21 November 2010

Gereja Kristus Raja 80 Tahun




Hari Minggu (21/11/2010), Gereja Kristus Raja Surabaya memperingati hari jadi ke-80. Puncak peringatan ditandai dengan misa syukur yang dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono.


MESKI bukan yang tertua, gereja yang terletak di Jalan Residen Sudirman 3, dekat Stadion Tambaksari, ini tergolong salah satu dari tiga Gereja Katolik bersejarah di Kota Surabaya.

Dua gereja yang lain adalah Gereja Kelahiran Santa Maria di Jalan Kepanjen dan Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral) di Jalan Polisi Istimewa.

“Boleh dikata, Gereja Kristus Raja (KR) ini sudah menjadi ikon Kota Surabaya. Hampir semua orang Surabaya tahu kawasan Kristus Raja karena memang usianya yang sudah cukup matang. Delapan puluh tahun,” ujar Prof Tondowidjojo Tondodiningrat CM, mantan Pastor Paroki Kristus Raja.

Usia 10 windu ini dirayakan secara khusus oleh jemaat Paroki KR. Sejak beberapa beberapa bulan lalu, mereka menggelar berbagai kegiatan di lingkungan gereja. Juga diadakan pembinaan rohani untuk memaknai 80 tahun keberadaan Gereja KR sebagai peristiwa iman.

Salah satu acara yang mendapat sambutan meriah adalah pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Mantep Soedharsono. Menampilkan lakon Semar Gugat, pertunjukan kesenian tradisional ini berlangsung hingga pukul 04.00. Tak dinyana, jemaat rame-rame memenuhi halaman gereja.

“Bahkan, misa pagi jam lima ditiadakan. Ini luar biasa karena jarang terjadi. Umat dan warga sekitar benar-benar menikmati permainan Ki Mantheb,” ujar Sisilia, jemaat Paroki KR, seraya tersenyum.

Bagi Romo Tondo, yang juga menekuni tradisi Jawa, lakon Semar Gugat punya makna rohani sangat dalam. Dan ia berlaku universal, untuk siapa saja. Semar, menurut dia, adalah dewa yang ngejawantah. Dewa yang mengubah wujud dirinya sebagai manusia di dunia. Dalam falsafah Jawa, Kiai Semar atau Ki Lurah Semar menjadi public figure.

“Ia melambangkan kebenaran yang hakiki. Ia menjadi jaminan kemenangan dan keselamatan. Ia adalah suara rakyat kecil, suara hati nurani manusia yang asasi,” urai Romo Tondo.

Ketika di negara Astina sedang diadakan rapat membahas Perang Baratayuda, menurut Romo Tondo, Ki Semar tiba-tiba angkat bicara. Dia meminta majelis agung agar lebih baik membahas situasi masyarakat yang dilanda kemiskinan, bencana alam, wabah penyakit, angkara murka, hingga penyimpangan moral. Ki Semar malah diseret keluar istana oleh seorang siswa Begawan Dewaningrat karena dinilai mengacau pembicaraan.

“Padahal, apa yang diungkapkan Ki Semar itu suara rakyat,” tegas Romo Tondo.



Seperti gereja-gereja tua di kota besar, Gereja Kristus Raja Surabaya dibangun dengan arsitektur yang unik. Tak heran, Gereja KR tercatat sebagai salah satu cagar budaya di Kota Surabaya.

MENURUT Romo John Tondowidjojo CM, bangunan gereja di Jalan Residen Sudirman 3 ini mengacu pada nilai-nilai lokal. Menara lonceng menjulang tinggi di ujung atap. Ini merupakan perpaduan atap joglo dengan menara gaya Barat yang runcing dan tinggi.

Pembagian tata ruang dalam (interior) terasa lapang dan longgar. Dalam ruang utama, menurut Romo Tondo, titik pandang kita akan tertuju ke panti imam. Sehingga, secara tidak sengaja pandangan umat seakan-akan dituntun ke arah tabernakel.

“Ini disebabkan pancaran sinar dari jendela kaca patri di dinding panti imam. Secara keseluruhan berjumlah 53 buah,” papar Romo Tondo yang juga guru besar ilmu komunikasi Universitas Bhayangkara Surabaya itu.

