09 August 2010

Talenta Batak 2010 di TVRI



Orang Batak sejak dulu memang dikenal punya talenta luar biasa di bidang seni suara. Tak sekadar bakat alam, saudara-saudari kita dari bumi Tapanuli ini punya teknik vokal yang benar. Kemampuan bernyanyi mereka di atas rata-rata orang Indonesia umumnya.

Kami di pelosok Flores pun sejak dulu mengagumi orang-orang Batak bernyanyi. Suara Victor Hutabarat yang bening, jernih, tinggi, lantang... kerap terdengar di pelosok Flores. Saya ingat betul lagu-lagu Victor Hutabarat, khususnya MASA MUDA. Lagu ini boleh dikata menjadi 'lagu wajib' anak-anak muda Katolik di Flores pada era 1980-an dan 1990-an.

MASA MUDA SUNGGUH SENANG
JIWA PENUH DENGAN CITA-CITA
DENGAN API YANG TAK KUNJUNG PADAM
SELALU MEMBAKAR DALAM HATI
....

MASA MUDAKU MASA YANG TERINDAH
MASA TUHAN MEMANGGILKU
MASA MUDAKU MASA YANG KU KENANG
KUTINGGALKAN SEMUA DOSAKU

[Bisa Anda diteruskan? Kalau bisa, saya pastikan Anda pun penggemar album-album rohani Victor Hutabarat macam beta lah. Hehehe....]

Minggu malam, 8 Agustus 2010, TVRI menyiarkan lomba menyanyi lagu-lagu Batak bertajuk TALENTA NUSANTARA. Sembilan penyanyi tampil, hanya satu yang laki-laki bernama Yesaya. Delapan finalis berdarah Tapanuli, satunya Padang, Sumatera Barat. Yang menarik, hampir semua remaja finalis memakai kawat gigi.

Wuih... orang Batak kok senang banget dengan kawat gigi! Ada apa gerangan ini Tulang dan Ompung? Gaul abis deh!

Saya benar-benar puas dan terhibur. Betapa tidak. Ketua jurinya idola saya, Victor Hutabarat. Bang Victor tak hanya kasih komentar, tapi juga kasih contoh cara menyanyi yang baik dan benar. Bagaimana membunyikan nada-nada tinggi, pernapasan yang benar, stakato, frasering, hingga bagaimana ucapan kata-kata Batak yang benar. Menonton acara ini ibarat mengikuti kursus menyanyi profesional oleh vokalis hebat negara ini.

Dua juri yang lain pun punya wawasan musik di atas rata-rata. Beda banget dengan komentator lomba menyanyi serupa di televisi swasta yang kadang-kadang jurinya asal comot. Sekali lagi, orang-orang Batak ini membuktikan standar kualitas seni vokalnya yang luar biasa. Oh, ya, kita juga bisa menikmati suara Rita Butarbutar yang masih melengking tinggi dan bening. Bandingkan dengan penyanyi-penyanyi seusia Rita Butarbutar di ZONA MEMORI yang sering kedodoran.

Saya saksikan sembilan penyanyi muda, usia mereka rata-rata di bawah 24 tahun, menggunakan teknik vokal yang benar. Artikulasi, pernapasan, cara buka mulut, vokalisasi.... Ketika puluhan stasiun televisi swasta hanya memberi tempat kepada musik industri yang cara menyanyinya mengabaikan teknik seni suara, alhamdulillah, TVRI memberikan hiburan bergizi kepada permirsanya.

Sayang sekali, malam itu vokalis pria hanya Yesaya seorang. Mana penyanyi-penyanyi pria Batak yang lain? Bukankah sejak dulu laki-laki Batak sangat menonjol dalam olah vokal? Syukurlah, Yesaya bernyanyi dengan sangat baik. Teknik vokal sangat bagus, pembawaan, begitu pula vibrasi dan powernya. Saya, yang sama sekali tidak paham syair bahasa Batak, pun ikut merinding mendengar nyanyian si Yesaya.

Horas!!!!

