29 September 2010

Terminal Kupang yang Aneh



Orang Surabaya akrab dengan tiga terminal bus dan angkutan kota (angkot): Purabaya alias Bungurasih, Joyoboyo, dan Yosowilangun. Ketiga terminal ini menempati areal yang luas. Ada ruang tunggu, kantor terminal, petugas keamanan, konter-konter pedagang, dan sebagainya.

Terminal Purabaya di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, paling besar dan modern di Jawa Timur. Bahkan, Terminal Purabaya ini disebut-sebut paling hebat dibandingkan terminal serupa di Jakarta. Dulu, saya sering cangkrukan sambil ngopi dengan Pak Atim Pribadi, pengurus paguyuban PKL (pedagang kaki lima) di Bungruasih.

Asyik juga melihat ribuan penumpang berseliweran di Bungurasih. Tapi, awas, tempat-tempat ramai macam ini selalu ramai penjahat. Pencopet, tukang gendam, makelar bus, gelandangan, pengemis, hingga kaki tangan germo berkeliaran.

Nah, konsep terminal bus/angkot ini ternyata tidak berlaku di Kupang. Orang Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat mengagumi Kupang, ibu kota Provinsi NTT, kota kecil yang penuh karang. Lahannya tandus, dekat pantai, penuh karang berukuran raksasa. Kalau mau bikin rumah, bangunan, atau menggali sumur, Anda harus bisa menghadapi karang-karang keras itu.

"Bung, ketong su sampe di terminal. Silakan Bung turun," kata kernet angkot di Kupang kepada saya.

"Terminalnya mana?" tanya saya.

"Di sini," kata kernet.

"Di sini ko?"

"Ya, di sini!" balas si kernet agak ketus.

Yang disebut TERMINAL versi masyarakat Kupang itu tak lain tempat akhir rute angkot dari berbagai penjuru. Lokasinya asyik juga, di pinggir pantai. Setiap petang banyak pedagang dadakan menjual jagung bakar dan makanan kecil. Tak jauh dari situ ada hotel, kafe, dan warung internet yang asyik.

Lantas, di mana gedung terminal itu? Tidak ada. Pun tak ada petugas yang memungut retribusi. Yang ada cuma para kernet berlomba-lomba mencari penumpang. Ada yang teriak menyebutkan lampu berapa, tujuan, bahkan minta agar angkotnya dicarter.

"Ke Tenau (pelabuhan) cuma 20.000, Bung," kata sang sopir.

Ah, angkot kok jadi kendaraan carter, justru di terminal sebuah ibu kota provinsi? Apa saya tidak salah dengar? Kok tidak ada petugas dinas perhubungan pemkot yang mengurus? Tidak ada polisi lalu lintas? Serba liar begitu?

Saya tertegun saat berada di kawasan Terminal Kupang [istilah 'terminal' di sini kurang tepat sebetulnya]. Sambil menikmati es degan [kelapa muda], pikiran saya melayang ke Jawa, khususnya Jawa Timur. Ironis, Kupang yang ibu kota provinsi, dengan angkot yang banyak dan bagus dan full music, ternyata belum punya terminal yang benar-benar terminal. Padahal, provinsi NTT ini dibentuk sejak 20 Mei 1958. Artinya, sudah 52 tahun.

Mengapa kok pemerintah setempat tak punya inisiatif membuat terminal yang sederhana dan murah? Terminal sederhana seperti di kota-kota kecil di Jawa Timur macam Kediri, Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, Pacitan, atau Jember? Begitu mahalkah bikin terminal sehingga selama 52 tahun tak ada 'peradaban' terminal di NTT?

Kalau tidak ada terminal beneran di Kupang, lantas bagaimana calon penumpang yang hendak berangkat ke luar kota seperti Soe, Atambua, Kefamenanu, atau Timor Leste? Bus-bus yang di Jawa disebut AKDP [Antar Kota Dalam Provinsi] dan AKAP [Antar Kota Antar Provinsi] parkir di mana?

Jawaban dari beberapa warga Kupang mengejutkan saya. "Gampang sekali! Bung tinggal tunggu di rumah, dan bus-bus itu datang langsung ambil Anda di alamat yang sudah disebutkan. Di Kupang, orang tidak membutuhkan terminal bus macam di Jawa!" kata seorang temanku.

Saya hanya bisa tersenyum geli. Bus-bus antarkota nyamperin calon penumpang di rumah. Hehehe....

Saya pun teringat pengalaman di pelosok Pulau Flores dan Lembata. Praktik seperti ini memang sudah biasa dilakukan sejak 1970-an. Eh, ternyata sampai hari ini, 2010, di Kota Kupang pun masih berlaku. Kapan pemerintah setempat mau mencontoh sedikit saja terminal-terminal sederhana di Jawa?

Bukankah pejabat-pejabat NTT sangat senang jalan-jalan ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, bahkan luar negeri?

2 comments:

  1. setahu saya ada satu terminal di kupang... terminal oebobo yang menjadi terminal bis antar kota.....

    ReplyDelete
  2. Apa benar Kupang butuh terminal? kalau tidak, untuk apa membuat sesuatu yang akan menimbulkan beban biaya saja? nanti penumpang dan supir yang menderita karena ongkos dinaikan untuk membayar macam2 retribusi. Membaca deskripsi diatas, tampaknya di Kupang lebih nyaman drpd kota-kota besar dgn terminalnya.

    ReplyDelete