11 October 2010

Log Zhelebour dan Rock



Rock dan Log Zhelebour ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Meski usianya sudah mencapai setengah abad, arek Surabaya ini tetap saja berjiwa muda. Jiwa Log sudah bersenyawa dengan musik cadas yang menggelegar.

Naskah dan Foto: LAMBERTUS L. HUREK

Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu 10 Oktober 2010.


MENANDAI 30 tahun kiprahnya sebagai promotor musik rock, pekan lalu (3/10/2010), Log Zhelebour mengadakan konser bertajuk Log for Rock, Show of Force. Sejak siang hingga larut malam puluhan artis binaan Log unjuk kekuatan, show of force, di Stadion Tambaksari Surabaya.

Ong Oen Log, nama asli Log Zhelebour, terlihat berada di belakang panggung, berbaur dengan artis-artisnya, kru televisi, dan wartawan. Diam-diam, Log juga berbaur ke tengah penonton di tengah stadion yang tengah menikmati permainan rock dari band-band binaan Log.

Hingga akhir pergelaran, setelah Boomerang turun panggung, Log Zhelebour tetap standby di dalam stadion. Dengan menyambut ramah uluran tangan para penggemar rock dari berbagai kota di Jatim untuk sekadar foto bersama atau berjabat tangan. Log tak ingin menjauhkan diri dari komunitas rock yang dengan susah payah dirintisnya selama tiga dekade ini. Padahal, sebagian besar musisi sudah kembali ke hotel untuk beristirahat.

Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Log Zhelebour di sela konser perayaan 30 tahun kiprah Log Zhelebour di belantika musik rock tanah air.

Selamat atas dedikasi Anda dalam menghidupi musik rock selama 30 tahun.

Terima kasih. Saya juga berterima kasih kepada para penggemar musik rock di Surabaya dan Jawa Timur umumnya yang sudah mau datang ke Tambaksari untuk memeriahkan konser ini. Bahkan, saya lihat poster-poster itu banyak juga komunitas rock dari luar Jawa Timur yang datang. Dukungan fans ini sangat penting bagi perkembangan musik rock di Indonesia. Mereka datang ke sini secara spontan, beli karcis, kemudian menikmati musik rock. Jadi, bukan penggemar musik bayaran yang direkayasa, dikasih uang transpor, kaos, dan sebagainya.

Anda kelihatan masih semangat dan optimistis. Padahal, beberapa tahun belakangan musik rock sedang surut.

Harus optimis dan semangat dong! Kita tidak boleh menyerah. Harus terus berusaha agar musik rock tetap eksis di tanah air. Saya ngadain konser ini tanpa sponsor. Pakai uang sendiri. Mana Anda lihat ada spanduk-spanduk sponsor di sini?

Berarti habis duit banyak dong!

Pasti. Sebab, artis yang tampil di Stadion Tambaksari ini banyak sekali, mulai musisi-musisi senior yang main sejak 1980-an sampai musisi-musisi muda. Mereka main sejak jam satu siang sampai (hampir) jam satu tengah malam. Honor untuk artis saja berapa? Belum akomodasi, konsumsi, transportasi, dan sebagainya. Tapi saya puas karena masih bisa memberikan sesuatu kepada warga Surabaya, khususnya para penggemar musik rock.

Mengapa perayaan 30 tahun kiprah Anda ini diadakan di Surabaya?

Saya ini arek Surabaya. Saya merintis karir sebagai promotor musik sejak 30 tahun lalu, ya, di Surabaya. Maka, meskipun saya sudah lama tinggal di Jakarta, saya tidak mungkin melupakan Surabaya. Surabaya itu barometer musik rock di Indonesia. Sejak tahun 1984, saya bikin festival rock tingkat nasional, ya, selalu di Surabaya. Kalaupun babak penyisihannya di kota-kota lain, grand finalnya harus di Surabaya. Maka, Surabaya selalu menjadi saksi lahirnya musisi-musisi yang berkiprah di musik rock tanah air sampai sekarang.

Kapan Anda menggelar festival rock lagi?

