07 December 2010

Chang Jue Ramal Tahun Kelinci 2011



Tahun baru Imlek masih tiga bulan lagi. Tepatnya, 3 Februari 2010. Namun, saat ini buku-buku primbon Tionghoa alias fengshui sudah beredar di sejumlah toko buku di Surabaya.

Selain karya penulis lokal seperti Bingo Tanuwijaya, primbon karya penulis Singapura pun sudah beredar. Salah satunya buku Keberuntungan di Tahun Kelinci karangan Chang Jue. Buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ini bahkan lebih murah ketimbang buku-buku karya penulis dalam negeri.

“Rupanya, globalisasi juga terjadi di lingkungan fengshui. Penulis-penulis luar sudah berani masuk ke Indonesia dengan manggandeng jaringannya di Indonesia,” ujar Benny, profesional muda, yang gemar mengoleksi buku-buku fengshui, kemarin.

Menurut Chang Jue, penerbitan buku Tahun Kelinci 2011 yang lebih awal perlu dilakukan untuk memberikan gambaran garis besar kepada masyarakat, khususnya pebisnis. Mereka bisa membuat langkah-langkah antisipasi lebih dini.

“Kita punya cukup waktu untuk melihat kembali target-target kita,” tulis Chang Jue dalam kata pengantar bukunya.

Menurut Chang, era yang kita jalani sekarang adalah periode kedelapan, 2004-2023, yang tidak menentu. Ada kekacauan ekonomi, gunung meletus, tsunami, kebakaran hutan, gempa bumi, hingga penyakit menular. Begitu pula di Tahun Kelinci mendatang, kondisinya tak jauh berbeda dengan Tahun Macan sekarang.

Namun, di balik kondisi suram itu, Chang juga memberikan gambaran yang optimistis. “Sektor keuangan dan pasar saham mengalami masa keemasan. Perbaikan ekonomi akan memulihkan banyak industri yang kolaps,” tulisnya.

Chang meminta masyarakat di Asia Tenggara untuk mewaspadai penyakit-penyakit yang terkait radang sendi, paru-paru, mata, jantung, saluran usus, dan sistem pencernaan. Bersikaplah yang sopan, kuatkan pendirian.

“Pada tataran pribadi akan terjadi lebih banyak skandal dan sengketa,” papar Chang.

No comments:

Post a Comment