17 September 2010

HUT 16 Imamat Romo Boedi



Usai misa pagi di Gereja Redemptor Mundi, Dukuh Kupang Barat Surabaya, Rabu (15/9/2010), puluhan jemaat diajak ke balai paroki untuk sarapan bersama. Menunya sederhana saja: nasi pecel, nasi goreng, buah semangka, dan air minum botolan.

Romo Alfonsus Boedi Prasetijo kemudian datang bergabung. Lantas, sejumlah umat mulai memberikan ucapan selamat kepada romo asal Cepu, Jawa Tengah, itu. Itulah suasana syukuran 16 tahun imamat Romo Boedi Prasetijo.

“Ini bukan pesta, tapi syukuran kecil-kecilan dengan sarapan sehat bersama. Nggak perlu pakai terop-teropan segala kayak pesta perak atau pesta emas imamat,” kata Romo Boedi yang bertugas di Paroki Redemptor Mundi Surabaya itu.

Selama 16 tahun, Boedi Prasetijo menjalani panggilan sebagai imam Katolik. Panggilan, yang bagi orang biasa, dianggap berat ini ternyata bisa dilaluinya dengan baik. Ini semua, kata dia, berkat dukungan doa dari banyak pihak mulai dari keluarga terdekat hingga ribuan umat yang pernah didampingi selama bertahun-tahun.

Karena itu, menjelang syukuran imamat, Romo Boedi mengajak sejumlah umat melakukan novena atau doa selama sembilan hari. Juga perayaan ekaristi triduum atau misa selama tiga hari berturut-turut. “Yang paling penting memang doa, bukan pesta atau perayaan fisik, nanggap wayang dan sebagainya. Apalagi, sekarang ini saya sekarang sangat sibuk mempersiapkan sebuah acara internasional,” katanya.

Selain menjalani pastoral rutin di paroki, Romo Boedi Prasetijo juga dipercaya sebagai ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Surabaya. Bahkan, dia dipercaya pula menjadi koordinator Komsos di seluruh Indonesia. Meski begitu, rohaniwan ini selalu menyisihkan waktu untuk menggenjot sepeda kesayangannya. (rek)

No comments:

Post a Comment