29 October 2010

AYO MAMA Populer di Tiongkok



Notasi angka AYO MAMA. Musical sheet for AYO MAMA, an Indonesia folk song.



Kalau orang Malaysia sangat suka lagu RASA SAYANG, orang Tiongkok sangat suka lagu AYO MAMA dan BENGAWAN SOLO. Setiap kali ada konser atau pergelaran musik duta budaya Tiongkok di Surabaya, hampir pasti AYO MAMA dan BENGAWAN SOLO diperdengarkan oleh para artis Tiongkok.

Rabu malam, 27 Oktober 2010, rombongan Zong Zheng Musical Dance Group tampil di Grand City, Jalan Kusuma Bangsa Surabaya. Dua lagu ini, AYO MAMA dan BENGAWAN SOLO, dinyanyikan dengan sangat baik. Juga ada satu lagu daerah Batak, SING SING SO.

Sebelumnya, di Hotel V3 Surabaya, Jalan Tambakbayan, rombongan kesenian dari Yunnan, juga di Tiongkok, membawakan dua lagu itu. Semangat banget mereka menyanyi meski tak sebagus yang di Grand City.

“Orang Tiongkok memang sangat familier dengan lagu AYO MAMA dan BENGAWAN SOLO. Mereka kebanyakan hafal dua lagu ini, tentu saja dengan lirik Mandarin,” ujar James Chu, pemusik asal Banyuwangi, yang pernah bekerja di Wuhan, Tiongkok.

Sekarang James bekerja di Hongkong. Masyarakat Hongkong pun sangat suka dua lagu daerah ini. Maka, saya sering heran mengapa dalam 10 tahun belakangan ini lagu-lagu daerah kita jarang muncul di televisi. Televisi-televisi kita yang begitu banyak rupanya lebih suka cari uang dengan mempromosikan album-album pop anyar, nyaris selama 24 jam.

Terus terang, saya terharu sekaligus terkagum-kagum mendengar AYO MAMA dibawakan Zuguo Qingjian Yue, soprano asal Tiongkok di Grand City. Kualitas vokal, teknik produksi suara, penguasaan panggung, ekspresi, penghayatan... luar biasa. Bahkan, jauh lebih baik daripada penyanyi-penyanyi Indonesia.

Saya sudah sering menyaksikan konser musik klasik, orkes simfoni, resital, bintang radio, hingga program musik pop yang diadakan televisi-televisi nasional. Tapi baru kali ini saya puas mendengar AYO MAMA dinyanyikan dengan sangat bagus. Orkes simfoni yang mengiringi Zhou ini mantap, suara soprannya pun sangat terlatih.

Tak heran, sekitar 2.000 pengusaha Jawa Timur, juga pejabat-pejabat teras macam Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberikan aplaus panjang. Xiexie! Xiexie! Xiexie ni!

Malam itu Zhou Xiaolin seakan memberikan pelajaran seni suara plus mengingatkan kita, bangsa Indonesia, bahwa kita punya lagu-lagu daerah yang berkualitas seperti AYO MAMA. Sudah lama kita terlena dengan industri musik pop, melupakan khasanah budaya sendiri.

Kita baru tersentak ketika rakyat Malaysia menyanyikan RASA SAYANG, lagu rakyat Maluku, hampir setiap hari di hajatan-hajatan mereka. “Kalau ada acara di Malaysia, terakhir selalu dinyanyikan RASA SAYANG sambil berbalas pantun,” kata Daniel Rohi, mantan dosen sebuah universitas di Selangor, Malaysia, kepada saya.

Zhou Xiaolin ini bukan soprano sembarangan. Dia lulusan Central Conservatory of Music, Beijing, dan beberapa kali meraih penghargaan bergengsi di Eropa, khususnya Jerman. Zhou juga tampil bersama sebuah orkes simfoni asal Jerman pada 2005 di Tiongkok. Dua tahun lalu, 2008, Zhou menjadi pemeran utama dalam opera Sihiren Li Bai di Tiongkok.

Sebagai ungkapan terima kasih saya kepada Zhou Xiaolin, juga rakyat Tiongkok, yang telah melestarikan AYO MAMA, saya sengaja menyebarluaskan teks lagu rakyat Maluku ini berikut notasi angkanya di blog ini. Semoga AYO MAMA, dan lagu-lagu rakyat Indonesia lainnya, terus bergema di Tiongkok dan negara-negara lain di dunia.

Kalaupun lagu-lagu rakyat Indonesia tergusur oleh musik pop, paling tidak kita bisa pergi ke Tiongkok untuk belajar pada Zhou Xiaolin dan rakyat Tiongkok.

ZHOU XIAOLIN, WOMEN DOU PENGYO!
HUITOU JIAN! XIEXIE NI!

28 October 2010

Grup Zong Zheng Memang Ciamik



Penampilan Zong Zheng Musical Dance Group di Grand City Surabaya, Rabu (27/10/2010) malam, memang ciamik. Sebanyak 79 duta budaya asal Tiongkok ini tampil rapi, kompak, profesional, dengan standar kualitas tingkat dunia.

Sulit dipercaya, mereka yang sehari-hari bekerja sebagai Tentara Pembebasan Rakyat (Renmin Jiefangjun) mampu tampil layaknya artis profesional. Diiringi irama mars ala militer yang bertempo cepat, para tentara ini kompak memainkan gerakan-gerakan yang sangat sulit.

Mereka menggabungkan berbagai elemen seperti senam, tarian tradisional, sirkus, hingga balet. Para pemain bisa dengan mudah menari sambil salto hingga belasan kaki. Atau, melipat tubuhnya seperti pemain sirkus.

“Kita beruntung bisa menyaksikan secara langsung penampilan para seniman kelas dunia dari Tiongkok. Ini merupakan kesempatan yang sangat langka,” ujar Suwaji Widjaya, ketua panitia malam seni budaya, yang dihelat Perkumpulan Masyarakat dan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Permit), Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) ini.

Selain tarian militer seperti Zuguo Qingjian Yue, penampilan para penyanyi asal negara berpenduduk 1,3 miliar ini pun tak mengecewakan. Kualitas vokal, teknik produksi suara, dan penguasaan panggung mereka tak kalah dengan penyanyi-penyanyi opera kelas dunia.

Ketika membawakan lagu daerah Maluku, Ayo Mama, Zhou Xiaolin mendapat aplaus sangat meriah. Bukan hanya karena lagu itu sangat dikenal orang Indonesia, tapi juga teknik produksi suara soprano ini sangat istimewa. Lagu Ayo Mama, kita kenal sebagai nyanyian anak-anak sekolah itu menjadi dahsyat ketika dibawakan Zhou.

Zhou Xiaolin memang bukan soprano sembarangan. Lulusan Central Conservatory of Music, Beijing, ini pernah meraih penghargaan di Jerman. Zhou juga pernah tampil bersama sebuah orkes simfoni asal Jerman pada 2005 di Tiongkok. Dua tahun lalu, Zhou menjadi pemeran utama dalam opera Sihiren Li Bai di Tiongkok.

Vokalis papan atas lain yang memukau sekitar 2.000 warga Surabaya di Grand City adalah Cai Guoqing. Dia membawakan Bengawan Solo, lagu keroncong karya Gesang. Selain vokalnya yang tinggi dan bening, Cai mendapat aplaus meriah karena dia mampu membawakan Bengawan Solo dalam bahasa Indonesia. Sedangkan Ayo Mama dan Sing Sing So dinyanyikan dengan syair Mandarin.

Cai Guoqing, selain tercatat sebagai pengurus Asosiasi Musik Pop Tiongkok, juga meraih banyak penghargaan bergengsi di negaranya. Sayang, para penyanyi Tiongkok ini hanya diiringi musik minus one, bukan orkes simfoni. Ini membuat penampilan mereka tak ubahnya lomba karaoke lagu-lagu Mandarin. (*)

27 October 2010

Fu Long Swie Pencipta Ling Tien Kung



Suasana di Lapangan Futsal Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel, kemarin (25/10/2010), lebih meriah dari biasanya. Puluhan orang dengan serius melakukan gerakan empet-empet anus ala Ling Tien Kung seperti biasanya. Namun, usai senam, para peserta bertepuk tangan dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Yang berbahagia hari itu ternyata Fu Long Swie. Penemu senam terapi Ling Tien Kung ini genap berusia 75 tahun. “Terima kasih! Terima kasih! Semoga bapak-bapak dan ibu-ibu juga tetap sehat dan berumur panjang,” ujar Fu Long Swie sambil terseyum lebar.

Melihat penampilan fisiknya, kebanyakan orang tak percaya kalau mantan atlet lari 100 meter dan lompat jauh pada era 1960-an ini sudah berusia 75 tahun. Gerakan-gerakannya masih lincah. Suaranya tegas dan keras. Fu tak segan-segan memarahi peserta yang kurang serius melakukan gerakan-gerakan Ling Tien Kung.

“Percuma Anda datang ke sini kalau tidak serius. Empet-empet anus yang benar. Badan saudara supaya jangan dimanja. Kalau kalian mau sehat, kalian harus melakukan gerakan-gerakan dengan benar,” tegas Fu Long Swie yang akrab disapa Laoshi alias guru ini.

Di usia kepala tujuh, gigi-gigi Fu Laoshi juga masih utuh. Bahkan, secara bercanda, dia kerap menantang peserta yang masih berusia 30-an tahun untuk lomba lari. Tentu saja, tak ada yang berani melawan mantan atlet juara nasional yang tetap awat muda itu.

“Sekarang ini saya merasa jauh lebih muda dari usia saya yang sudah 75 tahun,” kata Fu Long Swie kepada saya.

Apa rahasianya? “Rahasinya karena saya bisa meremajakan diri. Saya menemukan rahasia awet muda itu dengan Ling Tien Kung. Itu merupakan penemuan yang saya sendiri pun hampir tidak percaya,” katanya serius.

Kemarin, usai memimpin latihan Ling Tien Kung di Jalan Ngagel, Fu Long Swie langsung berangkat ke Kediri dan Tulungagung. Di sana ratusan praktisi Ling Tien Kung sudah menunggu kedatangannya. Fu akan memimpin langsung latihan bersama di dua kota itu, menyampaikan filosofi, visi-misi Ling Tien Kung, sambil mengoreksi gerakan-gerakan yang dianggap kurang pas.

“Saya juga akan mewisuda 40 instruktur Ling Tien Kung di Tulungagung. Jadi, saya ini nggak pernah nganggur di rumah. Ada saja undangan baik dari dalam kota, luar kota, bahkan luar Jawa,” ujar sang guru yang hobi membaca buku-buku klasik Tiongkok itu.

Fu mengaku bersyukur karena Ling Tien Kung ini berkembang pesat meski baru diperkenalkan pada 2005. Ribuan orang mempraktikkannya setiap hari baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri di rumah. Di Surabaya saja ada sedikitnya 50 titik yang menyelenggarakan Ling Tien Kung.

“Saya selalu bilang kalau Ling Tien Kung ini bukan senam, tapi terapi penyembuhan,” tegas Fu.

Fu Long Swie sangat bersyukur karena Ling Tien Kung ini berkembang pesat meski baru diperkenalkan pada 2005. Gerakan-gerakan terapi kesehatan ini pun diminati di luar Pulau Jawa.

KINI, setelah lima tahun, ribuan orang mempraktikkan Lien Tien Kung setiap hari baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri di rumah. Di Surabaya saja ada sedikitnya 50 titik yang menyelenggarakan Ling Tien Kung.

“Saya selalu bilang kalau Ling Tien Kung ini bukan senam, tapi terapi penyembuhan,” tegas Fu Long Swie. “Kalau Anda rajin mengikuti gerakan-gerakan Ling Tien Kung, maka Anda akan mendapatkan begitu banyak manfaat bagi kesehatan Anda. Saya sendiri membuktikannya,” tambah pria yang suka humor, tapi 'sangat keras' di depan peserta Ling Tien Kung ini.

Bagaimana bekas sprinter nasional pada era 1950-an dan 1960-an ini bisa menciptakan gerakan-gerakan terapi fisik yang kemudian dikenal sebagai Ling Tien Kung? Menurut Fu, proses cukup panjang dan melelahkan. Dus, bukan meniru gerakan-gerakan yang sudah ada atau mendapat semacam wangsit dari atas.

“Saya mencari, mencari, dan mencari selama kira-kira 20 tahun. Barulah saya dapatkan suatu solusi yang kompleks dan abstrak, tapi sangat logis,” tegasnya.

Selama 20 tahun itu, kakek 10 cucu dan ayah lima anak ini menghabiskan masa senjanya dengan membaca buku-buku tentang metode pengobatan kuno ala Tiongkok, anatomi tubuh manusia, hingga buku-buku teks kedokteran. Kebetulan Fu Laoshi ini memang sangat paham bahasa Tionghoa.

Nah, salah satu buku yang menginspirasi Fu adalah buku Tao De Ching, sebuah kitab klasik Tiongkok. Dalam salah satu bab buku tersebut dijelaskan bahwa tubuh manusia sebenarnya punya energi yang tidak bisa habis dan terus memperbarui diri. Sifat energi itu tidak berbentuk. “Yah, seperti halnya nyawa yang terus menggerakkan jantung,” jelas Fu.

Dia mengibaratkan sumber energi itu dengan aki (accu) yang menggerakkan mobil. Sebagus apa pun mobilnya, jika akinya lemah, apalagi mati, maka mobil tersebut tidak bisa digunakan. ‘Aki’ itulah yang menyuplai energi ke seluruh tubuh manusia sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

“Nah, aki di dalam tubuh kita terus mengendur karena usia yang makin tua. Nah, supaya setrumnya tetap kencang, ya, harus di-charge. Caranya, ya, dengan metode Ling Tien Kung,” papar suami Elia Bestari itu.


Masih merujuk pada aki (accu), Fu Long Swie engatakan, energi yang tersimpan di dalam tubuh manusia didapat dari kutub positif dan negatif. Jika ‘aki alami’ itu dicas, maka tubuh secara otomatis meremajakan dirinya.

SALAH satu temuan penting Fu Long Swie, yang selama diceramahkan di depan peserta pelatihan Ling Tien Kung di mana pun, adalah letak kutub negatif (katoda) dan positif (anoda) dalam tubuh manusia. Menurut Fu, kutub positif manusia terdapat pada anus. Sedangkan kutub negatif terletak di pusar.

Otot-otot di sekitar anus memegang peran penting sebagai pengikat energi bidang kontak kutub tersebut. “Semakin tua, otot-otot itu bakal mengendur. Apalagi, jika kita tidak pernah melatih organ tersebut,” jelas Fu yang berusia 75 tahun ini.

Akibat lemahnya otot itu, energi yang dibutuhkan manusia untuk menjalankan semua fungsi organ menjadi drop. Makin tua usia manusia, energi kehidupan tersebut terus melemah. Dari situlah sistem kekebalan tubuh mulai terganggu. Terjadilah efek domino berupa masuknya berbagai penyakit. Sebab, kerja organ tubuh memang tidak sesempurna ketika orang masih berusia muda.

“Orang-orang yang tua itu dapat bonus macam-macam penyakit, mulai reumatik, pegal linu, darah tinggi, jantung, kolesterol, ginjal, dan sebagainya. Tubuh jadi rentan penyakit. Wong dia punya aki sudah nggak ada setrum. Gak ada ampere,” tegas mantan juara nasional lari 100 meter pada era 1960-an itu.

Berdasar analogi setrum aki itu, Fu Laoshi kemudian menciptakan teknik melatih otot-otot anus yang diberi nama Ling Tien Kung. Ling berarti nol, tien titik, dan kung ilmu. Jadi, Ling Tien Kung ini sering juga disebut ‘ilmu titik nol’. Salah satu buku klasik Tiongkok, Tao De Ching, menyenutkan bahwa tubuh manusia punya sumber energi yang tak pernah padam. Kualitas darah, sirkulasi darah, pun bisa diperbaiki dengan metode latihan yang baik dan benar.

“Energi itulah yang kita oleh, kita cas, agar metabolisme di dalam tubuh kita bisa tetap bekerja dengan baik,” ujar Fu yang masih terlihat gagah di usia mendekati kepala delapan ini.

Fu Long Swie menggunakan tubuhnya sendiri sebagai ‘kelinci percobaan’. Pada 1985 Fu menderita sakit parah. Kondisi fisiknya drop, loyo, sehingga dia tak bisa bepergian ke mana-mana.

Nah, berbekal referensi yang sudah dibaca sebelumnya, Fu mengembangkan teknik latihan sederhana yang dia sebut empet-empet anus. Seperti orang berusaha menahan BAB (buang air besar) dalam waktu lama. Teknik ini dilakukan dalam beberapa macam gerakan.
“Metodenya saya kembangkan dan akhirnya sempurna tahun 2003. Tapi saya mulai memperkenalkan kepada orang banyak tahun 2005,” papar Fu seraya tersenyum.

25 October 2010

Bahasa Indonesia & Bahasa Malaysia



By KARIM RASLAN
Malaysian Columnist for THE STAR


Indonesia's rising strength will change the way many Malaysians view Bahasa Malaysia. At the moment, middle-class Malaysians tend to view Malay as a language with limited commercial value compared with English or Chinese.


However, as Indonesia transforms itself into an economic powerhouse, its language will become increasingly important globally. Malay will also benefit because it is the shared root for both Bahasa Indonesia and Bahasa Malaysia.

At the same time, the republic’s exploding consumer market of 240 million is tantalising. Global players are descending on Jakarta. Recent investors range from Korea’s Lotte to Britain’s HSBC. Also, private equity group CVC has just purchased 90% of the national department store chain Matahari.

These investors know that in order to succeed in the domestic market, their managers must be able to understand the local language. Ironically, then, Indonesia’s rapidly expanding economy will force middle-class Malaysians to wake up to the importance of Bahasa Indonesia, a language that literally binds the archipelago together.

I am confident that it will boost the commercial importance of the Malay language and that Malaysian parents will start taking it more seriously. The economic potential, however, is only one aspect of this argument. A much more important lesson is socio-political.

Even though the two languages share the same root, they’ve developed in very different ways. This reflects the contrasting historical narratives at work. Malaysians can learn a great deal from examining these differences. Indeed, many of our underlying political problems are revealed in our attitude to the Malay language. This in turn will help us understand why we are currently struggling as a nation.

Our politics has stunted the development of Malay language, and this is hurting us. For a start, Bahasa Malaysia is less vibrant, less intellectual and less creative than Bahasa Indonesia.

One only has to visit a Gramedia bookstore with all its translated books to realise the extent to which we have been left behind by our neighbours. Bookstores in second-tier cities such as Jember and Pekanbaru have a better selection of books published in the vernacular than any bookstore in Kuala Lumpur.

Why? It’s because Bahasa Indonesia is very much the product of the republic’s revolutionary ethos. Sukarno’s flamboyant rhetoric is never far from the surface.

Furthermore, Indonesia’s struggle for Independence is etched in their national psyche. This imbues the language with a capacity for change and dynamism.

In Malaysia, the dominant ethos is aristocratic.

For better or for worse, our first Prime Minister, Tunku Abdul Rahman, embedded the elitism of the Istana firmly into our national consciousness.

As a result, we are more feudal (consider our obsession with titles) while the Indonesians are more egalitarian. Witness our different words for government: pemerintah (Indonesia) and kerajaan (Malaysia).

This dichotomy is clear in the way the two languages have developed, and indeed diverged.

A landmark of Indonesia’s national awakening was the historic Sumpah Pemuda of Oct 28, 1928. It also marked the first time Malay was formally promoted as Bahasa Indonesia – the language of unity.

Interestingly, the nationalist thinkers of the time chose not to use Javanese – the language of the largest community in the then-Dutch East Indies – despite its rich, centuries-old literary tradition. Instead, they selected a language – Malay – that was used by many as a lingua franca but only spoken as a first language by a tiny minority of about 3% of the population.

In doing so, leaders such as Mohamad Yamin wanted a national language that would be an open system: accessible to all and value-free.

This would help bind together a disparate set of peoples: Christian, Muslim, Buddhist and Hindu. As such, the language had to be easy to learn, adaptable and open to external influences.

In addition, they wanted to avoid the caste-like strictures of Javanese in which a speaker’s social position was always of paramount importance.

These egalitarian principles were later expanded on by polymaths such as Sutan Takdir Alisjahbana, the essayist and academic, and Goenawan Mohamad, the founding editor of the news weekly Tempo.

Sadly, our language has developed in the opposite direction.

We have endeavoured to make Bahasa Malaysia more Malay and less Malaysian. Our language has evolved into a closed system – shutting out non-Malays and non-Muslims alike.

Is it any wonder then that Bahasa Malaysia has failed to become a unifying force like Bahasa Indonesia?

If we want to move forward, we mustn’t only leverage off Indonesia’s economic strengths. Their politics and society should be an example to us as well.

Strato FM Radio Mandarin Surabaya




Sejak beberapa tahun terakhir, udara Kota Surabaya dihiasi alunan lagu-lagu berbahasa Mandarin. Hal yang tak terbayangkan selama era Orde Baru.

Oleh EVI YULIANA/USWATUN
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya



KITA layak berterima kasih kepada para penyiar Radio Strato 101,9 FM yang setiap hari, tak jemu-jemu, melayani permintaan pendengar. Mereka juga secara tak langsung memperkenalkan bahasa Mandarin kepada masyarakat Surabaya umumnya.

Yang menarik, para penyiar Strato FM ini rata-rata berusia muda, di bawah 30 tahun. Artinya, semua lahir pada era Orde Baru (1966-1998), ketika bahasa Mandarin dan semua yang berbau Tionghoa dibredel oleh pemerintah. Tapi, syukurlah, mereka mampu belajar secara cepat sehingga mampu menguasai bahasa asal negara panda itu.

“Di Strato FM, kami memang harus bisa berbahasa Mandarin dan menguasai lagu-lagu Mandarin,” ujar Xiao Qin, salah satu penyiar Strato FM, yang ditemui Radar Surabaya di studio Strato FM pekan lalu.

Xiao Qin -- ini sebenarnya hanya nama udara -- memutuskan menjadi penyiar karena hobinya memang mendengarkan lagu-lagu Mandarin. Dia juga senang berbicara, membaca, dan menikmati semua yang bernuansa Mandarin.

Saking senangnya, sudah tujuh tahun ini Xiao Qin betah menjadi penyiar Strato FM. Suara dan celetukannya yang khas pun membuat betah pendengar setianya. “Di sini saya senang, hobi juga sih. Selain itu, kerjanya part time. Nggak perlu kerja sepanjang hari,” tuturnya.

Suara Xiao Qin biasanya bisa dinikmati mulai pukul 15.00 hingga 18.00. “Kebetulan saya siaran sekarang karena teman yang siaran pukul 11.00-15.00 nggak bisa masuk. Ya, akhirnya saya gantikan,” ceritanya.

Radio di bawah manajemen Grup Suzanna ini punya lagu khusus sebagai pembuka dan penutup siaran yang diciptakan oleh komposer dari kru Strato FM sendiri, yaitu Jie Li. Namun, lagu dengan nuansa Tiongkok yang kental itu dinyanyikan oleh penyanyi Mandarin asal Malaysia.

Rupanya, pihak Strato FM kesulitan menemukan penyanyi-penyanyi Mandarin di Surabaya yang punya karakter vokal yang khas. Musik pop Mandarin di Malaysia berkembang pesat karena komunitas Tionghoa Malaysia memang bebas mengembangkan seni budayanya sendiri. Maka, regenerasi penyanyi Mandarin di Malaysia pun berlangsung dengan lancar.





Sejak mengudara satu dekade silam, pengelola Radio Strato FM ternyata sama sekali tidak kekurangan stok lagu-lagu pop Mandarin. Ada stok lagu-lagu sangat lawas, yang sudah masuk kategori Mandarin klasik, era 1980-an dan 1990-an, hingga Mandarin kontemporer.
Lagu-lagu tersebut dipasok langsung oleh manajemen artis yang bersangkutan. Misalnya, Chen Rui, artis dari Tiongkok, langsung mengirimkan lagu-lagunya kepada manajemen Strato untuk diperdengarkan kepada pendengar di Surabaya.



Rata-rata semua radio yang punya program musik memang bekerja sama dengan manajemen artis atau label. Karena itu, pihak Strato tidak pernah kekurangan stok lagu. “Mau minta lagu Mandarin jenis apa saja kami punya,” papar Xiao Qin, salah satu penyiar Strato FM, kepada Radar Surabaya, pekan lalu.

Digitalisasi musik, termasuk sistem penyiaran radio, sejak akhir dekade 1990-an semakin memudahkan manajemen Strato FM untuk menyimpan musik. Beda dengan era piringan hitam atau kaset, koleksi ribuan lagu-lagu pop Mandarin cukup disimpan di file-file komputer.

Ketika ada request dari pendengar, si penyiar macam Xiao Qin tinggal mengklik judul lagu atau nama penyanyi di komputer. Dan dalam hitungan detik, lagu-lagu yang diminta pendengar sudah bisa diperdengarkan. Si penyiar pun bisa dengan mudah memperkaya informasi tentang sang artis dan latar belakangnya dalam waktu singkat.

Yang menarik, di Strato FM ada seorang penyiar yang masih berusia empat tahun. Namanya Nu Nu. Kebetulan si bocah ini siaran bersama mamanya yang juga penyiar di Strato pada hari Jumat. Selain pintar bahasa Mandarin, karena ibunya memang asli Tiongkok, Nu Nu juga piawai memberikan tips-tips yang diminta pendengar.

“Nah kebetulan Nu Nu ada urusan di sekolahnya, maka saya yang menggantikan dia. Anaknya masih kecil, tetapi pintar dalam berinteraksi dengan orang lain. Dia suka sekali berbicara,” tutur Xiao Qin, penyiar yang juga guru piano klasik di Surabaya.

Karena suka ngomong, suka membaca, cepat belajar, si Nu Nu ini sering diajak mamanya ke studio Strato FM. Ketika melihat mamanya bercuap-cuap di corong radio, Nu Nu tak tahan juga berbicara.

“Lantas, mamanya ajak siaran bareng sampai sekarang. Dan dia sangat menikmati,” ujar Xiao Qin.





DALAM perkembangannya, request atau permintaan terhadap lagu-lagu Mandarin dari pendengar sangat tinggi. Apalagi, di awal reformasi itu, masyarakat Tionghoa tengah dilanda eforia setelah pemerintah mencabut larangan terhadap ekspresi budaya Tionghoa di muka umum.

Tahun baru Imlek, yang selama Orde Baru (1966-1998) dirayakan secara sembunyi-sembunyi, kini boleh dirayakan secara publik. Bahkan, pemerintah menetapkan tahun baru Imlek (Sincia) sebagai hari libur nasional. Ini tentu saja merupakan kabar gembira buat para penggemar lagu-lagu pop Mandarin.

Maka, manajemen Grup Suzanna menjadikan Strato FM sebagai Mandarin radio. Yakni, radio swasta yang secara khusus melayani segmen pendengar yang suka lagu-lagu pop Mandarin. Kemudian direkrutlah sejumlah remaja dan mahasiswa yang fasih berbahasa Mandarin. Mereka umumnya lulusan perguruan tinggi di Tiongkok atau Taiwan.

“Nah, sampai sekarang Strato FM memang identik dengan lagu-lagu Mandarin. Dan itu masih terus kami pertahankan,” kata Xiao Qin, salah satu penyiar Strato FM, kepada Radar Surabaya pekan lalu.
“Kami memang fokus pada lagu-lagu Mandarin. Selain itu, ada tips-tips jika ada pendengar yang minta,” tambah Xiao Qin.

Kiprah Starto FM ini sempat menarik perhatian sejumlah peneliti di Jawa Timur. Di antaranya, Supriyanto dari Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio dan Satelit Kelas II Surabaya, serta Totok Wahyu Abadi dari FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Keduanya melakukan penelitian bertajuk Resepsi Program Siaran Mandarin di Radio FM Surabaya.

Selain Strato FM, kedua peneliti ini mensurvei radio-radio lain di Surabaya yang punya program Mandarin. Yakni, EBS FM, El Victor FM, Global FM, Merdeka FM, MTB FM, Pas FM, Star FM, dan Suzanna FM. Dari sembilan radio ini, Strato FM dinilai paling banyak menyediakan jam siarnya untuk program Mandarin.

“Pihak manajemen (Strato) memilih menampilkan program siaran Mandarin karena populasi etnis Tionghoa di Surabaya cukup besar,” papar Totok Wahyu Abadi.

Tentu saja, populasi Tionghoa ini ada kaitan erat dengan potensi iklan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat Tionghoa, penggemar program musik Mandarin, punya potensi ekonomi yang sangat besar. Dan itu akan sangat mendukung kelangsungan stasiun radio yang bersangkutan.



DALAM riset terhadap sembilan radio FM di Surabaya, yang punya program Mandarin, Supriyanto, peneliti dari Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Surabaya, dan Totok Wahyu Abadi, dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menemukan fakta menarik. Ternyata, durasi atau jam siar Mandarin di Strato FM meningkat signifikan.

Awalnya, durasi siaran Mandarin hanya sekitar lebih tiga jam sehari. Format siaran kata berupa informasi dan interaktif. Di luar tiga jam khusus ini, Strato FM mengudarakan musik pop Indonesia atau Barat yang sedang digandrungi anak-anak muda.
Namun, pada November 2007, menurut Totok Wahyu, siaran Mandarin di Strato FM ditambah dari hanya tiga jam sehari menjadi 13 jam sehari. Bertambah 10 jam. Kebijakan yang terbilang drastis ini tak mungkin dilakukan radio-radio lain yang juga sudah membuka ruang untuk musik pop Mandarin.

Mengapa Strato FM, radio swasta di bawah manajemen Suzanna Group, melakukan kebijakan sedrastis ini? Menurut Totok, pertama, karena semakin banyaknya permintaan pendengar yang tertarik dengan lagu-lagu pop Mandarin. Maklum, selama 30 tahun lebih pop Mandarin hanya beredar samar-samar di kalangan terbatas.

Nah, ketika udara reformasi membebaskan penerbitan media berbahasa Tionghoa, termasuk radio, warga pun larut dalam euforia. Seakan-akan mendapat suatu mainan baru, hiburan yang menyebangkan. Faktor kedua, para penyiar dan pengelola Strato FM ingin menjalin komunikasi yang lebih intensif dengan para pendengar.

Ketiga, maraknya kursus bahasa Mandarin, bahkan sejumlah sekolah memasukkan bahasa Mandarin dalam kurikulumnya, secara tak langsung menambah penggemar radio-radio Mandarin macam Strato FM. Sebab, banyak pelajar atau mahasiswa atau peserta khusus sengaja memanfaatkan Strato FM untuk melatih percakapan dalam bahasa Mandarin alias Huayu Huihua.

Kebetulan pula para penyiar Strato FM cukup sabar mendengarkan obrolan pendengar, via telepon, termasuk yang bahasa Mandarinnya masih belepotan. Karena itu, tidak aneh kalau sejumlah pendengar kerap mencampuradukkan bahasa Mandarin dengan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, hingga bahasa Tionghoa dialek Hokkian.

Berdasarkan riset Supriyanto dan Totok, siaran Mandarin di beberapa radio di Surabaya, termasuk Strato FM, tidak hanya dinikmati warga Tionghoa, tetapi juga kelompok masyarakat lainnya. Ini juga terlihat di acara lomba-lomba karaoke yang diadakan Strato FM. Sejumlah pendengar non-Tionghoa bahkan keluar sebagai pemenang. (*)

Cendana Tinggal Nama




Pak Suprawoto, staf ahli menteri komunikasi dan informasi, kembali membahas kondisi Nusa Tenggara Timur (NTT) di PANJEBAR SEMANGAT edisi 23 Oktober 2010. Panjebar Semangat itu salah satu dari dua majalah berbahasa Jawa yang terbit rutin di Surabaya. Majalah satunya adalah JOYO BOYO.

Pak Suprawoto membahas keberadaan kayu cendana alias Santalum Album yang kini tinggal nama di bumi NTT. Kolomnya di halaman 22 PANJEBAR SEMANGAT berjudul KAYU CENDANA TIBAKE MUNG KARI ARAN. Artinya, Kayu Cendana Ternyata Hanya Tinggal Nama. Mengenaskan sekali!

Padahal, sejak zaman dulu kawasan NTT, khususnya Pulau Timor, terkenal karena kayu cendana. Pedagang Portugis, kemudian VOC Belanda, datang ke NTT karena cendana. Kayu cendana punya aroma wangi yang khas sehingga bisa dipakai untuk bahan parfum, obat-obatan, dan berbagai kerajinan yang bernilai tinggi.

Pak Suprawoto menulis:

“Emane saiki jenenge cendhana iku kaya-kaya wis ora ana maneh ing NTT. Malah saiki kalah karo Gunung Kidul ing Jogjakarta kang saiki ana Wanagama, alas kang dikelola dening UGM, wis akeh banget kayu cendhanane kang hasil ditandur dening almarhum Prof. Hani’in Suseno, guru besar Fakultas Kehutanan UGM.”

Menurut Pak Suprawoto, yang namanya kayu cendana itu sudah tak ada lagi di NTT. Malah sekarang kalah dengan kayu cendana di Gunung Kidul, Jogjakarta. Di Jogja ini ada hutan cendana yang dikembangkan oleh Prof. Hani’in Suseno.

Opo tumon, Pak!

Saya kira, pernyataan Pak Suprawoto tidaklah berlebihan. Saya sebagai putra asli NTT pun bahkan tidak pernah melihat tanaman yang namanya Santalum Album alias cendana ini. Saat berada di Kupang, saya bertanya kepada penduduk setempat di mana hutan cendana itu berada? Bukankah di Kupang ini ada perguruan tinggi negeri bernama Universitas Nusa Cendana?

Sayang, tak ada orang Kupang yang bisa menunjukkan hutan cendana itu. Jangankan hutan cendana, satu dua batang cendana saja tidak ada. Saya dengar beberapa pohon cendana ‘dilestarikan’ di kantor gubernur atau bupati atau wali kota Kupang.

Lha, cendana yang dulu membuat nama NTT harum di mana? Masih pantaskah bumi NTT, khususnya Timor, disebut nusa cendana? Membaca kolom Pak Suprawoto di majalah PANJEBAR SEMANGAT ini, saya jadi malu dan tertawa sendiri. Juga prihatin. Sebab, ternyata cendana yang nilai ekonominya tak kalah dengan emas atau mutiara itu dibiarkan musnah justru di habitat aslinya: NTT.

Sudah menjadi rahasia umum, rakyat NTT kurang punya budaya melestarikan hutan. Cendana dianggap bisa tumbuh sendiri, tak perlu dibudidayakan. Tebang sana sini, jual ke sana kemari, dan akhirnya habis. Tak ada kesadaran untuk menanam bibit-bibit cendana. Padahal, usia produktif si cendana ini berkisar 40 hingga 50 tahun.

Tak hanya cendana, pohon-pohon lain di NTT, mulai dari Rote, Timor, Sumba, Flores, Lembata, Solor, Adonara, Alor, Pantar... juga ditebangi terus-menerus tanpa ada penanaman baru. Budaya tanam pohon, kecuali pohon kelapa, boleh dikata tidak ada di NTT.

Maka, sejak 1980-an generasi muda NTT telah menuai hasilnya: malapetaka lingkungan yang sangat dahsyat. Di Pulau Lembata, misalnya, penduduk sangat sulit mendapatkan air. Jangankan air permukaan (sungai) atau sendang (sumber), air tanah pun nyaris tidak ada.

Penduduk harus jalan kaki hingga lima sampai 10 kilometer hanya untuk mendapatkan satu ember air minum. Syukurlah, Lembata berada di pesisir pantai, sehingga orang bisa mandi di air laut sepuas-puasnya setiap hari. Tapi mana ada orang yang tahan mandi air laut terus-menerus? Bukankah dia perlu air tawar untuk bilas?

Tak ada gunanya kita, orang NTT, mengutuk bapa-mama, kakek-nenek, para leluhur... yang telah mewariskan bumi NTT yang kerontang tanpa hutan. Saatnya kita melihat jauh ke depan, nasib dua tiga empat generasi ke depan. Saatnya kita mengganti BUDAYA BAKAR [orang NTT zaman dulu suka membakar hutan hanya untuk mendapat satu dua ekor babi hutan] dan BUDAYA TEBANG menjadi BUDAYA TANAM.

“Tanam! Tanam! Tanam!” begitu pesan Iwan Fals dalam konsernya di Gresik, pekan lalu. Tanam apa saja! Tanam cendana! Tanam jati! Tanam kelapa! Dan seterusnya.

Tanaman apa pun dalam jumlah banyak akan menjadi hutan. Bagi saya, yang paling penting di NTT bukan pertama-tama untuk mengembalikan aroma kayu cendana, tapi mengembalikan air tanah. Tanpa air tanah, maka rakyat akan sulit mendapat air minum. Tak akan ada sumur tanpa air tanah.

Kita, orang NTT, saat sedang mengalami kutukan alam yang hebat karena ulah kita sendiri. Jangan sampai kutukan itu kita wariskan pada generasi berikut. Cendana yang kita tanam hari ini baru bisa dinikmati 50 tahun mendatang.

Dan kita mungkin sudah berada di dalam kubur. Tapi anak cucu kita niscaya akan menikmati kerja keras orang tua dan kakek neneknya. Jangan sampai kita dikutuk oleh anak cucu kita sendiri.

Toko Wancu Sidoarjo yang Antik



Tak banyak toko kelontong tempo doeloe yang mampu bertahan hingga puluhan tahun. Toko Wancu, yang kini ganti nama menjadi Toko Rejo, termasuk salah satu dari toko lawas yang masih eksis di Sidoarjo.

Terletak di Jalan Gajah Mada 172, jalan protokol sekaligus pusat pecinan Sidoarjo, Toko Wancu tak kalah dengan toko-toko lain di sekitarnya yang berwajah modern. Wancu tetap mempertahankan ‘budaya kelontong’ tempo doeloe.

Barang-barang penuh sesak, tak teratur, bagaikan kapal pecah. Layaknya toko kelontong, Wancu menyediakan segala jenis barang. Bumbu masak. Bahan-bahan kue. Lampu teplok. Barang-barang plastik. Obat-obatan. Jarum dan peniti. Penanggalan Tionghoa. Perlengkapan mancing. Rokok. Tembakau. Aneka jenis minuman. Jamu-jamuan.

“Boleh dikata, hampir semua barang yang kita butuhkan sehari-hari ada di Wancu. Kita nggak perlu belanja ke mana-mana karena harganya tergolong murah. One stop shopping,” kata Bambang Haryaji, pelanggan setia Toko Wancu, yang tinggal di Sidokare.

Pria yang juga pelukis berusia 60-an tahun ini mengaku kurang suka berbelanja di mal, plaza, atau pusat belanja modern. Meskipun bersih, lapang, ber-AC, konsumen sering bingung memilih barang-barang. Sebab, konter barang-barang di mal berbeda-beda.

“Nah, di Wancu kita mau cari apa saja ada,” tambah Santoso, juga warga senior di Sidoarjo.

Hingga 1980-an, toko-toko kelontong sejenis Wancu masih ada beberapa di dalam kota Sidoarjo. Namun, satu per satu tutup karena gagal bersaing dengan toko-toko baru.

Kepada saya, sang pemilik mengatakan bahwa Toko Wancu ini didirikan pada tahun 1933. Nama pendirinya, Wancu, diabadikan sebagai nama toko. Wancu punya 13 anak.
“Ke-13 anak itu lahir di sini. Jadi, kami ini memang keluarga besar,” ujar perempuan Tionghoa yang enggan menyebut namanya.

Berkat toko kecil itulah, Wancu berhasil menghidupi 13 anaknya hingga dewasa. Setelah meninggal dunia, Toko Wancu diteruskan oleh anak-anaknya. Mereka kompak, mau melanjutkan bisnis toko eceran meski harus bersaing dengan toko-toko baru di sepanjang Jalan Gajah Mada. Belum lagi ada Matahari Department Store di dekat situ yang selalu ramai pengunjung.

Pada 1930-an, kawasan pecinan Sidoarjo masih lengang. Rumah-rumah masih jarang. Persis di depan Toko Wancu kemudian dibangun sebuah sekolah Tionghoa untuk tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

Sekolah Tionghoa satu-satunya di Sidoarjo itu ditutup paksa oleh rezim Orde Baru setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Banyak orang Tionghoa, penghuni lama, yang meninggalkan Sidoarjo. Tapi Toko Wancu tetap berdiri sampai hari ini. Entah sampai kapan.

22 October 2010

Dahlan Iskan Keliling Flores



Oleh DAHLAN ISKAN
Direktur Utama PT PLN

Kalau Sumatera Barat punya kelok sembilan nan mengular dan Sulteng punya jurang Kebun Kopi nan curam, Flores punya dua-duanya. Saya membuktikannya Sabtu dan Minggu 2-3 Oktober lalu. Yakni ketika saya melakukan perjalanan darat dari Ruteng ke Maumere lewat Ende.


Rasanya inilah jalan dengan kelokan terbanyak yang pernah saya lewati sepanjang hidup saya. Itu pula sebabnya mengapa perjalanan darat yang tidak sampai 600 km ini menghabiskan waktu dua hari suntuk. Tahukah Anda berapa banyak kelokan di sepanjang rute ini? Ternyata 6.234 kelokan.

Kalau Anda tidak percaya hitunglah sendiri. Meski angka itu saya buat secara sungguh-sungguh -- ngawurnya -- tapi belum tentu tidak sebanyak itu. Anggaplah setiap satu kilometer sedikitnya terdapat 27 kelokan. Lalu kalikan 316 Km atau berapalah. Jatuhnya --ini juga ngawur -- 6.432 kan? Agar Anda tidak mempersoalkan akurasi angka-angka itu, saya sebut saja jalur ini "jalur kelok seribu".

Di jalur "kelok seribu" inilah geothermal (pembangkit listrik tenaga panas bumi/PLTB) Ulumbu dan Mataloko berada. Ini penting karena dua-duanya akan kita andalkan untuk melistriki seluruh pulau Flores. Direksi PLN memang sudah bertekad untuk menjadikan Flores sebagai satu-satunya pulau di Indonesia yang seluruh listriknya menggunakan tenaga panas bumi.

Sebenarnya sudah hampir 10 tahun lalu Ulumbu dibicarakan. Tapi tidak jadi-jadi. Pemrakarsa proyek ini, putra daerah Flores, senior PLN, Bapak Vincent T Radja berjuang keras untuk mewujudkannya. Namun sampai beliau pensiun proyek geothermal Ulumbu ini belum juga selesai.

Maka, ketika mendengar saya diangkat jadi Dirut PLN, Pak Vincent, ditemani beberapa pensiunan lainnya, langsung menemui saya. Kesehatannya rupanya sudah menurun. Tapi semangat memperjuangkan Ulumbunya tetap tinggi sehingga saya masih bisa menangkap kata-katanya yang sudah agak sulit diucapkan. Ulumbu harus diteruskan, katanya. Tentu saya berjanji untuk melihat dulu lokasinya.

Saya menyesal tidak mempercepat perjalanan ke Flores waktu itu. Dua bulan berikutnya, ketika saya sedang mendiskusikan rencana perjalanan ke Flores, saya diberitahu bahwa Pak Vincent meninggal dunia. Dialah ahli geothermal terkemuka Indonesia.

Lokasi geothermal Ulumbu, seperti yang saya lihat 3 Oktober lalu, ternyata memang seksi. Letaknya di celukan gunung Poco Ranaka yang indah. Gunung ini tingginya 2.140 meter. Tidak jauh dari kota Ruteng. Saya kaget tiba di sini: sumur uap geothermal ini sudah lama jadi. Tentu sudah tidak sulit lagi mewujudkannya. Maka saya bertekad bahwa proyek ini harus segera jadi. Apalagi dananya sudah ada.

Untuk meneguhkan tekad itu, ketika saya kembali ke kantor PLN Cabang Ruteng, saya mengambil buku tamu. Di buku itulah saya menggoreskan pena begini bunyinya: "Saya bersumpah untuk menjadikan proyek ini sebelum akhir tahun 2011". Agar jadi hadiah Natal terbaik bagi rakyat Flores yang mayoritas Katolik itu.

Saya berani mencanangkan itu karena dua hal: dananya sudah siap sejak tahun 2005 dan semangat teman-teman PLN sangat tinggi. Baik yang di PLN Pusat maupun PLN NTT. Bahkan Direktur Operasi Indonesia Timur Vickner Sinaga memajukan jadwal itu: sebelum Agustus 2011. Agar bisa jadi hadian ulang tahun kemerdekaan.

General Manager PLN Nusa Tenggara Timur Janu Warsono akan mengawal proyek ini. Dia juga bertekad untuk mengubah agar NTT jangan lagi kependekan Nusa Tidak Tentu, tapi Nusa Terang Terus. Memang ada persoalan lereng gunung yang longsor. Namun ini hanya urusan teknis yang bisa dihitung bagaimana mengatasinya. Ahli-ahli sipil di PLN pasti bisa mencarikan solusinya. PLN sudah sering mengerjakan PLTA yang jauh lebih sulit dari ini.

Kalau proyek Ulumbu ini selesai saya membayangkan betapa tambah menariknya kota Ruteng. Inilah kota yang karena berada di pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut, sejuk dan indahnya bukan main. Kawasan di sekitar kota ini juga begitu suburnya. Hijau dan hijau. Jauh dari bayangan Flores yang gersang. Pengin rasanya agar mesin-mesin diesel listrik di Ruteng ini agar segera disingkirkan.

Saya tahu rakyat Ruteng kini sudah puas dengan listrik yang sudah sangat cukup sekarang ini (sampai-sampai waktu tiba di bandara kecil di Ruteng saya dan isteri disambut dengan upacara adat dan diberi hadiah ayam jantan sebagai ucapan terima kasih di Ruteng tidak byar-pet lagi) namun cara ini sangat mahal. Maka geothermal Ulumbu harus jadi!

Begitu sulit dan terjalnya jalan menuju proyek ini, tapi begitu menantangnya untuk menyelesaikannya.

Dari Ulumbu kami terus menyusuri kelok seribu menuju geothermal Mataloko. Meski lokasi Mataloko lebih mudah dijangkau (proyek ini hanya 1 km dari seminari terkemuka di Mataloko) tapi kapasitasnya hanya 2 MW. Proyek ini sudah jadi, namun rusak-rusak melulu.

Kebetulan di lokasi Mataloko masih ada teknisi dari Tiongkok. Kami sempat mendiskusikannya. Terutama untuk menjaga bagaimana setelah perbaikan terakhir ini tidak akan mati-mati lagi. Para teknisi Tiongkok itu berjanji tanggal 6 Oktober ini geothermal Mataloko sudah menyala kembali. Dan tidak akan mati-mati lagi. Rupanya selama ini terjadi kesulitan komunikasi antar teknisi yang saling tidak mengerti bahasa masing-masing itu.

Meski proyek ini kecil, namun fungsinya sangat penting. Tegangan listrik di wilayah ini kurang baik karena jauh dari pembangkit. Para guru di sekolah seminari itu, misalnya, tidak berani menggunakan komputer setelah jam 5 sore. Takut rusak. Saya memang menyempatkan diri untuk meninjau seminari besar yang dibangun tahun 1930-an itu dan memberikan harapan bahwa dengan teratasinya PLTP Mataloko tidak ada lagi keraguan akan keselamatan komputernya.

Di Mataloko istri saya "turun mesin". Minyak kayu putih harus lebih banyak disiramkan di punggung dan perutnya. Mabuknya sudah tidak ketulungan. Tapi perjalanan dari Mataloko ke Ende masih 3,5 jam lagi.

Rakyat setempat punya cara untuk bepergian melewati "kelok seribu" tanpa mabuk. Yakni naik "bus kayu". Inilah kendaraan umum yang amat populer di jalur "kelok seribu". Truk yang diberi atap. Bus kurang laku di sini. Dengan naik bus kayu penumpang bisa mendapat udara bebas. Di samping bisa membawa barang dan ternak lebih banyak.

Pukul 21.00 barulah kami tiba di Ende. Ikan bakar yang disiapkan teman-teman PLN Ende sudah pada dingin. Tapi seluruh karyawan di Ende masih menanti sambil menyanyi-nyanyi. Tentu juga sambil menahan lapar. Karena itu sebelum Kepala Cabang Ende, Audi membuka acara dialog tengah malam, kami makan dulu rame-rame.

Kami pun sepakat, keesokan harinya, pukul 05.00 kumpul lagi di kantor. Untuk bersama-sama olahraga jalan pagi. Yakni dari kantor PLN ke rumah kenangan yang dulu ditempati Bung Karno ketika empat tahun dibuang ke Ende. Jarak tempuhnya 45 menit. Kurang lebih sama dengan jarak jalan kaki saya setiap pagi dari rumah saya di sebelah Pacific Place ke kantor PLN Pusat di Jalan Trunojoyo.

Pagi itu kami tidak sempat sarapan. Setelah selesai olahraga harus bergegas ke proyek PLTU Ende di pantai utara. Berarti kami harus kembali menyusuri "kelok seribu" dengan perut kosong. Jarak tempuhnya hampir tiga jam. Untungnya ada singkong rebus yang dimasukkan ke mobil bersama sambal. Memang selalu saja ada makanan lokal yang istimewa.

Di Kupang ada jagung rebus lokal. Manisnya seperti jagung manis dan pulennya seperti ketan. Di Ende singkongnya bukan main nendangnya: lezat rasanya, pulen gigitannya dan masir komposisinya. Apalagi dimakan dengan sambal khas Flores. Sayangnya, "kelok seribu" telah membuat sambal itu tumpah di pangkuan dan minyaknya merembes sampai menembus celana dalam. Pedalaman saya merasa terganggu tapi malu merintih: minyak sambal itu rupanya merembes sampai ke bagian yang ada di balik celana dalam.

Tiba di lokasi PLTU saya tercenung. Mengapa dibangun PLTU Batubara di sini. Kalau saja keputusan itu dibuat sekarang, saya akan memilih menggunakan dana tersebut untuk mempercepat penyelesaian proyek geothermal Ulumbu dan memperbesarnya. Apalagi proyek PLTU ini tersendat-sendat karena kontraktornya salah hitung. Terlalu rendah menawarkan harganya dulu. Kini kesulitan keuangan membuat proyek ini belum tentu handal di masa depan.

Satu-satunya yang masih bisa diperbuat adalah mempercepatnya agar tidak semakin molor lagi. Kami juga sepakat memberi kepercayaan kepada Generasi muda PLN untuk mencari jalan keluar. Hanya anak-anak muda yang bisa nekad membuat PLTU ini mendapatkan terobosan. Saya lihat mereka lulusan ITB dan ITS yang handal, gigih dan berani. Setidaknya berani mendebat saya. Kepada mereka saya titipkan nasib PLTU ini.

"Kelok seribu" sudah berlalu. Perjalanan selanjutnya memang masih akan tiga jam tapi tinggal menyusuri pantai utara. Menuju Maumere. Kelokannya hanya ratusan mengikuti bukit-kubit yang tidak seberapa terjal. Kami melewati perkebunan kemiri yang rindang. Lalu perkebunan mente yang berbuah lebat.

Tepat tengah hari kami sudah tiba di kantor PLN Cabang Maumere. Meski hari Minggu semua karyawan dan isteri lengkap menunggu di kantor. Kami mendiskusikan kondisi listrik di Maumere. Mereka juga minta penjelasan mengenai banyak hal di PLN. Termasuk mengenai wacana larangan suami-istri kerja di PLN. Ternyata di situ ada karyawan muda asal Sidoarjo yang sudah mengincar seorang gadis yang kini sedang menjalani masa percobaan untuk menjadi karyawan PLN. Secara gurau saya sarankan agar cepat-cepat saja dilamar dan dikawini. Sebelum aturan baru berlaku. Aturan itu nanti tidak akan berlaku mundur.

Saya memang prihatin melihat di PLN ini banyak sekali suami-istri yang harus hidup berjauhan bertahun-tahun. Bahkan mungkin sampai pensiun kelak. Untuk itu saya minta ijin untuk menyebut General Manager PLN NTT sebagai contoh. Isteri Pak Janu itu, dulunya juga karyawan PLN. Namun mereka sepakat hanya suami yang meniti karir. Sedang sang istri mempersiapkan tiga anaknya agar tidak menjadi anak pembantu.

Hasilnya hebat: anak-anak pak Janu hebat-hebat, pinter-pinter. Di Teknik Elektro ITB dan fakultas elektro Undip. Kalau saja waktu itu mereka hidup terpisah bisa jadi karir Pak Janu terganggu tidak bisa mencapai tingkat General Manager seperti sekarang.

Wacana ini sekarang memang lagi top di kalangan karyawan PLN. Banyak sekali pro dan kontra. Tapi sebenarnya larangan seperti itu sudah umum berlaku di perusahaan-perusahaan besar di mana saja.

Tiga hari di NTT saya memperoleh kesimpulan PLN NTT akan menjadi gunung yang tidak tinggi, tapi sakti dewanya dan akan menjadi sungai yang tidak dalam tapi besar naganya. Pak Janu adalah tipe pemimpin yang tidak banyak bicara tapi nyata kerjanya.

