25 October 2010

Cendana Tinggal Nama




Pak Suprawoto, staf ahli menteri komunikasi dan informasi, kembali membahas kondisi Nusa Tenggara Timur (NTT) di PANJEBAR SEMANGAT edisi 23 Oktober 2010. Panjebar Semangat itu salah satu dari dua majalah berbahasa Jawa yang terbit rutin di Surabaya. Majalah satunya adalah JOYO BOYO.

Pak Suprawoto membahas keberadaan kayu cendana alias Santalum Album yang kini tinggal nama di bumi NTT. Kolomnya di halaman 22 PANJEBAR SEMANGAT berjudul KAYU CENDANA TIBAKE MUNG KARI ARAN. Artinya, Kayu Cendana Ternyata Hanya Tinggal Nama. Mengenaskan sekali!

Padahal, sejak zaman dulu kawasan NTT, khususnya Pulau Timor, terkenal karena kayu cendana. Pedagang Portugis, kemudian VOC Belanda, datang ke NTT karena cendana. Kayu cendana punya aroma wangi yang khas sehingga bisa dipakai untuk bahan parfum, obat-obatan, dan berbagai kerajinan yang bernilai tinggi.

Pak Suprawoto menulis:

“Emane saiki jenenge cendhana iku kaya-kaya wis ora ana maneh ing NTT. Malah saiki kalah karo Gunung Kidul ing Jogjakarta kang saiki ana Wanagama, alas kang dikelola dening UGM, wis akeh banget kayu cendhanane kang hasil ditandur dening almarhum Prof. Hani’in Suseno, guru besar Fakultas Kehutanan UGM.”

Menurut Pak Suprawoto, yang namanya kayu cendana itu sudah tak ada lagi di NTT. Malah sekarang kalah dengan kayu cendana di Gunung Kidul, Jogjakarta. Di Jogja ini ada hutan cendana yang dikembangkan oleh Prof. Hani’in Suseno.

Opo tumon, Pak!

Saya kira, pernyataan Pak Suprawoto tidaklah berlebihan. Saya sebagai putra asli NTT pun bahkan tidak pernah melihat tanaman yang namanya Santalum Album alias cendana ini. Saat berada di Kupang, saya bertanya kepada penduduk setempat di mana hutan cendana itu berada? Bukankah di Kupang ini ada perguruan tinggi negeri bernama Universitas Nusa Cendana?

Sayang, tak ada orang Kupang yang bisa menunjukkan hutan cendana itu. Jangankan hutan cendana, satu dua batang cendana saja tidak ada. Saya dengar beberapa pohon cendana ‘dilestarikan’ di kantor gubernur atau bupati atau wali kota Kupang.

Lha, cendana yang dulu membuat nama NTT harum di mana? Masih pantaskah bumi NTT, khususnya Timor, disebut nusa cendana? Membaca kolom Pak Suprawoto di majalah PANJEBAR SEMANGAT ini, saya jadi malu dan tertawa sendiri. Juga prihatin. Sebab, ternyata cendana yang nilai ekonominya tak kalah dengan emas atau mutiara itu dibiarkan musnah justru di habitat aslinya: NTT.

Sudah menjadi rahasia umum, rakyat NTT kurang punya budaya melestarikan hutan. Cendana dianggap bisa tumbuh sendiri, tak perlu dibudidayakan. Tebang sana sini, jual ke sana kemari, dan akhirnya habis. Tak ada kesadaran untuk menanam bibit-bibit cendana. Padahal, usia produktif si cendana ini berkisar 40 hingga 50 tahun.

Tak hanya cendana, pohon-pohon lain di NTT, mulai dari Rote, Timor, Sumba, Flores, Lembata, Solor, Adonara, Alor, Pantar... juga ditebangi terus-menerus tanpa ada penanaman baru. Budaya tanam pohon, kecuali pohon kelapa, boleh dikata tidak ada di NTT.

Maka, sejak 1980-an generasi muda NTT telah menuai hasilnya: malapetaka lingkungan yang sangat dahsyat. Di Pulau Lembata, misalnya, penduduk sangat sulit mendapatkan air. Jangankan air permukaan (sungai) atau sendang (sumber), air tanah pun nyaris tidak ada.

Penduduk harus jalan kaki hingga lima sampai 10 kilometer hanya untuk mendapatkan satu ember air minum. Syukurlah, Lembata berada di pesisir pantai, sehingga orang bisa mandi di air laut sepuas-puasnya setiap hari. Tapi mana ada orang yang tahan mandi air laut terus-menerus? Bukankah dia perlu air tawar untuk bilas?

Tak ada gunanya kita, orang NTT, mengutuk bapa-mama, kakek-nenek, para leluhur... yang telah mewariskan bumi NTT yang kerontang tanpa hutan. Saatnya kita melihat jauh ke depan, nasib dua tiga empat generasi ke depan. Saatnya kita mengganti BUDAYA BAKAR [orang NTT zaman dulu suka membakar hutan hanya untuk mendapat satu dua ekor babi hutan] dan BUDAYA TEBANG menjadi BUDAYA TANAM.

“Tanam! Tanam! Tanam!” begitu pesan Iwan Fals dalam konsernya di Gresik, pekan lalu. Tanam apa saja! Tanam cendana! Tanam jati! Tanam kelapa! Dan seterusnya.

Tanaman apa pun dalam jumlah banyak akan menjadi hutan. Bagi saya, yang paling penting di NTT bukan pertama-tama untuk mengembalikan aroma kayu cendana, tapi mengembalikan air tanah. Tanpa air tanah, maka rakyat akan sulit mendapat air minum. Tak akan ada sumur tanpa air tanah.

Kita, orang NTT, saat sedang mengalami kutukan alam yang hebat karena ulah kita sendiri. Jangan sampai kutukan itu kita wariskan pada generasi berikut. Cendana yang kita tanam hari ini baru bisa dinikmati 50 tahun mendatang.

Dan kita mungkin sudah berada di dalam kubur. Tapi anak cucu kita niscaya akan menikmati kerja keras orang tua dan kakek neneknya. Jangan sampai kita dikutuk oleh anak cucu kita sendiri.

No comments:

Post a Comment