10 November 2010

Klantink dan Cak Bokir



Keberhasilan Klantink, kelompok pengamen jalanan asal Joyoboyo, Surabaya, menjadi jawara Indonesia Mencari Bakat (IMB) membanggakan warga Kota Surabaya. Klantik menjadi simbol perjuangan wong cilik dari pengamen di bus kota menjadi selebriti baru. From zero to hero!


Selama sepekan terakhir, lima personel Klantink (Wawan, Budi, Ndowe, Lukin, Mat) dielu-elukan di kota kelahirannya, Surabaya. Mereka juga diterima sejumlah pejabat seperti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf. Saat audiensi dengan pejabat-pejabat itu, Klantink selalu didampingi Bokir Surogenggong (52). Termasuk ketika berkunjung ke kantor Radar Surabaya di Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya, Jumat (5/11/2010) malam.

Cak Bokir, yang juga penyanyi dan musisi era 1980-an, ini merupakan ketua umum Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Surabaya. Saat ini KPJ menjadi semacam organisasi payung bagi sekitar 300 street musician alias musisi jalanan yang tersebar di seluruh Surabaya, termasuk Terminal Purabaya di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Nah, Klantik, sang jawara IMB 2010, itu termasuk salah satu grup dari 300-an penyanyi jalanan KPJ Surabaya. Cak Bokir kebetulan ikut menyertai perjalanan karir bermusik kelima personel Klantik itu.

Bagaimana Anda melihat sukses yang baru saja diraih Klantink?

Ini merupakan bukti bahwa di jalanan sebenarnya ada banyak mutiara yang terpendam. Tinggal kita mengangkat mutiara itu, kemudian menggosoknya dan diangkat ke permukaan. Para musisi jalanan seperti Klantink itu sudah lama sekali ditempa di jalanan. Mereka terbiasa kerja keras, menderita, kehujanan, kepanasan, sehingga tahan banting. Dan hasil yang dicapai di IMB 2010 ini secara tidak langsung merupakan pengakuan atas eksistensi para musisi jalanan, tidak hanya di Surabaya, tapi juga di seluruh Indonesia.

Sejauh mana Anda mengenal Klantink?

Ya, kenal banget. Sebagai ketua KPJ Surabaya, saya sering mengajak mereka tampil di even-even yang melibatkan KPJ. Kami ikut mengisi acara Brangbang Wetan di Balai Pemuda. Kemudian kami juga tampil di rumah Cak Nun (budayawan Emha Ainun Nadjib, Red) di Jogja. Nama Klantink waktu itu belum ada. Kami pakai nama KPJ Surabaya. Kelompok Penyanyi Jalanan Surabaya. Saya jadi vokalis, sementara adik-adik itu yang mengiringi. Bahkan, tahun 2009 lalu KPJ diundang main di Festival Seni Surabaya. Lima anak itu saya ajak.

Sebagai pemusik senior, apakah Anda sudah melihat potensi lima pemuda yang sekarang dikenal sebagai Klantink itu?

Persis. Kelima anak muda itu bisa belajar musik dengan cepat. Kita latihan dua tiga jam, setelah itu mereka bisa bermain sendiri. Melakukan improvisasi dan mengembangkan musik mereka dengan bagus. Ini karena mereka bukan penyanyi jalanan biasa, tapi dianugerahi bakat dari Tuhan yang Maha Esa.

Ada pengalaman berkesan ketika tampil bersama mereka?

Waktu main di Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali, sambutan penonton memang luar biasa. Farid Syamlan dari DKS (Dewan Kesenian Surabaya) sempat mengatakan, saudara-saudara, tahun besok grup ini bakal terkenal, menjadi grup musik yang besar. Ndilalah, ucapan Cak Farid di Taman Budaya itu akhirnya menjadi kenyataan. Sekarang ini kelima anak muda ini dikenal di seluruh Indoneia sebagai Klantink, juara pertama IMB di Trans TV.

Bisa diceritakan sedikit perjalanan Klantink hingga ke babak final IMB?

Mereka latihan untuk audisi, ya, di Joyoboyo. Kita buatkan kaos karena memang awalnya mereka tidak punya kostum. Kita juga koordinasi dengan KPJ di Bulungan, Jakarta, dan KPJ-KPJ di kota lain. Sebab, bagaimanapun juga ajang seperti IMB ini kan perlu dukungan SMS. Kita koordinasi dengan jaringan yang sudah ada, termasuk lewat Facebook. Semua itu kita lakukan karena posisi Klantik di awal-awal memang kurang menggembirakan.

Juga menjadi suporter di studio Trans TV?

Nah, ini yang lucu. Di awal-awal IMB, kita memang kalah suporter. Funky Papua suporternya banyak. Brandon banyak. Putri Ayu banyak. Waktu presenter tanya, “Mana pendukungnya Klantink?”

Saya hanya bisa menunduk di dalam studio karena hampir nggak ada suporter Klantink yang datang ke studio. Tapi saya tetap optimis karena SMS dukungan untuk Klantink datang dari berbagai kota di Indonesia. Biarpun suporter di studio banyak, tapi kalau SMS-nya kurang, ya, nggak akan jadi. Alhamdulillah, Klantink tembus sampai final dan akhirnya menang.

Buat saya, kekuatan pemusik jalanan seperti Klantink ini adalah daya tahan. Tempaan di lapangan itu luar biasa keras. Kalau daya tahan ini di-manage secara ikhlas dan tulus, membidik sasaran secara tepat, insyaallah, akan jadi.

Apa harapan Anda untuk Klantink?

