roda dunia terus berputar. Sekarang pelawak-pelawak senior, anggota Srimulat, ini kembali lagi jadi orang biasa. Banyak yang sambat (mengeluh) kurang tanggapan, tak punya uang, tak bisa lagi menikmati 'kemewahan' seperti 20-an tahun lalu. Penampilan bintang-bintang radio dan televisi masa lalu ini sekarang tak jauh berbeda dengan orang biasa.

Bahkan, saya dengar banyak artis tempo doeloe, termasuk pelawak-pelawak top, yang harus mengurus kartu gakin, keluarga miskin. Hidup terlunta-lunta di masa tua. Tak mampu lagi membiayai istri kedua atau ketiga. Hehehe....

Ingat, Gesang bilang roda dunia terus berputar, Bung!

Senin, 21 Februari 2010.

Saya cangkrukan di warung kopi milik Agus Minto. Dia pemimpin Srimulat, grup lawak, pabrik tawa khas Surabaya, yang dulu terkenal luar biasa. Ada pelawak Eko Londo alias Eko Tralala yang bicara panjang lebar tentang nasib seniman-seniman lawas. Job sepi, tidak pernah main, lantas dapat uang dari mana?

Eko Londo punya potongan kayak orang Eropa, khususnya Belanda. Rambut jagung, hidung mancung, bulunya banyak, bodi atletis. Di usia yang tak lagi muda, ayah enam anak ini tak punya masalah obesitas. Orang Surabaya sangat kenal si Londo ini karena dia punya program di JTV, televisi lokal milik Grup Jawa Pos. Eko dikasih job oleh JTV untuk memperkenalkan gedung-gedung tua di Surabaya dengan cara pelawak. Orang pasti ketawa-ketawa melihat gaya Eko yang urakan. Huahuahua.....

Nah, sambil cangkrukan mendengar wejangan Eko Londo, tiba-tiba datang Lutfi Galajapo. Kemudian muncul PRIYO ALJABAR. Cak Lutfi dan Cak Priyo pelawak terkenal anggota Grup Galajapo. Lutfi tak banyak bicara, tapi bahasa tubuhnya saja bikin orang tertawa sampai teler. Lutfi ikon Galajapo.

Lain lagi si Priyo Aljabar. Bicaranya banyak, kayak pakar tata kota atau sosial politik di seminar-seminar, piawai menata kalimat, blak-blakan bicara Suroboyoan. Kata-kata bahasa Jawa ngaka, yang dianggap kasar di kawasan Mataraman atau Jawa Tengah atau Jogjakarta, jadi makanan sehari-hari si Priyo. Sebut saja: cangkem, rai.... juancuk, guoblok, wuelek polll....

Dibandingkan Eko Londo atau Lutfi, Cak Priyo Aljabar sekarang jauh lebih terkenal di Surabaya dan Jawa Timur. Bagaimana tidak. Dia jadi host CANGKRUKAN, program talkshow atawa bintang-bincang gaya wong kampung yang menjadi unggulan JTV. Berkat CANGKRUKAN, televisi lokal macam JTV mampu bersaing dengan televisi-televisi nasional yang cenderung hanya menyebarkan virus sinetron, gosip artis, hedonisme, serta hegemoni bahasa Melayu-Betawi (Jakarta).

Cak Priyo dengan CANGKRUKAN-nya sedikit banyak mampu meredam hegemoni Jakarta ini meskipun tetap saja tidak mudah. Kalau Andy Flores Noya terkenal dengan KICK ANDY di Metro TV, yang memang bagus dan dahsyat, alhamdulillah, di Jawa Timur kita layak bangga punya Priyo Aljabar. Andy Noya dan Priyo Aljabar punya keunikan. Keduanya berani tampil beda, apa adanya. Dan itulah yang membuat program mereka di televisi bertahan begitu lama.

Ada perbedaan mendasar KICK ANDY dan CANGKRUKAN.

Suasana elegan, kayak ballroom hotel bintang lima, terasa di KICK ANDY. Kemasannya untuk kelas menengah atas. Banyak memang narasumber wong cilik seperti pembuat kaki palsu, guru fisika dari Malang, tukang sampah, Mama Putih (suster Jerman yang kerja di Flores).... Tapi orang-orang kecil tampak gamang ketika berada di "ruang interogasi" Andy Noya.

Suasana di CANGKRUKAN terbalik. Narasumber dikondisikan sedang cangkrukan di warung-warung sederhana kayak di THR atau di kampung-kampung Jawa Timur. Ngopi, makan pisang goreng, jajanan sederhana, sambil ngobrol santai dengan bahasa wong kampung, bahasa rakyat jelata. Maka, kata-kata pisuan khas wong cilik di Surabaya macam JUANCUK, JUANGKREK, MATAMU, CANGKEMMU... menjadi wajar dan biasa.

Dan penonton televisi di rumah ikut senang, tertawa-tawa sendiri. "Juancuk, iso ae Cak Priyo iku! Hehehe," kata beberapa kenalan di kawasan Aloha, Gedangan, Sidoarjo. Melihat CANGKRUKAN-nya Cak Priyo, kita-kita yang tinggal di perkampungan, bukan priyayi, atau yang sok priyayi, ibarat melihat potret diri. Kita seakan menertawakan diri sendiri.

Dan itulah humor yang benar: menertawakan diri sendiri, bukan menertawakan orang atau kelompok lain!

Andy Noya berlatar belakang wartawan majalah TEMPO. Setelah TEMPO dibredel, dia "dipekerjakan" di Media Indonesia, khususnya edisi Minggu. Surya Paloh, bos Media Indonesia, menginginkan agar koran Media Indonesia edisi hari Minggu digarap dengan gaya TEMPO: enak dibaca, renyah, menarik, tak bikin kening berkerut.

Andy Noya, selain kerja di TEMPO, juga mengasuh program talkshow di Radio Trijaya FM yang juga direlai Radio SCFM Surabaya. Jadi, Andy Noya yang keriting, tak tidak mau di-rebonding itu, seorang pewawancara ulung. Wartawan sejati. Dia punya bakat humor kering. Dan humor macam ini hanya bisa dirasakan orang-orang yang punya cukup kecerdasan.

Humoris kering, kata beberapa pakar humor, mampu membuat orang ketawa, meski tidak ngakak, sementara si pelempar joke sendiri tidak ikut ketawa. Contoh paling gampang: Mister Bean! Atau joke-joke di film Hollywood.

Lawan humor kering adalah lawakan-lawakan slapstick ala Warkop DKI, Srimulat, pelawak-pelawak tradisional, pemain ludruk, atau ketoprak. Mereka suka main kasar, misal, melempar kue tar di wajah teman main, menempeleng, menjatuhkan majikan dari kursi, memecat juragan, dan seterusnya.

Nah, si Priyo Aljabar ini, menurut saya, mampu bermain di dua kaki. Kadang Srimulatan, kasar, misuh-misuh, urakan... ala ludruk. Tapi dengan cepat dia juga menyodorkan sentilan-sentilan halus yang bikin kalangan well informed tertawa dalam hati. Guyonan keringnya masuk. Politisi-politisi yang ambisius, pejabat-pejabat yang bilangnya peduli rakyat, dibuat geleng-geleng kepala.

Wuedan tenan Cak Priyo!




Cak Priyo bersama teman-teman pelawaknya: Lutfi Galajapo, Eko Londo, Agus Minto.


Andy F. Noya beruntung mendapat narasumber, objek wawancara, yang rata-rata sangat menarik. KICK ANDY punya tim khusus untuk mensurvei siapa-siapa yang layak masuk KICK ANDY. Pertimbangan jurnalisme, prinsip-prinsip nilai berita, diperhatikan betul. Maka, sumber yang sudah bagus ini, tinggal dipandu Andy menjadi talkshow yang ditunggu banyak pemirsa Metro TV.

Orang pasti penasaran dengan Susno Duadji, BJ Habibie, Prabowo, Megawati, atau Iwan Fals. Sehebat-hebatnya Andy Noya, dia toh tetaplah pewawancara, pemandu acara. Bintangnya tetap si narasumber yang memenuhi lima atau tujuh elemen nilai berita itu.

Andai kata narasumber KICK ANDY tidak kuat, tidak menarik, maka habislah KICK ANDY! Di sinilah tantangan bagi manajemen KICK ANDY untuk "menemukan" orang-orang yang menarik yang tersebar di seluruh Indonesia.

CANGKRUKAN di JTV setiap Minggu malam kontras dengan KICK ANDY. Para pembicara alias narasumber -- biasanya tiga sampai lima -- bukanlah orang yang masuk kategori sangat menarik. Bukan NAME MAKES NEWS. Banyak narasumber memang dari kalangan pejabat seperti bupati, wali kota, DPRD, kepala dinas, pengusaha, ketua organisasi, politisi, calon bupati/wali kota (dan wakilnya), akademisi, pengamat lokal.

Siapa sih yang kenal Adies Kadir? Direktur PDAM kabupaten tertentu? Pemimpin partai atau ketua dewan di kabupaten/kota tertentu? Aktivis serikat buruh? Yah, sesuai filosofinya, CANGKRUKAN menjadi ajang cangkrukan, ngerumpi, orang-orang biasa di warkop. Kalaupun dia pejabat, ya, harus menyesuaikan diri dengan wong cilik di kampung-kampung.

Lantas, apa yang membuat CANGKRUKAN mampu bertahan di JTV selama tujuh tahun?

Jawabnya jelas: karena Priyo Aljabar!

Bintang utama program talkshow itu tetap di Cak Priyo. Orangnya polos, sarungan, pakai kopiah ala wong ndeso, blak-blakan, tapi juga kritis dan bikin kaget narasumber dengan "serangan" halusnya. Siapa pun narasumber yang bicara CANGKRUKAN tetap saja menarik karena... Cak Priyo.

"Cak Priyo iku ngangeni. Bikin kangen orang. Dia ngerti betul ilmu komunikasi meskipun mungkin dia tidak pernah kuliah di jurusan komunikasi," kata seorang wartawan senior kepada saya.

Mas Sugeng, wartawan senior ini, tak pernah melewatkan malam Seninnya dengan memirsa acara CANGKRUKAN di JTV. Cak Priyo dinilai punya kemampuan mewawancarai narasumber yang luar biasa. Semua narasumber rasanya merasa nyaman berada di forum CANGKRUKAN. Tidak merasa diadili atau tersinggung ketika diwawancarai Cak Priyo.

Salah satu tip yang diberikan International Center for Journalists kepada wartawan di seluruh dunia:

DON'T RUSH YOUR SOURCE! It is important to establish a polite rapport and a level of comfort for the interviewee.

Cak Priyo mungkin belum membaca nasihat ICJ ini. Namun, selama tujuh tahun menggawangi CANGKRUKAN, dia mampu mempraktikkannya dengan baik. Nggak gampang lho membuat narasumber merasa nyaman diwawancarai, khususnya orang-orang yang sedang bermasalah. "Sekasar-kasarnya" gaya bahasa Cak Priyo, dia terlihat selalu respek dengan narasumbernya.

Catatan lain buat Cak Priyo adalah kemampuannya dalam menyederhanakan persoalan. Hal-hal yang jelimet, istilah ndakik-ndakik, sok intelekual, kata-kata sulit dengan bahasa sederhana. Bahasa yang dimengerti masyarakat umum. Bukan bahasa elitis, penuh jargon, yang kerap kali hanya menutup-nutupi kebohongan.

Pekan lalu, Hermawan Kartajaya menulis di Jawa Pos dan Radar Surabaya tentang pentingnya kesederhanaan. Kalau bisa dibuat gampang, kenapa harus dipersulit? Hermawan, pakar manajemen asli Surabaya ini, mengutip Kehnichi Ohmae yang menyebutkan:

Please simplify the complex thing, do not complicate the simple thing!

Sederhanakan hal yang ruwet! Jangan bikin ruwet hal yang sederhana!

Satu lagi keunggulan Cak Priyo sebagai pemandu talkshow dibandingkan host-host program televisi sejenis macam Andy Noya (Metro TV), Rosianna Silalahi (Global TV), Indy Rahmawati (TVOne), Karni Ilyas (TVOne), atau Slamet Rahardjo (TVRI) adalah profesi Cak Priyo sebagai komedian alias pelawak. Narasumber senyam-senyum saja meski mungkin celetukan Cak Priyo kena di hati. Ah, namanya aja pelawak!

"Dulur, ojo sampek pindah channel! Tetep nang CANGKRUKAN!"

Gak ono koen, gak rame!!!!

Irama Budaya Pindah ke THR




Setelah nobong di berbagai lokasi selama 23 tahun, Ludruk Irama Budaya akhirnya mendapat ‘kandang’ baru di Taman Hiburan Rakyat (THR). Mulai 4 Maret 2010, Ludruk Irama Budaya akan memulai fase barunya di THR.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Sejak tiga pekan terakhir Zakia stand by di kompleks THR Surabaya. Siang-malam waria bernama asli Sunaryo ini sibuk menata salah satu gedung pertunjukan di samping paseban, dekat Gedung Srimulat. Gedung lama ini memang mangkrak setelah ditinggal salah satu komunitas bela diri asal daratan Tiongkok.

“Saya dan teman-teman harus kerja keras bikin panggung, dekorasi, pasang tempat duduk, lighting, dan sebagainya. Capek sih capek, tapi saya bersyukur banget sama pemkot. Akhirnya, kami diberi kandang,” ujar Zakia yang saya temui di dalam gedung itu, Selasa (22/2/2010) siang.

Zakia Sunaryo, 55 tahun, begitu nama lengkap waria asli Ploso Gang III Surabaya, adalah seniman sejati yang juga pemimpin Ludruk Irama Budaya. Setelah mendapat izin dari Pemerintah Kota Surabaya untuk menempati gedung kosong itu, Zakia langsung bergerak cepat. Menjebol tabungan, cari pinjaman kiri-kanan, minta sumbangan... agar gedung baru ini bisa segera dimanfaatkan.

“Alhamdulillah, Ludruk Irama Budaya akhirnya dapat kandang. Wong ayam aja punya kandang, tempat berteduh setelah cari makan di mana-mana, mosok grup ludruk kayak Irama Budaya tidak punya kandang,” ujarnya. Zakia mengaku sudah habis Rp 15 juta untuk membenahi markas barunya ini.

Setelah selamatan pada 3 Maret 2010, disusul pentas perdana sehari kemudian, Zakia bertekad menggelar pertunjukan ludruk setiap malam di THR. Para pemain Irama Budaya yang 60 orang itu diboyong ke markas baru di belakang gedung. “Yang di Joyoboyo juga tetap main, cuma malam Minggu saja. Sebab, kami masih punya kontrak sampai akhir bulan Juli,” tuturnya.

Para penggemar ludruk yang sejak 1987 menikmati cerita dan banyolan khas Irama Budaya di Joyoboyo sudah lama dikondisikan bahwa grup kebanggaannya segera hijrah ke THR. Apalagi, gedung darurat untuk nobong di dekat Terminal Joyoboyo itu akan dikembalikan kepada si empunya.

“Jujur, selama ini saya pusing karena terlalu banyak masalah. Kontrak Rp 8 juta, listrik, air, makanan teman-teman, dan sebagainya,” tukas Zakia yang hanya jebolan kelas dua sekolah dasar ini.

Meski dipercaya mengelola gedung ludruk oleh UPDT THR, Zakia menegaskan, Irama Budaya tak akan memonopoli gedung itu. Pemain-pemain ludruk dari grup lain, bahkan kota-kota lain, dipersilakan berekspresi di sini. Bukan itu saja. Zakia yang merasa sudah sepuh punya beban moral untuk melakukan regenerasi peludruk. Mencetak pemain-pemain ludruk baru dari kalangan anak-anak muda.

“Saya namakan Ludruk Generasi. Mereka-mereka itu yang akan melestarikan ludruk. Insya Allah, ludruk tetap akan bertahan di Surabaya meskipun kondisinya tidak sebagus zaman dulu,” tegasnya.

Sekitar tiga tahun lalu, diam-diam, Zakia dan kawan-kawan menggelar lomba ludruk remaja se-Jawa Timur. Ada belasan grup ludruk yang dinilai layak diberi kesempatan untuk unjuk kebolehan di atas panggung. Mereka juga akan berkolaborasi dengan pemain-pemain senior atau bintang tamu tertentu.

“Nah, nanti setiap malam grup ludruk generasi ini main secara bergiliran. Woro-woronya ditulis di sini,” kata Zakia sambil memamerkan papan pengumuman yang baru dibuatnya di depan gedung.




Lain di THR, lain lagi di Joyoboyo. Suasana di markas tobong Irama Budaya terasa lesu darah. Gedung pertunjukan sekaligus tempat tinggal 60-an pemain ludruk terkenal itu pengap, gelap, jorok, dan acak-acakan.

Siang itu, beberapa peludruk bahkan belum sempat mandi pagi. “Malam ini nggak ada pertunjukan. Terakhir, kami main malam Minggu (20/2/2010) kemarin dengan judul Arwah Gentayangan. Pentas saban malam gak ada lagi,” ujar Cak Mondro (60) sambil merangkul kawannya yang waria. Seniman-seniman lain tertawa menyaksikan ulah Cak Mondro yang memang menggelikan.

Laki-laki kelahiran 12 April 1949 ini sudah makan asam garamnya ludruk dan teater tradisional umumnya. Sejak 1967 dia sudah ikut main ludruk, nobong ke sana kemari, mengalami jatuh-bangunnya ludruk. Dia menemukan jodoh, ya, berkat ludruk juga. “Saya menikah tiga kali. Sudah cukuplah,” akunya.

Sejak pamor ludruk merosot medio 1990-an, kemudian hancur pasca-2000, pemain-pemain ludruk macam Mondro ini kelimpungan. Mau kerja di tempat lain tidak mudah karena tak punya modal dan keterampilan. Pendidikan pun pas-pasan karena kebanyakan putus sekolah demi menyalurkan hobi berkesenian.

“Jadi, boleh dikatakan, saya dan teman-teman sekarang kelimpungan. Sekitar 90 persen menganggur,” katanya.

Apakah setelah boyongan ke THR bulan depan, kesenian khas Surabaya ini kembali diminati masyarakat? Cak Mondro terdiam lalu tersenyum kecut. “Mudah-mudahan saja sukses. Itu harapan kami semua di sini,” jawab Cak Mondro perlahan.

Kalau Cak Mondro terkesan ragu-ragu, sang juragan Irama Budaya, Zakia Sunaryo, justru sangat optimistis. Gedung baru (tapi lama) di THR, yang selalu disebutnya ‘kandang ludruk’, bakal membawa berkah bagi Irama Budaya maupun dunia ludruk umumnya. Alasannya sederhana saja: Irama Budaya sudah punya komunitas penggemar yang sangat fanatik.

"Buktinya, kami nobong di mana saja, mulai di Joyoboyo, Kremil, Moroseneng, Jarak, kembali lagi ke Joyoboyo, ya, tetap saja diikuti orang. Nanti pindah ke THR, insya Allah, penggemar kami akan datang juga," tandas Zakia.

Akankah optmisme Zakia menjadi kenyataan? Dan kompleks THR yang semakin sepi dari aktivitas kesenian bergairah kembali? Kita serahkan saja pada sang waktu.

23 February 2010

Srimulat Riwayatmu Kini



CANGKRUKAN WARKOP: Lutfi, Priyo Aljabar, Eko Londo, Agus Minto.


Pelawak senior bertampang Belanda, Eko Londo (52), duduk santai sambil menikmati kopi susu bersama seorang pegawai UPTD Taman Hiburan Rakyat, Selasa (22/2/2010). Nada bicaranya tinggi, meledak-ledak, meski sesekali ditingkahi tawa berderai. Si pegawai ikut menimpali.

Sementara itu, Agus Minto melayani beberapa pengunjung warung kopi di kompleks THR itu. "Kamu tahu nggak? Agus Minto itu sekarang pimpinannya Srimulat. Tapi sekarang dia jadi tukang warung," kata Eko Untoro Kurniawan, nama asli Eko Londo alias Eko Tralala.

Eko sendiri bergabung di Srimulat sejak 1984. Dan bersama grup lawak yang pernah berjaya pada era 1970-an dan 1980-an itu, nama Eko Londo pun dikenal publik sebagai hebat. Ayah enam anak itu sudah pernah ditanggap ke sejumlah negara seperti Belanda, Suriname, atau Hongkong. Namun, itu semua masa lalu.

Sekarang, menurut dia, Srimulat hanya tinggal nama besar yang sering dibahas di buku-buku, surat kabar, atau jadi bahan skripsi dan disertasi. Sebab, 60-an pemainnya sekarang ini luntang-lantung, bekerja apa saja asal halal. Agus Minto jadi penjual kopi, nasi bungkus, mi, dan makanan kecil.

"Saya sih masih punya job di JTV sebagai presenter. Tapi teman-teman yang lain? Kami ini sebenarnya bisa main kapan saja. Nggak usah latihan segala karena jam terbang kami sudah tinggi. Tapi siapa yang nonton?” ujarnya.

“Tolong pemerintah daerah itu, pengusaha-pengusaha, kalau punya hajatan mbok nanggap pelawak-pelawak kayak Srimulat ini dong!" tambah pria kelahiran Surabaya 24 Agustus 19547 ini.

Agus Minto membenarkan kata-kata Eko Londo, rekannya di Srimulat. Menurut Agus, Srimulat sudah lama sekali vakum dari pementasan rutin meskipun punya gedung sendiri di THR. Kalaupun mentas, animo masyarakat untuk menyaksikan kesenian tradisional ini sangat rendah. Karena itu, pihaknya hanya bisa menunggu tanggapan atau job dari pemerintah atawa pengusaha.

"Tapi job ini pun nggak datang-datang," aku Agus Minto yang cenderung pendiam dan santun ini. Bulan depan Srimulat baru akan naik pentas lagi. Itu pun belum pasti karena masih harus melihat situasi dan kondisi dulu.

Sambil asyik ngobrol sambil ngopi, tiba-tiba dua pelawak anggota Galajapo datang bergabung. "Dia itu sudah jadi politikus. Porsi pelawaknya sudah sedikit," kata Eko Londo memperkenalkan Priyo Aljabar.

Pengasuh acara Cangkrukan di JTV Surabaya itu datang bersama Lutfi Galajapo. "Hahaha.... Cangkemmu!" tukas Priyo Aljabar dalam gaya khasnya yang ceplas-ceplos dan 'urakan'.

Lantas, pembicaraan mulai serius tentang nasib pelawak-pelawak Srimulat yang kebanyakan sepi job di usia senja.

Priyo meminta agar rekan-rekannya di Srimulat mau memanfaatkan potensi diri. Di era industri televisi yang makin berkembang saat ini, menurut dia, sejatinya banyak peluang yang bisa diambil para pelawak di Jawa Timur.

Contohnya Priyo sendiri. Sudah tujuh tahun ini dia mengasuh Cangkrukan, program bincang-bincang Jawa Timuran unggulan JTV. Eko Londo sendiri sudah jadi presenter yang memperkenalkan gedung-gedung tua di Surabaya.

"Eko itu unik lho. Potongannya sudah kayak Londo, nggak perlu macak, sudah beda. Seharusnya dia sudah jadi orang yang jauh lebih hebat ketimbang sekarang ini," ujar Priyo. Kali ini nadanya serius.

Di mata Eko Londo, kondisi Srimulat sekarang ibarat kerakap di atas batu: hidup segan, mati tak mau. Pemain-pemain yang 60-an orang itu umumnya hidup senen-kemis. Didik Mangkuprojo, yang dulu pelawak top, kini hidup sengsara. Begitu pula nama-nama beken yang pernah beken di era 1980-an. Maka, menurut Eko, pemerintah daerah entah Pemprov Jatim atau Pemkot Surabaya harus segera turun tangan untuk menyelamatkan Srimulat.

"Kamu bayangkan saja. Sekali main dibayar Rp 150.000, bahkan ada yang Rp 100.000. Itu pun mainnya hanya sebulan sekali. Kalau main seminggu sekali sih masih lumayanlah," ungkap Eko Londo.

Menurut Eko, munculnya stasiun televisi yang sangat beragam sejak tahun 2000-an, baik nasional maupun lokal, dengan konten hiburan bervariasi, siaran 24 jam, membuat kesenian tradisional macam ludruk, ketoprak, wayang, lawak tradisi, sulit bersaing. Di sisi lain, tak banyak seniman tradisional yang mampu beradaptasi denga industri televisi seperti Priyo Aljabar atau Tukul Arwana.

"Nah, untuk bersaing dengan acara televisi yang macam-macam itu kan butuh amunisi. Lha, amunisinya kita sudah habis. Karena gak bisa bersaing itulah, teman-teman sudah banyak yang kehilangan job. Srimulat tidak lagi ditonton orang," kata Eko Londo dengan gaya meledak-ledak.

