02 December 2010

Kiat Kuliah di Taiwan





Oleh Lambertus Hurek
Radar Surabaya, 30 November - 3 Desember 2010

Taiwan ternyata sangat merindukan kehadiran mahasiswa Indonesia. Kaoyuan University di Kota Kaosiong bahkan mengirim dekannya untuk mempromosikan kampusnya di Jawa Timur.

“KAMI sangat welcome dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Silakan datang dan kuliah di negara kami,” ujar Dr Huang Wenshen, salah satu dekan Kaoyuan University, dalam seminar yang diadakan Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) di Graha Pena Lantai 3 Surabaya.

Huang kemudian membeberkan berbagai kelebihan bagi mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan. Salah satunya gampang mendapatkan pekerjaan paruh waktu. Ketika musim liburan tiba, selama 2,5 bulan para mahasiswa bisa dengan mudah mencari uang.

Nah, uang hasil bekerja selama liburan ini bisa dipakai untuk biaya kuliah dan biaya hidup di sana. Menurut Huang, yang berbicara dalam bahasa Inggris dan Mandarin, saat ini Taiwan mulai mengalami kekurangan penduduk usia produktif gara-gara program keluarga berencana. Sangat jarang keluarga Taiwan yang punya banyak anak. Padahal, negara sangat membutuhkan pekerja-pekerja dan tenaga ahli yang terampil.

Karena itu, menurut Huang Wenshen, pemerintah Taiwan berharap mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang menyelesaikan kuliah bisa langsung kerja di Taiwan. “Bahkan, sebelum kalian lulus pun banyak pekerjaan sudah antre dengan penghasilan yang bagus,” tambah Andre Su dari ITCC, yang menjadi penerjemah Mandarin Huang Wenshen.

Andre sendiri kuliah dan bekerja di Taiwan selama 16 tahun. Begitu butuhnya perusahaan-perusahaan di sana akan pekerja-pekerja terampil, yang mampu berbahasa Mandarin tentu saja, Andre digandholi ketika hendak kembali ke Indonesia.

“Beda dengan kita di sini. Sarjana-sarjana kita banyak yang nganggur karena nggak ada lowongan,” tukas Andre Su lantas tertawa kecil.

Menjawab pertanyaan peserta, Huang Wenshen juga meyakinkan orang Indonesia, yang beragama Islam, tentang ketersediaan makanan halal di Taiwan. Menurut dia, kampus-kampus di Taiwan juga menyediakan makanan halal untuk mahasiswa-mahasiswa muslim dari berbagai negara.

"Jangan khawatir," katanya.

Di Taiwan juga terdapat banyak food court yang menyediakan makanan halal. Kalau masih juga khawatir juga, para mahasiswa bisa berbelanja dan memasak sendiri makanannya di apartemen atau asrama.

Berbeda dengan di Eropa atau Amerika Serikat, kuliah di Taiwan (juga Tiongkok) tidak membutuhkan syarat yang berat-berat. Peserta cukup mengajukan aplikasi dalam bahasa Inggris.

TENTU akan lebih bagus lagi kalau aplikasi kepada perguruan tinggi yang dituju itu ditulis dalam bahasa Mandarin. Pihak Taiwan juga tidak mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris dengan angka TOEFL tertentu.

“Sebab, bahasa nasional kami memang bukan bahasa Inggris,” tegas Dr Huang Wenshen.

“Kalau ingin kuliah dalam bahasa Inggris, ya, lebih baik Anda ke Amerika Serikat atau Inggris. Bukan ke Taiwan. Bahasa nasional negara kami adalah bahasa Mandarin,” tambahnya.

Pada semester-semester awal, menurut Huang Wenshen, mahasiswa-mahasiswa asing (internasional) masih bisa menikmati perkuliahan dalam bahasa Inggris. Tapi secara sistematis mereka mendapat materi bahasa Mandarin secara intensif agar mahasiswa-mahasiswa itu bisa mengikuti kuliah sebenarnya dalam bahasa Mandarin.

Memang, awalnya mahasiswa asing, yang sama sekali belum punya bekal bahasa Mandarin, agak kesulitan. Tapi setelah banyak bersosialisasi dengan warga dan mahasiswa setempat, mereka menjadi terbiasa. Sesulit apa pun sebuah bahasa pasti bisa dipelajari oleh siapa pun.

“Jadi, jangan khawatir dengan kendala bahasa,” tegas Huang Wenshen yang getol mempromosikan universitas ternama di Kota Kaosiong, Taiwan, itu.

Andre Su dari ITCC Surabaya, yang pernah kuliah dan bekerja selama 16 tahun di Taiwan, menambahkan, pihak universitas (daxue) di Taiwan maupun Tiongkok selama ini memandang kemampuan bahasa Inggris pelajar dan mahasiswa Indonesia sudah bagus. Paling tidak lebih baik ketimbang orang Taiwan atau Tiongkok sendiri. Karena itu, mereka tak akan mengetes kemampuan bahasa Inggris pelajar/mahasiswa Indonesia.

“Yang penting, memang bahasa Mandarin,” tegas pria asal Gorontalo itu.

Senyampang sudah banyak lembaga kursus bahasa Mandarin di Surabaya, juga kota-kota lain di Jawa Timur, Andre mengimbau para pelajar dan mahasiswa kita untuk memanfaatkan sebaik mungkin. Pelajari bahasa itu secara serius agar bisa dikuasai. Itu akan sangat membantu ketika si mahasiswa masuk ke perguruan tinggi di sana.

1 comment:

  1. bagaimana dengan tahun ini apakah masih ada kesempatan untuk kesana?saya pengen buangeeed ikutan daftar kuliah disana.tolong kasih info yang lebuh jelas ya!

    ReplyDelete