Mudah-mudahan tahun depanlah. Sebab, festival itu kan butuh persiapan yang cukup lama, sponsor, dan sebagainya. Kita juga perlu melihat perkembangan musik secara umum agar festival itu ada manfaatnya bagi musik rock di tanah air. Saya harus menjaga momen juga. Karena kita tidak bisa melawan tren yang dijejalkan televisi. TV menciptakan bintang-bintang instan untuk hiburan dan masyarakat tidak perlu keluar duit. Jadi, memang gak diciptakan untuk jadi bintang profesional.

Tapi kalau tidak promosi di televisi, bagaimana artis Anda bisa dikenal di seluruh Indonesia?

Begini ya. Kalau pop-pop yang di televisi-televisi itu jualan lagu, bukan untuk show. Mereka gak siap off air. Kalau off air, show-show artis Log Zhelebour gak ada tandingan. Penggemar mereka kan anak kecil sama pembantu. Lha, pagi-pagi orang pergi ke sekolah atau kerja di kantor kok. Penonton itu kan panggilan semua, dibayar, ada kordinatornya, dikasih kaos, dikasih uang Rp 30.000 atau Rp 50.000, kemudian disuruh hapalin lagu.

Saya sampai bingung, lha wong orang sekolah, siapa yang nonton ini? Tapi kita tetap optimislah. Kan orang ada titik jenuh, terus perubahan tren. Mungkin orang RBT juga jenuh, mungkin orang bisa lirik lagi. Itu karena lagi musim gitu dan hukum kita belum support industri musik. Download nggak ada hukumnya, sehingga produser semangatnya jadi kendor. Sekarang produser yang gak idealis cari duit pakai REG nyedot duitnya orang. Lha, aku kan orang idealis. Bisnis REG itu gila-gilaan menyedot pulsa. Maling semua itu! Banyak produser musik begitu, aku juga ditawari, tapi paling pantang. Aku bilang cari duit ada caranya.

Dampaknya promotor rock seperti Anda jadi tersisih?

Ya, itulah risiko bisnis dan persaingan yang harus kita hadapi. Kalau untuk off air, show-show-ku gak ada tandingan.

Jumlah penonton musik rock, termasuk di konser-konser Anda belakangan ini, saya lihat menurun drastis. Beda dengan era '90-an, apalagi '80-an.

Memang. Dulu, cari 15 ribu penonton gampang sekali. Sekarang cari penonton 10 ribu saja sudah setengah mati. Sekarang susah karena televisi-televisi memberikan hiburan gratis. Artisnya gak dibayar semua, gratisan di alun-alun. Artis lokal menjadi hilang kewibawaannya. Udah lipsinck, gregetnya gak ono.

Rupanya Anda gregetan dengan program musik di televisi?

Saya mikirnya begini. Sekalipun artis atau band main di televisi tetap saja kere. Lha, wong gak dibayar. Paling satu juta (rupiah), tapi tiap hari nongol. Ada yang hanya salam terima kasih thok. Promosi. Lho, promosi kok terus-terusan! Aku malas di televisi karena salaman thok itu. Capek. Mbah Surip itu cepat mati karena ngeladeni televisi. (rek)




Log Zhelebour bersama gitaris Eet Sjahranie.


TENTANG LOG ZHELEBOUR

Nama lahir : Ong Oen Log
Lahir : Surabaya, 19 Maret 1959
Istri : Novianda Antasari
Anak : Dean Alonso

Pekerjaan : Promotor musik rock
Perusahaan : Logiss Record, Log Sound, Log Artist Management, Log Stage, Log Lighting, Log Show Promotor.
Pendidikan : SMP Pirngadi Surabaya, SMA St. Louis Surabaya

Festival Rock:

Djarum Super Rock Festival (1984, 1985, 1986, 1987, 1989, 1993, 2001, 2004)
Indosiar Rock Festival (1996)
Gudang Garam Rock Competition (1991, 2007).

3 comments:

  1. Wow mantab Opu... kemarin moe nonton juga ama? Hmmm acara paling keren, bisa bertemu Dedi Dores dan lain2... lumayan puas pokoknya acara kemarin..

    Bang Log memang hebat... Salut untuk dia...

    ReplyDelete
  2. jika ada yang bicara perjalanan musik rock Indonesia, tapi ndak menyebut Nama orang satu ini, berarti dia ndak ngerti perjalanan musik Rock Indonesia..

    ReplyDelete
  3. Om Log ancen Oyeee....
    Rock Never Die ...
    Terus Jaya musik rock di Nusantara....
    \m/

    ReplyDelete