18 October 2010

Boen Bio di Kapasan



Bicara tentang Kapasan tak akan lengkap jika tidak menyinggung keberadaan Boen Bio. Tempat ibadat agama Khonghucu di Jalan Kapasan 131 ini menjadi tetenger keberadaan warga Tionghoa di kampung Kapasan.


AWALNYA, kelenteng ini bernama Boen Tjiang Soe, terletak di kampung Kapasan Dalam. Ia didirikan atas inisiatif Go Tik Lie dan Lo Toen Siong. Keduanya pada 1882 meminta Mayor The Boen Ke, pemimpin masyarakat Tionghoa saat itu, untuk meminta sebidang tanah seluas 500 meter persegi guna mendirikan sebuah kelenteng Khonghucu.

Mayor The Boen Ke pun setuju. Ini karena kawasan Kapasan memang belum punya tempat ibadat untuk masyarakat Tionghoa layaknya pecinan lain di Surabaya. Terlalu jauh kalau warga Tionghoa di Kapasan harus bersembahyang di kelenteng-kelenteng yang sudah ada seperti di Jalan Dukuh atau Jalan Slompretan.

Untuk membangun Boen Tjiang Soe ini, panitia mendatangkan para tukang langsung dari Tiongkok. Sebab, arsitekturnya dibuat sepersis mungkin di bangunan sejenis di negeri leluhur para perantau Tionghoa itu. Setelah berjalan satu tahun, pada 1883 kelenteng pun rampung. Biaya: 11.316, 63 gulden.

Pada 1904, Kang Yu Wei, tokoh gerakan nasionalisme di Tiongkok, berkunjung ke Surabaya. Yu Wei sangat mengagumi keindahan arsitektur kelenteng. Namun, dia menyayangkan karena Boen Tjiang Soe berada di dalam kampung. Yu Wei mengusulkan agar bangunan dipindahkan ke pinggir jalan raya agar mudah dilihat orang. Jemaat juga lebih mudah beribadah di situ.

Usulan itu kemudian dibahas bersama Mayor The Toan Ing. Enam rumah di depan kelenteng akhirnya dibongkar untuk relokasi kelenteng. Dibangunlah kelenteng baru bernama Boen Bio. Boen artinya kesusastraan, kebudayaan. Bio atau miao artinya kuil atau kelenteng. Boen Bio: kuil untuk mempelajari sastra dan kebudayaan Tionghoa.

Nah, di atas bekas kelenteng lama di Kapasan Dalam dibangun sekolah bernama Tiong Hoa Hak Hauw atau Tiong Hoa Hak Tong alias Tiong Hoa Hwe Koan (THHK). Biaya keseluruhan pembangunan Boen Bio dan THHK itu sebesar 29.972,51 gulden. Nama-nama para penyumbang ditulis di atas prasasti yang terbuat dari marmer dan masih bisa dilihat sampai hari ini.

“Maksudnya agar kita bisa mengenang para dermawan yang telah berjasa mendirikan Boen Bio,” kata Liem Tiong Yang, salah satu pengurus Boen Bio, kepada peserta Melantjong Petjinan Soerabaia V, Ahad (10/10/2010).

Kelenteng seluas 629 meter persegi ini dibangun menggunakan prinsip-prinsip arsitektur Tiongkok kuno. Hiasan-hiasan yang ada, baik di bagian luar, bagian dalam, hingga altar, menggunakan simbol-simbol yang sangat bermakna. Semuanya berisi harapan dan doa-doa untuk keselamatan dan kesejahteraan jemaatnya. (hurek)

3 comments: