05 November 2010

Surabaya All Stars - Jazz Band



Surabaya beruntung punya barisan pemusik senior yang tekun merawat jazz. Usia mereka sudah kepala enam, bahkan kepala tujuh. Tapi mereka tetap menekuni jazz.

Yah, jazz, musik yang bermula dari komunitas Afro-Amerika itu pernah berjaya di Surabaya pada era 1970-an dan 1980-an. Sejak dulu Surabaya selalu dibicarakan dalam peta jazz Indonesia.

Begitu banyak pemusik jazz terkenal negeri ini pernah merintis karir di Kota Surabaya. Sebut saja Bubi Chen, sang legenda hidup. Embong Rahardjo almarhum. Ireng Maulana. Margie Siegers. Mus Mudjiono. Dan masih banyak lagi.

Sayang, perlahan tapi pasti, Surabaya yang terkenal sebagai city of work itu terus kalah pamor dengan Jakarta. Termasuk untuk urusan musik. Sistem politik, budaya, hingga industri hiburan yang sentralistik, serba Jakarta, menenggelamkan potensi daerah. Para pemusik top di daerah pun hijrah ke Jakarta.

Musik jazz di Surabaya surut. Syukurlah, masih ada sejumlah pemusik jazz yang bertahan di Surabaya. Bubi Chen salah satunya. Berkat Om Bubi, Surabaya masih diperhitungkan di kancah jazz tanah air. Bicara tentang Bubi Chen, tak lengkap rasanya jika kita tidak sebut nama TRI WIJAYANTO.

Gitaris jazz kawakan. Pak Tri memang tidak sepopuler Bubi Chen. Tapi para penggemar jazz di Surabaya tahu persis kualitas dan dedikasi Tri Wijayanto untuk menyemarakkan jazz di Surabaya. "Saya mulai main jazz sejak tahun 1975. Sama-sama Bubi Chen, Maryono, Embong...," kata Tri Wijayanto kepada saya, Selasa (2/11/2010).

Malam itu, Tri Wijayanto dkk tampil sebelum konser Yuri Honing Acoustic Quartet, grup jazz asal Belanda. Mereka hanya dikasih kesempatan membawakan dua nomor. Nomor kedua, JARANG KEPANG, yang diolah dari lagu dolanan Jawa Timur, sangat energetik. Penonton bisa menikmati cita rasa lagu dolanan plus balutan irama jazz nan apik.

Salut!

Di usianya yang sudah tentu tak muda lagi, Tri tetap semangat dan sehat. Mungkin itu yang membuatnya awet muda. Bisa main jazz terus-menerus selama 35 tahun tanpa berhenti di Surabaya. Petikan gitarnya masih khas, rancak, khususnya saat membawakan nomor-nomor fusion. Tri wijayanto memang gitaris jazz Indonesia yang menonjol.

Saat ini Tri Wijayanto bersama grupnya, SURABAYA ALL STARS, punya program main jazz di kampus-kampus Surabaya. Jazz goes to campus, kerja sama dengan JTV. Tanggal 3 November main di Universitas Airlangga. 6 November di Universitas Kristen Petra. 10 November di ITS Surabaya. 13 November 2010 di Universitas Surabaya (Ubaya).

Jazz to campus sangat penting untuk menyebarkan 'virus' jazz di kalangan mahasiswa. Generasi muda perlu disajikan hidangan musik dengan rasa berbeda, selain pop dan rock. Jazz sering dianggap rumit, aneh, tidak menyenangkan. Kesan itu muncul karena anak-anak muda kita jarang, bahkan hampir tidak pernah, menyaksikan langsung konser jazz. Tak kenal maka tak sayang.

SURABAYA ALL STARS didukung 10 pemain. Tri Wijayanto pada gitar, sekaligus leader dan arranger. Muhammad alias Mamat drum. Iwan Santoso keyboard. Luluk trombone. Dodik trumpet. Saiful saksofon (tenor). Boy saksofon (alto). Roland perkusi. Corina vokal.

Ketika Surabaya masih punya beberapa kafe yang punya program jazz, juga di hotel-hotel berbintang, SURABAYA ALL STARS ini selalu dapat peluang tampil. Namun, era keemasan jazz itu telah berlalu. Jazz memang masih ada, namun hanya muncul sekali-sekali. Insidentil. Saat ini Tri wijayanto dkk masih punya jadwal reguler di kafe kecil di halaman Hotel Garden Palace, Jalan Yos Sudarso Surabaya.

"Kami main tiap Rabu malam. Lumayanlah, masih ada ruang untuk berekspresi," kata Tri Wijayanto sambil tersenyum.

Di luar urusan jazz, Tri bergabung dengan pemusik lain, juga genre lain di luar jazz. Biasanya, lagu-lagu lawas, nostalgia, di beberapa tempat hiburan. Semua itu dilakukan Tri dan kawan-kawan agar dapur tetap ngebul. Di Surabaya, pemusik tak bisa hidup hanya dengan mengandalkan jazz.

Rekaman jazz tidak pernah terjual banyak. Beda dengan band pop yang kaset atau CD-nya terjual puluhan ribu kopi, bahkan jutaan, rekaman jazz sulit menembus angka 5.000 keping. Pembelinya sangat terbatas. Jazz itu sejak dulu memang musik yang very-very segmented. Tidak bisa besar banget, tapi juga tidak akan mati. Sebab, setiap dekade selalu muncul generasi baru penyuka musik jazz.

"Jazz itu urusan perasaan, Mas," kata Tri Wijayanto menjawab pertanyaan saya mengapa dia tetap menekuni jazz selama hampir 40 tahun. Padahal, semua orang tahu bahwa jazz tidak bisa dipakai untuk making money.

Bagi Tri Wijayanto, manusia hidup itu tak hanya sekadar untuk cari uang, menumpuk kekayaan, koleksi banyak mobil. Nah, jazz bisa membuat bahagia Tri Wijayanto, juga personel SURABAYA ALL STARS. Ketika engkau mencintai jazz, maka jazz pun akan mencintai dirimu sampai ajal menjemput. Dan itulah yang membuat Tri Wijayanto bahagia.

Pak Tri percaya bahwa jazz akan tetap hidup di Kota Surabaya. Apalagi, saat ini sudah mulai muncul band-band anak muda yang menampilkan musik jazz modern yang tak kalah bagus dibanding senior-seniornya. Teknologi makin maju. Akses terhadap musik, apa saja, jauh lebih bagus dibandingkan tahun 1980-an dan 1970-an. Referensi tinggal baca di internet.

Dunia maya (online) juga membuka jaringan komunikasi antara penggemar dan pemusik jazz dari mana saja. Jarak bukan lagi halangan. Karena itu, Tri wijayanto optimistis musik jazz tidak akan mandek. Jazz terus tumbuh, berkembang, dan berbuah. Setiap saat, Tri Wijayanto menyatakan siap mendampingi pemusik-pemusik muda yang hendak menekuni jazz.

Yeah! Jazz never die!

2 comments:

  1. maju terus pak Tri n kawan2 Surabaya all star

    ReplyDelete
  2. kontak pak tri ada ya?

    ReplyDelete