14 October 2010

Kapasan Riwayatmu Dulu



Napak Tilas Kampung Kapasan (1)

Sekitar 70 orang mengikuti program Melantjong Petjinan Soerabaia V di kawasan Kapasan Surabaya, Minggu (10/10/2010). Kawasan permukiman padat penduduk itu menyimpan jejak sejarah kehadiran orang Tionghoa di Surabaya.


Oleh LAMBERTUS HUREK

Kampung Kapasan tak ubahnya kampung-kampung lain di Kota Surabaya. Rumah-rumah berdempetan. Gang-gang sempit. Rumah-rumah penduduk berdempetan. Alih-alih kendaraan roda empat, sepeda motor saja sulit masuk ke gang-gang sempir di Kapasan Dalam.

Tapi, justru di balik kekurangan itu, warga Kapasan Dalam terlihat sangat guyub dan rukun. Mereka saling mengenal satu sama lain. Di tengah kehidupan metropolis yang makin individualistis, kurang peduli sesama, Kapasan Dalam menampilkan wajah kota yang ramah dan akrab. Khas arek-arek Surabaya tempo doeloe.

“Kami ini tinggal di dalam kampung selama bertahun-tahun, sehingga sudah saling kenal. Kami juga tidak membeda-bedakan etnis Tionghoa, Jawa, Madura, dan sebagainya,” kata Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, yang menjadi pemandu rombongan Melantjong Petjinan Soerabaia V.

Gunawan benar. Setiap kali masuk ke dalam gang-gang sempit khas Kapasan, peserta city tour yang berbeda-beda latar belakang ini (mahasiswa, karyawan, fotografer, wartawan, dosen) disambut ramah. Warga juga mudah diajak bicara. Bahkan, ketika peserta memasuki rumah-rumah yang sempit dan kuno itu, warga Kapasan Dalam menyambut ramah. Kehangatan khas wong kampung sangat terasa.

Menurut Gunawan, komposisi penduduk di kawasan Kapasan, khususnya Kapasan Dalam, sudah berbeda jauh dengan puluhan tahun silam. Ketika itu Kapasan Dalam menjadi salah satu pusat permukiman khusus para perantau asal Tiongkok. Mereka babat alas dengan membuka hutan randu yang dalam bahasa Melayu-Tionghoa disebut kapas.

“Warga Tionghoa di Kapasan Dalam ini kehidupan ekonominya pas-pasan. Bukan orang-orang kaya,” tutur Gunawan yang didampingi Lukito S. Kartono, dosen arsitektur Universitas Kristen Petra.

Sebagian warga Tionghoa di Kapasan Dalam, setelah mengalami perkembangan ekonomi, memilih pindah ke permukiman lain di Surabaya atau di kota-kota lain. Sebab, tak mungkin mengembangkan bisnis di tengah-tengah permukiman penduduk yang sangat padat. Pun tak ada lahan kosong.

Pada 1960-an, sebagai buntut pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959 (PP 10), tak sedikit warga Tionghoa kembali ke negeri leluhurnya di Tiongkok. Belum lagi peristiwa-peristiwa politik sesudahnya yang sedikit banyak menimpa warga keturunan Tionghoa.

Nah, sebagian rumah dan lahan kosong itu kemudian ditempati oleh pendatang baru. Sejak itulah, Kapasan Dalam tak lagi murni sebagai kampung Tionghoa yang terkenal karena kepiawaiannya warganya bermain kungfu atau silat Tionghoa. Populasi Kapasan Dalam berubah drastis.

“Di sini Anda bisa bertemu dengan warga dari berbagai suku, ras, dan agama,” kata Gunawan seraya tersenyum (rek/bersambung).



Napak Tilas Kampung Kapasan (2)

Babat Alas berkat Jasa Mayor The Goan Tjing

Pada tahun 1700-an, kondisi Kapasan sangat buruk dibandingkan daerah pecinan Surabaya yang lain seperti Kembang Jepun, Slompretan, Karet, atau Cokelat. Mengerikan!

Oleh LAMBERTUS HUREK


Menurut catatan sejarah, sebelum tahun 1900, Kapasan dikenal sebagai kawasan hutan randu yang rimbun. Nama Kapasan sendiri diambil dari kapas, sebutan randu dalam bahasa Melayu-Tionghoa.

Saking rimbunnya, Kapasan menjadi tempat persembunyian maling, perampok, pembunuh, serta para pelaku kejahatan lainnya.


Petugas patroli Belanda pun keder. Menurut Lukito S. Kartono, dosen arsitektur Universitas Kristen Petra, yang banyak meneliti arsitektur dan permukiman Tionghoa di Jawa, petugas Belanda hanya berani mengejar penjahat sampai di ujung Kembang Jepun. Tidak berani melintasi Kali Pegirikan.

