25 October 2010

Toko Wancu Sidoarjo yang Antik



Tak banyak toko kelontong tempo doeloe yang mampu bertahan hingga puluhan tahun. Toko Wancu, yang kini ganti nama menjadi Toko Rejo, termasuk salah satu dari toko lawas yang masih eksis di Sidoarjo.

Terletak di Jalan Gajah Mada 172, jalan protokol sekaligus pusat pecinan Sidoarjo, Toko Wancu tak kalah dengan toko-toko lain di sekitarnya yang berwajah modern. Wancu tetap mempertahankan ‘budaya kelontong’ tempo doeloe.

Barang-barang penuh sesak, tak teratur, bagaikan kapal pecah. Layaknya toko kelontong, Wancu menyediakan segala jenis barang. Bumbu masak. Bahan-bahan kue. Lampu teplok. Barang-barang plastik. Obat-obatan. Jarum dan peniti. Penanggalan Tionghoa. Perlengkapan mancing. Rokok. Tembakau. Aneka jenis minuman. Jamu-jamuan.

“Boleh dikata, hampir semua barang yang kita butuhkan sehari-hari ada di Wancu. Kita nggak perlu belanja ke mana-mana karena harganya tergolong murah. One stop shopping,” kata Bambang Haryaji, pelanggan setia Toko Wancu, yang tinggal di Sidokare.

Pria yang juga pelukis berusia 60-an tahun ini mengaku kurang suka berbelanja di mal, plaza, atau pusat belanja modern. Meskipun bersih, lapang, ber-AC, konsumen sering bingung memilih barang-barang. Sebab, konter barang-barang di mal berbeda-beda.

“Nah, di Wancu kita mau cari apa saja ada,” tambah Santoso, juga warga senior di Sidoarjo.

Hingga 1980-an, toko-toko kelontong sejenis Wancu masih ada beberapa di dalam kota Sidoarjo. Namun, satu per satu tutup karena gagal bersaing dengan toko-toko baru.

Kepada saya, sang pemilik mengatakan bahwa Toko Wancu ini didirikan pada tahun 1933. Nama pendirinya, Wancu, diabadikan sebagai nama toko. Wancu punya 13 anak.
“Ke-13 anak itu lahir di sini. Jadi, kami ini memang keluarga besar,” ujar perempuan Tionghoa yang enggan menyebut namanya.

Berkat toko kecil itulah, Wancu berhasil menghidupi 13 anaknya hingga dewasa. Setelah meninggal dunia, Toko Wancu diteruskan oleh anak-anaknya. Mereka kompak, mau melanjutkan bisnis toko eceran meski harus bersaing dengan toko-toko baru di sepanjang Jalan Gajah Mada. Belum lagi ada Matahari Department Store di dekat situ yang selalu ramai pengunjung.

Pada 1930-an, kawasan pecinan Sidoarjo masih lengang. Rumah-rumah masih jarang. Persis di depan Toko Wancu kemudian dibangun sebuah sekolah Tionghoa untuk tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

Sekolah Tionghoa satu-satunya di Sidoarjo itu ditutup paksa oleh rezim Orde Baru setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Banyak orang Tionghoa, penghuni lama, yang meninggalkan Sidoarjo. Tapi Toko Wancu tetap berdiri sampai hari ini. Entah sampai kapan.

3 comments:

  1. hebat yach, bisa bertahan sampe bertahun-tahun

    ReplyDelete
  2. aq biasa beli disitu. hehehe.. ngitungnya ga pake kalkulator lho.. unik dehhh..

    ReplyDelete
  3. obat cina ada y, buat obat luka

    ReplyDelete