Cangkrukan di warung kopi milik Agus Minto, yang diikuti Priyo 'Cangkrukan' Aljabar itu pun berakhir tanpa kesimpulan. Masa depan Srimulat berikut puluhan pelawaknya tetap saja menjadi tanda tanya. (lambertus hurek)

21 February 2010

Melantjong Petjinan Soerabaia Tjiamik



Bai Shuzhen alias Dian menjelaskan tradisi tahun baru Imlek di Rumah Sembahyang Keluarga The. Paulina Mayasari (tengah) serius menyimak.



Rek ayo rek, cangkrukan bareng marine kionghi-kionghian karo grup Jejak Petjinan! Wisata kota bertajuk Melantjong Petjinan Soerabaia berlangsung meriah dan sukses.


Oleh LAMBERTUS HUREK
Dimuat di RADAR SURABAYA, Senin 22 Februari 2010

Sekitar 60 peserta lintas etnis, ras, dan agama Minggu (21/2/2010) jalan-jalan bersama menikmati sejumlah objek di kawasan pecinan Kota Surabaya. Tur dimulai di rumah Paulina Mayasari, Jalan Bibis 3, salah satu perkampungan lama Tionghoa Surabaya. Peserta mendapat penjelasan cara memasak misua, salah satu masakan khas tahun baru Imlek.

“Imlek itu selain terkenal dengan kue ranjang, juga misua. Kalau nggak makan misua, rasanya nggak lengkap,” jelas Liana Anggono. Perempuan 64 tahun ini cukup dikenal warga Bibis dan sekitarnya karena masakan misuanya yang ciamik dan unik.

Tak hanya mendengar, peserta tur kemudian sarapan misua. Makanan khas Tionghoa yang terbuat dari tepung terigu, mirip mi biasa, dikombinasi dengan kacang tanah, telur, jamur, sawi, kucai. Dari rumah tua ini, peserta diajak ke pabrik pengolahan tepung menjadi misua di Pesapen. Naik bemo rame-rame.

“Sejak kecil saya tinggal di Surabaya, tapi baru kali ini lihat langsung pabrik misua,” ujar seorang ibu berusia 60-an tahun. Pabrik misua di Pesapen ini disebut-sebut tertua di Surabaya. “Mulai eksis sejak 1948,” tutur Sugianto, juragan pabrik misua, kepada saya.

Peserta kemudian menuju Rumah Sembahyang The Goang Tjing di Jalan Karet 50. Nuansa Imlek ala Soerabaia tempo doeloe sangat terasa di gedung tua yang menjadi cagar budaya Kota Surabaya ini. Musik khas Tionghoa menyambut peserta Melantjong Petjinan Soerabaia.

Di sini Bai Shuzhen menjelaskan secara detail berbagai tradisi selama tahun baru Imlek dan maknanya. Di atas meja sembahyang, misalnya, harus ada buah-buahan (apel, jeruk, pisang), nasi tiga mangkok, ikan, ayam, babi, arak putih. Kemudian kue kukus, kue ranjang, kue tok.

“Orang Tionghoa zaman dulu sangat senang dengan homofon atau kesamaan bunyi kata-kata dalam bahasa Mandarin. Intinya, semacam doa agar kita diberi rezeki dan kesehatan di tahun yang baru,” terang Shuzhen.

Meskipun terkesan ribet, menurut dia, warga Tionghoa, khususnya generasi lama, sangat memperhatikan berbagai detil untuk menyambut Xin Nian. Ada juga pantangan pada tanggal 1 bulan 1 Imlek seperti larangan membersihkan rumah dan berbagai perabotan.

“Makanya, pembantu di rumah saya jadi raja sehari saat Imlek. Kerjanya hanya duduk-duduk dan nonton televisi,” kata Shuzhen disambut tawa hadirin.

Selepas menyaksikan interior rumah sembahyang keluarga The, peserta menikmati atraksi wayang potehi di ruang depan. Grup Huk Hoo An yang biasa tampil di Klenteng Gudo, Jombang, menampilkan wayang-wayang khas Fujian, Tiongkok Selatan, yang sempat mati suri pada era Orde Baru itu.

“Beberapa wayang yang kami pamerkan di sini usianya sudah lebih dari 100 tahun. Itu peninggalan kakek saya yang kebetulan dalang potehi,” tutur Tony Harsono, pembina Huk Hoo An. Ada pula wayang model baru yang diimpor dari Tiongkok.

Para pelancong umumnya mengaku puas bisa menikmati suasana pecinan selama empat jam lebih. Mereka ingin agar acara macam ini dijadikan agenda tetap. “Gedung-gedung tua di pecinan itu punya nilai sejarah yang tinggi. Dan ini harus terus disosialisasikan kepada generasi muda,” kata Benny Sitinjak, peserta asal Pematangsiantar, Sumatera Utara.



Ibu Liana Anggono demo memasak misua. Paulina Mayasari, putrinya sekaligus tour leader, ikut belajar masak. Soale Ning Maya iki gak pinter masak misua. Hehehe....

Informasi “Melantjong Petjinan Soerabaia”

Paulina Mayasari (Maya): 081 23047311, 088 8866 0357
Jalan Bibis 3 Surabaya

20 February 2010

Tjioe Giok Hong dan Kue Keranjang



Selama sebulan ini suasana di rumah Tjioe Giok Hong di Jalan Karangsem XV/61 Surabaya sibuk bukan main. Rumah itu untuk sementara ‘disulap’ menjadi pabrik nian gao, kue khas tahun baru Imlek, yang lebih dikenal dengan kue keranjang alias kue ranjang.


Oleh LAMBERTUS HUREK

Saat dikunjungi Radar Surabaya, Kamis (11/2/2010) siang, istri Tirto Soenjoyo ini tampak sibuk mengawasi para karyawannya yang sedang membuat adonan daun pandan untuk campuran nian gao alias kue keranjang alias kue ranjang. Di ruang tamu terdapat tumpukan kertas berwarna merah bertuliskan kue ranjang istimewa dan gong sie fat choi untuk kemasan kue ranjangnya.

Meski begitu, Tjioe Giok Hong bersedia melayani wawancara khusus dengan Radar Surabaya. Berikut petikannya:

Sejak kapan Anda memulai bisnis kue ranjang?

Sejak 1987 saya mulai coba-coba bikin kue ranjang. Kebetulan waktu itu belum banyak orang yang bikin kue ranjang dalam jumlah besar untuk dipasarkan ke mana-mana. Ternyata, usaha yang awalnya hanya sekadar coba-coba disukai teman-teman.

Saya memang hanya mengandalkan jaringan dengan teman-teman saja. Saya nggak pernah membuka toko khusus atau stan kue ranjang. Yah, hanya gethuk tular saja. Rupanya, teman saya menyebarkan informasi ini ke temannya dan seterusnya.

Anda memang sejak kecil sudah biasa bikin kue ranjang?


Nggak pernah. Kue ranjang ini memang kue tradisional untuk orang-orang Tionghoa yang akan merayakan tahun baru Imlek (Sin Cia). Tapi generasi muda Tionghoa jarang sekali yang bisa membuat meskipun caranya sangat mudah.

Hanya orang-orang Tionghoa yang sepuh-sepuh yang bisa bikin. Dan, biasanya, kue ranjang itu dibuat untuk dikonsumsi di lingkungan keluarga sendiri. Tidak untuk dijual ke mana-mana. Saya baru mulai menekuni kue ranjang setelah belajar pada mertua saya, namanya Go Loe Lak. Ibu mertua saya ini memang pintar bikin kue ranjang.

Bahan-bahan kue ranjang apa saja?


Sederhana banget. Bahan dasar itu hanya tepung ketan, gula pasir, dan air. Sejak zaman Tiongkok kuno, ya, kue ranjang itu pasti dari tepun ketan dan gula. Kemudian kita buat variasi dengan tambahan pandan, cokelat, karamel, jeruk, teh hijau. Karena sudah jadi tradisi, komposisi kue ranjang akan selalu sama dari waktu ke waktu.

Hanya saja, lain koki lain masakannya. Rasa kue ranjang berbeda-beda antara satu pembuat dengan pembuat lainnya. Ada yang terlalu manis, ada yang kayak dodol biasa. Kalau buatan saya, silakan dirasakan sendiri. Kata para pelanggan saya sih ciamik banget. Hehehe....


Ketika baru membuka usaha home industry kue ranjang tahun 1987, Anda menghabiskan berapa kilogram tepung ketan?


Hanya 70-an kilogram. Saya belum berani membuat terlalu banyak karena belum punya pengalaman sama sekali. Saya hanya bisa meraba-raba, main feeling saja. Syukurlah, semua kue ranjang yang saya bikin pertama kali itu tidak kembali. Laku semua.

Itu yang membuat Anda makin percaya diri?


Iya. Saya senang karena ternyata kue ranjang buatan saya disukai teman-teman dan kenalan saya. Tahun 1988 saya habiskan 100 kilogram tepung ketan. Kemudian naik lagi 125 kilogram, 150 kilogram....

Kemudian pada zamannya Gus Dur (almarhum) menjadi presiden, melejit sampai 2.000 kilogram atau dua ton. Pesanan waktu itu datang bertubi-tubi sehingga saya harus menambah karyawan. Tapi saya senang karena semua kue buatan saya tidak kembali. Semuanya terserap di pasar.

Sekarang juga bikin sampai dua ton?


Oh, nggak. Cuma sekali itu yang sampai dua ton. Sebab, setelah Gus Dur mengizinkan perayaan Imlek sebagai hari libur nasional, semakin banyak orang yang membuka usaha kue ranjang. Orang-orang lama yang sempat tidak aktif pun terjun lagi dalam bisnis musiman ini.

Bahkan, di pasar-pasar tradisional kita bisa dengan mudah menemukan kue ranjang dengan harga yang sangat murah. Kue ranjang bahkan dijual bersama-sama kue-kue atau jajanan pasar yang lain. Jadi, sangat sulit membuat kue ranjang sampai dua ton seperti era Gus Dur.

Berapa macam nian gao yang Anda buat untuk tahun baru Imlek 2561 ini?


Lima macam. Khusus tahun ini saya perkenalkan kue ranjang green tea. Kue ranjang biasa dimodifikasi dengan teh hijau yang sangat berkhasiat itu. Teh hijaunya cukup didatangkan dari Sidoarjo. Jadi, produk saya ini 100 komponen lokal, made in Indonesia.

Sebelumnya, setiap tahun saya bikin empat macam. Yakni, kue ranjang karamel (warna merah kecokelatan), kue ranjang cokelat (pakai bubuk cokelat, warna cokelat kehitaman), kue ranjang pandan (warna hijau), dan kue ranjang rasa jeruk (warna kuning atau oranye).

Mana yang paling disukai?


Jelas yang karamel. Itu kue ranjang klasik, yang sudah dikenal orang Tionghoa dari generasi ke generasi. Zaman dulu, ya, orang hanya mengenal yang karamel itu. Tapi belakangan dibuat modifikasi agar kue ranjang lebih menarik dan disukai orang banyak.

Harga gula dan tepung ketan kayaknya naik. Apakah kue ranjang juga ikut naik?


Betul. Tahun ini harga kue ranjang buatan saya naik rata-rata Rp 10.000. Kalau tahun lalu saya jual Rp 40.000 sampai Rp 50.000, sekarang jadi Rp 50.000 sampai Rp 60.000. Kenaikan harga gula pasir memang terlalu tinggi. Demikian juga dengan tepung ketan yang naik terus. Kita sih tergantung harga bahan baku. Kalau bahan bakunya murah, ya, harga kue ranjang bisa ditekan.

Bisnis kue ranjang ini musiman, hanya setahun sekali?


Iya. Dan hanya dibuat untuk memeriahkan Sin Cia. Setelah itu, ya, selesai. Tidak ada produksi lagi. Tahun ini saya mulai bikin sejak satu bulan lalu sampai hari ini (11/2). Order-order harus harus segera dipenuhi karena malam Minggu kan sudah masuk tahun baru Imlek. Tahun depan, satu bulan menjelang Sin Cia, ya, saya produksi lagi.

Tidak memproduksi kue khas Tionghoa lain seperti kue bulan (tiong chiu pia)?


