06 September 2010

Ling Tien Kung ke Kupang



Hanya dalam tempo lima tahun, Ling Tien Kung berkembang pesat. Terapi kesehatan yang ditemukan Fu Long Swie, pria asli Surabaya ini, setiap hari ditekuni ribuan orang, khususnya warga senior alias lansia.

Bahkan, Ling Tien Kung mulai populer di luar Jawa, bahkan berkembang hingga ke luar negeri. Salah satu daerah di luar Surabaya yang maju pesat adalah Kupang. Di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, Ling Tien Kung sangat populer.

‘’Tahun lalu, 2009, saya dan rombongan selama satu minggu berada di Kupang. Wah, antusiasme warga di sana luar biasa. Ling Tien Kung benar-benar jaya di NTT,” ujar FU LONG SWIE, penemu dan pemilik paten Ling Tien Kung, kepada saya.

Pria 73 tahun ini masih segar bugar di usia senja. Giginya masih utuh. Dia juga masih mampu berlari jarak jauh, bahkan bisa mengalahkan orang-orang madu. Setiap akhir pekan, Fu Laoshi memimpin latihan Ling Tien Kung di Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel, Surabaya.

Pesatnya perkembangan Ling Tien Kung di NTT, menurut Fu Laoshi, tak lepas dari dukungan pejabat teras setempat, khususnya wakil gubernur NTT. Ini karena terapi alamiah ala Ling Tien Kung dirasakan manfaatnya oleh banyak warga Kupang. Tak sedikit warga yang semula mengalami gangguan kesehatan perlahan-lahan sembuh setelah ikut Ling Tien Kung.

‘’Akhirnya, Ling Tien Kung mendapat sambutan luas di Kupang. Makanya, bulan November mendatang, kami berencana berkunjung lagi ke Kupang untuk melihat dari dekat perkembangan Ling Tien Kung,” tukasnya.

Dalam berbagai kesempatan, Fu Laoshi menegaskan bahwa Ling Tien Kung berbeda dengan senam biasa. Sebab, gerakannya berfokus pada empet-empet anus (dubur), jinjit, jongkok, senam sendi, dan peregangan.

‘’Ngempet anus itu seperti orang yang nahan buang air besar. Sangat sederhana, sehingga bisa dilakukan siapa saja baik anak-anak, remaja, hingga lansia,’’ tutur Fu Laoshi tentang terapi yang dia kembangkan sejak 2005 itu.

Bagi Fu, Ling Tien Kung ini bukan senam biasa, melainkan terapi ‘cas aki’. Anus dianggap kutub positif, sedangkan pusar kutup negatifnya. Nah, selama ini orang jarang cas aki, padahal metabolisme tubuh cenderung terganggu seiring bertambahnya usia.

‘’Orang kalau sudah di atas 50 tahun pasti dapat bonus. Namanya penyakit. Maka, badan ini perlu dicas, diterapi, agar tetap sehat,” tutur mantan sprinter nasional pada tahun 1960-an itu.

Di Surabaya sendiri, saat ini terdapat 50-an lokasi latihan Ling Tien Kung yang tersebar di berbagai kawasan. Latihan digelar setiap hari pada pukul 05.30 selama satu jam.

‘’Siapa saja boleh ikut. Gak peduli apa agamanya, etnisnya, suku bangsanya, dan sebagainya. Saya membagikan metode terapi ini secara cuma-cuma,’’ tegas Fu Laoshi.

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Senin 6 September 2010.

No comments:

Post a Comment