08 October 2010

Doa sebelum Makan di Ruang Publik




Kemarin, saya diundang makan siang oleh Philemon Robert Antonis. Dr Robert, yang punya tiga gelar doktor, lulusan Eropa dan Amerika, seorang dosen, motivator, dan penerjemah penting di Surabaya. Pria campuran Eropa-Indonesia ini fasih berbahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Ibrani, dan tentu saja Indonesia.

Kemampuan berbahasa Ibrani, bahasa yang dipakai Alkitab (Bible), membuat Philemon Robert Antonis fasih menjelaskan istilah-istilah Alkitab secara mendalam. Ketika saya sebut kata ANTUSIAS, misalnya, Robert tersenyum lebar. "Anda tahu arti kata ANTUSIAS?" tukasnya.

Dia menjawab sendiri: "Tuhan ada di dalam dirimu!"

Robert tidak lupa menguraikan asal-usul kata dari bahasa Yunani dan Ibrani yang kemudian diserap bahasa Inggris: ENTHUSIASTIC: punya semangat, punya gairah. Robert memang sangat antusias meski sibuk mengisi seminar, mendampingi pejabat penting di Surabaya, hingga mengisi seminar di berbagai organisasi.

Kita, kata Robert, harus selalu ANTUSIAS. "Sebab, Tuhan ada di dalam diri kita."

Siang itu Robert memesan pizza. Saya bersama Tante Lanny [Liau Sin Lan] mengikuti selera Eropanya meski makanan ini kaya lemak dan kolesterol. Sekali-sekali makan enak tak apa-apalah. Toh, yang bayar billing, ya, Mr Robert. Hehehe.....

Siang itu, restoran waralaba di Jalan Raya Darmo, pusat kota Surabaya, cukup ramai. Banyak orang Surabaya senang pizza rupanya. Sebelum makan, Robert berkata, "Ayo, kita berdoa dulu!"

Lalu, Robert memimpin doa kristiani dalam bahasa Inggris. Suaranya keras dan tegas, sehingga tentu saja pengunjung restoran menoleh ke arah kami. Doa sebelum makan di restoran, secara Kristen, keras-keras, mencolok... rasanya baru kali ini saya alami. Kagok juga rasanya. Sudah begitu lama saya tidak pernah berdoa sebelum makan secara terang-terangan.

"Doa dalam hati saja," kata teman-teman saya sesama pendatang asal Flores atau Nusa Tenggara Timur. "Kita kan minoritas! Tidak enak dilihat orang Jawa Timur yang hampir semuanya beragama Islam! Toh, Tuhan tahu kita berdoa diam-diam, mensyukuri makanan yang akan kita santap!" begitu antara lain alasan-alasan 'rasional' untuk tidak berdoa sebelum makan di tempat umum.

Maka, siang itu, saya kagok juga 'dilibatkan' Mr Robert bersama Tante Lanny untuk doa bersama di tempat umum di tengah kelompok mayoritas. Tapi Robert tetap antusias berdoa. Dan di ujung doa, saya dan Tante Lanny menjawab, "Amin!"

Sambil makan dan wawancara santai, saya teringat pengalaman masa kecil di pelosok Flores Timur. Anak-anak dibiasakan, bahkan diwajibkan, berdoa sebelum makan. Tak sekadar buat tanda salib, tapi mengucap syukur atas makanan, mereka yang menyiapkan makanan, mereka yang kelaparan, dan semoga makanan itu "menyehatkan jiwa dan raga".

Begitu pentingnya doa sebelum dan sesudah makan di kampung, Flores, pastor-pastor Belanda pada era 1980-an dan 1990-an [saya ingat Pater Geurtz SVD dan Pater Willem van der Leur SVD] selalu membagikan naskah doa makan untuk semua keluarga, Katolik tentu saja. Naskah ini ditempelkan di ruang makan. Anak-anak digilir memimpin [atau membaca] doa sebelum dan sesudah makan. Setiap tahun, naskah doa makan ini diganti sesuai dengan tema Aksi Puasa Pembangunan alias APP.

Begitu pentingnya doa sebelum dan sesudah makan, maka orang Flores biasanya heran bila di sebuah acara makan bersama tidak ada doa sebelum makan. Harus ada orang yang memimpin doa biarpun pendek saja. Tidak ada istilah "doa sendiri-sendiri" atau "doa di dalam hati" seperti yang kebiasaan di kalangan umat Katolik di Pulau Jawa ketika berada di tempat umum. Doa itu, bagi orang Flores, harus eksplisit.

Persis seperti yang dilakukan Dr Philemon Robert Antonis di restoran pizza.