Oh, tidak. Sebab, cara membuat kue bulan sangat berbeda dengan kue ranjang. Kue bulan itu pakai oven. Dan tidak semua orang bisa membuat kue bulan dengan baik. Setiap orang punya spesialisasi sendiri-sendiri. Kalau dipaksakan membuat kue jenis lain, hasilnya pasti tidak bagus. (*)


BIODATA

Nama : Tjioe Giok Hong
Tempat Lahir : Surabaya
Suami : Tirto Soenjoyo
Anak : 5 orang, semua perempuan
Profesi : Pembuat kue keranjang
Hobi : Dengar musik
Alamat : Karangasem XV/61 Surabaya

Pendidikan :
SDK Gabriel Surabaya
SMPK Santa Agnes
SMAK Santa Agnes








Selalu Berdoa sebelum Kerja


Kue ranjang alias kue keranjang (nian gao) sejatinya jajanan yang sangat sederhana. Bahannya cukup tepung beras ketan dan gula pasir. Rasanya sangat manis dan legit.


Orang Tionghoa biasa menikmati kue ranjang ini bersama keluarga untuk memeriahkan tahun baru Imlek (Sin Cia). Karena hanya dibuat setahun sekali, kue tradisional ini sedapat mungkin tersedia di rumah-rumah keluarga Tionghoa. “Namanya juga sudah tradisi,” kata Tjioe Giok Hong kepada Radar Surabaya.

Namun, karena sudah menjadi tradisi dari generasi ke generasi selama ribuan tahun, menurut Giok Hong, tidak semua orang bisa membuat kue ranjang dengan baik. Kalau dipaksakan sih bisa saja, tapi hasilnya tak akan optimal.

Bahkan, Giok Hong yang sudah menekuni bisnis kue ranjang selama 23 tahun pun beberapa kali mengalami kegagalan. Adonanan sudah betul, prosedurnya oke, eh ternyata kuenya tidak jadi. “Beberapa hari lalu kuenya nggak jadi karena tiba-tiba ada adonan yang tertukar,” katanya.

Adonan macam ini tentu saja tak mungkin menghasilkan nian gao yang diinginkan. Apalagi harus dititipkan di toko-toko atau pusat belanja tertentu. “Kita nggak sadar, tiba-tiba saja ada kendala dalam proses produksi,” kata lulusan SMA Santa Agnes Surabaya ini.

Karena itu, Giok Hong selalu menjadikan pekerjaan membuat kue ranjang sebagai bagian dari ibadah kepada Sang Pencipta. Bukankah Sin Cia dalam tradisi dan kepercayaan Tionghoa merupakan momentum yang sangat istimewa? Tak heran, Giok Hong selalu berdoa di rumahnya sebelum memulai proses membuat kue ranjang.

“Saya juga usahakan agar hati ini tetap bersih, tidak ada beban di hati. Pekerjaan apa pun kalau dilakukan dengan hati yang bersih, ditambah doa kepada Sang Pencipta, pasti berhasil,” kata ibu rumah tangga yang ramah ini.

Giok Hong juga selalu menciptakan kondisi yang nyaman bagi sembilan pekerjanya untuk bekerja dengan gembira dan penuh semangat. Kondisi macam itulah yang membuat usaha kue ranjang di kawasan Karangasem ini bisa bertahan hingga lebih dari dua dasawarsa. (rek)

Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu 14 Februari 2010.

17 February 2010

Penyanyi Tua Kehilangan Panggung



Andaikan seorang kan datang
menghibur hati sedang sunyi
ku kan mengabdi padamu seorang
kekal abadi insani


Duh, akhirnya saya lihat lagi wajah Bapak Harry Noerdi di TVRI, Selasa (16/2/2010) tengah malam. Bekas hakim di Pengadilan Negeri Surabaya ini menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, ANDAIKAN. Setelah pindah ke luar Jawa, terakhir pensiun sebagai hakim tinggi di Bali, Pak Harry tak pernah lagi nongol di Surabaya.

Saya pernah beberapa kali menelepon ke alamat lamanya di Surabaya. "Pak Harry Noerdi sudah lama pindah," kata seorang penerima telepon. Ya, opo maneh!

Gaya menyanyi Pak Harry masih tetap sama. Penuh penghayatan, buka mulut oke, artikulasi enak, meskipun pernapasan sudah tidak sehebat era 1970-an. Toh, kita terhibur menyaksikan bintang lawas, bekas hakim terkenal ini, bergaya di panggung.

"Saya mulai main band sejak 1958. Hanya terpaut dua tahun saja dengan Bob Tutupoly," kata Harry Noerdi menjawab Sys NS, pembawa acara Temu Kangen Artis 60-70-80.

Malam itu Bob pun tampil. Mereka sama-sama meniti karier di Surabaya, main band dari kafe ke kafe, hingga melejit di Jakarta, jadi artis hebat pada masanya. Artis-artis lawas ini umumnya tidak lupa sekolah. Maka, tak heran Pak Harry Noerdi sukses sebagai hakim, hidup makmur sampai usia senja.

Banyak sekali artis lama yang mengisi temu kangen ini. Syukur, TVRI mau menyiarkan meski tidak utuh, sehingga kita yang di luar Jakarta bisa ikut mencicipi sisa-sisa keemasan mereka. Ada Harry Noerdi, Bob Tutupoly, Vivi Sumanti, Diah Iskandar, Titiek Puspa, Aida Mustapha, Eddy Silitonga, Panbers, The Pro's, Trio Visca, Dian Piesesha, Tetty Kadi, Grace Simon, Arie Koesmiran, Koes Hendratmo, Vina Panduwinata....

Usia mereka sudah sepuh, lansia. Tubuh sudah tak seprima dulu. Banyak menyimpan lemak di perut atau bokong. Tapi saya melihat mereka punya semangat yang tinggi. Banyak yang suaranya sudah kacau-balau, maklum puluhan tahun tak menyanyi, tapi ada juga yang tetap bertenaga.

Contohnya: Eddy Silitonga. Begitu memulai lagu FATWA PUJANGGA, penonton bertepuk riuh. Mungkin takjub mendengarkan vokal Eddy Silitonga yang melengking tinggi, stabil, dan tetap asyik. Juga ketika membawakan lagu BIARLAH SENDIRI ciptaan Rinto Harahap. Suara si Eddy tetap kencang. Jauh dibandingkan suara vokalis band-band sekarang yang umumnya medioker.

Harus diakui, artis-artis lawas macam Titiek Puspa, Grace Simon, Eddy Silitonga, Bob Tutupoly... ini sudah lama kehilangan panggung. Televisi-televisi yang berjibun di Indonesia itu tidak kasih tempat. Televisi-televisi utama macam RCTI, SCTV, Indosiar, Trans, Trans7, Anteve, hanya menjadi ajang promosi band-band dan vokalis-vokalis remaja.

Artis berusia 30 tahun ke atas, apalagi 40, 50, 60, dibuang begitu saja dari industri musik dan televisi. Paling-paling hanya sekadar jadi komentator lomba menyanyi di televisi. Saya bisa membayangkan perasaan orang-orang panggung yang kehilangan panggung. Mirip pejabat-pejabat yang terkena post power syndrome setelah menjadi orang biasa. Banyak penyanyi kita yang stres, hidup terlunta-lunta, di hari tuanya.

Kapan ya Indonesia bisa menghargai jasa para seniman? Di Amerika, BB King atau Frank Sinatra tetap menjadi bintang, orang panggung, sukses di industri musik, sampai ajal menjemput. Bahkan, setelah meninggal pun karya-karya mereka tetap diburu orang. Dan ahli waris mereka beroleh royalti yang luar biasa.

15 February 2010

Sin Cia di Klenteng Cokro



Hilir-mudik pengunjung terlihat di Klenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya. Makin malam makin ramai. Sekitar pukul 23.00, Sabtu (13/2/2010), jemaat tumplek-blek di klenteng yang dihiasi warna merah menyala itu. Para Pemain barongsai pun tampak bersiap-siap di pelataran.

“Kita selalu melepas tahun lama dan menyambut tahun baru dengan doa bersama. Dan selalu dilakukan tepat pukul 00.00,” ujar Juliani Pudjiastuti, pemimpin Klenteng Hong San Ko Tee, kepada saya.

Meski duduk di kursi roda, Juliani terlihat ceria. Dia menyambut hangat para jemaat yang hendak ber-Sin Cia di Klenteng Hong San Ko Tee. "Jemaat yang sembahyangan di sini memang banyak. Mereka umumnya kenal saya, tapi saya sering gak kenal mereka," katanya.

"Bu Juli kan pimpinan, bos, ya, pasti dikenal orang. Apalagi sering diliput media massa. Hehehe...," timpal saya.

"Wah, sebetulnya saya kurang suka diekspos karena bisa menimbulkan persepsi macam-macam. Tapi, karena wartawan sudah datang ke sini, ya, saya bicara supaya beritanya nggak melenceng. Lagi pula, saya ini kan ingin selalu dekat dengan siapa saja. Nggak pandang Tionghoa, Jawa, Madura, Flores, Bali, dan sebagainya," kata bekas guru yang lulusan SPG Katolik Santa Maria Surabaya itu.

Juliani kemudian mengutip hukum CINTA KASIH yang sering dibicarakan orang Kristen. Kutipan ini jelas berasal dari Perjanjian Baru, salah satunya Injil Matius 22:36. Juliani sangat hafal ayat ini karena sebelum mengelola Klenteng Hong San Ko Tee, dia beragama Katolik. Sering ke gereja, dulu, dan berteman dengan banyak pastor. Salah satunya Romo Thoby Muda Kraeng SVD, pastor asal Lembata, Flores Timur.

"Orang hidup itu kuncinya CINTA KASIH. Hukum CINTA KASIH itu mengatakan: Cintailah sesamamu MANUSIA seperti dirimu sendiri. Citailah SESAMA MANUSIA. Bukan cintailah hanya sesama Tionghoa, sesama orang Flores, sesama orang klenteng, sesama orang Kristen. Ingat itu!" papar Juliani.

Wah, wah.... Saya seakan mendengar khotbah pastor atau bruder justru di kompleks klenteng. Bukan main ibu yang satu ini! Ah, seandainya semua pemuka agama di Indonesia macam Bu Juliani ini!

Mendekati pukul 00.00, Juliani mengambil posisi di depan altar utama. Ratusan jemaat lain pun berdiri sambil memegang hio. Tak lama kemudian lonceng dibunyikan. Malam pergantian tahun pun tiba. Dipimpin salah satu rohaniwan, umat melakukan doa bersama sambil mengangkat hionya masing-masing.

Ritual ini berlangsung sekitar 30 menit. Setelah itu mereka berkeliling tujuh kali di dalam kompleks klenteng. Mendatangi altar dewa-dewi yang ada. “Semua dewa didatangi. Ya, dewa bumi, dewa rezeki, dewi welas asih... pokoknya semua. Malam Sin Cia memang merupakan malam terbaik untuk berdoa. Makanya, jangan sampai dilewatkan,” kata Juliani.

Bangunan tempat ibadah Tridharma yang baru saja merayakan hari jadi ke-90 itu pun tampak ramai dengan umat yang hilir-mudik membawa hio. Asap hio dengan aromanya yang khas menyambut kedatangan Tahun Macan Logam. “Tahun Macan memang akan ada banyak tantangan. Tapi semuanya kita serahkan kepada Tuhan,” kata Juliani.

Acara doa bersama pun selesai. Sekarang giliran pemain-pemain barongsai memperlihatkan aksinya di hadapan jemaat. Tetabuhan yang rancak mengiringi atraksi barongsai. Meski barusan gagal di kejuaraan barongsai se-Jatim, penampilan Grup Barongsai Hong San Ko Tee ini cukup menawan.

Mereka mampu mengisi ruang yang tak seberapa luas itu untuk menghibur penonton sembari menanti rezeki angpao. Lumayan, malam Sin Cia macam ini orang lebih murah hati. “Hiburannya cukup barongsai saja. Nggak pakai mercon dan kembang api,” kata Juliani.

Sebagian jemaat kemudian pamit pulang. Namun, sebagian lagi masih menikmati hidangan yang disediakan pengurus klenteng di sisi timur. Mereka saling bersalaman, berbagi kebahagiaan, sambil mengucapkan Gong Xi Fa Cai. Saya pun pamit pulang setelah lebih dulu menikmati sate ayam plus lontong. Hehehe....

Xin Nian Kuai Le!

Selamat tahun baru!

14 February 2010

Putri Wong: Tahun Macan, Awas Dicaplok!




Menjelang tahun baru (Xin Nian), bisa dipastikan para astrolog Tionghoa berlomba-lomba menyampaikan prediksinya tentang situasi dan kondisi selama 12 bulan ke depan. Meski umumnya menggunakan pijakan yang sama, ramalan para astrolog ini sangat bervariasi.

