28 September 2010

Jangan Berbahasa Indonesia di Malaysia




Selasa, 28 September 2010. Saya menghadiri acara halalbihalal di Surabaya Hotel School (SHS), Jalan Joyoboyo 10 Surabaya. Di sela makan siang, Bagus Supomo, bos SHS, memperkenalkan sembilan mahasiswa SHS yang akan segera bekerja di Hotel Westin Langkawi, Malaysia.

SHS sudah bekerja sama dengan Westin Langkawi sejak 2006.

Pihak hotel bintang lima itu rupanya terkesan dengan kinerja anak-anak muda SHS. Maka, belum lama ini pihak Westin Langkawi datang ke Surabaya untuk merekrut mahasiswa-mahasiswa SHS. Belum lulus sudah direkrut. Hebat, bukan?

Kontrak kerja selama dua tahun. Gaji jelas. Fasilitas oke. Job description di hotel sangat jelas. Pak Bagus sempat memperlihatkan dokumen kontrak kerja pihak Westin Langkawi dan SHS kepada saya.

"Ah, seandainya semua TKI kita yang kerja di Malaysia diperlakukan secara profesional macam ini," kata saya dalam hati.

Acara selanjutnya, Pak Bagus memberikan wejangan kepada sembilan mahasiswanya yang segera berangkat ke Langkawi. Pak Bagus berkata:

"Ketika berada di Malaysia, jangan sekali-kali bicara bahasa Indonesia. Biarpun dengan teman sendiri, kalian harus berbahasa Inggris. Speak English everyday, everytime, in Malaysia!"

Mengapa tak boleh berbahasa Indonesia di Malaysia? Bukankah bahasa Melayu-Malaysia mirip bahasa Indonesia?

"Kalau kita bicara bahasa Indonesia di Malaysia, nanti kita dikira TKI. Saya punya pengalaman buruk di Malaysia," jawab Pak Bagus.

Kami semua, 20-an wartawan berbagai media massa di Surabaya, tertawa lebar. Hehehe.....

Suatu ketika, di Kuala Lumpur, Bagus Supomo berbicara dengan orang Melayu (Malaysia) hendak minta layanan. Pak Bagus pikir, si Melayu itu akan ramah, mau memberikan pelayanan, karena bahasa yang dipakai bahasa Indonesia. Bahasa yang masih serumpun dengan Melayu. Apa yang terjadi?

"Saya dikira TKI, tenaga kerja Indonesia, biasa," kenang Pak Bagus yang dikenal sebagai tokoh perhotelan di Surabaya itu. Pak Bagus itu salah satu pendiri organisasi Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Jawa Timur.

Wajah si Melayu pun cemberut. Tampak sekali kalau TKI-TKI kita mendapat layanan kelas dua atau kelas lima. Imej TKI, yang jumlahnya jutaan orang itu, tidak baik di Malaysia. TKI-TKI masih dianggap orang bodoh, tidak sekolah, hanya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar dan kotor di Malaysia. Pekerjaan-pekerjaan yang sudah lama dijauhi warga negara Malaysia sendiri, baik itu yang Melayu, India, atau Tionghoa.

Melihat gelagat yang tidak baik, Bagus Supomo langsung bicara dalam bahasa Inggris. Cas-cis-cus layaknya bule-bule Eropa atau Amerika. Maklum, Pak Bagus tergolong salah satu guru bahasa Inggris yang sangat mahir berbahasa Inggris. Apa reaksi si Melayu itu?

"Waduh, saya diperlakukan dengan baik sekali. Apa saja yang saya minta langsung dilayani. Coba kalau saya tetap berbahasa Indonesia, mungkin saya dibiarkan keleleran di Malaysia," cerita Pak Bagus.

Saya dan teman-teman tertawa lagi.

Jutaan rakyat Indonesia bekerja di Malaysia. TKI-TKI itu berangkat tanpa keterampilan yang jelas. Alih-alih bahasa Inggris, TKI-TKI itu juga kebanyakan hanya bisa berbahasa ibunya. Bahasa Indonesia pun tak fasih.

Sebagian besar TKI hanya lulusan sekolah dasar, bahkan tidak sekolah. Ini yang bikin imej orang Indonesia di Malaysia sangat buruk.

Kebanyakan rakyat Malaysia menganggap bangsa Indonesia ini BODOH, hanya bisa jadi babu, kuli, tukang, dan pekerjaan-pekerjaan kasar. Bangsa yang kerja pakai otot, bukan kerja pakai otak.

Maka, saya senang melihat sembilan calon TKI yang dikirim Pak Bagus ke Hotel Westin Langkawi di Malaysia. Moga-moga mereka bisa membantu memperbaiki citra bangsa Indonesia di Malaysia yang sudah telanjur sangat buruk.

4 comments:

  1. Saya tersenyum dengan celoteh saudara. Mungkin pengalaman Pak Bagus itu sebagai suatu kasus terpencil. Saya bangga dengan warga Nusantara semuanya walaupun jarak antara kita agak jauh. Saudara di Surabaya, saya di Dungun, Terengganu tapi kita berkongsi satu bahasa dan saya berbangga dengan bahasa saya. Manusia semuanya sama. Kalau kesombongan suatu bangsa kerna kekayaannya, tunggulah detik kepapaan, ia pasti tiba. Kami tidak beranggapan TKI sebagai sedemikian, malah ungkapan seumpama itu amat tidak wajar; tiada tamadun!
    Mungkin sekali sebahagian kecil orang Malaysia beranggapan TKI sebagai kurang cerdik tapi itu bukan suara mayoritas. Mana mungkin sebahagian TKI menetap di tempat saya dan pulangnya ke Indonesia untuk berhari raya bisa digelar jelek?
    Saya ada kenalan (asal Flores tapi tidak tahu dari bahagian Flores yg mana, timur atau tengah} tapi bekerja dengan tekun sebagai pemandu bot pelancung/turis. Dia ada kehidupan yg baik di sini dan kami senang dengan dia. Sebagai manusia, itu kan satu fitrah...sentiasanya mencari yang lebih baik...di mana saja.

    ayra_j

    ReplyDelete
  2. ponnya bagus. kalau mau ke luar negeri, sebaiknya para pencari kerja itu harus punya skill atau keterampilan. jangan modal nekat doang!!! salut buat SHS n pak bagus.

