01 October 2010

Eyang Tidak Suka China



Tak semua orang Indonesia suka dengan geliat budaya Tionghoa di Indonesia, khususnya Surabaya, dalam 10 tahun terakhir. Harus diakui, kegiatan seni budaya Tionghoa di kota pahlawan ini memang sangat marak dan hidup. Dan sangat menarik.

Beda dengan seni budaya Nusantara, termasuk seni budaya Jawa, yang kurang muncul ke permukaan. Bahkan, orang Jawa sendiri sudah kurang mengembangkan kebudayaan dan bahasanya. Kurang nguri-uri budaya. Jika ada pergelaran wayang kulit, mana ada anak-anak muda yang nonton?

Mana ada acara ketoprak dan ludruk yang rutin di Surabaya? Mana wayang orang? Taman Hiburan Rakyat (THR) yang dulu kondang dengan Aneka Ria Srimulat sudah lama jadi almarhum. Kesenian rakyat Jawa Timur makin terpinggirkan. Para seniman rakyat hanya bisa mengemis dengan ngamen di terminal atau masuk kampung keluar kampung.

Sementara wayang potehi yang khas Tiongkok bisa kita saksikan tiap hari di Klenteng Dukuh. Para pemain wayang Hokkian ini justru orang-orang Jawa macam Mas Sukar Mujiono atau Mas Eddy. Opo tumon!

Kemarin, Ibu Siti, yang tinggal di Ngagel, diundang tetangganya Tionghoa yang mantu. Pesta pernikahan di Double Happiness, restoran Tionghoa terkenal di Surabaya. Pulang dari sana, dia curhat alias menggerutu kepada saya.

"Saya heran kok semuanya berbau Cina. Cina, Cina, Cina, Cina... Lagu-lagunya Cina, pakaian, makanan, aksesoris... semua nuansa China. Hanya ada satu lagu berbahasa Inggris, Let It Be Me. Kalau begini kan sama saja dengan kita dijajah Cina," ujar Ibu Siti yang biasa kami sapa Eyang, karena usianya mendekati 80 tahun.

Ibu Siti selalu menggunakan istilah CINA (tanpa H). Bukan CHINA, apalagi TIONGHOA, seperti yang selama ini dianjurkan para aktivis dan penggiat kebudayaan Tionghoa macam saya. Bahkan, beliau sering pakai istilah CINO yang sangat tak disukai masyarakat Tionghoa di Indonesia itu.

Saya berusaha meredam kemarahan Ibu Siti:

"Yah, wajarlah nuansa kebudayaan Tionghoa, karena budaya, tradisi, mereka memang Tionghoa. Mereka menghayati budaya Tionghoa meskipun mereka warga negara Indonesia. Kalau Eyang diundang mantenan orang Batak, pasti kesenian Batak yang muncul. Diundang wong Jawa ya kesenian Jawa. Diundang mantenan orang Flores, ya, kesenian Flores. Apanya yang salah?"

"Lho, kalau Batak, Jawa, Maluku, Flores... itu kan Indonesia. Tapi China ini kan negara lain," tukas si Eyang.

Saya ceramah lagi:

"Dia warga negara Indonesia, warga Kota Surabaya, tapi keturunan Tionghoa. Jadi, dia menghayati dan melestarikan kesenian leluhurnya. Apakah kita harus paksa orang-orang Tionghoa itu menjadi Jawa, menjadi Batak, menjadi Flores, menjadi Maluku?"

Lalu, saya menyingkir karena sadar bahwa perdebatan seperti ini, dengan Eyang yang setua itu, yang sudah sulit diubah paradigma berpikirnya, akan sia-sia. Sama dengan berdebat dengan kaum fundamentalis radikal. Tak ada ruang untuk memahami orang lain yang berbeda tradisi, doktrim, paham, kebudayaan, atau agama.

Si Eyang ini, jelang 80 tahun, termasuk sisa-sisa orang lama yang menganut paham pembauran ala Orde Baru. Rezim pimpinan Pak Harto yang memaksa semua warga Tionghoa ganti nama, ganti agama, antitradisi dan semua yang berbau Tionghoa. Bahkan, aksara dan bahasa Tionghoa dilarang selama 30 tahun oleh Orde Baru.

Eyang rupanya belum sadar kalau zaman sudah berubah. Orde Baru sudah tumbang. Represi terhadap orang Tionghoa dengan segala budaya dan tradisinya sudah dikikis pelan-pelan sejak 1998 silam. Sekarang era baru, era di mana semua orang bebas mengekspresikan budaya, agama, keyakinannya. Itulah hak asasi manusia.

Si Eyang harusnya introspeksi mengapa seni budaya Jawa tidak muncul lagi di televisi. Mengapa generasi muda Jawa kurang suka wayang kulit. Mengapa grup ludruk di Surabaya yang aktif tinggal satu, yakni Irama Budaya pimpinan Zakia.

Bagaimana kita, yang menyebut diri PRIBUMI, meminta orang-orang Tionghoa di Surabaya 'menjadi' Jawa, sementara orang Jawa sendiri kurang menguri-uri kebudayaannya sendiri?

Si Eyang sendiri bagaimana? Apakah sudah menguri-uri kebudayaan Jawa dalam kesehariannya? Tidak juga. Kepada saya, beliau bilang tidak pernah suka seni pertunjukan yang namanya wayang kulit. Juga tembang-tembang Jawa. Busananya saat ke pesta pernikahan itu pun bukan pakaian Jawa, melainkan... busana khas Timur Tengah.

Begitulah. Kita terlalu sering mengadili orang lain, sementara kita sendiri belum tentu lebih baik daripada orang lain yang kita adili itu.

Saya pun teringat kata-kata bijak ini:

"Why do you look at the speck in your brother's eye, and pay NO attention to the log in your own eye?"

2 comments:

  1. Bung Hurek sendiri kenapa tidak memakai peribahasa Indonesia: "Semut di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan", hehehe.

    Bung Hurek benar. Coba lihat di Bali, di mana budaya masih sangat kental dipraktekkan sebagai bagian dari siklus hidup dari lahir sampai mati. Orang Cina di Bali malah mengikuti tradisi lokal. Anak-anak dinamai nama tradisional Bali. Mana ada arak-arakan barongsai. Klenteng sih ada, tapi tenang-tenang saja.

    Dengan maraknya keterbukaan, masyarakat Tionghoa di Indonesia akan lebih seperti di Malaysia. Bangsa-bangsa pribumi yang minoritas mengerti jalan pikiran Tionghoa yang juga minoritas. Tapi akan mampukah orang Jawa-Islam yang mayoritas dan menguasai pemerintahan sejak dahulu menerima kenyataan pluralisme ini secara lapang dada?

    ReplyDelete
  2. Makasih bung Hurek sudah speak up... semoga saya juga dianugerahi keberanian untuk berbicara seperti itu.

    ReplyDelete