05 November 2010

Pak Tjandra Konsul Mongolia



Satu lagi pengusaha Surabaya dipercaya sebagai konsul kehormatan (honorary consul). Tjandra Mindharta Gozali (58) diam-diam diangkat pemerintah Mongolia sebagai konsul kehormatan untuk Jakarta dan Surabaya.


“Sebetulnya saya diangkat sejak tahun lalu. Saya diberi kepercayaan membantu Mongolia sebagai konsul kehormatan di Jakarta dan Surabaya,” ujar Tjandra Gozali kepada saya, Selasa (2/11/2010).

Tjandra, yang juga presdir PT Gozco Plantations Tbk dan PT Fortune Mate Indonesia ini, sendiri mengaku terkejut ketika ditawari menjadi konsul kehormatan Mongolia. Sekitar empat tahun lalu, Tjandra bertemu dengan orang Mongolia di konsulatnya Hongkong.

Awalnya hanya pembicaraan yang ringan-ringan saja. Tapi tiba-tiba orang Mongolia meminta Tjandra menjadi konsul kehormatan negaranya.

“Saya tentu saja kaget karena tidak pernah punya pikiran ke sana,” kenangnya. Kembali ke tanah air, Tjandra mempertimbangkan matang-matang tawaran langka tersebut. Dan, akhirnya, sejak 2009 Tjandra Gozali resmi menjabat konsul kehormatan untuk Republik Mongolia.

Posisi Tjandra Gozali sebagai konsul Mongolia ini menarik. Selama ini konsul kehormatan hanya bertugas untuk satu kota saja. Namun, bagi Tjandra, posisi yang diembannya itu merupakan hal biasa.

“Saya kok nggak merasa istimewa. Sebab, tugas ini pada dasarnya membantu Indonesia dan Mongolia,” kata pria yang low profile ini.

Bukan itu saja. Kalau biasanya konsul kehormatan hanya sebatas mengurus hubungan dagang dan kebudayaan, Tjandra Gozali ini dipercaya menangani urusan viza. Karena itu, warga Surabaya yang hendak bepergian ke Mongolia bisa datang ke kantornya di Jalan Raya Darmo 56 Surabaya.

“Kantor konsulatnya, ya, merangkat di kantor saya. Kami siap melayani urusan visa ke Republik Mongolia,” katanya.

Menurut Tjandra, negara Mongolia yang juga dikenal sebagai Mongolia Luar ini punya kedekatan budaya, bahkan juga fisik, dengan Tiongkok. Bahkan, dalam sejarah para penguasa Mongolia pernah menduduki Tiongkok dalam kurun waktu yang cukup lama. Karena itu, terjadi saling interaksi antara kedua negara bertetangga ini.

“Bahasanya saja yang berbeda. Bahasa Mongolia ini lebih mirip dengan Rusia karena sejak dulu mereka lebih berkiblat ke Rusia,” papar Tjandra yang sudah dua kali berkunjung ke Mongolia.
Sejalan dengan kemajuan ekonomi Tiongkok yang sangat pesat dalam 20 tahun terakhir, Republik
Mongolia pun menjalin hubungan perdagangan yang erat dengan Tiongkok. Negara yang beribukota Ulaanbaatar ini juga aktif mengembangkan hubungan bisnis dengan berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Meski kalah populer dengan Tiongkok, menurut Tjandra, sebetulnya selama ini sudah banyak orang Indonesia yang menyempatkan diri berwisata ke Mongolia. Sebab, pemandangan alam dan objek-objek wisata di Mongolia pun tak kalah menarik.

“Mudah-mudahan hubungan dan kerja sama Indonesia-Mongolia semakin baik di masa mendatang,” harapnya. (*)

1 comment:

  1. salut sama pak tjandra.... keep good work!!!!

    ReplyDelete