06 December 2010

Andre Su: Cuci Piring untuk Kuliah di Taiwan




MENDAMPINGI Dr Huang Wenshen, salah satu dekan Kaoyuan University, Kaohsiung, Taiwan, Andre Su menceritakan pengalaman bersekolah di SMA, kemudian kuliah dan bekerja selama 16 tahun di Taiwan di depan puluhan peserta seminar.

Selain Andre, ada tiga saudaranya yang menempuh SMA dan universitas di negara kecil di selatan Tiongkok itu.

“Sekaya apa pun orangtua kita, pasti tidak mungkin membayar biaya kuliah empat orang sekaligus di luar negeri,” kata Andre Su yang juga pengajar (laoshi) di Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) Surabaya.

Maka, mau tidak mau, Andre Su bersaudara harus mencari kerja di sana. “Saya kerja cuci piring di Taiwan. Lumayan, penghasilan saya (kalau dirupiahkan) sekitar Rp 6 juta,” ungkapnya.

Dengan duit sebanyak itu, Andre mengaku bisa membayar biaya pendidikannya selama di Taiwan. Dia tak pernah meminta uang pada orangtua untuk biaya pendidikan dan sebagainya.

“Jadi, mulai SMA sampai universitas saya bayar sendiri,” tutur pria asal Gorontalo, provinsi hasil pemekaran Sulawesi Utara, ini.

Mencari pekerjaan di Taiwan, menurut Andre, termasuk urusan gampang. Sebab, negara kecil ini memang sejak beberapa tahun terakhir kekurangan tenaga kerja. Keberhasilan program keluarga berencana, kecenderungan orang Taiwan untuk tidak punya banyak anak, membuat jumlah penduduk usia produktif berkurang drastis.

Karena itu, banyak pekerjaan seperti mencuci piring, cucu pakaian, mengurus taman, kelistrikan... tersedia melimpah. Tinggal kemauan si pelajar/mahasiswa untuk meringankan beban orangtua, plus menabung, dengan mengambil pekerjaan-pekerjaan paruh waktu.

Ini juga membuat mahasiswa Indonesia di Taiwan jarang pulang kampung saat liburan selama 2,5 bulan. “Mereka lebih suka bekerja karena bayarannya sudah bisa menutup biaya kuliah,” tandas Andre.

Berkali-kali laoshi yang juga pemandu wisata andalan ITCC Surabaya ini meyakinkan para pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Jatim tentang berbagai kelebihan kuliah di Taiwan.

Yang tak kalah penting, tiket pesawat terbang Indonesia-Taiwan atau Indonesia-Tiongkok, misalnya Guangzhou, relatif murah. Bahkan, ada maskapai penerbangan yang menawarkan tiket seharga Rp 800.000.

“Jadi, lebih murah ketimbang tiket ke kampung saya di Gorontalo yang Rp 2 juta lebih,” bebernya.

Calon mahasiswa yang hendak kuliah di Taiwan mulai sekarang harus mulai memperbaiki etos belajarnya. Sistem belajar mahasiswa di sana berbeda dengan di Indonesia.

PARA mahasiswa di Taiwan--juga Tiongkok--tinggal di asrama dengan fasilitas memadai. Disiplin ketat ala tentara dilakoni sejak bangun pagi hingga menjelang tidur malam hari. Jam kuliahnya pun jauh lebih panjang ketimbang di Indonesia.

“Kuliah di sana mulai jam tujuh pagi sampai setengah sepuluh malam. Jadi, hampir 15 jam mahasiswa kerjanya hanya belajar, belajar, dan belajar,” kenang Andre Su.

Staf manajemen Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) Surabaya ini menempuh pendidikan SMA di Taiwan, kemudian kuliah dan bekerja di negara itu. Total, Andre menghabiskan waktu 16 tahun di Taiwan. Karena itu, pria asal Gorontalo ini tahu betul gaya belajar dan pola pergaulan anak-anak muda Taiwan dan Tiongkok.

Tidak ada kebiasaan santai-santai ala mahasiswa di Indonesia. Juga tak ada dosen yang malas-malasan karena sibuk cari ceperan di luar tugas pokoknya. Tak ada praktik ‘titip absen’ dan sejenisnya.

Saking padatnya jadwal kuliah, mahasiswa hanya punya waktu sembilan jam sehari untuk urusan nonkuliah. Namun, karena energi mereka tersedot ke urusan perkuliahan, menurut Andre, penampilan mahasiswa di Taiwan dan Tiongkok tidak segaul dan semodis mahasiswa di kampus-kampus Indonesia.