Toh, intinya sama saja. Mengingatkan kita semua agar waspada, hati-hati, dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Putri Wong Kam Fu, astrolog terkenal dan pengasuh rubrik fengshui di Radar Surabaya, mengingatkan bahwa Tahun Macan yang dimulai pada 14 Februari 2010 punya karakter khusus.

“Macan ini macan logam. Posisinya sedang berjalan-jalan, mencari apa saja yang bisa dicaplok,” beber Putri Wong Kam Fu kepada saya Sabtu (13/2/2010) malam.

Bagi masyarakat Tionghoa, yang memang sudah terbiasa dengan fengshui, karakter Tahun Macan harus disikapi dengan ekstrahati-hati. Di rimba raya, kata Putri Wong, macam merupakan rajanya segala bintang. Ia satwa yang sangat disegani dan ditakuti karena bisa menyantap binatang-binatang lain.

“Jadi, tahun ini ditandai dengan persaingan yang sangat ketat dan berat. Dalam bisnis, pekerjaan, dan segala bidang kehidupan terjadi kompetisi yang luar biasa. Saking ketatnya, terjadi caplok-mencaplok. Kita nggak boleh santai atau lengah,” tegas Putri Wong.

Sekeras-kerasnya persaingan, menurut dia, jangan sampai membuat manusia lupa diri, arogan, jemawa. Justru sekaranglah saatnya bertobat, lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. “Kita harus lebih banyak berdoa, adep asor,” ujar tokoh muslim Tionghoa Jawa Timur ini.

Bagaimana dengan situasi nasional?

Menurut Putri Wong, bumi Indonesia yang berada di bawah lempengan-lempengan berbahaya, cincin api, senantiasa terancam bencana alam baik itu gempa bumi, tsunami, angin badai, banjir, dan seterusnya.

“Tapi, untungnya, Indonesia itu selalu dilindungi Allah. Kalaupun ada bencana, itu hanya sekadar mengingatkan kita semua untuk bertaubat dan mendekatkan diri pada-Nya,” tegas Putri Wong.

Perempuan yang meneruskan kepiawaian fengshui dari ayahnya, Wong Kam Fu, ini juga menyoroti banyaknya kasus penjualan gadis remaja, pelacuran, dan perbuatan tak senonoh lainnya. Nah, maksiat-maksiat seperti itu hanya akan membuat kesialan Indonesia bertambah.

“Tolonglah supaya prostitusi, maksiat-maksiat, itu dihentikan,” pintanya.

Bagaimana dengan situasi politik? Akankah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap aman meski digoyang oleh lawan-lawan politiknya?

“Saya lihat SBY masih punya pulung. Jadi, SBY akan bertahan sampai masa jabatannya selesai. Hanya saja, pejabat-pejabat yang salah perlu dikoreksi,” tandasnya.

Ingat, sepanjang Tahun Macan ini kompetisi yang superketat juga terjadi di dunia politik. Para politikus saling caplok dan tak segan-segan memakan sesama politikus. “Susahnya lagi kalau seorang menteri tidak didukung oleh dirjen atau pejabat-pejabat di bawahnya,” kata Putri Wong.

12 February 2010

Kue Ranjang Tante Giok




Tadi pagi (12/2/2010) saya mampir ke kediaman merangkap toko milik Tok Swie Giok di Jalan Raden Patah. Kawasan pecinan di Kota Sidoarjo. Mumpung mau Sin Cia, tahun baru Imlek, siapa tahu Tante Giok sedang bikin nian gao alias kue ranjang alias kue keranjang.

Sebelumnya, tante berusia 69 tahun ini saya kenal saat jalan sehat HUT Sidoarjo, Minggu 31 Januari 2010. Tante Giok sudah sepuh, tapi selalu semangat. Senyumnya manis, ramah, gampang akrab dengan orang baru macam saya. Dia terlibat aktif dalam paguyuban lansia sekaligus main liang-liong, kesenian tradisional Tionghoa.

Benar saja. Ketika saya tiba di rumah, Tante Giok sedang asyik di belakang. Sibuk menyiapkan kue ranjang alias nian gao tadi. Kue khas Imlek ini bahannya sangat sederhana: tepung ketan dan gula putih. Dibuat adonan, kemudian dikukus hingga empat jam lebih. "Ini semua baru diangkat," kata Tante Giok sambil tersenyum.

Ditemani dua tante yang lain, Tok Swie Lan dan Tan Sie Ing, semuanya orang Sidoarjo, Tante Giok asyik memindahkan nian gao dari oven ke dalam kemasan kertas berwarna merah. Kue-kue ini mirip dodol di Jawa. Manis, legit, ditanggung halal.

"Tahun ini saya tidak bikin kue ranjang dalam jumlah besar. Hanya sekadarnya untuk dinikmati sendiri setelah sembahyangan Sin Cia," kata Tante Giok yang lahir pada 10 Oktober 1940 itu.

Sudah 20 tahun ini Tante Giok menekuni usaha kue ranjang. Namun, karena kondisi kesehatan kurang baik, menjelang Tahun Macan ini Tante Giok tidak produksi seperti biasanya. Belum lagi ada pertimbangan khusus menurut hitung-hitungan tradisional Tionghoa. "Kurang tepat kalau sekarang saya harus bikin banyak-banyak," katanya.

Namun, rupanya, diam-diam Njoo Tiong Hoo, rohaniwan dan pemimpin Vihara Dharma Bhakti "membocorkan" kepiawaian Tante Giok kepada wartawan. Maka, Tante Giok pun ditulis besar-besar di koran Jawa Pos edisi 11 Februari 2010. Setelah masuk koran, banyak orang datang untuk memesan nian gao.

"Saya sampai kewalahan. Makanya, tolong saya jangan dimasukin koran lagi. Susah aku!" pinta Tante Giok.

Saya hanya ketawa-ketawa saja. "Masuk koran kan bagus, Tante! Orang jadi lebih mengenal tradisi dan budaya Tionghoa, termasuk kue ranjang. Ibu ikut berjasa melestarikan budaya Tionghoa," ujar saya mirip juru penerang era Orde Baru. Selanjutnya, obrolan kami pun mengalir lancar. Mas Tik alias Tan Tek Swee menjamu saya dengan teh botol manis.

Sebagai orang Tionghoa, apalagi tinggal di pecinan, Tante Giok tak asing lagi dengan kue ranjang. Apalagi, sang ayah, Tok Ie Siek (almarhum), dulu dikenal sebagai jagoan pembuat kue ranjang. Orang-orang Tionghoa di Sidoarjo dan sekitarnya, termasuk Surabaya, banyak yang pesan nian gao padanya. Bakat itu kemudian menurun pada Tante Giok, yang dulu sekolah di Sin Hwa High School Surabaya.

Dilihat sepintas, cara membuat kue ranjang ini sangat gampang dan sederhana. Namun, berdasar pengalaman Tante Giok selama 20 tahun terakhir, faktanya tidak sesederhana itu. Karena kue ranjang ini dipakai untuk persembahan saat Sin Cia, maka bisa disebut kue suci. Si Pembuatnya pun harus bikin dalam keadaan suci. Hati bersih.

"Kalau tidak, kuenya nggak akan jadi," kata Tante Giok. "Saya berkali-kali mengalami hal itu. Sudah menunggu beberapa jam, eh, kuenya nggak jadi."

Selain melayani pesanan orang, Tante Giok setiap tahun sengaja menyediakan nian gao untuk warga tidak mampu. Jangan lupa, tidak semua orang Tionghoa itu kaya-raya, punya uang berjibun. Tak sedikit keluarga Tionghoa yang miskin alias prasejahtera. Mereka-mereka ini umumnya lebih rajin sembahyang saat Sin Cia untuk meminta berkat dan rezeki dari Sang Pencipta Alam Raya. Namun, karena tak punya uang, mereka kesulitan memiliki kue ranjang.

"Jadi, saya selalu sisihkan kue ranjang untuk orang yang tidak mampu. Saya sudah tahu siapa-siapa saja yang membutuhkan karena tiap tahun selalu begitu," kata Tante Giok.

Tak terasa, sudah hampir satu jam saya cangkrukan di rumah Tante Giok, markas pembuatan nian gao di Sidoarjo. Saya pun minta diri. Tante Giok kemudian menyerahkan dua keping kue ranjang sebagai oleh-oleh.

"Silakan dinikmati," kata tante yang murah hati ini.

Kamsia! Xiexie!

Gong xi fa cai! Xin Nian Kuai Le!

Duh, Tabrak Lari Lagi



Waduh, mengerikan! Kira-kira 30 menit lalu ada kasus tabrak lari di Jalan Raya Gedangan, dekat markas Arhanudse TNI AD. Pelajar putri terkapar dengan sepeda motor di jalan raya. Syukurlah, cewek manis itu masih bisa meringis.

Syukur pula, banyak orang ramai-ramai datang menolong si cewek. Tapi, sayang, si penabrak yang juga pakai sepeda motor sudah kabur lebih dulu ke arah Surabaya. Tak ada yang ingat, apalagi mencatat plat nomor sepeda motor penabrak.

"Yang nabrak itu laki-laki, umur 30-an," kata seorang tukang becak.

Kasus serupa, tabrak lari, juga saya saksikan minggu lalu. Bahkan, sampai dua kali. Pertama, malam hari, pukul 23.00 lebih di Jalan Ahmad Yani Surabaya, depan Gedung Expo Jawa Timur. Seorang bapak penjual buah rambutan naik sepeda motor. Tiba-tiba... darrrr.... motornya terpental dan tubuh si bapak terbanting ke aspal. Rambutan semburat, sementara si bapak pingsan.

Syukurlah, beberapa pengendara motor turun membantu korban tabrak lari. Panggil taksi, dibawa ke rumah sakit terdekat. Si penabrak? Wah, sudah kabur entah ke mana. Penerangan di Jalan Ahmad Yani tidak bagus, sehingga sulit bagi siapa pun untuk mengenali wajah penabrak yang pakai helm. Nomor kendaraan pun tak ada yang tahu.

Kasus kedua di Jalan Aryo Bebangah, kawasan Aloha, tak jauh dari Bandara Juanda. Dekat pabrik PT Maspion I yang terkenal itu. Jalan masuk perkampungan macam Bangah, Wage, Sawotratap, Pepelegi, Kedungturi... wilayah Kabupaten Sidoarjo. Meskipun masuk kampung, jalan ini selalu ramai. Tak kalah dengan jalan-jalan raya atau protokol.

Kejadiannya juga sama, klasik. Tabrak lari. Ada sepeda motor berjalan santai, tiba-tiba dihantam sepeda motor lain dari belakang. Penabraknya tidak apa-apa, langsung kabur cepat-cepat, sementara korban terpelanting ke pinggir kiri. Motor Yamaha warna hitam ringsek. Syukurlah, korban tidak mati. Cuma badannya masuk lumpur dan beberapa bagian tubuhnya tergores.

Tabrak lari. Kasus ini semakin banyak saja di Surabaya, Sidoarjo, Gresik. Saking banyaknya, orang menganggapnya biasa. Ditulis dikoran pun dianggap tidak menarik lagi. Namun, di balik ini sebetulnya kita layak prihatin. Ke mana rasa kemanusiaan si penabrak? Mana tanggung jawabmu? Sikap ksatria mulai hilang.

Saya membayangkan si penabrak mau turun, mengangkat korban, menelepon taksi, mengantar ke rumah sakit. Syukur-syukur membantu biaya pengobatan. Syukur-syukur memperbaiki atau mengganti sepeda motor yang rusak. Syukur-syukur mau minta maaf karena perbuatannya telah mencelakakan orang lain. Ingat, korban yang ditabrak pun manusia, ciptaan Tuhan, yang punya nyawa. Korban punya keluarga di rumah.

Wahai penabrak lari, bayangkan, suatu ketika Anda yang jadi korban tabrak lari!

11 February 2010

Facebook Menelan Blog




Facebook benar-benar fenomenal. Sejak dua tahun terakhir teman-teman, kenalan baru, mahasiswa, pelajar, bahkan ibu-ibu rumah tangga bicara Facebook. Bukan hanya bicara, tapi juga jadi pengguna aktif. Manusia yang tak punya akun Facebook dianggap ketinggalan zaman. Gaptek, gagap teknologi.

"Hari gini gak punya Facebook," ujar Ira, kenalan saya suatu ketika.

Saya memang belum punya akun Facebook. Sempat mencoba, tapi karena banyak pertimbangan, apalagi setelah beberapa teman kapok dan menutup akunnya, saya akhirnya belum berani ber-Facebook ria.

