07 October 2010

Bertemu Deddy Dores




Senang banget saya bisa bertemu dengan bercakap-cakap dengan Deddy Dores. Pria berkacamata ini ikut manggung di Stadion Tambaksari Surabaya, Ahad (3/10/2010) malam, untuk memeriahkan perayaan 30 tahun kiprah Log Zhelebour sebagai promotor musik rock.

Deddy Dores malam itu tampil bersama rekannya dari Superkid, band lawas yang dibentuk tahun 1973, Jelly Tobing. Si Dores main gitar, si Tobing gitar juga. Padahal, selama ini Jelly Tobing terkenal sebagai drummer kawakan di Indonesia. Yang main drum anaknya Jelly Tobing yang masih remaja, tapi lumayan beringas pukulannya.

Semua orang Indonesia, khususnya yang berusia 30 tahun ke atas, pasti hafal suara dan gaya Deddy Dores. Lagu-lagunya hit pada era 1980-an dan 1990-an. Dia 'menemukan' banyak cewek untuk dijadikan penyanyi rekaman. Salah satu penyanyi fenomenal adalah Nike Ardilla yang sudah meninggal itu.

Suara Deddy Dores boleh juga. Merdu, bisa melengking ke nada tinggi. Tapi, sayang, malam itu dia tidak menyanyi. Yang jadi vokalis justru Jelly Tobing yang suaranya serak gak karuan. Nada-nadanya tidak jelas di lagu I Saw Her Standing There. Tapi semangat Deddy Dores dan Jelly Tobing di usia yang beranjak senja patut diacungi jempol.

Di belakang panggung, ketika band Jamrud sedang beraksi, saya melihat Deddy Dores duduk santai. Di sebelah kanannya ada nona cantik, rupanya berlogat Jawa Barat. Hmm... Bung Deddy Dores ternyata masih piawai merebut hati wanita cantik meskipun popularitasnya sudah nyaris hilang.

Begitu banyak anak muda di Surabaya yang tak kenal siapa Deddy Dores itu. Orang melintas begitu saja, lalu lalang, di depan Deddy Dores. Mereka lebih akrab dengan penyanyi-penyanyi muda, band-band remaja, yang lagi laku di pasar. Deddy Dores? Penyanyi lama yang seolah dilupakan.

Kayaknya hanya saya seorang yang menyapa, menjabat tangannya, dan mengajaknya ngobrol sejenak. Apa pun kata orang, Deddy Dores pernah menjadi salah satu superstar di Indonesia. Saya ingat betul lagu-lagu romatisnya yang diterbitkan JK Recods dan sering diputar di kota Larantuka, Flores Timur, pertangahan 1980-an.

Lagunya yang paling top saat itu berjudul HANYA KAU DI HATIKU. Petikan liriknya:

"AKU MASIH MILIKMU
DI SINI TERUKIR INDAH NAMAMU
DI DALAM TIDUR PUN
KU SEBUT NAMAMU
KASIH, PERCAYALAH...
PERCAYALAH SAYANG...

TAK MUNGKIN AKU LUPAKAN
KARNA KAULAH YANG TERAKHIR BAGIKU
DI SETIAP RINDUKU
KU PANGGIL NAMAMU
KASIH, ENGKAULAH BELAHAN JIWAKU...

Hehehe.... Saya masih hafal benar lagu ini, juga beberapa lagu lain di album yang sama. Deddy Dores berbalas pantun dengan Ria Angelina, biduanita andalan JK Recods saat itu. Mesra banget, tapi gombaaaal! Buktinya, kesetiaan Deddy Dores terhadap sang kekasih tidak seindah di lirik-lirik lagunya.

Sejak bikin hits pada 1980-an itu, Deddy Dores termasuk salah satu pencipta lagu yang paling dicari produser rekaman kaset di Jakarta. Juga ada nama-nama lain seperti Rinto Harahap, A. Riyanto, Pance Pondaag, dan Obbie Messakh. Hingga tahun 1998 saja, Deddy Dores sudah berhasil menulis 1.150 lagu.

Pada 1990-an lagu-lagu Deddy Dores untuk satu album kaset dihargai Rp 20 juta. Jumlah yang sangat besar mengingat kurs rupiah saat ini masih sekitar Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per dolar Amerika. Hitung sendiri berapa nilai hari ini (2010) ketika rupiah loyo hingga sekitar Rp 10.000.

Yah, dulu Deddy Dores benar-benar mandi uang!

Setelah memperkenalkan diri, saya berbincang santai dengan Deddy Dores. Orangnya rendah hati, ramah, enak diajak bicara. Tak banyak tingkah macam bintang-bintang muda saat ini.

ANDA TADI KELIHATAN GARANG, BENAR-BENAR NGEROCK. PADAHAL, SELAMA INI ANDA DIKENAL DENGAN LAGU-LAGU MANIS ATAU SLOW ROCK ALA NIKE ARDILA?

Yah, saya memang aslinya main musik kayak begini (rock). Tadi saya main sama Jelly Tobing, teman saya di Superkid. Superkid itu band rock, bukan pop. Kami main dari panggung ke panggung. Jadi, malam ini kayak reuni saja dengan teman-teman lama.

TAPI KATANYA SUPERKID SUDAH BUBAR?

Yah, sejak Deddy Stanzah (vokalis) meninggal dunia, Superkid memang praktis bubar. Tinggal saya dan Jelly Tobing saja. Tapi sewaktu-waktu kami main bareng seperti malam ini. Musik memang sudah menjadi dunia kami. Pilihan hidup kami sampai nggak kuat lagi.

BUNG DEDDY DORES, ANDA TAMPAKNYA TENGGELAM CUKUP LAMA DI BLANTIKA MUSIK INDONESIA?

Tenggelam sama sekali sih tidak. Cuma saya vakum selama lima tahun. Tidak muncul di televisi dan media massa. Jadi, masyarakat mungkin menganggap saya sudah tidak ada. Sekarang mulai aktif lagi. Syukurlah, Log Zhelebour bikin acara dan mengundang Superkid. Paling tidak bisa menjawab kerinduan warga Surabaya terhadap saya dan Superkid.

APA MUNGKIN SUPERKID DIHIDUPKAN LAGI? BIKIN REKAMAN?

Sulit. Deddy Stanzah sudah meninggal, tinggal kami berdua. Deddy Stanzah itu ikonnya Superkid.

ANDA SEORANG ROCKER, TAPI LAGU-LAGU HIT DAN PENYANYI YANG ADA ORBITKAN HAMPIR SEMUANYA POP MANIS.

Itu semua untuk konsumsi rekaman saja. Jualan kaset dan ternyata disukai masyarakat. Bikin musik untuk rekaman dengan main di panggung itu beda. Deddy Dores yang asli, ya, di atas panggung bersama Superkid atau grup musik lain. [Deddy Dores juga pernah menjadi personel God Bless.]

ADA RENCANA UNTUK MENGORBITKAN PENYANYI MUDA SEPERTI NIKE ARDILLA DULU?

Ada. Bahkan, sekarang saya sudah menemukan beberapa penyanyi potensial untuk diorbitkan. Tinggal menunggu timing yang tepat. Kondisi permusikan kita sekarang sudah sangat berbeda dengan dulu. Jadi, kita harus pandai-pandai membaca situasi. Buat apa diorbitkan, buat rekaman, tapi nggak laku? Bisnis musik itu memang perlu kejelian tersendiri.

OKE, BUNG DEDDY DORES, TERIMA KASIH SUDAH MENJAWAB BEBERAPA PERTANYAAN SAYA. GOOD LUCK DAN SAMPAI JUMPA LAGI.

Sama-sama. [Deddy Dores kemudian kembali berbincang akrab sama nona manis berkulit terang nan mulus. Kemudian, bersama beberapa artis yang sudah manggung kembali ke hotel untuk istirahat.]

1 comment:

  1. first time tengok deddy dores. Penyanyi kegemaran Mama.

    ReplyDelete