Saya memang mencatat ada tiga jenis orang/pemimpin. Pertama yang bicaranya hebat tapi kerjanya juga hebat. Kedua yang bicaranya luar biasa, kalau diskusi paling pintar, kalau berteori paling canggih namun tidak pernah bisa bekerja dengan baik. Dan yang ketiga adalah yang kalau rapat hanya sesekali bicara, yang kalau tidak ditanya tidak bunyi tapi hasil kerjanya luar biasa.

Pak Janu punya kelebihan lain: dicintai anak buahnya. Dia mendatangi mereka di pelosok mana pun dan di pulau apa pun. Dia juga yang berhasil membuat Kupang menjadi kota pertama yang lampu penerangan umum di jalan rayanya menggunakan tenaga surya.

Hari itu, jam 05.00 subuh saya melihat sendiri bahwa lampu jalan raya di Kota Kupang yang bertenaga surya itu bisa berfungsi baik. Artinya sampai pagi pun lampunya tetap menyala. Ini berarti tenaga matahari yang disimpan di accu/baterai tersebut cukup untuk menyalakan lampu besar semalam suntuk. Kalau pun ada beberapa lampu yang saya lihat tidak menyala, ternyata ada penyebab lainnya : accu/baterainya dicuri orang!

Kini Pak Janu yang baru pulang dari Tiongkok itu sudah punya kiat mengatasi pencurian accu itu. Di Tiongkok dia melihat sudah ada accu/baterai yang tidak bisa digunakan untuk start mobil/motor. Baterai jenis itulah yang kelak akan digunakan untuk memperluas suryanisasi lampu jalan raya.

Kami berpisah di Bandara Kupang. Hari sudah senja dan kami harus segera kembali ke Jakarta. Kami sudah keliling Kupang di hari pertama kunjungan ini. Yakni ke proyek PLTU 2 x 16,5 MW. Proyek ini juga memiliki masalahnya sendiri tapi Pak Vickner Sinaga sudah melakukan apa yang harus dipercepat.

Kami juga sempat melihat pabrik Semen Kupang. Satu-satunya industri besar di Pulau Timor ini sangat berharap PLN bisa memberikan listrik yang cukup. Bahkan kalau listrik di NTT memang bisa baik akan ada dua pabrik lagi yang akan dibangun: pabrik pengolahan mangan yang memerlukan listrik masing-masing 4 MW. Alangkah vitalnya listrik ini untuk memajukan ekonomi daerah.

Dari kunjungan ke berbagai daerah di NTT ini saya mendapat pelajaran manajemen yang sangat berharga. Pelajaran yang belum pernah saya peroleh dalam hidup saya. Ini datang dari ucapan tidak langsung seorang karyawan yang malam itu ikut menampilkan paduan suara. Paduan suara karyawan PLN NTT memang ciamik. Juara paduan suara BUMN!

Setelah turun panggung dia berbisik: "Pak, kunjungan Bapak ini membuat kami merasa dekat dengan pimpinan. Selama ini kami menyangka kalau pimpinan itu hanya lebih dekat dengan rekanan".

Makna bisikan itu sangat dalam. Citra pimpinan yang hanya dekat dengan rekanan ternyata menimbulkan dampak psikologis yang hebat di kalangan karyawan. Ternyata karyawan sering segan menegur, marah atau memberi sanksi kepada rekanan akibat suasana kebatinan yang tidak terkatakan itu. Mereka takut menegur rekanan karena mereka melihat betapa akrabnya pimpinan dengan rekanan tersebut. Intinya, mereka takut menegur yang mereka kira temannya pimpinan.

Meski kedekatan pimpinan dengan rekanan tidak mesti karena adanya hubungan khusus, namun karyawan ternyata tidak mudah membedakannya. Karyawan tidak bisa tahu mana perkawanan yang profesional dan mana perkawanan yang kolutif.

Begitu melihat keakraban antara pimpinan dan rekanan (misalnya bisa masuk ruang kerja pimpinan tanpa prosedur atau sering sama-sama main golf atau sering sama-sama makan) karyawan langsung menduga hubungan itu sangat khusus. Karyawan akan hati-hati memperlakukan rekanan tersebut "khawatir jangan-jangan mengganggu kepentingan khusus pimpinan".

Bahwa ada perasaan karyawan seperti itu sungguh baru kali ini saya mendengarnya. Di swasta tidak ada hal seperti ini. Maklum baru kali ini saya bergaul dengan karyawan BUMN.

Alangkah pentingnya kita mendengar suara yang tidak terkatakan itu.


Sumber: Jawa Pos, 21-22 Oktober 2010

20 October 2010

Miss Universe 2010 Naik Reog



Kalau terlalu sering melihat nona-nona cantik, lama-lama kita akan kebal sendiri. Di televisi, dulu, saya sering takjub melihat ratu sejagat alias Miss Universe. Juga ada Miss World yang tak kalah cakep.

Gadis paling cantik di dunia! Begitu kira-kira ungkapan umum.

Di Indonesia, ada juga pemilihan Putri Indonesia, kemudian Miss Indonesia, dan entah apa lagi. Beberapa nona cakep di Surabaya pernah jadi Putri Indonesia 2007 seperti Putri Raemawasti, mahasiswi asal Blitar, yang indekos di Jalan Kertajaya.

Juga ada Miss Indonesia 2008 Sandra Amelia yang tak lain anaknya Pendeta Yusak Hadisiswantoro dari Gereja Bethany di Jalan Manyar. Ada lagi putri-putri lain yang sering kurang jelas kriterianya.

Inilah untungnya kita yang tinggal di kota besar macam Surabaya, Bandung, Semarang, Jogjakarta, apalagi Jakarta. Peluang untuk melihat nona-nona cantik tingkat nasional atau dunia sangat besar. Asal Anda rajin ke mal, plaza, lihat acara-acara televisi secara off air, wuih... banyak artis [biasanya cakep-cakep] berjubel.

Pekan lalu Ximena Navarette, Miss Universe 2010 asal Meksiko, datang ke Surabaya. Gadis cantik 22 tahun ini didampingi Putri Indonesia 2010, si Nadine yang kurang fasih berbahasa Indonesia itu. Ada beberapa tempat yang dikunjungi Ximena di Surabaya.

Rata-rata si Miss Universe mengunjungi tempat yang itu-itu juga. Konter kosmetik. Pabrik perhiasan emas. Showroom motor atau mobil. Yah, semua itu ada harganya. Tujuannya, apa lagi kalau bukan promosi produk. Jadi, si Miss Universe, Putri Indonesia, Miss Indonesia... kerjanya memang tak jauh-jauh dari promosi produk yang selama ini mensponsorinya.

Masih lumayan kali ini Miss Universe 2010 menikmati reog ponorogo. Sempat duduk di kepala si reog. Suasana pun hiruk-pikuk di halaman Graha Pena Surabaya khas kesenian rakyat. Warga Surabaya, yang sebenarnya sudah sering melihat dari dekat putri-putri cantik sejagat, pun ikut senang melihat si Ximena ketakutan di atas kepala reog.

Melihat Miss Universe atau Putri Indonesia dari dekat beda banget dengan di televisi. Kita jadi tahu aslinya. Gerak-gerik, bahasa tubuh, cara ngomong, tebal tipis bedak, keringat, dan sebagainya. Ximena Navarette ternyata kebelet ke toilet saat tiba di Graha Pena. Sebelumnya, dia tetap tersenyum ramah meski sebenarnya sudah ‘empet-empet’ sejak lama.

“Miss Universe juga manusia. Hehehe.... Makanya, kami sudah antisipasi agar acaranya tetap bagus,” kata senior saya yang biasa menangani acara-acara Miss Universe di Surabaya.

“Benarkah Miss Universe gadis paling cantik di seluruh dunia?” saya bertanya kepada seorang fotografer di Surabaya. Dia sudah sangat sering memotret Miss Universe dan artis-artis top Indonesia dan dunia.

“Biasa aja. Cantik apanya?” tukas si fotografer.

“Cantik itu kan relatif,” tambah teman lain yang juga sangat sering ‘mengawal’ Miss Universe di Kota Surabaya.

Saya sepakat. Cantik itu sangat relatif. Makin sering kita berdekatan dengan nona-nona cantik, artis-artis top, ratu sejagat, Putri Indonesia, Miss Indonesia... makin sadarlah kita bahwa manusia itu sebenarnya sama saja. Ada plus minus. Ada kelebihan dan kekurangan.

Nona-nona cantik pun manusia. Dia bisa stres, cekcok dengan mamanya, seperti Putri Indonesia 2009. Dia juga capek, kelelahan, karena acara-acaranya terlalu banyak. Miss Universe pun cepat-cepat cari toilet karena kebelet pipis!

18 October 2010

Boen Bio di Kapasan



Bicara tentang Kapasan tak akan lengkap jika tidak menyinggung keberadaan Boen Bio. Tempat ibadat agama Khonghucu di Jalan Kapasan 131 ini menjadi tetenger keberadaan warga Tionghoa di kampung Kapasan.


AWALNYA, kelenteng ini bernama Boen Tjiang Soe, terletak di kampung Kapasan Dalam. Ia didirikan atas inisiatif Go Tik Lie dan Lo Toen Siong. Keduanya pada 1882 meminta Mayor The Boen Ke, pemimpin masyarakat Tionghoa saat itu, untuk meminta sebidang tanah seluas 500 meter persegi guna mendirikan sebuah kelenteng Khonghucu.

Mayor The Boen Ke pun setuju. Ini karena kawasan Kapasan memang belum punya tempat ibadat untuk masyarakat Tionghoa layaknya pecinan lain di Surabaya. Terlalu jauh kalau warga Tionghoa di Kapasan harus bersembahyang di kelenteng-kelenteng yang sudah ada seperti di Jalan Dukuh atau Jalan Slompretan.

Untuk membangun Boen Tjiang Soe ini, panitia mendatangkan para tukang langsung dari Tiongkok. Sebab, arsitekturnya dibuat sepersis mungkin di bangunan sejenis di negeri leluhur para perantau Tionghoa itu. Setelah berjalan satu tahun, pada 1883 kelenteng pun rampung. Biaya: 11.316, 63 gulden.

Pada 1904, Kang Yu Wei, tokoh gerakan nasionalisme di Tiongkok, berkunjung ke Surabaya. Yu Wei sangat mengagumi keindahan arsitektur kelenteng. Namun, dia menyayangkan karena Boen Tjiang Soe berada di dalam kampung. Yu Wei mengusulkan agar bangunan dipindahkan ke pinggir jalan raya agar mudah dilihat orang. Jemaat juga lebih mudah beribadah di situ.

Usulan itu kemudian dibahas bersama Mayor The Toan Ing. Enam rumah di depan kelenteng akhirnya dibongkar untuk relokasi kelenteng. Dibangunlah kelenteng baru bernama Boen Bio. Boen artinya kesusastraan, kebudayaan. Bio atau miao artinya kuil atau kelenteng. Boen Bio: kuil untuk mempelajari sastra dan kebudayaan Tionghoa.

Nah, di atas bekas kelenteng lama di Kapasan Dalam dibangun sekolah bernama Tiong Hoa Hak Hauw atau Tiong Hoa Hak Tong alias Tiong Hoa Hwe Koan (THHK). Biaya keseluruhan pembangunan Boen Bio dan THHK itu sebesar 29.972,51 gulden. Nama-nama para penyumbang ditulis di atas prasasti yang terbuat dari marmer dan masih bisa dilihat sampai hari ini.

“Maksudnya agar kita bisa mengenang para dermawan yang telah berjasa mendirikan Boen Bio,” kata Liem Tiong Yang, salah satu pengurus Boen Bio, kepada peserta Melantjong Petjinan Soerabaia V, Ahad (10/10/2010).

Kelenteng seluas 629 meter persegi ini dibangun menggunakan prinsip-prinsip arsitektur Tiongkok kuno. Hiasan-hiasan yang ada, baik di bagian luar, bagian dalam, hingga altar, menggunakan simbol-simbol yang sangat bermakna. Semuanya berisi harapan dan doa-doa untuk keselamatan dan kesejahteraan jemaatnya. (hurek)

17 October 2010

Mbah Ratu = Sam Poo Tay Djien




Laksamana Cheng Hoo alias Zheng He [1371-1435] memang pemimpin yang luar biasa. Laksamana asal Tiongkok yang berlayar keliling dunia pada 1405 ini bisa diterima di mana-mana. Namanya pun harum di Kota Surabaya.

Di kalangan umat Islam Tionghoa, nama Cheng Hoo diabadikan sebagai nama masjid di Jalan Gading 2 Surabaya. Masjid Cheng Hoo. Warga keturunan Tionghoa yang lain bikin sebuah kelenteng di Jalan Demak 380 Surabaya. Namanya Kelenteng Sam Poo Tay Djien.

Yang menarik, sejumlah masyarakat Jawa, agamanya macam-macam, juga secara rutin datang ke Kelenteng Sam Poo Tay Djien setiap malam Jumat Legi. Ada upacara tumpengan serta ritual khas Jawa. Dulu, sebelum krisis moneter, ada wayang kulit semalam suntuk di tempat ibadat Tridharma itu.

Artinya, Laksamana Cheng Hoo ini memang milik bersama umat Islam (Tionghoa), karena berjasa menyebarkan agama Islam di Nusantara, kemudian dihormati warga Tionghoa yang bukan Islam, serta juga dihargai orang Jawa. Luar biasa?

Nah, jejak pelayaran panjang Laksamana Cheng Hoo diabadikan di Kelenteng Sam Poo Tay Djien, yang oleh orang Surabaya lebih dikenal dengan sebutan Kelenteng Mbah Ratu. Percaya atau tidak, terserah. Yang jelas, para pengurus kelenteng di dekat Pelabuhan Tanjung Perak ini tak melupakan kisah tutur yang telah berusia enam abad itu.

Go Ka Bok, pengurus Kelenteng Mbah Ratu, menegaskan bahwa sejarah kelenteng ini terkait erat dengan ekspedisi Laksamana Cheng Hoo. Alkisah, sekitar 600 tahun lalu, ada sebuah kayu dengan panjang sembilan meter, diameter 40 sentimeter, terdampar di perairan Tanjung Perak Surabaya.

Warga sekitar berusaha menghanyutkan kayu itu ke laut. Namun, usaha mereka sia-sia. Kayu itu selalu kembali dan kembali lagi ke tepi pantai. Kejadian itu membuat warga meyakini kalau kayu itu bukan kayu biasa. Pastilah kayu ajaib! Maka, warga menyebutnya KAYU AJI.

Kayu aji itu kemudian dikurung di sebuah perempatan jalan, dekat Tanjung Perak. Tempat itu kemudian dikenal dengan sebutan Prapat Kurung. Menurut Ga Ka Bok, yang mendengar cerita ini secara turun-temurun, kayu tersebut diyakini sebagai salah satu puing kapal milik Laksamana Cheng Hoo.

Nah, di Prapat Kurung itulah dibangun sebuah kelenteng. Tempat untuk memuja sekaligus mengenang jasa-jasa Laksamana Cheng Hoo. Kelenteng alias kuil itu diberi nama Sam Poo Tay Djien. "Sam Poo Tay Djien itu merupakan nama lain Sam Poo Kong atau Laksamana Cheng Hoo," jelas Go Ka Bok.

Mengapa penduduk begitu menghargai Sam Poo Tay Djien? Tak lain dia seorang pelaut hebat. Laksamana yang dicari tandingannya. Cheng Hoo memimpin ratusan kapal, dengan 27.800 awak, yang berlayar dari Tiongkok ke Afrika hingga keliling Asia Tenggara sebanyak tujuh kali. Ekspedisi besar-besaran ini berlangsung selama 28 tahun [1405-1433].

Di Nusantara -- Indonesia belum ada, bahkan Belanda pun belum datang - rute perjalanan Cheng Hoo dimulai dari Tanjung Priok, Cirebon, Semarang, Tuban, Gresik, Surabaya, kemudian jalan kaki menuju pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan [Mojokerto sekarang].

Selama berada di Nusantara, Cheng Hoo mengajarkan aneka keterampilan, mulai dari pertanian, peternakan, pertukangan, perikanan, hingga ajaran Islam. Hal ini membuat penduduk sangat menghormatinya. Gelar MBAH RATU pun disandang Laksamana Cheng Hoo.

“Ada bukti dari legenda Laksamana Sam Poo Tay Djien di sini. Yakni, kayu aji dan jangkar kapal Laksamana Sam Poo Tay Djien. Semuanya masih tersimpan dengan baik,” tutur Go Ka Bok.

Dulu, ada miniatur kapal Cheng Hoo alias Sam Poo Tay Djien di kelenteng ini. Namun, ketika bangunan kelenteng direlokasi dari Prapat Kurung ke Jalan Demak 380, miniatur ini ditiadakan. Sebab, kapal tiruan itu terlalu besar dan makan tempat.

Selain Kelenteng Sam Poo Tay Djien di Surabaya, ada juga kelenteng serupa di Semarang. Sama-sama dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Hoo. “Menurut cerita, Laksamana Cheng Hoo pertama kali berlabuh di Semarang,” jelas Go Kak Bok yang berusia 76 tahun ini.

Kombinasi, sinkretisme, kolaborasi [atau apa pun namanya] tradisi Tionghoa dan Jawa terasa kental di Kelenteng Sam Poo Tay Djien alias Kelenteng Mbah Ratu. Ada altar dan patung-patung khas Tridharma, tapi ada juga tungku kecil untuk pembakaran dupa dan wadah untuk sesajen. Pada malam Jumat Legi, asap hio Tionghoa dan dupa Jawa berbaur menjadi satu.

Setiap tanggal 29 bulan 11 Imlek, jemaat kelenteng ini merayakan hari jadi Sam Poo Tay Djien alias Laksamana Cheng Hoo. Rata-rata 800 sampai seribu orang mengikuti perayaan ulang tahun sang laksamana kawakan dari Dinasti Ming itu.

Biasanya, kelenteng dihiasi pernak-pernik meriah dan sesaji untuk dewa. Tidak lupa batang tebu yang masih lengkap dengan daunnya. Ada juga mi sebagai simbol umur panjang dan telur sebagai simbol kesuburan.

“Tebu itu simbol agar kita selalu mengalami yang manis-manis, dapat rezeki, kesehatan, kebahagiaan,” jelas Go Ka Bok.

Kelenteng Sam Poo Tay Djien alias Kelenteng Mbah Ratu membuktikan bahwa akulturasi budaya Tionghoa, Islam, dan Kejawen [Jawa] sudah berlangsung sangat lama. Dan oke-oke aja!

14 October 2010

Mi Instan Memang Bahaya




Nasionalisme harus dimulai dari meja makan!

Mi instan Indomie ditarik di Taiwan karena kandungan nipagin, sejenis bahan pengawet, kelewat tinggi. Pemerintah dan pihak perusahaan pembuat Indomie dibuat pusing. Harus kasih penjelasan, public relations, pasang iklan, undang wartawan...

Intinya, makan mi instan Indomie [dan mi-mi instan lain] aman-aman saja. Tidak berbahaya. Bla-bla-bla....

Bagi saya, peristiwa di Taiwan ini merupakan blessing in disguise. Masyarakat jadi tahu apa itu asam bensoat, methyl p-hydroxybenzoate, bahan tambahan makanan (BTM), bahaya BTM, dampak bahan pengawet dalam jangka panjang, dan sebagainya. Bahwa makan mi instan setiap hari, apalagi menjadikan mi sebagai makanan pokok, SANGAT BERBAHAYA.

Kita juga diingatkan bahwa makanan-makanan lokal yang segar, mentah, buah-buahan, sayur-mayur, ubi-ubian, yang ditanam jutaan petani Indonesia jauh lebih sehat. Lebih baik makanan alami, biarpun sederhana, ketimbang makanan olahan pabrik.

Selain itu, membiasakan diri makan mi instan atau mi biasa sangat berbahaya bagi ketahanan pangan kita. Mi dibuat dari tepung terigu. Terigu itu tak lain biji gandum yang digiling. Gandum bukanlah tanaman tropis. Sampai hari ini gandum tak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di bumi Indonesia.

Ingat, berbagai percobaan budidaya gandum di Indonesia gagal! Maka, kalau kita terlalu banyak makan mi, mengonsumsi makanan-makanan yang bahan bakunya tidak bisa tumbuh di Indonesia, sama saja dengan kita memakmurkan petani-petani Amerika, Eropa, Tiongkok, dan negara-negara di belahan bumi utara. Juga memakmurkan produsen mi instan.

Ingat, pada dasarnya orang Indonesia bukanlah pemakan gandum (mi, roti, dan sebagainya)! Bumi Indonesia cocok buat tanaman-tanaman macam padi, jagung, kentang, ubi-ubian, berbagai macam buah-buahan... tapi bukan gandum.

Hari ini, 14 Oktober 2010, saya terharu membaca koran-koran terbitan Surabaya. Anak-anak kecil di Pondok Candra, Sidoarjo, berunjuk rasa menyerukan agar rakyat Indonesia tidak membiasakan diri makan makanan instan seperti Indomie, Supermie, Sarimie, Mie Sedap, dan sebangsanya.

“Perbanyak makan buah dan sayur. Bukan memperbanyak makan mi dan makanan instan, siap saji,” teriak anak-anak Taman Kanak-Kanak Bright Kiddie itu.

Pintar juga bocah-bocah Sidoarjo itu! Kayaknya anak-anak kecil ini lebih cerdas ketimbang pejabat-pejabat di Jakarta yang tiap hari sibuk “memperjuangkan” dan “membela” kepentingan mi instan [dan importer gandum] di televisi. Beda dengan pemerintah Taiwan dan Singapura yang sibuk membela kesehatan masyarakat.

Ehm, jangan lupa, saat kampanye pemilihan presiden tahun lalu, ada kandidat presiden yang meminjam jingle Indomie untuk kampanye:

DARI SABANG MERAUKE
INDOMIE... SELERAKU

Hehehe.....

Kapasan Riwayatmu Dulu



Napak Tilas Kampung Kapasan (1)

Sekitar 70 orang mengikuti program Melantjong Petjinan Soerabaia V di kawasan Kapasan Surabaya, Minggu (10/10/2010). Kawasan permukiman padat penduduk itu menyimpan jejak sejarah kehadiran orang Tionghoa di Surabaya.


Oleh LAMBERTUS HUREK

Kampung Kapasan tak ubahnya kampung-kampung lain di Kota Surabaya. Rumah-rumah berdempetan. Gang-gang sempit. Rumah-rumah penduduk berdempetan. Alih-alih kendaraan roda empat, sepeda motor saja sulit masuk ke gang-gang sempir di Kapasan Dalam.

Tapi, justru di balik kekurangan itu, warga Kapasan Dalam terlihat sangat guyub dan rukun. Mereka saling mengenal satu sama lain. Di tengah kehidupan metropolis yang makin individualistis, kurang peduli sesama, Kapasan Dalam menampilkan wajah kota yang ramah dan akrab. Khas arek-arek Surabaya tempo doeloe.

“Kami ini tinggal di dalam kampung selama bertahun-tahun, sehingga sudah saling kenal. Kami juga tidak membeda-bedakan etnis Tionghoa, Jawa, Madura, dan sebagainya,” kata Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, yang menjadi pemandu rombongan Melantjong Petjinan Soerabaia V.

Gunawan benar. Setiap kali masuk ke dalam gang-gang sempit khas Kapasan, peserta city tour yang berbeda-beda latar belakang ini (mahasiswa, karyawan, fotografer, wartawan, dosen) disambut ramah. Warga juga mudah diajak bicara. Bahkan, ketika peserta memasuki rumah-rumah yang sempit dan kuno itu, warga Kapasan Dalam menyambut ramah. Kehangatan khas wong kampung sangat terasa.

Menurut Gunawan, komposisi penduduk di kawasan Kapasan, khususnya Kapasan Dalam, sudah berbeda jauh dengan puluhan tahun silam. Ketika itu Kapasan Dalam menjadi salah satu pusat permukiman khusus para perantau asal Tiongkok. Mereka babat alas dengan membuka hutan randu yang dalam bahasa Melayu-Tionghoa disebut kapas.

“Warga Tionghoa di Kapasan Dalam ini kehidupan ekonominya pas-pasan. Bukan orang-orang kaya,” tutur Gunawan yang didampingi Lukito S. Kartono, dosen arsitektur Universitas Kristen Petra.

Sebagian warga Tionghoa di Kapasan Dalam, setelah mengalami perkembangan ekonomi, memilih pindah ke permukiman lain di Surabaya atau di kota-kota lain. Sebab, tak mungkin mengembangkan bisnis di tengah-tengah permukiman penduduk yang sangat padat. Pun tak ada lahan kosong.

Pada 1960-an, sebagai buntut pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959 (PP 10), tak sedikit warga Tionghoa kembali ke negeri leluhurnya di Tiongkok. Belum lagi peristiwa-peristiwa politik sesudahnya yang sedikit banyak menimpa warga keturunan Tionghoa.

Nah, sebagian rumah dan lahan kosong itu kemudian ditempati oleh pendatang baru. Sejak itulah, Kapasan Dalam tak lagi murni sebagai kampung Tionghoa yang terkenal karena kepiawaiannya warganya bermain kungfu atau silat Tionghoa. Populasi Kapasan Dalam berubah drastis.

“Di sini Anda bisa bertemu dengan warga dari berbagai suku, ras, dan agama,” kata Gunawan seraya tersenyum (rek/bersambung).



Napak Tilas Kampung Kapasan (2)

Babat Alas berkat Jasa Mayor The Goan Tjing

Pada tahun 1700-an, kondisi Kapasan sangat buruk dibandingkan daerah pecinan Surabaya yang lain seperti Kembang Jepun, Slompretan, Karet, atau Cokelat. Mengerikan!

Oleh LAMBERTUS HUREK


Menurut catatan sejarah, sebelum tahun 1900, Kapasan dikenal sebagai kawasan hutan randu yang rimbun. Nama Kapasan sendiri diambil dari kapas, sebutan randu dalam bahasa Melayu-Tionghoa.

Saking rimbunnya, Kapasan menjadi tempat persembunyian maling, perampok, pembunuh, serta para pelaku kejahatan lainnya.


Petugas patroli Belanda pun keder. Menurut Lukito S. Kartono, dosen arsitektur Universitas Kristen Petra, yang banyak meneliti arsitektur dan permukiman Tionghoa di Jawa, petugas Belanda hanya berani mengejar penjahat sampai di ujung Kembang Jepun. Tidak berani melintasi Kali Pegirikan.

Nah, pada abad ke-19 terjadi eksodus besar-besaran warga Tionghoa ke Surabaya. Selain dari Tiongkok, yang dilanda kelaparan pada masa Dinasti Qing, banyak pula perantau Tiongkok di luar Jawa datang ke Surabaya. Mereka terkena pemutusan hubungan kerja besar-besaran di perusahan tambang.

“Kondisi mereka benar-benar mengenaskan. Kalau kita lihat foto-foto lama, waduh, gak mentolo deh. Para perantau Tiongkok ini melaratnya luar biasa,” kata Lukito Kartono di depan sekitar 70 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia V di Kapasan Dalam, Ahad (10/10/2010).

Pada 1870, di Batavia, terjadi pembunuhan terhadap warga Tionghoa oleh aparat Hindia Belanda karena dituduh ikut membantu gerakan pemberontak. Maka, banyak warga Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) hijrah ke Surabaya. Tentu saja, Surabaya kewalahan menghadapi kedatangan warga Tionghoa dalam jumlah besar ini. Apalagi, kawasan pecinan lama di Kembang Jepun dan sekitarnya sudah padat.

Menurut Lukito, orang-orang Tionghoa itu meminta bantuan Mayor The Goan Tjing agar diberikan tempat tinggal. Berkat jasa Mayor The, para pendatang Tionghoa itu diizinkan babat alas alias membuka hutan di Kapasan. Lalu, dibuatlah perumahan sederhana dan instan ala rumah-rumah bedeng. Bangunan memanjang, disekat-sekat, kemudian ditempati banyak orang.

“Maka, kampung Kapasan Dalam ini punya ciri khas rumah-rumah panjang, banyak kamar. Sangat sederhana. Cuma sekarang tinggal beberapa rumah tua yang tersisa. Yang lain sudah dibongkar dan dibangun baru,” jelas Lukito sembari menunjuk sejumlah bangunan lama khas Kapasan Dalam.

Karena para pendatang Tionghoa ini tak punya uang, Mayor The Goan Tjing memberikan pinjaman uang bagi para perantau di Kapasan untuk modal usaha. Tapi tak mudah membuka usaha kecil-kecilan pada zaman sulit di permulaan abad ke-19. ada sejumlah warga Tionghoa yang sukses di Kapasan, khususnya di pinggir jalan raya, tapi jauh lebih banyak yang tinggal miskin.

Penghuni rumah panjang di gang-gang ini bekerja sebagai kuli bangunan, pelayan toko, tukang jahit, tukang pangkas, tukang jam, dan sebagainya. (rek/bersambung)



Napak Tilas Kampung Kapasan (3)

Sebagai kampung yang kerap menjadi tempat persembunyian penjahat, warga Kapasan tempo doeloe giat berlatih ilmu bela diri ala Tionghoa. Maka, Kapasan pernah terkenal sebagai kampung kungfu.

Oleh LAMBERTUS HUREK


PENGHUNI rumah-rumah panjang di Kapasan Dalam umumnya warga Tionghoa kelas menengah ke bawah. Kehidupan ekonomi mereka senen-kemis. Pas-pasan. Ada yang jadi kuli bangunan, penjaga toko, tukang jahit, tukang pangkas, tukang jam, hingga tukang pukul.

Kepiawaian buaya-buaya Kapasan bermain kungfu membuat banyak pemuda dari kawasan Surabaya Timur ini dipercaya sebagai penjaga keamanan, tukang pukul, dan pengawal rumah-rumah judi. Pada era Hindia Belanda, bisnis judi memang tumbuh subur dan dibiarkan saja oleh pemerintah kolonial.

Nah, bandar-bandar judi di Surabaya biasanya meminta tenaga pengawal alias body guard dari Kapasan Dalam. “Kampung Kapasan ini memang dulu punya banyak tokoh-tokoh silat. Kami sering mendengar cerita tentang sepak terjang mereka dari mulut ke mulut,” tutur Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, yang memandu sekitar 70 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia V, Ahad (10/10/2010) lalu.

Jejak keberanian arek-arek Kapasan bahkan masih terasa hingga tahun 1970-an. Saat itu para pemuda Kapasan punya tim basket yang disegani di Kota Surabaya. Mereka punya lapangan bagus di belakang lokasi Kelenteng Boen Bio sekarang.

Ketika ada pertandingan basket antarklub atau antarkampung, baik pemain maupun suporter klub asal Kapasan sangat disegani lawan-lawannya. Bukan hanya karena kehebatan bermain basket, tapi perilaku mereka yang suka berkelahi. Gara-gara alasan sepele, misalnya lawan bermain kasar, arek-arek Kapasan tak segan-segan memamerkan jurus kungfunya.

“Ya, baku hantam. Mereka hanya ingin agar lawan-lawan main basket secara sportif. Jangan menggunakan cara-cara yang melanggar sportivitas,” kenang Gunawan seraya tersenyum lebar.

Lukito S. Kartono, pakar arsitektur dari Universitas Kristen Petra, menambahkan, kekhasan Kapasan juga bisa dilihat dari model arsitektur rumah-rumah panjang serta pagarnya. Pagar-pagar rumah tua di Kapasan, seperti disaksikan Radar Surabaya, sangat rendah. Hanya setinggi pinggang orang dewasa.

Menurut Lukito, pagar rumah-rumah lama di Kapasan macam ini karena penghuninya tidak khawatir dengan gangguan keamanan dari luar. Tempo doeloe tak ada penjahat yang berani beroperasi di kampung Kapasan.

“Menyebut nama Kapasan saja orang sudah segan,” kata Lukito. (rek/bersambung)

Napak Tilas Kampung Kapasan (4)
Citra Kampung Kungfu Meredup sejak Orde Baru

Seiring perjalanan waktu, citra Kapasan sebagai kampung kungfu perlahan-lahan mulai surut. Tak ada lagu jawara-jawara kungfu yang tempo doele bikin keder kampung-kampung lain di Surabaya.


ADA dua nama yang masih diingat betul oleh Antonius Gunawan Djajaseputra, tokoh masyarakat Kapasan Dalam, yang memandu peserta Melantjong Petjinan Soerabaia V, Ahad (10/10/2010) lalu. Yakni, Tjan Mien Hwat (almarhum) dan Tjhing Hay.

Dulu, ketika masih muda, menurut Gunawan, Tjan Mien Hwat dikenal sebagai pemain kungfu yang sangat disegani di Kota Surabaya. Skill-nya yang luar biasa membuat dia dengan mudah menaklukkan lawan-lawannya.

Pada 1970-an, Mien Hwat yang tinggal di Kapasan Dalam Gang II membuka perguruan untuk melatih anak-anak muda di kampung Tionghoa lama ini ilmu bela diri khas Tionghoa: kungfu. Karena kampung ini sempit, rumah berdempet-dempetan, mereka kerap berlatih di jalan. Latihan dilakukan secara terbuka.

“Tapi, setelah beliau memasuki usia senja, proses regenerasi tidak ada lagi. Apalagi, situasi politik saat itu memang kurang kondusif untuk perkembangan tradisi dan seni budaya Tionghoa,” tutur Gunawan yang bernama asli Lauw Soen Gwan ini.

Adapun Tjhing Hay memutuskan untuk menekuni ilmu pengobatan tradisional Tionghoa. Pendekar Kapasan Dalam ini bahkan pindah ke kawasan Sidotopo. “Beliau fokus mengobati pasien-pasiennya yang memang sangat banyak. Bahkan, banyak orang nggak tahu kalau beliau itu mantan pesilat kungfu yang sangat terkenal,” tutur Gunawan seraya tersenyum.

Hilangnya jejak perguruan silat (kungfu) di Kapasan Dalam ini, menurut Gunawan, tak lepas dari kebijakan politik rezim Orde Baru. Segala sesuatu yang berbau Tionghoa, bahkan aksara dan bahasa Tionghoa, pun tidak bisa digunakan secara terang-terangan. Begitu juga aneka kesenian khas Tionghoa macam barongsai, liang-liong, wayang potehi, hingga kungfu.

Masyarakat Tionghoa di Kapasan Dalam memilih tiarap dengan tidak lagi berlatih seni bela diri klasik asal daratan Tiongkok itu. “Daripada berurusan dengan aparat, ya, orang-orang lebih baik memilih aman,” ujar Gunawan.

Tokoh masyarakat Kapasan yang lahir di Kapasan Dalam I/40 pada 26 April 1951 ini menambahkan, kungfu maupun olah raga bela diri lain seperti silat sama sekali tidak dimaksudkan untuk berkelahi atau menakut-nakuti orang lain. Juga tidak untuk pamer bahwa seseorang itu lebih hebat ketimbang orang lain.

“Kungfu itu seni bela diri, bagian dari kebudayaan Tionghoa,” tegasnya. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 13, 14, 15 Oktober 2010

Gatot Hartoyo dan PD Sidoarjo



Nama Gatot Hartoyo tak bisa dipisahkan dari dunia anak muda Sidoarjo. Dialah yang pertama kali mendirikan perisai diri (PD) serta memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia Sidoarjo.

Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK



MASUK ke Sidoarjo tahun 1960-an, Gatot Hartoyo melihat anak-anak muda di Kabupaten Sidoarjo kurang kegiatan. Waktu itu, jangan lupa, belum ada televisi yang menjamur, tempat-tempat hiburan, serta aktivitas untuk anak muda. Karena itu, Gatot Hartoyo merasa perlu melakukan sesuatu agar anak-anak muda Sidoarjo tidak tergoda untuk berbuat onar.

Akhirnya, tahun 1967 Gatot Hartoyo memulai kegiatan olah raga perisai diri (PD) di Sidoarjo. Betapa kagetnya Gatot, saat pembukaan PD antusiasme remaja Sidoarjo sangat tinggi. Sedikitnya 150 orang bergabung. "Paling banyak pelajar SMP dan SMA," papar Gatot kepada saya di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, kepada saya beberapa waktu lalu.

Antusiasme anak muda yang luar biasa ini membuat Gatot bertambah semangat. Dibantu beberapa asisten, Gatot secara teratur menggelar latihan PD di kantor Pengadilan Negeri Sidoarjo, Jalan Jaksa Agung Suprapto, petang hari. Warga Sidoarjo sejak 1970-an hingga 1980-an praktis mengidentikkan PN Sidoarjo dengan latihan bela diri, PD. Seakan-akan PD itu bagian dari aktivitas PN Sidoarjo.

"Kebetulan kita dikasih pinjaman oleh pihak PN. Dan ini membuat latihan-latihan PD di Sidoarjo berjalan dengan baik," tutur pria kelahiran 23 November 1945 itu.

Secara kebetulan, Gatot Hartoyo bertugas sebagai pegawai negeri sipil di PN Sidoarjo. Mengetahui talenta Gatot di rimba persilatan, khususnya PD, sang ketua PN pun tak segan-segan meminjamkan teras dan halaman kantor untuk latihan PD. Di pihak lain, warga pun dengan senang hati meminjamkan halaman atau lapangan untuk latihan olah raga, seni, dan sebagainya.

Ibarat mainan baru, latihan PD di PN Sidoarjo bergaung ke seluruh Kabupaten Sidoarjo. Anak-anak muda meminta didaftar sebagai anggota. Maka, setiap enam bulan Gatot Hartoyo membuka pendaftaran anggota baru. Rata-rata peminatnya di atas 100 orang. Begitu seterusnya antusiasme anak-anak muda Sidoarjo. Jangan heran, sebagian besar anak muda pada 1970-an hingga awal 1980-an menguasai ilmu bela diri, khususnya silat, dengan baik.

"Di semua pedukuhan ada PD. Latihan di mana-mana, dan ini membuat PD berkembang sangat pesat di Kabupaten Sidoarjo," tutur pria yang juga kolektor berbagai benda antik di padepokannya. Tak sedikit pejabat Sidoarjo yang ikut latihan PD di bawah bimbingan Gatot Hartoyo.

"Tapi nama-nama mereka jangan ditulis. Nggak enaklah."

Olah raga dan seni PD mula pertama didirikan RMS Dirdjoatmodjo, pendekar silat asal Surakarta. PD merupakan kombinasi antara olah raga, seni, serta budaya leluhur. Nilai-nilai moral, budaya, agama, kesehatan, ditanamkan secara mendalam di PD.

"Jadi, bukan untuk gagah-gagahan. Yang gagah-gagahan, mentang-mentang, sok, itu tidak diajarkan di perisai diri," jelasnya.

Nah, anak-anak muda Sidoarjo yang masuk PD ditempa habis-habisan dengan latihan dan disiplin ketat sehingga kontrol diri mereka terjaga. Hasilnya bisa dilihat dalam kehidupan anak-anak muda sehari-hari di Kabupaten Sidoarjo. Waktu itu jarang terdengar (bahkan hampir tidak ada) tawuran antarpelajar. Apalagi, tawuran pakai senjata tajam yang membuat nyawa terancam.

Yang ada, kata Gatot Hartoyo, pertarungan di antara anak-anak PD maupun kelompok persilatan lain seperti Tapak Suci atau Setia Hati. (Tapak Suci dan Setia Hati baru muncul di Sidoarjo setelah PD pimpinan Gatot Hartoyo.)

Fenomena tawuran antarpelajar ini terjadi karena berbagai alasan. Namun, sebagai pelopor bela diri, Gatot mengaitkan dengan merosotnya seni bela diri di Indonesia sejak akhir 1980-an.




