29 September 2010

Budaya Copy Paste



Cukup lama saya tidak mampir di toko-toko buku gerejawi (rohani). Maka, saya begitu kaget ketika datang ke toko buku rohani kecil di Paroki Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. Saya bolak-balik beberapa majalah dan tabloid rohani Kristen (Protestan) dan Katolik baik terbitan Jakarta maupun Surabaya.

Wow, beberapa tulisan saya di blog ini dimuat media-media kristiani itu. Ada yang muat satu halaman penuh, bersambung edisi berikut. Ada lagi artikel yang dijadikan laporan utama. Hanya dikasih pengantar sedikit, kemudian artikel di blog saya di-copy paste hampir 100 persen.

Nama saya sebagai penulis tidak disebut. Si penulis, menurut tabloid Jakarta itu, wartawannya sendiri. Edan tenan! Saya hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kecurangan ini. Praktik pencurian hak cipta yang nota bene dilakukan pengelola media massa rohani. Media yang tiap hari akrab dengan khotbah, ceramah, renungan, doa, dan sebagainya.

Masih lumayan tabloid rohani yang lain. Nama saya hanya ditulis depannya saja: Lambertus. Lambertus yang mana? Bukankah Lambertus itu nama permandian yang banyak dipakai orang Flores atau NTT? Tapi ini tetap masih lebih baik ketimbang meng-copy total tulisan di blog saya, kemudian diklaim sebagai karya sendiri.

Jangan-jangan, pikir saya, selama ini sudah banyak artikel di blog ini yang dijiplak, copy paste, tanpa permisi? Kebetulan saya baru kali ini memergoki setelah mampir sebentar ke toko buku rohani di Ngagel. Begitu banyak media massa di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Siapa gerangan yang bisa memantau dan membaca isi semua media itu?

Internet memang menawarkan begitu banyak kemudahan, khususnya buat pengelola media massa. Tak perlu wawancara sendiri, cukup masuk ke Google atau mesin pencari lain, dan bertemulah dengan topik tertentu. Copy paste, goreng sedikit, dan jadilah tulisan. Klaimlah sebagai karya sendiri. Peduli amat dengan etika jurnalistik, kode etik, originalitas, dan sebagainya.

Karena itu, saya salut dan berterima kasih kepada redaksi majalah KANA di Malang yang minta izin ketika meminta sebuah artikel saya di blog ini. Juga kepada pengelola majalah gereja di kawasan Kuta, Bali, yang juga permisi sebelum menggunakan salah satu naskah saya di blog ini.

Apa susahnya sekadar kulo nuwun kepada si penulis? Toh, di era internet ini, komunikasi di jagat raya ini bisa berlangsung dengan sangat kilat.

Terminal Kupang yang Aneh



Orang Surabaya akrab dengan tiga terminal bus dan angkutan kota (angkot): Purabaya alias Bungurasih, Joyoboyo, dan Yosowilangun. Ketiga terminal ini menempati areal yang luas. Ada ruang tunggu, kantor terminal, petugas keamanan, konter-konter pedagang, dan sebagainya.

Terminal Purabaya di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, paling besar dan modern di Jawa Timur. Bahkan, Terminal Purabaya ini disebut-sebut paling hebat dibandingkan terminal serupa di Jakarta. Dulu, saya sering cangkrukan sambil ngopi dengan Pak Atim Pribadi, pengurus paguyuban PKL (pedagang kaki lima) di Bungruasih.

Asyik juga melihat ribuan penumpang berseliweran di Bungurasih. Tapi, awas, tempat-tempat ramai macam ini selalu ramai penjahat. Pencopet, tukang gendam, makelar bus, gelandangan, pengemis, hingga kaki tangan germo berkeliaran.

Nah, konsep terminal bus/angkot ini ternyata tidak berlaku di Kupang. Orang Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat mengagumi Kupang, ibu kota Provinsi NTT, kota kecil yang penuh karang. Lahannya tandus, dekat pantai, penuh karang berukuran raksasa. Kalau mau bikin rumah, bangunan, atau menggali sumur, Anda harus bisa menghadapi karang-karang keras itu.

"Bung, ketong su sampe di terminal. Silakan Bung turun," kata kernet angkot di Kupang kepada saya.

"Terminalnya mana?" tanya saya.

"Di sini," kata kernet.

"Di sini ko?"

"Ya, di sini!" balas si kernet agak ketus.

Yang disebut TERMINAL versi masyarakat Kupang itu tak lain tempat akhir rute angkot dari berbagai penjuru. Lokasinya asyik juga, di pinggir pantai. Setiap petang banyak pedagang dadakan menjual jagung bakar dan makanan kecil. Tak jauh dari situ ada hotel, kafe, dan warung internet yang asyik.

Lantas, di mana gedung terminal itu? Tidak ada. Pun tak ada petugas yang memungut retribusi. Yang ada cuma para kernet berlomba-lomba mencari penumpang. Ada yang teriak menyebutkan lampu berapa, tujuan, bahkan minta agar angkotnya dicarter.

"Ke Tenau (pelabuhan) cuma 20.000, Bung," kata sang sopir.

Ah, angkot kok jadi kendaraan carter, justru di terminal sebuah ibu kota provinsi? Apa saya tidak salah dengar? Kok tidak ada petugas dinas perhubungan pemkot yang mengurus? Tidak ada polisi lalu lintas? Serba liar begitu?

Saya tertegun saat berada di kawasan Terminal Kupang [istilah 'terminal' di sini kurang tepat sebetulnya]. Sambil menikmati es degan [kelapa muda], pikiran saya melayang ke Jawa, khususnya Jawa Timur. Ironis, Kupang yang ibu kota provinsi, dengan angkot yang banyak dan bagus dan full music, ternyata belum punya terminal yang benar-benar terminal. Padahal, provinsi NTT ini dibentuk sejak 20 Mei 1958. Artinya, sudah 52 tahun.

Mengapa kok pemerintah setempat tak punya inisiatif membuat terminal yang sederhana dan murah? Terminal sederhana seperti di kota-kota kecil di Jawa Timur macam Kediri, Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, Pacitan, atau Jember? Begitu mahalkah bikin terminal sehingga selama 52 tahun tak ada 'peradaban' terminal di NTT?

Kalau tidak ada terminal beneran di Kupang, lantas bagaimana calon penumpang yang hendak berangkat ke luar kota seperti Soe, Atambua, Kefamenanu, atau Timor Leste? Bus-bus yang di Jawa disebut AKDP [Antar Kota Dalam Provinsi] dan AKAP [Antar Kota Antar Provinsi] parkir di mana?

Jawaban dari beberapa warga Kupang mengejutkan saya. "Gampang sekali! Bung tinggal tunggu di rumah, dan bus-bus itu datang langsung ambil Anda di alamat yang sudah disebutkan. Di Kupang, orang tidak membutuhkan terminal bus macam di Jawa!" kata seorang temanku.

Saya hanya bisa tersenyum geli. Bus-bus antarkota nyamperin calon penumpang di rumah. Hehehe....

Saya pun teringat pengalaman di pelosok Pulau Flores dan Lembata. Praktik seperti ini memang sudah biasa dilakukan sejak 1970-an. Eh, ternyata sampai hari ini, 2010, di Kota Kupang pun masih berlaku. Kapan pemerintah setempat mau mencontoh sedikit saja terminal-terminal sederhana di Jawa?

Bukankah pejabat-pejabat NTT sangat senang jalan-jalan ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, bahkan luar negeri?

28 September 2010

Jangan Berbahasa Indonesia di Malaysia




Selasa, 28 September 2010. Saya menghadiri acara halalbihalal di Surabaya Hotel School (SHS), Jalan Joyoboyo 10 Surabaya. Di sela makan siang, Bagus Supomo, bos SHS, memperkenalkan sembilan mahasiswa SHS yang akan segera bekerja di Hotel Westin Langkawi, Malaysia.

SHS sudah bekerja sama dengan Westin Langkawi sejak 2006.

Pihak hotel bintang lima itu rupanya terkesan dengan kinerja anak-anak muda SHS. Maka, belum lama ini pihak Westin Langkawi datang ke Surabaya untuk merekrut mahasiswa-mahasiswa SHS. Belum lulus sudah direkrut. Hebat, bukan?

Kontrak kerja selama dua tahun. Gaji jelas. Fasilitas oke. Job description di hotel sangat jelas. Pak Bagus sempat memperlihatkan dokumen kontrak kerja pihak Westin Langkawi dan SHS kepada saya.

"Ah, seandainya semua TKI kita yang kerja di Malaysia diperlakukan secara profesional macam ini," kata saya dalam hati.

Acara selanjutnya, Pak Bagus memberikan wejangan kepada sembilan mahasiswanya yang segera berangkat ke Langkawi. Pak Bagus berkata:

"Ketika berada di Malaysia, jangan sekali-kali bicara bahasa Indonesia. Biarpun dengan teman sendiri, kalian harus berbahasa Inggris. Speak English everyday, everytime, in Malaysia!"

Mengapa tak boleh berbahasa Indonesia di Malaysia? Bukankah bahasa Melayu-Malaysia mirip bahasa Indonesia?

"Kalau kita bicara bahasa Indonesia di Malaysia, nanti kita dikira TKI. Saya punya pengalaman buruk di Malaysia," jawab Pak Bagus.

Kami semua, 20-an wartawan berbagai media massa di Surabaya, tertawa lebar. Hehehe.....

Suatu ketika, di Kuala Lumpur, Bagus Supomo berbicara dengan orang Melayu (Malaysia) hendak minta layanan. Pak Bagus pikir, si Melayu itu akan ramah, mau memberikan pelayanan, karena bahasa yang dipakai bahasa Indonesia. Bahasa yang masih serumpun dengan Melayu. Apa yang terjadi?

"Saya dikira TKI, tenaga kerja Indonesia, biasa," kenang Pak Bagus yang dikenal sebagai tokoh perhotelan di Surabaya itu. Pak Bagus itu salah satu pendiri organisasi Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Jawa Timur.

Wajah si Melayu pun cemberut. Tampak sekali kalau TKI-TKI kita mendapat layanan kelas dua atau kelas lima. Imej TKI, yang jumlahnya jutaan orang itu, tidak baik di Malaysia. TKI-TKI masih dianggap orang bodoh, tidak sekolah, hanya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar dan kotor di Malaysia. Pekerjaan-pekerjaan yang sudah lama dijauhi warga negara Malaysia sendiri, baik itu yang Melayu, India, atau Tionghoa.

Melihat gelagat yang tidak baik, Bagus Supomo langsung bicara dalam bahasa Inggris. Cas-cis-cus layaknya bule-bule Eropa atau Amerika. Maklum, Pak Bagus tergolong salah satu guru bahasa Inggris yang sangat mahir berbahasa Inggris. Apa reaksi si Melayu itu?

"Waduh, saya diperlakukan dengan baik sekali. Apa saja yang saya minta langsung dilayani. Coba kalau saya tetap berbahasa Indonesia, mungkin saya dibiarkan keleleran di Malaysia," cerita Pak Bagus.

Saya dan teman-teman tertawa lagi.

Jutaan rakyat Indonesia bekerja di Malaysia. TKI-TKI itu berangkat tanpa keterampilan yang jelas. Alih-alih bahasa Inggris, TKI-TKI itu juga kebanyakan hanya bisa berbahasa ibunya. Bahasa Indonesia pun tak fasih.

Sebagian besar TKI hanya lulusan sekolah dasar, bahkan tidak sekolah. Ini yang bikin imej orang Indonesia di Malaysia sangat buruk.

Kebanyakan rakyat Malaysia menganggap bangsa Indonesia ini BODOH, hanya bisa jadi babu, kuli, tukang, dan pekerjaan-pekerjaan kasar. Bangsa yang kerja pakai otot, bukan kerja pakai otak.

Maka, saya senang melihat sembilan calon TKI yang dikirim Pak Bagus ke Hotel Westin Langkawi di Malaysia. Moga-moga mereka bisa membantu memperbaiki citra bangsa Indonesia di Malaysia yang sudah telanjur sangat buruk.

24 September 2010

SIGNIS Asia Assembly 2010 di Surabaya



Studio Radio SSFM, Aini lagi siaran. Beberapa peserta Signis Asia Assembly melihat dari dekat Radio SSFM yang terkenal di Jawa Timur itu.

Selama satu minggu, sekitar 60 peserta dari 13 negara mengikuti Signis Asia Assembly 2010 di Hotel Santika Surabaya. Di sela jadwal pertemuan yang padat, para peserta diajak jalan-jalan ke SDK Santa Theresia dan beberapa objek wisata di Surabaya dan Sidoarjo.

SDK Theresia dinilai sukses mempertahankan prestasi sebagai the green school. Beberapa kali, sekolah Katolik yang berlokasi di Jalan Residen Sudirman 5 Surabaya ini meraih penghargaan tingkat nasional dan internasional. Di antaranya, penghargaan Adiwiyata dari presiden serta Clean Up The World Our Earth dari United Nations Environment Program (UNEP).

“Kita sengaja mengajak para peserta dari berbagai negara untuk melihat dari dekat keadaan di Surabaya dan sekitarnya. Outing ini merupakan salah satu agenda penting dalam Signis Asia Assembly kali ini,” ujar RD Boedi Prasetijo, presiden Signis Asia, yang juga penanggung jawab even bergengsi ini.

Dari SDK Theresia, rombongan diajak ke lokasi semburan lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo. Sesuai dengan tema pertemuan, Cultivate Peace, Protect Creation, para aktivis yang bergerak di bidang pelayanan media massa Katolik ini melihat dari dekat bencana lingkungan hidup yang telah berlangsung selama empat tahun itu.

Tak sedikit peserta kaget melihat begitu dahsyatnya dampak semburan lumpur Lapindo itu. Sekitar 600 hektare lahan rusak, ribuan rumah terkubur, dan puluhan ribu warga terpaksa menjadi pengungsi. Kasus lumpur Lapindo ini menjadi bahan renungan semua pihak untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup di mana pun dia berada.

Selepas makan siang di Restoran Dewandaru, Jalan Mayjen Sungkono, peserta dipandu Errol Jonathans meninjau studio Radio Suara Surabaya di Jalan Wonokitri Besar 40-C Surabaya. Direktur Operasional Suara Surabaya Media itu menjelaskan secara gamblang manajemen media-media di bawah payung Suara Surabaya Media.

“Di sini selain studio Radio Suara Surabaya, ada Radio Giga FM. Radio Giga ini sengaja dibuat untuk melayani audiens perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Kaum perempuan memang perlu dilayani secara khusus,” kata Errol Jonathans disambut tepuk tangan para tamunya.

Selanjutnya, para peserta Signis Asia Assembly, yang kebanyakan produser film dokumenter dan pembuat paket mimbar agama Katolik di berbagai televisi itu menggali informasi seputar kiat-kiat Errol Jonathans yang sukses mengembangkan Radio Surabaya. Para peserta, khususnya yang dari daerah, mengaku kagum melihat studio Radio SS yang sangat canggih dan serbadigital.

“Sekarang ini pendengar tak hanya mendengar suara penyiar, tapi juga bisa melihat langsung wajah broadcaster yang sedang siaran,” kata Errol yang juga menjadi salah satu pembicara dalam Signis Asia Assembly di Surabaya.

Islam di Tiongkok



Selain sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia, sekitar 1,3 miliar, Tiongkok juga ternyata punya populasi umat Islam yang sangat besar. Bondan Gunawan, ketua DPP Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT) memperkirakan, saat ini ada sedikitnya 180 juta umat Islam di Tiongkok.

“Sekarang memang Indonesia menjadi negara yang umat Islamnya paling banyak di dunia. Tapi mungkin suatu ketika justru umat Islam terbanyak di dunia itu di Tiongkok,” ujar Bondan Gunawan pada perayaan malam bulan purnama dan festival seni budaya lintas etnis di Kenjeran Park Surabaya, Rabu (22/9/2010) malam.

Berbeda dengan etnis mayoritas Han, suku-suku muslim dan minoritas lain di Tiongkok tidak berlaku kebijakan ‘satu keluarga satu anak’. Karena itu, populasi umat Islam di negara panda itu diprediksi akan berkembang dengan cepat.

Karena itu, Bondan Gunawan, yang juga mantan asisten pribadi Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menekankan pentingnya hubungan persahabatan dan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Meski hubungan diplomatik kedua negara baru berlangsung selama 60 tahun, sebenarnya hubungan di antara kedua bangsa sudah berlangsung selama ratusan tahun.

“Jangan lupa, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan agar umatnya menuntut ilmu sampai ke negeri Tiongkok. Nah, kita di Indonesia perlu belajar agar bisa maju seperti Tiongkok sekarang ini,” tegas Bondan.

Di bagian lain, Bondan Gunawan mengingatkan bahwa jumlah warga keturunan Tionghoa di Indonesia merupakan terbanyak di dunia. Yakni, 12 juta. Selain itu, ada delapan juta warga Tionghoa asal Indonesia yang kembali ke negeri leluhurnya gara-gara kebijakan politik di masa lalu.

“Jadi, kalau ditotal, orang Tionghoa Indonesia ini ada 20 juta jiwa. Dua puluh juta! Jumlah yang sangat besar. Mudah-mudahan dengan jumlah dan potensi yang besar ini, Indonesia bisa mencapai kemajuan di bidang ekonomi dan sebagainya,” harap Bondan.

23 September 2010

Majalah Gratis di Surabaya



Di luar negeri memang banyak majalah atau koran gratis. Masyarakat bisa mengambil media itu di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Majalah atau koran itu bisa gratis karena biaya produksi dan sebagainya sudah ditanggung si sponsor atau pengiklan.

Bagaimana dengan di Surabaya?

Alhamdulillah, kemarin, saya mendapat majalah gratis yang bagus: SURABAYA MEDIA. Majalah terbitan Suara Surabaya Media ini dicetak di atas kertas luks, foto-foto bagus, informasinya pun cukup komplet. Tampak sekali kalau pengelola SURABAYA MEDIA orang-orang profesional.

Di mana-mana yang namanya free magazine hidup dari pasokan iklan. Dan, rupanya, teman-teman di SS Media berhasil meyakinkan pemasang iklan bahwa majalah gratis pun punya potensi pembaca yang besar. Apalagi, majalah ini didukung Errol Jonathans, maestro radio, yang juga piawai dalam mengelola media massa cetak.

Para pemasang iklan juga bisa 'ditaklukkan' dengan nama-nama beken di Kota Surabaya macam Bambang DH (bekas wali kota), Arif Afandi (bekas wakil wali kota), atau Wiwiek Widayati (kepala dinas pariwisata). Isi majalah ini memang banyak bercerita tentang objek wisata di Surabaya, tempat-tempat makan (enak), bakti sosial, tempat main golf, hingga jadwal pesawat terbang.

Akankah SURABAYA MEDIA yang gratisan ini bisa bertahan lama? Kita tunggu saja. Sebab, sebelumnya sudah ada beberapa media gratisan dengan segmen komunitas ternyata keok di tengah jalan. Pasokan iklan, yang merupakan darah media, apalagi gratisan, pelan-pelan tersendat, kemudian mandek sama sekali. Majalahnya mati, sementara wartawan, tukang foto, tukang desain... keleleran ke mana-mana.

Selain SURABAYA MEDIA, saya juga mendapat majalah gratisan dari Dr. Soe Tjen Marching, komponis kontemporer yang lebih dikenal sebagai aktivis perempuan. Soe Tjen bikin majalah gratisan bernama BHINNEKA. Mengapa gratis?

"Orang Indonesia itu sejak dulu suka yang gratis-gratisan. Kalau dijual, meskipun murah, biasanya orang malas membeli majalah," kata Soe Tjen, yangjuga dosen di University of London, Inggris.

Benar juga pernyataan Soe Tjen Marching yang piawai tulis-menulis sejak kecil itu. Tapi sebenarnya BHINNEKA dibagi-bagikan gratis karena memang ada sponsor yang membiayai. Sponsor dari negaranya Ratu Elizabeth sana. Bagaimana kalau suatu ketika sponsor berhenti mendanai karena punya prioritas di tempat lain?

"Ya, saya cari sponsor lain," tegas Soe Tjen.

Yang jelas, dia berkomitmen agar majalah BHINNEKA yang sudah dirintisnya ini terbit terus. Bolehlah tidak teratur terbitnya, karena pasokan dana sponsor incrit-incrit, tapi BHINNEKA jangan sampai matek! Hebat juga semangat Soe Tjen yang sangat kritis dan cerdas ini.

Belakangan saya dengar pasokan dana sponsor untuk BHINNEKA tidak selancar dulu. Soe Tjen, bisa ditebak, tak akan menyerah. Pokoknya terbit, terbit,terbit! Dana harus dicari, diusahakan, dari orang-orang yang peduli isu feminisme, pluralisme, hak asasi manusia, dan sebagainya.

Bagi Soe Tjen, BHINNEKA merupakan ajang untuk menyebarluaskan ide dan pencerahan kepada bangsa Indonesia. Jangan sampai terjadi lagi kasus pembubaran konferensi gay, lesbian, dan kaum minoritas seperti di Hotel Oval Surabaya beberapa lalu. Media cetak, meski makin terpepet oleh banjir informasi di internet, dirasa tetap penting di masa sekarang. Masih punya kekuatan!

Saya salut sama orang-orang idealis, berani, pantang menyerah di Surabaya macam Errol Jonathans atau Soe Tjen Marching. Mereka membuktikan bahwa menerbitkan majalah gratis sama sekali bukan mimpi.

Semoga SURABAYA MEDIA dan BHINNEKA diberi umur panjang!

Bebas Helm di Kupang




TERMINAL sederhana di Kupang, NTT. Sonde pake helm sonde apa-apa. Polisi sonde tangkap na!!!

Hari ini, banyak pengguna sepeda motor di Surabaya yang ditangkap polisi gara-gara tidak memakai helm SNI. SNI = standar nasional Indonesia. Perintah memakai helm SNI ini sudah diawali sejak dua tahun lalu. Sekarang, rupanya, tak ada kompromi lagi. Polisi mulai tegas. Berani menilang!

Dan itu, menurut saya, harus didukung. Toleransi atas ketidaktertiban di jalan raya tidak boleh terlalu lama. Masyarakat harus dilatih untuk tertib. Bukankah di negara tetangga, macam Singapura, denda atas kengawuran di jalan raya sangat besar?

Mengapa orang kita bisa tertib di Singapura, sementara di kotanya sendiri ngawur, ugal-ugalan, tak menghargai orang lain, sesama pengguna jalan raya?

Melihat operasi penertiban helm di Surabaya, saya langsung teringat Kupang. Ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kota kecil berkarang yang dianggap 'wah', 'hebat', 'paling maju'... di provinsi saya, NTT. Kebetulan saya belum lama ini mudik ke sana, sekadar mengisi liburan sepekan Lebaran.

Wuih... wuih.... Tak usah bicara helm standar, SNI, apalagi aturan menyalakan lampu siang hari. Di Kupang, saya lihat, begitu banyak orang tidak pakai helm ketika naik sepeda motor. Orang seenaknya ngebut tanpa helm di tengah kota, bahkan di depan jalan raya kantor Polda NTT.

Tukang ojek di depan pakai helm [belum tentu SNI], sementara penumpang di belakang kepala kosong. Para tukang ojek di Kupang, seperti yang saya rasakan dari kawasan Sikumana ke Bandara Eltari, ibarat orang mabuk yang tak takut mati. Melarikan sepeda motor dengan sangat cepat, di atas 80-90 km/jam, dengan tangan sebelah. Asyik sekali!

Saya yang berada di belakang ketar-ketir. "Bung, boleh lebih pelan sedikit?" pinta saya.

"Sonde usah khawatir, Bung! Di Kupang ketong [kita] biasa begini. Ini masih kurang cepat na," kata tukang ojek bernama Anton dengan enteng.

Mau bilang apa lagi? Kalau memang kebiasaan saudara-saudara kita di NTT seperti itu, ya, saya hanya bisa berdoa. Semoga tidak terjadi kecelakaan. Bayangkan, apa jadinya jika pengendara motor dan penumpang jatuh dengan kepala tanpa helm?

Dengan helm saja sudah mengerikan seperti kondisi jenazah di sebuah kawasan ramai di Surabaya, Rabu 22 September 2010. Kepala korban hancur, jasadnya ditutupi kertas koran. Mirip binatang yang baru habis dibantai.

Dalam beberapa tahun terakhir, ojek motor merajalela di Kupang. Orang-orang yang dulunya kerja di bangunan, serabutan, bahkan pengusaha kecil ikut-ikutan menjadikan sepeda motornya sebagai sarana pengangkutan penumpang. Hasilnya lumayan. Paling sial mereka mendapat uang Rp 70.000 sampai Rp 80.000 sehari.

"Kalau sedang rame bisa seratus ke atas. Memang lebih enak kerja ojek daripada jadi kuli bangunan," kata seorang tukang ojek asal Oepura.

Dulu, dia memang pekerja bangunan yang penghasilannya lebih kecil ketimbang mengojek. Dia juga menganggap enteng aturan memakai helm untuk penumpang dan tukang ojek. "Di Kupang ini jarang ada polisi yang razia. Ketong sonde usah takut," katanya.

Kalau pendapat teman-teman di Kupang sudah seperti ini, ya, sia-sialah kita berdebat panjang lebar. Percuma membahas undang-undang lalu lintas. Sonde ada guna na! Sebab, kasus-kasus macam ini sudah masuk ke ranah sivilisasi alias peradaban. Dari sini saja, kita bisa mengukur tingkat peradaban macam apa di kota A, B, C, D, dan seterusnya.

Sama dengan perilaku orang Surabaya yang sampai hari ini masih belum bisa menggunakan halte bus dan angkutan kota. Halte ada di mana-mana, tapi mangkrak. Sama sekali tidak digunakan oleh orang Surabaya. Bus-bus kota dan angkot di Surabaya bebas berhenti, menurunkan, dan menaikkan penumpang di mana saja. Tak ada sanksi atau penangkapan dari polisi lalu lintas atau teguran dari petugas pemerintah kota.

Berbahagialah warga kota yang punya peradaban tinggi!

21 September 2010

Mama Hana dan Pondok Kasih



Usai mengikuti kebaktian bersama 50-an stafnya di Kendangsari I/82 Surabaya, Sabtu (18/9/2010), Hana Amalia Vandayani Ananda langsung bergerak ke kawasan Gayungan PTT/66 Surabaya. Di situlah 41 penghuni Panti Asuhan Pondok Kasih tengah mempersiapkan makan siang.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

MESKI kelelahan, Mama Hana, sapaan akrabnya, menyapa anak-anak asuhnya dengan ramah. Lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya ini kontan menundukkan kepala ketika seorang bocah berkulit gelap memimpin doa sebelum makan. Kemudian, Mama Hana mempersilakan anak-anaknya yang puluhan orang itu menikmati makan siang.

“Hari ini lauknya tempe, pakai sayur kangkung. Tempe itu makanan bergizi lho. Silakan dimakan,” kata Mama Hana sambil tersenyum ramah. Perempuan berusia 66 tahun ini juga sempat menuntut seorang bocah cilik bagaimana cara memegang garpu.

Dari ruang makan, Mama Hana mengajak Radar Surabaya dan beberapa kru televisi lokal untuk meninjau lantai dua. Ruangan balita. Saat ini ada lima bayi yang diasuh oleh lima baby sitter. Sebagai oma para unwanted children ini, Mama Hana menggendong satu per satu bayi dengan penuh kasih, layaknya cucu sendiri.

“Yang ini anaknya TKW dari Malaysia,” ujar Mama Hana memperkenalkan bayi yang usianya kurang dari dua tahun.

“Yang ini juga anaknya TKW yang kerja di Singapura. Bapaknya keturunan Tamil, India,” tambahnya.

“Pantas saja, kulitnya gelap,” tukas seorang pengunjung disambut tawa para baby sitter dan staf Pondok Kasih.



HANA Amalia Vandayani Ananda mulai merintis Pondok Kasih pada 1990. Saat itu Hana tergerak hatinya saat melihat seorang perempuan pengemis yang biasa meminta-minta sedekah di depan gerejanya. Perempuan itu setiap malam tidur di pingir jalan.

Hana tak sampai hati melihat pengemis tua itu. Maka, dicarikanlah sebuah shelter untuk tumpangan. Suatu ketika, Hana membawa si pengemis itu ke gereja, kemudian diperkenalkan pada Ruth, sahabatnya. Hana menyatakan niatnya menyewa rumah untuk menampung para pengemis dan gelandangan di Surabaya dan sekitarnya.

“Puji Tuhan, Ruth tergerak hatinya dan memberikan cek senilai Rp 1 juta,” kenang Hana. Dengan modal awal itu, ditambah tabungannya, Hana Amalia Vandayani memulai pelayanan sosial di bawah bendera Pondok Kasih.

