29 September 2010

Budaya Copy Paste



Cukup lama saya tidak mampir di toko-toko buku gerejawi (rohani). Maka, saya begitu kaget ketika datang ke toko buku rohani kecil di Paroki Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. Saya bolak-balik beberapa majalah dan tabloid rohani Kristen (Protestan) dan Katolik baik terbitan Jakarta maupun Surabaya.

Wow, beberapa tulisan saya di blog ini dimuat media-media kristiani itu. Ada yang muat satu halaman penuh, bersambung edisi berikut. Ada lagi artikel yang dijadikan laporan utama. Hanya dikasih pengantar sedikit, kemudian artikel di blog saya di-copy paste hampir 100 persen.

Nama saya sebagai penulis tidak disebut. Si penulis, menurut tabloid Jakarta itu, wartawannya sendiri. Edan tenan! Saya hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kecurangan ini. Praktik pencurian hak cipta yang nota bene dilakukan pengelola media massa rohani. Media yang tiap hari akrab dengan khotbah, ceramah, renungan, doa, dan sebagainya.

Masih lumayan tabloid rohani yang lain. Nama saya hanya ditulis depannya saja: Lambertus. Lambertus yang mana? Bukankah Lambertus itu nama permandian yang banyak dipakai orang Flores atau NTT? Tapi ini tetap masih lebih baik ketimbang meng-copy total tulisan di blog saya, kemudian diklaim sebagai karya sendiri.

Jangan-jangan, pikir saya, selama ini sudah banyak artikel di blog ini yang dijiplak, copy paste, tanpa permisi? Kebetulan saya baru kali ini memergoki setelah mampir sebentar ke toko buku rohani di Ngagel. Begitu banyak media massa di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Siapa gerangan yang bisa memantau dan membaca isi semua media itu?

Internet memang menawarkan begitu banyak kemudahan, khususnya buat pengelola media massa. Tak perlu wawancara sendiri, cukup masuk ke Google atau mesin pencari lain, dan bertemulah dengan topik tertentu. Copy paste, goreng sedikit, dan jadilah tulisan. Klaimlah sebagai karya sendiri. Peduli amat dengan etika jurnalistik, kode etik, originalitas, dan sebagainya.

Karena itu, saya salut dan berterima kasih kepada redaksi majalah KANA di Malang yang minta izin ketika meminta sebuah artikel saya di blog ini. Juga kepada pengelola majalah gereja di kawasan Kuta, Bali, yang juga permisi sebelum menggunakan salah satu naskah saya di blog ini.

Apa susahnya sekadar kulo nuwun kepada si penulis? Toh, di era internet ini, komunikasi di jagat raya ini bisa berlangsung dengan sangat kilat.

3 comments:

  1. Mas Hurek,

    Pakabar mas?

    Hehe...kesal ya mengetahui karya yang dibuat susah payah ternyata dicopy dan paste begitu saja. Untuk keperluan komersil pula. Sama juga dengan saya, paling tidak rela jikalau modal kerja (bahan mengajar) dipakai orang lain! hahaha. Lha...cuma itu modal saya :-)

    Ohya...waktu itu saya sudah permisi kan ya mas, sewaktu saya mau menggunakan artikel mas Hurek yang tentang Pemilu di Singapura? Saya jangan dimusuhi yaaa! :-)

    ReplyDelete
  2. hehehe... matur nuwun atas komentar ning Dyah di Singapura. Sampeyan gak masuk golongan copy-paste yang saya sebut itu. selamat kerja lagi setelah mudik di Jakarta.

    Salam.

    ReplyDelete
  3. Saya bahkan pernah baca di Pos kupang, sebuah artikel yang 80% isinya adalah dari Blog Bapak...., tentang kebiasaan Merantau Orang Flores Timur.....Karena pernah membaca artikel ini, saya pun cros cek ternyata benar....Pengutipan berlangsung tanpa menyebutkan sumbernya
    Semoga perilaku ini tidak menjadi hal yang biasa.....

    ReplyDelete