21 December 2010

Mudika KR Juara Jingle Bells

Berakhir sudah Festival Jingle Bells versi Jawa Pos yang digelar sejak 1 Desember di empat mal terkemuka di Kota Surabaya. Paduan Suara Mudika Paroki Kristus Raja (KR) alias Youth Catholic Choir terpilih sebagai juara pertama kategori paduan suara.

Adapun pemenang kedua dan ketiga berturut-turut Fratz Choir dari SMAK Frateran dan Angelii Vox Choir dari Paroki Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. Dengan demikian, tiga pemenang lomba paduan suara menyambut Natal 2010 ini diborong oleh paduan suara asal Gereja Katolik.

“Ini sekaligus menjadi kado istimewa bagi Paroki Kristus Raja yang baru saja merayakan HUT ke-80. Sebab, Festival Bells ini merupakan festival dengan tingkat persaingan yang ketat dengan peserta dari berbagai denominasi gereja,” ujar Frans Santoso.

Jemaat Paroki Kristus Raja ini ikut mendukung paduan suara mudika parokinya bersama ratusan umat lain di babak grandfinal akhir pekan lalu. Tak heran, Youth Catholic Choir juga terpilih sebagai paduan suara favorit versi penonton.

Di babak final, lima finalis paduan suara berusaha menyajikan penampilan terbaik. Selain kostum dan teknik vokal, para penyanyi juga menampilkan gerakan-gerakan yang kompak dan menghibur. Angelii Vox Choir, misalnya, membawakan lagu Mangga-Mangga Sami Nderek Gusti.

Komposisi bercorak etnis Jawa ini dibawakan dengan rancak dan menghibur. Mereka juga menampilkan suasana Natal menurut adat Jawa. Ada Maria, Yosef, dan bayi Yesus yang berbusana Jawa. Namun, rupanya nilai yang diperoleh Angelii Vox Choir ini masih kalah dari Mudika Kristus Raja.

“Rata-rata semua peserta sudah tampil bagus. Persaingan di semua kategori memang seimbang,” kata Theis Watopa, tokoh paduan suara senior Jawa Timur, yang menjadi salah satu anggota dewan juri.

Kelima finalis memang kelompok paduan suara yang sudah punya jam terbang tinggi dalam pelayanan paduan suara gerejawi di lingkungannya masing-masing.

Sementara itu, Jenny Stephanie Daely dari GII Hok Im Tong menjadi juara pertama kategori vokal tunggal. Irene Novella (GKI Pondok Candra) dan Bagas Wahyunugroho juara kedua dan ketiga. Kategori vokal tunggal B dimenangi Liong Noveane (GKT Malang), disusul Ecce Palentina (Bethany Nginden).

Adapun juara pertama musik gereja (band) DC Band dari GPDI Dukuh Pakis disusul Keroncong Gembili (GKJW Rungkut) dan Believe in God (Paroki Yakobus Citraland). Para peserta berharap Festival Jingle Bells dijadikan agenda tahunan untuk memeriahkan suasana Natal di Kota Surabaya. (*)

20 December 2010

Mandarin, Tionghoa, Putonghua




MANA yang benar: Bahasa Mandarin, Bahasa Tionghoa, atau Bahasa China, Putonghua? Bisa terjadi kebingungan massal di Indonesia.

Oleh LAMBERTUS HUREK


DI sejumlah toko buku di Kota Surabaya, kita saat ini bisa dengan mudah menemukan buku-buku pelajaran bahasa, kamus, percakapan, bahasa Mandarin dan bahasa Tionghoa. Juga ada Kamus Besar Tionghoa-Indonesia karya Mudiro, pakar bahasa asal Indonesia, yang tinggal di Tiongkok sejak 1964.

Huang Licheng, yang lebih dikenal dengan Wiliting, menyusun Kamus Indonesia-Inggris-Tionghoa. Kamus susunan Mudiro dan Wiliting ini termasuk yang paling banyak dipakai kalangan mahasiswa dan pelajar baik di Indonesia maupun Tiongkok. Namun, masih di toko-toko buku, kita pun akan banyak menemukan buku-buku tentang bahasa Mandarin.

Mana yang benar?

“Kedua-duanya benar. Bahasa Mandarin itu, ya, sama saja dengan Bahasa Tionghoa. Jadi, tidak usah bingung,” kata Muryani Semita, penulis sejumlah buku pelajaran bahasa Mandarin, belum lama ini.

Istilah Mandarin lebih banyak dipakai orang-orang Barat, yang berbahasa Inggris, untuk menyebut bahasa nasional di Tiongkok alias Zhongguo alias China. Mula-mula kata Mandarin merujuk pada bahasa para pejabat di Beijing, ibu kota Tiongkok sejak era Dinasti Yuan. Dan kebetulan logat Beijing itulah yang kemudian ditetapkan sebagai bahasa nasional negara Tiongkok.

Anehnya, warga negara Tiongkok sendiri tidak pernah menggunakan istilah Mandarin untuk menyebut nama bahasa nasionalnya. Mereka menyebut bahasa nasionalnya dengan Putonghua. Artinya, kira-kira bahasa umum atau bahasa standar. Putonghua inilah yang dimaksud dengan bahasa Mandarin oleh orang Barat.

Orang Indonesia ikut-ikutan menyerap istilah Mandarin dalam bahasa Inggris. Apalagi, orang Indonesia (non-Tionghoa) sebagian besar memang tidak menguasai Putonghua. Apalagi, selama 32 tahun rezim Orde Baru (1966-1998) melarang Putonghoa alias bahasa Mandarin baik lisan maupun tertulis. Tak hanya Putonghua, bahasa Tionghoa logat Hokkian (Fujian), Hakka, Kanton, dan seterusnya pun dilarang.

Selain di Tiongkok, Putonghoa alias Mandarin ini menjadi bahasa nasional Taiwan. Orang Taiwan juga tidak menyebut Mandarin, tapi guoyu. Singapura juga menjadikan Mandarin sebagai bahasa nasionalnya dengan istilah Huayu. Semuanya merujuk pada bahasa yang sama.

Bahasa Mandarin = bahasa Tionghoa = bahasa China = bahasa Cina, Putonghua = Guoyu = Huayu = Zhongwen.


Orang Indonesia cenderung asing dengan bahasa Mandarin alias Putonghua. Kita lebih akrab bahasa Hokkian mengingat sebagian besar warga Tionghoa di Indonesia berasal dari provinsi di Tiongkok selatan itu.


MAKA, kita kerap mendengar kata-kata angpau, siomai, gopek, nopek, bakpau, kamsia, hoping, cicai, sin cia, cap go meh, topekong, bacang....

Bahasa Mandarin hanya muncul sekelebat melalui lagu-lagu Mandarin atau sejumlah film kungfu yang beredar di tanah air.

Kini, setelah bahasa Tionghoa mulai diajarkan di sekolah-sekolah formal, bahkan ada Program Studi Bahasa Tionghoa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mau tidak mau, kita di Indonesia harus berkiblat pada Putonghua.

Bunyi Putonghua ini mirip Tionghoa. Karena itu, para akademisi terkemuka macam Mudiro dan Wiliting lebih memilih istilah Bahasa Tionghoa ketimbang Mandarin. Ini tidak berarti istilah Mandarin, yang sangat luas digunakan masyarakat internasional melalui bahasa Inggris, tidak boleh dipakai. Kosa kata bahasa Indonesia justru makin kaya, bukan?

Catatan lain yang penting. Dengan menjadikan Putonghua atau bahasa Tionghoa dialek Beijing sebagai bahasa pendidikan (akademis), maka sistem bunyi (fonologi) yang dipakai pun harus mengacu pada Hanyu Pinyin. Sistem Pinyin, singkatan Hanyu Pinyin, merupakan romanisasi bahasa Tionghoa ala Beijing yang dianggap baku di Tiongkok dan dunia internasional.

Celakanya, dengan Pinyin, orang Indonesia, yang belum belajar Putonghua, dijamin pasti salah baca atau salah ucap. Kata xiexie (terima kasih) harus dibaca sie-sie. Zhendema harus dibaca centema. Televisi yang bahasa Tionghoanya dianshi harus dibaca tiensye. Dan seterusnya, dan sebagainya!

Sistem Pinyin ini bakal menimbulkan kebingungan massal bagi orang Indonesia, yang bukan Tionghoa, yang belum pernah belajar bahasa Mandarin. Sebab, bagaimanapun juga bahasa Indonesia punya sistem bunyi atau fonologi sendiri yang sangat berbeda dari bahasa Mandarin atau bahasa Inggris.

Karena itu, jangan heran kalau sampai hari ini sekitar 97 persen orang Indonesia masih menyebut ibu kota Tiongkok, Beijing, menurut lafal Indonesia, Beijing, dan bukan Peiching, sesuai bunyi Putonghua yang benar.

Robby Tirtobisono, guru bahasa Mandarin di Surabaya, membuat sistem bunyi Mandarin sesuai dengan lidah Indonesia, tepatnya Jawa Timur. Dia mengabaikan sistem resmi alias Pinyin. Maka, wartawan disebut cice, padahal yang benar zhishe. Gadis yang menurut Pinyin shaonu, oleh Robby dijawakan menjadi sau ni.

Moga-moga para pakar bahasa Tionghoa di Indonesia bisa segera menemukan sistem fonologi terbaik. Sistem yang tidak terlalu jauh melenceng dari Hanyu Pinyin, tapi juga tidak mengadopsi mentah-mentah sistem bunyi ala bahasa Jawa. (*)

17 December 2010

Mitos Rumah Tusuk Sate



Mitos fengshui paling terkenal adalah rumah tusuk sate. Bangunan yang berlokasi persis di tengah-tengah jalan bersimpang tiga.

BEGITU banyak orang yang enggan tinggal di dalam rumah yang menghadap jalan yang seolah menusuk (sate). Berbagai musibah yang menimpa keluarga sering dikait-kaitan dengan posisi rumah. Tusuk sate pun jadi kambing hitam.

Dalam fengshui, menurut Xiang Yi [foto], pakar fengshui terkemuka di Indonesia, tusuk sate adalah jalan dengan arus yang mengarah dan berhenti di depan bangunan. Aliran itu bisa berupa kendaraan, manusia yang lewat, atau air yang mengalir di sungai. Dus, kekuatan tusuk sate bukan hanya berasal dari jalan raya, tapi juga sungai.

Bentuk tusuk sate bermacam-macam: paling sederhana seperti hutuf I, T, atau V, sampai yang rumit seperti W atau X. Makin ruwet bentuknya, begitu mitos yang beredar di masyarakat, makin banyak masalah yang timbul. Apalagi, arus yang mengalir sangat deras.

Dari segi fengshui, menurut Xiang Yi, rumah tusuk sate ibarat sebuah palung berisi udara. Akibatnya, tiupan angin yang keras atau arus kendaraan otomatis menerjang bangunan di ujung jalan. Maka, energi di dalam rumah pun kurang bagus. Dan jelas hal ini berdampak pada penghuninya.

Bukan hanya itu. Pada malam hari, lampu sorot dari kendaraan bermotor yang seliwar-seliwer tentu saja mengganggu penghuni yang ingin beristirahat. Kenyamanan akan terganggu. Belum lagi gangguan asap, karbonmonoksida dari asap kendaraan, debu beterbangan. Tubuh yang kekurangan oksigen tentu tidak sehat.

“Dalam fengshui disebut fengsha,” kata Xiang Yi.

Faktor lain yang tak kalah menakutkan adalah sikap sopir yang ugal-ugalan atau mengantuk. Bangunan atau rumah tusuk sate sangat rawan menjadi korban tabrakan. Gangguan ini disebut xingsha. “Semua efek yang ditimbulkan oleh sebuah jalan yang menusuk disebut qiangsha,” kata Xiang Yi.

Meski begitu, efek jalan yang menusuk bisa diatasi dengan relatif mudah. Kalau gangguan itu terkait dengan bentuk, menurut Xiang Yi, tutup saja agar bentuk asli bangunan tidak kelihatan. Caranya dengan membangun tembok tinggi di ujung jalan yang menusuk. Rumah menjadi tersembunyi dan terhalang dari berbagai gangguan.

“Tembok itu disebut zhaobi yang fungsinya seperti pagar. Bedanya, kalau pagar punya lubang di sana-sini, tembok zhaobi ini sangat solid, membuat pemandangan di depan rumah tertutup rapat,” tandas Xiang Yi.

16 December 2010

SSO Konser Natal 2010




Menyambut Natal 2010, Surabaya Symphony Orchestra (SSO) menggelar Christmas Concert 2010 di ballroom Hotel Shangri-La, Jalan Mayjen Sungkono 120 Surabaya, Selasa (14/12/2010) malam. Ini merupakan konser ke-66 orkes simfoni yang didirikan Solomon Tong, Suwadji Widjaja, dan Rudi Setiawan pada 1996 itu.

Seperti beberapa konser sebelumnya, besok malam Solomon Tong kembali melibatkan musisi Tiongkok. Di antaranya, Yang Hongzi (pemain erhu) dan Yang Yijuan (pemain guzheng) dari Chongqing, Tiongkok.

"Yang Hongzi ini termasuk pemain erhu senior di negaranya. Dia juga dikenal sebagai guru musik yang sudah berhasil mencetak banyak musisi muda," ujar Solomon Tong, dirigen SSO.

Adapun Yang Yijuan, yang juga guru guzheng di Little Sun School Surabaya, sudah tak asing lagi bagi penggemar SSO. Nona Tiongkok ini pernah diajak Solomon Tong untuk mengisi konser Natal bersama SSO tahun lalu.

Selain memamerkan kebolehannya bermain guzheng, sejenis sitar, Yijuan pernah melantunkan lagu tradisional negaranya.

Menurut Tong, sejak didirikan 14 tahun silam, SSO memang punya banyak penggemar yang suka lagu-lagu dan musik khas Tiongkok. Karena itu, Tong selalu memasukkan komposisi khas Tiongkok di konser-konser SSO.

Selain itu, seperti biasa, SSO menampilkan petikan opera, concerto, serta paduan suara. Nah, kali ini Tong mengundang Geoffrey Saba, pianis senior yang tinggal di London, Inggris. Geoffrey membawakan Piano Concerto No 1 in E Minor Op 11 karya F. Chopin. Tong berharap para penggemar musik klasik di Surabaya bisa mengapresiasi concerto piano Geoffrey Saba.

Nuansa kegembiraan khas Natal ditampilkan Surabaya Oratorio Society (SOS), paduan suara gabungan gereja-gereja di Surabaya, dalam lagu O Kota Kecil Bethlehem, Malak Surga Benyanyilah, O Datang Imanuel, While Shepherd Watch Their Flocks, Hark! The Herald Angels Sing. Juga ada kantata Natal karya John W Peterson berjudul The Wonder of Christmas.

Tak ketinggalan, Tong menampilkan beberapa solis andalannya seperti Pauline Poegoeh (sopano), Dewi Endrawati (mesosoprano), Robert Soewanto (tenor), Jusuf Suradi (tenor), dan Samuel Tong (bas).

Solomon Tong optimistis konser akhir tahun 2010 ini diminati penggemar musik klasik, khususnya umat kristiani di Surabaya dan sekitarnya. (*)

12 December 2010

Kaisar Victorio - Wono Kairun



Oleh LAMBERTUS HUREK
Radar Surabaya 12 Desember 2010

Selama hampir 40 tahun, Achmad Affandi (64) bergelut dengan radio. Arek Suroboyo ini sukses melahirkan tokoh-tokoh fiktif yang populer di Radio Suzana Surabaya. Sebut saja Bunali, Kaisar, Wono Kairun, Brodin, Selleh, Wan Abud, Tee Ing Han, Joko Bodo, hingga Bun Ke Ke. Figur-figur fiktif itu sempat menghilang selama lima tahun gara-gara Kaisar Victorio -- sapaan akrab Achmad Affandi -- terpilih sebagai anggota DPR RI (2004-2009).


LENGSER sebagai anggota DPR RI, Achmad Affandi kembali ke habitat aslinya di Radio Suzana, Jalan Wali Kota Mustajab 62 Surabaya. Dan figur-figur lawas itu pun kembali menghiasi udara Surabaya.

Di sela-sela memandu acara Trio Burulu, kemarin (11/12/2010), Achmad Affandi melayani Radar Surabaya untuk wawancara khusus. Berikut petikannya:

Bung Kaisar, Anda berkarir sebagai penyiar radio selama puluhan tahun, kemudian jadi anggota DPR RI. Mengapa balik lagi ke radio?


Ini permintaan dari masyarakat. Mereka rame-rame mengirim SMS dan meminta saya kembali. Saya juga ditelepon oleh bosnya Radio Suzana, tolong bantuin! Yah, saya bantu aja. Jadi, saya ini bukan datang untuk kerja lagi, tapi hanya membantu radio yang telah membesarkan saya. Radio Suzana sudah menjadi bagian dari hidup saya.

Bagi saya, pertama, kerja seperti ini menjadi hiburan bagi diri saya sendiri. Kedua, saya bisa membagikan ilmu untuk orang lain. Ini amal. Menghibur orang itu ada pahalanya lho! Menghibur satu orang saja ada pahalanya. Lha, kalau saya menghibur ratusan ribu orang, berapa pahala itu? Allah akan memberikan barokah-Nya.

Selama menjadi anggota dewan, otomatis program unggulan Anda ikut tergerus. Apakah Anda bisa mengembalikan penggemar Anda?

Alhamdulillah, sudah banyak penggemar yang kembali. Greget acara-acara kami naik lagi. Tapi kita kan perlu waktu untuk mengembalikan posisi seperti dulu. Pendengar itu, bagi saya, adalah konstituen yang harus dirawat. Pendengar itu aset. Ya, pendengar lama dan keluarganya. Jadi, selalu ada regenerasi pendengar.

Bukankah tren radio terus berubah, begitu juga selera massa? Apakah Anda bisa menjaga popularitas program Anda?

Gak masalah. No problem. Yang penting, bagaimana sebuah program itu menarik dan menghibur. Yang pertama itu menghibur dulu. Kalau orang sudah terhibur, pasti akan menarik.

Bagaimana Anda melihat perkembangan radio sekarang?


Radio-radio sekarang sudah kehilangan ciri khas. Banyak yang plagiat, menjiplak program radio lain. Ketika trennya news, news semua. Ketika koplo ngetren, koplo semua. Mereka tidak punya pendirian. Tidak punya prinsip, tidak punya ciri khas. Sejak saya masuk ke Radio Suzana dulu, saya ingin menciptakan program-program agar Suzana ini beda dengan yang lain. Dan, insyaallah, program-program itu tidak bisa ditiru pihak lain.

Selama 30 tahun lebih, Radio Suzana ini terkenal karena punya ciri. Ada Trio Burulu, Kaisar, Wono Kairun, bahasa kocak, dan sebagainya. Itu sudah trade mark. Brand image-nya sudah di situ. Kalau kita ubah, maka masyarakat akan lari. Apa bedanya dengan radio lain?


Pendengar mencari sesuatu yang beda, yang memasyarakat. Nah, ini kan hiburan untuk rakyat kecil. Mereka butuh hiburan ringan. Di mana sih radio di Surabaya yang mengadakan acara seperti ini? Tidak ada.

Tapi acara-acara populer itu kan identik dengan Kaisar. Ketika Anda pindah ke Jakarta, acara-acara itu kehilangan greget?


Yah, itu risiko. Ketika saya akan berangkat ke Jakarta, saya sudah pamitan di udara berkali-kali. Saya juga bilang bahwa suatu saat saya kembali. Saya jadi anggota DPR RI itu kan demi pengabdian kepada negara. Maka, penggemar saya dengan sedih dan bangga melepaskan saya. Now, Kaisar is back!

Jangan-jangan setelah lengser jadi anggota dewan, Anda terkena post power syndrome?


Hehehe... Kata-kata post power syndrome itu tidak ada dalam kamus saya. Sebab, saya memang banyak belajar dari sisi agama, filosofi... bahwa hidup itu mengalir. Grafiknya hidup memang naik turun, up and down. Jadi, biasa kalau saya dari Senayan kembali lagi ke sini. Hidup manusia itu ada siklus: lahir, dewasa, tua, sakit, kemudian mati. Ini hukum alam, sunatullah, sudah ketentuan Tuhan.

Kita harus menyadari itu, kemudian mengukur diri kita. Kita ini siapa. Kemampuan kita apa. Apa yang pernah kita berikan buat orang lain. Terus, apa yang akan kita berikan berikutnya. Jangan kita memaksa diri, melakukan sesuatu di luar kemampuan. Itu namanya utopia. Bahasa Mandarinnya: Pi Si Ang Long. Mimpi siang bolong! Hehehe... Kita harus optimis. (rek)



Penguasa Negeri Antah Berantah

JULUKAN Kaisar Victorio bermula saat awal-awal Achmad Affandi bergabung dengan Radio Suzana pada 1972. Kala itu, Radio Suzana masih belum cukup dikenal. Radio yang dulunya berlokasi di Jalan Taman Apsari 7 Surabaya ini lebih banyak memutar lagu-lagu Tionghoa.


Ketika bergabung, Achmad Affandi berpikir keras bagaimana radio bisa menjalin interaksi sebanyak-banyaknya dengan pendengar. Kalau hanya membaca surat pendengar, memutar lagu, kata dia, itu tak cukup.

Maka, Achmad Affandi pun mencoba menciptakan acara yang sedikit membuat orang tergugah untuk ikut menggambarkan imajinasi masing-masing. “Saya paling yakin bahwa radio adalah theatre of mind. Masing-masing pendengar tergoda untuk selalu menggambarkan cerita dan wajah tokoh yang dilakonkan,” ujar ayah empat anak ini.

Maka, lahirlah acara Praktek Terang Kerajaan Antah Berantah dari Puncak Gunung Bohong. Namanya kerajaan, ya, tentu ada rajanya. Lantas, dicomotlah nama Kaisar Victorio sebagai raja. Harapannya, tentu agar raja selalu meraih kejayaaan.

Acara Praktek Terang, pelan tapi pasti, mulai diminati penggemar di Surabaya, bahkan kota-kota lain di Jawa Timur. Kaisar setiap sore membahas masalah-masalah sepele, tapi penting, yang ada di masyarakat. Rasan-rasan di kampung-kampung ini diangkat untuk didiskusikan di udara. Kaisar Victorio alias Achmad Affandi berperan layaknya moderator sebuah diskusi interaktif.

Pekan lalu, misalnya, Praktek Terang antara lain membahas mitos rumah tusuk sate dan kebiasaan ‘memancing anak’. Pasangan suami-istri yang lama tak dikarunia momongan biasanya mengangkat seorang bayi dengan harapan lekas hamil. “Anak kok dipancing dengan anak? Kelihatannya nggak logis, nggak masuk akal, tapi sering dilakukan di masyarakat,” pancing Kaisar.

Pancingan Kaisar biasanya cukup manjur. Tak lama kemudian, telepon pun berdering. Pendengar Suzana seakan berlomba berbagi pengalaman atau berkomentar tentang topik yang dilempar sang Kaisar.

Kaisar optimistis Praktek Terang yang sudah dilakoninya selama empat dekade ini akan tetap disukai pendengar meski sempat absen ketika dia aktif menjadi anggota DPR RI di Senayan. Alasannya, acara macam ini tak ada di radio-radio mana pun di tanah air.

Ihwal studio Suzana FM yang kian sempit di Jalan Wali Kota Mustajab 62, berbeda dengan studio lama di Taman Apsari yang lapang, Kaisar tak mempersoalkannya. Toh, dia tetap bisa berkreasi dengan leluasa.

“Ingat, kerajaan saya itu ada di udara. Mau studionya di Taman Apsari, Wali Kota Mustajab, atau tempat lain nggak masalah,” tegasnya. (*)


BIODATA SINGKAT

Nama asli : Achmad Affandi
Lahir : Surabaya, 14 Juni 1946.
Orangtua : H Abdul Rosyid dan Nasichah (tokoh Nyamplungan, kampung Arab di Surabaya)
Istri : Helen Safarni
Anak : Hendi Effendi, Afni Royida, Ali Akbar, Suzana Indah Agustina
Pekerjaan : Penyiar Radio Suzana Surabaya

Pendidikan :
SD Al Khairiyah Surabaya
SD Al Irsyad Surabaya
SMP Negeri 2 Surabaya
SMA Negeri 3 Surabaya.

Pengalaman Politik
Ikut merintis Partai Amanat Nasional (PAN) di Jatim, 1998
Pencipta Himne & Mars PAN
Anggota DPR RI, 2004- 2009


Wono Kairun Paling Beken

DARI sekian banyak figur imajiner ciptaan Achmad Affandi, Wono Kairun tergolong paling beken. Si Mbah ini diciptakan pada 1975. Ketika itu, acara Trio Burulu (Bunali, Rukem, Lumut) membutuhkan figur seorang kakek tua yang cerewet, usil, dan suka ikut campur urusan orang lain.

Wono Kairun digambarkan memakai kain sarung yang sering melorot karena tidak disabuki. Suka batuk-batuk sehingga mengganggu lawan bicaranya. Gigi ompong, kepala botak, hanya tinggal dua helai rambut di kepala.

“Usia Wono Kairun ini 80-an tahun, belum pernah menikah. Tua-tua keladi, sok muda, sok gaya, tapi tidak berdaya,” tutur Kaisar Victorio, sapaan akrab Achmad Affandi.

Figur-figur fiktif ini kerap merepotkan si penciptanya bila sedang beraksi di acara Trio Burulu. Sebab, Kaisar harus berkali kali mengubah karakter vokal. “Apalagi, kalau suara-suara itu saling berdialog,” katanya.

Sejumlah seniman komedi Jawa Timur sering nimbrung mendampingi Wono Kairun cs sebagai bintang tamu. Di antaranya, Paimo, Harry Koko, Sussi Sunaryo, Sokran, hingga Roy Markun.

“Sayang, mereka telah meninggalkan kita semua. Saat ini seniman ludruk yang masih aktif sebagai bintang tamu adalah Sapari dan Jhuss,” papar Kaisar. (*)

10 December 2010

Roti Gandum NEWSTART




Dua pekan lalu, saya mampir ke markas NEWSTART di Jalan Ketabangkali 2 Surabaya. Hanya ada Bu Nanik bersama asistennya di sana. Pakar gizi ini memperkenalkan roti serta beberapa camilan khas NEWSTART.

Semua makanan buatan NEWSTART, klaim Nanik, menyehatkan. Cocok untuk orang-orang yang ingin terbebas dari penyakit-penyakit khas orang kota macam kencing manis (diabetes), kegemukan, kanker, hipertensi, jantung koroner, reumatik, asam urat.

NEWSTART merupakan salah satu gaya hidup kembali alam. Back to nature! Ada delapan elemen NEWSTART yang harus diperhatikan dalam menjalani NEWSTART:

1. Nutrition.
2. Exercise.
3. Water.
4. Sunshine.

5. Temperance.
6. Air.
7. Rest.
8. Trust in Divine power.

Mengapa makanan-makanan NEWSTART bikin sehat?
Mengapa roti gandum NEWSTART lebih baik bagi kesehatan?
Mengapa orang-orang kota patut memilih makanan-makanan NEWSTART?

Menurut Nanik, NEWSTART tidak menggunakan MSG, gula pasir, tepung putih, bahan pengawet, pewarna, bahan hewani, dan sebagainya. 100% alami. Kandungan seratnya tinggi.

Si serat ini sangat penting buat pencernaan manusia. Orang menjadi kegemukan, obesitas, gara-gara kurang mengonsumsi serat. Bukan serat karung goni atau kapas, tapi serat makanan. Nah, beras yang kita makan sehari-hari sebetulnya kurang sehat karena serat-serat dan sejumlah nutrisi penting yang dibutuhkan manusia sudah disosoh.

Roti yang beredar di Surabaya, Indonesia umumnya, pun tidak baik untuk kesehatan. Mengapa? Roti-roti di pasar itu dibuat dari terigu alias tepung putih. Meskipun dibuat dari gandum, serat-seratnya sudah hilang. Dan itu tidak membantu proses pencernaan manusia. Jika tepung putih ini dicampur gula pasir... efeknya sangat buruk bagi tubuh.

Karena itu, NEWSTART hanya menyediakan ROTI GANDUM. Teksturnya kasar, warna kekuningan, padat. Saya pun mencicipi roti gandum yang katanya hebat untuk kesehatan itu. Ciamik! Gurih dan enak meskipun tak dicampur gula atau pemanis. Wow, rupanya roti macam ini yang kita butuhkan untuk sarapan atau penyedia karbohidrat pengganti nasi.

Karena banyak serat, menurut Nanik, roti gandum bisa bikin kenyang. Bandingkan dengan roti-roti biasa di pasar yang sukar mengenyangkan karena terbuat dari tepung putih. Tepung putih dan gula pasir = karbohidrat jelek.

"Kami sudah punya banyak langganan meskipun belum sebanyak bakery biasa. Sosialisasinya memang masih kurang," kata Nanik yang ramah ini.

Saya akui roti gandum NEWSTART memang punya banyak keunggulan ketimbang roti biasa. Meskipun harganya dua kali lipat roti biasa, roti NEWSTART jauh lebih tahan lama. Disimpan satu minggu lebih, tanpa perlu dimasukkan kulkas, pun awet. Bandingkan dengan roti biasa yang sudah jamuran hanya dalam tempo dua hari.

Pekan lalu, saya bertemu Saleha Wulandari, staf kantor pusat NEWSTART Indonesia, di Trawas, Mojokerto. Saya cerita tentang roti gandum NEWSTART yang saya peroleh di Surabaya. Wulandari, yang sedang hamil delapan bulan, tersenyum mendengar cerita saya.

"Roti gandum itu hasil penelitian yang cukup panjang di sini," kata Wulandari. Para staf NEWSTART Indonesia, yang hampir semuanya sarjana ilmu gizi, melakukan trial and error berkali-kali hingga menghasilkan roti NEWSTART seperti yang sekarang dijual di markas NEWSTART.

Karena dibuat dari gandum utuh, bukan tepung putih, menurut Wulandari, awalnya si roti sangat padat dan keras. "Dipakai untuk melempari asu, iso matek. Hehehe," kenang Wulandari yang ramah ini.

Para peneliti NEWSTART tak putus asa. Mereka terus mencoba, mencoba, mencoba, akhirnya ditemukan roti gandum khas NEWSTART. Roti gandum yang berbeda dengan roti-roti gandum di berbagai bakery di Jawa Timur.

Tidak percaya? Silakan coba di markas NEWSTART terdekat?

INFORMASI LEBIH LANJUT

NEWSTART INDONESIA (kantor pusat)
Jalan Raya Trawas, Slepi, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur
Telepon (0343) 885265, 885267

NEWSTART SURABAYA
Jalan Ketabangkali 2 Surabaya
Telepon (031) 534 1524, 031 709 95630

NEWSTART JAKARTA
Jalan MT Haryono Blok A Kav. 4-5 Jakarta Selatan
Telepon (021) 8370 6629, 7138 3234

Soe Tjen Bahas Kematian



Oleh Lambertus Hurek

Orang Tionghoa di Surabaya itu kompleks. Warna-warni. Tak homogen. Dr Soe Tjen Marching mengangkat kerumitan Tionghoa Surabaya itu dalam novel terbarunya, MATI BERTAHUN YANG LALU. Sastrawan, komponis, dan pendidik ini menggambarkan warna-warni kehidupan orang Tionghoa yang berbeda-beda penghayatan agama dan kulturnya.

Berbicara dalam launching novelnya, pekan lalu, di kampus Universitas Kristen Petra Surabaya, Soe Tjen secara blak-blakan mengungkapkan warna-warni kehidupan Tionghoa Surabaya itu. “Saya ambil dari pengalaman sendiri maupun apa yang saya lihat di lingkungan sekitar saya,” kata Soe Tjen.

Mantan dosen University of London, Inggris, ini menceritakan kematian Vincentius Budi Surya, seorang wartawan berdarah Jawa yang beristrikan wanita Tionghoa Surabaya, pada 1995. Mendiang Budi yang terkenal dengan inisial Bs ini (bisa Balsam, Brengkes, Bedhes, kata Soe Tjen) beragama Katolik.

Nah, menjelang saat penguburan, terjadi konflik hebat di kalangan keluarga almarhum yang kebetulan berbeda-beda agama dan kepercayaan. Putri Budi berbaju putih polos layaknya suasana kematian Tionghoa. Soe Tjen menulis:

“Beberapa keluarga besar Papa protes: Budi kan bukan orang Tionghoa? Mereka bilang kalau Mama harus pakai cara Jawa....”

Cara Jawa yang bagaimana? “Nggak pakai peti mati, tapi dibungkus kain putih (kafan), dan dibacakan Quran,” papar Soe Tjen di hadapan sekitar 80 mahasiswa dan dosen Sastra Inggris UK Petra.

Kontroversi berlanjut. Keluarga besar almarhum Budi yang Katolik juga protes. Mereka ingin dipanggilkan pastor (romo) untuk memimpin misa requiem sebelum melepas almarhum ke tempat pemakaman.

“Gantian keluarga Mama yang beraliran Konghucu protes karena mereka sudah membawa hio, peralatan sembahyang, serta rohaniwannya,” ungkap pendiri Sekolah Mandala Surabaya itu.

Ribut-ribut soal agama dan tradisi itu pun tak berujung. Akhirnya, di meja sembahyang ada salib Yesus, hio, serta tulisan beraksara Arab. “Budi kan nikah sama orang Jawa, ya, gini jadinya. Gak tahu cara Tionghoa,” komentar keluarga besar dari kalangan Tionghoa totok.

Meski tidak seekstrem seperti dilukiskan di novelnya, menurut Soe Tjen Marching, sampai sekarang pun orang Tionghoa di Surabaya, dan Indonesia umumnya, masih sering meributkan tetek-bengek seperti ritual kematian seseorang. Perbedaan agama, orientasi budaya, hingga kekayaan kerap menjadi kerikil dalam relasi di kalangan Tionghoa maupun non-Tionghoa.

“Wong sudah mati kok diributkan? Semua pihak berlomba-lomba mengurus. Padahal, saat masih hidup, belum tentu mereka itu memberi perhatian,” ujar Soe Tjen lantas tertawa kecil.

Stefanny Irwan, dosen UK Petra, yang juga cerpenis, menilai novel perdana Soe Tjen Marching ini penuh dengan satir-satir yang dinamis dan lincah. Soe Tjen menyentil berbagai aspek kehidupan orang Indonesia, khususnya Tionghoa. (*)

09 December 2010

Gayus Tambunan Ketua KPK






Bersamaan dengan hari antikorupsi sedunia, rakyat Indonesia diajak menonton sidang perkara Gayus Tambunan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang kasus mafia pajak ini disiarkan langsung METRO TV. Gayus duduk santai, tenang, sering senyum, jawabannya kadang bikin geli. Tapi juga bikin orang geleng-geleng kepala.

Kepada hakim ketua, Albertina Ho, Gayus mengaku punya simpanan Rp 35 miliar. Uang itu, kata Gayus, fee tiga perusahaan yang dia bantu: Bumi Resources, Arutmin, Kaltim Prima Coal. Total Gayus mendapat komisi Rp 35 miliar.

Ini belum termasuk fee dari perusahaan-perusahaan lain yang belum terungkap.

Bukan main pegawai pajak golongan 3A ini! Masih 30-an tahun, uangnya miliaran rupiah. Sekali me-review pajak, dia dapat fee USD 2 juta atau setara Rp 20 miliar.

Selain geleng-geleng kepala, jutaan rakyat Indonesia yang nonton Metro TV barangkali cemburu dengan Gayus Tambunan. Kok begitu mudahnya Gayus mendapat uang jutaan dolar dari macam-macam sumber? Kok orang lain yang kerja puluhan tahun, jadi PNS macam Gayus, tidak bisa kaya-raya?

Ketimbang bolak-balik menyalahkan Gayus Halomoan Tambunan, yang tak pernah merasa bersalah dengan permainan uang pajak ini, sebaiknya Gayus dijadikan konsultan rakyat. Tugasnya mengajari rakyat Indonesia menjadi kaya-raya secara cepat dan instan. Mengajari rakyat Indonesia agar tidak terus-menerus hidup dalam kemiskinan.

Hari-hari ini, terus terang saja, rakyat asal Indonesia Timur yang tinggal di Pulau Jawa sedang pening kepala gara-gara tiket pesawat naik tiga kali lipat. Ingin cuti, pulang kampung, untuk Natal dan Tahun Baru, tapi maskapai penerbangan rame-rame menaikkan tiket. Tiket paling bawah, yang selama ini menjadi andalan rakyat kecil, tidak dijual sejak November silam.

Kapan ya kita bisa kaya macam Gayus? Ah, andai saja uang Rp 35 miliar milik Gayus itu dipakai untuk carter pesawat Boeing, selesailah masalah pengangkutan orang-orang NTT, Maluku, Papua, Sulawesi Utara yang hendak mudik natalan.

Tadi siang, saya melihat sejumlah aktivis rame-rame demo antikorupsi di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lain. Retorikanya:
"Korupsi dianggap kejahatan luar biasa.
Korupsi merugikan negara.
Korupsi melanggar hak asasi manusia.
Korupsi bisa merusak masa depan anak bangsa.
Dan sebagainya, dan seterusnya...."

Tapi, bagi Gayus Tambunan dan kawan-kawan, korupsi justru sangat penting dan berguna. Korupsi, menurut Gayus, bisa dengan cepat memperbaiki kemakmuran seorang PNS, khususnya pegawai pajak. Tanpa korupsi orang akan tinggal miskin sampai tujuh turunan.

"Salah sendiri, kenapa kalian tidak korupsi?" begitu kira-kira pandangan Gayus Tambunan.

ICW, aktivis antikorupsi, media massa, agamawan... sudah capek berteriak agar korupsi diberantas. Koruptor dipenjara, bahkan kalau perlu ditembak mati. Tapi, seperti terlihat di Metro TV, aparat hukum yang menangani kasus Gayus pun -- mulai polisi, jaksa, hakim, pengacara -- pun doyan korupsi. Korupsi berjemaah ala mafia. Lantas, siapa yang menjamin Gayus dihukum berat, dibuat kapok berkorupsi ria?

Kalaupun divonis penjara, kita tahu, Gayus Tambunan setiap saat bisa keluyuran ke rumahnya, nonton pertandingan tenis, kongko-kongko di luar. Mengapa Gayus tidak dimanfaatkan saja untuk memperkaya seluruh rakyat Indonesia?

Atau, sekalian saja Gayus dijadikan ketua KPK: Komisi Pemerataan Korupsi! Siapa tahu dengan pemerataan korupsi, rakyat Indonesia akan hidup lebih makmur, punya tabungan puluhan miliar di bank dan tujuh miliar di rumah!

Siapa sih yang tak ingin kaya kayak Gayus!

Chelsea Kalah Lagi



Marseille 1 Chelsea 0

Untuk kesekian kalinya Chelsea kalah. Kalah, kalah, kalah, seri, seri... tidak pernah menang dalam banyak pertandingan terakhir. Bagi saya, penggemar Chelsea, kabar kekalahan Chelsea yang terus berulang jelas menyedihkan.

Kok kalah terus sih? Bukankah Chelsea punya pemain-pemain hebat? Bahkan, boleh jadi paling hebat di antara semua klub Liga Inggris? Tapi, begitulah sepak bola, klub tidak bisa menang terus. Tapi juga tak boleh kalah melulu.

Saya baru ngefans sama Chelsea dalam lima tahun terakhir. Saya melihat cara main Chelsea sangat hidup. Kokoh. Bersemangat. Penuh motivasi. Taktis. Semua lini hidup. Bahkan, Barcelona yang sangat dahsyat saja bertekuk lutut saat Liga Champion beberapa tahun lalu.

Tapi itu dulu. Sekarang Chelsea sudah hampir kehilangan semuanya, kecuali pemain-pemain hebat yang kehilangan motivasi dan ketajaman. Chelsea tak lagi garang. Drogba sudah lupa cara bikin gol. Anelka tak jelas juntrungannya. Terry gak karuan. Lampard larut dalam cedera. Cech kerasan pakai helm.

Lama-lama aku muak melihat permainan Chelsea. Dan, akhirnya tidak lagi menjadi fan setia Chelsea. Pun klub-klub lain yang juga hebat, entah Barcelona atau Manchester United. Lebih baik saya jadi orang netral. Hanya mendukung klub-klub yang bermain bagus... dan menang!

Siapa tahan menjadi fan klub yang selalu kalah dan kalah melulu?

07 December 2010

Chang Jue Ramal Tahun Kelinci 2011



Tahun baru Imlek masih tiga bulan lagi. Tepatnya, 3 Februari 2010. Namun, saat ini buku-buku primbon Tionghoa alias fengshui sudah beredar di sejumlah toko buku di Surabaya.

Selain karya penulis lokal seperti Bingo Tanuwijaya, primbon karya penulis Singapura pun sudah beredar. Salah satunya buku Keberuntungan di Tahun Kelinci karangan Chang Jue. Buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ini bahkan lebih murah ketimbang buku-buku karya penulis dalam negeri.

“Rupanya, globalisasi juga terjadi di lingkungan fengshui. Penulis-penulis luar sudah berani masuk ke Indonesia dengan manggandeng jaringannya di Indonesia,” ujar Benny, profesional muda, yang gemar mengoleksi buku-buku fengshui, kemarin.

Menurut Chang Jue, penerbitan buku Tahun Kelinci 2011 yang lebih awal perlu dilakukan untuk memberikan gambaran garis besar kepada masyarakat, khususnya pebisnis. Mereka bisa membuat langkah-langkah antisipasi lebih dini.

“Kita punya cukup waktu untuk melihat kembali target-target kita,” tulis Chang Jue dalam kata pengantar bukunya.

Menurut Chang, era yang kita jalani sekarang adalah periode kedelapan, 2004-2023, yang tidak menentu. Ada kekacauan ekonomi, gunung meletus, tsunami, kebakaran hutan, gempa bumi, hingga penyakit menular. Begitu pula di Tahun Kelinci mendatang, kondisinya tak jauh berbeda dengan Tahun Macan sekarang.

Namun, di balik kondisi suram itu, Chang juga memberikan gambaran yang optimistis. “Sektor keuangan dan pasar saham mengalami masa keemasan. Perbaikan ekonomi akan memulihkan banyak industri yang kolaps,” tulisnya.

Chang meminta masyarakat di Asia Tenggara untuk mewaspadai penyakit-penyakit yang terkait radang sendi, paru-paru, mata, jantung, saluran usus, dan sistem pencernaan. Bersikaplah yang sopan, kuatkan pendirian.

“Pada tataran pribadi akan terjadi lebih banyak skandal dan sengketa,” papar Chang.

Suroan di TITD Cokro



Tak hanya orang Jawa, warga Tionghoa pun kemarin ikut menggelar perayaan Tahun Baru Jawa, 1 Suro. Upacara ditandai dengan kebaktian dan makan siang bersama di Tempat Ibadat Tridharma (TITD) Hong San Ko Tee. Ritual suroan memang sudah menjadi tradisikan kelenteng di Jalan Cokroaminoto Surabaya itu.

"Kalau tidak salah, kami sudah melaksanakan upacara 1 Suro secara rutin selama 15 kali. Bagaimanapun juga, sebagai orang Tionghoa yang lahir dan dibesarkan di Jawa, kami perlu melestarikan budaya Jawa," kata Juliani Pudjiastuti, pengurus TITD Hong San Ko Tee, kepada saya, Selasa (7/12/2010).

Selain warga Tionghoa, perayaan tahun baru Jawa ini juga diikuti warga sekitar dan undangan yang kebanyakan etnis Jawa. Karena itu, sembahyangan dilaksanakan dalam dua sesi. Di bagian dalam kelenteng dipimpin suhu dan pengurus kelenteng, sedangkan ritual suroan dipimpin seorang modin.

Jemaat kemudian berdoa secara pribadi di altar Dewi Sri, yang dikenal sebagai dewi padi dan kemakmuran di tanah Jawa. Menurut Juliani, sejak didirikan 91 tahun silam, para pengelola kelenteng memang telah memberikan penghormatan khusus kepada tradisi dan budaya Jawa. Salah satunya dengan menempatkan Eyang Putri Dewi Sri pada sebuah altar khusus di dalam kompleks Kelenteng Cokro.

"Jadi, sekarang ini kami hanya tinggal merawat dan melestarikan tradisi yang sudah bagus itu," kata Juliani seraya tersenyum. "Nah, suroan ini kami memohon berkah kepada Eyang Putri Dewi Sri, dewi padi dan dewi kesuburan," ujarnya.

Seperti suroan di tempat lain, jemaat Kelenteng Cokro tak lupa menyediakan tumpang berisi nasi berserta lauk pauknya serta jajanan pasar. Setelah didoakan oleh modin, sebanyak 134 tumpeng dibawa pulang oleh umat dan sebagian lagi diserahkan ke pihak kelenteng untuk dinikmati warga sekitar.

"Suroan ini kita bersihkan diri kita, introspeksi, melihat kembali apa yang sudah kita perbuat selama ini. Semoga ke depan keluarga dan masyarakat kita menjadi lebih baik," harap Yuli. (*)

06 December 2010

Andre Su: Cuci Piring untuk Kuliah di Taiwan




MENDAMPINGI Dr Huang Wenshen, salah satu dekan Kaoyuan University, Kaohsiung, Taiwan, Andre Su menceritakan pengalaman bersekolah di SMA, kemudian kuliah dan bekerja selama 16 tahun di Taiwan di depan puluhan peserta seminar.

Selain Andre, ada tiga saudaranya yang menempuh SMA dan universitas di negara kecil di selatan Tiongkok itu.

“Sekaya apa pun orangtua kita, pasti tidak mungkin membayar biaya kuliah empat orang sekaligus di luar negeri,” kata Andre Su yang juga pengajar (laoshi) di Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) Surabaya.

Maka, mau tidak mau, Andre Su bersaudara harus mencari kerja di sana. “Saya kerja cuci piring di Taiwan. Lumayan, penghasilan saya (kalau dirupiahkan) sekitar Rp 6 juta,” ungkapnya.

Dengan duit sebanyak itu, Andre mengaku bisa membayar biaya pendidikannya selama di Taiwan. Dia tak pernah meminta uang pada orangtua untuk biaya pendidikan dan sebagainya.

“Jadi, mulai SMA sampai universitas saya bayar sendiri,” tutur pria asal Gorontalo, provinsi hasil pemekaran Sulawesi Utara, ini.

Mencari pekerjaan di Taiwan, menurut Andre, termasuk urusan gampang. Sebab, negara kecil ini memang sejak beberapa tahun terakhir kekurangan tenaga kerja. Keberhasilan program keluarga berencana, kecenderungan orang Taiwan untuk tidak punya banyak anak, membuat jumlah penduduk usia produktif berkurang drastis.

Karena itu, banyak pekerjaan seperti mencuci piring, cucu pakaian, mengurus taman, kelistrikan... tersedia melimpah. Tinggal kemauan si pelajar/mahasiswa untuk meringankan beban orangtua, plus menabung, dengan mengambil pekerjaan-pekerjaan paruh waktu.

Ini juga membuat mahasiswa Indonesia di Taiwan jarang pulang kampung saat liburan selama 2,5 bulan. “Mereka lebih suka bekerja karena bayarannya sudah bisa menutup biaya kuliah,” tandas Andre.

Berkali-kali laoshi yang juga pemandu wisata andalan ITCC Surabaya ini meyakinkan para pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Jatim tentang berbagai kelebihan kuliah di Taiwan.

Yang tak kalah penting, tiket pesawat terbang Indonesia-Taiwan atau Indonesia-Tiongkok, misalnya Guangzhou, relatif murah. Bahkan, ada maskapai penerbangan yang menawarkan tiket seharga Rp 800.000.

“Jadi, lebih murah ketimbang tiket ke kampung saya di Gorontalo yang Rp 2 juta lebih,” bebernya.

Calon mahasiswa yang hendak kuliah di Taiwan mulai sekarang harus mulai memperbaiki etos belajarnya. Sistem belajar mahasiswa di sana berbeda dengan di Indonesia.

PARA mahasiswa di Taiwan--juga Tiongkok--tinggal di asrama dengan fasilitas memadai. Disiplin ketat ala tentara dilakoni sejak bangun pagi hingga menjelang tidur malam hari. Jam kuliahnya pun jauh lebih panjang ketimbang di Indonesia.

“Kuliah di sana mulai jam tujuh pagi sampai setengah sepuluh malam. Jadi, hampir 15 jam mahasiswa kerjanya hanya belajar, belajar, dan belajar,” kenang Andre Su.

Staf manajemen Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) Surabaya ini menempuh pendidikan SMA di Taiwan, kemudian kuliah dan bekerja di negara itu. Total, Andre menghabiskan waktu 16 tahun di Taiwan. Karena itu, pria asal Gorontalo ini tahu betul gaya belajar dan pola pergaulan anak-anak muda Taiwan dan Tiongkok.

Tidak ada kebiasaan santai-santai ala mahasiswa di Indonesia. Juga tak ada dosen yang malas-malasan karena sibuk cari ceperan di luar tugas pokoknya. Tak ada praktik ‘titip absen’ dan sejenisnya.

Saking padatnya jadwal kuliah, mahasiswa hanya punya waktu sembilan jam sehari untuk urusan nonkuliah. Namun, karena energi mereka tersedot ke urusan perkuliahan, menurut Andre, penampilan mahasiswa di Taiwan dan Tiongkok tidak segaul dan semodis mahasiswa di kampus-kampus Indonesia.

“Orangnya culun-culun, gak gaul blas. Mahasiswinya juga nggak sempat dandan. Gimana mau gaul, jadwal kuliah sudah benar-benar padat,” papar Andre Su.

Mereka pun nyaris tak punya waktu untuk berselencar di dunia maya, sekadar menikmati jejaring sosial seperti Facebook. Di Tiongkok, misalnya, situs-situs gaul macam Facebook diblokir pemerintah karena dianggap hanya membuang-buang waktu produktif. Internet hanya dipakai untuk kepentingan perkuliahan.

Menurut Andre, kalau memang ingin kuliah di Taiwan, mau tidak mau, para pelajar dan mahasiswa kita harus sudah mulai menyiapkan mental dari sekarang. Harus berani mendisiplinkan diri meskipun atmosfer di tanah air belum memungkinkan. Hanya dengan begitu, mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia bisa bersaing. (lambertus hurek)

02 December 2010

Kiat Kuliah di Taiwan





Oleh Lambertus Hurek
Radar Surabaya, 30 November - 3 Desember 2010

Taiwan ternyata sangat merindukan kehadiran mahasiswa Indonesia. Kaoyuan University di Kota Kaosiong bahkan mengirim dekannya untuk mempromosikan kampusnya di Jawa Timur.

“KAMI sangat welcome dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Silakan datang dan kuliah di negara kami,” ujar Dr Huang Wenshen, salah satu dekan Kaoyuan University, dalam seminar yang diadakan Indonesia-Tionghoa Culture Center (ITCC) di Graha Pena Lantai 3 Surabaya.

Huang kemudian membeberkan berbagai kelebihan bagi mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan. Salah satunya gampang mendapatkan pekerjaan paruh waktu. Ketika musim liburan tiba, selama 2,5 bulan para mahasiswa bisa dengan mudah mencari uang.

Nah, uang hasil bekerja selama liburan ini bisa dipakai untuk biaya kuliah dan biaya hidup di sana. Menurut Huang, yang berbicara dalam bahasa Inggris dan Mandarin, saat ini Taiwan mulai mengalami kekurangan penduduk usia produktif gara-gara program keluarga berencana. Sangat jarang keluarga Taiwan yang punya banyak anak. Padahal, negara sangat membutuhkan pekerja-pekerja dan tenaga ahli yang terampil.

Karena itu, menurut Huang Wenshen, pemerintah Taiwan berharap mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang menyelesaikan kuliah bisa langsung kerja di Taiwan. “Bahkan, sebelum kalian lulus pun banyak pekerjaan sudah antre dengan penghasilan yang bagus,” tambah Andre Su dari ITCC, yang menjadi penerjemah Mandarin Huang Wenshen.

Andre sendiri kuliah dan bekerja di Taiwan selama 16 tahun. Begitu butuhnya perusahaan-perusahaan di sana akan pekerja-pekerja terampil, yang mampu berbahasa Mandarin tentu saja, Andre digandholi ketika hendak kembali ke Indonesia.

“Beda dengan kita di sini. Sarjana-sarjana kita banyak yang nganggur karena nggak ada lowongan,” tukas Andre Su lantas tertawa kecil.

Menjawab pertanyaan peserta, Huang Wenshen juga meyakinkan orang Indonesia, yang beragama Islam, tentang ketersediaan makanan halal di Taiwan. Menurut dia, kampus-kampus di Taiwan juga menyediakan makanan halal untuk mahasiswa-mahasiswa muslim dari berbagai negara.

"Jangan khawatir," katanya.

Di Taiwan juga terdapat banyak food court yang menyediakan makanan halal. Kalau masih juga khawatir juga, para mahasiswa bisa berbelanja dan memasak sendiri makanannya di apartemen atau asrama.

Berbeda dengan di Eropa atau Amerika Serikat, kuliah di Taiwan (juga Tiongkok) tidak membutuhkan syarat yang berat-berat. Peserta cukup mengajukan aplikasi dalam bahasa Inggris.

TENTU akan lebih bagus lagi kalau aplikasi kepada perguruan tinggi yang dituju itu ditulis dalam bahasa Mandarin. Pihak Taiwan juga tidak mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris dengan angka TOEFL tertentu.

“Sebab, bahasa nasional kami memang bukan bahasa Inggris,” tegas Dr Huang Wenshen.

“Kalau ingin kuliah dalam bahasa Inggris, ya, lebih baik Anda ke Amerika Serikat atau Inggris. Bukan ke Taiwan. Bahasa nasional negara kami adalah bahasa Mandarin,” tambahnya.

Pada semester-semester awal, menurut Huang Wenshen, mahasiswa-mahasiswa asing (internasional) masih bisa menikmati perkuliahan dalam bahasa Inggris. Tapi secara sistematis mereka mendapat materi bahasa Mandarin secara intensif agar mahasiswa-mahasiswa itu bisa mengikuti kuliah sebenarnya dalam bahasa Mandarin.

Memang, awalnya mahasiswa asing, yang sama sekali belum punya bekal bahasa Mandarin, agak kesulitan. Tapi setelah banyak bersosialisasi dengan warga dan mahasiswa setempat, mereka menjadi terbiasa. Sesulit apa pun sebuah bahasa pasti bisa dipelajari oleh siapa pun.

“Jadi, jangan khawatir dengan kendala bahasa,” tegas Huang Wenshen yang getol mempromosikan universitas ternama di Kota Kaosiong, Taiwan, itu.

Andre Su dari ITCC Surabaya, yang pernah kuliah dan bekerja selama 16 tahun di Taiwan, menambahkan, pihak universitas (daxue) di Taiwan maupun Tiongkok selama ini memandang kemampuan bahasa Inggris pelajar dan mahasiswa Indonesia sudah bagus. Paling tidak lebih baik ketimbang orang Taiwan atau Tiongkok sendiri. Karena itu, mereka tak akan mengetes kemampuan bahasa Inggris pelajar/mahasiswa Indonesia.

“Yang penting, memang bahasa Mandarin,” tegas pria asal Gorontalo itu.

Senyampang sudah banyak lembaga kursus bahasa Mandarin di Surabaya, juga kota-kota lain di Jawa Timur, Andre mengimbau para pelajar dan mahasiswa kita untuk memanfaatkan sebaik mungkin. Pelajari bahasa itu secara serius agar bisa dikuasai. Itu akan sangat membantu ketika si mahasiswa masuk ke perguruan tinggi di sana.

Renata, Mama Suzana FM





Belajar bahasa Tionghoa bisa juga dilakukan sambil bercanda. Itulah resep Fransisca Renata, penyiar senior Radio Suzana (91,3 FM).

“NI hao ma?” begitu sapaan di seberang telepon.

“Wo hen hao,” jawab Mama Cho Kit Ban di studio Radio Suzana, Jalan Wali Kota Mustajab 62 Surabaya.

Sang mama memang menjawab sapaan dalam bahasa Mandarin, yang artinya ‘saya sangat baik’, tapi logat Jawanya sangat kental.

Vokalnya pun diolah sedemikian rupa, sehingga persis encim-encim atau wanita peranakan Tionghoa yang berbahasa gado-gado--Mandarin, Hokkian, Jawa, Indonesia, bahkan Madura. Terkadang si mama berperan sebagai nainai alias nenek-nenek yang suka menasihati cucu kesayangannya.

Pembicaraan pun kemudian akrab, lancar, dan hangat. Layaknya orang yang sudah saling kenal. Sang Mama dan pendengar bicara ngalor-ngidul, nyentil sana-sini, bercanda, kemudian tertawa bersama. Begitulah aktivitas rutin Fransisca Renata tiga kali sepekan: Kamis, Jumat, Sabtu.

“Saya siaran tiap pukul 13.00 sampai 15.00. Saya berperan sebagai Mama Cho Kit Ban yang siap menjadi mama sekaligus teman para pendengar. Mereka bicara apa saja, ya, saya ladeni,” tutur Renata (57) kepada saya pekan lalu.

Kehadiran program interaktif dan hiburan Mandarin di Suzana FM ini tak lepas dari buah reformasi yang digerakkan mahasiswa pada 1998. Ketika rezim Orde Baru tumbang, Presiden KH Abdurrahman Wahid (almarhum) mencabut berbagai produk perundang-undangan yang melarang ekspresi budaya dan bahasa Tionghoa di muka umum.

Maka, bahasa Tionghoa yang selama tiga dasawarsa hanya digunakan warga keturunan Tionghoa di lingkungan terbatas mulai muncul lagi ke ruang publik. Nah, Radio Suzana yang sejak dulu memang sudah punya program hiburan multietnis, antara lain dengan karakter tokoh Tionghoa, merasa perlu membuat program khusus bernuansa Tionghoa.

“Kaisar yang menggagas acara ini, sekaligus menjadi pengasuhnya,” terang Renata sambil tersenyum. Kaisar yang dimaksud tak lain Kaisar Victorio alias Achmad Affandi, penyiar senior yang piawai menciptakan sejumlah tokoh fiktif di Suzana FM, termasuk Mbah Wono Kairun itu.

Renata sendiri sudah bertahun-tahun menjadi mitra siar Achmad Affandi di program Burulu (Bunali, Rukem, Lumut) yang sangat terkenal itu. Ketika sang kaisar terpilih sebagai anggota DPR RI pada 2004, program yang sudah berhasil merebut hati pendengar dari kalangan Tionghoa ini sempat limbung.

Sebagai penyiar senior, Fransisca Renata (57) mau tidak mau harus bisa menggantikan posisi Kaisar Victorio, nama populer Achmad Affandi, yang terpilih sebagai wakil rakyat di Senayan, Jakarta.

BERMODAL tekad serta kemauan yang keras, Fransisca Renata akhirnya bisa menjadi host acara Ni Hao Ma di Radio Suzana 91,3 FM. Program bernuansa Tionghoa ini menuntut sang penyiar paling tidak punya kemampuan berbahasa Mandarin meski tidak perlu sefasih seorang native speaker dari dataran Tiongkok.

Renata yang kelahiran Madiun, 27 Juni 1953, asli Jawa, sama sekali tak punya darah Tionghoa, ‘dipaksa’ untuk secepat mungkin menguasai bahasa negeri panda ini. Caranya? “Saya mengamati tetangga saya yang Tionghoa. Cara bicaranya sehari-hari, logatnya, nada suaranya, saya perhatikan dan tiru,” kenang Renata seraya tersenyum.

Dari situ, ibu empat anak ini menemukan bahwa warga keturunan Tionghoa di Jawa Timur, khususnya Surabaya, tidak 100 persen berbicara dalam bahasa Guoyu alias bahasa Mandarin, melainkan gado-gado. Ada unsur Mandarin, Hokkian (Fujian), Jawa, Indonesia, kemudian sedikit istilah bahasa Inggris.

Hampir tidak ada orang Tionghoa di Surabaya yang murni berkomunikasi sehari-hari dalam bahasa nasional Tiongkok itu. Bahkan, banyak pula orang Tionghoa, khususnya generasi mudanya, yang sama sekali tak bisa berbicara dalam bahasa leluhurnya.

“Makanya, di radio pun saya bicara mixed, campuran. Yah, kayak encim-encim itulah,” tutur Renata yang juga fasih main ludruk ala Radio Suzana itu.

Nggak ikut kursus Mandarin?

“Waduh, mana ada waktu?” tukasnya. Renata mengaku belajar bahasa ini melalui tetangga atau kenalan Tionghoa atau dengan pendengarnya. Lama-kelamaan dia bisa mampu berinteraksi dengan penggemar acaranya yang hampir semuanya orang Tionghoa.

Bahkan, tak sedikit orang Tionghoa yang mengaku kalah fasih berbahasa Tionghoa dibandingkan Mama Cho Kit Ban. Mereka juga kaget ketika bertemu langsung dengan Renata yang ternyata bukan Tionghoa.

Tak hanya bahasanya yang gado-gado, Renata pun selalu memutar lagu-lagu berbahasa Mandarin dengan irama yang gado-gado. Ada pop Mandarin nostalgia, yang sedang ngetop, hingga lagu-lagu pop Indonesia yang dimandarinkan. Karena itu, jangan kaget kalau suatu ketika Anda mendengar musik dangdut dengan lirik bahasa Mandarin. (lambertus hurek)

01 December 2010

Lili Widjaja Ratu Taijiquan




Namanya Lili Widjaja. Tubuhnya ramping, nyaris tanpa lemak. Gerakannya lincah. Lili, 50 tahun, juga sangat ramah, paling tidak sama saya. Minggu lalu, 28 November 2010, Lili Widjaja memborong medali emas dalam turnamen nasional taijiquan di Gedung Langit, Kenjeran, Surabaya.

Mama tiga anak ini memang luar biasa. Dia tercatat sebagai ratu taijiquan Indonesia. Bulan lalu, Lili Widjaja merebut empat medali emas dalam kejuaraan dunia taijiquan di Beijing, Tiongkok.

Tiga tahun terakhir memang tahun prestasi bagi Lili. Tahun 2008 Lili memperoleh tiga emas kejuaraan taujiquan [kelompok senior] di Korea Selatan. Tahun berikutnya, 2009, kejuaraan dunia di Singapura, tiga medali emas.

Hari-hari Lili Widjaja memang diisi dengan berlatih taijiquan selama tiga jam penuh di Sasana Serumai dan Sasana Galaxiy Berbagai jurus dia dalami seperti jurus bermain pedang, tangan kosong, dongyue, dan dongyuebang.

Sebelum berangkat ke Beijing, Lili diperiksa dokter pribadi dan dirawat suster pribadi pula agar terhindar dari kelebihan lemak. Tubuh harus tetap ramping. “Badan saya memang tidak boleh kegemukan,” jelas Lili.

Lili juga memperdalam ketrampilannya di Akademi Wushu Indonesia (AWI) di Jalan Sumatera dan dilatih khusus laoshi asal Beijing. Sang laoshi dari Tiongkok itu sangat keras. Dia tak segan-segan kasih hukuman. Metode macam inilah yang membuat atlet-atlet Tiongkok selalu berprestadi di level dunia.

"Saya anggap gemblengan laoshi itu sebagai cambuk. Itu yang membuat saya dapat empat emas di Beijing," kata ibunda Sherly, Silvia, dan Stephany Limansantoso ini.

Udara dingin Beijing memaksa Lili harus bekerja ekstrakeras menjaga tubuhnya. Resepnya? Banyak minum anggur dan makan daging kambing. Vitamin B dan C juga dikonsumsi. Banyak makan buah-buahan.

Tak sia-sia Lili ikut kejuaraan dunia taujiquan di Beijing. Dia borong emas emas. "Saya persembahkan medali emas itu untuk warga Kota Surabaya, khususnya Wali Kota Ibu Tri Rismaharini," katanya. Lili memang mengundang Bu Risma untuk syukuran atas prestasinya.

Ke depannya Lili ingin menjadi pelatih, laoshi. Masyarakat bisa datang berlatih taiji tanpa dipungut bayaran. Saya ingin masyarakat Surabaya menyukai taiji," jelasnya.

Sejak kecil Lili Widjaja memang suka olahraga, khususnya basket, bola voli, dan renang. Kebetulan orangtuanya sangat mendukung hobi putri keenam dari delapan bersaudara tersebut. Dia juga doyan sport karena melihat tubuh saudara-saudaranya ringkih, kurang kuat.

“Saya juga bandel dan tomboi sejak kecil," kenang lulusan SMA Trisilia Surabaya ini.

Sekitar 25 tahun silam, ketika baru saja menikah dengan Nie Antonie Salim, Lili dinyatakan menderita radang otak oleh dokter. Walau hatinya galau, Lili bertekad keras agar sembuh dari penyakitnya itu. Lili pun lantas menekuni taiji. Berkat olahraga khas Tiongkok ini, radang otak itu sembuh.

Anda ingin tetap sehat hingga usia senja?

Lili Widjaja menganjurkan, sekarang juga ikut berlatih setiap hari bersama komunitas taiji/taijiquan di kota Anda.