12 October 2010

Siem Tjioe Tong Lestarikan Bakcang



ENAK TENAN: Siem Tjioe Tong membimbing Paulina Mayasari.

Di usia 88 tahun, Siem Tjioe Tong masih tetap semangat dan produktif. Dia juga aktif membagikan keterampilannya memasak makanan Tionghoa kepada generasi muda.

AHAD (10/10/2010) pagi, ketika banyak warga senior (lansia) seusianya bersantai atau menimang cucu atau duduk-duduk di rumah, Siem Tjioe Tong memberikan kursus memasak bacang kepada sekitar 70 peserta di Jalan Bibis 3, kawasan pecinan Surabaya. Suaranya lantang, tegas. Pendengaran oma yang tinggal di kawasan Donokerto ini pun masih tajam.

“Masak bacang itu gampang kalau kalian mau belajar. Kalau gak mau belajar, ya, gak akan bisa. Gak usah pakai teori macam-macam,” ujar Tjioe Tong. Dia tak menggurui peserta yang rata-rata berusia sebaya cucunya. Tangannya terus bergerak menyiapkan bahan-bahan dan bumbu-bumbu bacang.

Dibuat dari beras ketan, yang direbus selama lima hingga enam jam, bacang merupakan makanan khas Tionghoa pada perayaan Pecun atau Toan Yang. Pesta air dengan festival perahu naga yang khas itu dirayakan setiap tanggal lima bulan lima Imlek, go gwee ce go.

Bagi warga Tionghoa yang senior macam Siem Tjioe Tong, bacang sebaiknya dibuat sendiri di rumah. Sebab, kita bisa menentukan sendiri besar kecilnya hingga isian daging. Bisa daging babi, daging ayam, bahkan tanpa daging sama sekali untuk kalangan vegetarian.

“Memang secara tradisional, bacang yang pakai daging babi itu hasilnya lebih bagus. Padat dan khas. Tapi, dalam perkembangannya, bacang yang tanpa babi juga makin bagus. Silakan kalian mau isi pakai daging apa. Terserah,” kata Tjioe Tong dengan logat Tionghoa-Surabaya yang kental.

Selain ketan, Tjioe Tong memperkenalkan bumbu-bumbu utama bacang ini. Jamur, ebi, bawang putih, daun bawang, kecap, garam, merica. Isiannya bisa daging babi, daging ayam, atau daging-daging lain. Beras ketan direndam selama satu jam. Daging dan bumbu-bumbu dimatangkan dulu secara terpisah.
Tahap selanjutnya adalah membungkus ketan, daging, dan bumbu-bumbu dengan daun bambu. Tjioe Tong telaten mengajarkan peserta cara membungkus.

Sepintas terlihat sederhana, gampang, tapi sulit dipraktikkan bagi yang belum biasa. “Makanya, kalian harus mau belajar. Wong ini barang gampang kok,” ujar Tjioe Tong lantas tersenyum lebar.

Selanjutnya, bungkusan yang sudah diikat itu dimasukkan di panci besar dan dipanaskan. Direbus selama kira-kira enam jam. Jika airnya habis, tambahkan lagi dengan air mendidih. “Jangan dikukus, tapi digodok. Kalau dikukus, bacang gak akan matang,” tandasnya.

Meski saat ini bacang bisa dibeli di pasar, bahkan tersedia setiap saat, tak hanya pada saat Toan Yang, menurut Tjioe Tong, generasi muda Tionghoa seyogyanya punya keterampilan menyiapkan kuliner khas leluhurnya. Dan skill itu harus diwariskan dari generasi ke generasi. (lambertus hurek)

Sumber: RADAR SURABAYA edisi Selasa 12 Oktober 2010

3 comments:

  1. Mas,

    Di sini ba chang jg makansn populer. Tp sayangnya tidak banyak yg halal. Untung ada ibu teman yg suka membuat vegetarian ba chang...enak juga kok :/)

    Menurut legenda, Qu Yuan, seorang penyair pada masa dinasti Chou melakukan bunuh diri dg cara menerjunkan diri ke sungai Mi Lo, sebagai tanda protes kpd rajanya.

    Rakyat yg mencintai penyair itu, buru2 mencari tubuh penyair Qu Yuan dg menyidir sungai dg perahu. Mereka lalu membuang kue2 ba chang ini ke sungai itu, supaya ikan dan buaya sungai tidak memakan tubuh sang penyair.

    Jadilah kebiasaan makan ba chang pada bulan lima twnggal lima kalender imlek. Dan masyarakat cina melaksanakan lomba perahu naga krn latar belakang legenda ini. Menarik ya ?

    ReplyDelete
  2. Memang menarik sekali Dyah.. di Indonesia kayanya cuman di Padang yang ada lomba perahu naga ya?

    ReplyDelete
  3. Mbak Maya,

    Saya mampir ke situs jejakpetjinan. Wow...kyknya seru ya kegiatannya. Mana lagi Surabaya, Semarang...itu kota2 yang punya banyak peninggalan budaya Peranakan Cina yang menarik ya. Nanti kalau saya sampai k Surabaya saya akan ikut ah :-)

    ReplyDelete