7 comments:

  1. I feel proud to read this
    thx
    Gbu.

    ReplyDelete
  2. gini bung, org2 batak itu punya guru seni suara di mana2. itu yg gak dipunyai kita di NTT yg punya bakat alam tapi kurang dipoles. mereka juga punya tradisi menyanyi bagus di gereja HKBP.

    floren

    ReplyDelete
  3. daulina manullang7:16 PM, August 26, 2010

    Saya suka dengan hiburan talenta batak yang disiarkn diTVRI.
    akhirnya yg saya dukung pun jd juara 1
    i like to voice n performance of Ruth...

    bravo talenta batak,,,

    gimana caranya daftar kesana ya,,,,?
    pengen jga jdi salah satu finalisnya walaupun tahun depan,,,,

    ReplyDelete
  4. aku nonton langsung tuh...mantap2 suara mereka lah..:beer:

    semoga acara macam itu bisa tetap dipertahankan..agar tetap bisa menghargai kebudayaan nasional :)

    ReplyDelete
  5. aku selalu mendukung segala sesuatu yang membangkitkan citra bangsa batak ke arah yang positif

    ReplyDelete
  6. kenapa orang Batak suka nyanyi??? persis sepert yg dibilang om anonymous (11:58 AM, August 12, 2010), karena memang tradisi gereja yg cukup kuat dan mengakar pada masyarakat Batak, di mana orang-orang dituntut untuk bernyanyi paling tidak sekali seminggu dalam ibadah di gereja... itu sih dari saya... tapi kemudian ada juga penelitian berdasarkan anatomi tubuh ataupun kondisi alam tanah Batak seperti di web ini: http://berandabatak.blogspot.com/2013/08/alasan-kenapa-orang-batak-jago-nyanyi.html atau ini: http://www.kaskus.co.id/thread/517200c21ad7192733000002/rahasia-orang-batak-jago-nyanyi

    entahlah ya, saya belum sampe ke situ menelitinya...

    tapi alasan simpel saya ya karena tradisi gereja itu... begitu juga dgn orang Maluku dan orang Sulawesi Utara, punya kelakuan yg serupa: suka nyanyi... tapi agak beda pada tipe suara... orang Batak umumnya anti menggunakan falsetto, terbalik dgn orang Ambon seperti Glenn Fredly yg seneng banget berfalsetto...

    tapi kenapa penyanyi Batak agak minim??? saya gak tau ini bener atau enggak, tapi "tulang" Viky Sianipar (mama saya boru Sianipar sehingga saya harus memanggil beliau "tulang") pernah mengatakan di TV kalo orang tua Batak selalu menekankan anak-anaknya untuk sekolah, sekolah, dan sekolah, karena kemiskinan di kampung... kalo sudah sekolah, bisa jadi pegawai negeri, pekerja kantoran, guru, pengacara, artinya jaminan finansial lebih pasti (dan untuk perempuan sudah pasti "sinamot" alias maharnya mahal, samalah kayak di kampungnya om hurek)... kalo jadi penyanyi kurang meyakinkan...

    makanya pada masa sekarang ini jumlah penyanyi Batak pada industri musik nasional kalah banyak dibandingkan etnis lain... karena orang tua masih belum rela anaknya jadi penyanyi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gaya nyanyi Glenn Fredly itu anomali. Jauh berbeda dengan penyanyi2 Ambon lain yg mainstream. Sejak dulu ambon2 bernyanyi dengan suara tinggi tanpa falsetto. Ini juga karena Glenn itu bukan orang Maluku tapi warga DKI Jakarta keturunan Maluku. Ini sangat jauh berbeda dengan orang Maluku yg lahir di Maluku kemudian hijrah ke Jakarta, bikin rekaman dsb.

      Sama dengan Franky Sihombing yg gaya nyanyinya jauh berbeda dengan Victor Hutabarat atau Eddy Silitonga. Franky Sihombing dengan VOG dan Rayakan tak berbeda dengan orang Jakarta atau Surabaya. Marganya doang yang Sihombing tapi bataknya sudah hilang.

      Delete