Facebook memang luar biasa. Saking fenomenalnya, semua produsen telepon seluler (ponsel) selalu ngecap bahwa produknya bisa untuk Facebook. Mau ber-Facebook kapan saja, di mana saja, bisa. Teman-teman, kenalan lama, yang dulu aktif menulis di blog kini pindah ke Facebook.

Blog yang pernah hiruk-pikuk ternyata memang kalah telak sama Facebook. Rima, mahasiswa kampus di Rungkut, yang dulu sangat aktif menulis di blognya--saya sering baca resensi filmnya--sudah lama kabur ke Facebook. Blognya di blogspot sudah lama dibiarkan mangkrak. Berbulan-bulan tak ada naskah, foto, atau postingan baru.

Sebaliknya, di Facebook dia muncul hampir setiap hari. "Lebih asyik di Facebook. Malah sekarang aku aktif di Twitter. Ikut perkembangan zaman dong. Ngapain tuh blogspot? Gak asyik," katanya.

Karena tidak lagi bermain di blog, si Rima pun tentu saja tidak berminat lagi berkunjung ke blogger-blogger lama yang pernah jadi temannya di internet. Teman-teman baru di Facebook jumlahnya jauh lebih banyak dan, katanya, lebih asyik. Tulisan pendek-pendek di Facebook lebih interaktif. Cepat dikomentari, direspons, ketimbang di blog yang sepi komentar.

"Pokoke Facebook, Facebook, Facebook.... Selamat tinggal blogger," kata Santi, juga mahasiswi di Surabaya.

Blognya si Santi ini lebih parah lagi. Jumlah tulisannya selama tiga tahun, sejak dia buka blogger, tak sampai 10. Tapi di Facebook dia banyak memosting, sehari biasa empat lima kali. "Facebook itu asyik banget. Blog kurang cocok untuk anak-anak gaul," katanya.

Rahma, juga mahasiswa komunikasi yang banyak membahas jurnalisme dan tulis-menulis, membuka blog setahun lalu. Bukan karena suka, tapi memang tugas dari dosennya. Semua mahasiswa wajib buat blog, kemudian dinilai sebagai bagian dari kuliah di jurusan komunikasi. Saya cek blog si Rahma ini.

Hehehe.... naskahnya tak sampai lima biji. Ada tulisan bagus tentang Mbah Surip almarhum, penyanyi fenomenal. Sejak Mbah Surip meninggal sampai sekarang belum ada posting baru. Sibuk kuliah? Tak ada waktu untuk menuliskah?

"Aku lari ke Facebook. Blog itu apaan sih? Asyik di Facebook," katanya.

Kata-kata macam ini juga kerap diucapkan banyak lagi mahasiswa di Surabaya. Blog dianggap masa lalu. Sudah habis digulung jejaring sosial yang sangat dahsyat macam Facebook, Twitter, dan entah apa lagi setelah ini.

Celakanya, tak hanya remaja-remaja, blogger pemula, yang memutuskan nonaktif atau menutup blognya. Tak sedikit blogger senior yang sudah berbulan-bulan, ada yang tahunan, tak memperbarui naskahnya. Ada blog yang naskah terakhirnya ditulis awal 2008 dan sampai sekarang tak ada perkembangan.

Bahkan, blog beberapa kuli tinta senior yang dulu paling aktif di jagat blog pun telantar. Padahal, merekalah yang membuat saya tertarik berblog ria. Saya coba mampir ke blog para blogger perintis di Indonesia itu. Aha, jarang ada naskah baru.

"Saya sudah lama aktif di Facebook. Sampai-sampai blogku gak diurus nih," kata seorang wartawan senior.

Tak bisa dinafikan memang blog sedang memasuki masa senja. Popularitasnya turun luar biasa. Dan bukan tidak mungkin perusahaan-perusahaan penyedia jasa blog memutuskan untuk menutup blogspot, blogdrive, multiplay, wordpress, dan sebagainya. Buat apa mempertahankan mainan yang sudah tidak sukai orang, bukan?

Namun, yang menggembirakan, pengunjung blog ini masih tetap banyak, bahkan cenderung naik dari waktu ke waktu. Rata-rata 700 tamu sehari. Suatu ketika pernah 1.500 orang. Mereka jelas pengguna internet yang ingin mendapat referensi tertentu setelah diantar oleh Mr. Google. Mereka jelas bukan orang-orang kurang kerjaan yang hanya menulis komentar sekenanya di bawah naskah.

Saya juga senang karena Blog Orang Kampung ini dikunjungi sejumlah mahasiswa serius, peneliti, dan dosen universitas terkenal baik di dalam maupun di luar Indonesia. Karakter pembaca (pengunjung) blog ini sebelum dan sesudah muncul Facebook sangat berbeda. Ada semacam seleksi alam di jagat internet.

Karena itu, meskipun virus Facebook sedang merebak dengan hebatnya di tanah air, saya masih merawat blog sederhana ala wong kampung ini. Padahal, sejak tahun lalu saya sempat terpikir untuk menutupnya dan hijrah ke Facebook yang populer luar biasa itu.

09 February 2010

Liem Tiong Hoo Bintang Persebaya 1950-an



Oleh LAMBERTUS HUREK

Di usia 83 tahun, Liem Tiong Hoo, yang lebih dikenal sebagai Dokter Hendro Hoediono, masih tetap praktik sebagai spesialis penyakit kulit dan kelamin. Tubuhnya masih tegap, ingatan tajam, dan punya selera humor tinggi. Liem masih ingat persis kejadian-kejadian lucu yang pernah dialaminya di lapangan hijau 70-an tahun silam.


“Gigi saya ini palsu karena yang asli sudah patah saat main sepak bola. Main sepak bola, ya, risikonya begitu. Kalau nggak mau, ya, silakan main pingpong atau badminton,” ujar Liem Tiong Hoo yang ditemui Radar Surabaya di kamar praktiknya di Surabaya, Kamis (4/1/2010) siang.

Penggemar sepak bola zaman sekarang mungkin tidak mengenal Liem Tiong Hoo alias Hendro Hoediono. Tapi cobalah bertanya kepada oma-opa yang pernah menikmati geliat Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya), bond atawa perserikatan bola kebanggaan arek-arek Suroboyo, pada era 1940-an dan 1950-an.
Nama Liem Tiong Hoo, pemain klub Tionghoa (kemudian berganti nama menjadi Naga Kuning dan Suryanaga, Red), sangat terkenal pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Liem benar-benar menjadi idola masyarakat pada masanya. Dia bersama para pemain lain dari sejumlah klub di Surabaya berjasa melambungkan nama Persebaya di pentas bola nasional.

“Zaman saya dulu Persebaya hampir selalu menang, jarang kalah. Dan nggak pernah ada kerusuhan,” tegasnya. Berikut petikan wawancara khusus dengan Liem Tiong Hoo.

Posisi Anda dulu waktu main sepak bola sebagai apa?

Penyerang tengah, striker. Saya suka menyerang dan menyerang. Main sepak bola kalau nggak bisa menyerang, bagaimana bisa menang? Saya suka sekali dengan attacking football, sepak bola menyerang. Orang bisnis atau dagang, ya, harus menyerang, agresif, agar perusahaannya bisa maju dan berkembang.

Sejak kapan Anda mulai mengenal sepak bola?

Waktu masih anak-anak saya sudah sangat suka main sepak bola. Pulang sekolah, mainnya ya ke lapangan. Kebetulan dulu klub sepak bola Tionghoa punya lapangan di Cannalaan, yang sekarang jadi Taman Remaja itu. Saya dan teman-teman datang bermain, lihat pemain-pemain Klub Tionghoa melakukan latihan.

Nah, kadang-kadang pemain Tionghoa itu kurang. Saya yang masih sangat muda, anak-anak, masuk untuk menggenapi. Begitu seterusnya, sehingga saya jadi tahu bagaimana bermain sepak bola yang baik dan benar. Otomatis saya diajak bergabung dengan klub Tionghoa.

Main bola tidak mengganggu sekolah Anda?

Tidak. Sekolah tetap sekolah, main bolanya jalan terus. Orang kalau sudah cinta sepak bola itu nggak bisa lepas. Selalu ingin main bola tiap hari. Syukurlah, pelajaran saya di sekolah baik-baik saja.

Kapan Anda mulai bermain untuk klub Tionghoa?

Tahun 1934-1944. Dulu di Surabaya ini ada Persebaya dan SVB atau Soerabaiasche Voetbal Bond. SVB ini diikuti klub-klub seperti Tionghoa, HBS (Houd Braef Standt), Exelcior, THOR (Tot Heil Onzer Ribben), Gie Hoo, Annasher. (Liem kemudian mengajak Radar Surabaya melihat fotonya semasa jadi pemain sepak bola semasa remaja).

Itu merupakan kenangan yang tak akan pernah saya lupakan. Ketika saya masih berjaya sebagai pemain sepak bola dan bisa mencetak banyak gol di gawang lawan. Nama saya akhirnya dikenal orang di mana-mana.

Lantas, Anda dipanggil memperkuat Persebaya?

Betul. Persebaya dulu itu beda dengan yang sekarang ini. Persebaya itu bukan klub yang membeli pemain-pemain dari luar, tapi mengambil pemain dari klub-klub yang ada di seluruh Kota Surabaya. Pemain yang bagus-bagus dari beberapa klub itu diambil untuk memperkuat Persebaya.

Tahun 1943 saya menjadi pemain termuda di Persebaya. Umur saya 17 tahun. Setelah itu saya menjadi langganan di Persebaya. Ikut kejuaraan dan turnamen di berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Bandung.

Latihan di Persebaya lama?

Nggak perlu latihan lama-lama karena semua pemain sudah saling kenal. Kita itu, biarpun klubnya berbeda-beda, sudah hafal kemauannya teman di lapangan. Begitu digabungkan di Persebaya, ya, jalan dengan sendirinya. Saya bikin gerakan sedikit saja, teman saya sudah tahu apa kemauan saya. Dan itu membuat Persebaya sangat disegani di Indonesia.

Bayangkan, kami waktu itu juara tiga tahun berturut-turut dalam empat macam kejuaraan. Ini membuat bond-bond kota yang lain segan sama Persebaya. Wong kami menang terus, sulit dikalahkan!

Suatu ketika ada turnamen di Kediri. Saya kebetulan nggak ikut ke sana. Pertandingan hari pertama Persebaya kalah. Ini membuat pengurus nyusul saya di Surabaya. Pokoknya, Persebaya jangan mau kalah lagi. Akhirnya, hari kedua saya ikut main.

Persebaya menang?

Jelas menang! Kan sudah ada saya. Hehehe....

Selain Anda, siapa saja bintang Persebaya pada era 1940-an dan 1950-an?

Dulu, Persebaya punya trio belakang dan trio depan yang disegani lawan-lawannya. Trio belakang: Sidi, Sidik, Sadran. Trio depan: saya (Liem Tiong Hoo), Bhe Ing Hien, Tee San Liong. Kalau ada tiga teman di belakang ini, saya tidak khawatir pasokan bola dan pertahanan akan bagus. Itu yang membuat Persebaya sangat kuat.

Anda kemudian kuliah dan sukses sebagaidokter spesialis. Bagaimana nasib pemain-pemain lama seangkatan Anda yang pernah mengharumkan nama Kota Surabaya?

Ngenes. Nasib pemain-pemain Persebaya yang lama ini kayak sepatu. Habis dipakai, dibuang begitu saja. Sadran, teman akrab saya, pemain top itu, meninggal dunia dalam kondisi memprihatinkan. Terlunta-lunta. Teman-teman satu angkatan sudah meninggal semua, tinggal saya satu-satunya yang masih diberi hidup oleh Tuhan.

Anda sendiri masih diundang pengurus Persebaya atau Suryanaga?

Nggak pernah. Kami ini sudah dilupakan orang, termasuk pengurus-pengurus Persebaya. Saya ini nggak dikasih freepass untuk melihat pertandingan Persebaya. Bagaimana mereka menghargai mantan-mantan pemain yang pernah berjasa untuk klub? Bahkan, waktu perayaan 100 tahun kemarin (POR Tionghoa alias Suryanaga, Red), saya juga tidak diundang.

Anda kecewa?

Sudahlah. Saya tidak pernah kecewa karena bagaimanapun juga saya pernah memperkuat Persebaya dan menikmati masa-masa indah bersama Persebaya. Apalagi, saya juga harus bersekolah untuk masa depan saya setelah tidak lagi menjadi pemain. Saking cintanya sama Persebaya, dulu sekolah saya di Kedokteran sempat terganggu tiga tahun.

Baru tahun 2004 saya dapat penghargaan dari Wali Kota Bambang DH yang juga ketua Persebaya. Syukurlah, Bambang DH masih sempat ingat saya.

Apa resep umur panjang dan tetap segar di masa lansia?

Orang yang aktif berolahraga itu seperti menabung. Menabung untuk kesehatan dan kekuatan di hari tua. Karena saya ‘menabung’ sejak anak-anak, maka saya masih bisa bekerja sampai sekarang. Umur saya mau 84 tahun lho. Selain olahraga, jangan lupa hidup teratur. Makan teratur, istirahat teratur, kerja teratur, rekreasi. Orang yang minum multivitamin sau botol tiap hari nggak akan bisa menggantikan kekuatan seperti ‘tabungan’ ketika masih muda. (*)





Tolak Tawaran Tim Nasional

Meski sangat gandrung sepak bola, Liem Tiong Hoo tidak mengabaikan pendidikan. Sekolah bisa jalan seiring dengan bola. Paginya menuntut ilmu di sekolah, sorenya main bola, malam belajar dan menggarap pekerjaan rumah. Ini dilakukan Liem sejak anak-anak hingga kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga.


Menjelang ujian di FK Unair, Persebaya harus mengikuti kejuaraan bergengsi di tanah air. Dan, sebagai ujung tombak alias striker, posisi Liem belum tergantikan masa itu. Liem sendiri, yang sedang hebat-hebatnya sebagai pemain bola, pun tak ingin melepaskan begitu saja momentum itu.

Maka, dia pun menyiasati ujian Kedokteran. "Kuliah zaman dulu masih gampang dan agak longgar. Ujian diadakan tiga kali dalam setahun. Nah, kita bisa milih kapan ikut ujian," tutur Liem Tiong Hoo kepada Radar Surabaya.

Gara-gara sepak bola, ujian Liem di FK harus tertunda tiga kali. Dus, masa kuliahnya molor tiga tahun pula. Syukurlah, Liem kemudian bisa ikut ujian dan lulus. Bintang lapangan hijau itu pun mampu bermetamorfosis sebagai dokter. Liem kemudian menjadi dosen di FK Unair sambil tetap tidak melupakan sepak bola.

Suatu ketika tim nasional Republik Tiongkok Nasionalis berkunjung ke Surabaya. Liem tentu saja memperkuat Persebaya untuk menghadapi kesebelasan yang saat itu sangat disegani di Asia Timur Jauh (Far-East Asia). Melihat kelincahan Liem mengolah si kulit bundar dan mengecoh lawan-lawannya, Liem diajak memperkuat tim nasional Tiongkok.

"Saya menolak karena saya orang Indonesia. Saya bukan orang Tiongkok," tegas Liem Tiong Hoo.

Bukan itu saja. Liem juga dirayu agar bergabung dengan klub Feyenoord di Negeri Belanda. Biaya kuliah, biaya hidup, dan sebagainya ditanggung pihak Belanda asalkan bintang muda Persebaya asal Klub Tionghoa itu mau diboyong ke negara kincir angin. "Saya bilang tidak. Saya bukan orang Belanda. Saya orang Indonesia," kenang ayah tiga anak dan kakek enam cucu ini.

Menjelang Olimpiade 1952, diadakan seleksi pemain untuk membentuk tim nasional Indonesia. Liem tidak bisa berlatih intensif karena beban studi di FK Unair sangat tinggi. Namun, pelatih dan pengurus PSSI ingin agar Liem masuk tim nasional meskipun tidak ikut seleksi dan latihan. Liem kontan menolak.

"Saya bilang, saya nggak ikut latihan kok masuk tim?" tukasnya.

Tim seleksi tetap meyakinkan bahwa kemampuan Liem Tiong Hoo masih selevel dengan pemain-pemain nasional lain meskipun tidak berlatih. Liem rupanya tak bisa dirayu. "Saya harus konsekuen. Kalau nggak ikut latihan, ya, tidak boleh ikut gabung. Itu sudah jadi prinsip saya," tegasnya. (rek)




BIODATA

Nama : Liem Tiong Hoo
Nama populer : dr. Hendro Hoediono
Lahir : Surabaya, 23 Oktober 1926
Istri : Listiyani (almarhumah)
Keturunan : 3 anak, 6 cucu
Profesi : Dokter spesialis kulit dan kelamin
Hobi : Memancing
Idola : Lee Waitong, Raja Bola Timur Jauh (Tiongkok) era 1930-an.

Pendidikan :
- Algemeene Middelbare School (AMS), Jl Kusuma Bangsa Surabaya
- Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Penghargaan:
- Ketua Umum Persebaya Bambang DH, 18 Juni 2004, sebagai legenda Persebaya.
- Presiden Soeharto sebagai dosen FK Unair yang berdedikasi.




Tionghoa, Bola, dan Rasialisme

Sebelum 1960-an, begitu banyak remaja Tionghoa di Surabaya--juga kota-kota besar lain di tanah air--yang menekuni sepak bola. Bahkan, klub-klub besar seperti Persebaya diperkuat oleh begitu banyak pemain keturunan Tionghoa.


Tim Persebaya yang menjadi juara nasional pada 1952, misalnya, didominasi pemain-pemain Tionghoa macam Phoa Sian Long, Liem Tjay Hie, Kho Thiam Gwan, Liem Tiong Hoo, Bhe Ing Hien, Tee San Liong. "Itu tim Persebaya terakhir yang saya ikuti. Dan kami jadi juara nasional. Tujuh pemain berasal dari PS Tionghoa," ujar Liem Tiong Hoo alias dr Hendro Hoediono.

Lantas, mengapa dalam beberapa dekade belakangan ini anak-anak muda Tionghoa 'meninggalkan' sepak bola? Tak ada lagi pemain-pemain Tionghoa di klub lokal, regional, atau nasional? Mendengar pertanyaan Radar Surabaya, Liem Tiong Hoo terdiam sejenak.

Menurut dia, situasi ini tak lepas kondisi sosial politik di Indonesia pada tahun 1960-an yang tidak kondusif. Sentimen rasial terhadap warga keturunan Tionghoa muncul di mana-mana. Ada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 yang berimplikasi luas pada warga Tionghoa di tanah air. Singkatnya, siatuasi politik masa itu membuat orang-orang Tionghoa meninggalkan lapangan sepak bola dan gantung sepatu.

Sebagai olahraga rakyat yang sangat populer, disaksikan ribuan orang, potensi kerusuhan di sepak bola sangat besar. Apalagi dibumbui sentimen suku, ras, agama, antargolongan (SARA). "Bukannya takut, tapi kita lebih baik tidak ambil risiko. Kita khawatir benturan antarpemain di lapangan dibawa ke luar. Siapa yang bisa mengontrol sekian ribu manusia setelah keluar dari stadion?" tandas Liem.

Karena itu, perlahan tapi pasti, para remaja Tionghoa benar-benar meninggalkan olahraga paling atraktif ini. Liem sendiri fokus bekerja sebagai dokter dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Pemain-pemain Tionghoa lainnya bekerja sebagai pedagang atau meneruskan sekolah yang sempat terganggu gara-gara bola. Banyak pula klub Tionghoa di berbagai kota terpaksa bubar.

Lapangan bola milik Tionghoa di kawasan Kusuma Bangsa pun beralih fungsi menjadi arena hiburan rakyat. Klub Tionghoa kemudian ganti nama menjadi Naga Kuning, kemudian Suryanaga, dan bertahan sampai sekarang. Tapi pemain-pemainnya bukan lagi anak-anak muda keturunan Tionghoa. Orang Tionghoa sebatas menjadi pengurus, manajer, investor, atau pencari modal.

Akankah anak-anak muda Tionghoa kembali bermain sepak bola dan mengharumkan nama Persebaya atau Indonesia seperti era 1950-an? Liem Tiong Hoo mengaku sangat yakin suatu ketika orang-orang Tionghoa kembali bermain bola.

"Sepak bola itu permainan paling menarik. Olahraga yang bisa dimainkan siapa saja, tidak pandang suku, agama, ras,warna kulit, kebangsaan," tegasnya. (rek)

Dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu, 7 Februari 2010

07 February 2010

Doktor Soetomo atau Dokter Soetomo?



Di Surabaya ada rumah sakit umum terkenal di kawasan Karangmenjangan. Orang-orang dulu menyebut Rumah Sakit Karangmenjangan. Konon, rumah sakit milik pemerintah provinsi Jawa Timur ini terbesar di Indonesia Timur. Selalu jadi rujukan rumah-rumah sakit [bukan rumah sakit-rumah sakit] di Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Rumah Sakit Karangmenjangan ini nama resminya Rumah Sakit Dokter Soetomo Surabaya. Karena profesi atawa gelar "dokter" itu biasanya disingkat, cara penulisannya di koran-koran sering rancu. Koran A menulis Rumah Sakit dr. Soetomo. Koran B menulis Rumah Sakit Dr. Soetomo. Koran C menulis Rumah Sakit DR. Soetomo.

[Tanda baca titik dalam penulisan gelar lazimnya dihilangkan di koran-koran karena pertimbangan efisiensi dan keterbacaan. Terlalu banyak titik juga makan karakter manakala gelar yang ditulis terlalu banyak. Contoh: Prof. Dr. J.E. Sahetapy, S.H., M.A., S.Th.]

"Mana yang benar: Doktor Soetomo atau Dokter Soetomo?" tanya teman saya, penyunting naskah.

Mau tak mau, kita harus kembali membuka buku sejarah untuk mengetahui siapa gerangan Soetomo itu. Dan kebetulan di Surabaya catatan tentang riwayat hidup Soetomo, pejuang kemerdekaan ini, cukup banyak. Pak Tom, sapaan Soetomo, tempo dulu buka praktik di Jalan Simpang Dukuh (sekarang). Itu lho yang dekat Gedung Grahadi, belokan Jalan Gubernur Soerjo.

Pak Tom dimakamkan di Makam Kembang Kuning, Surabaya. Beberapa tahun lalu, saya sempat diminta untuk "menemukan" makam Pak Tom di Kembang Kuning. Kondisinya sudah tidak karuan.

Singkatnya, Pak Tom itu dokter lulusan STOVIA, School tot Opleiding van Indische Artsen, sekolah kedokteran zaman Hindia Belanda. Semacam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Selepas STOVIA, Pak Tom getol membantu rakyat yang terserang bermacam-macam penyakit. Mengabdi sebagai dokter dan ikut perjuangan politik bersama tokoh-tokoh nasional lain.

Soetomo bukan "doktor" alias lulusan Strata Tiga (S-3), program pendidikan setelah pascasarjana alias doktoral. Sangat penting bagi orang Indonesia untuk membedakan DOKTER dan DOKTOR. Banyak DOKTER yang DOKTOR, tapi hanya segelintir kecil DOKTOR yang DOKTER.

Menurut guru bahasa Indonesia di sekolah dasar, yang mengutip pedoman penulisan ejaan yang disempurnakan (EYD), DOKTER selalu ditulis dengan 'd' kecil, sedangkan DOKTOR yang S-3 dengan 'D' besar.

Karena itu, Rumah Sakit Karangmenjangan di Surabaya harus ditulis: Rumah Sakit dr. Soetomo, bukan Rumah Sakit Dr. Soetomo. Sebab, almarhum Pak Tom alias Soetomo yang diabadikan sebagai nama rumah sakit adalah dokter sejati, bukan doktor.

Ketika Wardiman Djojonegoro menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan, diadakan penertiban gelar akademik di Indonesia. Gelar-gelar lama macam doktorandus (Drs.) tidak dipakai lagi. Dokter (dr.) pun tidak lagi menjadi gelar akademik, tapi sebutan untuk profesi. Dus, dokter itu samalah dengan profesi-profesi lain akuntan, guru, dosen, kiai, pastor, pendeta, apoteker, perawat, penyiar, dan sebagainya.

Karena itu, menurut saya, dokter-dokter itu tidak perlu mendapat perlakuan istimewa dalam bahasa Indonesia. Semua profesi itu mulia, bukan? Kita tidak perlu lagi berpenat-penat menulis sebutan profesi di depan nama orang. Tidak perlu menulis dr. Ahmad, cukup Ahmad saja. Tidak usah dr. Soetomo, cukup Soetomo saja.

