04 November 2010

Pabrik Janda di Surabaya



Saya pernah tinggal selama empat tahun di Jambangan Baru, Surabaya. Hanya sekitar 80 meter dari kantor Pengadilan Agama (PA) Kota Surabaya. Tak jauh dari PA, ada empat warung kopi. Saya selalu minum kopi dan sarapan di Depot Rizki, persis di depan Pengadilan Agama Surabaya.

Tentu saja saya banyak cakap dengan para pengunjung PA Surabaya. Wajah mereka umumnya lesu, khususnya yang perempuan. Mereka sabar menanti karena antrean sidang cukup panjang. Belum lagi urusan administrasi yang tidak sederhana.

“Mau gimana lagi? Suamiku jarang pulang ke rumah. Dia punya simpanan di tempat lain,” kata Sri, 27 tahun, nama samaran.

Yah, kalau simpanan itu uang atau berlian sih tak mengapa. Yang disimpan suami Sri ini perempuan lain yang usianya lebih muda dan, katanya, lebih cantik.

Nafkah lahir dan batin tak lagi diberikan. Kalau bertemu, Sri dan suaminya bertengkar melulu. Maka, jalan terbaik adalah PA Surabaya. Ikatan pernikahan yang katanya suci itu harus diputus. Sri lebih senang menjadi janda ketimbang punya suami, tapi tidak pernah lagi berkumpul di rumah yang sama.

“Saya yang gugat cerai. Saya tidak mau terus-menerus hidup dalam kondisi seperti ini. Sangat tersiksa,” kata Sri yang wajahnya lumayan manis.

Begitulah. Setiap hari saya melihat puluhan, bahkan ratusan orang, datang ke PA Surabaya. Tujuannya sama: gugat cerai atau talak. Sejak 20-an tahun silam, lebih banyak istri yang gugat cerai. Suami yang talak istri mulai jarang di Surabaya.

Rupanya, para suami senang tidur dengan perempuan lain yang bukan istri, padahal sudah ada istri di rumah. Tapi istri yang sah itu tak ingin dicerai begitu saja. Kaum laki-laki, meminjam syair lagu-lagu pop lama, memang suka menang sendiri dan main gila sama wanita lain. Lha, kenapa wanita lain juga mau main gila sama suami orang?

Begitu banyaknya perkara gugatan perceraian, saya dan teman-teman di kawasan Ketintang menyebut PA Surabaya sebagai “pabrik janda dan duda” terbesar di Jawa Timur. Bahkan, terbesar di Indonesia bagian timur. Ehm, kalau Anda laki-laki single yang ingin menikahi janda muda, ada baiknya datang ke PA Surabaya. Niscaya banyak janda fresh from the court!

Hehehe.....

Belum lama ini, PA Surabaya merilis data kasus perceraian di Kota Surabaya. Rata-rata dalam sebulan ada 200 sampai 300 pasangan suami-istri yang cerai. Artinya, dalam satu hari ada 10 pasangan yang bercerai. Tren perceraian, apalagi di kota-kota besar macam Surabaya, akan terus naik dan naik. Padahal, katanya, perceraian itu adalah perbuatan yang sangat dibenci Tuhan!

Januari 261 kasus perceraian.
Februari 287 kasus.
Maret 352 kasus.
April 300 kasus.
Mei 275 kasus.
Juni 334 kasus.
Juli 317 kasus.
Agustus 321 kasus.
September 237 kasus.

Ada lima alasan standar (klise) mengapa pasangan suami-istri memutuskan ikatan pernikahan.

1. Cemburu 141 kasus (Januari-September).
2. Ekonomi 276 kasus.
3. Tidak bertanggung jawab 695 kasus.
4. Orang ketiga 635 kasus.
5. Tak harmonis 937 kasus.

Ita Nasyiah merupakan wartawan senior yang paling telaten mengorek informasi tentang latar belakang perceraian di PA Surabaya. Lima alasan umum dan klise di atas bisa diuraikan si Ita ini menjadi cerita yang dahsyat. Umumnya masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan urusan kepuasan di atas ranjang.

Banyak istri kecewa karena suami loyo di atas ranjang. Burung tak bisa berkicau gara-gara diabetes. Ejakulasi dini. Sebaliknya, ada suami terlalu perkasa, atau punya kelainan seksual, sehingga si istri sangat menderita.

Masalah ekonomi ini menyangkut nafkah hidup. Meski sekarang ini kaum wanita sudah bekerja di ruang publik, pandangan bahwa suami harus menafkahi istri masih tetap kuat. Para istri penggugat suami ini selalu minta jatah bulanan. Ketika si suami sudah punya simpanan di luar, tentu saja uang yang sudah sedikit itu dipakai untuk membiayai pacar baru. Istri yang sah dibiarkan keleleran.

Kasus KDRT paling menakutkan. Ternyata, banyak juga suami, yang digugat istri, karena terlalu sering melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap istrinya. Pukul, tendang, tempeleng, caci maki, dan sebagainya. Padahal, dulu, waktu masih berpacaran, waduh... dunia serasa milik berdua.

“Demi cintaku padamu....
Ke gurun ku ikut denganmu
Walaupun harus ku renang lautan bara.....

Bulan madu ke awan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Nyanyikan lagu cinta
Walau seribu duka
Kita tak kan terpisah....”

3 comments:

  1. Ada sebab yang tertinggal ya. Ketidakserasian dengan mertua bagaimana? Mungkin juga. Perkahwinan bukan penyatuan 2 hati sahaja, tetapi dua keluarga. Orang Flores umumnya pasti bersetuju dengan " if you marry me, you are married to my family TOO." :)

    ReplyDelete
  2. kasus2 perceraian memang mengkhawatirkan. ini menjad hikmah n pelajaran bagi kita semua...

    salam kenal
    gatot

    ReplyDelete
  3. ada yg cari jodoh gk

    ReplyDelete