17 September 2010

Herman Benk pelukis kesepian




SEJAK dulu Herman Handoko Sukamto [58 tahun], yang lebih dikenal dengan Herman Benk atau Pak Benk, konsisten memilih jalan yang berbeda dengan perupa umumnya. Tinggal di rumah bertembok tinggi di kawasan Waru, Sidoarjo, Pak Benk adalah seniman kesepian. Dia cenderung ‘mengambil jarak’ dengan sesama pelukis, ‘bertapa’, banyak membaca buku-buku filsafat, berefleksi, kemudian berkarya.

Ketika banyak pelukis senior menjadi ‘mantan pelukis’, karena lama tidak berkarya, bolak-balik memamerkan lukisan-lukisan lawas, Pak Benk berkarya setiap hari. Berkesenian, bagi mantan pekerja seni pembuat poster bioskop di Surabaya ini, sama pentingnya dengan makan, minum, tidur, membaca, atau menyimak Bedah Editorial di Metro TV.

Dalam berbagai kesempatan, Pak Benk menegaskan bahwa seorang seniman lukis seperti dirinya tidak membutuhkan banyak modal untuk menghasilkan karya. Tak perlu uang banyak. Tak perlu kanvas, cat minyak, akrilik, dan sebagainya. Cukup kertas bekas, bolpoin atau spidol sederhana, koran bekas, atau barang-barang bekas yang dibuang di bak sampah depan rumahnya.

Herman Benk sangat peka pada isu-isu IPOLEKSOSBUDHANKAM [meminjam istilah tentara pada era Orde Baru] yang dia serap lewat televisi, koran, majalah, buku-buku, atau hasil obrolan ngalor-ngidul di warung kopi. Ketika mendapat informasi sosial politik, Pak Benk biasanya resah. Secara spontan otaknya langsung memproses. Kemudian, lahirlah sketsa, karikatur, coret-coretan abstrak, atau komentar-komentar pendek.

Suatu ketika, Pak Benk meramu informasi-informasi sosial politik ini dengan anatomi tubuh manusia. Hasil corat-coret sekenanya ini kemudian dia pamerkan di Rumah Budaya Pecantingan, Sidoarjo. Dia tak begitu peduli bahwa Pecantingan bukanlah tempat pameran seni rupa yang representatif layaknya galeri profesional. Pak Benk pun tak peduli ketika pameran spontan di Pecantingan ini lebih banyak disaksikan anak-anak kampung Sekardangan di kawasan Lingkar Timur Sidoarjo.

Pak Benk pun cuek saja ketika karya-karyanya dijadikan bahan guyonan sejumlah pelukis atau orang-orang yang selama ini kerap merasa sebagai ‘budayawan’ atau ‘pekerja seni’. “Kalian silakan perhatikan, kemudian renungkan sendiri karena tafsiran setiap orang pasti berbeda-beda.”

Jawaban standar itu disampaikan Herman Benk setiap kali ditanya makna karya-karyanya oleh pengunjung pameran.


*****

DI balik fisiknya yang kerempeng dan terkesan ringkih -- mungkin akibat terlalu banyak ‘minum’ di masa lalu -- Pak Benk punya stamina berkesenian yang dahsyat. Kejutan demi kejutan dibuatnya. Di Museum of Mind, salah satu ruangan di bekas Museum Mpu Tantular Surabaya, Mei 2010, Pak Benk memamerkan 300 kertas koran yang dicorat-coret dengan tinta cina. Corat-coret layaknya orang stres yang 'ngawur'. Tak ada pola baku atau aturan tertentu pada permainan garis Pak Benk.

Nah, ratusan coretan di atas kertas koran bekas itu dijejali di keempat bidang tembok. Apa yang hendak disampaikan kepada penikmat? “Yah, silakan Anda tafsirkan sendiri. Saya hanya berkarya. Apa yang ada di otak saya, hati saya, saya keluarkan,” kata Pak Benk menjawab pertanyaan wartawan.

Para pelukis di Surabaya dan sekitarnya, termasuk yang masuk kategori ‘senior’ sekalipun, mengaku ikut bingung membaca karya-karya Herman Benk. Ketika Pak Benk mencoba sedikit mengelaborasi karya-karyanya yang abstrak dan ‘acak-acakan’ itu, kebanyakan orang mengaku tambah bingung.

“Silakan dinikmati,” katanya lantas tersenyum lebar.

Syukurlah, tak semua orang bingung dengan karya-karya Pak Benk. Beberapa orang Barat, sejumlah akademisi seni rupa, dan musisi ternyata bisa mengapresiasi karya pria yang pernah iseng-iseng mencalonkan diri sebagai bupati Sidoarjo pada 2005 itu. Herry Biola, pemusik biola asal Sidoarjo, bahkan langsung menciptakan komposisi musik setelah menikmati karya-karya Pak Benk selama 30 menit. Hasilnya, komposisi yang abstrak, tapi asyik, ala coret-coretan Pak Benk.


*****

HIDUP itu pilihan. Begitu pula pelukis atau seniman rupa. Ketika banyak rekannya rame-rame mendekati pemilik galeri elite atau melobi manajemen hotel berbintang untuk pameran, dengan harapan beroleh manfaat ekonomi, Pak Benk justru memilih jalan sendiri. Dia tak mau ikut arus. Dia tetap istikamah menghasilkan karya-karya dari bahan yang murah-meriah, tapi bukan murahan.

Di Indonesia, ketika komodifikasi seni rupa merajalela, ketika idealisme semakin dilacurkan, ketika uang menjadi panglima, alhamdulillah, kita masih punya manusia-manusia langka dan berani seperti Herman Benk. Seniman yang sangat berani memilih menjauhi seni rupa arus utama yang menjanjikan kenikmatan hidup.

Yah, Pak Benk berani miskin! (*)

Pameran Herman Benk di MUSEUM DAN TANAH LIAT
Dusun Menayu Kulon
RT. 07 RW07 No. 55b Tirtonirmolo
Bantul, Jogjakarta Indonesia
Mulai 30 September 2010

1 comment: