11 October 2010

Buah-buahan Thailand



Gadis manis, langsing, tinggi, itu tersenyum menyambut saya. “Silakan dicicipi, Tuan,” katanya dalam bahasa Inggris yang fasih. Ah, saya disapa TUAN alias SIR. Hehehe...

“Saya mau buah segar. Kurang suka manisan. Boleh saya beli durian?” balas saya.

“Maaf, Tuan, di sini kami hanya memamerkan buah-buahan dari Thailand. Bukan jualan buah. Mungkin suatu ketika kami punya kesempatan untuk jualan buah-buahan kami di sini,” katanya tetap tersenyum.

Siapa gerangan yang tak kenal buah-buahan Thailand? Pepaya bangkok. Duren bangkok. Jambu bangkok. Duku bangkok. Manggis bangkok. Asam bangkok. Semua buah yang ada bangkok-bangkoknya bisa dipastikan enak dan lezat.

Bersih. Asyik. Keren. Standar mutunya terjaga. Tak ada buah-buahan kualitas buruk, produksi Thailand, yang kita temui di mal, plaza, bahkan lapak-lapak pinggir jalan.

Bandingkan dengan buah-buahan di lapak Waru, Kedungdoro, atau Pasar Kembang yang kualitasnya tidak rata. Membeli buah-buahan lokal di Surabaya, kecuali pisang atau serikaya, atau semangka, ibarat orang berjudi. Habis uang banyak untuk membeli duren (durian) di lapak Waru, eh, ternyata isinya busuk.

Belum lama ini Kementerian Pertanian Thailand bikin pameran buah-buahan di Plaza Tunjungan Surabaya. Si nona manis tadi model yang ditugasi menjaga stan kecil itu. Aha, ternyata semua buah yang dipajang di TP ini ada di Indonesia. Kita tak asing lagi.

Pisang. Buah naga. Durian. Jambu (batu, klotok). Nangka. Jambu air (merah). Klengkeng. Duku. Leci. Mangga. Manggis. Pepaya. (Pepaya bangkok yang dipamer memanjang, bijinya jarang). Nanas. Jeruk. Rambutan. Salak. Srikaya. Asam. Kelapa muda.

Mengapa Indonesia, negara agraris, dengan lahan yang sangat luas, belum mampu menghasilkan buah-buahan berkualitas tinggi macam Thailand? Mengapa buah-buahan lokal kita, yang 100 persen sama dengan yang dari Bangkok, sudah digusur buah-buahan Thailand?

Sudah lama saya risau dengan fenomena ini. Globalisasi, perdagangan bebas, ternyata sudah menggoyang sendi-sendiri ekonomi kita. Termasuk pertanian.

Thailand sejak dulu dikenal sebagai negara yang politiknya kisruh. Kacau-balau. Kudeta berkali-kali. Unjuk rasa Kaos Merah selama berbulan-bulan. Kabinet jatuh-bangun. Rasanya, politik kita di Indonesia, meski masih banyak kekurangan, masih jauh lebih baik ketimbang Thailand dan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Tapi, hebatnya, sektor pertanian Thailand maju pesat. Tak terpengaruh dengan gonjang-ganjing politik dalam negeri. Dan makin hari makin banyak buah-buahan membanjiri pasaran dunia.

Beda dengan kita, tiap hari kerjanya mengekspor tenaga kerja murah (TKI) ke luar negeri. Ah, seandainya kebun-kebuh buah-buahan, sayur-mayur, perikanan... dikembangkan dengan standar internasional, mungkin TKI-TKI yang di Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, atau Timur Tengah itu cukup bekerja di negara sendiri.

4 comments:

  1. Wah bung, sing jaga stand cek ayune, rek!

    ReplyDelete
  2. hehehe... Sing sedengan ya ono, tapi aq panceng suka sing ayu lan manis kayak arek ini. cuma areke sing gak suka ambek aq... suwun, awakmu moco blogku terus...

    ReplyDelete
  3. hmm ngomong2 ttg perikanan, kayaknya indonesia sebener-e udah maju kok. soal-e mbiyen pernah kenal karo importer frozen fish di australia.
    Dee ngomong rata2 di australia, importer ikan ngambil ikan soko indonesia.

    Lek soal buah2an ketokane indonesia ancen jek kurang maju, jek kalah ama thailand. Perkecualian untuk tempe. Dek kene mulai akeh frozen tempe soko indo. hehe.

    ReplyDelete