03 October 2010

Bahasa Tionghoa vs Bahasa Jawa




Perkembangan bahasa Tionghoa (Mandarin) di era reformasi ini jauh lebih baik daripada bahasa Jawa. Meski sempat ada kebijakan Java Day di sekolah-sekolah, generasi muda kurang berminat mempelajari bahasa Jawa.

Demikian antara lain petikan diskusi bertajuk Media Berbahasa Daerah menghadapi Era Global di Hotel JW Marriott Surabaya belum lama ini. Diskusi menghadirkan sejumlah tokoh penggiat bahasa Jawa seperti Moechtar (pemimpin redaksi Panjebar Semangat), Suparto Brata (sastrawan Jawa), Darni Ragil Suparlan (dosen Unesa), serta Amir Mahmud (kepala Balai Bahasa Surabaya).

Di mata Suparto Brata, bahasa Jawa, khususnya yang krama inggil, kurang ditekuni para pelajar dan mahasiswa karena dianggap kurang menjanjikan untuk masa depan. Biasanya, perusahaan-perusahaan merekrut karyawan baru dengan syarat 'bisa berbahasa Inggris dan Mandarin'.

"Tidak ada perusahaan besar yang masang iklan butuh karyawan yang mahir bahasa Jawa. Yang dibutuhkan perusahaan besar pasti bahasa Inggris dan bahasa Tionghoa," ungkap Suparto.

Bukan itu saja. Bahasa Jawa pun tidak muncul di televisi-televisi nasional. Kalaupun muncul di televisi, menurut Suparto, umumnya bahasa Jawa itu dijadikan bahan lelucon atau lawakan. Sebaliknya, beberapa televisi nasional menyiarkan program dalam bahasa Tionghoa, baik itu berupa berita, sinetron, hingga acara-acara hiburan.

"Sekarang ini kita lebih mudah menemukan aksara Tionghoa di surat kabar ketimbang aksara Jawa. Mana ada aksara Jawa di surat kabar?" tukas pria yang masih aktif menulis di usia senja itu.

Kenyataan yang menyedihkan ini, menurut Suparto serta para pembicara lain, harus segera diantisipasi oleh semua pihak yang berhubungan dengan pendidikan bahasa dan sastra Jawa di tanah air, khususnya Jawa Timur. Harus dicari metode pembelajaran bahasa Jawa sedemikian rupa agar menarik minat generasi muda.

Repotnya, menurut Suparto, ada imej bahwa bahasa-bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa, dianggap tidak ilmiah, bahasanya orang kampung. "Sekarang bahkan anak-anak Jawa bahkan memanggil 'mama' dan 'papa' untuk menyebut ibu dan bapaknya. Sebutan 'mama' dan 'papa' dianggap lebih modern," tambah Dami Ragil, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Unesa.

5 comments:

  1. Can't agree more to the article....
    It's so true that javanese has been slowly diminishing in its use, even in Java....

    It's sad to see so many of the younger generation has stopped using / developing their local language.

    I've lived overseas for the past 14 years and still speak javanese on a regular basis.

    I started noticing in the past couple of years that people from java who come to Australia, especially the younger one (uni aged or under) seems to be reluctant in speaking Javanese, and tries to speak "gua or elo" instead.

    It's like to the younger generation, ngomong jowo = ngaku teko soko kampung.

    in a way it's up to the government to start campaigning to promote the younger generation to learn their local culture. For example, making studying javanese as a part of the core curriculum of all schools in east java / central java where it is still widely used.

    start providing incentives for publishers to publish more javanese language books?
    I know i've seen bibles in javanese before, although not in aksara jawa, but it is definitely javanese.

    ReplyDelete
  2. Matur suwun, sampeyan wis gelem nulis komentar nang blogku. Pancen basa Jawa saiki kurang diuri-uri ambek wong Jawa dhewek. Aku sing teko Flores, ya, prihatin.

    Alkitab Jawa iku jengenge KITAB SUCI, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (Protestan) lan Lembaga Biblika Indonesia (Katolik) kanggo jemaat nasrani nang Jawa. Sadurungu kemerdekaan, 1945, kitab suci Jawa wis terbit.

    Salam.

    ReplyDelete
  3. oo icic, thanks for that :). maap ora tau lek kitab suci seng boso jowo kuwi wes ket jaman mbiyen terbite, mbiyen pas jek SD ora tau niteni, marine lulus sd langsung ngaleh soko indo, atek mari ngono wes suwi ra mbalek sisan. pas terakhir mbalek indo bingung, kok onok Kitab suci boso jowo hehe.

    ReplyDelete
  4. Dalam masa jaringan ini, mungkin perlu memantapkan satu bahasa Jawa baku. Biarkan yang tiga tingkat, ngoko/kro/kromo inggil buat dipelajari di lembaga pendalaman. Demikian saya berharap bahasa Jawa mengikuti perkembangan ringan sama dijinjing.

    ReplyDelete
  5. Maaf, aku tidak bisa berkomentar banyak.
    hanya ingin berkenalan saja dengan para blogger.
    visit my blog
    mahensa.blogspot.com

    ReplyDelete