01 September 2010

Adonara Kabupaten, Solor Menyusul





Adonara bakal jadi kabupaten sendiri? Memisahkan diri dari Flores Timur? Naga-naganya ini cuma soal waktu saja. Proses politik sudah lama bergulir. Cita-cita sudah dari dulu. Tingga eksekusi.

Ina, Ama, Kaka, Ari, Opu Lake, Ana Opo... di Pulau Adonara rupanya sudah tak sabar lagi. "Lebih cepat lebih baik," kata Ama Kopong.

"Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Momentum emas tak akan terulang," tambah Kaka Paron.

"Pemerintahan lebih efektif. Bupati di Larantuka terlalu jauh. Tidak efektif. Sulit menjenguk kampung-kampung di Redontena, Adobala, Witihama, Boleng, Lewokemie...," teriak Opu Tokan.

Banyak memang alasan yang sudah sering diucapkan. Dan semuanya masuk akal. Itu pula yang disampaikan Sahar Hassan, saudara kita dari Lamahala, politikus terkenal dari Partai Bulan Bintang di Jakarta. Maka, saya tidak heran ketika akhir-akhir ini ide Kabupaten Adonara tak lagi hanya sebatas wacana, tapi sudah bergulir ke parlemen pusat di Jakarta.

Dulu, ketika tinggal dan sekolah di kampung halaman, Pulau Lembata, saya benar-benar merasakan betapa terpencilnya kampung-kampung di Solor, Adonara, Lembata. Saat itu Kabupaten Flores Timur terdiri dari 13 kecamatan. Tiga di Flores Timur daratan, dua di Solor, dua di Adonara, enam di Lembata. Saya tinggal di Mawa, Kecamatan Ile Ape, pantai utara Lembata.

Selama tinggal di desa yang sebetulnya tidak begitu terpencil [kapal laut selalu mampir, oto-oto dari Lewoleba lancar], saya tidak pernah melihat langsung wajah bupati Flores Timur [Flotim). Tapi namanya sangat dihafal anak-anak SD di kampung. Entah itu Anton Buga Langoday, Markus Weking, atau Simon Petrus Soliwoa. Wajah para pejabat Flotim pun samar-samar terlihat di koran mingguan DIAN yang dilanggan bapak saya.

Rakyat di kampung-kampung pun cuek saja meskipun bupati, kepala-kepala dinas, pejabat Flotim lainnya hanya duduk manis di Larantuka. Rasanya, pejabat di bumi Lamaholot itu punya rumah di awan, bukan di bumi. Mereka tak perlu turba atau turne ke kampung-kampung di pelosok. Tak ada yang protes. Tak ada yang kecewa.

Maka, meski Indonesia sudah merdeka 65 tahun, jalan-jalan di daerah Lembata jeleknya bukan main. Debu beterbangan. Kalau musim hujan, orang sana bilang: OTO TEBEMBA. Ban mobil ditelan lumpur jalanan sehingga tidak bisa keluar. TEBEMBA ini bisa berlangsung berjam-jam. Kendaraan umum yang merupakan modifikasi truk Colt Diesel, tempat duduk papan, itu pun malang melintang di jalan.

Toh, orang Lembata menikmati lumpur pekat dan TEBEMBA ini. Asyik-asyik aja! Penumpang dengan santai, ketawa-ketawa, turun... dan jalan kaki. Kira-kira jalan kaki sejauh 20 sampai 30 kilometer. Banyak bincang di jalan, tahu-tahu satu jam atau dua jam kemudian sudah sampai di rumah.

Selain TEBEMBA, tidak ada upaya sedikit pun dari pemerintah daerah untuk bikin jembatan di kali mati. Kali mati alias saluran banjir alami ini banyak sekali di Ile Ape. Mobil, atau orang Flores lebih suka bilang OTO, harus nekat masuk ke kali mati itu. Menurun tajam, kemudian menanjak tajam. Mengerikan!

Tapi pejabat-pejabat di sana sejak dulu tidak melihat ini sebagai masalah. Tak ada usaha membuat jembatan agar oto tidak harus masuk ke kali mati yang mengerikan itu. Syukurlah, bupati dan pejabat-pejabat hanya berkutat di Larantuka sehingga tidak pernah "menikmati" oto tebemba atau jalan raya di Ile Ape yang berdebu dan mengerikan itu.

Setelah reformasi, Lembata dipisahkan dari Flores Timur yang beribukota di Larantuka. Harapannya sih agar pejabat-pejabat daerah, khususnya bupati, bisa ikut tebemba kayak rakyat jelata. Pelayanan masyarakat lebih cepat dan efektif. Rakyat lebih makmur. Banyak lapangan kerja. Tidak perlu MELARAT [baca: merantau] ke Malaysia, khususnya Sabah dan Serawak.

Tapi apakah harapan rakyat Lembata terkabul? Jembatan-jembatan dibangun? Oto tidak tebemba lagi? Ehhmmm....

Setelah Lembata "bercerai" dari Nagi, saya sudah menduga Adonara akan menyusul. Orang-orang Adonara ini banyak yang pintar, politisi ulung. Bupati Flotim sekarang, Simon Hayon, orang Adonara. Gubernur NTT sekarang, Frans Lebu Raya, orang Adonara.

Tite ata koli lolon hena! Begitu banyak politisi dan birokrat asal Adonara sehingga Kabupaten Adonara bakal tak kekurangan sumber daya manusia berkualitas.

Pak Lebu Raya kalau sudah bosan jadi gubernur NTT bisa pulang jadi bupati Adonara, bukan? Simon Hayon tentu sangat siap jadi bupati Adonara, balik lewo gelekat Lewotanah! Tapi, belajar dari kasus Lembata, apakah rakyat Adonara lebih makmur, maju, setelah jadi kabupaten sendiri?

Meminjam ungkapan teman-teman Lamahala, jawabannya:

"Wallahualam bi shawab!" Hanya Tuhan yang tahu!

Setelah Adonara jadi kabupaten, menurut dugaan saya, Pulau Solor juga akan memisahkan diri dari Nagi. Bikin kabupaten sendiri. Kenapa? Jawabannya sama saja.

Sejak dulu bupati Flotim yang bertakhta di Larantuka jarang main-main ke Solor. Mengunjungi Waiwadan, Ritaebang, Pamakayo, Lamakera, dan sebagainya. Pulau Solor yang zaman dulu menjadi basis utama Portugis dalam menyebarkan agama Katolik itu memang kurang diperhatikan. Padahal, orang-orang Solor setahu saya banyak memasok mendike (semangka), ikan, jagung titi, palawija... di Larantuka, ibukota Flotim.

Syukurlah, sampai sekarang saya belum dengar gerakan masyarakat Solor untuk membuat kabupaten sendiri.

Setelah Lembata, Adonara, dan Solor jadi kabupaten sendiri-sendiri, maka Kabupaten Flores Timur menjadi Flores tulen. Benar-benar Flores. Tak ada lagi kecamatan yang berada di luar Pulau Flores. Tinggallah Larantuka, Tanjung Bunga, Wulanggitang [tiga kecamatan Flotim asli] sebagai wilayah kekuasan Kabupaten Flores Timur.

Jangan-jangan suatu ketika orang Nagi di Larantuka pun tidak puas dengan Kabupaten Flores Timur, sehingga menuntut kabupaten/kota sendiri bernama Kota Larantuka. Dengan begitu, wilayahnya tinggal desa-desa atau kecamatan-kecamatan yang berbahasa Nagi alias Melayu Larantuka. Wilayah yang berbahasa Lamaholot diminta bikin kabupaten sendiri lagi.

Saya sebetulnya sedih dengan pemekaran Kabupaten Flores Timur. Ketika Lembata keluar dari Flores Timur, maka ketika itu pula salah satu elemen etnis Lamaholot terpisah. Begitu pula nanti ketika Adonara jadi kabupaten sendiri. Solor jadi kabupaten. Larantuka kabupaten sendiri.

Tadinya, saya berangan-angan nama Kabupaten Flores Timur diganti menjadi KABUPATEN LAMAHOLOT sebagai simbol kesatuan orang Lamaholot di kampung halaman.

Implikasi pemekaran Flotim yang beretnis Lamaholot itu langsung terasa di luar NTT, di perantauan. Kalau dulu kita sering kumpul-kumpul bareng, bikin acara bersama, sesama perantau Flotim, sekarang sudah mulai kendor. Orang-orang Adonara bikin acara sendiri, Lembata sendiri, Solor sendiri, Alor sendiri, Larantuka yang berbahasa Nagi sendiri....

Kualitas silaturahmi makin buruk di antara kita, sesama putra-putri Lamaholot.

"Anda itu orang Lembata, bukan Flores Timur.... Nggak usah ikut campur urusan kami!" kata teman saya yang Flotim.

Nadanya jelas bercanda, tapi getir rasanya. Untungnya, sesaat kemudian sang kawan angkat suara:

TEGAL CINTA NONA YANG MANIS
LARI LOMPAT, LOMPAT PAGAR BUNGA
TAKO BAPA LARI LA IKO
LARI TOLE... TOLE LARI TOLE
DOLO BELILIN LE....

5 comments:

  1. No Lambert, Adonara kabupaten itu sudah seharusnya untuk kemajuan Flotim (maksud saya Flotim daratan). SDM Adonara saat ini jauh lebih maju dari sdra2 di flotim daratan. Anda bisa bayangkan bila pegawai pemda Flotim 70% dari Adonara, itu artinya ada ketimpangan soaial yg bs memicu kecemburuan. Biarlah dari Ile Bura (ini kecamatan baru pemekaran dari Wulang gitang) sampaiTanjung Bunga bisa lebih maju to? mari Torang doa jo...

    ReplyDelete
  2. adonara memang punya potensi. n itu juga aspirasi sebagian besar rakyat adonara. kenapa dihalangi???

    ReplyDelete
  3. Abang Hurek..setuju di..mestinya kabupaten Lamaholot..kalo adonara jadi kabupaten??? dari dulu mulai dari kampung sampe dirantau,dimana-mana..Adonara ne akur kalau waktu Kumpo kampo alias Bu'a,tobo tia matat..kalau mau bikin organisasi juga nggak pernah jalan.pengalaman di perantauan sih.. Doi gwete siak.. bukan gotong-royong tapi sama-sama gotong,satu orang royong,..tapi skarang ini kan orang Adonara sudah pintar2 mudah2an mantap...Mudahan tidak bikin buruk itu silahturahmi>..kame ni kan witihama,kame ni Hinga,kame klubagolit...dsb hahaha...Yang penting Taan To'u..karena istilah Tite ata koli lolon hena,Tite ata lamaholot hena,Taan onet to'u kirin ehan...akhir2 ini mulai dipertanyakan maknanya.."

    sosinus
    samarinda

    ReplyDelete
  4. Satu lagi abang...nanti setelah adonara jadi kabupaten..Bahasa daerah lamaholot sudah tidak dipakai lagi di adonara..tapi ganti pake bahasa indonesia nagi campur aduk inggris..lihat2 aja kalo di larantuka,dimana saja..kalo orang adonara sudah jadi pejabat...mana mau dia omong pake bahasa kampungan itu..so te mengerti le...gimana mau dekati akar rumput kalo nanti bahasanya aja nggak nyambung...

    ReplyDelete
  5. sebenarnya saya gak ingin nge post komen ttg ini,,sy ingin ngepost di tulisan tntang pemberian nama d flotim tpi gl bsa jd terpaksa disini deh

    sy hanya mau bilang sy pun bangga menyandang nama nenek sy d blakang nama bptis sy

    o ya sy suka foto "ina adonara "
    sy sgt knal tempat itu,dan dlam foto itu terdapat nenek sya...lmayan utk mengobati rasa kangen..termakasih ya

    ReplyDelete