Bermula dari seorang perempuan pengemis, pelan tapi pasti, Hana kedatangan pengemis-pengemis lain, gelandangan, orang cacat, perempuan hamil di luar nikah, bahkan pekerja seks komersial (PSK). “Jumlahnya sampai 12 orang dan saya tampung di rumah saya di Kendangsari,” tuturnya.

Kalau tren ini berlanjut, niscaya kediaman Hana yang tak seberapa luas itu penuh sesak. Apalagi, informasi gethuk tular dari mulut ke mulut di kalangan para pengemis dan sejenisnya ini sangat efektif. Toh, Hana tak kehilangan akal. Dia sangat yakin bahwa Tuhan akan memberikan solusi untuk mengatasi membeludaknya ‘klien’ baru.

Benar saja. Dua tahun kemudian, 1993, Hana yang mulai dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Yayasan Pondok Kasih mendapat lahan yang cukup luas di kawasan sedati, Sidoarjo. “Tanah itu Tuhan yang beri,” kata Hana setiap kali ditanya siapa donatur atau investor di balik sukses yayasannya.

Akhirnya, Pondok Kasih punya rumah penampungan anak-anak yatim dan lansia berlantai dua dengan 22 kamar di Sedati. Sejumlah perempuan yang hamil di luar nikah, juga bayi-bayi yang tak dikehendaki ibunya, dipelihara di situ. Ketika jumlah penghuni bertambah, Pondok Kasih menyewa sebuah rumah sebagai tempat ‘rehabilitasi dan restorasi’.

Pelayanan sosial Hana terus berbuah. Pada 1996, Harry Ananda, suami Hana, menawarkan kantornya di Gayungan PTT/66 untuk dipakai Pondok Kasih. “Jadi, tempat ini dulunya memang kantor suami saya. Sekarang kita pakai untuk pelayanan, termasuk membuka klinik untuk warga yang tidak mampu,” katanya.



BAGI Hana Amalia Vandayani, hidup merupakan anugerah terindah yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Maka, si jabang bayi yang masih berada di dalam kandungan ibu wajib dipelihara agar tetap hidup. Pengguguran kandungan (aborsi) sama artinya dengan pembunuhan anak manusia. Itu sebabnya, Hana selalu bersedia menampung para ibu atau perempuan yang tak menginginkan kelahiran anaknya.

“Kami dari Pondok Kasih siap mengurus hingga si bayi lahir. Biaya pengobatan, persalinan, dan sebagainya kami tanggung,” tegasnya.

Ketika si bayi lahir, dilakukan acara serah terima bayi yang disaksikan pihak kepolisian dan pihak berwajib. Dengan begitu, yayasan punya legalitas hukum untuk merawat dan membesarkan anak-anak itu.

“Di sini kami memperlakukan mereka layaknya keluarga sendiri. Jadi, bentuk rumah, kamar-kamar, fasilitas lain, berbeda dengan panti asuhan pada umumnya,” kata Hana. (rek)



Selamat dari Kelumpuhan

LAHIR dari keluarga sederhana, sejak kecil Hana Amalia Vandayani dikenal sebagai anak yang ringkih. Kondisi fisiknya tidak sesehat anak-anak sebayanya. Orang tuanya cenderung hidup pas-pasan.


Meski begitu, sang ayah yang bekerja sebagai pegawai rumah sakit menyediakan tempat penampungan anak-anak yatim dan pengungsi di rumahnya. Maklum, pada tahun 1950-an, tak lama setelah proklamasi, terjadi perang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kondisi yang sangat sulit itu memaksa ayah dan ibu Hana untuk bekerja keras mencukupi kebutuhan keluarga. Termasuk memberi makan para pengungsi dan anak-anak yatim piatu. Di usia 14 tahun, tepatnya pada 1958, Hana yang masih gadis remaja sudah terjun ke pelayanan sosial bersama teman-teman gerejanya.

Di 17 tahun, ketika Hana menjadi mahasiswa Universitas Widya Mandala Surabaya, dokter menemukan penyakit bawaan dalam diri Hana yang berpotensi menyebabkan kelumpuhan total pada usia 25 tahun. Namun, Hana mengaku mendapatkan mukjizat dari Tuhan. Tubuhnya dinyatakan sembuh setelah dia aktif melayani orang-orang sakit di rumah sakit.

"Sejak itu saya berjanji untuk terus melayani Tuhan dengan menolong orang sakit, anak yatim, para lansia, bayi-bayi yang tidak dikehendaki, para perempuan yang hamil di luar nikah, serta warga yang berkekurangan," katanya.

Didukung penuh oleh sang suami, Harry Ananda, yang dinikahinya pada 1972, keinginan Hana untuk secara total melayani sesama akhirnya terkabul. Bersama Yayasan Pondok Kasih yang didirikannya pada 1991, Hana semakin berkibar sebagai ibu yang penuh kasih bagi warga marginal.

"Saya juga aktif di kegiatan-kegiatan yang bersifat lintas etnis dan agama," katanya. (rek)



Tentang Mama Hana

Nama : Hana Amalia Vandayani Ananda
Lahir : Surabaya, 10 November 1944
Suami : Harry Ananda
Anak : Stephen Ananda
Visi : Menggembalakan dengan belas kasih.
Misi : Tampung, bimbing, utus.

Pendidikan :
* Universitas Widya Mandala Surabaya (Bahasa Inggris), 1964.
* Institute of Church Management, Singapura, 2002.

Penghargaan :

Gubernur Jawa Timur, 2003.
Women in Humanitarian Award, 2004.
Satya Lencana dari Presiden RI, 2004.
Satya Lencana dari Presiden RI, 2005.


Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 19 September 2010

17 September 2010

HUT 16 Imamat Romo Boedi



Usai misa pagi di Gereja Redemptor Mundi, Dukuh Kupang Barat Surabaya, Rabu (15/9/2010), puluhan jemaat diajak ke balai paroki untuk sarapan bersama. Menunya sederhana saja: nasi pecel, nasi goreng, buah semangka, dan air minum botolan.

Romo Alfonsus Boedi Prasetijo kemudian datang bergabung. Lantas, sejumlah umat mulai memberikan ucapan selamat kepada romo asal Cepu, Jawa Tengah, itu. Itulah suasana syukuran 16 tahun imamat Romo Boedi Prasetijo.

“Ini bukan pesta, tapi syukuran kecil-kecilan dengan sarapan sehat bersama. Nggak perlu pakai terop-teropan segala kayak pesta perak atau pesta emas imamat,” kata Romo Boedi yang bertugas di Paroki Redemptor Mundi Surabaya itu.

Selama 16 tahun, Boedi Prasetijo menjalani panggilan sebagai imam Katolik. Panggilan, yang bagi orang biasa, dianggap berat ini ternyata bisa dilaluinya dengan baik. Ini semua, kata dia, berkat dukungan doa dari banyak pihak mulai dari keluarga terdekat hingga ribuan umat yang pernah didampingi selama bertahun-tahun.

Karena itu, menjelang syukuran imamat, Romo Boedi mengajak sejumlah umat melakukan novena atau doa selama sembilan hari. Juga perayaan ekaristi triduum atau misa selama tiga hari berturut-turut. “Yang paling penting memang doa, bukan pesta atau perayaan fisik, nanggap wayang dan sebagainya. Apalagi, sekarang ini saya sekarang sangat sibuk mempersiapkan sebuah acara internasional,” katanya.

Selain menjalani pastoral rutin di paroki, Romo Boedi Prasetijo juga dipercaya sebagai ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Surabaya. Bahkan, dia dipercaya pula menjadi koordinator Komsos di seluruh Indonesia. Meski begitu, rohaniwan ini selalu menyisihkan waktu untuk menggenjot sepeda kesayangannya. (rek)

Herman Benk pelukis kesepian




SEJAK dulu Herman Handoko Sukamto [58 tahun], yang lebih dikenal dengan Herman Benk atau Pak Benk, konsisten memilih jalan yang berbeda dengan perupa umumnya. Tinggal di rumah bertembok tinggi di kawasan Waru, Sidoarjo, Pak Benk adalah seniman kesepian. Dia cenderung ‘mengambil jarak’ dengan sesama pelukis, ‘bertapa’, banyak membaca buku-buku filsafat, berefleksi, kemudian berkarya.

Ketika banyak pelukis senior menjadi ‘mantan pelukis’, karena lama tidak berkarya, bolak-balik memamerkan lukisan-lukisan lawas, Pak Benk berkarya setiap hari. Berkesenian, bagi mantan pekerja seni pembuat poster bioskop di Surabaya ini, sama pentingnya dengan makan, minum, tidur, membaca, atau menyimak Bedah Editorial di Metro TV.

Dalam berbagai kesempatan, Pak Benk menegaskan bahwa seorang seniman lukis seperti dirinya tidak membutuhkan banyak modal untuk menghasilkan karya. Tak perlu uang banyak. Tak perlu kanvas, cat minyak, akrilik, dan sebagainya. Cukup kertas bekas, bolpoin atau spidol sederhana, koran bekas, atau barang-barang bekas yang dibuang di bak sampah depan rumahnya.

Herman Benk sangat peka pada isu-isu IPOLEKSOSBUDHANKAM [meminjam istilah tentara pada era Orde Baru] yang dia serap lewat televisi, koran, majalah, buku-buku, atau hasil obrolan ngalor-ngidul di warung kopi. Ketika mendapat informasi sosial politik, Pak Benk biasanya resah. Secara spontan otaknya langsung memproses. Kemudian, lahirlah sketsa, karikatur, coret-coretan abstrak, atau komentar-komentar pendek.

Suatu ketika, Pak Benk meramu informasi-informasi sosial politik ini dengan anatomi tubuh manusia. Hasil corat-coret sekenanya ini kemudian dia pamerkan di Rumah Budaya Pecantingan, Sidoarjo. Dia tak begitu peduli bahwa Pecantingan bukanlah tempat pameran seni rupa yang representatif layaknya galeri profesional. Pak Benk pun tak peduli ketika pameran spontan di Pecantingan ini lebih banyak disaksikan anak-anak kampung Sekardangan di kawasan Lingkar Timur Sidoarjo.

