23 September 2010

Majalah Gratis di Surabaya



Di luar negeri memang banyak majalah atau koran gratis. Masyarakat bisa mengambil media itu di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Majalah atau koran itu bisa gratis karena biaya produksi dan sebagainya sudah ditanggung si sponsor atau pengiklan.

Bagaimana dengan di Surabaya?

Alhamdulillah, kemarin, saya mendapat majalah gratis yang bagus: SURABAYA MEDIA. Majalah terbitan Suara Surabaya Media ini dicetak di atas kertas luks, foto-foto bagus, informasinya pun cukup komplet. Tampak sekali kalau pengelola SURABAYA MEDIA orang-orang profesional.

Di mana-mana yang namanya free magazine hidup dari pasokan iklan. Dan, rupanya, teman-teman di SS Media berhasil meyakinkan pemasang iklan bahwa majalah gratis pun punya potensi pembaca yang besar. Apalagi, majalah ini didukung Errol Jonathans, maestro radio, yang juga piawai dalam mengelola media massa cetak.

Para pemasang iklan juga bisa 'ditaklukkan' dengan nama-nama beken di Kota Surabaya macam Bambang DH (bekas wali kota), Arif Afandi (bekas wakil wali kota), atau Wiwiek Widayati (kepala dinas pariwisata). Isi majalah ini memang banyak bercerita tentang objek wisata di Surabaya, tempat-tempat makan (enak), bakti sosial, tempat main golf, hingga jadwal pesawat terbang.

Akankah SURABAYA MEDIA yang gratisan ini bisa bertahan lama? Kita tunggu saja. Sebab, sebelumnya sudah ada beberapa media gratisan dengan segmen komunitas ternyata keok di tengah jalan. Pasokan iklan, yang merupakan darah media, apalagi gratisan, pelan-pelan tersendat, kemudian mandek sama sekali. Majalahnya mati, sementara wartawan, tukang foto, tukang desain... keleleran ke mana-mana.

Selain SURABAYA MEDIA, saya juga mendapat majalah gratisan dari Dr. Soe Tjen Marching, komponis kontemporer yang lebih dikenal sebagai aktivis perempuan. Soe Tjen bikin majalah gratisan bernama BHINNEKA. Mengapa gratis?

"Orang Indonesia itu sejak dulu suka yang gratis-gratisan. Kalau dijual, meskipun murah, biasanya orang malas membeli majalah," kata Soe Tjen, yangjuga dosen di University of London, Inggris.

Benar juga pernyataan Soe Tjen Marching yang piawai tulis-menulis sejak kecil itu. Tapi sebenarnya BHINNEKA dibagi-bagikan gratis karena memang ada sponsor yang membiayai. Sponsor dari negaranya Ratu Elizabeth sana. Bagaimana kalau suatu ketika sponsor berhenti mendanai karena punya prioritas di tempat lain?

"Ya, saya cari sponsor lain," tegas Soe Tjen.

Yang jelas, dia berkomitmen agar majalah BHINNEKA yang sudah dirintisnya ini terbit terus. Bolehlah tidak teratur terbitnya, karena pasokan dana sponsor incrit-incrit, tapi BHINNEKA jangan sampai matek! Hebat juga semangat Soe Tjen yang sangat kritis dan cerdas ini.

Belakangan saya dengar pasokan dana sponsor untuk BHINNEKA tidak selancar dulu. Soe Tjen, bisa ditebak, tak akan menyerah. Pokoknya terbit, terbit,terbit! Dana harus dicari, diusahakan, dari orang-orang yang peduli isu feminisme, pluralisme, hak asasi manusia, dan sebagainya.

Bagi Soe Tjen, BHINNEKA merupakan ajang untuk menyebarluaskan ide dan pencerahan kepada bangsa Indonesia. Jangan sampai terjadi lagi kasus pembubaran konferensi gay, lesbian, dan kaum minoritas seperti di Hotel Oval Surabaya beberapa lalu. Media cetak, meski makin terpepet oleh banjir informasi di internet, dirasa tetap penting di masa sekarang. Masih punya kekuatan!

Saya salut sama orang-orang idealis, berani, pantang menyerah di Surabaya macam Errol Jonathans atau Soe Tjen Marching. Mereka membuktikan bahwa menerbitkan majalah gratis sama sekali bukan mimpi.

Semoga SURABAYA MEDIA dan BHINNEKA diberi umur panjang!

1 comment:

  1. Sudah lama nggak mampir di blog bang Hurek :)
    Apa kabar bang? Saya juga suka majalah gratisan, tapi bukan penggemar. Karena biasanya majalah gratisan itu penuh iklan (wajar saja, karena mereka yang bayar. Hehehe) Saya lebih memilih buku atau novel saja.
    Di Medan juga ada beberapa majalah gratis yang biasanya diterbitkan oleh komunitas tertentu. Majalah jenis ini umumnya bisa didapat dari kafe/restoran tertentu.

    Horas, bang Hurek :)

    ReplyDelete