05 November 2010

Yuri Honing Quartet di Surabaya




Jazz memang meredup di Surabaya, tapi tidak sampai mati. Di tengah gemuruh musik pop dengan sekian banyak artis yang datang dan pergi, jazz tetap saja bertahan. Ia punya komunitas yang lestari dan terus beregenerasi.

Selasa, 2 November 2010, di The Empire Palace, Jalan Blauran 57 Surabaya, publik jazz Surabaya kedatangan tamu istimewa asal Belanda: YURI HONING ACOUSTIC QUARTET. Kuartet musisi yang bagi penggemar jazz dunia tak asing lagi. Tapi mungkin asing bagi orang Indonesia yang kebanyakan jarang mengikuti perkembangan jazz kontemporer.

YURI HONING ACOUSTIC QUARTET terdiri atas Yuri Honing (saksofon), Wolfert Brederode (piano), Frans van der Hoeven (bas dobel), dan Joost Lijbaart (drum). Sesuai nama grup, Yuri Honing yang langsing dan ramah ini pemimpin (leader), komposer, serta juru bicara alia tukang cuap-cuap di atas panggung.

Meneer Yuri bicara dalam bahasa Inggris yang fasih. Saking fasihnya, kata-kata Yuri kurang bisa ditangkap dengan baik oleh sekitar 200 penonton yang tentu saja bukan penutur asli bahasa Inggris. Tapi tak apa. Musik, termasuk jazz, adalah bahasa universal. Siapa pun yang bisa mendengar niscaya bisa menikmati sajian YURI HONING ACOUSTIC QUARTET.

Dari sekian banyak konser jazz di Surabaya dalam beberapa tahun terakhir, menurut saya, YURI HONING ACOUSTIC QUARTET inilah yang benar-benar jazz. Bukan jazz-jazzan, sekadar nama tempelan, seperti yang sering diklaim perusahaan rokok tertentu. Ajak musisi rock macam Andi/rif dibilang jazz. Piyu Padi dibilang jazz. Masih lumayan si Tompi masih ada nuansa jazz, tapi kurang kental.

Nah, Yuri Honing dan tiga rekannya asal Belanda itu membuat semangat saya untuk menikmati jazz tumbuh lagi. Jazz itu sedari awalnya memang akustik. Penuh improvisai. Ada buaian swing. Banyak nada-nada biru, blue notes. Sinkopasi. Dan, bagi saya pribadi, yang sangat penting adalah ini: SAKSOFON. Tanpa saksofon, dominasi melodi khas saksofon, rasa jazz kurang kental. Ibarat sayur tanpa garam.

Melihat langsung permainan Yuri Honing, saya langsung teringat Dick de Graaf. Juga seorang pemusik jazz, pemain saksofon kawakan asal Belanda. Beberapa tahun lalu Dick de Graaf tampil bersama tiga rekannya yang juga sesama pemusik akustik di Hotel Majapahit Jalan Tunjungan Surabaya. Jazz kelas dunia. Wow, rupanya Belanda, negara beka penjajah kita itu, punya banyak stok musisi jazz kualitas nomor satu.

Jazz yang ‘serius’ memang sepenuhnya instrumentalia. Dan Yuri Honing sebagai leader tetap berada di depan. Yuri mula-mula bermain dengan tempo lambat, melodi yang terasa melankolis, kemudian ditingkahi piano, bas, dan drum. Tapi terbuka ruang yang lebar bagi musisi lain untuk berekspresi. Yuri memang dominan, tapi tidak segalanya. Dan itulah indahnya demokrasi dan kebebasan bermusik ala jazz.

Berbeda, misalnya, kita menyaksikan permainan Kenny G, saksofoni Amerika Serikat yang keriwul itu. Dia seperti main sendiri, sementara musisi lain hanya bertugas mengiringi Kenny.

Begitu juga dengan acara-acara Didiek SSS, saksofonis, yang suka main sendiri diiringi... minus one. Yuri terkadang ‘istirahat’ cukup lama dan membiarkan Wolfert, Frans, dan Joost melakukan improvisasi.

Boleh dikata, publik jazz di Surabaya, termasuk saya, belum akrab dengan nomor-nomor YURI HONING ACOUSTIC QUARTET. Ada Sweet Surrender, All I Need, hingga lagu tradisional Armenia. Tapi itu tak menghalangi kita untuk menikmati permainan Yuri cs yang memang bagus, kompak, serius, tetap menghibur. Kita ibaratnya beroleh santapan rohani yang lezat setelah sibuk kerja cari uang sepanjang hari.

Konser selama hampir satu jam itu pun selesai begitu saja. Kemudian acara pemberian kenang-kenangan dari Pak Cornelis, tokoh Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Belanda (YPKIB). Rasanya ada yang kurang di sini: encore.

Musisi Belanda biasanya senang memainkan emosi penonton dengan pura-pura turun panggung, seakan-akan konser sudah selesai. Penonton tepuk tangan panjang, minta tambahan lagu. “We want more! We want more!”

Lalu, para seniman naik lagi dan memainkan satu sampai tiga komposisi tambahan. Biasanya, encore ini dipilih nomor yang dikenal luas publik setempat. Bengawan Solo, Ayo Mama, Indonesia Pusaka, atau lagu-lagu daerah lainnya.

Sayang, YURI HONING ACOUSTIC QUARTET tidak punya ‘tradisi’ untuk berbasa-basi. Konser selesai, titik.

Kemudian, para penonton, khususnya yang muda-muda, mahasiswa dan pelajar, berebut foto bersama musisi. Yuri Honing sebagai pemusik utama, band leader, malah berada di belakang panggung dan berbincang dengan seorang teman Belandanya. Maka, saya pun cepat-cepat menemui Tuan Yuri di kamar ganti.



“Meneer Yuri, there’s many girls want to greet and meet you,” kata saya sedikit merayu. Hehehe....

Yuri tersenyum mendengar kalau sedang ditunggui gadis-gadis muda di depan panggung. Lalu, saya ajak Yuri keluar. Jalannya cepat sekali.

Dan, benar saja, cewek-cewek berebut foto bersama Yuri Honing. Sementara di bagian lain panggung, Wolfert, Frans, Joost juga dikerubuti cewek-cewek, hanya sedikit cowok, untuk foto bersama.

Acara foto-foto dengan kamera HP atau kamera poket ini kelihatannya remeh, tapi sebenarnya sangat penting untuk sosialiasi musik jazz di kalangan generasi muda. Mereka-mereka ini baru belajar mengenal musik jazz standar yang memang asing di telinga anak-anak muda Indonesia.

Percayalah, lima atau 10 tahun ke depan, pengalaman foto bareng musisi jazz ini terus membekas. Dan sebagian dari mereka akan bergabung, bahkan bikin komunitas jazz, kelak ketika mereka sudah bekerja. Ini yang sering kurang disadari para artis jazz, termasuk pejazz terkenal asal Belanda ini.

Setelah acara foto bersama ini selesai, saya minta waktu sedikit untuk wawancara singkat. Yuri Honing mengaku baru dua kali ini datang ke Indonesia. Dia senang bisa menghibur penggemar jazz di Indonesia, khususnya di Surabaya. Kali ini, selain di Surabaya, Yuri Honing Quartet main juga di Semarang, Jogjakarta, Jakarta, dan Bogor.

“Saya senang dengan sambutan penonton di sini,” katanya.

Bagi Yuri Honing, jazz bukan sekadar musik, tak hanya hiburan belaka, tapi udah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Jazz telah memperkaya pengalaman hidupnya. Dan itu ia bagikan lewat komposisi-komposisi yang dimainkan di hadapan ribuan penonton.

“Kabarnya, Anda dan grup Anda sudah keliling ke 50 negara?” tanya saya mengacu pada pernyataan Mario Rawung, pembaca acara (MC) malam itu.

“Bukan 50 negara, tapi lebih dari 60 negara. Saya sendiri tidak ingat semua negara yang saya datangi itu. Terlalu banyak,” kata Yuri Honing seraya tersenyum.

Yuri Honing mengaku gembira karena musik jazz tetap bertumbuh, berkembang, dan selalu mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Banyak anak-anak muda datang ke konser jazz bergabung dengan penggemar-penggemar senior. Bisa saling mengisi.

Bagaimana perkembangan jazz di Belanda?

“Bagus sekali. Belanda, khususnya Amsterdam, saat ini termasuk salah satu pusat jazz dunia, selain New York di USA. Konser-konser jazz selalu dipadati penonton,” kata Yuri.

Dank u, Meneer! Goedenavond!

Saya sudah ngantuk.

No comments:

Post a Comment