12 October 2010

Napak Tilas Kampung Kungfu di Kapasan



SURABAYA – Untuk kelima kalinya, komunitas Jejak Petjinan mengadakan Melantjong Petjinan Soerabaia. Kali ini, acara city tour difokuskan ke kawasan Kapasan.

Kampus sederhana di kawasan Surabaya Timur, yang padat dan sulit dijangkau kendaraan roda empat, ini ternyata menyimpan jejak warga Tionghoa di Kota Surabaya. Bahkan, pada zaman perang melawan kolonial Belanda, Kapasan menjadi salah satu markas perjuangan arek-arek Surabaya.

“Nah, kita ingin melihat kondisi Kapasan sekarang. Paling tidak peserta Melantjong Petjinan bisa punya gambaran mengenai Kapasan tempo doeloe,” ujar Paulina Mayasari, koordinator Jejak Petjinan, kepada Radar Surabaya, Minggu (10/10/2010).

Mula-mula rombongan mampir di Boen Bio, kelenteng khusus agama Khonghucu di Jalan Kapasan, depan Polsek Surabaya Timur. Para turis lokal, yang sebagian di antaranya non-Tionghoa ini, diterima pengurus Boen Bio seperti Liem Tiong Yang dan Charles Tee.

Liem menjelaskan, Boen Bio yang sekarang diresmikan pada 1907. “Jadi, usia kelenteng ini sudah 103 tahun,” paparnya.

Pada awalnya, menurut Liem, kelenteng ini bernama Boen Tjhiang Soe dan terletak di Kapasan Dalam dan dibangun pada 1882. Sekitar 50 meter dari lokasi sekarang. Liem kemudian menjelaskan secara panjang lebar makna aksesoris di Boen Bio.

Dari Boen Bio, sekitar 70 peserta melakukan napak tilas di Kapasan Dalam. Alkisah, kampung tua ini dulu punya banyak sekali ahli kungfu alias silat ala Tiongkok. Maka, ada istilah Buaya Kapasan atau Kampung Kungfu. Karena itu, Kapasan menjadi kampung yang sangat disegani di Surabaya pada era Hindia Belanda hingga 1950-an.

“Ada beberapa nama yang masih dikenang sebagai ahli kungfu di Kapasan. Di antaranya, Kui Yang dan Cing Hai. Tapi sekarang tinggal anak cucunya saja,” ujar Gunawan, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, yang menjadi pemandu wisata.

Gunawan kemudian mengajak para turis lokal ini untuk melihat-lihat suasana kampung dengan rumah-rumah lama orang Tionghoa tempo doeloe. Rumahnya panjang, beratap seng, dengan kamar yang disekat-sekat. Ini untuk menampung para perantau yang baru datang dari Tiongkok.

“Kondisi perantau itu sangat mengenaskan. Kita sekarang pasti gak mentolo melihat keadaan mereka yang miskin luar biasa,” jelas Lukito S. Kartono, dosen arsitektur Universitas Kristen Petra.

Saking melaratnya, menurut Lukito, Mayor The Goan Tjing mengusahakan tanah yang cukup luas di sebuah hutan randu (kapas). Setelah babat alas, jadilah kampung Kapasan sebagai permukiman perantau Tionghoa. Kini, setelah satu abad berlalu, kondisi kampung Kapasan pun belum banyak berubah. Masih didiami warga Tionghoa berpenghasilan sedang-sedang saja.

“Kalau Anda masuk ke Kapasan Dalam, Anda akan tahu bahwa tidak semua orang Tionghoa itu kaya-raya. Masih banyak yang hidup pas-pasan, himpit-himpitan di gang sempit. Bahkan, kendaraan roda empat nggak bisa masuk,” kata Gunawan. (lambertus hurek)

Sumber: Radar Surabaya Selasa 12 Oktober 2010

No comments:

Post a Comment