Nah, pada abad ke-19 terjadi eksodus besar-besaran warga Tionghoa ke Surabaya. Selain dari Tiongkok, yang dilanda kelaparan pada masa Dinasti Qing, banyak pula perantau Tiongkok di luar Jawa datang ke Surabaya. Mereka terkena pemutusan hubungan kerja besar-besaran di perusahan tambang.

“Kondisi mereka benar-benar mengenaskan. Kalau kita lihat foto-foto lama, waduh, gak mentolo deh. Para perantau Tiongkok ini melaratnya luar biasa,” kata Lukito Kartono di depan sekitar 70 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia V di Kapasan Dalam, Ahad (10/10/2010).

Pada 1870, di Batavia, terjadi pembunuhan terhadap warga Tionghoa oleh aparat Hindia Belanda karena dituduh ikut membantu gerakan pemberontak. Maka, banyak warga Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) hijrah ke Surabaya. Tentu saja, Surabaya kewalahan menghadapi kedatangan warga Tionghoa dalam jumlah besar ini. Apalagi, kawasan pecinan lama di Kembang Jepun dan sekitarnya sudah padat.

Menurut Lukito, orang-orang Tionghoa itu meminta bantuan Mayor The Goan Tjing agar diberikan tempat tinggal. Berkat jasa Mayor The, para pendatang Tionghoa itu diizinkan babat alas alias membuka hutan di Kapasan. Lalu, dibuatlah perumahan sederhana dan instan ala rumah-rumah bedeng. Bangunan memanjang, disekat-sekat, kemudian ditempati banyak orang.

“Maka, kampung Kapasan Dalam ini punya ciri khas rumah-rumah panjang, banyak kamar. Sangat sederhana. Cuma sekarang tinggal beberapa rumah tua yang tersisa. Yang lain sudah dibongkar dan dibangun baru,” jelas Lukito sembari menunjuk sejumlah bangunan lama khas Kapasan Dalam.

Karena para pendatang Tionghoa ini tak punya uang, Mayor The Goan Tjing memberikan pinjaman uang bagi para perantau di Kapasan untuk modal usaha. Tapi tak mudah membuka usaha kecil-kecilan pada zaman sulit di permulaan abad ke-19. ada sejumlah warga Tionghoa yang sukses di Kapasan, khususnya di pinggir jalan raya, tapi jauh lebih banyak yang tinggal miskin.

Penghuni rumah panjang di gang-gang ini bekerja sebagai kuli bangunan, pelayan toko, tukang jahit, tukang pangkas, tukang jam, dan sebagainya. (rek/bersambung)



Napak Tilas Kampung Kapasan (3)

Sebagai kampung yang kerap menjadi tempat persembunyian penjahat, warga Kapasan tempo doeloe giat berlatih ilmu bela diri ala Tionghoa. Maka, Kapasan pernah terkenal sebagai kampung kungfu.

Oleh LAMBERTUS HUREK


PENGHUNI rumah-rumah panjang di Kapasan Dalam umumnya warga Tionghoa kelas menengah ke bawah. Kehidupan ekonomi mereka senen-kemis. Pas-pasan. Ada yang jadi kuli bangunan, penjaga toko, tukang jahit, tukang pangkas, tukang jam, hingga tukang pukul.

Kepiawaian buaya-buaya Kapasan bermain kungfu membuat banyak pemuda dari kawasan Surabaya Timur ini dipercaya sebagai penjaga keamanan, tukang pukul, dan pengawal rumah-rumah judi. Pada era Hindia Belanda, bisnis judi memang tumbuh subur dan dibiarkan saja oleh pemerintah kolonial.

Nah, bandar-bandar judi di Surabaya biasanya meminta tenaga pengawal alias body guard dari Kapasan Dalam. “Kampung Kapasan ini memang dulu punya banyak tokoh-tokoh silat. Kami sering mendengar cerita tentang sepak terjang mereka dari mulut ke mulut,” tutur Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, yang memandu sekitar 70 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia V, Ahad (10/10/2010) lalu.

Jejak keberanian arek-arek Kapasan bahkan masih terasa hingga tahun 1970-an. Saat itu para pemuda Kapasan punya tim basket yang disegani di Kota Surabaya. Mereka punya lapangan bagus di belakang lokasi Kelenteng Boen Bio sekarang.

Ketika ada pertandingan basket antarklub atau antarkampung, baik pemain maupun suporter klub asal Kapasan sangat disegani lawan-lawannya. Bukan hanya karena kehebatan bermain basket, tapi perilaku mereka yang suka berkelahi. Gara-gara alasan sepele, misalnya lawan bermain kasar, arek-arek Kapasan tak segan-segan memamerkan jurus kungfunya.

“Ya, baku hantam. Mereka hanya ingin agar lawan-lawan main basket secara sportif. Jangan menggunakan cara-cara yang melanggar sportivitas,” kenang Gunawan seraya tersenyum lebar.

Lukito S. Kartono, pakar arsitektur dari Universitas Kristen Petra, menambahkan, kekhasan Kapasan juga bisa dilihat dari model arsitektur rumah-rumah panjang serta pagarnya. Pagar-pagar rumah tua di Kapasan, seperti disaksikan Radar Surabaya, sangat rendah. Hanya setinggi pinggang orang dewasa.

Menurut Lukito, pagar rumah-rumah lama di Kapasan macam ini karena penghuninya tidak khawatir dengan gangguan keamanan dari luar. Tempo doeloe tak ada penjahat yang berani beroperasi di kampung Kapasan.

“Menyebut nama Kapasan saja orang sudah segan,” kata Lukito. (rek/bersambung)

Napak Tilas Kampung Kapasan (4)
Citra Kampung Kungfu Meredup sejak Orde Baru

Seiring perjalanan waktu, citra Kapasan sebagai kampung kungfu perlahan-lahan mulai surut. Tak ada lagu jawara-jawara kungfu yang tempo doele bikin keder kampung-kampung lain di Surabaya.


ADA dua nama yang masih diingat betul oleh Antonius Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, yang memandu peserta Melantjong Petjinan Soerabaia V, Ahad (10/10/2010) lalu. Yakni, Tjan Mien Hwat (almarhum) dan Tjhing Hay.

Dulu, ketika masih muda, menurut Gunawan, Tjan Mien Hwat dikenal sebagai pemain kungfu yang sangat disegani di Kota Surabaya. Skill-nya yang luar biasa membuat dia dengan mudah menaklukkan lawan-lawannya.

Pada 1970-an, Mien Hwat yang tinggal di Kapasan Dalam Gang II membuka perguruan untuk melatih anak-anak muda di kampung Tionghoa lama ini ilmu bela diri khas Tionghoa: kungfu. Karena kampung ini sempit, rumah berdempet-dempetan, mereka kerap berlatih di jalan. Latihan dilakukan secara terbuka.

“Tapi, setelah beliau memasuki usia senja, proses regenerasi tidak ada lagi. Apalagi, situasi politik saat itu memang kurang kondusif untuk perkembangan tradisi dan seni budaya Tionghoa,” tutur Gunawan yang bernama asli Lauw Soen Gwan ini.

Adapun Tjhing Hay memutuskan untuk menekuni ilmu pengobatan tradisional Tionghoa. Pendekar Kapasan Dalam ini bahkan pindah ke kawasan Sidotopo. “Beliau fokus mengobati pasien-pasiennya yang memang sangat banyak. Bahkan, banyak orang nggak tahu kalau beliau itu mantan pesilat kungfu yang sangat terkenal,” tutur Gunawan seraya tersenyum.

Hilangnya jejak perguruan silat (kungfu) di Kapasan Dalam ini, menurut Gunawan, tak lepas dari kebijakan politik rezim Orde Baru. Segala sesuatu yang berbau Tionghoa, bahkan aksara dan bahasa Tionghoa, pun tidak bisa digunakan secara terang-terangan. Begitu juga aneka kesenian khas Tionghoa macam barongsai, liang-liong, wayang potehi, hingga kungfu.

Masyarakat Tionghoa di Kapasan Dalam memilih tiarap dengan tidak lagi berlatih seni bela diri klasik asal daratan Tiongkok itu. “Daripada berurusan dengan aparat, ya, orang-orang lebih baik memilih aman,” ujar Gunawan.

Tokoh masyarakat Kapasan yang lahir di Kapasan Dalam I/40 pada 26 April 1951 ini menambahkan, kungfu maupun olah raga bela diri lain seperti silat sama sekali tidak dimaksudkan untuk berkelahi atau menakut-nakuti orang lain. Juga tidak untuk pamer bahwa seseorang itu lebih hebat ketimbang orang lain.

“Kungfu itu seni bela diri, bagian dari kebudayaan Tionghoa,” tegasnya. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 13, 14, 15 Oktober 2010

1 comment:

  1. Kamsia Bung Hurek, tahun 1959 - 1963, daerah Kapasan Dalam dan Boen-Bio, adalah tempat saya setiap hari ber-main2. Sebab ada famili dan teman sekolah yang tinggal disana. Dijalan Gembong Sawah Barat tempat saya menyewa buku2 cerita silat. Njoo Kiem Bie, pahlawan bulutangkis kita, juga bekas penduduk sana.

    ReplyDelete