05 November 2010

Harry Noerdi nan Bahagia



Malam itu saya bertemu lagi dengan Pak Harry Noerdi di sebuah acara komunitas Indo-Belanda di Surabaya. Pak Harry datang bersama sang istri, perempuan Indo-Belanda, yang awet ayu di usia yang tak lagi muda. Pantas saja Pak Harry tercatat sebagai anggota Indo Club di Surabaya. Sebuah komunitas warga Jawa Timur peranakan Belanda-Indonesia.

Anda kenal Harry Noerdi?

Para penggemar musik pop nostalgia pasti tak asing lagi. Harry Noerdi pernah populer sebagai penyanyi pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Masa itu belum ada kaset, apalagi CD, apalagi flash disk. Rekaman lagu masih pakai piringan hitam alias long play (LP).

Salah satu lagu Harry Noerdi yang sangat terkenal adalah ANDAIKAN. Saya termasuk penyuka lagu lama ini.

ANDAIKAN SEORANG KAN DATANG
MENGHIBUR HATI SEDANG SUNYI
KU KAN MENGABDI PADAMU SEORANG
KEKAL ABADI INSANI

Harry Noerdi tak sekadar menyanyi, tapi juga mencipta lagu. Di masa muda, dia suka memetik gitar, bersenandung... dan jadilah alunan melodi yang indah. Dia kemudian masuk dapur rekaman dan akhirnya populer di seluruh Indonesia. Namun, bagi Harry Noerdi, musik atau nyanyi hanya sekadar hobi, pengusir sepi di kala senggang. Bukan profesi yang harus ditekuni sampai mati.

Harry Noerdi justru fokus kuliah di Fakultas Hukum. Kemudian berkarya sebagai hakim. Pernah menjadi humas Pengadilan Negeri Surabaya, karier Harry Noerdi melejit terus sebagai hakim tinggi hingga pensiun. Karier hakim yang gemilang. Happy ending! Dan kini dia menikmati masa pensiun bersama sang istri tercinta.

"Saya ini bukan penyanyi lho. Itu sudah lama berlalu," kata Harry Noerdi ketika saya mengajaknya bertualang ke masa lalu, ketika dia berhasil mencetak beberapa hit.

Rupanya, ingatan orang Indonesia memang sangat pendek. Malam itu tak ada yang tahu bahwa Harry Noerdi itu seorang artis terkenal di Indonesia tahun 1970-an. Tak banyak yang menyapa, apalagi minta tanda tangan layaknya artis papan atas yang sedang populer. Harry Noerdi pun dianggap sama dengan orang-orang biasa yang tidak pernah jadi artis.

Wow, betapa bedanya nasib artis-artis senior kita dibandingkan rekan-rekannya di Barat. Mick Jagger, Frank Sinatra, personel Bee Gees, The Beatless, Deep Purple, Pink Floyd... tetap diapresiasi hingga masa senja. Orang Indonesia kurang punya apresiasi terhadap para seniman, tak hanya seniman musik, tapi seniman apa saja. Karena itu, banyak seniman kita yang merana dan sengsara di masa tua.

Syukurlah, Harry Noerdi menikmati masa senja sebagai pensiunan hakim, bukan pensiunan seniman musik.

No comments:

Post a Comment