20 December 2010

Mandarin, Tionghoa, Putonghua




MANA yang benar: Bahasa Mandarin, Bahasa Tionghoa, atau Bahasa China, Putonghua? Bisa terjadi kebingungan massal di Indonesia.

Oleh LAMBERTUS HUREK


DI sejumlah toko buku di Kota Surabaya, kita saat ini bisa dengan mudah menemukan buku-buku pelajaran bahasa, kamus, percakapan, bahasa Mandarin dan bahasa Tionghoa. Juga ada Kamus Besar Tionghoa-Indonesia karya Mudiro, pakar bahasa asal Indonesia, yang tinggal di Tiongkok sejak 1964.

Huang Licheng, yang lebih dikenal dengan Wiliting, menyusun Kamus Indonesia-Inggris-Tionghoa. Kamus susunan Mudiro dan Wiliting ini termasuk yang paling banyak dipakai kalangan mahasiswa dan pelajar baik di Indonesia maupun Tiongkok. Namun, masih di toko-toko buku, kita pun akan banyak menemukan buku-buku tentang bahasa Mandarin.

Mana yang benar?

“Kedua-duanya benar. Bahasa Mandarin itu, ya, sama saja dengan Bahasa Tionghoa. Jadi, tidak usah bingung,” kata Muryani Semita, penulis sejumlah buku pelajaran bahasa Mandarin, belum lama ini.

Istilah Mandarin lebih banyak dipakai orang-orang Barat, yang berbahasa Inggris, untuk menyebut bahasa nasional di Tiongkok alias Zhongguo alias China. Mula-mula kata Mandarin merujuk pada bahasa para pejabat di Beijing, ibu kota Tiongkok sejak era Dinasti Yuan. Dan kebetulan logat Beijing itulah yang kemudian ditetapkan sebagai bahasa nasional negara Tiongkok.

Anehnya, warga negara Tiongkok sendiri tidak pernah menggunakan istilah Mandarin untuk menyebut nama bahasa nasionalnya. Mereka menyebut bahasa nasionalnya dengan Putonghua. Artinya, kira-kira bahasa umum atau bahasa standar. Putonghua inilah yang dimaksud dengan bahasa Mandarin oleh orang Barat.

Orang Indonesia ikut-ikutan menyerap istilah Mandarin dalam bahasa Inggris. Apalagi, orang Indonesia (non-Tionghoa) sebagian besar memang tidak menguasai Putonghua. Apalagi, selama 32 tahun rezim Orde Baru (1966-1998) melarang Putonghoa alias bahasa Mandarin baik lisan maupun tertulis. Tak hanya Putonghua, bahasa Tionghoa logat Hokkian (Fujian), Hakka, Kanton, dan seterusnya pun dilarang.

Selain di Tiongkok, Putonghoa alias Mandarin ini menjadi bahasa nasional Taiwan. Orang Taiwan juga tidak menyebut Mandarin, tapi guoyu. Singapura juga menjadikan Mandarin sebagai bahasa nasionalnya dengan istilah Huayu. Semuanya merujuk pada bahasa yang sama.

Bahasa Mandarin = bahasa Tionghoa = bahasa China = bahasa Cina, Putonghua = Guoyu = Huayu = Zhongwen.


Orang Indonesia cenderung asing dengan bahasa Mandarin alias Putonghua. Kita lebih akrab bahasa Hokkian mengingat sebagian besar warga Tionghoa di Indonesia berasal dari provinsi di Tiongkok selatan itu.


MAKA, kita kerap mendengar kata-kata angpau, siomai, gopek, nopek, bakpau, kamsia, hoping, cicai, sin cia, cap go meh, topekong, bacang....

Bahasa Mandarin hanya muncul sekelebat melalui lagu-lagu Mandarin atau sejumlah film kungfu yang beredar di tanah air.

Kini, setelah bahasa Tionghoa mulai diajarkan di sekolah-sekolah formal, bahkan ada Program Studi Bahasa Tionghoa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mau tidak mau, kita di Indonesia harus berkiblat pada Putonghua.

Bunyi Putonghua ini mirip Tionghoa. Karena itu, para akademisi terkemuka macam Mudiro dan Wiliting lebih memilih istilah Bahasa Tionghoa ketimbang Mandarin. Ini tidak berarti istilah Mandarin, yang sangat luas digunakan masyarakat internasional melalui bahasa Inggris, tidak boleh dipakai. Kosa kata bahasa Indonesia justru makin kaya, bukan?

Catatan lain yang penting. Dengan menjadikan Putonghua atau bahasa Tionghoa dialek Beijing sebagai bahasa pendidikan (akademis), maka sistem bunyi (fonologi) yang dipakai pun harus mengacu pada Hanyu Pinyin. Sistem Pinyin, singkatan Hanyu Pinyin, merupakan romanisasi bahasa Tionghoa ala Beijing yang dianggap baku di Tiongkok dan dunia internasional.

Celakanya, dengan Pinyin, orang Indonesia, yang belum belajar Putonghua, dijamin pasti salah baca atau salah ucap. Kata xiexie (terima kasih) harus dibaca sie-sie. Zhendema harus dibaca centema. Televisi yang bahasa Tionghoanya dianshi harus dibaca tiensye. Dan seterusnya, dan sebagainya!

Sistem Pinyin ini bakal menimbulkan kebingungan massal bagi orang Indonesia, yang bukan Tionghoa, yang belum pernah belajar bahasa Mandarin. Sebab, bagaimanapun juga bahasa Indonesia punya sistem bunyi atau fonologi sendiri yang sangat berbeda dari bahasa Mandarin atau bahasa Inggris.

Karena itu, jangan heran kalau sampai hari ini sekitar 97 persen orang Indonesia masih menyebut ibu kota Tiongkok, Beijing, menurut lafal Indonesia, Beijing, dan bukan Peiching, sesuai bunyi Putonghua yang benar.

Robby Tirtobisono, guru bahasa Mandarin di Surabaya, membuat sistem bunyi Mandarin sesuai dengan lidah Indonesia, tepatnya Jawa Timur. Dia mengabaikan sistem resmi alias Pinyin. Maka, wartawan disebut cice, padahal yang benar zhishe. Gadis yang menurut Pinyin shaonu, oleh Robby dijawakan menjadi sau ni.

Moga-moga para pakar bahasa Tionghoa di Indonesia bisa segera menemukan sistem fonologi terbaik. Sistem yang tidak terlalu jauh melenceng dari Hanyu Pinyin, tapi juga tidak mengadopsi mentah-mentah sistem bunyi ala bahasa Jawa. (*)

3 comments:

  1. dui bu qi diatas memakai "karakter tradisionil", yang membutuhkan lebih banyak coretan untuk menulisnya.

    apakah di indonesia tidak memakai "karakter simplified" = 'karakter standar sederhana" seperti kini formil di Singapura?

    ReplyDelete
  2. NB

    Karakter simplified/standar sederhana lebih mudah dipelajari, mengingat juga telah berbagai bahasa yang harus dikuasai di Indonesia untuk komunikasi se-hari2 lebih2 untuk anak2 (bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Inggris di sekolah dst.)

    Mungkin akan mengurangi beban pelajar, dan mengurangi pelajar2 yang mandeg sebelum akhir tahun pertama belajar ?

    ReplyDelete
  3. catatan yg bagus...

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.