10 November 2010

Turis Tiongkok dan Bahasa Inggris




Selasa, 27 Oktober 2010, saya ikut menyambut kedatangan 79 orang duta budaya Tiongkok. Mereka tergabung dalam Grup Musik dan Tari Zong Zheng. Hampir semua anggota rombongan seniman ini sehar-hari bekerja sebagai tentara Tiongkok.

Pantas saja potongan fisik mereka, baik laki-laki maupun perempuan, bagus-bagus. Tinggi, ramping, padat. Tidak ada yang kelebihan lemak atau perut buncit. Benar-benar enak dilihat. Cara berjalan teman-teman kita dari Zhongguo ini pun tegap dan bergegas.

Sayang, seperti biasa, saya kesulitan menemukan salah satu anggota rombongan yang bisa diajak berbicara dalam bahasa Inggris. Apalagi yang bisa berahasa Indonesia. Mereka hanya berbicara dalam bahasa nasionalnya: Putonghua yang lebih kita kenal dengan bahasa Mandarin.

Sayang, saya belum bisa berbicara dalam Putonghua. Saya hanya tahu sedikit-sedikit sapaan atau ungkapan sederhana. Untuk keperluan wawancara, tentu saja tidak memadai. Maka, mau tak mau, untuk kesekian kalinya, harus pakai jasa penerjemah.

Syukurlah, di Surabaya ini banyak sekali warga Tionghoa yang fasih bahasa Tionghoa. Dan mereka siap menerjemahkan kata-kata para tamu asal Tiongkok ini. Panitianya pun orang Surabaya yang sangat menguasai Mandarin. Hanya saja, saya sejak dulu lebih suka berbicara langsung tanpa jasa penerjemah atau interpreter.

Pengalaman bersama Grup Zong Zheng ini juga selalu saya rasakan ketika bertemu tamu-tamu lain asal Tiongkok, Jepang, Thailand, dan negara-negara Asia lainnya. Pengunjung atau turis dari negara-negara Barat rata-rata bisa berbahasa Inggris sehingga kita bisa bertanya jawab.

Saya pun membatin: Mengapa para seniman Tiongkok itu, yang sering tampil di banyak negara, tidak mau belajar bahasa Inggris? Atau, belajar beberapa ungkapan sederhana dalam bahasa Indonesia ketika hendak berkunjung ke Indonesia? Apakah mereka ini tidak mendapat pelajaran bahasa Inggris di sekolah?

Apakah mereka tidak sadar bahwa Putonghua alias Mandarin ini tergolong bahasa paling sulit di dunia, sehingga sangat sulit dipelajari masyarakat di luar Tiongkok alias Zhungguo? Apakah mereka tidak sadar bahwa bahasa Mandarin belum sepopuler bahasa Inggris?

Kita, orang Indonesia, masih lumayan. Terlepas dari kualitas yang belum bagus, kita mendapat pelajaran bahasa Inggris dasar sejak kelas satu SMP. Kemudian di SMA, ditambah beberapa satuan kredit semester (SKS) di perguruan tinggi.

Kalaupun tak sempat kuliah, orang Indonesia paling tidak punya sedikit bekal bahasa Inggris di SMP dan SMA. Orang Indonesia biasanya tidak bisa lancar berbahasa Inggris, tapi tidak asing lagi dengan ungkapan bahasa Inggris.

Musik Barat berlirik Inggris sangat populer di Indonesia. Film-film Barat apalagi. Bahkan, sejak 20 tahun terakhir ungkapan-ungkapan Inggris kian populer di masyarakat. Bahasa-bahasa daerah malah mulai tergusur gara-gara meluasnya penggunaan bahasa Indonesia, disusul globalisasi bahasa Inggris.

Ketika orang Indonesia berkunjung ke luar negeri, walau hanya beberapa hari, dia pasti belajar sedikit-sedikit bahasa setempat. Paling tidak bahasa Inggris sederhana.

Lha, tamu-tamu asing yang datang ke Indonesia kok sepertinya ‘memaksa’ kita untuk menyesuaikan diri dengan mereka! Bukan tamu yang menyesuaikan diri, termasuk bahasanya, dengan bahasa tuan rumah!

Kita disuruh belajar bahasa Mandarin supaya bisa berkomunikasi dengan tamu-tamu dari Tiongkok. Belajar bahasa Jepang supaya mudah berkomunikasi dengan turis-turis Jepang. Juga bahasa Korea atau bahasa Jerman dan Prancis. Mengapa bukan tamu-tamu itu yang harus belajar bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang Indonesia di bumi Indonesia?

Berbahagialah warga negara-negara yang berbahasa Inggris, english speaking nation! Mereka tidak capek-capek belajar bahasa Inggris seperti kita di Indonesia. Sebab, bahasa Inggris, bahasa pertama mereka, telah menjadi bahasa global. English speaking nation macam Amerika Serikat, Inggris, Australia -- bisa ditambah Singapura -- tak punya kendala bahasa di era globalisasi.

Salut kepada warga negara Belanda, khususnya turis-turis Belanda, yang datang ke Indonesia. Mereka bukan english speaking nation, tapi dijamin bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Orang Belanda sejak dulu memang didesain menjadi poliglot: bisa berkomunikasi dalam banyak bahasa.

Sudah pasti orang Belanda bisa berbahasa Belanda, kemudian Inggris, kemudian bahasa Jerman yang sangat mirip bahasa Belanda, kemudian Spanyol, dan beberapa bahasa Eropa lainnya. Sebagai bekas penjajah Indonesia, orang-orang Belanda menaruh perhatian khusus pada bahasa, budaya, dan sejarah Indonesia.

Maka, saya selalu senang ketika bertemu dengan warga negara Belanda yang datang ke Indonesia. Beda banget dengan turis-turis Tiongkok atau Jepang.

1 comment:

  1. Orang Belanda mampu berbahasa banyak, karena mereka sadar bahwa negara mereka kecil. Karena itu tidak mungkin memaksa negara lain belajar bahasa mereka. Sebaliknya di Prancis atau Jerman, negara besar, kebanyakan bahasa ke-2nya hanya bahasa Inggris saja. Karena negaranya kecil itu, perusahaan2 Belanda (mulai dari jaman VOC) harus melihat ke luar negeri, dan mereka bisa lebih tangguh daripada Prancis atau Jerman.

    ReplyDelete