03 November 2010

Serbuan Produk Tiongkok



Serbuan berbagai produk Tiongkok makin gencar dalam lima tahun terakhir. Kini, dengan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) yang mulai berlaku sejak awal tahun ini, dipastikan pasar dalam negeri bakal dipenuhi produk-produk Tiongkok.

Kenyataan ini, menurut Bambang Sujanto, harus segera disikapi secara bijak oleh pemerintah dan dunia usaha. “Kita harus introspeksi. Mengapa kok bisa terjadi seperti ini? Mengapa kita tidak segera tanggap,” ujar HMY Bambang Sujanto dalam diskusi terbatas di kantor PITI Jawa Timur, pekan lalu.

Menurut Bambang, gelombang serbuan produk-produk Tiongkok ini mulai terjadi sejak 10 tahun silam. Hanya saja, kita cenderung menganggap sepele dan cenderung mengabaikan fenomena ini. Baru setelah CAFTA berlaku, banyak pihak di Indonesia yang mencak-mencak. Toh, perdagangan bebas di era globalisasi ini tak bisa terelakkan negara mana pun.

Sebagai bos beberapa perusahaan besar di Jawa Timur, Bambang Sujanto melihat kelemahan utama kita terletak pada aturan ketenagakerjaan. Aturan itu dinilai kurang menguntungkan pengusaha. Pekerja pun tidak dipacu untuk bekerja keras dan produktif.

“Di Indonesia ini, banyak pekerja yang malah senang di-PHK. Sebab, dia pasti mendapat pesangon banyak. Lha, si pengusaha mau bayar pesangon pakai apa? Wong, perusahaannya juga kembang kempis,” tukas Bambang.

Kondisi semacam ini, sambung pendiri Masjid Cheng Hoo Surabaya itu, tidak dijumpai di Tiongkok. Pemerintah Tiongkok menciptakan iklim sedemikian rupa sehingga para buruh bekerja secara cepat dan efisien.

“Nggak ada pekerja di Tiongkok yang malas-malasan. Kalau malas, ya, langsung out. Itu yang belum terlihat di kita,” katanya.

Faktor lain adalah efisiensi. Menurut Bambang Sujanto alias Liu Min Yuan, industri manufaktur di Tiongkok memang luar biasa efisien. Bambang mengaku pernah mengirim sejumlah karyawannya untuk studi banding di sebuah pabrik di Tiongkok yang memproduksi barang-barang sejenis di perusahaannya.

“Pekerja-pekerja kita kaget setengah mati. Sebab, barang yang di Indonesia dibikin oleh 23 orang, di Tiongkok hanya dikerjakan oleh delapan orang. Jadi, mereka bisa hemat 18 pekerja. Ini kan luar biasa,” kata Bambang seraya tersenyum.

Berbagai faktor itulah yang kemudian membuat produk-produk Tiongkok bisa dengan mudah bersaing di pasar global. Bambang Sujanto mengimbau pemerintah untuk segera melakukan action agar jangan sampai produk-produk kita semakin terpuruk.

“Sejak zaman Presiden Gus Dur, kemudian Megawati, kemudian SBY, saya sudah omong begini. Tapi rupanya omongan saya kurang didengarkan,” katanya.

No comments:

Post a Comment