“Orangnya culun-culun, gak gaul blas. Mahasiswinya juga nggak sempat dandan. Gimana mau gaul, jadwal kuliah sudah benar-benar padat,” papar Andre Su.

Mereka pun nyaris tak punya waktu untuk berselencar di dunia maya, sekadar menikmati jejaring sosial seperti Facebook. Di Tiongkok, misalnya, situs-situs gaul macam Facebook diblokir pemerintah karena dianggap hanya membuang-buang waktu produktif. Internet hanya dipakai untuk kepentingan perkuliahan.

Menurut Andre, kalau memang ingin kuliah di Taiwan, mau tidak mau, para pelajar dan mahasiswa kita harus sudah mulai menyiapkan mental dari sekarang. Harus berani mendisiplinkan diri meskipun atmosfer di tanah air belum memungkinkan. Hanya dengan begitu, mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia bisa bersaing. (lambertus hurek)

16 comments:

  1. mohon tanya berapa biaya kuliah dan biaya hidup di taiwan sekarang. terima kasih.
    pieterlouis@yahoo.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. kuliah di taiwan kalo biaya Mandiri 30jt/thn,
      blom termasuk biaya asrama dan hidup.
      bisa cari beaiswa di sana, kalo program S2 banyak banget yg beasiswa.

      Delete
  2. lah kok beda sama yang saya liat yah, perasaan mahasiswa taiwan modis2, apalagi yang cewe, ayu2. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. modis saat hari sabtu dan minggu aja, para tkw kita aja yg bekerja d Hkg ato taiwan kan juga waktu libur aja baru modis, masak waktu masak pake gaun?

      Delete
  3. ayu...karna mereka putih putih.....!
    culunk itu maksudnya ga begitu modis saat kuliah.....!
    kalo lagi malam mingguan ya yahuuud....
    emang yg modis itu kamu liat di kampus mana?

    ReplyDelete
  4. kalo mau tau ttg kuliah di taiwan yg bersubsidi hub fb: siibt@hotmail.com

    ReplyDelete
  5. salut sama mas andre yg konsisten mengembangkan bhs mandarin di jatim. salam persahabatan.

    choirul..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus begitu pak Choirul,emang harus berabkti ma negara walau sampai saat ini merasa di anak tirikan, ada kata :Walaupun Seseorg telah melakukan Beribu ribu kebajikan tetapi tidak melakukan Bhakti kepada ortu dan negara, kebajikan hanyalah sia sia belaka.
      kami skrng lagy membuat pelatihan guru mandarin secara gratis di daerah daerah : tuban,lumajang,jember,bondowoso,Makassar kota dan Sul- sel.
      tanpa ada campur tgn dari pihak diknas, dan semua dana pure dari kami SIIBT - ITCC jawapos lt7, dan ga ada sumbangan dari siapa pun ato komunitas/organisasi apapun.

      from: Andre.

      Delete
  6. memang mhs kita di luar negeri banyak berkorban, kerja keras, krn jauh dr ortu... mereka benar2 merasakan betapa sulitnya cari duit..

    ReplyDelete
  7. biaya kuliah di taiwan kira" kalau di rupiahkan 1 tahunnya brapa??
    kirim ke kevinkhuana@yahoo.com

    ReplyDelete
  8. kuliah di taiwan bagus ga sih ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya beri info sedikit, kalo org taiwan berijasah luar negri itu tanda dia gagal,karna nga lulus ujian uptn lokal. makanya mereka harus ke luarnegri kuliah.
      jaman taon 90an di twn cuman ada 22 univ dgn pendduk 25jt org, gmana caranya berkuliah?

      Delete
  9. semoga kerja keras pak andre dkk mendapat apresiasi dari pemerintah. yg penting indonesia tambah maju pak!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga mau dari pemerintah,malah nanti aku dijadikan boneka, mendingan dari kic andy aja deh.....!
      hehehehe...............

      from: andre

      Delete
  10. pak, 3 thn (2009 - 2011) ku uda bantu gol kan 50 org lebih anak bangsa beasiswa ke china dan twn, dgn jenjang Dip,s1,s2,s3.
    uda mengirim pelatihan guru gratis ke china sebanyak 3 periode 22 org se jatim.
    uda membawa para kepala sekolah SMA sejatim ratusan org, menbawa study tour / study exchange slma 3 thn uda hampir 1000 siswa smp dan sma.
    saya bangga atas segalah karna saya bekerja tanpa ada campur tangan dari pihak pemerintah....ternyata org biasa bisa melakukan hal yg mulia daripada negara.

    from: andre su

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.