Pak Benk pun cuek saja ketika karya-karyanya dijadikan bahan guyonan sejumlah pelukis atau orang-orang yang selama ini kerap merasa sebagai ‘budayawan’ atau ‘pekerja seni’. “Kalian silakan perhatikan, kemudian renungkan sendiri karena tafsiran setiap orang pasti berbeda-beda.”

Jawaban standar itu disampaikan Herman Benk setiap kali ditanya makna karya-karyanya oleh pengunjung pameran.


*****

DI balik fisiknya yang kerempeng dan terkesan ringkih -- mungkin akibat terlalu banyak ‘minum’ di masa lalu -- Pak Benk punya stamina berkesenian yang dahsyat. Kejutan demi kejutan dibuatnya. Di Museum of Mind, salah satu ruangan di bekas Museum Mpu Tantular Surabaya, Mei 2010, Pak Benk memamerkan 300 kertas koran yang dicorat-coret dengan tinta cina. Corat-coret layaknya orang stres yang 'ngawur'. Tak ada pola baku atau aturan tertentu pada permainan garis Pak Benk.

Nah, ratusan coretan di atas kertas koran bekas itu dijejali di keempat bidang tembok. Apa yang hendak disampaikan kepada penikmat? “Yah, silakan Anda tafsirkan sendiri. Saya hanya berkarya. Apa yang ada di otak saya, hati saya, saya keluarkan,” kata Pak Benk menjawab pertanyaan wartawan.

Para pelukis di Surabaya dan sekitarnya, termasuk yang masuk kategori ‘senior’ sekalipun, mengaku ikut bingung membaca karya-karya Herman Benk. Ketika Pak Benk mencoba sedikit mengelaborasi karya-karyanya yang abstrak dan ‘acak-acakan’ itu, kebanyakan orang mengaku tambah bingung.

“Silakan dinikmati,” katanya lantas tersenyum lebar.

Syukurlah, tak semua orang bingung dengan karya-karya Pak Benk. Beberapa orang Barat, sejumlah akademisi seni rupa, dan musisi ternyata bisa mengapresiasi karya pria yang pernah iseng-iseng mencalonkan diri sebagai bupati Sidoarjo pada 2005 itu. Herry Biola, pemusik biola asal Sidoarjo, bahkan langsung menciptakan komposisi musik setelah menikmati karya-karya Pak Benk selama 30 menit. Hasilnya, komposisi yang abstrak, tapi asyik, ala coret-coretan Pak Benk.


*****

HIDUP itu pilihan. Begitu pula pelukis atau seniman rupa. Ketika banyak rekannya rame-rame mendekati pemilik galeri elite atau melobi manajemen hotel berbintang untuk pameran, dengan harapan beroleh manfaat ekonomi, Pak Benk justru memilih jalan sendiri. Dia tak mau ikut arus. Dia tetap istikamah menghasilkan karya-karya dari bahan yang murah-meriah, tapi bukan murahan.

Di Indonesia, ketika komodifikasi seni rupa merajalela, ketika idealisme semakin dilacurkan, ketika uang menjadi panglima, alhamdulillah, kita masih punya manusia-manusia langka dan berani seperti Herman Benk. Seniman yang sangat berani memilih menjauhi seni rupa arus utama yang menjanjikan kenikmatan hidup.

Yah, Pak Benk berani miskin! (*)

Pameran Herman Benk di MUSEUM DAN TANAH LIAT
Dusun Menayu Kulon
RT. 07 RW07 No. 55b Tirtonirmolo
Bantul, Jogjakarta Indonesia
Mulai 30 September 2010

07 September 2010

Adonara Kabupaten?




Oleh Romo FRANS AMANUE
Pastor kelahiran Adonara, bertugas di Lewotobi

Adonara Kabupten: mengapa tidak? Lembata saja bisa, kenapa Adonara tidak. Dari kaca mata sendiri, Adonara dianggap lebih memenuhi syarat. Tapi apakah memang itulah aspirasi rakyat? Katanya ya. Betul demikian? Kita perlu bertanya demikian karena manipulasi dan rekayasa sudah menjadi hal yang biasa dalam ulah perpolitikan kita.

Memang Adonara kabupaten sering dikedepankan sebagai urgensi, demi kepentingan rakyat, tetapi rupanya juga terselit juga soal gengsi, kebanggaan, harga diri, malah arogansi. Bahkan sementara kalangan begitu percaya diri: Adonara Kabupaten akan membawa Adonara melejit cepat, bahkan segera melewati Kabupaten Lembata dan Kabupaten induk Flores Timur.

Seberapa penuh dukungan masyarakat? Seberapa luas dan kuat keinginan orang Adonara pada lapis akar rumput untuk menjadikan Adonara Kabupaten sendiri terpisah dari Flores Timur? Cukup kuat kesan bahwa Adonara Kabupaten lebih merupakan pikiran dan kerepotan sekelompok elit (khususnya Adonara Timur), sedang massa rakyat sepertinya tidak merasa terlalu penting.

Forum Perjuangan Adonara Kabupaten (FPArK) telah dibentuk dan terus bekerja keras untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sekarang sudah dibentuk pengganti: Panitia Perjuangan Adonara Kabupaten (PPAK). Tetapi cermati saja personalianya, entah mereka mereka itu representatip.

Baik FPArK mau pun PPAK telah bekerja keras melakukan sosialisasi tentang Adonara Kabupaten, lepas dari Kabupaten Flores Timur. Sosialisasi tersebut tentu dimaksudkan untuk bermuara pada dukungan bulat masyarakat. Tetapi tetap terkesan, rupanya orang Adonara Barat khususnya tidak terlalu bersemangat dalam hal ini, bahkan cenderung menolak.
agi mereka apa pentingnya, apa manfaatnya Adonara Kabupaten? Apalagi keterkaitan Adonara Barat dalam komunitas Adonara pun tidak terlalu diperhitungkan, cuma sebatas kebersamaan dalam satu pulau. Kental sekali terasa selama ini dikotomi Timur-Barat.

Sebenarnya ini bukan lah implikasi dikotomi Demon Paji sebagaimana disinyalir oleh teropong jarak jauh wartawan asal Adonara Rahman Sabon Nama, dari tempat mukimnya Bali nun jauh di sana. Karena Demon tidak identik dengan Adonara Timur, pun Paji tidak identik dengan Adonara Barat. Sebaliknya juga tidak. Orang orang dari Kecamatan Kluba Golit, Kecamatan Witihama dianggap Paji, tetapi dari sudut kewilayahan, mereka tergolong orang Adonara Timur.

Orang-orang Lite Kenotan dan seluruh ex Hamente Horowura tergolong orang Demon tetapi dari sudut kewilayahan, mereka tergolong orang Adonara Barat.. Orang-orang Adonara Timur, terlebih para elitnya perlu menyadari bahwa selama ini orang sepulaunya di wilayah barat cenderung dipandang sebelah mata oleh sesamanya dari Adonara Timur, bahkan terkesan arogan. Barulah ketika dibutuhkan dukungan seluruh Adonara, Adonara Barat dipandang, sehingga dilakukan sosialisi gencar untuk mendapatkan dukungan dimaksud karena kalau Adonara Barat ogah, tidak merasa perlu, kurang mendukung, Adonara Kabupaten tak akan jadi. Ketakutan orang-orang di Adonara Barat bahwa dalam Adonara Kabupaten nanti dominasi Adonara Timur atas Adonara Barat semakin menguat, bukanlah mengada-ada.

FPArK dan sekarang Panitia Perjuangan Adonara Kabupaten (PPAK) mengklaim dukungan bulat masyarakat. Dasarnya ialah pernyataan para Kepala Desa dan BPD. Namun masih bisa dipertanyakan apakah benar sesungguhnya pernyataan tersebut merefleksi aspirasi masyarakat? Bukan tidak mungkin tidak.

Tim dari Universitas Gajah Mada yang diminta melakukan survey mengenai aspirasi masyarakat dan kelayakan Adonara kabarnya mendapatkan temuan yang kurang mendukung dan karena itu memberikan rekomendasi yang tidak sesuai dengan cita-cita yang dikandung FPArK dan PPAK. Sah-sah saja. Keduanya bekerja dengan misi yang berbeda. FPArK dan penerusnya bekerja dengan sasaran jelas yakni mendapatkan dukungan masyarakat Adonara karena itu lah persyaratan utama.

Karena itu, baik FPArK mau pun PPAK berusaha mati-matian untuk mendapatkan dukungan dimaksud. Kepentingan mereka jelas: Adonara Kabupaten. Maka kalau ada yang masih tidak setuju, diusahakan agar juga setuju, supaya persyaratan terpenuhi. Lain halnya dengan Tim Gajah Mada. Misi yang diembannya melalui studi lapangan ialah mendapatkan data riil sebagaimana adanya, seperti apa gambaran suara-suara pro dan kontra. Adonara jadi Kabupaten atau tidak, bukan lah kepentingan mereka.

Perjuangan sepertinya hendak memasuki tahapan tahapan akhir dengan pernyataan setuju oleh DPRD periode 2004-2009 menjelang akhir masa bhakti mereka. Terakhir Bupati Simon juga sudah membubuhkan tanda tangan setuju. Maka ramailah orang-orang pintar bicara tentang muatan politik pada sikap DPRD pun Bupati.

Apa lagi kalau bukan perhitungan politik. Mengapa justeru mendekat akhir masa tugas, ketika sudah ternyata dari hasil Pemilu bahwa sebagian besar dari 14 anggota DPRD yang mewakili Adonara tidak terpilih lagi untuk masa jabatan 2009-2014 barulah DPRD bersuara bak pahlawan perjuangan? Jangan-jangan mereka sedang menghitung peluang terpilih menjadi anggota DPRD di Kabupaten Baru, setelah kehilangan kursi di DPRD Flores Timur sekarang.

Mengapa Bupati Simon akhirnya membubuhkan tanda tangan setuju, justeru ketika Pilkada tinggal hitung bulan saja? Kalkulasi politik mengambil hati warga Adonara untuk memberi suara buat dia untuk menjadi Bupati Flotim periode kedua nanti? Bisa ya, bisa tidak.

Kini, usulan Adonara menjadi Kabupaten sudah diajukan ke Propinsi untuk diproses seterusnya. Mungkin saja waktu kini agak kurang menguntungkan tatkala muncul suara-suara yang menghendaki moratorium pemekaran. Akhir akhir ini memang terdengar suara suara yang menilai negatip pemekaran, artinya tujuan tidak tercapai secara memuaskan. Ada lah Gubernur Lemhanas yang menyatakan bahwa dari 205 daerah pemekaran baru sejak tahun 1999-2009 (7 propinsi dan 198 Kabupaten/Kota),80 % dianggap gagal (Kompas, 30 September 2009).

Harian Kompas memberitakan bahwa evaluasi Depdagri atas kinerja daerah berdasarkan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah menunjukkan bahwa dari Daerah pemekaran baru (periode 1999-2007), hendak dievaluasi 148 Daerah. Ternyata terdapat 71 daerah yang tidak menyampaikan laporan kinerja pemerintahannya. Berarti sangat buruk Laporan saja tidak dibuat. Dari daerah yang melaporkan penyelenggaraan pemerintahannya, 49 daerah kinerjanya tinggi, 28 kabupaten kinerjanya rendah.

Tri Ratnawati, seorang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menilai bahwa otonomi daerah yang sebenarnya bertujuan baik, yaitu mendekatkan pemerintahan kepada masyarakat, tapi dalam pelaksanaannya selama 10 tahun terakhir lebih sering menunjukkan dampak negatifnya. (Kompas, Kamis, 17 Desember 2009, hl.5). Berarti peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik tidak tercapai.

Lalu siapa yang untung? Harun Al Rasyid, anggota DPD periode 2004-2009 secara terbuka menyatakan bahwa pengalaman di banyak daerah otonom baru menunjukkan nilai tambah lebih dirasakan elite yang mendapat posisi atau jabatan baru. (Kompas, 30 September 2009). Boleh saja kita bertekad bahwa Adonara pasti lain.

Tetapi hasil evaluasi tersebut di atas sangat penting dianalisis untuk mengetahui mengapa pencapaian tujuan pemekaran hanya segitu, sebelum dilakukan pemekaran lagi, agar kita tidak terantuk lagi pada batu yang sama. Para elit Adonara perlu belajar dari kegagalan (tentu juga keberhasilan) daerah-daerah hasil pemekaran demi Adonara kabupaten yang lebih berjaya.

Taroh lah bahwa Adonara menjadi kabupaten. Perangkat-perangkat birokrasi baru harus dibentuk, kantor-kantor dan sarana-sarana pelayanan publik serta infrastruktur lainnya mesti dibangun. Tentu akan terbuka lapangan kerja sekian banyak.

Dengan sendirinya akan terjadi sekian banyak dana yang mesti dikucurkan Pemerintah Pusat ke Kabupaten Adonara, baik untuk berbagai pembangunan sarana fisik, belanja barang mau pun belanja pegawai dan belanja publik lainnya. Berarti pula pengurasan dana sekian besar dari kocek pusat. Tak apalah kalau semuanya bakal melahirkan (Kabupaten) Adonara yang lebih makmur, sejahtera, adil merata, tentram dan damai.

Jika tidak? Mari bercermin pada laporan dalam DutaMasyarakat. com 5 Nopember 2009 bahwa dari 500 lebih kabupaten/kota dan propinsi (termasuk yang baru dimekarkan), hanya 17 kabupaten/kota yang pengelolaan keuangannya mendapat penghargaan dari Depkeu. Lainnya? Berarti kemampuan daerah-daerah otonom kita untuk mengelola keuangan parah. Jangan-jangan Adonara (baru kabupaten) nantinya bakal masuk ke lorong gelap yang seperti ini pula.

Issue yang agak provokatip yang menjadi dasar perjuangan Adonara Kabupaten ialah bahwa selama ini Adonara kurang diperhatikan: pelayanan buruk/lambat, diskriminatip, kemiskinan, pembangunan tidak merata, isolasi. Taruhlah itu semua benar.

Tetapi baiklah kita bertanya diri secara jernih: Salah siapa? Birokrasi Pemerintah tingkat kabupaten saja, penuh diisi oleh anak-anak Adonara. Bahkan dari 10 SKPD yang ada (catatan tahun 2008), 7 pimpinannya anak Adonara. 14 anggota DPRD Flores Timur (dari 30) adalah anak Adonara. Maka kalau nasib Adonara hanya seperti itu, tidak memuaskan, salah siapa?

Mengapa mereka-mereka ini tidak cukup berjuang sehingga Adonara lebih agak diperhatikan, kebagian kue pembangunan yang kurang lebih adil? Jangan-jangan itu semua dikarenakan kita (kader-kader asal Adonara di birokrasi dan DPRD Flotim) sudah kehilangan semangat asali: gelekat lewo gewayan tana, me-an, deket, digantikan dengan nilai baru dalam wujud semangat ingat diri, kelompok, keluarga, suku, wilayah sendiri-sendiri, cari aman, telah menjadi nilai baru? Dan kalau kebanyakan dari kader-kader ini lah yang nantinya mengisi (mendominasi?) formasi dalam birokrasi Adonara, kita patut tidak bersikap terlalu optimis tentang Adonara Kabupaten nanti.

Bukan tidak mungkin apa yang dikeluhkan sebagai perlakuan diskriminatif dalam kesatuan Flores Timur sekarang akan pula menjelma di Adonara nanti: Timur-Barat, Demon-Paji, sukuisme, nepotisme dsb. Siapa pun juga anak Adonara perlu menyadari bahwa benih kesukuan, etnosentris, primordial cukup kuat mengakar di kalangan orang-orang Adonara.

Cermati saja kehidupan sosial orang orang Adonara di pusat pemerintahan Flores Timur dalam bentuk kelompok-kelompok arisan berdasarkan wilayah. Sendiri-sendiri mereka mengelompok, dan barangkali dari sini pula elit-elit tertentu diam-diam membangun basis dukungan politiknya.

Tentu saja sempit. Semangat seperti ini bukan mustahil akan dibawa serta ke Adonara Kabupaten dan merasuki massa rakyat sederhana di sana. Bukan tidak mungkin bahwa sesudah Kabupaten Adonara terbentuk, akan terjadi pertarungan ramai dan sengit sekian banyak kader untuk menjadi Bupati, tiap-tiapnya akan tampil di medan laga dengan basis dukungan primordial: wilayah, suku, keluarga.

Bukan tidak mungkin pemilihan Bupati di Adonara menjadi ajang berdarah-darah, bahkan tidak berhasil memilih seorang Bupati. Masih segar ingatan kita akan proses Pilkada 2005 lalu: Partai Golkar tidak bisa mengajukan calon karena tidak berhasil menetapkan seorang calon (Cabup-Cawabup) karena kader-kader dari Adonara saling memaksakan kehendak untuk mesti ditetapkan menjadi Calon.

Dalam realitas seperti ini, “Adonara Kabupaten”, sekarang ini, mengandung risiko yang terlalu besar dengan biaya yang terlalu mahal. Bisa-bisa bukan peningkatan dan pemerataan kesejahteraan malah penyebaraan KKN, pertarungan antar elit, konflik antar wilayah/komunitas/suku. Lantas kita berjuang lagi untuk pemekaran baru: Adonara Timur – Adonara Barat atau Adonara Utara- Adonara Selatan, atau Ile Boleng- Bukit Seburi atau apa lah?

Flores Timur lima tahun terakhir ini sebenarnya sudah mulai memancarkan optimisme bahwa kita sedang di jalan menjadi lebih baik, lebih sejahtera, lebih adil dan makmur berkat kebijakan Pemerintah yang lebih pro rakyat. Dengan program pokok yakni pemenuhan kebutuhan dasar rakyat (makan, air bersih, pendidikan, kesehatan, penerangan), rasanya kita sedang berada di jalan yang benar.

Reformasi birokrasi telah dilakukan untuk seterusnya meningkatkan pelayanan publik secara lebih lancar dan lebih penuh. Pemberantasan dan pencegahan korupsi didorong. pembangunan dan peningkatan infrastruktur jalan sedang dilaksanakan: jalan negara direhab dan ditingkatkan kualitasnya. Jalan propinsi, jalan kabupaten, jalan desa tengah gencar dibangun.

Jalan-jalan di Adonara sedang ditingkatkan kualitas dan jangkauannya mencapai wilayah-wilayah pedalaman yang selama ini terisolir: Telusuri saja jalan Tobilota-Waiwerang. Walau belum sampai pada tingkatan hot-mix, tetapi sudah jauh lebih enak dilewati kendaraan bermotor.

Makin hari makin ramai. Jalan Tanah Merah-Kolilanang- Mangaaleng sampai mencapai jalan utama Waiwerang-Sagu sudah cukup layak dilewati. Malah ruas jalan Dua Tukan - Kolilanang sudah beraspal mulus. Jalan Kolilanang-Kolimasang-Sagu sudah bukan soal lagi. Sedang ruas utama Waiwerang-Sagu sedang dalam pengerjaan (rehab dan peningkatan).

Ruas Jalan Waiwadan-Lite-Waiwerang sedang dikerjakan dan kabarnya sudah mencapai Lite. Upaya membuka isolasi wilayah pun sudah dan terus dikerjakan. Adonara Barat semakin terbebas dari isolasi. Jaringan jalan sudah membentang dari Waiwadan mencapai Desa-Desa di perbukitan di belakangnya. Koliwoten, Mudatonu, Leter, Wahelan, Era-Ubek, Kebang-Belodua sudah bisa dijangkau dari Waiwadan.

Malah sudah terbentang juga jalan yang menghubungkan Wahelan-Bui Bayuwuan-Lite. Adonara Timur apa lagi. Di Solor juga kita lihat bahwa pembangunan infrastruktur jalan mulai meretas isolasi. Paling kurang sudah dan tengah berjalan. Sekarang juga sedang dikerjakan jalan-jalan di Tanjung Bunga, Lewolema, Titehena, Wulanggitang. Transportasi antar pulau sudah rutin, teratur, lancar, nyaman dan aman.

Pemekaran kecamatan-kecamatan dimaksudkan antara lain untuk mendekatkan pelayanan publik. Adonara sendiri mekar mejadi 8 kecamatan. Pelayanan pemerintahan (kabupaten) yang semakin hadir di tengah publik lewat kecamatan-kecamatan tersebut.

Dari kenyataan ini harus kita katakan bahwa Flores Timur saat ini memberi harapan bahwa pelayanan publik akan semakin lancar dan dekat, isolasi akan teretas tuntas, pembangunan akan semakin merata dan lebih menjawabi kebutuhan masyarakat, sehingga kemiskinan tidak akan jadi persoalan yang terlalu memusingkan. Capaian kita sekarang mungkin belum apa-apa, tetapi sudah bisa menjadi titik tolak untuk berlangkah lebih lanjut, meneruskan bahkan meningkatkan.

Kita kini di ambang Pemilukada. Kita akan memilih bupati baru untuk lima tahun ke depan. Ada cukup banyak tokoh yang bilang dirinya mampu dan pantas, karena itu mencalonkan diri. Tetapi yang kita butuhkan ialah seorang bupati yang tidak melihat jabatan ini sebagai tempat cari makan.

Menjadi kepentingan rakyat banyak bahwa Bupati kita kiranya memandang jabatannya sebagai sebuah panggilan untuk mengabdi, gelekat lewo gewayan tana, menjadi Pemimpin yang punya hati sungguh pro rakyat, yang tahu dan peka menangkap persoalan dasar rakyat (felt-need), yang mau terjun dan merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat, yang rela turut menjadi senasib dan sepenanggungan dengan rakyat.

Jika demikian lah hasil Pilkada 2010 nanti, yang meneruskan dan meningkatkan serta mempertajam capaian-capaian kita selama lima tahun terakhir ini, Flores Timur ke depan akan semakin cerah: Flores Timur daratan, Solor, Adonara. Lamaholot bakal semakin berjaya. Hidup akan terus berwarna-warni dan semakin indah dalam keragaman Lamaholot. Mengapa elit Adonara kini malah berencana memisahkan diri dari saudara saudara serumpun? Tidak cukup bahagia hidup bersama, berbagi suka dan duka bersama saudara-saudara serumpun Lamaholot?

Mau pulang kampung, biar bisa jadi besar (bupati) di kampung sendiri, karena tidak pernah bisa berhasil selama ini menjadi Bupati Flores Timur? Apa berharap, bahkan yakin jadi lebih makmur sejahtera sendiri dan tidak usah repot dengan orang lain bukan Adonara? Sesempit itukah kita? Adonara Kabupaten bukan tidak boleh, sama sekali bukan tidak bisa juga. Tetapi biarlah nanti, di suatu hari.

Sebuah pilihan lain yang mungkin lebih penting kita pikirkan sekarang: memperjuangkan Flores Timur menjadi Kabupaten Kepulauan: Flores Timur daratan, Adonara, Solor.

Sumber: TIMOR EXPRESS, 3 September 2010

06 September 2010

Mahasiswa Indonesia di Tiongkok



Soe Tjen lagi ngajar mahasiswa di Universitas Huaqiao, Xiamen, Tiongkok.



Sejak 10 tahun terakhir, ribuan mahasiswa Indonesia belajar di berbagai perguruan tinggi di Negeri Tiongkok. Sebagian menikmati beasiswa, sebagian lain dibiayai sendiri oleh orang tuanya. Bahkan, ada pula yang bekerja sambil kuliah.

Dr. SOE TJEN MARCHING, dosen University of London, Inggris, belum lama ini mengunjungi asrama mahasiswa Indonesia di Xiamen, Tiongkok. “Saya mampir ke asrama mereka setelah sempat memberi kuliah di Universitas Huaqiao. Saya ingin lihat kondisi mahasiswa kita di Tiongkok itu kayak apa,” kata Soe Tjen kepada saya belum lama ini.

Dengan beasiswa dari Pemerintah Tiongkok, maka para mahasiswa itu tidak perlu membayar biaya kuliah sampai tamat. Mereka juga menerima biaya hidup rata-rata 500 yuan atau sekitar Rp 700.000. Jumlah ini termasuk pas-pasan, sehingga para mahasiswa harus hidup sangat hemat.

“Mereka juga tinggal berdesak-desakkan. Di dalam satu kamar itu isinya empat sampai delapan orang. Mungkin kondisi kos-kosan mahasiswa di Surabaya, Jakarta, atau Bandung masih jauh lebih nyaman,” cerita Soe Tjen lantas tertawa kecil.

Menurut arek Surabaya ini, para penerima beasiswa di Tiongkok ini juga dipatok target akademis yang tinggi oleh si pemberi beasiswa. Nilai semua mata kuliah tidak boleh kurang dari 70. Ini gampang-gampang sulit, khususnya bagi mahasiswa non-Tiongkok, yang lazim mengalami kendala bahasa Putonghua (Mandarin) dalam proses perkualiahan.

“Kalau nilainya jeblok, gak sampai 70, ya, beasiswanya dipotong. Bahkan, dipulangkan ke negara masing-masing,” katanya.

Karena itu, Soe Tjen melihat sendiri betapa semangat belajar mahasiswa Indonesia di Tiongkok luar biasa. Rata-rata mereka belajar selama empat hingga enam jam sehari, bahkan lebih.

“Jadi, kuliah di sana itu harus benar-benar serius, nggak bisa santai, main-main, keluyuran ke mana-mana. Kerjanya cuma makan, belajar, ke kampus, dan belajar lagi. Jam tidur otomatis juga berkurang,” tegas perempuan yang juga kolumnis dan pendiri majalah Bhinneka itu.

Karena itu, Soe Tjen berharap para mahasiswa asal Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke Tiongkok agar menyiapkan fisik, mental, dan finansial secara serius. Jangan sampai dikirim pulang gara-gara tidak mampu menyerap pelajaran di kampus. Lagi pula, para dosen di Tiongkok dikenal ‘pelit’, tidak main obral nilai, seperti di berbagai kampus di Indonesia. (rek)

Ling Tien Kung ke Kupang



Hanya dalam tempo lima tahun, Ling Tien Kung berkembang pesat. Terapi kesehatan yang ditemukan Fu Long Swie, pria asli Surabaya ini, setiap hari ditekuni ribuan orang, khususnya warga senior alias lansia.

Bahkan, Ling Tien Kung mulai populer di luar Jawa, bahkan berkembang hingga ke luar negeri. Salah satu daerah di luar Surabaya yang maju pesat adalah Kupang. Di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, Ling Tien Kung sangat populer.

‘’Tahun lalu, 2009, saya dan rombongan selama satu minggu berada di Kupang. Wah, antusiasme warga di sana luar biasa. Ling Tien Kung benar-benar jaya di NTT,” ujar FU LONG SWIE, penemu dan pemilik paten Ling Tien Kung, kepada saya.

Pria 73 tahun ini masih segar bugar di usia senja. Giginya masih utuh. Dia juga masih mampu berlari jarak jauh, bahkan bisa mengalahkan orang-orang madu. Setiap akhir pekan, Fu Laoshi memimpin latihan Ling Tien Kung di Lapangan Ole-Ole, Jalan Raya Ngagel, Surabaya.

Pesatnya perkembangan Ling Tien Kung di NTT, menurut Fu Laoshi, tak lepas dari dukungan pejabat teras setempat, khususnya wakil gubernur NTT. Ini karena terapi alamiah ala Ling Tien Kung dirasakan manfaatnya oleh banyak warga Kupang. Tak sedikit warga yang semula mengalami gangguan kesehatan perlahan-lahan sembuh setelah ikut Ling Tien Kung.

‘’Akhirnya, Ling Tien Kung mendapat sambutan luas di Kupang. Makanya, bulan November mendatang, kami berencana berkunjung lagi ke Kupang untuk melihat dari dekat perkembangan Ling Tien Kung,” tukasnya.

Dalam berbagai kesempatan, Fu Laoshi menegaskan bahwa Ling Tien Kung berbeda dengan senam biasa. Sebab, gerakannya berfokus pada empet-empet anus (dubur), jinjit, jongkok, senam sendi, dan peregangan.

‘’Ngempet anus itu seperti orang yang nahan buang air besar. Sangat sederhana, sehingga bisa dilakukan siapa saja baik anak-anak, remaja, hingga lansia,’’ tutur Fu Laoshi tentang terapi yang dia kembangkan sejak 2005 itu.

Bagi Fu, Ling Tien Kung ini bukan senam biasa, melainkan terapi ‘cas aki’. Anus dianggap kutub positif, sedangkan pusar kutup negatifnya. Nah, selama ini orang jarang cas aki, padahal metabolisme tubuh cenderung terganggu seiring bertambahnya usia.

‘’Orang kalau sudah di atas 50 tahun pasti dapat bonus. Namanya penyakit. Maka, badan ini perlu dicas, diterapi, agar tetap sehat,” tutur mantan sprinter nasional pada tahun 1960-an itu.

Di Surabaya sendiri, saat ini terdapat 50-an lokasi latihan Ling Tien Kung yang tersebar di berbagai kawasan. Latihan digelar setiap hari pada pukul 05.30 selama satu jam.

‘’Siapa saja boleh ikut. Gak peduli apa agamanya, etnisnya, suku bangsanya, dan sebagainya. Saya membagikan metode terapi ini secara cuma-cuma,’’ tegas Fu Laoshi.

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Senin 6 September 2010.

01 September 2010

Adonara Kabupaten, Solor Menyusul





Adonara bakal jadi kabupaten sendiri? Memisahkan diri dari Flores Timur? Naga-naganya ini cuma soal waktu saja. Proses politik sudah lama bergulir. Cita-cita sudah dari dulu. Tingga eksekusi.

Ina, Ama, Kaka, Ari, Opu Lake, Ana Opo... di Pulau Adonara rupanya sudah tak sabar lagi. "Lebih cepat lebih baik," kata Ama Kopong.

"Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Momentum emas tak akan terulang," tambah Kaka Paron.

"Pemerintahan lebih efektif. Bupati di Larantuka terlalu jauh. Tidak efektif. Sulit menjenguk kampung-kampung di Redontena, Adobala, Witihama, Boleng, Lewokemie...," teriak Opu Tokan.

Banyak memang alasan yang sudah sering diucapkan. Dan semuanya masuk akal. Itu pula yang disampaikan Sahar Hassan, saudara kita dari Lamahala, politikus terkenal dari Partai Bulan Bintang di Jakarta. Maka, saya tidak heran ketika akhir-akhir ini ide Kabupaten Adonara tak lagi hanya sebatas wacana, tapi sudah bergulir ke parlemen pusat di Jakarta.

Dulu, ketika tinggal dan sekolah di kampung halaman, Pulau Lembata, saya benar-benar merasakan betapa terpencilnya kampung-kampung di Solor, Adonara, Lembata. Saat itu Kabupaten Flores Timur terdiri dari 13 kecamatan. Tiga di Flores Timur daratan, dua di Solor, dua di Adonara, enam di Lembata. Saya tinggal di Mawa, Kecamatan Ile Ape, pantai utara Lembata.

Selama tinggal di desa yang sebetulnya tidak begitu terpencil [kapal laut selalu mampir, oto-oto dari Lewoleba lancar], saya tidak pernah melihat langsung wajah bupati Flores Timur [Flotim). Tapi namanya sangat dihafal anak-anak SD di kampung. Entah itu Anton Buga Langoday, Markus Weking, atau Simon Petrus Soliwoa. Wajah para pejabat Flotim pun samar-samar terlihat di koran mingguan DIAN yang dilanggan bapak saya.

Rakyat di kampung-kampung pun cuek saja meskipun bupati, kepala-kepala dinas, pejabat Flotim lainnya hanya duduk manis di Larantuka. Rasanya, pejabat di bumi Lamaholot itu punya rumah di awan, bukan di bumi. Mereka tak perlu turba atau turne ke kampung-kampung di pelosok. Tak ada yang protes. Tak ada yang kecewa.

Maka, meski Indonesia sudah merdeka 65 tahun, jalan-jalan di daerah Lembata jeleknya bukan main. Debu beterbangan. Kalau musim hujan, orang sana bilang: OTO TEBEMBA. Ban mobil ditelan lumpur jalanan sehingga tidak bisa keluar. TEBEMBA ini bisa berlangsung berjam-jam. Kendaraan umum yang merupakan modifikasi truk Colt Diesel, tempat duduk papan, itu pun malang melintang di jalan.

Toh, orang Lembata menikmati lumpur pekat dan TEBEMBA ini. Asyik-asyik aja! Penumpang dengan santai, ketawa-ketawa, turun... dan jalan kaki. Kira-kira jalan kaki sejauh 20 sampai 30 kilometer. Banyak bincang di jalan, tahu-tahu satu jam atau dua jam kemudian sudah sampai di rumah.

Selain TEBEMBA, tidak ada upaya sedikit pun dari pemerintah daerah untuk bikin jembatan di kali mati. Kali mati alias saluran banjir alami ini banyak sekali di Ile Ape. Mobil, atau orang Flores lebih suka bilang OTO, harus nekat masuk ke kali mati itu. Menurun tajam, kemudian menanjak tajam. Mengerikan!

Tapi pejabat-pejabat di sana sejak dulu tidak melihat ini sebagai masalah. Tak ada usaha membuat jembatan agar oto tidak harus masuk ke kali mati yang mengerikan itu. Syukurlah, bupati dan pejabat-pejabat hanya berkutat di Larantuka sehingga tidak pernah "menikmati" oto tebemba atau jalan raya di Ile Ape yang berdebu dan mengerikan itu.

Setelah reformasi, Lembata dipisahkan dari Flores Timur yang beribukota di Larantuka. Harapannya sih agar pejabat-pejabat daerah, khususnya bupati, bisa ikut tebemba kayak rakyat jelata. Pelayanan masyarakat lebih cepat dan efektif. Rakyat lebih makmur. Banyak lapangan kerja. Tidak perlu MELARAT [baca: merantau] ke Malaysia, khususnya Sabah dan Serawak.

Tapi apakah harapan rakyat Lembata terkabul? Jembatan-jembatan dibangun? Oto tidak tebemba lagi? Ehhmmm....

Setelah Lembata "bercerai" dari Nagi, saya sudah menduga Adonara akan menyusul. Orang-orang Adonara ini banyak yang pintar, politisi ulung. Bupati Flotim sekarang, Simon Hayon, orang Adonara. Gubernur NTT sekarang, Frans Lebu Raya, orang Adonara.

Tite ata koli lolon hena! Begitu banyak politisi dan birokrat asal Adonara sehingga Kabupaten Adonara bakal tak kekurangan sumber daya manusia berkualitas.

Pak Lebu Raya kalau sudah bosan jadi gubernur NTT bisa pulang jadi bupati Adonara, bukan? Simon Hayon tentu sangat siap jadi bupati Adonara, balik lewo gelekat Lewotanah! Tapi, belajar dari kasus Lembata, apakah rakyat Adonara lebih makmur, maju, setelah jadi kabupaten sendiri?

Meminjam ungkapan teman-teman Lamahala, jawabannya:

"Wallahualam bi shawab!" Hanya Tuhan yang tahu!

Setelah Adonara jadi kabupaten, menurut dugaan saya, Pulau Solor juga akan memisahkan diri dari Nagi. Bikin kabupaten sendiri. Kenapa? Jawabannya sama saja.

Sejak dulu bupati Flotim yang bertakhta di Larantuka jarang main-main ke Solor. Mengunjungi Waiwadan, Ritaebang, Pamakayo, Lamakera, dan sebagainya. Pulau Solor yang zaman dulu menjadi basis utama Portugis dalam menyebarkan agama Katolik itu memang kurang diperhatikan. Padahal, orang-orang Solor setahu saya banyak memasok mendike (semangka), ikan, jagung titi, palawija... di Larantuka, ibukota Flotim.

Syukurlah, sampai sekarang saya belum dengar gerakan masyarakat Solor untuk membuat kabupaten sendiri.

Setelah Lembata, Adonara, dan Solor jadi kabupaten sendiri-sendiri, maka Kabupaten Flores Timur menjadi Flores tulen. Benar-benar Flores. Tak ada lagi kecamatan yang berada di luar Pulau Flores. Tinggallah Larantuka, Tanjung Bunga, Wulanggitang [tiga kecamatan Flotim asli] sebagai wilayah kekuasan Kabupaten Flores Timur.

Jangan-jangan suatu ketika orang Nagi di Larantuka pun tidak puas dengan Kabupaten Flores Timur, sehingga menuntut kabupaten/kota sendiri bernama Kota Larantuka. Dengan begitu, wilayahnya tinggal desa-desa atau kecamatan-kecamatan yang berbahasa Nagi alias Melayu Larantuka. Wilayah yang berbahasa Lamaholot diminta bikin kabupaten sendiri lagi.

Saya sebetulnya sedih dengan pemekaran Kabupaten Flores Timur. Ketika Lembata keluar dari Flores Timur, maka ketika itu pula salah satu elemen etnis Lamaholot terpisah. Begitu pula nanti ketika Adonara jadi kabupaten sendiri. Solor jadi kabupaten. Larantuka kabupaten sendiri.

Tadinya, saya berangan-angan nama Kabupaten Flores Timur diganti menjadi KABUPATEN LAMAHOLOT sebagai simbol kesatuan orang Lamaholot di kampung halaman.

Implikasi pemekaran Flotim yang beretnis Lamaholot itu langsung terasa di luar NTT, di perantauan. Kalau dulu kita sering kumpul-kumpul bareng, bikin acara bersama, sesama perantau Flotim, sekarang sudah mulai kendor. Orang-orang Adonara bikin acara sendiri, Lembata sendiri, Solor sendiri, Alor sendiri, Larantuka yang berbahasa Nagi sendiri....

Kualitas silaturahmi makin buruk di antara kita, sesama putra-putri Lamaholot.

"Anda itu orang Lembata, bukan Flores Timur.... Nggak usah ikut campur urusan kami!" kata teman saya yang Flotim.

Nadanya jelas bercanda, tapi getir rasanya. Untungnya, sesaat kemudian sang kawan angkat suara:

TEGAL CINTA NONA YANG MANIS
LARI LOMPAT, LOMPAT PAGAR BUNGA
TAKO BAPA LARI LA IKO
LARI TOLE... TOLE LARI TOLE
DOLO BELILIN LE....