24 September 2010

SIGNIS Asia Assembly 2010 di Surabaya



Studio Radio SSFM, Aini lagi siaran. Beberapa peserta Signis Asia Assembly melihat dari dekat Radio SSFM yang terkenal di Jawa Timur itu.

Selama satu minggu, sekitar 60 peserta dari 13 negara mengikuti Signis Asia Assembly 2010 di Hotel Santika Surabaya. Di sela jadwal pertemuan yang padat, para peserta diajak jalan-jalan ke SDK Santa Theresia dan beberapa objek wisata di Surabaya dan Sidoarjo.

SDK Theresia dinilai sukses mempertahankan prestasi sebagai the green school. Beberapa kali, sekolah Katolik yang berlokasi di Jalan Residen Sudirman 5 Surabaya ini meraih penghargaan tingkat nasional dan internasional. Di antaranya, penghargaan Adiwiyata dari presiden serta Clean Up The World Our Earth dari United Nations Environment Program (UNEP).

“Kita sengaja mengajak para peserta dari berbagai negara untuk melihat dari dekat keadaan di Surabaya dan sekitarnya. Outing ini merupakan salah satu agenda penting dalam Signis Asia Assembly kali ini,” ujar RD Boedi Prasetijo, presiden Signis Asia, yang juga penanggung jawab even bergengsi ini.

Dari SDK Theresia, rombongan diajak ke lokasi semburan lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo. Sesuai dengan tema pertemuan, Cultivate Peace, Protect Creation, para aktivis yang bergerak di bidang pelayanan media massa Katolik ini melihat dari dekat bencana lingkungan hidup yang telah berlangsung selama empat tahun itu.

Tak sedikit peserta kaget melihat begitu dahsyatnya dampak semburan lumpur Lapindo itu. Sekitar 600 hektare lahan rusak, ribuan rumah terkubur, dan puluhan ribu warga terpaksa menjadi pengungsi. Kasus lumpur Lapindo ini menjadi bahan renungan semua pihak untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup di mana pun dia berada.

Selepas makan siang di Restoran Dewandaru, Jalan Mayjen Sungkono, peserta dipandu Errol Jonathans meninjau studio Radio Suara Surabaya di Jalan Wonokitri Besar 40-C Surabaya. Direktur Operasional Suara Surabaya Media itu menjelaskan secara gamblang manajemen media-media di bawah payung Suara Surabaya Media.

“Di sini selain studio Radio Suara Surabaya, ada Radio Giga FM. Radio Giga ini sengaja dibuat untuk melayani audiens perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Kaum perempuan memang perlu dilayani secara khusus,” kata Errol Jonathans disambut tepuk tangan para tamunya.

Selanjutnya, para peserta Signis Asia Assembly, yang kebanyakan produser film dokumenter dan pembuat paket mimbar agama Katolik di berbagai televisi itu menggali informasi seputar kiat-kiat Errol Jonathans yang sukses mengembangkan Radio Surabaya. Para peserta, khususnya yang dari daerah, mengaku kagum melihat studio Radio SS yang sangat canggih dan serbadigital.

“Sekarang ini pendengar tak hanya mendengar suara penyiar, tapi juga bisa melihat langsung wajah broadcaster yang sedang siaran,” kata Errol yang juga menjadi salah satu pembicara dalam Signis Asia Assembly di Surabaya.

No comments:

Post a Comment