03 November 2010

Atraksi Tentara Pembebasan Rakyat



Sekitar seribu undangan terpukau menyaksikan atraksi para duta kebudayaan Tiongkok yang tergabung dalam Zong Zheng Musical Dancing Group di Grand City Surabaya, Rabu (27/10/210) malam.

BEGITU tiba di halaman Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya, Selasa (26/10) siang, 79 personel Grup Zong Zheng ini disambut tarian reog ponorogo. Dong Wenhua, salah satu artis senior Tiongkok, sempat didaulat naik ke atas kepala reog. Wenhua tampak tersenyum dan sangat menikmati sambutan yang hangat itu.

“Saya senang bisa tampil di Surabaya. Orangnya ramah dan baik,” ujar Wenhua seperti diterjemahkan salah satu wakil Perkumpulan Masyarakat dan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Permit), anggota panitia.

Dong Wenhua ini, seperti juga anggota grup lainnya, sehari-hari tercatat sebagai personel Tentara Pembebasan Rakyat. Bukan itu saja. Artis papan atas ini juga anggota Polit Biro, pengurus sejumlah organisasi musik di Tiongkok, serta dosen musik pada Huazhong Normal University.

Komposer lagu-lagu terkenal di Tiongkok ini juga meraih berbagai penghargaan seni bergengsi di negara panda. Di antaranya, Piala Huasheng sebagai penyanyi terfavorit pilihan pemirsa televisi di Tiongkok. Karya-karyanya pun sering menang dalam lomba komposisi musik di Tiongkok.

Tak heran, Dong Wenhua ini ditempatkan sebagai vokalis terakhir pada malam seni budaya Tiongkok yang dihadiri Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Konsul Jenderal Tiongkok Wang Huagen itu. Dong Wenhua mendapat aplaus meriah usai membawakan lagu daerah Batak, Sing Sing So.

Tak hanya Dong Wenhua, Grup Zong Zheng yang tampil di Surabaya, Jakarta, dan Palembang ini diperkuat para tentara yang juga seniman papan atas di Tiongkok. Sebut saja Yan Weiwen yang sejak tahun 1988 memenangi berbagai penghargaan. Huang Hong, aktor kelahiran 1960, yang dikenal sebagai komedian kawakan. Saat ini Huang Hong menjadi dosen di Akademi Seni Tentara Pembebasan Rakyat dan Harbin Institute of Technology.

Ada juga Zhou Xiaolin, soprano yang memukau publik Surabaya dengan lagu Ayo Mama. Xiaolin ini pernah menggelar konser tunggal di Osaka dan Tokyo, Jepang, dan meraih penghargaan dalam International Singing Competition di Jerman. Xiaolin juga kerap dipercaya sebagai pemeran utama dalam berbagai opera.

Yang Lingzhu, wakil duta besar Tiongkok untuk Indonesia, memastikan bahwa Grup Zong Zheng ini bukan perkumpulan seni sembarangan. Didirikan pada 1953, empat tahun setelah Republik Rakyat Tiongkok diproklamasikan oleh Mao Zedong, ansambel ini sejak dulu diperkuat banyak seniman terkemuka di Tiongkok.

“Mereka sering mendapat penghargaan baik di dalam maupun luar negeri,” kata Yang Lingzhu.





Sebagai duta kesenian resmi pemerintah Tiongkok, yang diperkuat anggota Tentara Pembebasan Rakyat, Grup Zong Zheng langsung dikendalikan Partai Komunis Tiongkok.

TENTU saja, Grup Zong Zheng harus selalu menjalankan misi budaya sesuai dengan kebijakan markas besar Tentara Pembebasan Rakyat di Beijing. Baik di dalam maupun luar negeri, Grup Zong Zheng harus bisa menampilkan seni budaya yang sesuai dengan kepribadian rakyat Tiongkok.

Ketika tampil di Grand City Surabaya, Rabu (27/10) malam, sebanyak 79 personel Zong Zheng secara anggun menampilkan kekayaan tradisi budaya negeri Tiongkok. Mereka ingin menanamkan citra di mata internasional bahwa rakyat Tiongkok yang jumlahnya 1,3 miliar sangat beragam dan bisa hidup harmonis.

Salah satu tarian massal yang menarik adalah Zhaxi Dele, tarian rakyat dari suku Tibet. Negeri yang terkenal dengan tokoh spiritual Dalai Lama ini, meski kerap disorot dunia internasional, tetap dianggap sebagai bagian integral dari negara Tiongkok alias Zhungguo. Para tentara, pria dan wanita, membawakan tarian ini dengan sangat anggun.

“Tarian Zhaxi Dele menggambarkan kehidupan bahagia rakyat Tibet yang selalu mendapat keberuntungan. Rakyat senang karena hasil panennya melimpah,” ujar salah satu personel Grup Zong Zheng.

Ada pula tarian massal suku Mongolia bernama Zhu Fu. Tarian tradisional ini juga menggambarkan kehidupan rakyat yang bahagia dan sejahtera. Juga tarian massal Shibing De Jiari. Tarian khas tentara ini menggambarkan kehidupan militer yang ketat, penuh disiplin, tapi membahagiakan.

Singkatnya, grup-grup kesenian di Tiongkok seperti Grup Zong Zheng selalu membawa misi untuk membangun optimisme dan semangat di kalangan rakyat. Optimisme itulah yang kemudian mereka bahu-membahu, kompak, bekerja sama membangun negaranya menuju tingkat kemakmuran seperti yang dicapai Tiongkok sekarang.

Kualitas Grup Zong Zheng, yang sering dikirim ke berbagai negara sejak didirikan tahun 1953, tak diragukan lagi. Ini mengingat Tiongkok punya tradisi seni pertunjukan seperti Opera Beijing yang sudah berusia ratusan tahun. Opera-opera khas Tiongkok ini mulai tumbuh sejak abad ke-18 dan terus mencetak seniman-seniman panggung kelas satu.

“Teknik vokal penyanyi-penyanyi Tiongkok yang dahsyat itu memang tidak lepas dari tradisi Opera Beijing. Mereka digembleng secara ketat di bidang seni musik (instumentalia), vokal, sandiwara, lawak, monolog, dan sebagainya,” ujar James, pengusaha Indonesia yang pernah bergabung dengan grup opera keliling di Wuhan.

Yang Lingzhu, wakil duta besar Tiongkok untuk Indonesia, menyebut Grup Zong Zheng sebagai kelompok kesenian yang memperlihatkan semangat bangsa Tiongkok yang cemerlang, prajurit yang gagah, serta standar seni yang tinggi.

“Itu yang membuat mereka termashur di dalam dan luar negeri,” kata Yang. (*)

No comments:

Post a Comment