Kenapa Gatot Hartoyo begitu getol membuka, membina, dan mengembangkan seni Perisai Diri (PD) di Sidoarjo? Tak lain karena dia sangat mencintai budaya bangsa Indonesia. "Silat itu khasanah budaya yang harus dilestarikan!" katanya.

DI zaman perjuangan, kenang Gatot Hartoyo, peranan pendekar-pendekar silat dalam melawan penjajah maupun antek-antek Belanda sangat terasa. Bermodalkan tangan kosong, kemampuan silat, kaum penjajah bisa dibungkam dengan mudah. Ini membuat Belanda tidak akan berani mendekati kaum pejuang kalau tidak dibekali senjata api.

"Kenapa? Karena silat kita itu memang bersifat mematikan. Ada teknik-teknik untuk mematikan lawan kalau dia benar-benar musuh seperti penjajah. Semua silat Indonesia bersifat mematikan," terang Gatot Hartoyo.

Negara-negara asing, khususnya yang pernah menjajah Indonesia, sadar benar kekuatan teknik silat itu. Akhirnya, dengan berbagai cara mereka berusaha 'memandulkan' silat khas Indonesia. Jurus silat yang mematikan, killing punch, diredam dengan jurus yang canggih. Caranya, kata Gatot, silat dijadikan salah satu cabang olahraga, dipertandingkan di event-event seperti PON (Pekan Olahraga Nasional) hingga event internasional.

"Tokoh-tokoh IPSI sih senang saja. Padahal, saya dan teman-teman sejak tahun 1970-an sudah mengingatkan bahwa ini merupakan taktik untuk melumpuhkan silat, seni bela diri khas Indonesia," tutur Gatot.

Nah, agar bisa dipertandingkan dengan event-event olahraga, unsur mematikan harus dihilangkan sama sekali dari silat. Ibarat ular kobra yang dihilangkan bisanya, atau harimau ompong. Akhirnya, silat memang masuk PON, berbagai kejuaraan, tapi kehilangan keunggulannya sebagai wahana perjuangan dan khasanah budaya. Silat pun jadi banci.

"Sampai sekarang saya tidak setuju silat itu dipertandingkan seperti di PON dan sebagainya. Sifatnya berbeda dengan tinju atau gulat yang merupakan olahraga murni. Hanya dua itu yang bisa dipertandingkan," kata Gatot Hartoyo, yang juga mantan ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sidoarjo.

Ketika 'bisa' atau roh silat sudah dicerabut secara sistematis, papar Gatot Hartoyo, masuklah seni bela diri asing ke Indonesia. Mulai dari judo, karate, tae kwon do, dan belakangan ini wushu. Pertandingan-pertandingan silat yang biasanya digelar intern antarperguruan, kompetisi rutin, kini bisa dilihat masyarakat luas di TVRI.

Di sinilah masyarakat, khususnya anak-anak muda, kecewa melihat gerakan silat yang begitu-begitu saja. Keindahan gerakan silat tinggal sedikit. Sejak itulah anak-anak muda, termasuk di Sidoarjo, ramai-ramai menyebar ke berbagai seni bela diri baru (asing) seperti karate, judo, dan seterusnya. Silat bukan lagi bela diri favorit, bahkan terpinggirkan.

"Akhirnya, peminat Perisai Diri dan perguruan silat lain merosot di Sidoarjo. Mula-mula sedikit, kemudian makin besar, sehingga anggota PD tinggal sedikit," tutur Gatot Hartoyo.

Kemunduran bela diri silat itu sangat terasa sejak 1980-an. Kalau dulu di setiap dusun [pedukuhan] ada kelompok PD, kini hanya tinggal sejarah. Gatot sendiri sudah pensiun sebagai PNS di PN Sidoarjo, instansi yang berjasa besar dalam mengembangkan PD di Kabupaten Sidoarjo.

Zaman memang berubah. Anak-anak muda sudah banyak dicekoki hiburan dari televisi (channel begitu banyak, dulu hanya TVRI), play station, aneka games, telepon seluler, internet, Facebook, serta serbuan budaya asing. Silat serta khasanah budaya asli Jawa (Indonesia) malah dianggap sebagai barang asing yang tidak perlu dilestarikan.

"Kalau begini terus, kita akan kehilangan jati diri," ujarnya, gundah.

Gatot Hartoyo memang tak tahan lagi hidup di kota Sidoarjo. Sejak beberapa tahun terakhir ia menyingkir ke lereng Gunung Penanggungan dan membuka sebuah padepokan di sana. Sang pendekar kembali ke gunung!

Sumber: RADAR SURABAYA 18 dan 19 Juni 2005.

13 October 2010

Budaya NTT Hambat Bisnis



Pernah membaca PANJEBAR SEMANGAT? Saya kebetulan rutin membaca majalah mingguan berbahasa Jawa ini. Sekalian memperbaiki kualitas bahasa Jawa saya, khususnya yang krama inggil, plus lebih memahami pernik-pernik budaya Jawa.

Salah satu kolom di PANJEBAR SEMANGAT yang tak pernah saya lewatkan adalah tulisan Suprawoto. Dia staf ahli Menteri Komunikasi dan Informasi. Dulu, Pak Prawoto pejabat penting di Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Cara bertutur Pak Prawoto asyik. Bahasa Jawanya pun mudah dipahami. Kata-kata sulit, arkais, jarang dipakai. Pak Prawoto menyentil lewat cerita. Kritiknya tidak langsung, tapi terasa, bagi yang punya perasaan. Kritikan halus khas Jawa.

Tumben, di PANJEBAR SEMANGAT edisi 16 Oktober 2010, Pak Prawoto membahas kunjungannya selama seminggu di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Provinsi saya. Pak Prawoto menginap di Hotel Kristal, dekat pantai. Dia menulis:

“Yen bengi nyawang segara saka Hotel Kristal, katon para nelayan golek iwak. Prau lan kapal katon nganggo lampu kang pating krelip ana ing laut. Ana prau kang mung lampune siji. Lan ana prau kang lampune akeh....”

Pak Prawoto mengaku senang menikmati ikan bakar di Kupang yang rasanya wuenaak tenan. Ikannya segar-segar. Bukan ikan yang disimpan lama di kulkas. Tapi dia sedih karena nelayan asli NTT hanya bisa mencari ikan dengan perahu-perahu kecil. Sementara perahu-perahu besar, yang lampunya banyak, milik orang luar.

Bukan itu saja. Di depot ikan bakar, orang-orang NTT hanya sekadar menjadi tukang bakar ikan. Pekerja rendahan. Sedangkan pemilik atawa si juragan orang luar NTT: Manado, Bugis, Jawa, Padang, Tionghoa, dan sebagainya. Mengapa bisa begitu?

“... pancen warga NTT kurang nduweni jiwa bisnis. Lan maneh budayane wong NTT kurang ndhukung cara-cara bisnis,” tulis Pak Prawoto setelah omong-omong dengan teman lamanya yang kerja di Kupang. Pejabat-pejabat setempat juga bilang begitu.

Leres, Pak!

Anda benar sekali! Jiwa bisnis itu memang belum dipunyai orang NTT yang meliputi Pulau Flores, Timor, Sumba, Alor, Lembata, Adonara, Solor, Rote, Semau, dan pulau-pulau kecil di sana. BUDAYA lokal yang menekankan EXTENDED FAMILY sulit mendukung bisnis apa saja.

Karena itu, sejak dulu hanya orang-orang Tionghoa yang bisa berbisnis dan maju pesat. Sementara orang-orang NTT [asli] tetap tertinggal di landasan. Orang-orang NTT hanya berlomba-lomba menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Apa pun dilakukan asalkan bisa jadi pegawai. Korupsi, kolusi, nepotisme terjadi.

Para pejabat mulai yang rendah hingga tinggi, camat, bupati, gubernur... cenderung mendahulukan ‘orang-orangnya’, sanak keluarganya di kampungnya, untuk diangkat PNS. Kalau orang Rote jadi gubernur, alamat banyak orang Rote yang diangkat sebagai PNS. Orang Adonara gubernur, maka ramai-ramailah orang Adonara menduduki pos-pos penting di kantor pemprov.

Ada-ada saja akal untuk mem-PNS-kan sanak keluarga si pejabat. Ada cara halus, sedang, hingga kasar. Bagaimana kalau si pejabat itu tidak mau ‘mengangkat’ sesama orang dari kampungnya sebagai PNS atau menduduki jabatan penting? Mengutip tulisan Pak Prawoto, sistem keluarga batih [extended family] itu akan membuat si pejabat serba salah. Bisa dimusuhi orang-orang kampungnya. Dianggap sebagai pejabat yang lupa asal-usul. Kacang lupa kulit.

Konsep EXTENDED FAMILY yang berlebihan, bukan KELUARGA INTI seperti di Jawa, membuat KKN [korupsi, kolusi, nepotsime] sangat subur di bumi NTT. Pejabat-pejabat mana pun dipaksa korupsi demi menjaga sistem EXTENDED FAMILY. Seorang gubernur NTT yang asli Adonara, misalnya, akan dimaki-maki ketika berada di Pulau Adonara manakala dia ‘mengabaikan’ putra-putra Adonara.

Begitu pula kalau gubernurnya orang Alor, Sumba, Rote, Timor, dan seterusnya. Makanya, ada baiknya juga sekali-sekali orang Jawa atau Sunda atau Batak dijadikan gubernur NTT. Potensi KKN tetap saja ada, tapi tak akan separah ketika gubernur atau bupati atau wali kotanya ‘putra daerah’.

Mengapa orang NTT yang dilihat Pak Prawoto hanya jadi tukang bakar ikan? Mana majikan depot atau restoran yang asli NTT? EXTENDED FAMILY kurang mendukung, bahkan sangat tidak mendukung bisnis di NTT.

Pak Prawoto menulis:

“La yen bisnis apa-apa genah ana etungane. Utang ya utang, tuku ya tuku. Lan kabeh wis kudhu nyadari, lan ya kudu mengkono yen ana ing donyaning bisnis.”

Prinsip dasar berbisnis ini yang belum dipahami orang NTT yang budayanya EXTENDED FAMILY: keluarga besar, fam, marga, kampung, adat istiadat. Orang NTT, seperti disentil Pak Prawoto, sulit membedakan UTANG atau TUKU [membeli]. Utang harus dibayar agar cashflow tetap lancar. Membeli, ya, pakai uang. Ada uang, ada barang!

Seandainya depot ikan bakar itu dibuka di pelosok Lembata, misalnya, orang akan ramai-ramai datang, makan, ngobrol santai. Plus tidak lupa minum tuak atau sedikit arak sampai sedikit ngeliyeng. Badannya oleng, akal sehat mulai miring. Pulanglah ama-ama, opu-opu, kaka-ari....

Tidak bayar atau LUPA bayar! “Ah, kita kan masih keluarga. Kakekmu itu saudaranya kakek saya. Kita punya hubungan sangat erat,” begitu kira-kira dalih para pengunjung warung yang ngemplang itu.

Sangat sulit menagih utang karena kaburnya batasan antara UTANG, TUKU, NJALUK [minta], HIBAH [sumbangan]. Orang-orang NTT [umumnya] hanya ingin menikmati sesuatu tanpa bayar hanya karena EXTENDED FAMILY itu tadi. Ah, daripada merusak hubungan di antara keluarga besar, sesama orang kampung, warung yang baru dirintis itu ditutup saja. Bisnis pun rusak.

Jika engkau diminta uang Rp 1 juta atau Rp 500.000 untuk acara pesta atau biaya rumah sakit, jangan pernah berharap uang itu dikembalikan. Lha, wong sing njaluk iku ndlulur dhewek, dhulur sing wis wuadooh.. banget!

Hingga 1990-an, setahu saya di Flores Timur dan Lembata, tidak ada warga asli yang buka warung, apalagi restoran, di Larantuka atau Lewoleba. Bisnis makanan atau minuman sangat berisiko. Sudah kolaps, hubungan kita dengan keluarga pun dipastikan rusak.

Di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, hingga 1990-an, saya hanya melihat warung atau restoran Padang di Jalan Niaga, kemudian di depan alun-alun Bale Gelekat Lewotanah, dan restoran terang bulan milik Baba Icih. Kalau Larantuka yang jauh lebih maju saja tak ada orang kampung berbisnis, apalagi daerah-daerah pelosok.

Syukurlah, di beberapa tempat wisata di Kupang macam Pantai Lasiana, Pantai Pasirpanjang, atau kawasan Pelabuhan Tenau, saya melihat sudah ada banyak orang Rote atau Timor yang berjualan kelapa muda, pisang goreng keju, dan makanan kecil lainnya. Orang sudah mulai bisa membedakan UTANG, MEMBELI, dan MEMINTA.

Saat ini penduduk NTT berjumlah 4,7 juta jiwa. Menurut Gubernur Frans Lebu Raya, sekitar 23 persen masih tergolong keluarga miskin. NTT juga menjadi provinsi penyumbang keluarga miskin terbesar di Indonesia. Sudah banyak usaha, juga retorika, untuk mengikis angka kemiskinan di NTT.

Namun, persoalan pokok masih tetap berhubungan dengan budaya EXTENDED FAMILY dan ketiadaan jiwa bisnis. Soal entrepreneurship! Mengapa begitu? Sekali lagi, mengutip catatan Pak Prawoto:

“Manut para winasis, negara iku bakal cepet maju yen wargane luwih akeh kang nduweni JIWA BISNIS dibandingkan JIWA PEGAWE!”

Leres, Pak!