14 October 2010

Gatot Hartoyo dan PD Sidoarjo



Nama Gatot Hartoyo tak bisa dipisahkan dari dunia anak muda Sidoarjo. Dialah yang pertama kali mendirikan perisai diri (PD) serta memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia Sidoarjo.

Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK



MASUK ke Sidoarjo tahun 1960-an, Gatot Hartoyo melihat anak-anak muda di Kabupaten Sidoarjo kurang kegiatan. Waktu itu, jangan lupa, belum ada televisi yang menjamur, tempat-tempat hiburan, serta aktivitas untuk anak muda. Karena itu, Gatot Hartoyo merasa perlu melakukan sesuatu agar anak-anak muda Sidoarjo tidak tergoda untuk berbuat onar.

Akhirnya, tahun 1967 Gatot Hartoyo memulai kegiatan olah raga perisai diri (PD) di Sidoarjo. Betapa kagetnya Gatot, saat pembukaan PD antusiasme remaja Sidoarjo sangat tinggi. Sedikitnya 150 orang bergabung. "Paling banyak pelajar SMP dan SMA," papar Gatot kepada saya di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, kepada saya beberapa waktu lalu.

Antusiasme anak muda yang luar biasa ini membuat Gatot bertambah semangat. Dibantu beberapa asisten, Gatot secara teratur menggelar latihan PD di kantor Pengadilan Negeri Sidoarjo, Jalan Jaksa Agung Suprapto, petang hari. Warga Sidoarjo sejak 1970-an hingga 1980-an praktis mengidentikkan PN Sidoarjo dengan latihan bela diri, PD. Seakan-akan PD itu bagian dari aktivitas PN Sidoarjo.

"Kebetulan kita dikasih pinjaman oleh pihak PN. Dan ini membuat latihan-latihan PD di Sidoarjo berjalan dengan baik," tutur pria kelahiran 23 November 1945 itu.

Secara kebetulan, Gatot Hartoyo bertugas sebagai pegawai negeri sipil di PN Sidoarjo. Mengetahui talenta Gatot di rimba persilatan, khususnya PD, sang ketua PN pun tak segan-segan meminjamkan teras dan halaman kantor untuk latihan PD. Di pihak lain, warga pun dengan senang hati meminjamkan halaman atau lapangan untuk latihan olah raga, seni, dan sebagainya.

Ibarat mainan baru, latihan PD di PN Sidoarjo bergaung ke seluruh Kabupaten Sidoarjo. Anak-anak muda meminta didaftar sebagai anggota. Maka, setiap enam bulan Gatot Hartoyo membuka pendaftaran anggota baru. Rata-rata peminatnya di atas 100 orang. Begitu seterusnya antusiasme anak-anak muda Sidoarjo. Jangan heran, sebagian besar anak muda pada 1970-an hingga awal 1980-an menguasai ilmu bela diri, khususnya silat, dengan baik.

"Di semua pedukuhan ada PD. Latihan di mana-mana, dan ini membuat PD berkembang sangat pesat di Kabupaten Sidoarjo," tutur pria yang juga kolektor berbagai benda antik di padepokannya. Tak sedikit pejabat Sidoarjo yang ikut latihan PD di bawah bimbingan Gatot Hartoyo.

"Tapi nama-nama mereka jangan ditulis. Nggak enaklah."

Olah raga dan seni PD mula pertama didirikan RMS Dirdjoatmodjo, pendekar silat asal Surakarta. PD merupakan kombinasi antara olah raga, seni, serta budaya leluhur. Nilai-nilai moral, budaya, agama, kesehatan, ditanamkan secara mendalam di PD.

"Jadi, bukan untuk gagah-gagahan. Yang gagah-gagahan, mentang-mentang, sok, itu tidak diajarkan di perisai diri," jelasnya.

Nah, anak-anak muda Sidoarjo yang masuk PD ditempa habis-habisan dengan latihan dan disiplin ketat sehingga kontrol diri mereka terjaga. Hasilnya bisa dilihat dalam kehidupan anak-anak muda sehari-hari di Kabupaten Sidoarjo. Waktu itu jarang terdengar (bahkan hampir tidak ada) tawuran antarpelajar. Apalagi, tawuran pakai senjata tajam yang membuat nyawa terancam.

Yang ada, kata Gatot Hartoyo, pertarungan di antara anak-anak PD maupun kelompok persilatan lain seperti Tapak Suci atau Setia Hati. (Tapak Suci dan Setia Hati baru muncul di Sidoarjo setelah PD pimpinan Gatot Hartoyo.)

Fenomena tawuran antarpelajar ini terjadi karena berbagai alasan. Namun, sebagai pelopor bela diri, Gatot mengaitkan dengan merosotnya seni bela diri di Indonesia sejak akhir 1980-an.




Kenapa Gatot Hartoyo begitu getol membuka, membina, dan mengembangkan seni Perisai Diri (PD) di Sidoarjo? Tak lain karena dia sangat mencintai budaya bangsa Indonesia. "Silat itu khasanah budaya yang harus dilestarikan!" katanya.

DI zaman perjuangan, kenang Gatot Hartoyo, peranan pendekar-pendekar silat dalam melawan penjajah maupun antek-antek Belanda sangat terasa. Bermodalkan tangan kosong, kemampuan silat, kaum penjajah bisa dibungkam dengan mudah. Ini membuat Belanda tidak akan berani mendekati kaum pejuang kalau tidak dibekali senjata api.

"Kenapa? Karena silat kita itu memang bersifat mematikan. Ada teknik-teknik untuk mematikan lawan kalau dia benar-benar musuh seperti penjajah. Semua silat Indonesia bersifat mematikan," terang Gatot Hartoyo.

Negara-negara asing, khususnya yang pernah menjajah Indonesia, sadar benar kekuatan teknik silat itu. Akhirnya, dengan berbagai cara mereka berusaha 'memandulkan' silat khas Indonesia. Jurus silat yang mematikan, killing punch, diredam dengan jurus yang canggih. Caranya, kata Gatot, silat dijadikan salah satu cabang olahraga, dipertandingkan di event-event seperti PON (Pekan Olahraga Nasional) hingga event internasional.

"Tokoh-tokoh IPSI sih senang saja. Padahal, saya dan teman-teman sejak tahun 1970-an sudah mengingatkan bahwa ini merupakan taktik untuk melumpuhkan silat, seni bela diri khas Indonesia," tutur Gatot.

Nah, agar bisa dipertandingkan dengan event-event olahraga, unsur mematikan harus dihilangkan sama sekali dari silat. Ibarat ular kobra yang dihilangkan bisanya, atau harimau ompong. Akhirnya, silat memang masuk PON, berbagai kejuaraan, tapi kehilangan keunggulannya sebagai wahana perjuangan dan khasanah budaya. Silat pun jadi banci.

"Sampai sekarang saya tidak setuju silat itu dipertandingkan seperti di PON dan sebagainya. Sifatnya berbeda dengan tinju atau gulat yang merupakan olahraga murni. Hanya dua itu yang bisa dipertandingkan," kata Gatot Hartoyo, yang juga mantan ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sidoarjo.

Ketika 'bisa' atau roh silat sudah dicerabut secara sistematis, papar Gatot Hartoyo, masuklah seni bela diri asing ke Indonesia. Mulai dari judo, karate, tae kwon do, dan belakangan ini wushu. Pertandingan-pertandingan silat yang biasanya digelar intern antarperguruan, kompetisi rutin, kini bisa dilihat masyarakat luas di TVRI.

Di sinilah masyarakat, khususnya anak-anak muda, kecewa melihat gerakan silat yang begitu-begitu saja. Keindahan gerakan silat tinggal sedikit. Sejak itulah anak-anak muda, termasuk di Sidoarjo, ramai-ramai menyebar ke berbagai seni bela diri baru (asing) seperti karate, judo, dan seterusnya. Silat bukan lagi bela diri favorit, bahkan terpinggirkan.

"Akhirnya, peminat Perisai Diri dan perguruan silat lain merosot di Sidoarjo. Mula-mula sedikit, kemudian makin besar, sehingga anggota PD tinggal sedikit," tutur Gatot Hartoyo.

Kemunduran bela diri silat itu sangat terasa sejak 1980-an. Kalau dulu di setiap dusun [pedukuhan] ada kelompok PD, kini hanya tinggal sejarah. Gatot sendiri sudah pensiun sebagai PNS di PN Sidoarjo, instansi yang berjasa besar dalam mengembangkan PD di Kabupaten Sidoarjo.

Zaman memang berubah. Anak-anak muda sudah banyak dicekoki hiburan dari televisi (channel begitu banyak, dulu hanya TVRI), play station, aneka games, telepon seluler, internet, Facebook, serta serbuan budaya asing. Silat serta khasanah budaya asli Jawa (Indonesia) malah dianggap sebagai barang asing yang tidak perlu dilestarikan.

"Kalau begini terus, kita akan kehilangan jati diri," ujarnya, gundah.

Gatot Hartoyo memang tak tahan lagi hidup di kota Sidoarjo. Sejak beberapa tahun terakhir ia menyingkir ke lereng Gunung Penanggungan dan membuka sebuah padepokan di sana. Sang pendekar kembali ke gunung!

Sumber: RADAR SURABAYA 18 dan 19 Juni 2005.

2 comments:

  1. salam buat pak gatot. kapan2 kita mampir ke biting....

    ReplyDelete
  2. I love you, Papa.. So proud of you..

    ReplyDelete