    ReplyDelete
  3. saya merasa amat kesal dengan tulisan saudara yang hanya mengambil kes yang saya anggap terpencil. Saya sarankan agar saudara datang sendiri ke malaysia dan merasai sendiri pengalaman dan jangan menulis hanya berpandukan kepada cerita segelintir orang yang mungkin pada pandangan saya ada kepentingan dan cuba merosakkan hubungan rakyat kedua-dua negara dengan menulis cerita2 negatif sebegini.
    Saya sendiri agak kerap ke Indonesia dan mempunyai ramai kenalan termasuk tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Malah kami juga mempunyai pembantu rumah yang kami layan dengan baik seperti keluarga sendiri.
    Apa yang saya kesalkan, media dan rakyat Indonesia tidak pula melihat kepada kes jenayah yang dilakukan oleh rakyat Indonesia di malaysia terutam mereka yang datang tanpa izin.
    untuk pengetahuan saudara, majoriti kami tidak pernah menghina atau memandang rendah rakyat Indonesia. Percayalah tidak ada gunanya untuk berbuat begitu selagi kita punya kewarasan akal dan fikiran. Penderaan ke atas pembantu rumah Indonesia jika diteliti majoritinya dilakukan oleh mereka yang bukan berbangsa Melayu dan beragama Islam.
    saya sarankan agar saudara sebagai journalis..sama seperti saya agar membuat survey terhadap pembantu-pembantu rumah dan pekerja Indonesia yang pernah berada di Malaysia dan cuba dapatkan pandangan mereka dengan sejujur mungkin.
    Apa pun, saya suka mengikuti blog dan tulisan saudara, cuma saya lebih suka jika apa juga penulisan yang menyentuh Malaysia kalau boleh buatlah sedikit survey agar tidak ada mana-mana pihak yang tersentuh.

    ReplyDelete
  4. Kepada Anonymous dari Seberang :

    1. Mohon tak usah kesal, penulis Blog ini hanya memindahkan percakapan yang pernah terjadi antara Beliau dengan seseorang [Pak Bagus] dari dunia nyata ke dalam laman Blog ini.

    2. Mohon dibaca sekali lagi, mana tahu ada salah tafsir [mungkin karena kendala bahasa], cerita yang ditulis tersebut berasal dari kisah nyata orang lain yang kebetulan pernah berkunjung ke negara Anda. Bilamana ada pengalaman yang kurang enak, maka wajar jika Beliau [Pak Bagus] membagi nasihatnya kepada yang belum pernah dan akan pergi ke sana. Penulis Blog ini hanya meneruskan apa adanya saja. Tulisan tersebut tidak berisi hasutan ataupun hujatan, namun lebih kepada sebuah peringatan kepada Bangsa Indonesia tentang cara bertahan hidup di Negeri Orang.

    3. Mohon, mengenai Mitos Jenayah, perlu kiranya Anda periksa berita di media Anda sendiri, seperti di sini : <a href="http://thestar.com.my/news/story.asp?file=/2007/10/4/nation/19073162&sec=nation>Police:80% of crimes committed by Malaysians</a>. Intinya adalah Jenayah yang dilakukan di Negara Anda lebih banyak [80%] dilakukan oleh warga Anda sendiri dan sisanya [20%] oleh orang asing. Modus Operandinya, pelaku Jenayah tersebut bercakap dengan logat dan bahasa “asing” guna melakukan penyesatan.

    4. Masih mengenai Mitos Jenayah, <b>THE RISE OF CRIME IN MALAYSIA : An academic and statistical analysis<b>,<i> ACP Amar Singh Sidhu, 2005<i>, menjelaskan bahwa selama periode 1992-2002 kejahatan yang dilakukan oleh orang asing hanya berada di sekitar 2% dari total indeks kejahatan di Malaysia. Pada per kapita, rata-rata Orang Asing melakukan kejahatan sekitar 3,8 per 1000 penduduk asing [di Malaysia], sedangkan Warga Malaysia berkomitmen 5,3 per 1000 penduduk Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa pada per 1000 penduduk ternyata Orang Malaysia melakukan kejahatan/jenayah/crime lebih banyak dari Orang Asing.

    5. Kajian serupa yang ada, sayangnya tidak memasukkan data Sosio-Antropologi secara terperinci terutama mengenai variabel Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan [SARA] bagi para pelaku Jenayah tersebut.

    6. Mengenai Data pelaku Jenayah Malaysia terhadap Warga Negara Indonesia di Malaysia, saya mengalami kesulitan memperolehnya, mungkin Saudara bisa memberi bahan tersebut kepada kami? Terutama dengan Variabel SARA-nya?

    7. Terima kasih, sudah memperlakukan Warga Negara Indonesia dengan baik dan menganggap mereka tidak bodoh. Sekali lagi Terima Kasih.

    --------
    sibatunisan

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.