Lingkungan, pola pergaulan, kebiasaan, hingga perasaan... ternyata bisa mengubah tradisi doa sebelum makan orang Flores. Biasanya, pada awal-awal merantau di luar Flores, misalnya Jawa atau Sumatera atau Malaysia, orang-orang Flores itu tetap rajin doa sebelum makan. Bikin tanda salib, doanya kadang-kadang cukup lama.

Tapi, makin lama setelah sadar bahwa dirinya minoritas di negeri mayoritas muslim, doa sebelum makan pun menjadi makin IMPLISIT. Didoakan diam-diam di dalam hati. Lama-kelamaan tradisi doa sebelum makan pun meredup, bahkan tidak dilakukan lagi. Semangat doanya baru muncul di lingkungan gereja atau di acara-acara jemaat Katolik macam pendalaman iman, doa lingkungan, doa wilayah, pendalaman kitab suci, pendalaman APP, dan sebagainya.

Keberanian berdoa sebelum makan di tempat umum rata-rata sangat kurang. Karena itu, saya jarang sekali melihat pengunjung restoran di Surabaya melakukan doa bersama sebelum makan seperti yang dibuat Philemon Robert Antonis.

Ah, doa sederhana Mr Robert di meja makan pizza ternyata membuat saya terbang ke masa lalu. Masa kecil di Flores, ketika doa-doa harian terdengar di mana-mana di seluruh kampung. Apalagi di bulan Oktober, bulan rosario, seperti sekarang.

Di Surabaya, daerah Ngagel, yang gerejanya megah dan mahal, umatnya banyak sekali dan umumnya kelas menengah ke atas, acara doa rosario bersama itu bahkan tidak ada. Pintu rumah umat Katolik saya lihat tertutup rapat. Pagarnya tembok tinggi. Ada anjing penjaga, herder, yang bikin keder. Umat sibuk cari uang, capek, stres, setelah kerja keras.

Mungkin orang tidak punya waktu lagi untuk berdoa.

4 comments:

  1. My Brother..

    Bro, benar banget apa kata Pak Robert! kita harus selalu ANTUSIAS kepada TUHAN... Why..? karena TUHAN kita bukan TUHAN yang biasa2, tetapi TUHAN yang LUAR BIASA! "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" ayat ini membuktikan TUHAN kita bukan TUHAN yang hanya bicara saja tentang KASIH, tetapi TUHAN yang memberi BUKTI NYATA tentang KASIH.. Jadi Jangan Takut dan Malu2 lagi untuk berdoa okey?..

    dan juga untuk mendukung pernyataan Pak Robert, kenapa harus selalu ANTUSIAS yang kedua boleh my brother baca di 2 Sam 6 seluruhnya kemudian kembali ke 2 Sam 6:5 (Lihat yang dilakukan Daud kepada TUHAN? "Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan SEKUAT TENAGA, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap") wao.. it's so awsome ya bro.. itulah yang harus kita lakukan sewaktu berdoa, kita pun harus mengucap syukur dan mengekspresikannya.

    ok.. jd.. Berjaga2lah dan tetap sungguh2 kepada TUHAN, Bersukacita kepada TUHAN, Ucaplah Syukur, andalkan TUHAN YESUS dan always berdoa. Jangan pernah malu or ragu2 lagi berdoa ditempat umum bro, karena TUHAN melihat sikap hati kita kepada NYA. oh ya ayat tambahannya MAT 6:33-34, YOH 3:16, ROM 3:24-25, ROM 1:16-17, YOH 8:32, okey bro. JESUS BLESS YOU.

    blog Ministry kita:
    http://www.dcc777.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. doa adalah napas hidup kita

    ReplyDelete
  3. Saya tinggal di luar negri udah lama. Waktu saya pulang Indonesia, saya merasa heran melihat banyak orang berdoa sebelum makan di restaurant. Di Australia, saya hampir ngak pernah melihat orang doa makan melakukannya secara terbuka.Kalo org berdoa sebelum makan ditempat umum hanya dalam hati aja.

    ReplyDelete
  4. keluarga kami kalau di rumah selalu mengawali makan dgn doa bersama... kalo di luar seperti restoran, tergantung sikon... kalo gak berisik, kita bisa doa bersama... tapi kalo berisik, biasanya ayah saya bilang "udah doa sendiri-sendiri aja"... kalo sama keluarga besar, makan di restoran, lalu kita minta doa bersama, saya tinggal menunggu pemimpin doa mengucapkan "Amin" karena suaranya gak kedengeran, jadinya saya berdoa sendiri juga di dalam hati...

    saya gak tau kalo di Surabaya seperti apa, tapi di Jakarta dan sekitarnya, sering kok saya melihat orang Katolik di restoran bikin tanda salib sebelum makan, entah itu sendiri ataupun doa bersama...

    ReplyDelete