Panti imam sendiri ditata sedemikian rupa seperti bagian dalam rumah adat Jawa yang disebut senthong. Bagian tengahnya menjadi tempat paling sakral, yaitu tabernakel. Ruang di kanan panti imam adalah sakristi. Tempat pastor dan misdinar (putra altar) berganti pakaian.

Mewakili pastor paroki yang berhalangan hadir, kemarin Romo Tondo menceritakan kembali sejarah singkat Gereja KR di hadapan ribuan jemaat. Menurut Tondo, keberadaan Gereja KR tak lepas dari rintisan Monsinyur Th de Backere CM yang konsen pada karya pendidikan. Pada 1 April 1929, Monsinyur de Backere meletakkan batu pertama pembangunan gedung sekolah untuk anak-anak pribumi di kawasan Ketabang.

Tiga bulan kemudian, Juli 1929, gedung sekolah tersebut kelar dan diresmikan. Namanya nama HIS (Hollands Indische School) Santa Theresia. Sekolah yang setara dengan sekolah dasar. Kegiatan belajar-mengajarnya dimulai tahun 1930.

Nah, pada saat itu, setiap hari Minggu, gedung sekolah itu dipakai juga sebagai gereja bagi umat Katolik di kawasan Ketabang dan sekitarnya. Gereja darurat itu kemudian dikenal sebagai Santa Theresia Hulpkerk atau Gereja Bantu Santa Theresia.



Setelah dirintis 80 tahun silam, Santa Theresia Hulpkerk atau Gereja Bantu Santa Theresia terus berkembang. Pada 1933 dibangun gereja baru di bekas bangunan taman kanak-kanak.

Nama gereja tetap sama: Santa Theresia Hulpkerk. Sebagian gedungnya masih disekat untuk taman kanak-kanak. Karena gedung pastoran sudah selesai dibangun, sejak saat itu Romo J Haest CM selaku pastor paroki bersama Romo G van Ravensteijn CM menetap di Ketabang.

Tidak lama kemudian, Prefek Apostolik (cikal bakal Keuskupan Surabaya) Monsinyur Th de Backere CM ikut pindah ke Pastoran Santa Theresia Ketabang. Sejak 1933 Stasi Ketabang berubah status menjadi paroki. Paroki ketiga di Surabaya menyusul Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kepanjen) dan Gereja Hati Kudus Yesus atau Katedral di Jalan Polisi Istimewa.

Mengingat Gereja Theresia Ketabang masih darurat, pada 1938 diadakan renovasi dan diperluas. Bangunan yang tadinya sebagian dipakai untuk sekolah kini sepenuhnya sebagai gereja. Nama gereja yang semula Santa Theresia Hulpkerk diubah menjadi Kristus Koningkerk atau Gereja Kristus Raja.

Ketika tentara Jepang masuk pada awal Maret 1942 di Surabaya, Sekolah Santa Theresia dan Gereja Kristus Raja diduduki tentara Jepang. Semua pastor berkebangsaan Belanda ditangkap dan diinternir tentara Jepang.

“Sehingga, kegiatan rohani diasuh dua romo asal Jawa Tengah, yakni Romo PCL Dwidjosoesanto dan Romo Padmoseputra,” tutur Romo John Tondowidjojo. Mantan Pastor Paroki Kristus Raja ini secara khusus menulis buku peringatan 80 tahun Gereja Kristus Raja.

Setelah Jepang kalah perang, Romo Haest CM dan Romo E van Mensvoort CM kembali ke Ketabang. Di masa kemerdekaan, meski masih dengan berbagai keterbatasan, jumlah jemaat terus bertambah. Gereja sederhana yang dibangun pada 1933 sudah tidak lagi menampung umat.

Maka, pada 1956 Romo Dijkstra CM bersama Romo Passchier CM berinisiatif untuk membangun sebuah gereja baru. Setahun kemudian, 1957, Gereja Kristus Raja diresmikan oleh Uskup Surabaya Monsinyur JAM Klooster CM. Nah, bangunan gereja inilah yang bertahan sampai sekarang.

No comments:

Post a Comment