Harus tetap berani, karena berada di jalan yang benar, tidak boleh sombong, tidak boleh takabur. Daya tahan yang sudah ditempa di jalanan itu jangan sampai hilang meskipun mereka sudah dikenal di mana-mana.

Berapa banyak pemusik jalanan yang tergabung di KPJ Surabaya?

Sekitar 300 orang. Mereka berada di tujuh titik, yakni Tanjung Perak, Jembatan Merah, Kupang, Joyoboyo, RSI (Rumah Sakit Islam), Bratang, dan Bungurasih. Kita menerapkan etika seperti sopan santun di dalam bus kota, pakaian rapi, pakai sepatu, bahkan ada kartu anggota. Ini untuk mengantisipasi operasi preman yang pernah dilancarkan pihak kepolisian.

Kita juga mengajak mereka untuk membangun solidaritas di kalangan sesama pemusik jalanan. Kalau ada yang sakit di Bratang, misalnya, maka teman-teman lain urunan untuk bantu. Kalau kelompok A dapat job, kelompok B tidak boleh cemburu. Sebab, yang namanya rezeki itu sudah ada yang atur. (*)



Jadi Asisten Gombloh

SEBAGAI sesama ‘seniman jalanan’, Bokir Surogenggong ternyata pernah punya kedekatan khusus dengan almarhum Gombloh. Bahkan, selama tiga tahun, 1984-1987, Bokir dipercaya sebagai asisten sang penyanyi nyentrik yang terkenal dengan hit Kugadaikan Cintaku dan Apel itu.


“Waktu itu Gombloh sering mangkal di Nirwana Record di Siola dan Bengkel Pemuda. Saya selalu ikut nyanyi-nyanyi dan main gitar sama Gombloh,” kenang Bokir.

Tak heran, gaya menyanyi dan bermusik Bokir sedikit banyak terpengaruh oleh gaya Gombloh. Lagu-lagu ciptaan Bokir pun terkesan nyeleneh, nyentil sana-sini, penuh humor. Di antaranya, lagu berjudul Calon Pengantin, Wok Tiwok, Bung Epek-Epek, Tragedi Ratu Goyang, Cinta Anak Jalanan, Pacar Gulipat.
Suatu ketika pada tahun 1987, cerita Bokir, Gombloh mendapat tanggapan di Pasuruan.

Kondisi Gombloh saat itu sedang tidak sehat. “Orangnya sampai muntah-muntah segala. Tapi, karena ini job dari pejabat-pejabat penting, ya, Gombloh tetap bersedia datang,” katanya.

Sadar kalau kondisinya kurang fit, Bokir diajak ke Pasuruan sebagai artis pendamping. Tampil satu panggung bersama Gombloh yang ketika itu sedang naik daun. Di Surabaya, Gombloh sudah bikin skenario. Dia tampil lebih dulu membawakan dua lagu, kemudian selanjutnya giliran Bokir yang menggantikan Gombloh.

“Ini nggak umum karena yang namanya artis top itu pasti tampil terakhir sebagai gongnya. Tapi waktu itu kondisi kesehatan Gombloh memang tidak memungkinkan. Nada dasarnya bahkan diturunkan,” katanya.

Bokir juga diingatkan agar tidak menyanyikan lagu-lagu kritik sosial yang menyentil pemerintah mengingat banyak pejabat akan hadir di konser tersebut. Nah, konser memang berlangsung sesuai skenario. Setelah membawakan dua lagu, Bokir disuruh naik ke atas panggung. Penonton pun heboh.

“Saya diteriaki diminta turun. Penontonnya maunya Gombloh tetap di atas panggung. Tapi saya tidak bilang kondisi Gombloh yang sebenarnya,” kenang ayah dua anak ini.

Bokir ternyata tidak terpengaruh oleh teriakan-teriakan penonton. Dia tetap menyanyi dan mengocok perut dengan lagu-lagu kocaknya yang menggelitik. Hadirin yang tadinya antipati sekarang justru terhibur. Mereka tak lagi meminta Gombloh naik ke atas panggung. Sebaliknya, para pejabat beringsut satu per satu karena risi mendengar syair lagu Bokir yang dianggap vulgar.

“Di mobil, waktu pulang ke Surabaya, Gombloh marah-marah karena saya tetap membawakan lagu-lagu jenaka. Saya hanya tertawa saja,” katanya seraya tersenyum lebar.

Meski begitu, hubungannya dengan Gombloh tetap baik. Bokir sempat membantu membuat relief di rumah Gombloh di kawasan Mulyosari. Setelah album Kugadaikan Cintaku meledak di pasaran, Bokir juga diajak rekaman bersama. Sayang, rencana rekaman ini tak pernah terlaksana karena Gombloh keburu meninggal dunia.

“Tapi saya diwarisi dua lagu oleh almarhum Gombloh. Sekarang belum saya keluarkan mengingat tren musik sekarang kurang pas dengan karakter lagu Gombloh. Notasinya lawas, tapi syairnya bagus,” pungkasnya. (*)


TENTANG CAK BOKIR

Nama populer : Bokir Surogenggong
Nama asli : Bokirno
Lahir : Surabaya, 8 Oktober 1958
Istri : Anneke
Anak : Angga dan Anggi
Jabatan : Koordinator Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Surabaya
Alamat : Jagir Sidosermo VI/96 Surabaya

Pendidikan
SDN Kedunganyar Surabaya
Sekolah Teknik (ST) Wonocolo, Surabaya
Sekolah Teknik Menengah (STM) Wonocolo, Surabaya

ALBUM MUSIK/DISKOGRAFI
Bokir Pea, Golden Hand Surabaya
Genggong, Double Record Jakarta
Pecel Lele, Dunia Record Jakarta
Reggae (sedang proses)

No comments:

Post a Comment