17 November 2010

Lima Naga - Wushu & Barongsai



Sejak diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 1990-an, wushu berkembang pesat di tanah air. Sasana wushu bermunculan di berbagai kota.

Saat ini wushu bahkan menjadi salah satu olahraga unggulan Indonesia di even-even bergengsi di tingkat internasional. Ivana Ardelia Irmanto, wushuwati asal Jogjakarta, kemarin, menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih medali di Asian Games Guangzhou, Tiongkok. Ivana diganjar medali perak dalam nomor nanquan putri.

Luar biasa! Wushu, yang dulu dikenal sebagai kungfu atau kuntao, itu kini berhasil mengharumkan nama Indonesia di pesta olahraga se-Asia meski sempat mengalami masa suram pada era Orde Baru.

Kebangkitan wusuhu di tanah air ini sebetulnya bisa dipahami mengingat seni bela diri khas Tionghoa yang satu ini sudah ada di Indonesia seiring keberadaan huaqiao alias masyarakat Tionghoa perantauan.

Tak kalah dengan kota-kota lain, di Surabaya pun sasana wushu muncul di mana-mana. Kalau zaman dulu wushu atau kungfu hanya dilatih untuk sekadar ‘jaga diri’, pasca-Orde Baru wushu benar-benar dipandang sebagai salah satu cabang olahraga prestasi. Dilombakan di berbagai even antarbangsa seperti SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.

Salah satu sasana wushu di Surabaya adalah Lima Naga. Sasana di Jalan Bongkaran 63 ini, menurut Chriswanto AH, memang ingin melestarikan budaya Tionghoa seperti wushu, barongsai, liang-liong, dan chi kung.

“Kita punya sekitar 70 anggota, mulai anak-anak hingga usia sekolah menengah,” kata pembina Lima Naga ini kemarin.

Dibandingkan barongsai dan liang-liong, menurut Chriswanto, wushu sebetulnya lebih mudah dipelajari. Akan lebih optimal jika seni bela diri ala negeri tirai bambu itu dipelajari sejak kanak-kanak. “Kita lebih mudah membentuk fisik dan ototnya. Gerakan-gerakannya juga lebih lincah,” paparnya.

Seperti juga barongsai, wushu menjadi ajang pembauran yang efektif antara warga Tionghoa dan non-Tionghoa. Di Sasana Lima Naga, misalnya, sebagian besar atlet justru didominasi orang Jawa dan Madura.

“Orang Tionghoanya malah sangat sedikit. Di bidang olahraga, sekat-sekat suku, ras, agama, dan sebagainya hilang. Semua orang bisa menyatu dan berlatih bersama,” kata Chriswanto.

Jika sasana-sasana wushu yang tersebar di seluruh tanah air ini dikelola dengan sungguh-sungguh, dia optimistis wushu bakal menjadi tambang medali bagi Indonesia. Sebab, anak-anak Indonesia memang punya bakat yang luar biasa dalam memainkan gerakan-gerakan silat ala Tiongkok itu.

Kiprah Ivana Ardelia di Asian Games Guangzhou sudah membuktikannya. (*)

2 comments:

  1. Waduh..kedisikan mas Hurek iki.. hehehe.. mo melantjong ke sini, belum kesampean.
    Mas liput tentang sepak bola dong..

    ReplyDelete
  2. Wah sep punya nih.......:D
    Salam dari anggota Lima Naga......:D

    Keep posting......^^

    ReplyDelete