06 September 2010

Mahasiswa Indonesia di Tiongkok



Soe Tjen lagi ngajar mahasiswa di Universitas Huaqiao, Xiamen, Tiongkok.



Sejak 10 tahun terakhir, ribuan mahasiswa Indonesia belajar di berbagai perguruan tinggi di Negeri Tiongkok. Sebagian menikmati beasiswa, sebagian lain dibiayai sendiri oleh orang tuanya. Bahkan, ada pula yang bekerja sambil kuliah.

Dr. SOE TJEN MARCHING, dosen University of London, Inggris, belum lama ini mengunjungi asrama mahasiswa Indonesia di Xiamen, Tiongkok. “Saya mampir ke asrama mereka setelah sempat memberi kuliah di Universitas Huaqiao. Saya ingin lihat kondisi mahasiswa kita di Tiongkok itu kayak apa,” kata Soe Tjen kepada saya belum lama ini.

Dengan beasiswa dari Pemerintah Tiongkok, maka para mahasiswa itu tidak perlu membayar biaya kuliah sampai tamat. Mereka juga menerima biaya hidup rata-rata 500 yuan atau sekitar Rp 700.000. Jumlah ini termasuk pas-pasan, sehingga para mahasiswa harus hidup sangat hemat.

“Mereka juga tinggal berdesak-desakkan. Di dalam satu kamar itu isinya empat sampai delapan orang. Mungkin kondisi kos-kosan mahasiswa di Surabaya, Jakarta, atau Bandung masih jauh lebih nyaman,” cerita Soe Tjen lantas tertawa kecil.

Menurut arek Surabaya ini, para penerima beasiswa di Tiongkok ini juga dipatok target akademis yang tinggi oleh si pemberi beasiswa. Nilai semua mata kuliah tidak boleh kurang dari 70. Ini gampang-gampang sulit, khususnya bagi mahasiswa non-Tiongkok, yang lazim mengalami kendala bahasa Putonghua (Mandarin) dalam proses perkualiahan.

“Kalau nilainya jeblok, gak sampai 70, ya, beasiswanya dipotong. Bahkan, dipulangkan ke negara masing-masing,” katanya.

Karena itu, Soe Tjen melihat sendiri betapa semangat belajar mahasiswa Indonesia di Tiongkok luar biasa. Rata-rata mereka belajar selama empat hingga enam jam sehari, bahkan lebih.

“Jadi, kuliah di sana itu harus benar-benar serius, nggak bisa santai, main-main, keluyuran ke mana-mana. Kerjanya cuma makan, belajar, ke kampus, dan belajar lagi. Jam tidur otomatis juga berkurang,” tegas perempuan yang juga kolumnis dan pendiri majalah Bhinneka itu.

Karena itu, Soe Tjen berharap para mahasiswa asal Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke Tiongkok agar menyiapkan fisik, mental, dan finansial secara serius. Jangan sampai dikirim pulang gara-gara tidak mampu menyerap pelajaran di kampus. Lagi pula, para dosen di Tiongkok dikenal ‘pelit’, tidak main obral nilai, seperti di berbagai kampus di Indonesia. (rek)

1 comment:

  1. minta caranya dunk............. thanks
    reply ke simplerock4eva@yahoo.com

    ReplyDelete