02 December 2010

Renata, Mama Suzana FM





Belajar bahasa Tionghoa bisa juga dilakukan sambil bercanda. Itulah resep Fransisca Renata, penyiar senior Radio Suzana (91,3 FM).

“NI hao ma?” begitu sapaan di seberang telepon.

“Wo hen hao,” jawab Mama Cho Kit Ban di studio Radio Suzana, Jalan Wali Kota Mustajab 62 Surabaya.

Sang mama memang menjawab sapaan dalam bahasa Mandarin, yang artinya ‘saya sangat baik’, tapi logat Jawanya sangat kental.

Vokalnya pun diolah sedemikian rupa, sehingga persis encim-encim atau wanita peranakan Tionghoa yang berbahasa gado-gado--Mandarin, Hokkian, Jawa, Indonesia, bahkan Madura. Terkadang si mama berperan sebagai nainai alias nenek-nenek yang suka menasihati cucu kesayangannya.

Pembicaraan pun kemudian akrab, lancar, dan hangat. Layaknya orang yang sudah saling kenal. Sang Mama dan pendengar bicara ngalor-ngidul, nyentil sana-sini, bercanda, kemudian tertawa bersama. Begitulah aktivitas rutin Fransisca Renata tiga kali sepekan: Kamis, Jumat, Sabtu.

“Saya siaran tiap pukul 13.00 sampai 15.00. Saya berperan sebagai Mama Cho Kit Ban yang siap menjadi mama sekaligus teman para pendengar. Mereka bicara apa saja, ya, saya ladeni,” tutur Renata (57) kepada saya pekan lalu.

Kehadiran program interaktif dan hiburan Mandarin di Suzana FM ini tak lepas dari buah reformasi yang digerakkan mahasiswa pada 1998. Ketika rezim Orde Baru tumbang, Presiden KH Abdurrahman Wahid (almarhum) mencabut berbagai produk perundang-undangan yang melarang ekspresi budaya dan bahasa Tionghoa di muka umum.

Maka, bahasa Tionghoa yang selama tiga dasawarsa hanya digunakan warga keturunan Tionghoa di lingkungan terbatas mulai muncul lagi ke ruang publik. Nah, Radio Suzana yang sejak dulu memang sudah punya program hiburan multietnis, antara lain dengan karakter tokoh Tionghoa, merasa perlu membuat program khusus bernuansa Tionghoa.

“Kaisar yang menggagas acara ini, sekaligus menjadi pengasuhnya,” terang Renata sambil tersenyum. Kaisar yang dimaksud tak lain Kaisar Victorio alias Achmad Affandi, penyiar senior yang piawai menciptakan sejumlah tokoh fiktif di Suzana FM, termasuk Mbah Wono Kairun itu.

Renata sendiri sudah bertahun-tahun menjadi mitra siar Achmad Affandi di program Burulu (Bunali, Rukem, Lumut) yang sangat terkenal itu. Ketika sang kaisar terpilih sebagai anggota DPR RI pada 2004, program yang sudah berhasil merebut hati pendengar dari kalangan Tionghoa ini sempat limbung.

Sebagai penyiar senior, Fransisca Renata (57) mau tidak mau harus bisa menggantikan posisi Kaisar Victorio, nama populer Achmad Affandi, yang terpilih sebagai wakil rakyat di Senayan, Jakarta.

BERMODAL tekad serta kemauan yang keras, Fransisca Renata akhirnya bisa menjadi host acara Ni Hao Ma di Radio Suzana 91,3 FM. Program bernuansa Tionghoa ini menuntut sang penyiar paling tidak punya kemampuan berbahasa Mandarin meski tidak perlu sefasih seorang native speaker dari dataran Tiongkok.

Renata yang kelahiran Madiun, 27 Juni 1953, asli Jawa, sama sekali tak punya darah Tionghoa, ‘dipaksa’ untuk secepat mungkin menguasai bahasa negeri panda ini. Caranya? “Saya mengamati tetangga saya yang Tionghoa. Cara bicaranya sehari-hari, logatnya, nada suaranya, saya perhatikan dan tiru,” kenang Renata seraya tersenyum.

Dari situ, ibu empat anak ini menemukan bahwa warga keturunan Tionghoa di Jawa Timur, khususnya Surabaya, tidak 100 persen berbicara dalam bahasa Guoyu alias bahasa Mandarin, melainkan gado-gado. Ada unsur Mandarin, Hokkian (Fujian), Jawa, Indonesia, kemudian sedikit istilah bahasa Inggris.

Hampir tidak ada orang Tionghoa di Surabaya yang murni berkomunikasi sehari-hari dalam bahasa nasional Tiongkok itu. Bahkan, banyak pula orang Tionghoa, khususnya generasi mudanya, yang sama sekali tak bisa berbicara dalam bahasa leluhurnya.

“Makanya, di radio pun saya bicara mixed, campuran. Yah, kayak encim-encim itulah,” tutur Renata yang juga fasih main ludruk ala Radio Suzana itu.

Nggak ikut kursus Mandarin?

“Waduh, mana ada waktu?” tukasnya. Renata mengaku belajar bahasa ini melalui tetangga atau kenalan Tionghoa atau dengan pendengarnya. Lama-kelamaan dia bisa mampu berinteraksi dengan penggemar acaranya yang hampir semuanya orang Tionghoa.

Bahkan, tak sedikit orang Tionghoa yang mengaku kalah fasih berbahasa Tionghoa dibandingkan Mama Cho Kit Ban. Mereka juga kaget ketika bertemu langsung dengan Renata yang ternyata bukan Tionghoa.

Tak hanya bahasanya yang gado-gado, Renata pun selalu memutar lagu-lagu berbahasa Mandarin dengan irama yang gado-gado. Ada pop Mandarin nostalgia, yang sedang ngetop, hingga lagu-lagu pop Indonesia yang dimandarinkan. Karena itu, jangan kaget kalau suatu ketika Anda mendengar musik dangdut dengan lirik bahasa Mandarin. (lambertus hurek)

1 comment: