09 October 2010

Philemon Robert Antonis




Sejak delapan tahun lalu (2002), Philemon Robert Antonis (49) menjadi motivator, konselor, moderator, hingga dosen. Kini, Robert -- sapaan karibnya -- juga aktif mengisi pelayanan mimbar di berbagai gereja.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

TIDAK heran, di kalangan jemaat kristiani di Surabaya, Philemon Robert Antonis lebih akrab disapa Pendeta Robert. Dia tidak punya gereja sendiri. Juga tidak bertugas sebagai gembala sidang gereja tertentu. Namun, justru sebagai 'orang bebas' itu, Robert bisa bergerak lincah dari gereja ke gereja untuk memberikan ceramah alias 'pelayanan mimbar'.

"Dalam satu hari, saya bisa melayani tujuh sampai delapan gereja yang berbeda. Bahkan, saya juga pernah mengisi seminar di lingkungan Katolik," ujar Philemon Robert Antonis kepada saya di kawasan Raya Darmo Surabaya, kemarin (7/10/2010).

Pekan lalu, Robert didaulat berbicara di hadapan ratusan jemaat sebuah gereja di kawasan Basuki Rachmat Surabaya. Seperti biasa, suami EH Junita dan ayah Matthew Robert ini tampil antusias dan menggebu-gebu. Robert bicara layaknya seorang motivator kawakan. Berbeda dengan pendeta-pendeta umumnya.

Pria kelahiran Jakarta, 24 Oktober 1961, ini dengan fasih menyuntikkan motivasi kepada jemaat yang dikaitkan dengan kutipan Alkitab. "Uraian Pendeta Robert ini sangat hidup dan menarik. Nggak terasa, tahu-tahu sudah selesai," ujar Sin Lan, jemaat Gereja Satu Jam.

Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja Philemon Robert Antonis memang beda dengan pendeta atau pastor kebanyakan. Ini yang membuat penggemar karate dan Thai Kick Boxing ini sangat piawai membahas berbagai persoalan yang digumuli jemaat. Belum lagi kefasihannya berbicara dalam lima bahasa (Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis).

Pada 1980, Philemon Robert mendalami manajemen sumber daya manusia di European Business and Management Institute, kemudian melanjutkan ke American Program of Psychology. Bukan itu saja. Robert yang masih segar bugar ini mendalami studi teologi selama enam tahun.

"Jadi, saya ini punya gelar S-3 di tiga bidang yang berbeda," ujar pria blasteran Eropa-Indonesia ini.

Robert sempat malang melintang menjadi pengusaha. Di antaranya, mengelola event organizer, bikin perusahaan katering di Eropa, kemudian membentuk perusahaan konsultan bisnis antara Asia dan Eropa. Pada usia 41 tahun, Robert memilih berhenti sebagai pengusaha dan fokus sebagai life innovator.

"Saya sukses bila bisa menginspirasi orang lain untuk menggunakan keunggulannya sampai tingkat yang tertinggi," prinsip hidup Robert.



Ketika menimba ilmu di Eropa dan Amerika, kemudian berkarir sebagai pengusaha, Philemon Robert Antonis (49) kurang antusias dengan kegiatan rohani. Namun, kini hidupnya berubah total.

GARA-GARA urusan keimigrasian, Philemon Robert Antonis pernah ‘terdampar’ di dalam sebuah penjara di Denpasar, Bali. Pria campuran Eropa-Indonesia yang sebelumnya suka bepergian ke berbagai negara ini pun harus terkurung di lembaga pemasyarakatan (LP). Ruang geraknya sangat terbatas.

“Saya divonis lima tahun penjara,” tutur Robert, sapaan akrab pendeta freelanche ini, sambil tersenyum. Belakangan, setelah ditinjau kembali, Robert dinyatakan tidak bersalah. Padahal, dia sudah telanjur mendekam di penjara selama 18 bulan alias 1,5 tahun.

Meski menjadi korban ‘salah vonis’, Robert mengaku tidak menyesali pengalaman pahit selama dipenjara di Bali. Pria kelahiran Jakarta, 24 Oktober 1961, ini justru bersyukur karena dia punya wawasan baru tentang LP, bergaul dengan banyak narapidana, kenal sipir dan pejabat LP, dan sebagainya. Pengalaman macam ini jarang dipunyai pendeta atau pastor di mana pun.

Bahkan, justru karena mendekam di dalam penjara itulah, Robert akhirnya bisa berkenalan dengan Timotius Arifin, pendeta terkenal dari Gereja Bethany, yang mengubah perjalanan hidupnya. Timotius dengan sabar dan telaten terus mendampingi Robert.

“Sejak itu saya yang tadinya tidak kenal Tuhan menjadi kenal Tuhan,” tuturnya.

Selain Timotius Arifin, Robert terinspirasi oleh John Hartman, pendeta senior, yang kondang dengan lagu-lagu gospel berirama country. Baik Timotius Arifin maupun John Hartman punya pelayanan rohani yang luar biasa di Indonesia. “Jadi, dua orang rohaniwan itu punya pengaruh besar dalam hidup saya,” tegasnya.

Bebas dari penjara, suami EH Junita ini semakin mendalami Alkitab alias Bible. Kemampuan Robert berbahasa Ibrani, bahasa asli Alkitab, memudahkan dia untuk mendalami kitab suci umat Kristen itu. Dia juga menekuni studi teologi dan islamologi di Eropa dan Indonesia. Praktis, Robert sudah punya modal besar sebagai penceramah atau pelayan mimbar di gereja, yang sehari-hari biasa dikenal sebagai pendeta jempolan.

Mula-mula berbicara di komunitas kecil, gereja-gereja setempat, kini Robert melayani undangan bicara dari gereja ke gereja dari Sabang sampai Merauke. Dalam sehari dia bisa bicara di tujuh atau delapan tempat yang berbeda.
“Kalau dirata-rata lima enam session-lah,” akunya.



Meski sudah kondang sebagai pembicara, melanglang ke berbagai kota di tanah air, Pendeta Philemon Robert Antonis tidak ‘jual mahal’. Dia siap melayani permintaan jemaat atau gereja yang kurang mampu.

SEBAGAI bekas pengusaha, konsultan perusahaan besar baik di dalam maupun luar negeri, penampilan Philemon Robert Antonis tak ubahnya pengusaha sukses. Busana bermerek. Makan di restoran kelas atas. Suka mengoleksi arloji Rolex yang sudah pasti tidak murah.

Karena itu, orang yang belum mengenalnya sering menyangka Robert merupakan pendeta atau pelayan mimbar yang bertarif mahal. Robert pun hanya tertawa kecil ketika ditanya Radar Surabaya tentang honornya.

“Saya tidak pasang tarif. Saya melayani semua gereja, entah itu gereja besar, gereja kecil, bahkan gereja-gereja yang sangat tidak mampu,” tegas pria 49 tahun ini.

Saat ini, Philemon Robert Antonis mengaku sedang menikmati masa panen raya. Undangan berkhotbah atau seminar datang dari berbagai kalangan, termasuk di luar gereja. Dalam sehari, ayah Matthew Robert dan suami EH Junita, seorang dokter, ini bisa bicara di tujuh atau delapan sesi di tempat yang berbeda.
Karena itu, dia mengaku selalu mendapat segepok duit hasil ‘persembahan kasih’ (baca: honorarium) dari panitia atau gereja yang mengundangnya.

Berapa nilai rupiahnya? Robert kembali tersenyum. “Ah, itu rahasia perusahaan,” ujar penerjemah dan interpreter terkenal di Surabaya itu.
Hanya saja, Robert mengakui ‘persembahan kasih’ yang dia terima itu lebih dari cukup. Apalagi, jika pihak yang mengundang itu dari gereja-gereja besar dan terkenal.

“Wah, biasanya persembahan kasih mereka kelas bintang tujuh. Bukan lagi bintang lima. Hehehe...,” tukasnya.

Sebaliknya, ketika diundang gereja-gereja kecil, dengan jemaat gakin (keluarga miskin), Robert pun siap dibayar murah. Bahkan, tidak dibayar pun dia siap datang. Biasanya, menurut Robert, ‘persembahan kasih’ dari gereja-gereja gakin itu dikembalikan kepada panitia. Sehingga, uang itu bisa dipakai untuk kebutuhan jemaat setempat.

“Saya juga sering menggunakan ‘persembahan kasih’ saya untuk membeli AC dan pengadaan fasilitas gereja yang memang membutuhkan,” akunya. Karena itu, Robert membantah keras anggapan bahwa dirinya seorang pelayan mimbar bertarif mahal dan hanya mau melayani gereja-gereja kelas ‘bintang tujuh’.



Jika diundang berbicara di lingkungan gereja, Pendeta Philemon Robert Antonis (49) menerapkan sistem antrean. Gereja yang lebih dulu mengundang akan dilayani lebih dulu.

BAGAIMANA jika ada gereja kelas ‘bintang tujuh’, julukan Robert untuk gereja-gereja besar dan kaya, melayangkan undangan secara mendadak? Bukankah ‘persembahan kasih’ alias honorariumnya pun sekelas bintang tujuh?

Philemon Robert Antonis menegaskan, dia tak akan tergoda untuk mendahulukan undangan-undangan yang bersifat mendadak. Sebab, agenda kegiatannya sudah disusun rapi jauh hari sebelumnya. Jadwal kegiatan tidak bisa diotak-atik, kecuali barangkan Robert, sapaan akrab pendeta blasteran Eropa-Indonesia ini, sakit.

“Saya tetap mendahulukan mereka yang lebih dulu mengundang saya. Biarpun persembahan kasih mereka sedikit, bahkan mungkin tidak ada, saya tetap layani,” kata ayah satu anak bernama Matthew Robert ini.

Robert mengaku sudah beberapa kali menghadapi godaan seperti itu. Ada pengundang yang punya banyak uang minta diprioritaskan. Berbagai fasilitas yang wah disediakan. Namun, pendeta yang kini juga menekuni profesi sebagai life innovator itu bergeming.

“Saya melayani jemaat itu bukan untuk cari uang, tapi ingin membagikan kasih Tuhan kepada manusia. Sekarang orang-orang sudah tahu siapa Robert itu. Yang menjadi pusat atau sentral dalam pelayanan saya adalah Tuhan,” ujar Robert lantas tertawa kecil.

Philemon Robert Antonis termasuk tipe manusia yang sangat fleksibel. Dia bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat yang berbeda. Mulai dari kalangan bawah, narapidana, hingga kalangan atas dan lingkungan pejabat tinggi.

Di luar lingkungan gereja, Robert tak hanya dikenal sebagai motivator, tapi inovator. Dia kerap bikin in house training untuk perusahaan swasta dan pemerintah. Kata ‘inovasi’ selalu ditekankan Robert, karena itu menjadi kunci sukses seseorang dalam menggali potensi dirinya.

“Saya berusaha memaksimalkan daya inovasi seseorang agar bisa mencapai tujuan yang diinginkan secara maksimal. Ingat, setiap individu itu punya potensi masing-masing,” tegasnya.

Nah, untuk memaksimalkan potenti itu, Robert menegaskan bahwa pola pikir atau mindset seseorang harus lebih dulu diperbaiki. Mengapa? “Our mindset is the beginning of our destiny. Pola pikir kita adalah permulaan dari tujuan hidup kita,” pungkasnya. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 8-11 Oktober 2010

2 comments:

  1. Hee hallo hier een groet van een oude vriend hans van der linden ben zo benieuwd hoe het met je gaat rob? kreeg ineens een ingeving op het internet zoeken hoop dat je dit leest mn e mail is j.linde18@chello.nl zotezien heb je gezin met een zoon maar kan dit verhaal niet lezen helaas ben niet zo onderlegt in talen zoals je weet.ben jij nog weleens in nederland?zou je graag weer eens willen zioen of spreken.
    groetjes van uit hellevoetsluis [nederland.
    hoop dat je dit leest!!!

    ReplyDelete
  2. shalom Pst Philemon Robert Antonis. saya mendoakan agar pelayaannya makin luar biasa dasn lebih di pakai Tuhan,dan menjadi berkat bagi orang banyak. GBU Always> Amin. from Welfried Lilipaly GSPDI FILADELFIA Bandung>

    ReplyDelete