14 October 2010

Mi Instan Memang Bahaya




Nasionalisme harus dimulai dari meja makan!

Mi instan Indomie ditarik di Taiwan karena kandungan nipagin, sejenis bahan pengawet, kelewat tinggi. Pemerintah dan pihak perusahaan pembuat Indomie dibuat pusing. Harus kasih penjelasan, public relations, pasang iklan, undang wartawan...

Intinya, makan mi instan Indomie [dan mi-mi instan lain] aman-aman saja. Tidak berbahaya. Bla-bla-bla....

Bagi saya, peristiwa di Taiwan ini merupakan blessing in disguise. Masyarakat jadi tahu apa itu asam bensoat, methyl p-hydroxybenzoate, bahan tambahan makanan (BTM), bahaya BTM, dampak bahan pengawet dalam jangka panjang, dan sebagainya. Bahwa makan mi instan setiap hari, apalagi menjadikan mi sebagai makanan pokok, SANGAT BERBAHAYA.

Kita juga diingatkan bahwa makanan-makanan lokal yang segar, mentah, buah-buahan, sayur-mayur, ubi-ubian, yang ditanam jutaan petani Indonesia jauh lebih sehat. Lebih baik makanan alami, biarpun sederhana, ketimbang makanan olahan pabrik.

Selain itu, membiasakan diri makan mi instan atau mi biasa sangat berbahaya bagi ketahanan pangan kita. Mi dibuat dari tepung terigu. Terigu itu tak lain biji gandum yang digiling. Gandum bukanlah tanaman tropis. Sampai hari ini gandum tak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di bumi Indonesia.

Ingat, berbagai percobaan budidaya gandum di Indonesia gagal! Maka, kalau kita terlalu banyak makan mi, mengonsumsi makanan-makanan yang bahan bakunya tidak bisa tumbuh di Indonesia, sama saja dengan kita memakmurkan petani-petani Amerika, Eropa, Tiongkok, dan negara-negara di belahan bumi utara. Juga memakmurkan produsen mi instan.

Ingat, pada dasarnya orang Indonesia bukanlah pemakan gandum (mi, roti, dan sebagainya)! Bumi Indonesia cocok buat tanaman-tanaman macam padi, jagung, kentang, ubi-ubian, berbagai macam buah-buahan... tapi bukan gandum.

Hari ini, 14 Oktober 2010, saya terharu membaca koran-koran terbitan Surabaya. Anak-anak kecil di Pondok Candra, Sidoarjo, berunjuk rasa menyerukan agar rakyat Indonesia tidak membiasakan diri makan makanan instan seperti Indomie, Supermie, Sarimie, Mie Sedap, dan sebangsanya.

“Perbanyak makan buah dan sayur. Bukan memperbanyak makan mi dan makanan instan, siap saji,” teriak anak-anak Taman Kanak-Kanak Bright Kiddie itu.

Pintar juga bocah-bocah Sidoarjo itu! Kayaknya anak-anak kecil ini lebih cerdas ketimbang pejabat-pejabat di Jakarta yang tiap hari sibuk “memperjuangkan” dan “membela” kepentingan mi instan [dan importer gandum] di televisi. Beda dengan pemerintah Taiwan dan Singapura yang sibuk membela kesehatan masyarakat.

Ehm, jangan lupa, saat kampanye pemilihan presiden tahun lalu, ada kandidat presiden yang meminjam jingle Indomie untuk kampanye:

DARI SABANG MERAUKE
INDOMIE... SELERAKU

Hehehe.....

5 comments:

  1. Ini posting yang sangat bagus. Kecuali dalam keadaan darurat, saya gak suka makan mi instan. Sudah banyak mengandung bahan pengawet, tingkat kolesterol dan minyak jenuhnya sangat tinggi. Orang Indonesia jangan mau dibodohi oleh Indofoods.

    ReplyDelete
  2. Mas hurek,

    Saya makan mie instan cuma kalo lg sos...misalnya lg gakda makanan tp perut minta diisi. Sepertinya gak lebih sering dr 3 bulan sekali. Makan mi instan selalu hanya pakai sebagian bumbu, ya krn rasanya cuma makan penyedap saja. Hehe... Buat mengurangi rasa bersalah krn makan mi instan, sy biasanya campur dg daging, bakdo dan sayur2an. Tp memang...kalau tidak perlu...gakusah deh makan mi instan.

    Di sini byk jualan mi instan. Tp byk juga yg jual bermacam2 produk mi yg tinggal diolah. Jadi mi pok, mi goreng, mi laksa dll. Gakperlu makan mi instan deh.

    Tapi mas...krn mi instan murah banget, masih byk rakyat di tanah air yg makan mi sbg alternatif pangan. Kasihan deh, makanan gak bergizi kok dijadikan konsumsi rutin.

    Kalau pemerintah tdk tanggap memperebaiki gizi rakyatnya, dan menididik rakyat akan pengetahuan gizi, dan memberi alternatif pangan yg lebih sehat, bisa2 kita cuma punya generasi penerus yg tidak pintar. Untung murid2 TK itu gak makan mi instan ya mas? :-)

    ReplyDelete
  3. Cakap saja tentang sesuatu yang instant, memang tak pernah ada yang bagus. Nasib baiklah, sehingga hari ini, Indomie, bukan sekera saya. :)

    ReplyDelete
  4. saya pemerhati kesehatan juga peneliti bidang medis. Tidak punya keluarga yang kerja di pabrik mie, apalagi punya pabrik mie. Tidak juga punya toko yang menjual mie instan. Ijinkan ikut urun rembug. Sebenarnya semua makanan jika dikonsumsi berlebih berdampak kurang baik bagi kesehatan dan semua makanan kecuali yang benar-benar bersifat toksik jika dikonsumsi dalam batas wajar dan diimbangi dengan konsumsi lain tidak ada masalah. Mie instan jika tidak dikonsumsi berlebih (sehari > 10 bungkus sebenarnya tidak akan mengakibatkan masalah kesehatan yang serius. Selain itu tubuh juga memiliki cara alami mengeliminasi senyawa racun dalam jumlah < ambang batas. Ya mau bagaimana lagi, seburuk-buruk pengaruh mie instan, tetap memiliki jasa besar di dalam memperpanjang hidup masyarakat khususnya yang kurang mampu. Karena pada kenyataan sayuran sekarang harga mahal. Kecuali mau menanam sendiri dan memetiknya. Itupun juga terbatas jumlahnya. Sayuran juga sekarang sudah banyak disemprot pestisida, rekayasa genetik (yang mungkin ada yang dilakukan tanpa memenuhi metode standar rekayasa). Nampaknya kalau mau aman tak usah makan apa pun. Dijamin tak akan berdampak, kecuali kelaparan. Karena jika diperhatikan, hampir semua jenis makanan diberitakan berdampak. Sebenarnya tidak sedikit informasi yang beredar lebih bersifat politis dibandingkan dengan fakta. Jangan salah juga banyak penelitian yang bersifat "titipan" sehingga hasilnya mengarah ke kepentingan pihak tertentu. Mohon jadilah masyarakat cerdas yang dapat menyaring informasi. Trims

    ReplyDelete
  5. itu supaya mie taiwan gak kalah saing,supaya laku keras mi taiwan wkwkwkw

    ReplyDelete