09 December 2010

Gayus Tambunan Ketua KPK






Bersamaan dengan hari antikorupsi sedunia, rakyat Indonesia diajak menonton sidang perkara Gayus Tambunan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang kasus mafia pajak ini disiarkan langsung METRO TV. Gayus duduk santai, tenang, sering senyum, jawabannya kadang bikin geli. Tapi juga bikin orang geleng-geleng kepala.

Kepada hakim ketua, Albertina Ho, Gayus mengaku punya simpanan Rp 35 miliar. Uang itu, kata Gayus, fee tiga perusahaan yang dia bantu: Bumi Resources, Arutmin, Kaltim Prima Coal. Total Gayus mendapat komisi Rp 35 miliar.

Ini belum termasuk fee dari perusahaan-perusahaan lain yang belum terungkap.

Bukan main pegawai pajak golongan 3A ini! Masih 30-an tahun, uangnya miliaran rupiah. Sekali me-review pajak, dia dapat fee USD 2 juta atau setara Rp 20 miliar.

Selain geleng-geleng kepala, jutaan rakyat Indonesia yang nonton Metro TV barangkali cemburu dengan Gayus Tambunan. Kok begitu mudahnya Gayus mendapat uang jutaan dolar dari macam-macam sumber? Kok orang lain yang kerja puluhan tahun, jadi PNS macam Gayus, tidak bisa kaya-raya?

Ketimbang bolak-balik menyalahkan Gayus Halomoan Tambunan, yang tak pernah merasa bersalah dengan permainan uang pajak ini, sebaiknya Gayus dijadikan konsultan rakyat. Tugasnya mengajari rakyat Indonesia menjadi kaya-raya secara cepat dan instan. Mengajari rakyat Indonesia agar tidak terus-menerus hidup dalam kemiskinan.

Hari-hari ini, terus terang saja, rakyat asal Indonesia Timur yang tinggal di Pulau Jawa sedang pening kepala gara-gara tiket pesawat naik tiga kali lipat. Ingin cuti, pulang kampung, untuk Natal dan Tahun Baru, tapi maskapai penerbangan rame-rame menaikkan tiket. Tiket paling bawah, yang selama ini menjadi andalan rakyat kecil, tidak dijual sejak November silam.

Kapan ya kita bisa kaya macam Gayus? Ah, andai saja uang Rp 35 miliar milik Gayus itu dipakai untuk carter pesawat Boeing, selesailah masalah pengangkutan orang-orang NTT, Maluku, Papua, Sulawesi Utara yang hendak mudik natalan.

Tadi siang, saya melihat sejumlah aktivis rame-rame demo antikorupsi di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lain. Retorikanya:
"Korupsi dianggap kejahatan luar biasa.
Korupsi merugikan negara.
Korupsi melanggar hak asasi manusia.
Korupsi bisa merusak masa depan anak bangsa.
Dan sebagainya, dan seterusnya...."

Tapi, bagi Gayus Tambunan dan kawan-kawan, korupsi justru sangat penting dan berguna. Korupsi, menurut Gayus, bisa dengan cepat memperbaiki kemakmuran seorang PNS, khususnya pegawai pajak. Tanpa korupsi orang akan tinggal miskin sampai tujuh turunan.

"Salah sendiri, kenapa kalian tidak korupsi?" begitu kira-kira pandangan Gayus Tambunan.

ICW, aktivis antikorupsi, media massa, agamawan... sudah capek berteriak agar korupsi diberantas. Koruptor dipenjara, bahkan kalau perlu ditembak mati. Tapi, seperti terlihat di Metro TV, aparat hukum yang menangani kasus Gayus pun -- mulai polisi, jaksa, hakim, pengacara -- pun doyan korupsi. Korupsi berjemaah ala mafia. Lantas, siapa yang menjamin Gayus dihukum berat, dibuat kapok berkorupsi ria?

Kalaupun divonis penjara, kita tahu, Gayus Tambunan setiap saat bisa keluyuran ke rumahnya, nonton pertandingan tenis, kongko-kongko di luar. Mengapa Gayus tidak dimanfaatkan saja untuk memperkaya seluruh rakyat Indonesia?

Atau, sekalian saja Gayus dijadikan ketua KPK: Komisi Pemerataan Korupsi! Siapa tahu dengan pemerataan korupsi, rakyat Indonesia akan hidup lebih makmur, punya tabungan puluhan miliar di bank dan tujuh miliar di rumah!

Siapa sih yang tak ingin kaya kayak Gayus!

No comments:

Post a Comment