Anda bebas mencantumkan gelar akademik si dokter yang biasanya berpanjang-panjang dan mbulet itu. Maka, seharusnya Rumah Sakit dr. Soetomo cukup ditulis Rumah Sakit Soetomo. Singkat, padat, jelas, tidak bikin bingung para redaktur media cetak.

Rumah Sakit dr. Karyadi (Semarang) cukup ditulis Rumah Sakit Karyadi. Rumah Sakit dr. Subandi di Jember cukup ditulis Rumah Sakit Subandi.

Kita yang di Jawa Timur perlu belajar dari orang Jakarta yang lebih efisien dalam menyebut nama rumah sakit. Mereka selalu menyebut RSCM: Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, bukan Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo. Padahal, semua orang tahu almarhum Cipto Mangunkusumo juga dokter lulusan STOVIA seperti almarhum Soetomo.

Saya juga mengusulkan agar nama Universitas Dokter Soetomo di daerah Semolowaru, Surabaya, itu dihemat. Cukup Universitas Soetomo. Toh, akronimnya tetap Unitomo.

Siti Rijati Pelukis Senior



Pekan lalu, Hj Siti Rijati genap berusia 76 tahun. Namun, pelukis senior ini masih tetap aktif berkarya. Bahkan, Siti ikut pameran bersama 14 pelukis perempuan se-Jawa Timur di Hotel Grand Mirama, Jalan Raya Darmo Surabaya.

Di sela-sela kesibukannya, Siti Rijati menerima Radar Surabaya untuk wawancara khusus di rumahnya di kawasan Ngagel Jaya Selatan Surabaya, Sabtu (30/1/2010). Berikut petikannya:

Oleh LAMBERTUS HUREK

Selamat ulang tahun, Bu! Kalau tidak salah, Anda baru berulang tahun minggu lalu.

Matur nuwun. Sekarang usia saya sudah 76 tahun, sebentar lagi mau masuk 80 tahun. Nggak terasa perjalanan hidup saya sudah sedemikian jauh. Makanya, jangan marah kalau saya sering pangling, lupa sama orang, meskipun sudah kenal baik. Maklum, sudah sepuh.

Apa resepnya bisa berumur panjang, produktif, aktif di berbagai kegiatan?

Nggak pakai resep-resepan. Ini semua anugerah dari Allah SWT sehingga saya masih dikasih umur. Saya malah pernah jadi korban kecelakaan lalu lintas, akhir 2008. Waktu itu saya pergi ke pasar bersama cucu di sebelah rumah. Tahu-tahu, setelah sadar, saya sudah berada di UGD rumah sakit.

Alhamdulillah, setelah di-scan, kondisi badan saya nggak apa-apa. Hanya telinga kiri yang dijahit. Makanya, saya selalu percaya bahwa mati hidup, umur manusia, itu hanya di tangan Allah SWT. Saya bersyukur banget masih dikasih kesempatan untuk hidup dan bisa bertahan seperti sekarang.

Gara-gara kecelakaan itu, saya sempat berhenti melukis karena nggak kuat. Saya paksakan juga nggak bisa. Akhir-akhir ini saja saya mulai melukis lagi. Tapi tidak bisa produktif lagi seperti dulu. Saya juga masih bisa ke mana-mana asalkan dijemput. Dulu, sebelum kecelakaan itu, kalau ada undangan, saya selalu usahakan datang. Sekarang yang undang itu yang harus jemput saya. Hehehe....

Bagaimana hasil pameran bersama di Mirama kemarin?

Alhamdulillah, ada sebuah lukisan saya yang dikoleksi orang. (Masing-masing pelukis menampilkan tiga lukisan dalam pameran bersama ini.) Yang laku itu lukisan saya tentang pasar tradisional. Katanya panitia, dari semua lukisan yang dipamerkan, hanya punya saya yang laku. Artinya, karya saya ternyata masih diminati orang.

(Siti Rijati kemudian mengajak Radar Surabaya menikmati puluhan lukisannya yang dipajang di rumah sekaligus galeri. Sayang, kurang terawat karena tidak ada asisten atau pekerja khusus yang membersihkan debu dan sebagainya. Ratusan lukisan lain disimpan di lemari karena ruangan di rumahnya tidak cukup.)

Wah, lukisan Anda banyak sekali, bahkan sampai dipajang di garasi, teras, sampai kamar belakang!

Alhamdulillah, lukisan-lukisan ini saya anggap sebagai harta karun saya. Saya melukis sejak 1974 dan hasilnya, ya, bisa dilihat sekarang. Sudah banyak yang dikoleksi orang. Saya sendiri tidak tahu sudah berapa banyak lukisan yang saya buat. Enaknya sih kalau dikoleksi, pelukisnya dapat uang, bisa hidup. Tapi saya sering kasihan, eman, kalau lukisan saya dikoleksi orang lain.

Mengapa begitu?

Lha, saya kalau melukis itu kalau ada semacam getaran di hati. Ada rasa. Harus konsentrasi penuh. Kalau hati ini kurang pas, ya, tidak melukis. Makanya, lukisan-lukisan itu sebenarnya hasil dari getaran di dalam hati. Dia bukan sekadar barang atau benda biasa.

Lukisan-lukisan Anda ini banyak bertema pemandangan alam.

Memang saya dari dulu senang pemandangan yang indah-indah, khususnya yang ada airnya. Pantai Kenjeran, Air Terjun Kakekbodo, Pantai Ngliyep, Pantai Tuban, Gunung Bromo, pasar tradisional, bunga, dan sebagainya. Saya kalau melihat pemandangan yang bagus-bagus biasanya langsung tergerak untuk melukis.

Artinya, Anda selalu langsung ke lokasi?

Iyalah. Seniman lukis yang benar itu, ya, harus datang ke lokasi untuk menangkap roh dari objek lukisannya. Kalau hanya melukis dari foto, ya, bisa saja jadi lukisan. Tapi pasti pelukisnya tidak puas karena tidak ada getarannya. Ini yang membuat saya seperti ‘terikat’ dengan semua lukisan saya. Sebab, saya tahu persis bagaimana proses saya menghasilkan lukisan-lukisan tersebut.

Saya lihat ada lukisan Anda yang kaligrafi. Sejak kapan Anda menekuni jenis itu?

Sejak pulang dari naik haji. Saya merasa bersyukur kepada Allah karena doa-doa saya selama ini terkabul. Anda tahu seniman, khususnya pelukis, itu penghasilannya tidak tentu. Kita tidak tahu kapan sebuah lukisan dikoleksi orang. Kalaupun dikoleksi atau laku, nilainya pun tidak ada patokan.

Makanya, jarang ada pelukis yang bisa naik haji, menunaikan rukun Islam kelima, agar kehidupannya lebih tenang. Alhamdulillah, saya dikasih rezeki oleh Allah sehingga bisa berhaji tahun 2001. Waktu itu umur saya 67 tahun. Sejak itu saya mulai melukis Ayat Kursi yang sangat penting bagi umat Islam.

Saya sudah merasakan manfaatnya membaca Ayat Kursi secara teratur. Contoh nyata, ya, saya selamat dari kecelakaan lalu lintas meskipun semua orang khawatir ketika saya koma cukup lama di UGD.

Sampai kapan Anda melukis mengingat usia Anda sudah mendekati 80?

Saya nggak tahu. Pokoknya sampai saya tidak mampu melukis lagi. Saya hanya pasrah sama Allah SWT karena saya masih diberi kesempatan untuk hidup dan berbuat sesuatu untuk orang lain. Berbuat sesuatu itu, bagi pelukis, ya, membuat lukisan. Perkara laku atau tidak, itu soal lain. Saya sendiri nggak mikir lukisanku laku atau tidak. Hidup itu mengalir saja seperti air. (*)



Sempat Disindir Masuk Neraka

Belum semua orang mau menghargai profesi pelukis. Melukis bahkan sering dianggap hanya sebagai hobi atau kesenangan belaka. Bukan profesi layaknya pegawai kantoran atau pengusaha.

Itu yang dirasakan Siti Rijati. “Banyak orang yang tidak suka melihat saya jadi pelukis. Perempuan kok jadi pelukis? Nanti makan apa?” ujar pelukis senior ini menirukan sindiran sejumlah kerabat dan kenalannya.

Sindiran itu bahkan terbawa ke ranah agama. Suatu ketika Siti ikut pengajian bersama ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya. Sang penceramah kemudian membahas profesi pelukis. “Penceramah itu bilang kalau semua pelukis itu yang nomor satu masuk neraka,” Siti Rijati mengenang.

Kalimat ini selalu terngiang di telinga Siti selama bertahun. Dia mengaku tak habis pikir dengan ‘vonis neraka’ untuk orang yang kebetulan menjadikan seni rupa sebagai pilihan hidupnya. 


“Saya pikir, kok bisa-bisanya dia memvonis seperti itu? Surga dan neraka itu kan urusan Allah? Masak, ada manusia berani bilang seperti itu?”

Namun, di balik isi ceramah yang tajam itu ada hikmahnya buat Siti Rijati. Perempuan yang antara lain berguru pada Krisna Mustajab (alm), maestro lukis Surabaya, ini justru semakin memperbanyak ibadahnya kepada Allah SWT. Puasa Senin-Kamis, salat malam, dan menunaikan ibadah-ibadah sunah lainnya.

“Karena saya bertekad segera naik haji. Saya ingin segera ke Tanah Suci, menjalankan rukun Islam kelima. Saya ingin buktikan kalau pelukis itu juga abdi Allah,” tutur Siti Rijati yang mulai melukis sejak 1974.

Selain banyak beribadah, Siti justru makin termotivasi untuk melukis sebanyak-banyaknya. Tiada hari tanpa melukis. Fokusnya jelas: ingin segera naik haji! “Alhamdulillah, 18 bulan kemudian niat saya terkabul. Saya akhirnya bisa naik haji,” ucapnya.

Sepulang dari Tanah Suci, dan resmi menyandang gelar hajah, Siti Rijati mengaku makin tenang dan nyaman menjalani kehidupan. Tak ada lagi suara-suara sumbang yang menyindir profesi pelukis seperti dulu.




Ngajar Syahadat untuk Mualaf

DIBANDINGKAN pelukis-pelukis umumnya, Hj Siti Rijati terbilang mapan. Rumahnya di Ngagel Jaya Selatan I/16 Surabaya tergolong megah dengan pekarangan yang luas. Kompleks ini memang dihuni kalangan menengah ke atas.

“Banyak penghuni lama yang sudah menjual rumahnya ke pengusaha. Mereka ingin dapat uang banyak. Tapi saya nggak mau jual rumah ini,” ujar Siti Rijati kepada Radar Surabaya.

Karena rumahnya besar dan luas, sementara dua anaknya sudah berkeluarga dan mapan di Jakarta, beberapa kamar dikoskan. Ada mahasiswa dan karyawan yang kos di situ. Siti pun kerap menggelar pengajian di rumahnya. “Jadi, saya nggak kesepian,” katanya.

Bukan itu saja. Jika ada seniman atau aktivis kesenian dari luar negeri yang membutuhkan tumpangan dalam waktu lama, Siti Rijati selalu jadi rujukan. Itulah yang terjadi dengan Christine Rod, aktivis kesenian asal Jenewa, Swiss. Ketika melakukan riset dan dialog dengan seniman-seniman di Surabaya, Sidoarjo, Solo, Jogjakarta, Christine menginap di rumah Siti.

“Bu Siti itu sudah seperti ibu kandung saya. Orangnya baik dan sabar,” ujar Christine Rod kepada Radar Surabaya suatu ketika.

Siti bahkan mengajarkan agama Islam kepada Christine ketika hendak menikah dengan Nasrullah, pelukis asal Sidoarjo. Setiap hari Siti mengaku mengajari perempuan Eropa itu lafal dua kalimat syahadat. 

“Waduh, susahnya setengah mati. Bolak-balik diulang, nggak hafal-hafal. Saya sampai bingung,” tutur Rijati lantas tertawa kecil.

Karena itu, setiap kali berlibur ke Indonesia, Christine tak lupa mampir dan menginap di rumah Rijati.



Nama : Hj Siti Rijati
Lahir : Mojokerto 24 Januari 1934
Pendidikan : Pusat Pendidikan Seni Jatim, Painting Circle Surabaya
Pameran tunggal :
- Taman Budaya Jatim
- Galeri Surabaya
- Hotel Radisson Surabaya
- Yayasan Persahabatan Indonesia-AS

Pameran bersama:
Berkali-kali di Surabaya, Jakarta, Jogjakarta
Alamat : Ngagel Jaya Selatan I/16 Surabaya


Dimuat RADAR SURABAYA edisi 31 Januari 2010